Selamat buat alumni yang akan bekerja. Selamat berkarya bersama Allah, bagi masyarakat, bagi gereja, keluarga, dan bangsa.
Aku heran, setiap kali mendengar/ melihat orang yang luar biasa senang ketika dia ditempatkan di kota besar, di tempat yang tidak jauh (bukan di luar jawa sumatera misalnya), mungkin memang dia punya pergumulan sendiri, masalah keluarga, kesehatan, dan aku sangat menghargai itu. Tapi, yang aku sangat heran, kalau alasan rasa syukurnya itu, hanya karena apa yang dipikirkannya selama ini terkabul semua/ sebagian. Ini juga berlaku terbalik, aku tak habis pikir melihat orang yang begitu sedihnya ketika "apa yang ada di kepalanya" tidak terkabul. Jangan2 dia lupa, Allah punya rencana besar yang seringkali tidak bisa langsung kita mengerti, dan sering tidak sesuai rencana kita. Lagian kalau mau jujur, seringkali semua subjek atas rencana kita, cuma aku, aku dan aku... Puji Tuhan, aku ditempatkan di sini, supaya aku... nanti aku... trus aku bisa... mudah2an aku... syukurlah aku... coba kalau aku di situ, aku bisa... aku pasti... aku mau... Kapan giliran Allah? Kapan mereka/ orang lain merasakan kehadiran kita? Tidakkah Allah memakai orang yang dikasihi-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain lagi? Apakah Indonesia sesempit Jawa Sumatera? Tidakkah Allah sayang umat-Nya dari barat sampai timur?
Allah tidak pernah membiarkan seseorang pergi ke tempat di mana kasih karunia-Nya tidak cukup untuk menyertai. Allah tidak pernah membuat kesalahan! Ragukah engkau akan hal itu???
Bagian kita hanya taat dan setia, ke manapun DIA suruh. Mungkin padang rumput, mungkin air tenang, bahkan lembah kekelaman, tapi itu bukan soal, ketika TUHAN yang jadi Gembala. Masalahnya bukan apa yang kita lewati, tapi bersama SIAPA kita berjalan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, entah enak atau tidak, tapi satu hal yang pasti kita tahu, TUHAN ada di sana, dan itu sudah CUKUP!
Ada 2 lagu yang sampai sekarang sanggup menenangkan hatiku: (semoga juga hatimu)
Shepherd of my soul I give you full control,
Wherever You may lead I will follow.
I have made the choice to listen for Your voice,
Wherever You may lead I will go.
Be it in a quiet pasture or by a gentle stream,
The Shepherd of my soul is by my side.
Should I face a mighty mountain or a valley dark and deep,
The Shepherd of my soul will be my guide.
Shepherd of my soul Oh You have made me whole,
Where’er I hear You call how my tears flow.
How I feel your love how I want to serve
I gladly give my heart to You O Lord.
Be it in the flowing river or in the quiet night,
The Shepherd of my soul is by my side.
Should I face the stormy weather or the dangers of this world.
The Shepherd of my soul will be my guide.
Lagu yang satu lagi:
I will follow wherever He leads
ev’ ry problem my sa viour He knows
Though the path may be long with His help I’ll be strong
I will go just wherever he goes
Reff:
He may lead me to countries Where troubles surround
Eventhere He’ll be with me I know
I promise I’ll follow
Where ver Christ leads me, and so
I will go just wherever He goes
When the sun starts to set in the sky
I shall know that I’m nearer my home
But until that great day I shall still trust and pray
I will go just wherever He goes
Reff:
Kalau hidup adalah perjalanan, ku ucapkan selamat berjalan. Have a great journey with God.
