hati kami...

Harapan-Penantian dari Kawas-Misni


Lanjutkanlah kasih setia-Mu ya Allah…
(Menyongsong Sidang Sinode GBKP 2010)
Oleh: Kawas Rolant Tarigan

1. Spiritualitas; Kesaksian yang Utuh
Keagamaan biasanya diekspresikan melalui tiga cara, yaitu: ritual (ibadah), creed (pengakuan), dan life (cara hidup). Hal inilah yang membedakan agama yang satu dengan yang lainnya, secara khusus pagan religion (agama kuno, penyembah berhala/ tidak menyembah Allah), dengan revealed religion (agama penyataan/ yang dinyatakan). Bagi penganut pagan religion, ritual adalah hal yang paling utama, namun mereka tidak memiliki creed (pengakuan), karena tiadanya theologi yang utuh. Hal ini ditunjukkan dalam cara hidup mereka yang sangat jauh berbeda dibandingkan saat mereka melakukan ritualnya. Berbeda dengan revealed religion, contohnya agama Kristen, ritualnya ditunjukkan melalui ibadah dan kegiatan rohani, memiliki theologi yang utuh dengan pengakuan ke-tri-tunggal-an Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Sejatinya, umat Kristiani mampu menunjukkan apa yang ia percayai melalui cara hidupnya.
Apakah hal ini sudah tercermin dalam cara hidup jemaat GBKP? Sudahkah GBKP menjadi gereja seutuhnya yang menjadi saksi di tengah-tengah keberadaannya? (bukan hanya sebatas kegiatan keagamaan saja). Karena seringkali orang seakan-akan sangat taat beribadah, namun tidak demikian dalam kehidupan sehari-hari. Ini tantangan bagi gereja, bagaimana membentuk jemaat yang di dalam dirinya tidak ada dikotomi antara kehidupan pribadi dan kehidupan di muka umum, antara yang disaksikan dan yang diterapkan, antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Jonathan Lamb dalam bukunya Integritas mengutip: “Sebagian besar kekristenan Amerika telah kembali ke paham-paham penyembahan berhala murni, di mana para penyembah berhala ternyata bisa sangat khusuk menjalankan agamanya tanpa harus terikat dengan nilai-nilai etika, moralitas, pengorbanan diri atau integritas”. Adalah bahaya yang besar apabila banyak jemaat GBKP seperti penyembah berhala ini. Jemaat yang tiap minggu rajin ke gereja namun di kehidupan keseharian tidak berbeda dengan seorang atheis. Dia tidak sadar bahwa dia sedang hidup di hadapan Allah yang maha hadir dan maha melihat, memperhatikan, memelihara dan menghakimi, meminta pertanggungjawaban.

Beberapa kali dicatat dalam Injil ketika Yesus mengecam ahli Taurat dan Farisi (Mat 15:7-9; 23:13-36), padahal mereka sangat-sangat taat beribadah, tapi cara hidupnya jauh dari kebenaran. Mengapa? Terbukti bahwa ibadah mereka bukan lahir dari pemahaman dan relasi yang benar dengan Tuhan. Bandingkan dengan kehidupan seorang jemaat GBKP yang aktif (bisa saja Pertua/ Diaken): Minggu ke gereja, Senin-Sabtu kerja, ditambah Selasa PJJ, Rabu Moria, Kamis Mamre, Jumat rapat-rapat, Sabtu menghadiri pesta-pesta, kembali ke Minggu lagi ditambah arisan-arisan persadan merga, atau PA Permata, di samping (jika ada) ngapuli, kunjungan orang sakit, dan kerja-kerja. Rutinitas yang sangat menyibukkan dan mungkin saja tak bermakna lagi, sehingga seringkali timbul keluhan karena yang didapat hanya lelahnya saja. Herannya lagi, banyak orang yang bangga dengan kesibukannya ini, bersosial, padahal tak membuahkan apa-apa bagi perubahan hidupnya. Pernahkah kita bergumul jujur di dalam hati: “jangan-jangan” sebenarnya Tuhan tidak menyuruh kita sibuk melakukan ini-itu, melainkan ada hal yang lebih penting? Mari ingat cerita Maria dan Marta dalam Luk11:38-42; Yesus memuji Maria yang duduk diam mendengarkan-Nya berbicara, bukannya pada Marta yang sibuk menyusahkan diri melayani sekalipun itu baik. Bukan menyalahkan “sibuk”-nya, justru sebagai seorang jemaat yang peduli haruslah menyisihkan waktunya untuk pelayanan, namun jangan pernah lupakan hal yang paling esensi: relasi dengan Tuhan; spiritualitas, itulah yang harus diperjuangkan GBKP bagi jemaatnya.. Spiritualitas adalah gaya hidup seseorang sebagai hasil dari kedalaman pemahamannya tentang Allah secara utuh. Spiritualitas adalah gaya hidup sehari-hari yang merupakan buah dari hubungan kita dengan Yesus. Spiritualitas adalah kedekatan atau keakraban hubungan kita dengan Yesus secara transenden yang ditampakkan dalam sikap hidup kita terhadap orang-orang yang adalah imanensi atau perwujud-hadiran Yesus . Kegiatan keagamaan yang banyak tidak menjamin spiritualitas hidup seseorang. Pelayanan bukanlah sibuk sana-sibuk sini, tetapi persekutuan dengan Allah dalam doa, saat teduh, disiplin pembacaan Alkitab dan persekutuan. Relasi itulah sebenarnya yang disebut pelayanan, dan “hal-hal yang tampak dari luar” (seperti PA, kebaktian, kunjungan diakonia, bahkan kesaksian hidup) adalah buah dari relasi kita dengan Allah. Yesus, yang adalah Tuhan, juga melakukannya (Mrk 1:35, Mat 14:23): sesibuk apapun pelayanan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan persekutuan dengan Bapa, karena itulah yang terutama. Dalam Yoh15:1-8 (Pokok Anggur yang Benar), kata yang lebih ditekankan adalah “tinggal (remain)”, kemudian “berbuah (bear/fruitful)”. Jangan dibalik! Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh15:5).
Hal-hal seperti ini yang harusnya diperjuangkan dalam program-program GBKP bagi pembinaan jemaat, menghasilkan jemaat yang memiliki relasi intim dengan Allah, yang disaksikan dalam sikap hidupnya. Bagaimana gereja dapat melakukan mandat Injilnya secara efektif, apabila jemaatnya gagal menjadi saksi? Ketika satu orang jemaat gagal menjadi saksi, kegagalan ini bisa meracuni satu komunitas, menghancurkan kepercayaan, menggagalkan misi yang saling terkait dan menyatu, dan yang paling berbahaya, kegagalan ini bisa mengkhianati usaha-usaha dalam pengabaran Injil dan merendahkan Allah yang kita sembah. Terlalu sedih rasanya menulis bagian ini, apalagi sepertinya tidak ada lagi passion yang menghasilkan action. Misalnya dalam beberapa sidang runggun, hampir semua hal dianggap biasa, ingin cepat selesai, tak jarang terdengar kata: “nggo me. Lanjutken kari yah...”. Sidang yang lama dianggap sebagai hal yang membuang waktu saja, padahal bisa saja ide-ide baru muncul dari situ. Akibatnya pelayanan gereja pun begitu-begitu saja, tidak ada perubahan signifikan. Banyak pula jemaat yang tidak mau tahu dan menerima saja. Bagaimana orang bisa menerima pesan Injil yang kita beritakan kalau mereka melihat “produk” Injil tersebut tidak seperti yang dikatakan? The man is the message. Kitalah yang sebenarnya saksi hidup itu. Apalagi para presbyter, penilik jemaat harus mampu menjaga dirinya terlebih dahulu, baru menjaga kawanan dombanya. Jangan “pembina” yang justru membuat pusing karena harus dibina (meskipun sedihnya, hal ini sering jadi pergumulan di GBKP). Bukankah dalam Kis 20:28 dikatakan: Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.
Biarlah hal ini menjadi perenungan di penghujung regenerasi kepengurusan ini, bagaimana pelayanan dan pembinaan yang dilakukan bisa membawa jemaat menjadi Kristen yang sesungguhnya, memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, yang ditunjukkan dalam cara hidupnya, bukan sekedar sibuk dengan banyaknya kegiatan agama. Kalau tidak ada perubahan nilai hidup jemaat, bukankah GBKP sedang menciptakan “ahli Taurat dan Farisi” yang baru, yang begitu sibuk (katanya) melayani, namun gagal menjadi saksi hidup?
2. History is His story (Past, Present and Future)
Sejarah kita adalah cerita tentang Allah. History is His story. Ketika kita mengingat ke belakang, bagaimana Allah memulai penginjilan bagi orang Karo, seharusnya semangat kita “terbakar” untuk terus melakukan tanggung jawab gerejawi secara pribadi. Kalau pada abad ke-19, ada orang-orang (dan itu bukan orang Karo) yang rela mati demi Injil disampaikan kepada orang Karo, bukankah kita yang mengaku berdarah Karo harusnya lebih punya kerinduan yang jauh lebih dalam agar semakin banyak orang Karo mengenal dan memper-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya? Para penginjil di Tanah Karo, rela meninggalkan segala sesuatunya dan melakukan segala usaha agar Injil semakin diberitakan. Mereka belajar bahasa dan adat Karo, menjadi tenaga pendidik, mendirikan rumah-rumah sekolah, tenaga kesehatan, memberikan pelayanan kesehatan/ medis, mendirikan poliklinik, setelah adanya gereja, mereka menerjemahkan lagu-lagu rohani dalam bahasa Karo agar orang Karo bisa memuji Tuhan, perbaikan perekonomian dengan pengadaan sarana pertanian, pembangunan irigasi dan jalan, dan membina pemuda sebagai generasi penerus gereja.
Bagaimana dengan kita warga GBKP? Semangat dan pembelajaran yang lalu (past), harusnya membuat kita melakukan yang terbaik saat ini (present), untuk menghasilkan masa depan (future) yang jauh lebih baik. Moderamen membentuk badan-badan pelayanan untuk efektifitas kinerja. Ada Biro Theologia dan Litbang, Biro Sekretariat dan Administrasi, Biro Humas dan Informasi, Biro Hukum dan Harta Benda, Biro Penggalian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya (BPPPB), Biro Pengembangan Ibadah dan Musik Gereja (BPIMG), Biro Oikumene, Komisi HIV-AIDS dan Napza, Pembinaan Warga Gereja (PWG), Penginjilan ke dalam (evangelisasi), Penginjilan Keluar, yang secara job description sudah cukup baik (walau perlu dipertajam agar lebih aplikatif), namun dalam pelaksanaannya masih sangat perlu ditingkatkan. Dengan mengingat “kasih mula-mula” itu, mari saat ini kita “membangunkan” badan-badan pelayanan GBKP yang saat ini (khususnya pada tingkat runggun) masih banyak yang “tertidur”. Dalam Kis 2:41-47, sungguh indah kehidupan jemaat (gereja) mula-mula yang saling peduli, mau tahu dan memberikan kontribusi nyata: “…Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan…mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,…dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Bukankah kerinduan kita semua, GBKP memiliki persekutuan yang erat dan hangat (koinonia), persekutuan itu menjadi kesaksian hidup dalam penyebaran Injil, pemberitaan Firman Tuhan dan pelayanan mimbar yang kuat (marturia), dan pelayanan yang menghadirkan Kristus di tengah-tengah keberadaan kita (diakonia)?
