Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


Doa terakhir
(Yohanes 17:6-23)


Aku berdoa untuk mereka… (Yoh 17:9)

Sebuah anekdot ringan yang mungkin sudah sering kita dengar, mengkhayalkan percakapan iblis dengan Tuhan Yesus, sesudah Dia tidak lagi di dunia ini. Iblis bertanya, “Apa cara yang Kau lakukan agar seluruh dunia percaya kepada-Mu?”. Yesus menjawab, “Aku pakai murid-murid-Ku, mereka yang akan memberitakannya”. “Bagaimana kalau mereka gagal? Apa plan B-nya?”, iblis balik bertanya. Dan Yesus langsung menjawab, “Tidak ada plan B!”.

Fiksi singkat ini memberi tahu kita bahwa cara Allah untuk menyebarkan kasih-Nya dan membuat dunia percaya kepada-Nya adalah melalui murid-murid-Nya. Bukan hal yang sulit bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang spektakuler dan mengagumkan (entah melalui alam ciptaan-Nya, atau hal-hal ajaib) untuk menunjukkan ke-maha-kuasa-an-Nya dan keadilannya, sehingga semua orang di dunia ini –mau tidak mau –harus sujud menyembah Dia. Tapi Yesus tidak pakai cara itu, Dia punya cara sendiri: murid-murid!
Bacaan pagi terakhir ini berisi doa syafaat Tuhan Yesus untuk 12 murid-Nya (ay.6-19) dan semua orang yang percaya kepada-Nya(20-26). Yohanes mencatat bagian ini sebagai doa terakhir Sang Guru sebelum terpisah dari murid-Nya, tepat sebelum penggenapan karya salib Kristus.
Doa terakhir... Isinya pasti sangat penting. Dan yang Yesus lakukan ialah mendoakan murid-murid-Nya, agar Bapa memelihara mereka (11), menguduskan mereka (17). Dia ingin agar mereka dilindungi dari yang jahat, disempurnakan dalam kekudusan, dan supaya mereka menjadi satu. William Barclay menulis, “Kekristenan tidak pernah bermaksud menarik manusia dari kehidupannya, namun bertujuan untuk memperlengkapinya dengan lebih baik dalam kehidupannya. Kekristenan tidak membuat kita terlepas dari masalah, tetapi menawarkan suatu jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Kekristenan tidak menawarkan kedamaian dengan mudah, tetapi menawarkan suatu kemenangan atas pergumulan hidup. Kekristenan tidak menawarkan suatu kehidupan yang terbebas dari masalah, tetapi menawarkan suatu kehidupan, di mana masalah harus dihadapi dan diselesaikan... Orang Kristen tidak boleh berkeinginan untuk meninggalkan dunia, tetapi harus selalu berkeinginan untuk mengalahkan dunia... Orang Kristen harus dikuduskan dari dunia, tapi tidak berarti bahwa ia harus hidup sendirian. Orang Kristen membutuhkan saudara seiman lainnya. Kesatuan orang Kristen memberikan kekuatan bagi orang percaya dan menjadi saksi bagi yang belum percaya –dua pertolongan penting bagi para pengikut Yesus dalam menghadapi masa-masa sulit”.
Di pagi terakhir ini, berdoa jugalah. Ambil waktu untuk mengingat semua yang didapatkan selama retreat, mengapa retreat ini ada dan diikuti berbagai mahasiswa, berbagai kampus. Ingatlah jemaat yang Tuhan percayakan, murid-murid yang dihasilkan. Doakan agar Tuhan memelihara, menguduskan, dan kita dimampukan berjuang menjaga kesatuan, seperti kerinduan-Nya. Sepulang dari sini, kita tidak tahu tantangan pelayanan ke depan. Tapi, 2000 tahun yang lalu, Yesus telah berdoa syafaat untuk umat-Nya, termasuk dirimu, termasuk kampusmu. Kerjakanlah bagianmu...
Doakan kerjamu, kerjakan doamu.


(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)

Read More..


Mau pergi?
(Yohanes 6:60-71)

Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67).

Saya terlarut dalam narasi ini. Seakan-akan saya masuk dalam cerita itu, berada di sana, menyelip di antara gerombolan murid. Saya takjub melihat Yesus. Saya hadir ketika Dia melakukan mujizat, ketika Dia menyembuhkan, apalagi ketika Dia memberi makan 5000 laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak), saya kekenyangan. Saya juga ikut menyeberang menemui-Nya, dan kagum mendengar khotbah-Nya. Saya turut terkejut ketika Dia mengatakan "Akulah roti hidup… sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu….” (ay.48-58). Saya mengerutkan dahi, mencoba mengerti dan menerima pernyataan Guru yang saya kagumi itu. Tapi selagi berpikir, eh, gerombolan murid yang jumlahnya banyak tadi mulai membubarkan diri. Saya heran, lho bukannya mereka itu yang ikut menyeberang mencari Yesus? Bukannya mereka tadi juga ikut melihat langsung mujizat Yesus dan makan roti, ikan? Mengapa mereka kini pergi? Saya ragu bila mereka tidak mengerti apa yang Yesus katakan, justru saya yakin mereka mengerti, sehingga mereka bersungut: "Pengajaran ini terlalu berat. Siapa yang dapat menerimanya!" (ay.60 BIS). Oh, jadi itu masalahnya, bukan tidak mengerti, tapi tidak mau menerima, dan akhirnya memilih pergi. Kekerasan itu sebenarnya ada di dalam hati mereka, bukan pada perkataan Yesus.

Saya kaget juga ketika Yesus bertanya, "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?”. Ternyata Yesus tahu keberatan mereka, dan Dia mengatakan hanya oleh Roh kita bisa mengerti apa yang dikatakan-Nya, dan hanya atas karunia Bapa kita bisa percaya lalu mengikut-Nya.
Rombongan yang tadinya puluhan ribu orang, hanya tinggal sedikit sekali, tinggal belasan (itupun ada yang tidak setia). Walau belum mengerti sepenuhnya, saya memilih untuk tinggal di situ, berdiri di samping Petrus. Tiba-tiba Yesus menatap kami dalam-dalam… bukan tatapan mengusir, justru sangat menguatkan. "Apakah kamu tidak mau pergi juga?”, kata-Nya. Saya diam, tapi saya tahu Yesus mengharapkan jawaban “tidak” dari pertanyaan-Nya. Ah… untunglah Petrus menjawab mewakili kami, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
Saya masih saja terkagum. Yang dicari Yesus bukan popularitas, ketika banyak orang yang mengikut-Nya, Dia tidak melunakkan pengajaran-Nya. Yang diprioritaskan-Nya bukan kuantitas, tapi kualitas. Karena yang dicari-Nya bukan sekedar pengikut (TEV: follower), tapi murid (disciple) yang siap dengan segala konsekuensi mengikut-Nya. Itulah yang Dia ingin kita kerjakan: menghasilkan murid. Berapa banyak orang di kampus yang ramai-ramai ikut retreat, kebaktian, kelompok kecil atau persekutuan doa? Tapi berapa banyak murid yang dihasilkan? Kalau tidak ada, sebenarnya kita tidak sedang mengerjakan apa-apa.
Jadilah murid, dan hasilkanlah. Bayangkan saat ini dirimu juga ada di barisan itu, dan Yesus sedang menatap penuh makna ke arahmu, bertanya pertanyaan yang sama: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Jawablah di retreat ini.


(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo