Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

*artikel ini adalah kado dari Tuhan di ulang tahun anak kami Luvmika Gloria Tarigan yang ke-1 (12 Agustus), dan ulang tahun saya yang ke-29 (13 Agustus). Tuhan membawa saya dalam perenungan akan pemeliharaan-Nya yang sempurna, dan pekerjaan tangan-Nya yang tak terselami. Tulisan ini semoga juga menjadi kado buat teman-teman, balasan saya sebagai ungkapan terima kasih atas semua ucapan selamat ulang tahun dan setiap doa yang dipanjatkan buat keluarga kami.



Judulnya tidak salah tulis. Bahagia itu tidak sederhana. Saya memang sering membaca “BAHAGIA ITU SEDERHANA”, khususnya beberapa waktu ini. Belakangan saya tahu ternyata itu juga judul lagu. Pencetus frase ini niatnya baik, agar orang berhenti berpikir bahwa bahagia itu adalah hal yang ribet, ruwet, susah untuk dicapai. Jadi katanya, bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyummu. Aku dan kamu kita berdua bahagia, sederhana. Lama-lama frase “Bahagia itu sederhana” semakin luas digunakan orang, dengan alasan-alasan yang juga sederhana. Misalnya:

- bahagia itu sederhana, ketika bisa berkumpul bersama keluarga dengan ceria
- bahagia itu sederhana, sesederhana kita mengucapkannya: “BAHAGIA”
- bahagia itu sederhana, makan ikan bakar bareng istri
- bahagia itu sederhana, gak sengaja nemu duit di kantong celana
- bahagia itu sederhana, melihat sendalku jejer dekat sendalmu

Alasan-alasan kebahagiaan itu kelihatannya memang sederhana. Tapi apakah memang benar adanya “sederhana”? Kalau kita meyakini bahwa tidak ada yang terjadi secara “kebetulan”, semuanya ada di bawah kendali Tuhan, maka kalau diresapi dalam-dalam, hal-hal yang kita lihat sebagai hal yang sederhana, sebenarnya tidak terjadi begitu saja dengan sederhana. Ada Tuhan yang mengaturnya. Tuhan menggunakan segala sumber daya yang ada, bahkan bekerja sama dengan kita, untuk membuat hal itu bisa terjadi. Dan karena ini melibatkan begitu banyak faktor, maka ini bukan lagi menjadi hal yang sederhana. Tapi hal-hal yang tidak sederhana itulah yang Tuhan kerjakan bahkan untuk hal-hal yang kita anggap sebagai hal yang sederhana. Untuk lebih jelas, mari kita kupas satu per satu, dari 5 contoh alasan “bahagia itu sederhana” yang sudah disebut di atas.

- bahagia itu sederhana, ketika bisa berkumpul bersama keluarga dengan ceria.
bayangkan bagaimana Allah bekerja untuk mendatangkan setiap anggota keluarga bisa berkumpul, apalagi dengan ceria. Pertama-tama Allah harus membangunkan setiap anggota keluarga dari tidurnya, memberinya nafas hidup, kesehatan, makanan untuk dimakan, mencukupkan setiap detail kebutuhannya, menyertainya dalam perjalanan, dan menganugerahkan sukacita di hatinya. Daftar ini bisa sangat panjang jika kita merincinya dengan lebih runut lagi. Dan itu dikerjakan Tuhan untuk setiap pribadi, supaya bisa berkumpul bersama-sama.

- bahagia itu sederhana, sesederhana kita mengucapkannya: “BAHAGIA”
untuk bisa mencapai hal ini, orang tersebut harus disertai hidupnya agar bisa berbicara, mendengar, dan berkomunikasi. Tuhan juga harus bersabar membuat orang ini dari tidak bisa membaca jadi bisa membaca, dari tidak bahagia jadi bahagia

- bahagia itu sederhana, makan ikan bakar bareng istri
nah, ini bisa dibuat lebih detail lagi. Bayangkan apa yang harus dikerjakan Allah agar kita bisa makan ikan bakar bareng istri. Tuhan harus memelihara si ikan sampai sebesar itu. Tuhan harus memelihara hidup si nelayan agar bisa menangkap ikan itu; memelihara hidup si pengangkut ikan, si pemasak ikan, dan si pengantar ikan, sampai ikan itu berada di hadapan kita, di piring untuk kita santap, bareng istri. Dan untuk yang terakhir ini, Tuhan harus bekerja bertahun-tahun untuk mempertemukan kita dan menyatukan menjadi suami istri, dan hari itu kita dianugerahi kegembiraan supaya bisa menikmati makan ikan. Karena seenak apapun makanan, tanpa hati yang enak, tidak akan jadi enak. Saya sudah membuktikan. Di restoran enak, banyak pasangan pulang dengan berantam, makanan tersisa, atau bahkan gak jadi makan.

- bahagia itu sederhana, gak sengaja nemu duit di kantong celana
ini juga tidak kalah “tidak sederhana”. Bagaimana Tuhan memberimu rezeki untuk mendapatkan uang dan celana itu, menjaganya selama dicuci, dijemur, disetrika, sampai dipakai kembali, dan menggerakkan tanganmu untuk menggapai uang beruntung itu.

- bahagia itu sederhana, melihat sendalku jejer dekat sendalmu
dari jutaan sendal yang ada di dunia, kenapa kau memilih sendal itu, dan dia memilih sendal yang itu. Dari banyaknya peluang kejadian yang mungkin, kenapa posisi dua pasang sendal itu berjejer? Kebetulan? Tuhan bekerja panjang untuk hal-hal yang kita sebut sebagai kebetulan.

Saya sendiri kalau meneruskan pola ini, saya bisa berkata:

- bahagia itu sederhana, bisa melihat anakku tertawa lepas
berarti Tuhan telah menjaga anakku hingga seusia sekarang, bekerja luar biasa dalam proses tumbuh kembangnya, Tuhan menjalin rapi tiap sel-sel syaraf dalam tubuhnya hingga dia bisa berespon dengan tertawa lepas

- bahagia itu sederhana, saat jalanan Kalimalang tidak macet
saya pikir ini salah satu jalanan termacet di dunia. Tapi pernah beberapa kali memang Kalimalang tidak macet, dan saya sangat bersyukur. Membayangkan bagaimana Tuhan bekerja mengatur lalu lintas, menahan kendaraan entah dari mana, melancarkan kendaraan entah di sisi jalan yang mana, mengimajinasikan jalanan yang saling terhubung sambung menyambung menjadi satu, diatur di sini, berefek ke yang sana, dan semua itu Tuhan yang atur. Luar biasa.

Maaf, bukan lebay dalam menganalisis masalah, atau memperpanjang masalah, atau cari-cari masalah dengan merumitkan yang sederhana. Saya hanya mengajak kita untuk merenung lagi beberapa hal: pertama, yang kita pikir sederhana ternyata tidak sederhana. Kalau bahagia sesederhana hal kecil tersebut, apakah terkandung arti sebaliknya, kita bisa mudah menjadi tidak bahagia (bahkan) jika hal (yang) kecil tersebut tidak terjadi? Saya bukan mutlak tidak menyetujui “bahagia itu sederhana”. Kalau tujuan frase itu untuk lebih mengajak orang selalu bersyukur, oke, mantap, silahkan. Tapi semoga jangan sampai men-downgrade makna atau menurunkan kedalaman perenungan akan pekerjaan Allah di balik kebahagiaan.

Mari tilik sejenak Alkitab kita. Ada 360 ayat yang mengungkapkan berbahagialah (happy, blessed, makarioi). Kalau satu tahun digenapkan 360 hari, 1 ayat cukup untuk 1 hari selama setahun untuk mengingatkan kita tentang kebahagiaan di dalam Tuhan, hari demi hari. Alkitab versi Indonesia Terjemahan Baru mungkin kurang dari itu, hanya seratusan ayat yang diterjemahkan jadi “bahagia”. Sebagian besar muncul dari kitab Mazmur. Pemazmur konsisten menuliskan: orang yang bagaimana yang sesungguhnya berbahagia. Ayo kita lihat, mana bahagia yang disebut sederhana itu? Saya ambil contoh, 13 ayat dari Mazmur.

Mzm. 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
Mzm. 32:1 Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
Mzm. 32:2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!
Mzm. 40:5 Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!
Mzm. 84:5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.
Mzm. 84:6 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
Mzm. 89:16 Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;
Mzm. 94:12 Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,
Mzm. 106:3 Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!
Mzm. 112:1 Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Mzm. 119:1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
Mzm. 119:2 Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,
Mzm. 128:1 Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

Kalau itu belum cukup, mari ingat satu bagian terkenal dari Khotbah di Bukit: Ucapan Bahagia, yang disampaikan langsung oleh Tuhan Yesus. Bagian mana yang berani kita tunjuk sebagai hal yang sederhana?
Mat. 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Mat. 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Mat. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Mat. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Mat. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Mat. 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Mat. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Mat. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Mat. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Saya sendiri makin paham, akhirnya kebahagiaan itu hanya anugerah. Dan kebahagiaan itu adalah Tuhan sendiri. Itulah tujuan hidup manusia: memuliakan dan menikmati Tuhan. Hanya dengan itulah dia bahagia. Jadi bahagianya inside-out, karena Tuhan sudah ada di dalam hatinya, makanya dia bahagia, walau apapun yang terjadi di luar sana. Bukan dibalik, outside-in, kebahagiaannya terlalu temporer, sangat tergantung apa yang terjadi di luar sana. Bahagia itu di sini (tunjuk hati). Pusat jiwa, di mana Tuhan bertahta. Tanyakan pada semua orang, apa tujuan hidupnya? Pasti: BAHAGIA. Tau dari mana itu tujuan hidupnya? Coba tanyakan pertanyaan “untuk apa?” atas jawabannya. Selama masih bisa ditanyakan “untuk apa”, maka itu belum menjadi tujuan final. Misalnya: untuk apa hidup? Untuk kerja. Ini bukan tujuan final, karena masih bisa ditanya: untuk apa kerja? Jawabnya biar dapat uang. Masih bisa ditanya lagi: untuk apa dapat uang? Biar bisa beli ini itu. Untuk apa beli ini itu? Biar memenuhi kebutuhan hidup. Untuk apa memenuhi kebutuhan hidup? Biar berkecukupan. Untuk apa berkecukupan? Biar bahagia. Nah, di sini stop. Tidak bisa ditanya lagi, untuk apa bahagia? Bahagia ya untuk bahagia. Itulah tujuan finalnya. Dan sekali lagi, akhirnya kebahagiaan itu adalah Tuhan sendiri, hanya anugerah-Nya.

Jadi, masihkah kita menganggap sederhana pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa itu? Bisa bangun pagi, masih bernafas, terlalu sederhanakah sehingga kita alpa bersyukur? Berapa banyak orang susah bernafas? Berapa duit kalau dirupiahkan oksigen yang kita gunakan? Sehari, sebulan, selama hidup? Berapa juta sel bekerja, jaringan, organ, sistem organ hanya untuk 1 kali tarikan nafas? Mujizat besar dalam hal kecil.
Masih banyak contoh lain, yang bisa kita tambahkan sendiri. Ternyata tak sesederhana yang kita bayangkan. Seorang teman memilih berjalan kaki ke kantor, kelihatannya sederhana, tapi untuk itu dia membeli sepatu karet yang menurut saya harganya mahal sekali untuk sepasang sepatu. Tidak jadi sederhana. Orang bersepeda, bisa jadi terkesan sederhana, tapi ternyata harga sepedanya lebih mahal dari harga motor. Bahkan tempat makan yang namanya SEDERHANA sangat mungkin harganya mahal, dan bukan untuk konsumen golongan orang sederhana. Untuk gaya hidup sederhana, orang membutuhkan disiplin dan penyangkalan diri. Dalam pelaksanaannya seringkali tidak sederhana, buktinya banyak alumni yang gagal meneladankannya.

Jadi bagaimana? Apa yang membuat hidup pas, puas, bahagia? Sekali lagi, Allah sendiri. Seorang bapa gereja, Agustinus pernah berkata: jiwa kita yang berlubang-lubang cacat ini tidak bisa diisi oleh apapun di dunia, kecuali oleh Allah sendiri. Lubang-lubang yang tertinggal itu, adalah lubang yang gedenya, luasnya, dalamnya, sebesar, sedalam, seluas, yang namanya Allah. Lubang itu hanya dapat terisi, lalu tertutup oleh diri Allah sendiri. Ketika lubang itu dinyatakan sebesar Allah, itu artinya limitless, jadi jangan coba ditutup, diisi, dengan hal-hal yang limited.