3. Man oriented
Menurut data statistik 2006 , anggota GBKP sebanyak 72.696 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa 277.693 orang. Pertambahan anggota rata-rata setahun sebanyak 2.373 orang/tahun, dan faktor yang utama dalam penambahan jemaat GBKP adalah kelahiran anak di tengah keluarga jemaat yang otomatis menjadi anggota GBKP. Hanya itulah yang memberikan kontribusi dalam pertambahan jemaat ini. Kalau demikian, bagaimana program pembinaan jemaat dan penginjilan selama ini untuk “menjala manusia” menjadi murid Kristus? Sepertinya kita harus jujur, bahwa hal itu masih “berjalan di tempat”. Angka-angka di atas itu bukan hanya sekedar data statistik! Itu orang, itu jiwa yang harus “digembalakan”. Sudahkah kita merenungkan hal itu? Dalam Mat 9:35-38 “…melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus dengan belas kasihan”. Apakah murid-murid Yesus tidak melihat “orang banyak itu” sehingga tidak berespon? Sepertinya tidak mungkin. Namun yang membedakannya adalah cara pandang (kedalaman visi). Ketika Yesus melihat, Ia “terbeban” bahwa orang banyak itu butuh digembalakan, sekalipun tuaian banyak, pekerja sedikit. Berdasarkan data 2008, jumlah daerah pelayanan GBKP adalah 434 runggun yang dilayani oleh 200 Pendeta; 42 Vikaris dan 10 calon Vikaris, jadi totalnya 252. Sebenarnya kalau diteliti lebih jauh berdasarkan bajem, jumlah jemaat tiap runggun yang tidak merata dan sebagian ada yang lebih dari 400 kepala keluarga, dan Pendeta yang tidak membawahi runggun, dibutuhkan sekitar 500 pendeta lagi agar pelayanan ini efektif. Namun dengan jumlah yang masih kurang ini (dan berdoa Tuhan akan terus tambahkan), kita yakin bahwa kuasa Tuhan tidak akan terkendala. Little is much when God is in it. Lebih dari itu, setiap orang percaya harusnya bertanggung jawab terhadap sesamanya yang belum mengenal Kristus. Jumlah orang Karo yang terus bertambah mau dibawa ke mana? Bukankah tanggung jawab kita-GBKP untuk membawanya dan terus mengenalkannya kepada Kristus? Apalagi “kita” yang sudah menikmati banyak pembinaan dan mengenal Kristus melalui GBKP, sebenarnya adalah orang-orang yang “berhutang” kepada orang-orang Karo yang belum menikmati hal yang sama. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 1:14-15, “kita” adalah orang-orang yang berhutang, “hutang Injil” kepada orang-orang yang belum menikmati Injil.
Terkhusus bagi para presbyter (Pendeta, Pertua, Diaken) sebagai gembala jemaat, yang diberikan mandat oleh Kristus untuk “menjaga kawanan domba-Nya”, dalam menetapkan berbagai kebijakan, sudahkah pertumbuhan jemaat menjadi prioritas utama? Pelayanan ini ada karena “orang”, bukan program. Seringkali orang bekerja karena program, sehingga kehilangan visinya. Ketika ditanya kenapa melakukan ini-itu? Jawabnya adalah karena sudah program. Tidak tahu lagi, apa dan kenapa program itu ada, dan diapun tidak mengerti untuk apa, sehingga hanya menjadi sekedar pelaksana program. Dan itu bukanlah pelayan! Seorang pelayan harusnya tahu what, why, who, where, when dan how, atas pelayanannya. Program itu ada karena visi, jangan dibalik! Visi-lah yang harusnya menggerakkan semua pelayanan. Dan fokus dari visi adalah “orang”-nya bukan programnya. Visi lahir dengan melihat kondisi jemaat dan melakukan apa yang Tuhan suruh. See to the world, and listen to His word, that’s vision! Jadi seharusnya semua program pelayanan, berangkat dari dan menuju ke visi, yang fokusnya adalah pertumbuhan jemaat. Makanya, seharusnya pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang “man oriented” dan bukan “program oriented”. Berfokus pada orang yang dilayani.
Visi GBKP dipertahankan moderamen selama 2 periode (2000-2010): “Hidup Setia kepada Tuhan”. Visi yang tidak diperjuangkan hanyalah menjadi sebuah mimpi. Bagaimana visi ini bisa menjadi perjuangan bersama? Jadikan visi itu sebagai visi pribadi dulu, dan tularkan ke pribadi yang lain, kemudian menjadi visi sektor. Semua sektor memiliki visi yang sama, jadilah visi runggun, visi klasis, dan seluruh jemaat GBKP.
Saya tidak tahu seberapa jauh evaluasi pelayanan dan feedback yang dilakukan baik di tingkat runggun, klasis ataupun moderamen. Apakah hanya sekedar “program ini terlaksana atau tidak”, atau lebih dalam lagi: bagaimana kualitas manusia melalui program yang dilakukan? Kalau evaluasi selama ini masih sekedar “terlaksana atau tidak terlaksana”, saatnya untuk berubah, berpikir lebih keras lagi: melalui pelayanan ini, bagaimana perubahan nilai hidup jemaat kepada Kristus? Itulah tugas gembala.
Regenerasi (sebagian) Pertua/ Diaken dan kepengurusan yang terjadi, sebenarnya adalah sebuah harapan, dan sidang sinode 2010 adalah kesempatan (kairos) yang sangat strategis untuk menetapkan hal-hal yang fundamental, program dan kebijakan yang “man oriented”, berfokus kepada “orang”, bukan digerakkan program, serta pengawasan dan pendampingan yang tak henti-hentinya dari tingkat moderamen ke klasis dan ke runggun, hingga tiap jemaat merasakan buah pelayanan dan pembinaan yang berdampak pada kualitas, kuantitas dan kontinuitas pelayanan.
4. Penutup
Berefleksi dari Matius 25, bagi Pendeta, Pertua, Diaken, dan Pengurus Kategorial: pertanggungjawaban sesungguhnya pelayanan ini adalah kepada Allah, yang empunya pelayanan. Ketika Dia bertanya: Apa yang sudah kita lakukan atas kepercayaan yang diberikan-Nya, apa jawab kita? Dan kira-kira apa respon Tuhan: hamba-Ku yang baik dan setia (ay.21,23); atau hamba yang malas dan jahat (ay.26-30)?. Dan kepada anggota jemaat: sudahkah yang terbaik kita berikan kepada Tuhan? Seberapa besar kita mengambil bagian bagi pertumbuhan gereja-Nya? Sewaktu digembalakan, kita menjadi domba yang setia (ay.32-33)?
Biarlah kerinduan hati Tuhan menjadi kerinduan hati kita: jemaat GBKP yang melekat kepada Tuhan, mencintai Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun; jemaat GBKP yang berperan, mampu menunjukkan “garam”-nya dan “terang”-nya, bukan hanya di keluarga dan gereja, tapi menembus masyarakat dan bangsa ini. Banyak orang pesimis, sepertinya tidak mungkin? Bukankah bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin (Luk 1:37; 18:27)? Ternyata bagi orang percaya juga (Mrk 9:23). Maka itu percayalah, kepada Allah! Semua ambil bagian, lanjutkan perjuangan ini, melakukan yang (paling maksimal) bisa kita lakukan. Mungkin saja bukan bagian kita melihat hasilnya kelak, yang penting, kerjakanlah tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus sepenuhnya, dan Allah akan bekerja dengan cara dan waktu-Nya. Selamat berjuang. Berjuang untuk setia. Setia kepada Allah yang setia. Saat ini adalah saat yang baik untuk menoleh ke balakang, kasih setia Tuhan yang menyertai hingga saat ini, menatap ke depan, di sana pun kasih setia dari Allah yang sama tetap menanti, dan menengadah ke atas, berdoa mengucap syukur, dan berseru seperti ungkapan hati pemazmur di Mazmur 36:8-11, “Lanjutkanlah kasih setia-Mu (ya Allah) …”. Soli Deo gloria.