Ketika dihubungi untuk sharing tentang visi PMK di buletin ini, saya merasa tidak layak, apalagi sharing sebagai alumni. Sharing tentang visi - sebagai alumni - apa yang dinikmati - apa dampaknya. Ah... Saya ini masih sangat muda. Rasanya untuk tema sepenting dan sangat esensi ini, ada orang yang lebih baik, lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih tangguh. Itu yang pertama. Yang kedua, apalah yang telah dihasilkan PMK STAN, persekutuan yang pernah saya pimpin bersama tim inti yang lain. Kampus diploma, kedinasan, gratis, yang sudah berdiri lebih dari 3 dekade, setiap tahunnya meluluskan alumni yang langsung bekerja di Kementerian Keuangan, yang katanya “banyak uang”, namun terlanjur di-cap miring oleh masyarakat awam, terlebih lagi dengan seringnya media memberitakan kasus korupsi dan penyelewengan di Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, sampai-sampai sempat muncul slogan masyarakat “kampus penghasil koruptor”, atau yang lebih rohani: dari jaman Alkitab, orang pajak dan pemungut cukai-lah orang paling berdosa. Miris. Bagaimana mengobarkan visi menghasilkan alumni yang menjadi garam dan terang di kondisi yang demikian?
Dua alasan ini membuat saya tertunduk, tapi sekaligus menganggukkan kepala pertanda setuju untuk menulis sharing ini dengan apa yang saya punya, dengan apa yang telah saya saksikan, dengan apa yang telah Allah kerjakan dalam diri saya dan PMK STAN.
Sudah 6 tahun belakangan ini, dari ribuan mahasiswa yang masuk STAN, rata-rata 10%-nya (200 ratusan lebih) mahasiswa Kristen menambah jumlah anggota PMK STAN setiap tahun. Kebanyakan dari daerah (luar Jakarta) dan banyak dari golongan ekonomi menengah ke bawah, yang rela meninggalkan kesempatan kuliah di PTN lain, demi kuliah gratis dan langsung kerja. Dari latar belakang ini, ada dua kondisi (baca: kenyataan) yang mungkin terjadi setelah alumni: sangat bersyukur atas anugerah Allah, punya pola hidup menderma dan sederhana sekalipun penghasilan yang lumayan, atau yang kedua: lupa daratan! Tentu opsi pertama yang selalu saya doakan dan harapkan. Dan mimpi itulah yang kami kerjakan di PMK: nantinya mahasiswa ini menjadi alumni yang makin cinta Tuhan dan benci dosa, berintegritas, mampu mengintegrasikan iman dan ilmunya, sebagai Penjaga Keuangan Negara (slogan Kementerian Keuangan: Nagara Dana Rakca). Mereka bukan sekedar alumni, tetapi alumni KRISTEN, yang harusnya berdampak, menunjukkan rasanya sebagai garam dan cahayanya sebagai terang. Bekerja jujur, rajin, bukan hanya sekedar kode etik, tapi sebagai perwujudan takut akan Allah. Visi yang sederhana: menghasilkan alumni yang dewasa dan berdampak. Entah apapun kalimatnya: menghasilkan murid Kristus, garam terang, mimpinya tetaplah sama. Visi itulah yang terus ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, yang dikerjakan dalam bentuk misi dan program dengan waktu yang singkat selagi berada di kampus. Untuk apa ada Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan, Pengutusan? Dalam rangka mewujudkan visi itu. Untuk apa tiap Jumat sore ada persekutuan? Untuk menghasilkan alumni yang berakar dalam Kristus. Untuk apa ada kelompok kecil? Untuk menghasilkan alumni yang dewasa. Untuk apa persekutuan doa dan pembinaan lain, dan program-program lain? Untuk menghasilkan alumni yang siap menyaksikan Kristus dalam hidupnya. Dalam setiap kegiatan, pengurus harus menyadari sasarannya apa. Saya selalu menanyakan: ini untuk apa? Ngapain mengadakan itu? Mereka harus tangkap visinya. Jadikan visi ini sebagai visi pribadi, tularkan ke pengurus yang lain, tularkan ke jemaat, tularkan ke semua orang menjadi visi bersama, visi ilahi. Ini memang mimpi besar, tapi tidak ada hal besar yang terjadi tanpa diawali oleh mimpi/ visi yang besar. Dalam suatu KTB, saya pernah berkata: “siapa bilang PMK STAN tidak bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik? Tunggu waktu-Nya Allah!! Kita tetap kerjakan visi ini”. Think globally act locally. “Mimpi bagi bangsa ini dimulai dari membina mahasiswa STAN”, itu saya katakan dalam beberapa kesempatan. PMK STAN ada di dalam visi besar Allah, untuk memperbaiki bangsa ini. Beberapa kali sharing dengan orang-orang kunci, bahkan dengan beberapa generasi di bawah, saya sering katakan: tiap melihat wajah-wajah jemaat, milikilah visi ilahi, penglihatan ilahi, cara Allah berbelas kasihan, mereka ini mahasiswa-mahasiswa yang bisa dipakai Allah menjadi pemimpin seturut kehendak-Nya. Memang mereka mahasiswa, tapi nantinya mereka jadi pemimpin. Bukankah itu visi besar? Student today, leader tomorrow.