Salam bahagia, dari kami, KLM
Kawas-Luv-Misni

Read More..


23 Maret 2015. Hari ini kami memperingati hari jadi perkawinan kami yang kedua. Kami masih kapas. Versinya buku Grace on Marriage menuliskan:orang hanya berani menghitung kebahagiaan pernikahan sampai angka 60 tahun saja.

Tahun ke-1      :           Perkawinan Kertas (paper)
Tahun ke-2      :           Perkawinan Kapas (cotton)
Tahun ke-3      :           Perkawinan Kulit (leather)
Tahun ke-4      :           Perkawinan Bunga (flower)
Tahun ke-5      :           Perkawinan Kayu (wood)
Tahun ke-6      :           Perkawinan Besi (candy)
Tahun ke-7      :           Perkawinan Tembaga (copper)
Tahun ke-8      :           Perkawinan Perunggu (bronze)
Tahun ke-9      :           Perkawinan Periuk (pottery)
Tahun ke-10    :           Perkawinan Timah (tin)
Tahun ke-11    :           Perkawinan Baja (steel)
Tahun ke-12    :           Perkawinan Sutera (silk)
Tahun ke-13    :           Perkawinan Renda (lace)
Tahun ke-14    :           Perkawinan Gading (ivory)
Tahun ke-15    :           Perkawinan Kristal (crystal)
Tahun ke-20    :           Perkawinan Tembikar (china)
Tahun ke-25    :           Perkawinan Perak (silver)
Tahun ke-30    :           Perkawinan Mutiara (pearl)
Tahun ke-35    :           Perkawinan Karang (coral)
Tahun ke-40    :           Perkawinan Manikam (ruby)
Tahun ke-45    :           Perkawinan Nilam (sapphire)
Tahun ke-50    :           Perkawinan Emas (gold)
Tahun ke-55    :           Perkawinan Ratna (emerald)
Tahun ke-60    :           Perkawinan Intan (diamond)

Dan kami masih di step ke-2: Kapas. Saya searching karakteristiknya: berwarna putih, berbentuk serat halus yang susunan seratnya longgar, ringan, mudah terbakar. Sifat fisik produk dari kapas: bahan terasa dingin dan sedikit kaku, mudah kusut, mudah menyerap keringat, rentan terhadap jamur. Ya, mungkin masih seperti itulah pernikahan kami. 2 tahun penuh makna dan pembelajaran. Kami bersyukur,Tuhan yang setia menuntun kami sampai di titik ini. Banyak hal yang sudah DIA kerjakan dalam keluarga kecil kami. Saya pribadi, saya sungguh berbahagia dianugerahi 2 wanita istimewa dalam keluarga ini.


Yang pertama, putri kecil kami, Luvmika Gloria Tarigan (Lulu). Kehadirannya membawa keceriaan tiap waktu, dan bersamanya kami banyak mendapat pelajaran tentang hidup beriman. Bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kami bulan demi bulan, bagaimana DIA menyembuhkan anak kami secara mujizat. Kami sungguh bersyukur dan takjub. Kami berjuang sebaik-baiknya membesarkannya, karena kami tahu bahwa kami tidak sekedar sedang merawat anak, tapi dalam rangka menghasilkan generasi unggul penerus bangsa ini puluhan tahun lagi. Kiranya Lulu terus berkembang dan bertumbuh menjadi wanita terbaik, takut akan Tuhan, seperti ibunya: Misni, wanita teristimewa dalam hidup saya. Bersamanya, saya merasa menjadi suami yang terberkati. Bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kasih, kesetiaan, kesabaran, ketangguhannya dalam berdoa dan berjuang.

2 tahun ini tidak banyak berubah, dia tetaplah Misni yang seringkali tidak menutup kran air dengan sempurna, susah untuk menjawab hp dengan cepat, bisa bolak balik ke kamar 10 kali sebelum berangkat keluar rumah, ada saja barangnya yang ketinggalan, lupa naruh kunci dimana. Tapi itulah Misni yang kadang mengesalkan sekaligus merindukan, memancing marah sekaligus penenang gundah. Melihatnya, saya bisa menuliskan Amsal 31 versi saya sendiri. Pagi-pagi dia bangun untuk menyusui Lulu, sambil bersenandung atau menyanyikan lagu rohani, dan membacakan 1 pasal Alkitab setiap hari. Malam-malam dia tidur setelah kami renungan malam, dia menyusui Lulu dan memastikan besok pagi semua perlengkapan sudah siap. Dia sepi dari dunia maya, tetapi terus mengikuti informasinya. Di rumah, dia membuat aturan seminim mungkin menggunakan gadget, demi quality time. Dia tidak gembar gembor tentang ASI di media sosial, karena itu adalah naturnya ibu, layak dan wajar, tidak perlu diekspos. Sama seperti orang Kristen yang rajin berdoa, atau pegawai yang bekerja dengan baik. Tanpa digaungkan pun, itu akan tetap dikerjakan, karena memang seharusnya begitu. Striker sepakbola, Mario Balotelli, mengatakan: "When I score, I don't celebrate because I'm only doing my job. When a postman delivers letters, does he celebrate?"

Lebih dari itu,dia adalah partner terbaik, mendukung saya menjadi suami seutuhnya, pelayan Tuhan yang maksimal, imam keluarga. Kalau banyak ibu-ibu yang permisif tidak ikut ini itu karena punya anak kecil, dia setia mendampingi saya pelayanan, bahkan bukan hanya berjuang ikut, tapi selagi bisa dan mungkin, dia akan memboyong anak kami untuk turut ikut di pelayanan/ persekutuan/ kegiatan itu.

Saya ingin menjalani tahun ke-3, 4, 10, 60, 100, pernikahan kami, sampai mati bersamanya. Tentu kisah cinta terindah tidak hanya terjadi dalam dongeng. Saya mengumpulkan beritanya, dan berharap daftar pasangan ini sampai kepada nama kami sebagai pasangan kekasih yang menuliskan cerita cinta, kisah sejati itu.

  • Betapa bahagia pasangan Gordon Yeager (94) dan Norma (90), pasutri Amerika Serikat yang menikah pada tahun 1939 dan menjadi perbincangan dunia tahun 2011 karena meninggal dengan berpegangan tangan. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan keduanya kritis di rumah sakit dan tidak ingin dipisahkan sampai meninggal hanya selisih 1 jam dengan tangan yang masih saling berpegangan. Saat itu usia pernikahan mereka telahmelampaui 72 tahun.
  • Ada lagi pasangan J.C. dan Josie Cox yang menikah tahun 1932. Memasuki usia senja, JC mengalami gangguan pendengaran, dan Josie gangguan penglihatan. JC membantu Josie untuk melihat dan Josie membantu JC untuk mendengar, saling melengkapi. Karena sudah tua dan sakit komplikasi paru dan jantung yang mereka derita, mereka dirawat dan akhirnya meninggal di rumah sakit yang sama, di hari yang sama, tepat pada ulang tahun ke 75 pernikahan mereka.
  • Pasangan Joey dan Mel Schwanke asal Fremont, California, Amerika Serikat. Usia pernikahan mereka telah mencapai 65 tahun. Mereka selalu memakai baju kembar atau senada. Kebiasaan ini sudah berlangsung selama 35 tahun.
  • Jack Millis dan Millie, asal Cambridgeshire, Inggris. Jack memberikan setangkai bunga setiap hari kepada istrinya Millie. Kebiasaan itu sudah dilakukan 70 tahun. Bila dihitung, Jack yang kini sudah berusia 89 tahun, telah memberikan 3000 bunga bagi Millie selama tujuh dekade kebersamaan mereka.
  • Tom Shovelton dan istrinya Joan asal Pentre Flintshire, North Wales. Meski di usianya yang telah memasuki 87 tahun, sikap romantis Tom tak pernah luntur sedikit pun pada Joan yang empat tahun lebih muda. Setiap hari sejak menikahi Joan, Tom tak pernah lupa menaruh setangkai mawar disamping tempat tidur dan memberikan sebuah ciuman selamat pagi dan selamat malam. Ini sudah 60 tahun dilakukannya.

Suatu saat nanti, kami pun ingin diingat orang karena kesaksian cinta yang Tuhan anugerahkan dapat kami jaga dan perjuangkan, sampai mati. Ada satu buku bagus yang sangat menolong saya dan istri: The Momentary Marriage (John Piper). Buku ini juga sering saya pakai untuk berkhotbah tentang kasih/ pernikahan. Saya mengutip kalimat penting dari buku ini, ketika ia menjelaskan tentang keharusan untuk mempertahankan pernikahan, dalam kondisi apapun:
“Karena itu, mempertahankan pernikahan bukan hanya soal mempertahankan cinta. Ini berkaitan dengan mempertahankan perjanjian. “Sampai kematian memisahkan kita”, adalah janji kudus pernikahan – sama seperti janji Yesus kepada mempelai-Nya (jemaat-Nya) ketika Ia mati untuknya... Kristus tidak akan pernah meninggalkan istri-Nya (kita). Selamanya. Mungkin ada masa-masa yang menyakitkan dan kemunduran di pihak kita. Tetapi Kristus mempertahankan perjanjian-Nya selamanya. Pernikahan harus menampilkan hal itu! Itulah yang utama dalam pernikahan. Pernikahan mempertontonkan kepada dunia: kasih ikatan perjanjian Kristus”.
Di buku itu juga mengutip pernyataan Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang dipenjara selama kekuasaan Nazi/ Hitler, dalam bukunya “Letters and Papers from Prison”, dituliskan: Sebagaimana Anda saling memberikan cincin, tetapi Anda menerimanya dari tangan pendeta, demikianlah cinta datang dari Anda, tetapi pernikahan datang dari atas, dikaruniakan oleh Allah. Sebagaimana Allah lebih tinggi daripada manusia, demikianlah tingginya kekudusan, kebenaran, dan janji dari kasih. Bukan cinta Anda yang menopang pernikahan, melainkan sejak sekarang, pernikahanlah yang menopang cinta Anda.

Inilah yang ingin kami tunjukkan, menjadi etalase kasih Allah, yang bisa disaksikan orang lain, bagaimana Allah begitu mengasihi kami sehingga kami dimampukan untuk mempertahankan kasih. Sekalipun masih kapas.
Di hari jadi ini, kami rayakan dengan outdoor dinner, menikmati santap malam bersama, bersantai, berdoa, berbincang, memeluk anak kami, memandangi langit yang sangat cerah malam itu. Waktu terbaik untuk bersyukur.

Mengingat pergumulan dan perjalanan yang masih sangat panjang, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan 2 doa, Serenity Prayer:“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference”.
Dan doa Daud: “Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada dihadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya." (2 Samuel 7:29)

Sayangku Misni,
Terima kasih untuk 2 tahun ini. Kam masih secantik yang dulu. Happy anniversary, hasian. Kam membuatku mengerti arti bahagia dan bersyukur. Aku ingin menggandengmu sampai kita menaiki panggung keabadian dan membungkuk memberi hormat.
Pendampingndu,
Bp. Lulu.


Read More..

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!
Saya tidak akan berbicara panjang lebar. Biarkan foto yang bercerita. Foto-foto yang saya upload ini adalah foto lama, kalau tidak salah 4 thn yg lalu, tahun 2010, tepat tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional, ketika saya ajak istri (waktu itu masih pacar) mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional. Waktu itu memang pacar ngekos di daerah belakang museum itu. Saya tanya, museumnya kok sepi ya, padahal Harkitnas ini hari ulang tahunnya? Dia jawab gak tau. Pernah kesana gak? Dia bilang cuma lewat, dan pas pernah ada acara di situ, sekilas lihat gambaran dalamnya melalui jendela. Akhirnya saya ajak saat itu juga: Ayo kesana!