Read More..


AKU PUNYA SEBUAH IMPIAN
Dr. Isabelo Magalit
(ringkasan artikel "I have a dream" dari buku Our Herritage)


Saya punya sebuah impian.... Saya memimpikan bahwa dari dunia mahasiswa bangsa ini akan muncul secara terus-menerus pria dan wanita yang mengasihi Tuhan Yesus lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun.
Pria dan wanita yang mengenal Allah mereka dan menaruh perhatian pada zaman mereka sehingga dapat melayani Allah yang hidup dalam generasi mereka. Pertama-tama mereka harus mengenal Allah mereka. Mengenal-Nya bukan hanya dengan kepala mereka tetapi juga dalam pengalaman hidup sehari-hari. Tahu dengan yakin bahwa Allah itu hidup dan bahwa Dia adalah Allah yang bertindak. Ia bukanlah berhala yang bisu atau produk sia-sia dari khayalan manusia. Ia adalah satu pribadi yang begitu jelas bekerja dalam hidup mereka sehingga menjadi satu-satunya alasan yang cukup dapat menjelaskan mengapa mereka begitu berbeda dengan semua orang lain di dunia. Mereka berbeda sebab mereka mengenal Allah secara pribadi.
Orang-orang ini bukanlah petapa-petapa yang hidup selamanya di biara untuk merenungkan misteri-misteri Ilahi. Mereka adalah pria dan wanita sejati yang hidup di tengah kenyataan masa kini yang sulit dihadapi: kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan. Dalam situasi hidup sehari-hari itulah, bukan dalam atmosfir religius, mereka mengalami realitas kehadiran Kristus dan dapat membagikannya kepada orang lain. Mereka dapat membagikan kabar baik tentang Kristus dalam bentuk yang bermakna bagi orang-orang sezamannya dalam bentuk yang mudah dimengerti.
Mereka mengenal Allah dan menaruh perhatian kepada zamannya, sehingga mereka terus terkait dengan pelayanan pendamaian dua pihak yang bermusuhan: makhluk yang berdosa dan mementingkan diri sendiri di satu pihak dan Allah yang kudus yang mengasihi mereka di pihak yang lain.
Sebagian mereka dalam impian saya akan menjadi pendeta, mengisi mimbar-mimbar Injili terkenal di kota-kota besar. Mereka juga akan ada di tempat-tempat terpencil. Oleh karena itu, dibutuhkan sekolah teologi terbaik dengan pengajar-pengajar terbaik yang setia pada jiwa Injili.
Dari dunia mahasiswa juga akan muncul orang-orang profesional- dokter, insinyur, ahli hukum, pelaku bisnis. Dokter yang mau pergi secara pribadi ke daerah-daerah terpencil, di klinik-klinik misi, dimana tidak ada orang lain yang dipersiapkan untuk pergi. Betapa kita membutuhkan pelaku bisnis Kristen yang menghasilkan banyak uang, namun tidak menghabiskan untuk dirinya sendiri. Saya memimpikan juga bahwa ada orang-orang Krsiten yang akan terjun di dunia perfilman. Pertama-tama mereka harus menghasilkan film-film penginjilan yang berkualitas sehingga dapat diputar di bioskop kelasa atas. Tapi bukan hanya film penginjilan, juga film-film yang akan dapat meningkatkan nilai-nilai kehidupan masyarakat dan bangsa. Kita tidak hanya butuh pembuat film tapi juga jurnalis. Kita memiliki sangat sedikit penulis yang dapat menghasilkan literatur yang dapat membangun kehidupan orang percaya. Mimpi saya mencakup juga lahirnya politisi dan pembaharu sosial yang bertemu membahas Firman Allah, mendiskusikan kebutuhan bangsa dan menyusun rencana untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui aksi sosial dan politik. Orang-orang ini meliputi hakim, gubernur, anggota kongres, industrialis, kepala daerah, dan pekerja sosial. Akhirnya impian saya adalah melihat rumah tangga Kristen yang tidak terhitung banyaknya – sebagai tempat di mana kasih dan keadilan dibungkus dalam darah dan daging dalam kehidupan sehari-hari. Tempat dimana calon-calon warganegara di masa datang dididik, dimana orang-orang Kristen muda dibesarkan dalam iman, sementara tetangga menerima pemberitaan Injil dari orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh memperhatikan mereka.
Pendeta, teolog, profesor, profesional, penulis, politikus, keluarga Kristen – yang kesetiaan tertingginya adalah kepada Kristus dan Injilnya. Dengan orang-orang seperti ini dalam Gereja Tuhan, kita akan mendukung dan mengirim misionaris ke Asia, m2m, ke Afrika, ke Amerika Latin dan bahkan ke dunia barat yang mengalami era pasca kekristenan. Ini adalah suatu visi yang besar.
Milikilah juga impian ini. Ambillah tempat Anda di dalamnya. Berdirilah dan masuk ke dalam barisan, untuk Kristus. Berikan padaNya segala sesuatu yang sudah Anda dapat. Dia layak menerimanya. Biarlah Ia ditinggikan di atas segala sesuatu. Filipi 2:6-11. Amin.

Read More..



Setelah berapa lama “hibernasi”, akhirnya muncul juga ke permukaan. Huaah,,, puas sekali rasanya. Sebenarnya bukan vakum juga sih, cuma berada “di belakang layar”, menyelesaikan beberapa artikel untuk gerejaku GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), dan beberapa momen yang terjadi beberapa waktu ini, yang menyita waktu dan pikiran… Itulah yang mau aku sharingkan:

1. Di tengah kejenuhan rutinitas dan penantian, akhirnya aku mendapat kesempatan mengikuti Diklat Prajabatan Golongan II periode I dari 9-18 Juli 2009 di Hotel Griya Medan. Sebagai gerbang awal bagi PNS Depkeu untuk berkarya bagi bangsa ini :), itulah tujuannya dan harapanku juga. Kurang lebih 10 hari yang melelahkan, secara fisik dan mental. Targetnya bukan hanya pengetahuan, tapi justru ditekankan pada pendisiplinan. Diawasi oleh 2 instruktur dari TNI. Tiap subuh bangun, senam pagi, sarapan, apel/ baris berbaris, belajar di kelas, coffee break, ke kelas lagi, makan siang, istirahat, ke kelas lagi, makan malam, belajar, apel malam, istirahat. Kira-kira begitulah, ditutup dengan 2 hari ujian. Semua pria harus botak. Aku teringat kehiduan asrama sewaktu SMA.Tahun ini sebenarnya sudah jauh lebih baik. Tahun-tahun sebelumnya bukan di hotel, tapi barak TNI. Sekali lagi, tujuannya pasti baik, menghasilkan PNS yang teruji secara ilmu dan moral. Tapi jujur saja, ada rasa sedih di hati ini. Masih saja aku melihat ada orang yang “curi-curi pelanggaran”, entah itu merokok, atau tindakan pelanggaran yang lain. Menurutku, biro SDM sudah waktunya memikirkan cara yang lebih efektif untuk pembentukan moral dan mental. Aku pikir gimana cara ya, biar orang-orang yang “berjiwa pemberontak” gitu dikasi pelajaran/ sanksi aja, supaya mereka benar-benar tahu apa arti sebuah konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Aku pikir, kalaupun selama diklat ini banyak orang bersandiwara, masakan itupun tidak mau mereka lakukan? Seringkali orang begitu. Dulu ingin sekali masuk STAN, kerja di Depkeu. Setelah dikabulkan Tuhan, malah seperti orang yang tak tahu bersyukur. Aku tidak tahu apakah teman2 pernah berpikir seperti ini: tapi aku pernah berbicara sendiri dalam hati: “Apakah di setiap tempat harus ada ‘sampah’-nya? Mungkin gak sih tercipta suatu kondisi di mana dalam suatu instansi (apapun itu), semua orangnya berkualitas, gak ada sampahnya? [terkhusus para abdi negara: PNS, Polri, TNI]”. Hah… sepertinya semua orang akan berkata gak mungkin. Tapi marilah tunjukkan rasa dan cahaya kita sebagai garam dan terang yang mampu berbeda dan berpengaruh. Saat diklat itu juga sebenarnya pengen aku jadikan sebagai momen untuk melihat pertumbuhan teman2 alumni PMK yang sudah lama tidak ketemu. Apakah mereka masih setia pada persekutuan, khususnya HPDT di tengah banyak kesibukan (khususnya saat diklat ini)? Tapi niat itu aku urungkan dalam hati, entah kenapa, ada rasa tidak enak, ya sudah aku doakan saja, supaya alumni2 tidak larut dalam kehidupan yang tawar tanpa Tuhan…sambil aku pun mengevaluasi diri dan terus berjaga-jaga.

2. Habis diklat, bapak-mamak ku menjemput ke hotel untuk langsung berangkat ke kampung karena Kerja Tahun (kegiatan tahunan di setiap kampung di Tanah Karo untuk saling berkunjung; sejarahnya dulu sebagai pesta panen. Setiap kampung berbeda tanggalnya. Kampungku di sebuah desa kecil, Singgamanik). Wah, senang sekali rasanya, habis diklat langsung berlibur ke kampung. Sudah lama memang aku gak ke sana. Akhirnya rindu itu terobati. Lelahnya diklat pun terlupakan dengan pemandangan kampung yang sangat indah. Teduh sekali rasanya di suasana desa seperti itu, udaranya sejuk, kabutnya lembut, menatap Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung yang masih sangat indah… Wah, pokoknya indah sekali. Ditambah lagi beberapa makanan khas suku Karo yang merupakan ciri Kerja Tahun, yang dihidangkan untuk setiap tamu yang datang: cimpa = makanan yang terbuat dari tepung beras, diisi dengan gula tualah (gula merah dan kelapa), dibungkus dengan daun singkut (sejenis palem tapi rumput-rumputan), terus ada 1 menu makanan yang tak terlupakan, dan aku pun bergumul sangat untuk mengkonsumsinya: terites / pagit-pagit = makanan yang terdiri dari sayur, jeroan/ bagian dalam dan sedikit daging, dan digulai dengan kotoran lembu. Uuwwiihh,,, membayangkannya pasti sudah penasaran. Dan butuh waktu lama untuk beradaptasi. Tapi aku harus jujur mengakui, bahwa pada saat itu aku memang “terpaksa” memakannya juga. Huek, bagiku aromanya sangat menghilangkan selera makan, dan baunya baru hilang dari tangan atau mulut beberapa jam kemudian. Tapi anehnya, justru itu katanya yang membuat terites tetap menjadi menu nomor satu dalam menjamu tamu atau pesta-pesta Karo. Ya, itulah kekayaan budaya, walau secara ilmu kesehatan pun sepertinya enggan menjelaskan :)
Hari Minggunya, kami gereja di desa sebelah, GBKP Sari Nembah, tempat pemberkatan sewaktu bolang/opung ku meninggal tahun 2002. Kami sudah terlambat setengah jam, tapi gereja masih kosong. Ternyata hanya ada 5 orang di dalam, ditambah kami 3 orang. Karena masih sepi, jadinya ngobrol setengah jam lagi, tentang kerja tahun, kehidupan jemaat di situ, GBKP. Aku salut, tidak ada yang merokok, padahal ibadah belum mulai. Beda sekali kondisinya dengan gereja suku pada umumnya. Setelah itu akhirnya ibadah pun dimulai, hanya dengan 8 orang, yaitu 2 orang Pertua (1 yang khotbah, 1 lagi petugas umum), dan 6 jemaat (dan enam orang itu, kami semua adalah pendatang. Artinya, tidak ada penduduk situ yang bergereja hari itu). Tapi jujur, aku sungguh menikmati ibadah itu. Tenang, ruangan dan peralatannya semuanya sangat sederhana, tanpa mic. Seperti sedang merasa di daerah pedalaman yang baru didatangi tenaga misi penginjilan. Senang menikmati momen itu, sekaligus sedih dengan kesadaran beribadah di desa-desa (padahal sabtu sorenya dibunyikan lonceng gereja pertanda besok hari Minggu dan undangan ke gereja. Ini sudah tidak ada lagi di perkotaan).