Saya teringat ketika menjadi Ketua Umum, setiap ikut pembinaan, retreat, kamp, selalu VISI digaungkan, dan harus meresap dalam diri setiap pelayan. Bahaya terbesar dalam pelayanan mahasiswa adalah hilangnya atau semakin kaburnya visi. Kegiatan tetap ada, dana tetap tersedia, orang-orang masih ada, tapi tidak ada lagi “nyawa” dalam setiap hal yang dilakukan, hanya sebatas organisasi dengan banyak program. Tanpa visi, PMK hanya sebagai kumpulan pengurus yang sibuk melakukan ini itu tanpa tahu “mimpi besar” dari hal yang dikerjakannya. Gerakan-gerakan (movement) tetap dilakukan: doa, belajar Alkitab, penginjilan sampai misi; tapi tanpa visi, movement itu hanya menjadi monument yang menjulang tinggi tanpa dampak. Dan kenyataan sekarang: movement-movement yang selama ini kita cap sebagai keunikan PMK, sekarang tidak unik lagi. Prayer movement, bible movement, evangelism movement, discipleship movement, mission movement, tidak eksklusif menjadi ciri pelayanan PMK, sudah banyak gereja yang mengerjakan movement itu. Mungkin yang tertinggal hanyalah interdenomination movement dan student movement, itupun sepertinya tidak lagi, sudah banyak organisasi pelayanan dan parachurch yang juga memperjuangkan kedua hal itu. Jadi, keunikan PMK sudah tidak unik lagi. Tapi, pelayanan mahasiswa haruslah tetap unik. Dan apa yang bisa menjaganya tetap unik? Cuma satu: VISI. Hanya pelayanan mahasiswa yang mempunyai visi menghasilkan alumni yang menggarami dan menerangi dunia ini dengan iman dan ilmunya. Darimana kita jelas melihat keunikan PMK itu? Dari outputnya: alumni. Kapan PMK dikatakan mempunyai discipleship movement? Ketika ada alumni-alumni yang masih rindu memuridkan di tengah kesibukannya sebagai alumni, ketika ada alumni yang berjuang keras membentuk komunitas-komunitas di kantornya, di gerejanya, atau lingkungannya. Kapan PMK dikatakan unik dalam hal prayer movement, bible movement dan yang lainnya? Ketika ada alumni-alumni yang tetap menjadi pendoa yang setia, mencintai firman Tuhan, atau sederhananya: memperjuangkan relasi pribadi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, pelayanan, sesibuk apapun, sejauh manapun Tuhan tempatkan dia di bagian Indonesia ini. Itulah kekuatan VISI, itulah kehebatan VISI. Visi-lah yang menggerakkan pengurus-pengurus terus berjuang membina mahasiswa untuk mimpi besar: menghasilkan alumni yang berdampak bagi dunia ini. Visi-lah yang membuat seorang alumni tetap mau ikut Yesus sekalipun susah bahkan menderita. Dan itu bukan isapan jempol belaka. Itu sangat mungkin terjadi. Ketika ada orang-orang yang berjuang dan tetap TAAT demi visi ilahi itu. Alkitab sudah mencatatnya. Sejarah sudah membuktikannya. Ada Abraham, Musa, Nehemia, Daniel, Petrus, dan rasul-rasul yang lain, ada Paulus. Ada Polikarpus, John Sung, Wiliam Carey, A.W Tozer, Nommensen, C.S Lewis, David Livingstone, William Wilberforce, Marthin Luther King Jr, Leimeina, T.B Simatupang, dan pejuang-pejuang visi lainnya, yang telah membuktikannya. Teruskan nama-nama itu sampai ke namamu. Dan biarlah kampusmu menghasilkan nama-nama itu. Itulah VISI, mimpi, dan bersama Allah, sangat mungkin terwujud jadi kenyataan. Trust and obey.