Agak menyedihkan, karena Museum penting ini memang sepi, agak kurang terawat. Gedung bekas kampus perjuangan ini seperti kurang peminat. Entah anda pernah kesana atau tidak. Seingat saya masuk ke sana gratis, isi buku tamu, terus kasih uang kebersihan (? lupa istilahnya) seikhlasnya. Lalu saya dan pacar berkeliling. Ada juga beberapa orang siswa (SMP atau SMA) yang juga sedang mengunjungi museum, mungkin ada tugas sekolah.
Saya begitu takjub melihat benda-benda, saksi bisu sejarah kebangkitan Indonesia. Seakan-akan ingin balik ke masa lalu, dan ikut dalam semangat itu. Semua benda mati itu, foto, miniatur, peninggalan asli (original), kalimat-kalimat semboyan, isi surat otentik,  seakan terus hidup dan berbicara tentang semangat yang tak pernah mati. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, 2 dekade sebelum Sumpah Pemuda, ada momen penting: kebangkitan nasional! Dan kapan itu terjadi? Singkatnya: ketika ada mahasiswa-mahasiswa Indonesia -tonggak harapan bangsa- yang bangkit bagi bangsanya, berbuat nyata, sebagai luapan roh nasionalisme yang menggerakkan mereka. Ya, kebangkitan itu dimulai dari mahasiswa.
Semoga spirit (baca: roh, semangat, jiwa) para mahasiswa sekarang sama atau lebih membara lagi untuk mencintai, dan berjuang bagi bangsa ini. Semoga mahasiswa -kaum intelektual- menyadari strategisnya peran mereka: Student today, leader tomorrow. Dan visi inilah, yg membuat saya akan terus setia terlibat dalam pelayanan mahasiswa. Mereka agen perubahan. Jangan hanya sekedar rusuh demo di jalan, setia nonton acara live show di televisi, nonton komedi, ketawa ketiwi, putar kanan kiri, pakai almamater tapi gak pinter, budaya instan dengan copy-paste-an. Belajar baik-baik, siapkan karakter baik-baik, jadilah pemimpin yang baik.
Saran saya, bagi mahasiswa yg mencla mencle, gak punya semangat juang, putus asa, atau ingin dibangkitkan nasionalisme-nya, datanglah ke museum ini! Jiwamu akan dibakar oleh semangat pendahulumu, oleh sejarah bangsamu.
Salam semangat. Hidup mahasiswa! Selamat hari kebangkitan nasional.

































Read More..

Anakku, nanti saatnya kau akan tahu, 23.03.13 adalah angka yang istimewa. Itu tanggal pernikahan papa mama, 23 Maret 2013. Artinya hari ini adalah hari perayaan cinta, peringatan akan kasih setia Tuhan yang memelihara keluarga kita, di usia yang masih sangat hijau, 1 tahun, dan kebanggaannya adalah suka duka yang telah dilewati bersama-sama.

Anakku, maafkan papa, yang terlalu dini mengajakmu bercerita kisah ini. Di perayaan 1 tahun pernikahan papa mama, kau adalah pemberian terindah dari Tuhan di momen ini, dan semenjak kehadiranmu, rasanya tidak mungkin bagi papa mama bercerita tentang cinta tanpa mengajakmu untuk turut serta. Kau adalah buah cinta kami. Karena itu, sekali lagi, maafkan papa, yang tak bisa membendung rasa ingin bercerita denganmu, walau masih 4,5 bulan dalam kandungan mama. Sudah setengah perjalanan, sayang. Sebentar lagi kau akan melihat dunia ini. Bahkan entah berapa lama lagi, kau baru bisa membaca tulisan-tulisan papa. Tapi tenanglah sayang, sekarang papa akan membacakannya dengan sempurna, membisikkannya kepadamu, sambil membantu mama mengelus perutnya sebagai cara membelaimu, nak. Mungkin di dalam sana kau akan tersenyum, atau bergejolak, mendengar kisah cinta papa dan mamamu ini. Kami sungguh takjub dan penasaran, apa yang kau rasakan di dalam sana. Apakah kau juga menyahut, beresponsoria waktu papa membacakan Mazmur 139 di perut mama? Papa baca ayat ganjil, kau baca ayat genap? Hahaha... “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!”. Papa mama selalu takjub setiap kali kau di-USG. Papa bahkan harus menahan haru tiap melihat pergerakanmu. Bu dokter pernah bertanya: “ih lihat pak, bu, dia lagi lipat tangan”. Waktu itu papa pengen bilang: “lagi berdoa kali, dok”. Habis itu kau bergerak riang seperti sedang bertepuk tangan.


Anakku, tidak ada maksud lain kalau cerita kali ini berbentuk monolog papa denganmu, selain alasan sukacita. Ini yang terbaik buat kami. Demikian tulis C.S. Lewis, Pujian merupakan bentuk cinta yang mengandung unsur sukacita di dalamnya. Pujian yang benar; tentang Dia sebagai Sang Pemberi, dan engkau sebagai pemberian-Nya. Sungguh, bukan ingin pamer apalagi sombong. Nanti kau akan tahu, bahwa papa dan mama juga sempat resah menanti kehadiranmu. Sejak menikah bulan Maret, papa mama berdoa, dan sepakat menunda sejenak untuk mempunyai momongan. Memang, ada yang mendukung, dan ada yang tidak setuju. Tapi kami punya pertimbangan. Papa dan mama tinggal dan kerja di kota yang berbeda, kami ingin belajar menjalani kehidupan awal suami istri dengan situasi ini. Papa mama juga ingin menikmati indahnya awal pernikahan, keintiman berdua yang indah dan membangun, yang berbeda dengan fase pacaran sebelumnya. Papa mama ingin menikmati waktu-waktu berkualitas bersama -yang tak banyak, menikmati pekerjaan sebagai seorang suami dan istri, mengerjakan pelayanan masing-masing dan bersama, yang mungkin bakal berbeda jika sudah memiliki anak. Tapi memang waktunya tidak lama, hanya 6 bulan dalam perencanaan kami. Bulan September, sesuai rencana, papa mama sudah sangat ingin memilik anak, apalagi banyak orang rasa-rasanya mulai bertanya-tanya, kapan kami akan memiliki anak, entah yang diomongkan langsung, ataupun hanya berupa tatapan mata tapi niatnya bertanya. Namun mama belum juga hamil. September, Oktober, November, masih negatif. Kami mulai gelisah. Apa yang salah, apa mungkin karena kecapekan, apa karena papa mama jauh. Dalam penantian ini, 3 bulan rasanya 3 tahun. Dan saat itulah kami sadar bahwa iman kami masih sangat rapuh. Lemah. Seakan-akan papa ingin mengajak Tuhan duduk berdua, berdiskusi, tapi papa yang harus menguasai pembicaraan. “Kalau rencana-Mu pasti baik, apa baiknya menunggu dan tidak segera memberikan kami anak? Atau kurang baik apanya kalau kami memiliki anak, sehingga Kau belum mengabulkannya?”; “kami sudah Kau persatukan dalam pernikahan, kenapa masih Kau pisahkan sehingga kami hanya bisa ketemu seminggu sekali? Keluarga macam apa ini?”; “katanya berdoa, biar dikabulkan. Kami berdoa biar memiliki anak sesuai rencana, enggak terkabul; kami (hampir bosan) berdoa biar disatukan dalam satu kota, enggak terkabul juga, dari sejak pacaran sudah jarak jauh”. Begitulah yang pernah papa gumamkan. Sampai suatu kali dalam percakapan sebelum tidur, setelah berdoa dengan pokok doa yang masih sama, mama menatap papa dan berkata: “kak, kita baru disuruh menunggu 3 bulanan, udah cepat kali komplain sama Tuhan, gimana mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun ya? Pasti iman mereka lebih diuji. Kita sabar ya kak”. Memang waktu ini terasa lebih lama kalau orang menghitung sejak tanggal kami menikah, sudah 9 bulan, dan belum hamil. Tapi terbuktilah kalau Tuhan tidak diam. Waktu-Nya ternyata di minggu kedua bulan Desember. Di jumat malam, ketika perjalanan pulang, sudah lewat jam 9 malam, papa sudah di simpang rumah, mama nelepon, "kak, singgahkan beli test-pack dong”. Papa kaget, bertanya-tanya, tapi sukacita juga. Kok tiba-tiba? Papa singgah di minimarket dekat apartemen. Karena agak malu kalau cuma beli test-pack doang, papa sekalian beli kanebo (kain lap mobil), hehehe. Nyetir mobil dari situ ke apartemen yang tinggal beberapa meter rasanya sukacita, padahal belum tentu juga nanti hasilnya positif. Tapi memang sedikit berbeda, seingat papa, mama masih punya test pack, dan sejak hasilnya beberapa kali negatif, mama gak pernah lagi cerita secara khusus tentang itu. Sampai di rumah, papa lihat mama yang kelelahan, karena hari itu juga mama baru pulang dinas dari Kalimantan. Dia sajikan nasi padang yang dibungkusnya untuk makan malam papa, sambil ngobrol. Papa agak takut nanyain tentang test pack, jadi pakai pengantar dulu: "gimana sepulang dari Balikpapan?" Tapi mama langsung cerita, bahwa kemarin dia pakai test pack yang tersisa dan hasilnya positif, makanya nyuruh papa beli test pack yang baru, yang merknya lain. Besok pagi mau dites lagi. Dan... bener, paginya hasilnya positif lagi, walau garisnya agak kabur. Papa gendong mama, terus dia bilang: hati-hati..., dan dia bilang: “jangan terlalu yakin dulu, ayo cek dokter, lagian aku udah perjalanan jauh via pesawat, sempat minum kopi di sana (oh iya, mamamu penikmat kopi), badan capek, bahkan natalan sampai tahun baru ini kita mau pulang kampung lagi naik pesawat. Kita cek dululah, takutnya kenapa-kenapa”. Dan semua baik, Tuhan sertai. Sampailah saat ini, kau terus berkembang, nak. Mamamu sudah mulai terkaget-kaget merasakan gerakan-gerakanmu di dalam perutnya. Makanya papa mohon ijin untuk kali ini aja, boleh mengajakmu sejenak bercerita. Papa janji nanti gak akan terlalu sering meng-upload fotomu di media sosial, sesekali boleh ya, itupun untuk momen spesial, gak tiap hari, gak asal upload, lagi makan, lagi tidur, lagi ngompol. Jangan sampai tiap orang buka home facebook-nya ada fotomu. Papa sangat tahu, itu mengganggu bagi banyak orang, dan sensitif bagi beberapa orang. Papa pernah berada di posisi itu. Papa juga gak akan update status setiap saat, setiap hari, tentangmu: jagoan kecilku sudah bobo, lucunya anakku waktu nangis, anak papa mulai tengkurap, dlsb. Sepertinya mamamu juga setuju untuk itu. Yang biasa ajalah. Masa anak bayi udah bisa comment di facebook: terima kasih tante, kecup basah untuk om dan tante, dll. Jangan gitu ya nak. Kau harus lebih bijaksana. Papa dan mama juga gak akan membuat fotomu, full, di profile picture atau display picture di media sosial atau contact BB dan whatsapp, kecuali di foto itu ada papa dan/atau mama. Soalnya kasihan orang yang baru papa/mama hubungin, bingung ini siapa yang hubungin, lihat fotonya kok foto bayi, ini nomor siapa? Papa juga sering mengalaminya. Kasihan kan kalau pengurus kampus atau komisi gereja menghubungi papa jadi pembicara, kok gambarnya anak bayi?

Anakku, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Kadang Ia terasa bertindak sangat lambat, kadang terasa sangat cepat, tapi yang pasti: Ia selalu tepat waktu. Sama seperti kehadiranmu, semakin menghiasi bulan Natal waktu itu, menghantarkan kami semakin berpengharapan memasuki 2014, dan perkiraan bulan kelahiranmu tahun ini juga sama seperti papa: Agustus, sama kayak opung boru Binjai juga, hehehe... Dari pengalaman ini, papa semakin mengerti dan mengalami apa artinya ber-iman, bukan berarti tanpa rencana, tetapi meletakkan semuanya di bawah kehendak Allah. Agak aneh juga kalau mendengar pasangan baru suami istri waktu ditanya “kapan punya anak”, jawabnya “kapan dikasinya aja”. Menurut papa, kemungkinannya dua: pertama, si pasangan ini pengen segera punya anak sebenarnya, tapi malu-malu, atau lebih rohani: tak berani melangkahi Tuhan katanya. Kedua, pasangan ini tak punya rencana apa-apa, jadi terserah. Menurut papa, jawaban terbaik, jujur saja. Awali dengan kata-kata: rencana kami... atau: pengennya sih... kalau boleh meminta..., dan akhiri dengan kata-kata: semua kami serahkan kepada Tuhan, Dia tahu yang terbaik, atau seperti akhir doa Tuhan Yesus: Jadilah kehendak-Mu. Thy will be done. Dulu, waktu papa ditanya kapan punya anak, papa jawab: “rencana kami sih mau nunda sebentar dulu, karena kondisinya ini dan itu”. Responnya sering juga begini: “jangan nunda2 lho, nanti sewaktu tiba pengen punya, eh dikasinya lama”. Papa jawab: “berarti belum waktu-Nya” (sambil berpikir apa rumusan Tuhan sekejam itu? Rasanya tidak).