3. Pulang dari kampung, masuk kantor lagi seperti biasa, ditambah latihan buat kebaktian gathering alumni (aku harusnya MC acara keakraban dan pemain roleplay) sampai malam. Semuanya kegiatan di Medan, jadi aku harus pulang-pergi Binjai-Medan. Akhirnya setelah beberapa kali, aku jatuh sakit. Aku semakin sadar, bahwa aku bukan superman, dan klimaksnya malah sehari sebelum acara. Aku bingung, gimana bilangnya ke pengurus, apakah harus diganti atau plan B yang lain. Saat itu juga aku komplain kecil-kecilan ama Tuhan: ”Tuhan, ini kan pelayanan-Mu, kenapa justru Kau buat aku sakit sekarang?”. Padahal aku sadar, aku yang salah, gak tau jaga kondisi (atau mungkin juga tertular dari teman seruanganku yang memang udah sakit duluan). (Maafkan aku, Tuhan). Kemudian aku mohon: ”Tuhan, sehari aja Kau buat aku kuat, demi pelayanan ini…” (kayak Simson aja). Ternyata Tuhan kabulkan.

4. Walaupun masih agak lemas dan dilarang naik sepeda motor, akhirnya aku diantar ke restoran Koki Sunda tempat acara Gathering Alumni-Perkantas Medan. Temanya itu loh… “Menjemput Impian”, membahas apa kata Firman tentang pasangan hidup dan apa yang seharusnya kita lakukan. Bang Denny Boy Saragih mengekspos Kitab Kidung Agung. Banyak juga yang aku semakin dibukakan, misalnya tentang inner beauty but outer expression, kedewasaan, tanggung jawab, hubungan yang sehat. Perasaanku antara mengerti, malu, senang, bangga, mengevaluasi, bercampurlah, dan juga ingin melanjutkan ke arah yang lebih serius bersama kekasihku Miss, yang sudah mendampingiku 5 tahun ini dalam jatuh bangun…Hehehe. Aku ingin selalu jatuh cinta lagi padanya berkali-kali, dan bertambah dalam lagi. Hihihi… Bersyukurlah karena Tuhan berikan kekuatan akhirnya aku bisa melayani hari itu, walaupun hanya sebagai roleplayer :) Beraksi sebagai seorang cowok yang menyatakan cintanya kepada wanita yang selama ini sudah didoakannya dan sudah disharingkan dengan 4 orang staf Perkantas. Huahauaaha… Pertama ditolak, tapi akhirnya dikasi kesempatan mencintai juga… Hah,,, paling tidak, malam itu aku sudah menghadirkan gelak tawa keceriaan di wajah-wajah alumni.
Sebenarnya sebelum mulai acara, ada satu hal yang sangat menarik perhatianku; Bang Jefri, BPC Perkantas Medan mengatakan bahwa hari itu harusnya jadwal KTB mereka, tapi karena ada acara itu, jadinya mereka datang lebih awal, supaya bisa KTB dulu. Dan aku sangat kaget sekaligus kagum, ketika melihat anggota KTB-nya datang; alumni yang sudah senior bersama dengan istri mereka. Mulailah mereka KTB sambil menyantap hidangan di meja masing-masing. Yang suami dipimpin Bang Jefri, yang istri dipimpin Istri Bang Tiopan (staf senior). Tanpa sadar ternyata aku sudah tersenyum dan melamun. Membayangkan apakah aku juga akan sanggup setia terbina atau membina, bahkan dalam KTB seperti itu, sampai di usia mereka? Bahkan dengan pendamping hidupku? Atau bahkan akankah Kelompok Kecilku akan tetap terjalin sampai selama itu? Aku berharap Ya! Dan aku juga ingin teman2 berpengharapan melalui teladan itu.

5. Ternyata Tuhan mengabulkan tepat seperti doaku waktu sakit. Setelah sehari diberikan kekuatan untuk melayani, besoknya aku sakit lagi!!! Malah tambah parah. Mungkin karena kondisi malam itu hujan dan dalam ruangan ber-AC, padahal kondisiku belum fit. Demam, flu, karena pilek, panasnya gak turun dan pusing, hidung mampet, susah bernapas. Batuk parah, antara kering dan berdahak, sangat menekan, buat tambah pusing dan sakit perut, jadilah lagi diare. Kurang selera makan, padahal lapar, ada asam lambung pula, jadi susahlah minum obat. Waduh menderitanya. Akhirnya karena semakin parah dan sampai gak masuk kantor, disuntiklah… dan alamaaaaakk sakitnya bukan main. Kayaknya belum pernah aku disuntik sesakit itu, dan itupun seminggu baru hilang rasa sakit dan pegalnya. Antara yakin dan tidak, apakah memang perawatnya terpercaya untuk mengobati. Tapi sudahlah, sekarang sudah sembuh, dan mampu tersenyum kembali. Hehehe…

6. Dalam masa akhir penyembuhan, eh diajak jalan-jalan ama teman2: Hendrawan, Nopa, Lia, B’Nanda dan satu teman baru: B’Frengki. Kami jalan2 ke Taman Simalem (antara Kab. Karo dan Dairi). Puji Tuhan, pemandangan alam terbagus yang pernah ku lihat. Belum pernah kulihat indahnya Danau Toba dan sekitarnya seperti saat itu. Begitu teduh. Seperti bukan Indonesia. Wah, bangga rasanya menjadi warga Sumatera Utara, tak kalah dari pemandangan lain di negara orang… Pulang dari situ kami menyegarkan badan, mandi di pemandian air panas Lau Debuk-Debuk di kaki gunung Sibayak, dan ditutup dengan makan BPK Ola Kisat Padang Bulan. Satu hari yang melelahkan namun menceriakan. Terima kasih teman-teman…

7. Isunya tanggal 18 Agustus, SK Penempatan definitif keluar. Aku akan ditempatkan Tuhan dimana di belahan Indonesia ini? Akankah tetap di Medan, atau menjemput impian ke Jakarta (lagi)? Atau tak keduanya? Entahlah. Sekalipun selama ini rasanya ragu mengambil pelayanan jangka pendek/ menengah karena waktu yang tak jelas, tapi aku ingin sekali berbuat sesuatu. Ingin ikut dalam perintisan PAB (Persekutuan Abdi Bangsa) kota Medan. Sebenarnya Indonesia punya harapan besar untuk lebih baik, melalui orang-orang yang takut akan Tuhan dan mau berkarya bagi bangsanya. Untuk itulah PAB ada, mengingatkan kepada Pegawai Negeri untuk punya passion yang menghasilkan action bagi nation. Aku sangat menikmati PAB Jakarta, dan akupun ingin kota besar Medan juga memilikinya. Tolong bantu doa dan dukungannya teman-teman…

Thank You my Lord for a beautiful day
Thank You my Lord I’m so happy to say
Thank You my Lord for the flowers that grow
There would be nothing i know without You
Foa all the music and the songs that we sing
For all the laughter and the joy that You bring
Thank You my Lord, I have nothing to fear
As long as i have You here beside me…
(Thank You my Lord for the sun in the sky, the rivers that flow, the birds in the tree, the rain and the snow, for all the mountain, for all the valleys… Thank You my Lord…)

-Kawas-.