Sekarang saya memang masih sangat muda dan belum menjabat apa-apa. Tapi visi itu terus bergema di hati, terjaga dalam KTB, apalagi setiap dihubungi menjadi pelayan dalam pelayanan mahasiswa. Saya tersenyum dan bersyukur bahwa saya tidak pernah sendiri, teman-teman saya yang lain juga sedang berjuang. Kami turut bersedih lalu berdoa ketika melihat visi itu memudar bagi beberapa orang alumni. Saya selalu mengingatkan pengurus: orang yang berintegritas itu tidak banyak, biarlah PMK STAN menghasilkan orang yang tidak banyak itu. Untuk visi itulah, PMK STAN ada.
Ah... saya terlalu banyak bercerita tentang STAN. Tapi saya memang dihubungi untuk itu: sharing sebagai alumni STAN, yang menikmati visi Allah sewaktu mahasiswa. Tapi bukan berarti pekerjaan Allah hanya di STAN. Ketika kamu membaca artikel ini, ketika buletin Nehemia ini ada di tanganmu, Tuhan juga bisa memakai dirimu untuk visi besar-Nya. Dia bisa bekerja memakai kampusmu, menghasilkan alumni yang v(m)isioner, dalam setiap bidang ilmu, ekonomi, hukum, sosial, politik, teknik, kesehatan, Indonesia membutuhkan alumni dari kampusmu, yang takut akan Tuhan. Mimpikanlah. Kerjakanlah. Dream your work, work your dream.
[tulisan ini dimuat dalam NEHEMIA edisi Nopember 2010; Buletin Doa PMKJ]
Roleplay
The Greatest Love --- Yoh 3:16
Setting: small group konseling, dengan 1 konselor dan 3 konseli (siswa, mahasiswa, alumni). Kostum dan aksesoris membantu untuk menunjukkan karakter. Alumni sibuk dgn Blackberry-nya. Semua duduk di kursi, konseli duduk sebaris, konselor berhadapan dgn konseli. Posisinya serong, agar tidak membelakangi dan dapat dilihat jemaat.
(musik pengiring dgn lembut: Think about His love)
Konselor : Ayo, gimana, sharinglah kondisi nya...
Siswa : Yah... Gitulah kak. Di sekolah, rasanya lama-lama gimanaa gitu aktif di rohkris. Kayak ada jaraknya gitu kalau mau gabung ama anak-anak yang lain, kalau mau main, jalan, nongkrong. Trus rasanya sayang juga ngabisin waktu banyak buat ngurusin kebaktian, yang datang juga itu-itu aja. Aku kan udah kelas 3, mau fokus utk persiapan kuliah, les, bimbel, belom lagi diomelin ama orang tua. Apa berhenti dulu ya dari “kegiatan rohkris” ini? Ntar takutnya gagal lagi cita-citaku gara2 ngurusin ini mulu... Ah, gak taulah...