Anakku, setahun perjalanan kisah cinta ini membuat memori papa kembali ke masa-masa indah dulu. Tahun ini juga (23 Juni), menuju 10 tahun papa mama berpacaran, sudah satu dasawarsa kami saling mengenal, satu dekade penuh cerita. Waktu SMA, mama bukanlah wanita tercantik, itulah yang sempat membuat papa malah lebih tertarik dengan gadis lain. Tapi mama waktu itu orangnya penuh rahasia, bikin papa penasaran, dan makin papa ajak ngobrol, makin papa sadar bahwa papa telah mencintainya. Papa masih ingat jelas, di malam perpisahan kelas 3 SMA, sewaktu papa dan band tampil menyanyikan lagu Bon Jovi “Never Say Goodbye”, papa lepaskan gitar, turun panggung, dan kasi boneka kecil ke mama, papa usap-usap kepalanya, terus naik ke panggung lagi. Dia malu, papa disorakin, karena memang saat itu kami belum jadian. Hehe... setelah jadian, papa ke Jogja, mama tetap di Sibolga. Pacaran jarak jauh, akhirnya kuliah bareng, setelah kerja, pacaran jarak jauh (lagi), setelah menikah, jarak jauh (lagi). Tapi bukankah mama begitu istimewa sehingga papa bisa merasakan cintanya meskipun jauh darinya? Papa ingat suatu kali harus menahan kesedihan di supermarket, di bagian roti, mama bertanya: “besok pagi, sarapan kakak di jalan apa ya?”. Papa terdiam, seperti tim yang sedang kalah dalam pertandingan, dan melihat wasit sebentar lagi akan meniup pluit terakhir. “Ah, kebersamaan ini segera berakhir; andai saja ada perpanjangan waktu”. Jam seakan berhenti, doa singkat terucap dalam hati: “Tuhan, kalau boleh, janganlah kami terpisah jauh lagi”. Kesederhanaannya dan ketulusannya tidak pernah berubah sampai sekarang. Kecantikannya makin bersinar, dan kehangatan kasihnya masih menyejukkan. Papa masih saja jatuh cinta kepadanya, dan bangun cinta bersamanya. Indahnya Bali sewaktu bulan madu waktu itu takkan ada artinya tanpa mama. Ya betul. Apalah artinya Bali kalau papa hanya sendirian ke sana. Yang membuat Bali tahun lalu begitu indah, adalah mama.

Di awal-awal tahun lalu seperti ini, kami lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan. Persiapan di Binjai kami pantau dari Jakarta, sambil mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di Jakarta. Papa masih ingat menemani mama mencari bahan kebaya, dan mengantarnya setiap kali fitting baju. Semua kami lakukan bersama, memesan cincin nikah, nama kami terukir di dalamnya, memesan souvenir, foto prewed (gratisan sama Om Ido), mencetak undangan (yang desain tante Vera, gratis juga). Banyak sekali orang-orang yang dengan sukarela membantu papa mama, sampai akhirnya kami pulang dua minggu sebelum hari H, untuk persiapan akhir segala sesuatunya, martumpol tanggal 16, persiapan gereja, dan hari H. 23.03.13, pasti banyak cerita. Sewaktu pengucapan janji pernikahan, papa dengan lancar mengucapkannya, menggenggam tangan mama, menatap matanya... tapi, ternyata papa gak kuat menahan air mata saat mendekati kalimat terakhir “sampai Allah memisahkan kita melalui kematian”. Papa nangis. Ternyata ini ngefek ke mama. Dari awal mengucapkan janji pernikahan, mama udah nangis, terbata-bata sampai akhir. Papa curi-curi waktu ngusap air mata pakai saputangan. Setelah berbalik ke jemaat, eh ternyata banyak juga yang ikutan nangis. Gak tau pastinya kenapa. Tapi semoga momen sakral itu dipakai Tuhan juga untuk mengingatkan jemaat akan detik-detik kudus pernikahan mereka masing-masing, betapa bermaknanya janji pernikahan itu, kata per kata, berapapun usia pernikahan mereka, senang susah, sehat sakit, suka duka, setialah, berjuanglah, sampai akhirnya Tuhan sendiri yang memisahkannya hanya melalui kematian. Sewaktu teringat momen ini, lucu juga, karena sehari sebelumnya, waktu persiapan/ gladi bersama orang tua dan penatua, papa mama terus tertawa terbahak-bahak setiap ngucapin janji pernikahan, gak bisa selesai karena ketawa, diulang lagi dan lagi. Padahal sebelumnya udah hapal, udah latihan sendiri-sendiri juga. Gak tahu hari ini karena grogi atau apa, setiap ngucapin janji itu kami ketawa terus... eh besoknya ternyata nangis.
(Momen ini kami rekonstruksi lagi tahun ini). Selesai pemberkatan, lanjut pesta adat. Mama ganti gaun putihnya jadi songket. Secara terpisah, kami dihias jadi pengantin karo. Setelah selesai, papa lihat mama berpakaian karo, cantik sekali. Seperti dari khayangan, wajahnya bercahaya, dengan tudung karo, uis, dan kuningan2nya. Kau pasti setuju sama papa kalau lihat fotonya. Belum lagi kalau lihat rekaman video saat papa mama adu nari (landek), dan nyanyi karo. Hampir sempurna. Padahal hanya latihan satu kali, papa ajarin, mama langsung bisa, dan lagu dihapalin. Semua orang kagum, seakan melihat putri karo asli, bukan gadis batak toba yang besar di simalungun. Jadi pantaslah mama menyandang banyak marga sekarang: Tarigan, Sidabutar, Lumban Gaol, Sebayang. Besoknya resepsi juga seru. Papa mama berduet, langsung 2 lagu: Karena Cinta, dan Semua Baik. Kawan2 alumni PMK STAN memberikan kesaksian pujian: Bersama Keluargaku. Mereka banyak datang dari jauh lho. Ada juga kawan kantor papa dari Subang, dan kawan kantor mama dari Jakarta. Lihatlah foto-foto yang menceritakan 1000 kisah itu. Semua tamu-tamu yang datang, suatu saat nanti harus kau ucapkan terima kasih. Kado-kado juga banyak, mulai dari seperangkat alat tidur (sprei, sarung bantal, bed cover, selimut), handuk, bakal kain, alat pecah belah, alat masak, magic com, dan kado istimewa dari KTB: kulkas :) Tuhan sungguh baik. Sebelum pernikahan, papa mama masih kekurangan dana, karena memang kami berusaha untuk menikah pakai uang sendiri, tidak merepotkan orang tua lagi. Tapi akhirnya Tuhan cukupkan semuanya. Seakan-akan papa mama mengalami mujizat seperti Penikahan di Kana. Sesampainya di Jakarta, teman-teman Perkantas (Kak Pur, Kak Lina) dan panitia RK XI, mengadakan syukuran buat pernikahan papa mama. Lihatlah nak, kita dikelilingi orang-orang yang sangat baik. 

Mulai hari itu, petualangan keluarga baru dimulai. Banyak masalah, tapi selalu ada penyertaan. Intimidasi berbanding lurus dengan providensi. Tuhan selalu punya cara. Bukankah ini memang sudah dibuktikan-Nya di waktu-waktu sebelumnya? Setahun ini rasanya berjalan cepat, dan penuh dengan kejutan-kejutan. Sewaktu bingung mau tinggal di mana, tidak mungkin beli rumah karena harga rumah di Jakarta begitu tinggi, Tuhan menolong lewat Pak Uda danTante Arthur, yang menyediakan apartemennya untuk ditinggali dengan cuma-cuma. Papa masih di Subang, mama di Jakarta. Papa pulang setiap Jumat malam, dan balik ke Subang hari Senin subuh. Agak susah karena papa harus nebeng sama teman kantor yang bawa mobil dari Jakarta, kadang mereka ada tugas di hari senin atau jumat, papa susah kendaraannya. Akhirnya karena jadwal tidak fleksibel, dan ketidakjelasan kapan papa pindah ke Jakarta, ditambah rumah yang belum terbeli dan masih bisa tinggal di apartemen, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah kendaraan, agar papa bisa lebih gampang pulang pergi, kami kredit-lah mobil di bulan Desember. Tak lama setelah itu, datanglah kabar kehamilan mama. Di tahun yang baru, mama tanya, “sampai kapan kita gak punya rumah, kak? Gak terasa bentar lagi kita udah punya anak”. Papa jawab santai, “sampai nanti Tuhan sediakan”. Saat itu sebenarnya ada Bang Reza dan Kak Ido yang Tuhan pakai untuk menolong kami, dengan menyediakan rumahnya di Kalimalang untuk kami tempati secara cuma-cuma, karena mereka pindah ke Manado. Tapi pembicaraan papa mama berlanjut lebih serius, mulai dari masih pisah kota, sampai lonjakan harga rumah. Memang dari pengalaman sudah 2 tahun mencari rumah, harganya makin tak terjangkau. Makin ditunda, makin tak terbeli. Setiap tahun, harga rumah di Jabodetabek rata-rata naik 100 juta. Padahal gaji kami cuma naik 100 ribu. Setelah anak, kami selalu mendoakan ini: hidup satu kota, ada rumah. Seakan jawaban doa, nantulang Nona ngasi kabar ada rumah dijual murah di Bekasi, di bawah harga rata-rata, yang punya pensiunan mau pulang kampung. Kami mau beli, tapi uang sudah tidak ada lagi. Tapi mengingat semua kondisi di atas, akhir Februari kami beranikan untuk minjam/ ngutang demi rumah ini. Akhirnya jadi. Kami makin yakin kalau ini pimpinan Tuhan, karena sewaktu pagi tanggal 1 Maret, keluar pengumuman papa lulus seleksi ke Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan. Artinya papa pindah ke Jakarta, ke Kantor Pusat. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang biasa, seperti mutasi pegawai yang lainnya. Tapi bagi kami pegawai yang terpisah dari keluarganya, ini adalah anugerah. Kami bisa berkumpul, melihat pertumbuhan anak kami. Papa mama senang sekali pagi itu. Mama memeluk dan mencium papa. Terima kasih Tuhan. Bulan Juni nanti, papa ke Jakarta, ibukota yang keras ini. Kita bisa tinggal satu rumah, papa bisa antar jemput mama, kita bisa berjemaat tetap dan pelayanan di satu gereja. Kata orang itu rezeki bayi. Kejutan-kejutan susulan sejak kehamilan. Makanya setiap doa dan syukur, seringkali kami lakukan sambil mengusap-usap perut mama.

Tapi masalah tidak berhenti sampai di situ. Pergumulan ke depan masih sangat panjang. Banyak pertanyaan belum terjawab: siapa nanti yang menjagamu kalau papa mama kerja? Bagaimana kebutuhan hidup kita dicukupi sambil nyicil hutang dan tetap berdonasi? Bagaimana pertumbuhanmu nanti? Saat orang lain bicara mana susu yang terbaik, menghabiskan sekian duit untuk susu, papa percaya pada susu buatan Tuhan sendiri: ASI. Bagaimana pendidikanmu kelak? Saat orang lain sibuk bercerita tentang pendidikan anak usia dini, sekolah internasional, tes masuk yang wahid, les ini itu, uang pangkal dan iuran yang fantastis, papa percaya bahwa didikan orang tua yang takut akan Tuhan adalah kunci semuanya. Sekolah bagus dan mahal tidak menjamin seorang anak menjadi pintar, sopan, santun, sukses. Papa mamamu yang berkualitas ini bukan hasil produk sekolah mahal, malah gratisan. Begitu juga dengan abang dan kakaknya papa mama, kami dididik oleh orang tua yang hebat. Papamu yang musisi ini tidak pernah les musik, tapi malah jadi trainer gitaris. Papa mama tidak pernah les privat, tetapi sewaktu kuliah harus ngajar les privat untuk kebutuhan uang bulanan dan pelayanan. Jadi tenanglah, Tuhan telah, sedang dan akan terus pelihara kita. Mari jalani hari demi hari sambil menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab satu demi satu semua pertanyaan tadi. Termasuk, apakah nanti mama tetap bekerja atau harus resign menjadi ibu rumah tangga fulltimer seperti yang sudah dilakukan beberapa orang? Kau tahu mama orangnya sangat bertanggung jawab sama kerjaan. Papa salut dengan wanita yang tetap bekerja dan tetap menjadi ibu yang baik, seperti opungmu. Juga salut dengan wanita yang berani resign demi keluarga dan anak-anak, atau berhenti bekerja dari kantor dan memulai bisnis rumahan. Asal jangan ketidakjelasan di antara keduanya: pengen tetap bekerja, pengen gajinya tetap gede, tapi tidak produktif lagi karena kerja setengah hati, atau nyambi kerja sampingan bisnis online/ MLM untuk ban serep. Papa dan mama akan berusaha selalu bertanggung jawab penuh, jujur, mencari berkat, dan menjadi berkat.