Read More..





Sharing ini diterbitkan di Buletin PMK Universitas Budi Luhur Jakarta.
Shalom teman-teman PMK Budi Luhur (BL). Terima kasih untuk kesempatan sharing tentang kelompok kecil di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Sebagai kampus yang berada di wilayah pelayanan yang berdekatan (Jakarta Selatan 2), semoga STAN dan BL bisa terus saling membangun dan mendukung, baik dalam doa dan sumber daya.
What?
Kelompok kecil (KK) merupakan wadah pembinaan yang Allah gunakan di dalam sejarah. KK bukanlah produk suatu gereja atau persekutuan/organisasi tertentu. KK juga bukanlah suatu kelompok yang eksklusif, yang hanya dikhususkan untuk orang tertentu. KK adalah suatu kelompok yang terdiri dari 3-6 orang, yang sepakat untuk berkumpul secara kontinu dalam satu tempat dan melakukan berbagai hal yang menunjang pertumbuhan mereka dalam Kristus (mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan). Tiap KK terdiri dari anggota dan satu pemimpin. Visi KK jelas: menghasilkan murid yang memiliki karakter Kristus (Yoh8:31-32, 13:34-35, 15:8, dll), dan bukan hanya itu saja, tetapi murid yang memuridkan kembali.

Karena itu di KK di STAN dinamai dengan KKP (Kelompok Kecil Pemuridan). KKP ini terdiri dari 3-5 orang Anggota KKP (AKK) dan 1 Pemimpin KKP (PKK). AKK tingkat 1 dipimpin PKK tingkat 2 dan AKK tingkat 2 dipimpin PKK tingkat 3, karena kami hanya punya waktu studi 3 tahun. Saat ini STAN memiliki total KKP seluruhnya lebih dari 60 KKP (seluruh tingkat, cowok dan cewek).
Who?
Semua orang harusnya menikmati dan terjangkau dalam KK. Dalam konteks PMK, semua jemaat seharusnya diperjuangkan untuk menikmati Injil dan terjangkau dalam KK. Walaupun memang sebuah perjuangan berat. Di PMK STAN, hanya sekitar 50% yang dibina dalam KKP. Doa kita, semoga terus Tuhan tambahkan.
Why?
• Perjanjian Lama: Allah sering memakai “kelompok kecil” untuk menggenapkan rencana-Nya. Contoh: keluarga Nuh, Daniel dkk, dll
• Perjanjian Baru: Teladan Yesus sendiri yang mem-fokus-kan pengajaran-Nya pada 12 murid, yang diharapkan melanjutkan misi-Nya memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat28:19-20). Teladan para rasul yang juga memuridkan, misalnya Rasul Paulus.
• Efektif dan efisien dalam segi interaksi, tempat, biaya, suasana, mendorong pertumbuhan, keterbukaan, fleksibel,dll.
Memang di kampus-kampus, KK-lah sarana pembinaan yang paling efektif, termasuk di STAN. Persekutuan besar setiap Jumat tidak akan cukup utnuk terus memperhatikan pertumbuhan jemaat, karena itu diperlukan KKP untuk memperhatikan pertumbuhan AKK demi AKK yang terus dipantau. Pertumbuhan dan ketaatan akan semakin terbina di KKP. AKK yang pertumbuhannya baik dan terpanggil untuk melayani kemudian dijadikan pelayan, pengurus, sehingga orang-orang yang terlibat dalam pelayanan bisa terbina dengan baik. Itulah sebabnya KK sering disebut “tulang punggung” PMK. PMK yang memiliki KK yang kropos, lama kelamaan akan semakin rawan karena pertumbuhan jemaat (apalagi pelayan dan pengurus) tidak terpantau dengan baik. Itupun pernah dialami PMK STAN.
Where n When?
KK bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tergantung kesepakatan semua anggota. Di STAN sendiri, waktunya bisa bermacam-macam, tapi biasanya sore atau malam karena dari pagi sampai siang banyak kegiatan studi dan pelayanan lain. Atau pagi hari kalau libur atau sedang tidak ada kuliah. Untungnya memang sebagian besar anak PMK STAN ngekos di sekitar kampus, jadi waktu dan tempat bertemunya lebih bisa diatur.
Melihat pertumbuhan KKP PMK STAN yang cukup luar biasa, memang suatu anugrah. PMK STAN sebenarnya baru saja menikmati masa-masa Allah menggerakkan pertumbuhan KKP. Itu juga hasil dari dukungan banyak pihak dan kampus lain, dalam doa dan daya. Pergerakan ini diawali tahun 2005. Anak tingkat 1 yang baru masuk, “ditantang” apakah mau ikut KKP atau tidak. Bagi yang bersedia, diikutkan KKP. Karena saat itu PKK belum ada, maka untuk pembinaan PKK diadakanlah KKP Sedang setiap hari Sabtu pagi, yang dipimpin staf Perkantas, yang memperlengkapi PKK dalam mempersiapkan bahan KKP, serta mengajari dan melatih skill menggali Alkitab (PA induktif). KKP Sedang ini masih berlangsung sampai sekarang, dengan bahan KKP: MHB (Memulai Hidup Baru) untuk tingkat 1 dan Ketuhanan Kristus untuk tingkat 2. Tahun 2006, sedikit berbeda. Semua anak tingkat 1 (baru) langsung dibagi dalam KKP, dan untuk penjangkauannya diserahkan kepada PKK yang telah disusun. Dari hasil evaluasi yang ada, di tahun 2007 mengalami perbaikan. Anak baru di-Injil-i dulu melalui PIPA (Pengabaran Injil melalui PA), yang dibagi dalam KK-KK. Kemudian baru ditanyakan kesediaan mereka ikut KKP, kemudian disusun per PKK. Bagi yang menyatakan tidak bersedia pun sebenarnya terus didoakan dan di follow up melalui kunjungan,dll. Dan betapa pujian syukur hanya kepada Tuhan ketika di tahun 2008 ini, PMK STAN boleh mulai mencicipi buah yang dianugrahkan Tuhan. Bisa melihat KKP-KKP di sekitar kampus STAN yang bisa mempelajari Alkitab bersama, pembinaan bagi pengurus dan jemaat yang semakin baik, bahkan puji Tuhan, PMK STAN akhirnya bisa menjadi berkat melalui PKK Misi yang bermisi menjadi PKK di kampus lain (termasuk BL ). It’s only by His grace...
How?
Ada pengajaran (pembahasan Firman, bahan/ kurikulum KKP), penyembahan (pujian dan doa), persekutuan (sharing kondisi), pengutusan (proyek ketaatan, akhirnya kembali memuridakan dan memberitakan Injil kepada orang lain). Dalam KKP, harus ada murid yang dihasilkan; murid yang ber-karakter Kristus.
Ingat, waktu kita di kampus hanya sebentar. Terbatas. Jangan sia-siakan. Kenallah Tuhan, sekarang!
Buat teman-teman di BL, tetap semangat mengikut Tuhan. DIA rindu, kamu juga menjadi murid-Nya. Kamu mau?
Tuhan memberkati.

Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008

Read More..


Lukas 14:33 “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengikut Yesus pasti butuh “pengorbanan”. Tapi tunggu dulu, pernyataan ini tidak sesempit itu juga. Kenapa? Nanti jawabannya ada di bagian berikut.
Sungguh ajaib, paradoks dalam Kekristenan: kita harus rela “melepaskan” sesuatu untuk “mendapatkannya”. Dalam pelayanan juga demikian, ada hal-hal yang harus kita lepaskan (baca: korbankan; ada “harga yang harus dibayar”) demi pelayanan yang terbaik kepada Allah.
Bersyukur PMK STAN kembali diberi kesempatan untuk sharing pelayanan, yang saat ini temanya “bayar harga”.
Karakteristik seorang pelayan adalah berkorban, seperti yang diteladankan Kristus (Filipi 2). Seorang pelayan harus bersedia membayar harga pelayanan. Mungkin yang kami hadapi juga tidak jauh berbeda dengan yang teman-teman hadapi di kampus atau tempat pelayanan kita masing-masing. Berikut beberapa hal yang sering “dianggap sebagai harga yang harus dibayar” dalam pelayanan (khususnya konteks PMK STAN):

Pikiran. Sering ada saat-saat di mana pengurus harus mencurahkan segenap pikirannya demi memikirkan jemaat (dalam lingkup lebih kecil: pengurus, pelayan, PKK, AKK), dan program-program yang ada. Padahal mungkin saat itu juga pengurus sedang punya masalah lain/ pribadi yang harus dipikirkan. Belum lagi kalau dilihat pengurus dan jemaat PMK STAN yang berjumlah besar, lebih dari 500 orang, yang pasti dengan berbagai pemikiran. Tetapi saat-saat seperti itulah seringkali justru kita semakin menikmati Allah bekerja.
Perasaan. Terkadang kurang dihargai, ada juga sakit hati, kurasan emosi, ya... tapi itulah warna dalam pelayanan yang akhirnya membuat kita kembali memandang kepada Kristus untuk mampu tersenyum dan berkata “Aku ingin tetap melayani-Mu, Tuhan”...
Uang. Pengeluaran-pengeluaran seperti: ongkos, pulsa, terkadang makan di luar, dan biaya-biaya lain yang terkadang tidak terasa jumlahnya namun kalau diakumulasi sudah menguras kantong seorang mahasiswa yang uang kirimannya bulanannya pun terbatas :). Tetapi hal ini akhirnya lebih mengajarkan arti memberi, berhemat, prioritas dan aplikasi ilmu ekonomi :)...
Waktu. Terkadang lebih banyak keluar daripada di kos; lebih banyak rapat; lebih sering nyiapin pelayanan; sering pulang malam; berjam-jam di jalan, dll. Memang terkadang salah sendiri sih kalau gak bisa mengatur waktu, sering keteteran jadinya. Tapi semakin belajar berhikmat untuk tetap menyisihkan waktu terhadap studi. Apalagi waktu kuliah di STAN sering tidak pasti; terkadang sangat kosong, tiba-tiba sangat padat :) dan ancaman DO tiap semester yang sering membayangi :)
Tenaga. Pastilah dalam pelayanan ada waktu di mana kita lelah dan butuh istirahat. Terkadang kalau lagi banyak yang sedang dikerjakan jadi sering telat makan, telat tidur... dan...saat-saat yang menggembirakan, di saat-saat itu, berdatanganlah sms dari beberapa pengurus/PKK: [“Tetep smangaad!! \^-^/ Ada yg mw ddoain? :) Ingat, Allah sumber kuatku...Gbu”] :)
Zona kenyamanan yang lain: hobi, kesenangan, ambisi-ambisi pribadi untuk lebih dikenal, dihargai, aktif dalam berbagai kegiatan, dll yang mungkin harus kita “nomor sekian-kan” demi pelayanan, demi kepentingan Allah dan jemaat-Nya.
Daftar tersebut bisa terus kita perpanjang bahkan kita tambah-tambahi dan akhirnya semakin bias dengan hitung-hitungan. TETAPI, kalau kita renungkan apa yang sudah Yesus berikan buat kita, bahkan nyawa-Nya... maka semua daftar di atas sangatlah tidak sebanding dengan betapa besar kasih-Nya, dan akhirnya kita pun tertunduk dan bersyukur...
Kembali ke pernyataan di awal sharing ini: Mengikut Yesus pasti butuh “pengorbanan”. Ya. Tapi tunggu dulu, bukankah sebagai suatu keuntungan, kita bisa berkorban, ambil bagian dalam pelayanan Allah? Saya ingin berbisik dan mengajak kita sadar: “Ternyata kita adalah orang yang beruntung, bisa berkorban...”
Tidak ada yang terlalu berharga demi jiwa-jiwa dibawa kepada Kristus. Pelayanan kepada orang lain bukan sebagai gangguan atau beban, tetapi sebagai kesempatan: “merupakan hak istimewa bisa melayanimu”.
Kalau Allah sudah memberikan segala-galanya buat kita, bukankah hal yang wajar, jika respon kita memberikan segala-galanya buat DIA? Lagipula, bukankah segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).
Paling akhir di sharing ini, saya ingin menyajikan satu bait lagu yang sangat saya suka, kerinduan di dalam hati:
Terindah dalamku rela aku tinggalkan
Terkasih dalamku rela ku lepaskan
Asal hati Yesus merasa s’nang selamanya
Kar’na aku tahu apa arti hidupku...



Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008

Read More..
Kawas Rolant Tarigan &
Misnilawaty Sidabutar



Join Now

-KFC- Kawas Fans Club on
Click on Photo

Chat Via Gtalk

Buku Tamu


ShoutMix chat widget