Konselor : Ehm...
Mahasiswa : Gw juga dulu gitu waktu siswa, capek sih, takut juga, tapi puji Tuhan, bisa kok lulus di kampus yg gw harapin. Yakinlah... Tuhan pasti kasi yang terbaik kok... Tapi... gw jg lagi capek sekarang, di kampus jadi pengurus lagi, udah berapa tahun... hehe
Konselor : wess... udah sering ikut pembinaan dong. Hehe. PPA di sana-sini, MC sana-sini, PKK, trainer, Udah berapa orang yg dibawa pada Kristus?
Mahasiswa : hahahaha... Malu aku, kak, kalo ditanya gitu... Itu juga sih yg ku pikirkan.Utk apa ya record pelayananku yg banyak itu. Hampa. Banyak ikut training Penginjilan, tapi gak pernah menginjili. Sibuk sana sini, tapi apakah itu aku lakukan dgn sungguh? Apakah Tuhan senang, atau hanya sekedar segudang kegiatan pelayanan? (sedih)
Alumni : aku dengar cerita gini, jadi rindu banget dgn suasana itu.
Konselor : Maksudnya?
Alumni : udah alumni gini, sibuk kerja, gak pernah lagi terlibat pelayanan. Padahal dulu waktu masih di kampus, sekolah, aku aktif jd pengurus.
Siswa : sekarang kenapa kak?
Alumni : gak sempat. Sibuk bgt kerjaan. Ku pikir aku udah di jalan yg benar, aku kerja, gak terhisap isme-isme alumni: hedonisme, materialisme, konsumerisme, aku gak terpengaruh. Tapi kerjaan ini malah mengambil seluruh waktuku. (sekali-sekali melihat Blackberry). Penghasilan sih lumayan. Tapi, jangankan waktu utk pelayanan, utk keluarga aja makin lama makin kurang, belum lagi aku rencana utk lanjut kuliah..
Mahasiswa : kakak kerja dimana sih?
Alumni : di bank
Mahasiswa : oh… berarti kakak dulu jurusan ekonomi dong..
Alumni : enggak. Aku alumni Fakultas Teknik (mahasiswa bingung). Ya, namanya kerjaan.
Siswa : Lho kok?? Ah, udahlah… jadi pelayanan kakak sekarang?
Alumni : sebatas donatur. Ah,,, aku tau pasti ada yg salah..
Mahasiswa : jadi takut gw jadi alumni.
Konselor : ok deh. Gini... Dengar... Aku mau tanya, kalian tau Allah sangat mengasihi kalian?
Semua : tau... (menganggukkan kepala)
Konselor : apakah kalian mengasihi Allah?
Semua : iya... (mengangguk)
Konselor : urutan ke berapa Dia dalam hidup kita? (semua tertunduk)... (sambil konselor pergi) Dia sangat mengasihimu. Kalau kalian tau itu... (satu-satu pergi melangkah lambat).
Aku baru aja servis motor. Setelah kecelakaan waktu itu memang satu demi satu bagian harus di servis lagi. Kemarin tiba-tiba semua bagian mati, gak bisa starter, lampu sign, lampu utama, lampu rem, klakson, semua lampu yang di kepala motor, gak ada yang nyala. Aku pikir masalah baterai aki, terus lihat skringnya putus, coba-coba ganti skring, eh ternyata bisa. Besoknya, kumat lagi, semua mati lagi, dan skringnya putus lagi. Aku pikir berarti ada yang gak beres, ada yang korslet mungkin. Tapi gak sempat ke bengkel, karena jam 5 pagi aku harus berangkat dari Jakarta ke Karawang, hujan pula lagi. Pikirku siang aja, atau malam, ternyata gak jadi karena hujan seharian. Besoknya baru kesampaian. Aku bawa ke bengkel, tukang bengkelnya cek, dan memang berkesimpulan ada yang korslet, cuma belum tau yang mana. Dicek kabelnya –yang banyak banget itu, satu per satu, semua bodi motor dibuka. Dan............. akhirnya ketemu. Switch rem belakang korslet. Kabelnya putus, dan menimbulkan percikan api, udah meleleh sebagian. Aku baru ingat, memang switch rem itu baru ku ganti waktu awal bulan karena rusak, tapi ternyata gak rapi waktu dipasang, jadi korslet. Aku terperanjat sejenak waktu dengar tukang bengkelnya bilang: “Untung mas cepat-cepat bawa kemari, kalo gak, motor ini bisa terbakar, ’kan dekat bensin”... Pikiranku langsung berimajinasi: udah berhari-hari rusak tapi belum dibawa ke bengkel, ternyata bisa bahaya banget. Bisa terbakar. Gimana kalo aku lagi di motor, dan tiba-tiba motor terbakar? Atau kalo aku lagi tidur, atau kalo aku lagi di dekat motor? Ah, bisa mati aku… hanya karena percikan api kecil...