Anakku, kau terus bertumbuh di dalam sana. Sejak di kandungan saja, kau sudah menemani papa ke mana-mana. Kau tahu, mama setia sekali mendampingi papa pelayanan. Karena pertemuan kami cuma weekend, dan di situ papa pelayanan, mama setia ikut. Lihatlah berapa jauh sudah jarak yang kau tempuh sejak dalam kandungan, 3 pulau. Berapa kampus dan gereja yang kau datangi karena nemenin papa pelayanan? Berapa kali ikut KTB? Berapa lagu yang kau dengar sewaktu papa sebagai pemimpin pujian? Berapa khotbah sewaktu papa pembicara? Bahkan kau sudah ikut Retreat Koordinator XIII, pertemuan para pemimpin kampus Jakarta dan regional? Membahas eksposisi kitab Hakim-Hakim? Kalau bayi lain disarankan mendengar lagu-lagu klasik, kau sudah berkali-kali berada di tengah ratusan orang yang gegap gempita menyanyikan lagu-lagu hymnal. Ini gak akan ada di forum bunda atau majalah ayahbunda. Di mobil dengerin lagu Our Daily Bread, KJ, NKB. Sebelum saat teduh di sabtu minggu, papa mama menyanyikan lagu-lagu Buku Lagu Perkantas buatmu. Pantaslah mamamu juga semakin cantik. Tiap pagi, sebelum bangkit dari tempat tidur, ketika papa ada, mama selalu minta dibuatin teh manis panas, jangan terlalu manis. Kadang mama minta dipijitin pinggulnya. Benarlah paradoks papa ini: fisik melemah, cinta menguat. Sewaktu mengusap-usap kepala papa lagi tiduran, mama bilang uban papa makin banyak. Papa bilang “iyalah, kita makin tua, bentar lagi kita juga jadi orang tua”. Lalu mama mengacak rambut papa atau kadang mencabutkan uban yang terlihat, tujuannya sama: biar ubannya jangan kelihatan, biar tetap muda. Tapi waktu akan terus berjalan, anakku. Rambut yang hitam akan memutih, raga yang kuat akan merapuh, tetapi kisah kasih kita bersama Tuhan tak akan terhenti, sampai jiwa kita berlabuh. Tuhan yang pegang kini dan nanti. Seperti sepotong syair lagu: “Banyak hal tak kupahami akan masa menjelang, tapi terang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang”. Suatu saat nanti, ketika kau menemukan tulisan ini, ingatlah Papa sangat mengasihimu. Peluk cium untuk mama, wanita hebat yang juga sangat-sangat mencintaimu.




Read More..

Ada fenomena yang unik di media sosial. Kalau orang mencurahkan kejujuran hatinya lewat status, notes, kicauan, dsb, seringkali ditanggapi dengan khotbah:
"Bersyukurlah"
"Dinikmatin aja"
dst..
Semisal, orang cukup mengupdate status "Panas ya..."
Datang deh deretan comment khotbah:
"Bersyukurlah masih ada matahari"
"Bersyukur masih bisa bernafas"
"Bayangkan saudara2 kita yang..." 
dst
Padahal si penulis hanya ingin mencurahkan apa yang dia rasakan. 
Siapa bilang dia tidak bersyukur, mungkin hanya mencoba kritis tentang suatu hal.
Khotbah sih baik, tapi lebih baik cari tahu dulu kondisi apa, siapa, kenapa, dan bagaimana-nya.
"... tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Ef 4:29)

Read More..


saya selalu mengagumi buah karya Pak Yohan Candawasa, bukunya, khotbahnya. Dia adalah salah satu hamba Tuhan yang dipakai secara luar biasa memberkati banyak orang.
Ini adalah salah satu khotbah beliau di satu acara Natal. Saya dan istri bertekun mengetik kata per kata script khotbah beliau dari rekaman video. Khotbah ini sangat memberkati kami. Semoga juga anda. 


Yang kau cari sebenarnya adalah Tuhan – Pdt. Yohan Candawasa

Doa: “Tuhan, Engkau kunjungi kami, bahkan pada saat kami tidak pernah mengerti apa pentingnya Engkau kunjungi kami. Dan malam hari ini Tuhan, di dalam pertolongan Roh Kudus-Mu biar kami sedikit disingkapkan untuk apa Engkau datang bagi kami. Terima kasih, itu doa kami yang kami minta di dalam nama Tuhan kami Yesus Kristus. Amin.

Saudara, saya akan mulai dengan berkata bahwa setiap kita lahir ke tengah-tengah dunia membawa 7 lubang di dalam jiwa kita. Apa itu? Kita bisa telusuri satu per satu di dalam kitab Kejadian pasal 3, lubang-lubang yang akan mendikte seluruh kehidupan kita dari lahir sampai mati. Semua yang kita kerjakan adalah supaya lubang-lubang ini terisi. Kitab Kejadian pasal 3, di mana kita berjumpa dengan kisah manusia jatuh ke dalam dosa. (mulai ay.8) “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman... Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut...” (Kej 3:8,10). Saudara, ini lubang pertama, setelah manusia jatuh dalam dosa, maka manusia tidak pernah merasakan lagi hidup tanpa membawa rasa takut. Dia takut dengan kehidupan yang sekarang ada di bawah hukuman Tuhan. Dia menghadapi rasa takut karena sekarang dia harus diusir dari Taman Eden, dia tidak lagi hidup di sebuah bumi yang aman, yang mudah untuk dia. Itu perasaan yang pertama. Nah, saudara-saudara, Adam dan Hawa setelah jatuh dalam dosa, berdampak pada rasa takut, itu diwariskan kepada kita, anak cucunya. Kalau kita lahir di tengah-tengah dunia dengan membawa rasa takut, maka kebutuhan apa yang paling besar, yang kita butuhkan? Saya jawab, kita semua membutuhkan rasa aman. Kita membutuhkan rasa terlindung, kita membutuhkan rasa bahwa kita ini terjamin. Itu lubang pertama di dalam jiwa kita.

Yang kedua, kita teruskan, di dalam ay.8 dikatakan “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah... bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah...” dan di ay.10 ”Ia menjawab: "Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang...”. Mari kita perhatikan kata setelah “aku menjadi takut”, “karena aku telanjang”. Kalau saudara naik ke ayat atas, ayat yang ke-7 “Maka terbukalah mata mereka berdua dan mereka tahu, bahwa mereka telanjang; lalu mereka menyemat daun pohon ara dan membuat cawat.”. Kenapa ketelanjangan sekarang harus ditutup dengan membuat cawat? Bukankah di ps.2:25 dikatakan “Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.”? Tetapi sekarang, ketelanjangan itu membuat mereka harus membuat cawat untuk menutup. Kenapa begitu? Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, muncul sebuah perasaan yang tidak pernah kita kenal, yaitu: malu (shame). Apa itu shame? Saudara, malu adalah perasaan cacat pada diri kita. Ada yang kurang dari diri kita. Nanti saudara lebih mengerti, setelah saya lengkapi, kita teruskan dulu. Shame membuat kita membutuhkan apa? Itu mendikte seluruh hidup kita.  Apa yang dibutuhkan oleh seorang yang malu? Malu itu berkenaan dengan being. Nanti setelah saya lengkapi, saudara akan lebih paham. Orang yang malu, cacat pada dirinya, membutuhkan kemuliaan, membutuhkan respect, membutuhkan pujian, membutuhkan pujaan. Karena apa? Karena ketika manusia jatuh ke dalam dosa, bahasa Paulus adalah: manusia kehilangan kemuliaan Allah, dan itu meninggalkan malu (Rom 3:23). Saya pernah membaca suatu ilustrasi yang ngomong begini: ketika lampu pijar itu dimatikan, maka kita akan melihat bukan hal-hal yang tadinya ketika dia menyala kita tidak bisa melihat, tapi kalau dia sudah dipadamkan, barulah kita bisa melihat bagian-bagian dalam lampu pijar itu; apa yang ada di dalamnya, itu jadi kelihatan. Saudara-saudara, kita mengejar, bagaimana hidup itu dihargai orang, dihormati orang, bahkan dimuliakan orang. Itu sebabnya kenapa kita berusaha untuk bisa cantik, bisa tampan, berbaju baik, berkendaraan baik, bergaji baik. Acapkali, orang naik mobil itu bukan sekedar untuk berkendara. Dia mau, lewat mobil yang dia pakai, orang-orang akan kagum kepada dia. Dia pakai baju bukan sekedar untuk menutup tubuhnya, tapi orang jadi kagum lewat baju yang dia pakai. Dia memakai sepatu bukan sekedar untuk menutup kakinya dari debu dan batu, tapi dia ingin orang kagum lewat sepatu yang dia pakai. Dia berprestasi bukan sekedar supaya nanti hidup menjadi gampang mencari kerja dan makan, tetapi dia ingin lewat prestasi itu, orang menjadi kagum, memuja dan memberi respect kepada dia. Kita itu gila kemuliaan. Kenapa? Karena kita lahir membawa rasa malu.

Kita teruskan dulu, yang ketiga. Kalau fear membutuhkan secure karena kita insecure, kemudian shame membuat kita membutuhkan untuk di-glorify, Yang ketiga adalah: ketika mereka mendengar suara Tuhan, mereka menjadi takut; salah satu penyebabnya adalah karena mereka merasa guilty. Kita bersalah karena sudah melanggar apa yang Tuhan perintahkan. Nah, saudara-saudara, guilty muncul ketika kita doing something yang salah. Di sini, (kalau kita bertanya) artinya, semua kita itu lahir dengan perasaan guilty. Nah, guilty membawa satu lubang kebutuhan, yaitu kebutuhan apa? Guilty membutuhkan forgiveness, acceptness. Sekarang saya bisa jelaskan, apa beda guilty dengan aib/ malu? Saudara, guilty itu berkenaan dengan doing, shame itu berkenaan dengan being. Guilty itu: aku berbuat salah, dan aku merasa bersalah. Guilty bisa diselesaikan dengan 2 hal, yang pertama: forgiveness, dan yang kedua adalah: “lain kali saya tidak akan ulangi perbuatan itu”. Tapi shame gak bisa. Karena shame adalah ketika misalnya sebuah keluarga yang menginginkan anak laki-laki, tapi kemudian yang lahir anak perempuan. Dan si ayah berkata: “elu tuh jadi kutuk bagi keluarga, bikin malu”. Jadinya bagi kita anak perempuan itu tidak ada harganya. Kalau dia berbuat salah, dia bisa koreksi, tapi ketika keberadaannya salah, bagaimana dia mengoreksinya? Apa yang dia mesti lakukan untuk mengoreksi keberadaannya yang salah? Keberadaaan kan gak bisa dikoreksi. Kalau anak sejak kecil dibuat seperti itu, maka dia akan sangat bingung, dan nanti kita akan lihat betapa rusak jiwanya nanti.

Saya teruskan dulu. Yang keempat, kita teruskan ay.11-12 “Firman-Nya: "Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?" Manusia itu menjawab: "Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.". Saudara, di atas ay.8-10, ketika Tuhan datang, mereka bersembunyi, sekarang ketika ditanya, Adam melempar kesalahannya kepada Hawa. Menarik, ketika mula-mula dicipta, Adam memuja-muja Hawa sebagai tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Setelah berdosa, dia bilang: “yang bikin saya begini, itu biang keroknya adalah Hawa”. Manusia dipakai untuk perlindungan, untuk keamanan diri sendiri. Sebenarnya di sana kita menyaksikan ketika Allah datang, manusia menarik diri bersembunyi. Karena apa? Manusia tidak lagi bisa akrab dan intim dengan Tuhan. Dan ketika manusia diperiksa oleh Allah, dia lempar kesalahan kepada orang lain. Manusia tidak lagi bisa terbuka intim, begitu tulus di dalam hubungan dengan sesama, maka dosa kita bilang memisahkan manusia dari Allah, memisahkan manusia dari sesama, bahkan manusia terpisah dari dirinya sendiri. Itu melahirkan satu akibat di dalam diri kita, yang nanti mendikte seluruh hidup kita, yaitu perasaan: lonely. Itu kita bawa dari lahir. Kita lahir sebagai orang yang lonely, maka kita menciptakan satu lubang di dalam jiwa kita, yaitu... apa yang dibutuhkan oleh perasaan manusia yang merasa dirinya sepi, tersendiri, terpisah, di alam semesta dia seolah-olah sendirian? Apa yang paling dibutuhkan? Yang dia butuhkan adalah: adanya orang yang mendampingi. Adanya orang yang hadir bagi dia. Bayi yang menangis, cukup asal dia tahu ada orang di sampingnya, itu membantu banyak untuk dia menjadi tenang.  Dan penelitian pernah berkata: bayi kalau dilahirkan, kasi dia makan, kasi dia minum, kasi dia ruang sejuk, kasi apa saja, cuma jangan pernah biarkan dia tahu ada orang hadir di sekelilingnya. Bayi ini mati dalam hitungan bulan.

Kita teruskan. Yang kelima. Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, kita tahu, Allah mengusir mereka dari Taman Eden. Saudara-saudara, manusia dibuang dari Taman Eden. Saya pernah merasa dulu waktu kecil bagaimana diusir dari rumah kalau nakal, papa mama saya bilang; “udah kamu keluar aja, jangan pulang lagi, jangan pernah jadi anak papa mama lagi. Saya dikunciin di luar, gak bisa masuk”. Wah, itu menimbulkan rasa... unwanted ataupun rejected. Saya tertolak, dan saya tidak diinginkan. Saudara-saudara pada waktu kita lahir dan kita merasa tidak diinginkan: “saya adalah orang yang ditolak”, satu lubang besar yang kita bawa adalah? apa yang dibutuhkan oleh kita? Aku butuh dicintai. Aku butuh diinginkan.

Saudara2, kalau nanti saya sebut dari 7 lubang, satu lubang ini aja tidak terpenuhi, hancur hidupmu. Berapa banyak orang menjadi sangat sulit dengan hidupnya karena rasanya: saya ini unwanted, unwanted child. Itu hal besar, selalu jadi sumber trouble maker. Dia butuh sekali... dan kalau kita setuju, semua musik, mau China, mau Barat, mau Indo, kalau nyanyi mayoritas 90% isinya adalah cinta. Dan seringkali justru penyanyi-penyanyi ini adalah orang-orang yang paling miskin dan tidak mengerti apa itu kasih.

Yang keenam. Saya ingin baca dari ayat yang terakhir dari pasal 3, setelah mereka diusir, dimana dikatakan pada ayat 23. “Lalu Tuhan Allah mengusir dia dari taman Eden supaya dia mengusahakan tanah darimana dia diambil. Dia menghalau manusia itu di sebelah timur taman Eden. Ditempatkannyalah beberapa kerub dengan pedang yang menyala-nyala untuk menjaga agar mereka tidak dapat kembali ke pohon kehidupan”. Artinya, persoalan terjadi tetapi mereka tidak punya jalan balik atau menyelesaikan masalah. Butuh Tuhan kirim kerub untuk menjaga sehingga mereka tidak mungkin kembali ke taman Eden. Itu menimbulkan suatu perasaan helpless. Tidak berdaya. Ketika orang lahir dengan perasaan, maka benar saudara, kita memulai sebuah kehidupan di dunia ini dengan suatu perasaan yang sangat jelas: “aku tidak berdaya. Kita butuh selalu pertolongan orang lain. Tanpa orang pertolongan lain kita tidak dapat hidup. Maka, Ernest Better ketika menulis Denial of Death, dia bilang bahwa tiap manusia itu ditipu ketika lahir ke dunia ini. Bahwa dia lahir ke suatu dunia yang sangat-sangat tidak aman dan bahwa sebenarnya dia tidak mampu hidup di dunia ini. Tapi dia dibohongi. Dia dibohongi oleh siapa? Oleh orang tua. Karena begitu lahir dia dirawat, dilindungi, dipisahkan dari dunia yang tidak aman. Maka, anak lahir kemudian merasa dunia ini aman. Lalu Better mengatakan, kalau kamu tidak percaya coba bayi lahir taruh di pinggir jalan. Mati dia. Dia tidak sanggup hidup.
Saudara-saudara, kita helpless. Hidup kita sebagai orang yang lahir helpless, apa sih yang paling kita butuh dan itu nanti yang mendikte dan kita kejar sepanjang hidup. Apa itu? Orang yang helpless (tidak berdaya) membutuhkan power. Kita membutuhkan kuasa, entah berupa uang, ilmu, entah berupa backing, entah berupa apa. Yang penting kita membutuhkan suatu kemampuan/ power untuk mengatasai ketidakberdayaan. Kamu sekolah buat apa kalau bukan untuk cari power, yang rupanya adalah ilmu. Karena pengetahuan dianggap suatu kekuatan untuk manusia meneruskan kehidupan. Di jaman kita, kebodohan adalah salah satu kutuk terbesar.

Kalau sudah begini, kalau manusia sudah dilepas satu persatu dari rasa aman, dari kemuliaan, dari penerimaan, dari penghargaan, dari dikasihi, dari keberdayaan karena Allah bersama mereka. Semua dicopot sekarang. Mereka terpisah dari Allah, mereka terpisah dari sesama. Itu sebabnya yang paling akhir, saya boleh katakan manusia mengalami perasaan yang paling dalam yaitu emptyness. Emptyness karena dia butuh apa? Dan lagi-lagi itu yang mendikte kita dalam menjalani hidup. Emptyness membutuhkan fulfillment. Hidup yang penuh. Orang bilang kalau hidup yang nggak fulfill mana bisa bahagia? Bagaimana hidup kalau rasanya kosong? Mari saudara-saudara lihat, coba kita dalami. Dalam fear saya butuh rasa aman, rasa terjamin. Saya butuh untuk dimuliakan, untuk dihormati. Saya butuh pengampunan, penerimaan. Saya butuh ada orang hadir bagi saya. Saya butuh dikasihi, saya butuh keberdayaan, saya butuh hidup yang terisi. Coba kita pikir, seluruh tingkah laku dan usaha kita, pasti bisa ditelusuri dari tujuh lubang ini. Ngapain dia begitu? Kenapa dia begini? Pasti, kita belajar baik-baik atau selebriti berusaha sebaik mungkin untuk tampil. Kita tanya, kenapa kamu berusaha setengah mati seperti itu. Dia bilang, supaya prestasiku naik. Kenapa prestasimu mesti naik? Apa jawabnya? Saudara pasti bisa jawab dari tujuh lubang ini. Dia mencari rasa aman buat karir, dia mencari kemuliaan untuk dirinya. Dia mencari fans yang lebih banyak, kebutuhan untuk dicintai. Dia sangat takut kalau dia diturunkan, fans nya hilang, disitu menimbulkan rasa tidak aman. Jadi saudara-saudara, mari kita pahami, Adam membawa kita masuk ke dalam dunia dengan tujuh catat di dalam jiwa kita.

Sekarang mari kita juga mengerti tujuh cacat di dalam jiwa kita ini muncul dari kejatuhan manusia ke dalam dosa. Maka saya boleh katakan, kalau ini terjadi sejak manusia meninggalkan Allah, itu berarti cacat jiwa kita, adalah soal spiritual. Itu adalah soal yang terjadi  karena manusia melarikan/ memisahkan dirinya dari Allah. Oleh sebab itu, gampang juga jawabnya, bagaimana menyelesaikannya? Tidak ada cara lain. Kalau persoalan cacat ini terjadi karena manusia memisahkan dirinya dari Allah, cara untuk dia dipulihkan hanya ada satu, kalau ini masalah spiritual bukan psikologi. Berarti apa? Hanya ada satu: manusia kembali kepada Allah. Di sini justru masalahnya. Masalah terbesar saya tanya, kenapa tujuh cacat jiwa ini terjadi? Karena manusia tidak mau Allah. Lantas kita tanya bagaimana 7 cacat ini dipulihkan? Dikembalikan? Menjadi sehat kembali? Oh, kembalilah kepada Allah. Itu yang kita bilang: “Sorry, justru itu yang paling gue kagak mau. Maka saudara-saudara, kita lihat kemudian, sepanjang sejarah, manusia boleh membagi sejarah manusia: pra modern, modern, post modern. Silahkan, itu cuma variasi dalam kita mengejar/ mencari kebutuhan jiwa kita. Mari kita lihat, ketika manusia mengalami kebutuhan-kebutuhan ini, tapi di sisi lain dia tidak mau Allah. Lantas, darimana dia mengisi kebutuhan-kebutuhan, lubang-lubang yang ada di jiwanya? Bagaimana caranya dia mengisi? Kita butuh rasa aman, kita butuh respect, kita butuh dicintai, kita butuh ada orang hadir untuk kita, kita butuh penerimaan, kita butuh keberdayaan. Saudara-saudara, kita minta darimana itu? Pertama-tama dalam hidup kita, kita harapkan itu diisi oleh siapa? Pertama kali, itu kita minta diisi oleh ayah dan ibu kita. Merekalah yang sekarang harus jadi alat untuk tolong isi seluruh kebutuhan dalam jiwa saya. Selain kasih saya makan, selain kasih saya minum, isi kebutuhan-kebutuhan ini. Saya butuh cinta, cintai saya. Saya butuh penghargaan, hargai saya. Saya butuh orang hadir di sisi saya, hadirlah selalu.
Saudara-saudara, maka kita mulai melihat di sini, kita mencari di luar Allah, apapun yang bisa mengisi kita. Mula-mula kita minta dari orang tua kita. Setelah kita mulai tumbuh besar, kita minta dari siapa? Udah gede kita tidak mau disayang orang tua. Kemana-mana papa bilang-bilang i love you, malu kita. Kalau kita kecil, bisa lihat papa mama jalan-jalan di depan kelas rasanya terlindung, terjamin. Sudah kuliah, papa mondar-mandir di depan kelas, kita malu: “Pa, lu pulang sana, gua malu, ntar gua dikira anak papa, anak mami. Saudara minta dari siapa itu ketika kita mulai besar? Dari pacar? Kita mulai mengusahakan sendiri dari prestasi, dari guru, dan paling besar nanti beban yang kita berikan adalah dari kekasih. Kita minta dari dia respect, cinta, kehadiran, satu hidup yang terjamin. Dan kalau saudara pikir bersama saya lebih dalam: di seluruh dunia ini, ada satu yang bisa mengganti siapapun untuk jawab tujuh lubang jiwa ini. Apa itu? Makanya, itu diusahakan menjadi satu kekuatan yang kalau kita punya, rasanya 7 poin ini kita bisa jawab. Apa itu? Duit. Betul. Coba kita pikir dengan baik. Saudara lahir penuh dengan rasa takut, maka lahir ke dunia dengan menangis, setelah itu kita jadi butuh rasa aman. Saya tanya, butuh rasa aman seperti apa yang duit gak bisa beri? Bisa. Setelah itu yang kedua, perasaan sedih. Apa duit tidak bisa membeli teman? Oh iya, duit tidak bisa beli sahabat, setuju. Tetapi duit bisa beli teman. Sahabat gak punya, duit gak punya, jadi temanpun gak punya. Mending sahabat gak punya, tapi kalau ada uang, teman gua bisa beli. Biar tubuhmu sejelek apapun, percayalah anda akan menarik banyak orang datang kepadamu, yang penting punya duit gak? Dulu saya agak heran waktu melihat Mike Tyson. Itu orang seram banget. Orang ini sangat kuat pukulannya, kepalannya lebih besar dari kepala. Tapi saya heran, kok ada yang mau dan berani nikah sama dia. Dipukul kanan kuburan, dipukul kiri rumah sakit. Saya heran ada wanita berani menikah dengan Tyson. Dan banyak orang yang tergila-gila pada dia. Salah satu pasti karena dia beruang banyak. Helpless, kalau ada uang masak sih helpless. Makanya kita jadi tidak heran kalau Alkitab menyamakan uang ini dengan Allah. Itu kita cari untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan kita.

Maka, mari kita lihat poin kita yang pertama. Sejak kita lahir dengan kondisi begini, nomor satu, kita mencari apapun, asal jangan Tuhan. Kita cari semua di luar Tuhan untuk menjawab kebutuhan kita. Dari orang kek, dari barang kek, dari prestasi, pokoknya jangan Tuhan. Yang kedua, kita mulai melihat, cara kita hidup adalah: siapapun anda dekatin, dari sisi fungsi. Lahir di keluarga dengan orang tua, yang kita tuntut adalah fungsi mereka. Anda bertanggung jawab memenuhi seluruh kebutuhan saya. Waktu anda pacaran.., pacar itu sebetulnya kan tidak boleh ditanya: pacar itu untuk apa?”. Itu kurang ajar ya bertanya gitu. Karena biasanya pertanyaan “untuk apa”, itu hanya boleh kalau kita bertanya tentang satu alat: “Ini alat untuk apa?”. Tapi kalau sampai bisa ditanya: pacarmu untuk apa, itu kurang ajar. Lebih lagi kalau elu bisa jawab, lebih kurang ajar lagi. Sampai nanti pun kalau sudah kawin ditanya: “elu kawin buat apa, kalau sampai dia bisa jawab, kiamatlah. Mari kita lihat dalam masa sekarang perceraian semakin tinggi. Pernahkah orang bercerai ngomong begini: “Aduh, saya frustasi, saya minta cerai karena saya tidak bisa membahagiakan pasangan saya”. Ada? Ada juga bunyinya begini: “Mati gua kalau kawin ama dia diterusin. Kapan bahagianya gua?”. Lho, kalau begitu kau kawini dia buat apa? Saya kawin supaya saya bisa menemukan kebahagian. Oh iya, jadi pasangan lu, lu pakai buat apa tuh? “Dia bertanggung jawab membahagiakan saya. Gua gak aman, dia bikin aman. Gua gak terjamin, dia bikin gua terjamin. Gua gak dicintai, dia mesti mencintai saya. Kalau dia penuhi semua ini, saya jadi bahagia. Nah kalau begini, ketika begitu kawin atau pacaran, tanya dulu: “elu bersedia gak jadi alat untuk membahagiakan gua, memenuhi kebutuhan gua? Ilustrasi paling gampang, ketika orang sakit ke dokter, gak pernah kan kita lihat orang sakit ke dokter itu bawa buah, bawa pemberian-pemberian: “Aduh dokter, kangen sama dokter”. Kita datang cari dokter untuk apa? Cari fungsinya. Dan dokter juga mengobati kita emang karena tertarik sama kita? Bukan, dia juga tertarik sama fungsinya kita yang bisa kasi dia uang. Maka manusia berhubungan antar fungsi. Saya diundang di sini bukan karena saudara ingin kenal Yohan, bukan, tapi karena fungsinya: khotbah yang bagus. Saya juga mencari fungsi Saudara, dengarkan saya dengan baik, kalau gak saya sakit hati. Kita cari dosen, kita cari sekolah, kita cari kerja. Istri saya cari pembantu, emangnya istri saya mencari pembantu karena concern sama hidup pembantu biar derajat hidupnya jadi lebih baik? Enggak. Begitu ambil pembantu, ditanya yang bisa nyetrika yang mana, yang bisa nyapu yang mana, yang bisa jaga anak yang mana. Kita tertarik dengan fungsinya. Karena sejak manusia lahir dengan lubang yang seperti ini, apa yang terjadi? Dia lihat apapun, itu pikirannya: “bisa gak berfungsi untuk menjawab yang saya mau. Kita akan memperalat apapun, baik orang, baik barang, kita peralat untuk jawab kebutuhan saya. Maka, kalau kita ketemu istilah narsis, semua orang narsis, artinya semua orang hidup bagi dirinya, mencari dirinya. Itu yang oleh Luther disebut kita punya hidup dengan efek cermin, Efek cermin adalah ketika saudara melihat cermin, yang dicari adalah diri sendiri. Saya ketika melihat cermin, bukan cermin yang saya lihat, tetapi saya mencari diri saya. Itu yang saudara dan saya kerjakan di dunia ini. Maka, kita begitu egois hanya memikirkan diri sendiri. Dan kalau itu tidak kita dapat, kita cari dari orang tua, kita cari dari alat-alat ini, khusunya ketika kita mencari ini pada usia dini, kita pertama-tema mencarinya dari orang tua. Kalau cari dari orang tua, pastilah semua keluarga pasti tidak sempurna. Ada yang ‘tidak sengaja’. Mama janda, –betul-betul saya lihat kisah sebuah keluarga– hidup dari menjahit untuk menyekolahkan anaknya. Suatu ketika anaknya pulang membawa hasil ulangan dengan nilai tertinggi yang selama ini dia tidak pernah dapat. Dia pulang lari dan nomor satu dia ingin kasi tahu mamanya, supaya mamanya memberikan kebutuhannya: dipuji. Tapi, saat itu Mama sedang mengejar deadline, jahitan harus selesai dalam sejam. Maka waktu anak bilang “Ma, saya dapat ..”. Baru ngomong begitu, mama bilangNanti aja, mama lagi repot, benar-benar jangan ganggu mama”. Waktu anak itu dibegitukan, maka dia terluka: “oh, saya tidak diinginkan, pekerjaan dia jauh lebih berharga daripada saya”. Dia memutuskan: “lain kali kalau nilaiku baik, gak bakal gua ceritain! dan bahkan gua juga udah gak peduli mau bagus gak bagus, elu juga tidak peduli kok”. Itu luka, dan luka-luka seperti itu ada banyak dalam hidup kita. Muncullah pemahaman kita bahwa kita ini bodoh, kita tidak berharga, kita tidak benar, kita tidak dicintai, kita ini lemah, kita ini bukan siapa-siapa, kita ini sampah. Itu menimbulkan: makin yakin kita bahwa kita harus kaya, kita harus pintar, bahkan pada beberapa orang yang kebiasaan merasa ditolak, itu bisa melakukan apa saja asal dia diterima, berubah menjadi orang yang sangat baik, jadi hamba semua orang, dia disuruh apa juga mau, supaya dia dipuji bagus dan ingin diterima. Ini menambah lagi egoisme kita, bahkan saat kita berbuat baikpun yang kita cari adalah kebutuhan diri kita sendiri. Oh, saya berkhotbah harus sangat menyadari itu, acapkali saya ingin menyiapkan khotbah dengan baik, sebaik yang saya bisa. Tapi di hati saya bertanya, kenapa sih mesti baik, apakah supaya memberkati atau supaya tuaiannya menjadi kekaguman, orang memuji saya, orang menerima saya, sehingga lubang-lubang cacat dalam jiwa saya terpenuhi. Ini semua membentuk kehidupan kita. Saya dapat membawa kita ke dalam akibat yang ketiga. Tadi akibat pertama kita mulai mencari semuanya di luar Tuhan, yang kedua membuat kita memperalat apapun yang ada di dunia ini.

Dan yang ketiga, kita mulai menyembah berhala. Saya kasi satu cerita yang saya baca, ditulis oleh seorang psikiater, bagaimana berhala terjadi di dalam hidup kita. Benny dibesarkan dalam suatu keluarga yang tidak harmonis, ayahnya keras, tidak mampu menyatakan kasih sayang, sehingga Benny tumbuh dalam rasa ketakutan, tidak ada rasa aman, tidak merasa dicintai, tidak merasa dirinya berharga bagi ayahnya, sehingga dia menjadi seorang berpenampilan gugup dan sangat rendah diri. Dia percaya bahwa dia bukan siapa-siapa, dia mungkin salah lahir, “bagi ayah, saya tidak lebih dari seonggok sampah”. Itu yang dia percaya. Ketika dia diterima di fakultas hukum, dia sadar, kalau dia sukses di situ maka dia akan diterima, dihargai. Maka dia belajar dengan super giat, berlatih bicara, bertekad menjadi pengacara terbaik. Hasilnya dia lulus dengan angka yang sangat gemilang dan mendapat pekerjaan yang juga sangat bagus di sebuah firma hukum bergengsi. Dan ternyata bagi Benny memang terbukti, makin dia berprestasi, makin dia dihargai, makin banyak orang mencari dia, makin banyak orang memuja dia, makin dia jadi percaya diri, makin dia merasa dirinya hebat dan dia suka perasaan-perasaan itu. Jadilah karir pengacara berubah menjadi ilahnya. Dia makin berusaha keras menjadi pengacara hebat, makin dia hebat makin dia merasa diisi, dia makin menyerahkan hatinya habis-habisan untuk karirnya. Menjadi pengacara sukses adalah segala-galanya baginya. Dia bekerja lembur, dia mengikuti kursus demi kursus yang mempertajam keahliannya, membaca lebih banyak, berkencan hanya dengan gadis yang dapat menunjang karir, dia hanya tertarik dan bergaul dengan orang-orang yang dapat meningkatkan reputasinya sebagai pengacara. Jadi apapun hidupnya, ada yang dia sembah, yaitu karir. Kenapa jadi karir yang dia sembah? Karena karir inilah yang dia percaya mengisi lubang-lubang: keinginan dihargai, keinginan dicintai, dimuliakan, diterima, punya rasa aman, semua dia rasa dia dapat dari situ.

Maka, yang ketiga, hati-hati; orang berkata: makin kemari makin banyak orang menjadi atheis, orang merasa tidak butuh Tuhan. Tetapi yang paling menarik adalah ketika orang makin banyak menjadi atheis, penyembahan berhala semakin hebat, orang menyembah macam-macam. Jaman dulu yang namanya berhala berupa patung yang dibuat dari emas dan perak atau kayu, tidak berbahaya karena mereka ada di luar, eksternal idol. Sekarang idol kita sangat berbahaya karena altarnya ada di dalam hati kita, sangat menguasai hidup kita. Kita bisa libas siapapun kalau itu mengancam runtuhnya berhala saya. Kenapa itu bisa jadi berhala dan saya pertahankan luar biasa? Karena seluruh lubang jiwa bergantung pada dia. Maka, hari ini kalau kita melihat begitu banyak orang memberhalakan uang, prestasi, karir, dia jual apa saja, dia lepas apa saja demi memelihara berhalanya. Itu efek yang ketiga.