Tapi nyatanya itu tidak terjadi!! Aku masih di bengkel, aku masih hidup, malamnya aku masih bisa nulis artikel ini. Tuhan masih membiarkan aku hidup. Kenapa? Kenapa harus aku?
Aku sering terpikir begitu... Waktu beli nasi goreng, capcay atau pecel lele, sambil nunggu dimasak, mataku terus melihat tabung gas elpiji 3kg dan berpikir: gimana kalo tiba-tiba tabung ini meledak? Matilah aku. Atau waktu naik pesawat, begitu banyak hal yang di luar pemantauan manusia, masalah kecil tapi akibatnya fatal. Sering aku kepikiran, gimana kalo ada sedikit aja kabel yang korslet, meledaklah pesawat ini; atau kalau ada satu baut aja yang longgar, olenglah pesawat ini; atau cuaca buruk; atau bencana lain? Siapa yang bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja?
Pernah gak kita berpikir demikian? Tapi ternyata kita masih hidup sampai saat ini. Pernahkah kita bertanya: kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang masih hidup? Kenapa harus aku yang selamat? Mungkin pertanyaan ini gampang kita lontarkan ketika kita merasa ditimpa sial, tidak beruntung, malang, sakit, dukacita, kecelakaan, kita tidak sulit mengatakan: kenapa harus aku? Kenapa bukan dia?? Tetapi jika keadaannya sangat baik, kondisi fisik yang sempurna, sehat, multitalent, cukup materi, studi yang baik, pekerjaan yang baik, keluarga yang hangat, pernahkah kita bertanya: kenapa harus aku? Siapa aku ini yang layak mendapatkannya? Bukankah masih banyak orang yang lebih layak? Perenungan ini langsung menghantarkan aku pada sebuah lagu:
Why have You chosen me out of millions Your child to be?
You know all the wrong that I’ve done
O how could You pardon me, forgive my iniquity
To save me, give Jesus Your Son...
# But (Oh) Lord help me be what You want me to be,
Your word I will strive to obey
My life I now give, for You I will live
And walk by Your side all the way
I am amazed to know that a God so great could love me so
He’s willing and wanting to bless
His grace is so wonderful, His mercy’s so bountiful
I can’t understand it, I confess...#
Lagu ini seringkali meneteskan air mataku. Kenapa aku yang dipilih-Nya? Kenapa aku masih hidup? Bagi Rasul Paulus hanya ada 2 pilihan (Filipi 1:20-26): mati, artinya hidup kekal bersama dengan Allah (20); atau hidup di dunia ini untuk bekerja memberi buah (21). Tidak ada pilihan lain: hidup tapi tidak berbuat apa-apa. Kita masih hidup, kamu masih bisa baca tulisan ini, berarti masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan...
*buat mereka yang baru, sedang dan akan berulang tahun; buat mereka yang sedang (atau tidak) menikmati hidup
Banyak orang terlibat pelayanan, tapi sepertinya tidak banyak yang selalu merenungi, apakah yang dilakukannya benar-benar pelayanan atau bukan. Bagi sebagian orang mungkin itu tetap bisa disebut sebagai pelayanan, tetapi secara radikal bukanlah pelayanan.
1. Pelayanan yang tidak jelas motivasinya
Kenapa melayani? Ya kenapa ya... ya gitu deh. Kan bagus, dari pada tidak berbuat apa-apa. Memang tidak sesalah: ingin cari perhatian, ingin dapat kenalan, ingin tampil, terkenal; tapi tidak jelas dan tidak tajam. Dan itu yang bahaya, padahal kelihatannya baik. Kenapa jadi guru sekolah minggu? Karena suka anak-anak. Kenapa harus jadi guru sekolah minggu? Jadi guru TK aja, kan banyak anak-anak? Kenapa jadi gitaris, MC? Bakat ku kan di situ. Kenapa gak bentuk grup band aja kalau punya bakat di situ? Kenapa mau jadi panitia ini? Kenapa memutuskan untuk jadi seksi acara/ pubdok/ perlengkapan/ dana/ konsumsi, dll? Gak ada yang mau jadi seksi doa, karena berdoa aja kerjanya? Harusnya pertanyaan ini bisa dijawab dengan mantap oleh orang-orang yang komitmen di pelayanan itu. Jika tidak, jangan heran banyak orang berhenti di tengah jalan, tidak jelas motivasinya, sekalipun kelihatan baik, tidak ada sukacita sejati setelah melayani, senang mungkin iya, karena memang cocok mengerjakan hal itu, tapi bukan damai sejahtera. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut pelayanan jika tanpa motivasi yang jelas? Atau ada juga pelayanan yang versi ini: waktu ditanya, pelayanan dimana? Jawabnya: hidupku adalah pelayananku, atau aku melayani lewat donasi sih sekarang. Benar juga sih, tapi bisa jadi salah, kalau tidak ada pergumulan untuk terlibat lebih dalam, atas pertanyaan what, where, when, who, why, how?
2. Pelayanan yang bukan dikerjakan oleh pelayan
Pelayanan adalah respon ucapan syukur dari orang-orang yang sudah ditebus Kristus, diselamatkan, dengan kesadaran penuh akan kebutuhan untuk terus berelasi dengan Allah dan sesama, serta rasa berhutang agar orang lain juga dapat menikmati apa yang telah dia nikmati bersama Allah. Melayani dengan sadar bahwa Allah terlebih dahulu melayani, dengan ‘turun tahta’, datang ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib demi orang-orang yang dikasihi-Nya. Hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya telah diubahkan Kristus dan membiarkan Kristus yang terus menguasai seluruh hidupnya, hati dan pikirannya. Dia tau apa artinya menghamba, melayani, siapa yang sesungguhnya sedang dilayani, dan apa yang berkenan saat melayani, bukan sekedar berbuat ini itu, bukan sekedar mengerjakan target, deadline, program, atau sebuah event. Tidak jarang melihat ‘pelayanan yang tidak hidup’ karena pemusiknya hanyalah musisi, tapi bukan pelayan (mungkin sedang show); singernya adalah penyanyi, tapi bukan pelayan; panitianya adalah event organizer, tapi bukan pelayan. Selama dia belum terima Kristus, tidak ada relasi dengan Kristus, belum cinta Kristus dan benci dosa, dia bukanlah pelayan. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut sebagai pelayanan jika tidak dikerjakan oleh para pelayan?
3. Pelayanan yang egois
Sepertinya ini terjadi secara tidak sadar, bahkan oleh seorang pelayan yang jam terbangnya sudah tinggi, atau pelayan yang sudah begitu banyak terlibat dalam pelayanan di sana sini. Kenapa melayani? Untuk menjaga kondisi kerohanianku, supaya aku tetap terlibat dalam pelayanan, untuk mengisi waktu kosongku dengan hal yang mulia, supaya aku tetap disegarkan oleh firman Tuhan, supaya aku tetap bisa bersekutu, supaya aku, aku, aku... Tidak ada yang salah dari alasan-alasan itu, tetapi adakah alasan lain selain aku, aku dan aku? Kita terlibat begitu banyak pelayanan, tanpa henti, bahkan rangkap, supaya apa? Supaya aku... aku... Sampai di situkah? Tidak heran kalau banyak pelayan yang kelelahan, karena dia sedang melakukan ‘pelayanan yang egois’. Anugerah terbesar dalam kehidupan manusia adalah saat Allah (yang tidak egois) memberikan anakNya, Yesus Kristus, sebagai Juruselamat bagi umat manusia. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Pembaharuan ini seharusnya membuat para pelayan mampu mengasihi Allah dan orang-orang yang Allah kasihi. Jadi bukan sekedar supaya aku, tapi supaya Allah, dan supaya umat Allah... Pantaskah disebut pelayanan jika pelayanan itu egois?
Aku jadi teringat cerita 3 tukang batu. Dari satu pertanyaan: “Apa yang sedang kamu kerjakan?”, ada 3 jawaban (yang tidak salah, namun berbeda):
Tukang batu 1: aku sedang meletakkan satu batu di atas batu lainnya.
Tukang batu 2: aku sedang mencari nafkah untuk istri dan anakku
Tukang batu 3: aku sedang membangun sebuah gereja besar, suatu saat nanti semua orang akan menyembah Tuhan di gereja ini.
Kita juga sering terjebak berpikir demikian. Namun tukang batu yang ketiga mampu melihat visi besar dalam hal sederhana yang dia lakukan. Harusnya kita juga berjuang untuk terus melayani dan menyadarinya sebagai bagian kecil dari rencana kekal Allah bagi dunia ini. DIA bisa pakai siapa saja untuk melayani-Nya, tetapi sungguh sayang ketika kepercayaan/ anugerah itu diberikan kepada kita namun kita menyia-nyiakannya dengan tidak memberikan yang terbaik di waktu yang tidak banyak/ terbatas ini.
Ngomong tentang pelayanan juga, pasti teringat perikop Maria dan Marta (Lukas 10:38-42). Marta sibuk sekali melayani. Tidak ada yang salah dengan Marta, tapi dia hampir kehilangan kesempatan terbaik untuk mengenal Tuhan Yesus. Dan itu yang ada dalam diri Maria: “...hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay.42). Banyak hal baik yang bisa kita lakukan, tapi jangan-jangan itu bukan yang terbaik? Saya setuju LAI memberi judul Maria dan Marta, padahal yang disebut duluan dan paling banyak beraksi adalah Marta, baru Maria. Tapi bukan banyaknya aksi, hanya Maria memilih bagian yang terbaik, melakukan apa yang Tuhan mau (bukankah itu pelayanan? Pelayan melakukan apa yang disuruh Tuan), duduk diam dengar Tuhan ngomong. Jadi, bagaimana evaluasi pelayanan kita selama ini?
Mungkin setelah membaca tulisan ini, Anda akan berkata: “ah... tulisan ini mah udah biasa. Semua juga udah pada tau. Apalagi yang udah terbina di pelayanan siswa, mahasiswa, alumni, gereja, sekolah minggu sampai kaum lansia. Gak ada yang baru”. Memang. Sama seperti halnya seorang teman berkata kepada anda untuk membersihkan kamar anda yang berantakan. Anda pasti sudah tau itu. Tapi ketika akhirnya anda melakukannya juga, anda lalu berkata: “Oh... ini nih pulpen yang gw cari dari kemaren-kemaren... Ketemu juga akhirnya... thanks ya...”.
Tidak ada salahnya menjadi Marta, asalkan ada hati Maria di dalamnya...
*buat mereka yang merasa sedang melayani atau mengurus pelayanan...