Dan yang paling akhir, efek yang harus kita bicarakan: akhirnya orang hidup hanya tetap di dalam kekosongan. Lubang itu tidak terisi. Satu cacatpun dalam jiwa kita tetap tidak terisi. Maka orang berkarir baik, punya pasangan cantik, tiba-tiba kita mendengar orang ini bunuh diri. Kenapa? Manusia ternyata tidak mampu. Kalau lubang itu adalah lubang yang ditinggalkan atau yang terjadi karena manusia memisahkan diri dari Allah dan jawabannya cuma Allah, maka ketika manusia mencari apapun yang dia lakukan di luar Allah, itu hanya mencelakakan sesama dan dirinya. Kenapa tidak bisa? Jiwa kita yang berlubang-lubang cacat ini tidak bisa diisi oleh apapun. Jawaban yang mungkin, datang dari Agustinus: karena lubang-lubang yang tertinggal itu, adalah lubang yang gedenya, luasnya, dalamnya, sebesar, sedalam, seluas, yang namanya Allah. Itu sebabnya pakai uang untuk mengisi lubang yang segede Allah, tidak bisa. Saudara memakai orang tua, memakai pasangan  untuk mengisi lubang yang segede Allah besarnya, tidak bisa. Maka Agustinus berkata: lubang itu hanya dapat terisi, lalu tertutup oleh diri Allah sendiri. Nah, mari coba kita pikir, ketika lubang itu dinyatakan sebesar Allah, maka artinya dia limitless, jadi jangan coba ditutup, diisi, dengan hal-hal yang limited. Semakin kita pakai yang limited, justru makin kosong, makin capek, makin sia-sia. Kenapa begitu? Coba aja saudara pikir, ilustrasinya seperti satu acara yang begini: ada orang yang tiba-tiba diberi uang 10 juta rupiah, itu acara Uang Kaget. Saya lihat di acara itu, orang yang dapat uang 10 juta, rata-rata menangis luar biasa, tersungkur dan bahkan pingsan, saking shock-nya dia, gembira, bahagia, euforia untuk apa yang dia dapat. Saya terus mikir begini: “dia belum pernah sih lihat 10 juta, gak pernah memiliki 10 juta, maka dapat 10 juta buat dia itu shocking luar biasa, kegembiraan melampaui yang dia pernah rasakan, sampai dia tersungkur, berterima kasih, berdoa kepada Tuhan, setelah itu berapa lama, ditunggu, dibangunin, baru dia disuruh belanja. Saya pikir begini, kalau minggu depan saya antarin lagi 10 juta, apakah dia akan memberi reaksi yang sama? Tersungkur, menangis, pingsan. Berkurang gak reaksi/ euforianya? Berkurang, dia bangga, nangis, berterima kasih, tapi udah gak pakai sungkur-sungkuran. Minggu depan diberi lagi 10 juta, berkurang apalagi efourianya? Sekarang mungkin hanya ucapkan terima kasih, pak, sungguh-sungguh terima kasih –udah gak pakai nangis. Minggu ke minggu, tiap minggu diantar, sepanjang tahun, kira-kira apa yang terjadi? Awalnya mungkin rasa senang, tapi kali kedua, kali ketiga, kali kesepuluh, tidak ada rasa senang, berubah menjadi rasa takut: “gimana kalau gak dapat 10? dapat 9 aja rasanya udah sakit ini”. Dia mulai kehilangan rasa senangnya, malah kalau dulu nangis tersungkur pertama kali saya kasi, sekarang kalau saya lupa kasih, “Sialan lu, kok lupa? Waduh, gua gak dapat”. Pertanyaannya begini, untuk buat dia tersungkur lagi, menangis lagi, euforia lagi? Saya tahu caranya: saya harus naikkan dari 10 menjadi 100 juta. Ya, naikin dosisnya. Kalau tadi 10 juta: 1 hari dia pingsan, kalau 100 juta: 5 hari dia pingsan. Tapi kan gini ya, kalau 100 juta mula-mula 5 hari dia pingsan, minggu kedua dia pingsan  4 hari, minggu ketiga dia pingsan 3 hari, lama-lama gak pakai pingsan. Saya antarin lagi 100 juta, dia tidur. Akhirnya, dia bosan. Lalu naikkan jadi 1 M, oh euforia lagi, tapi coba terus ulangi, mati lagi yang dia rasakan. Jadi kita tanya: “elu mesti dikasi berapa sih biar jadi senang terus?”. Jawabannya apa? Dia harus dikasih jumlah yang unlimited. Selama limited, dia akan bilang bosan, tambah. Teman yang mencoba narkoba kan begitu, suntikan/ isapan yang pertama memang enak, tapi kalau isapan selanjutnya tidak tambah dosis, tidak enak. Mesti nambah, karena itu limited. Kita harus nambah-nambah terus, sampai kapan? Sebetulnya yang kau kejar apa sih? Yang kita kejar sebenarnya adalah yang tidak terbatas. Lubang itu sebesar Allah dan hanya dapat diisi oleh Allah itu sendiri, yang tidak terbatas. Selama kita cari dari tempat, barang dan orang yang terbatas, saudara hanya akan mengulang. Di Alkitab ada yang namanya Salomo, dia mencari dari ilmu, bosan, dia cari dari harta, bosan, salah satu juga yang dia coba adalah dari perempuan. Cobain satu, enak. Dua minggu kemudian dia bosan. Kemudian dia pikir, coba kalau dua mungkin lebih enak, dia coba dua, 2 minggu dia bosan. Coba deh kalau 3, pasti saya puas, akhirnya jadi 100, namun 2 minggu dia bosan, kemudian tanya, ada tidak yang baru? Dikasih yang baru jadi 101, 102, hingga membeo, ngomongnya masih sama, ada gak yang baru? 200, 201, 300, 400, 500, 501, 502, lalu ngomongnya masih sama “Ada gak yang baru”, 700, 800, ngomongnya masih sama “Ada gak yang baru”, 900. Akhirnya menteri mungkin bilang: udah habis, pak. Adanya juga masih yang kecil-kecil. Mau nunggu? Atau kita indent?” Pertanyaannya, kapan Salomo akan berkata, “akhirnya tidak bosan lagi aku. Sudah kutemukan”. Saya percaya Salomo sampai menghabiskan seluruh wanita yang ada di muka bumi, dia akan berkata setelah 2-3 minggu “Ada gak yang baru”. Kenapa? Karena terbatas, padahal yang dicari manusia adalah yang tidak terbatas. Itu sebabnya, makin manusia mencari yang tidak terbatas untuk memenuhi lubang-lubang yang tidak terbatas, dia akan keruk-keruk terus, 10 juta jadi kurang, minta 100 jt, 200 jt dst. Tuhan berikan seorang laki-laki untuk seorang wanita. Salomo punya 1000 wanita, jadi 1000 laki-laki kan tidak punya stock? Akhirnya orang lain yang jadi korban. Yang ini punya 800 M, yang lain punya 10 rb pun susah sehari. Itu uang negara diambilin sama mereka. Mengapa orang sampai milyaran atau triliunan diambil seorang diri, korupsi di negara kita? Atau seperti Khadafi yang punya 350 Miliar dolar, lalu kita tanya, 350 miliar dolar buat apaaan itu? Makan emas 1 bakul per hari? Bingung kita. Makan, minum, pakaian tidak habis. Saya tanya, 350 miliar itu untuk kebutuhan jiwa atau fisik? Kalau untuk kebutuhan fisik, 1 M dolar juga kita bingung menggunakannya. Makan, minum, pakaian kita juga begitu-begitu juga kan? Kalau duit banyak, tidak mungkin juga kita pakai pakaian 10, gerah man! Apa mau pakai baju emas, kuat jalannya? Belum lagi keamanannya, sekali lu jalan, kepalamu hilang. Jadi buat apa 350 M dolar? Pertanyaan kita sebenarnya, ini untuk kebutuhan jiwa atau kebutuhan makan, minum, rumah? Jiwa! Begitu dia pakai 350 M untuk jiwa, cukup tidak? Tidak cukup. Maka, kalau ditanya, apakah mau ditambah 1 M lagi, pastilah dia mau, kalau bisa seluruh harta di dunia. Itu untuk jiwa. Salomo punya 1000 wanita apakah untuk kebutuhan seks, atau kebutuhan jiwa? Kebutuhan jiwa. Maka, jangan heran kalau lihat orang, rumah bagus, istri cantik, anak bagus, namun masih merasa kosong. Karena mereka mencoba menggunakan hal yang terbatas untuk mengisi kebutuhan yang tidak terbatas. Itu sebabnya, walau kita pintar, kaya, selama kita hidup memakai segala sesuatu itu menjawab kebutuhan jiwa kita, anda dan saya selamanya tidak pernah dapat menjadi berkat. Karena kita dekatin apapun dalam sikap untuk memperalat segala sesuatu. Itu sebabnya, kalau kita perhatikan perjanjian baru, ketika Yesus diberikan, kita bertanya, “ini buat apaan? Untuk apa Yesus diberikan?” Kalau jiwa kita dapat dipenuhi oleh duit yang banyak, saya rasa kita akan berkata, “Tuhan jangan kirimi Yesus, kirimkan duit aja cukup”. Kalau memang jiwa kita bisa dipenuhi, dipuaskan, diberi rasa aman, dicintai, aku merasa berharga, dikasihi, kalau itu lewat ilmu, maka lebih baik Allah mengirim ilmuwan bagi kita. Dan, kalau memang jiwa kita bisa dipuaskan dengan pleasure, dengan kenikmatan-kenikmatan, melalui mata, telinga, dan sebagainya, maka Allah lebih baik mengirimkan entertainer. Tapi yang heran, dia mengirimkan seorang Yesus bagi kita. Untuk apa? Dia mengirimkan Dirinya sendiri bagi kita. Allah datang menjadi manusia. Untuk apa? Jawabnya karena manusia memiliki lubang-lubang yang tidak terbatas dan hanya bisa dijawab oleh Dia yang tidak terbatas. Makanya Natal adalah sebuah hadiah dari Allah. Dan hadiah natal itu isinya adalah diri Allah sendiri. Perjanjian lama dimulai dengan Allah mencipta dunia ini, makanan, pohon, bintantang, tumbuhan taman Eden, Hawa, semua diciptakan, bagi manusia. Allah menghadiahkan semua yang Dia ciptakan bagi manusia, tetapi di perjanjian baru, Allah tidak menghadiahkan ciptaan, tapi Dirinya, Pencipta, bagi kita. Sangat berbeda. Mengapa? Karena hanya ada satu cara bagi kita untuk fulfill, merasa dikasihi begitu rupa, merasa dihargai, itu hanya karena melihat Dia memberi Diri-Nya untuk saya.

Saya tutup dengan 2 pertanyaan. Kalau anda melihat seseorang begitu mulia, maka dari apa Saudara menilai dia? Mengapa orang ini begitu perlu dihormati? Mengapa orang ini begitu mulia? Saya kasi pilihan jawaban: (1) Bagi siapa orang ini berani memberikan hidupnya, (2) siapa yang berani/ rela mengorbankan hidupnya bagi orang ini. Jawabannya adalah (2). Kalau kita katakan dia rela mati untuk istrinya, emang itu agung? Dia rela mati bagi istri orang, lebih tidak agung lagi. Kita akan ukur dari siapa yang rela mati untuk dirinya. Saya sering bertanya begini, kalau saya adalah seorang bos, apakah saya akan rela mati bagi pegawai seperti saya atau model saya? Kalau anda seorang guru, apakah anda rela mencintai murid yang model anda. Atau kalau anda murid, apakah anda rela diajar oleh guru yang seperti anda. Kalau anda anak, apakah anda mau punya orang tua model anda? Coba kalau anda jadi bapak atau ibu, apakah mau punya anak model anda atau sebaliknya. Sering ketika kita jadi anak, kalau punya orang tua seperti kita begini, kita aja tidak mau. Ketika kita berpikir kebesaran seseorang diukur dari siapa yang mau mati untuk dirinya, orang akan lihat ini orang besar. Itulah yang menakjubkan. Allah datang bagi kita, bahkan rela mati bagi kita. Itu kalau dipikrkan, sangat-sangat menakjubkan. Ketika kita sadar bahwa kita hanya debu dan tanyalah apakah saya rela mati untuk debu ini? Saya hargai debu ini dengan nyawa saya. Orang bisa mati demi uang, demi anak, demi istri, tidak ada orang mati demi debu. Tapi kita harus sadar, bahwa kata Human berasal dari bahasa Latin yaitu Humus yang artinya adalah debu, tanah. Yesus datang memberi diri-Nya sehingga saya sadar bahwa tidak ada orang yang menghargai saya lebih dari Tuhan Yesus. Dan ketika Dia mati bagi saya, saya menjadi sadar Dia memberi diri-Nya, berapa Dia menghargai saya, betapa Dia mencintai saya, dan ketika Dia datang dikatakan Imanuel, Allah beserta saya. Berapa kali dalam Alkitab Allah berkata “Jangan takut”?  Allah berkata demikian di dalam Alkitab dari Kejadian hingga Wahyu, sehingga Dia mau mengatakan rasa amanmu datang dari Saya, rasa terlindungmu datang dari Saya. Berapa kali? 365 kali. Setiap hari Tuhan mengatakan jangan takut, cukup untuk satu tahun. Sungguh kalau Saudara mendalami benar, banya orang berpikir “elu jangan terlalu serius ama Tuhan ntar rugi”. Yang terjadi justru sebaliknya, kita ini kurang serius. Semakin mendalami, semakin kita menemukan apa yang kita cari ada di dalam diri-Nya. Persis kita seperti anak hilang, gak mau sama bapanya, semua dia cari di luar bapanya. Akhirnya dia sadar, yang gua cari, semua yang dibutuhkan ada di dalam bapa gua, lalu dia pulang. Anak saya baru pulang dari studinya selesai, mencari Tuhan dan dia bilang “Kalau memang Tuhan ada, dan Tuhan seperti yang dikatakan Alkitab, biar Dia cari saya dan temui saya”. Mamanya selalu bilang, “bagaimanapun Engkau cari apapun yang kamu cari, suatu hari kamu akan tahu yang kamu cari hanya ada di dalam Tuhan”.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Labels

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo