Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

May be an image of 2 people, book and text that says 'Zoom Leave BASIC INSTRUCTIONS BEFORE LEAVING EARTH Baca Alkitab Setahun PJJPekayon 2022 Unmute Start Video Share Participants More'

Di kebaktian Minggu tadi, si pengkhotbah di mimbar mengeluarkan penggalan kalimat ini: "jadi baca Alkitab itu bukan baca sekian pasal tiap hari, terus lapor di grup bahwa sudah baca. Bukan. Tapi kamu taati tidak?".
Lagi-lagi saya hanya bisa menghela nafas. Geram rasanya tiap kali kalimat sejenis ini muncul. Menurut saya, kalimat seperti itu bukan kebenaran utuh, malah bisa melemahkan orang-orang yang sedang berjuang disiplin membaca Alkitab tiap hari.
Ada kalimat yang sering kita dengar dengan pola yang sama: Untuk apa rajin ke gereja, tapi gak berubah kelakuannya. Bukan rajin berdoa yang penting, tapi kasih yang nyata. Bukan seberapa banyak firman yang kita tahu atau hapal, tetapi seberapa banyak yang kita lakukan.
Kalimat ini sedikit contoh dari banyak jenis lainnya. Duh, gemasnya tiap dengar kalimat-kalimat itu. Memang, mungkin maksud si penutur ingin men-challenge rutinitas seseorang, punya dampak atau tidak, sekedar ibadah yang mekanis, ritual, asal ada, atau sungguh-sungguh? Tapi lihatlah bagian awal kalimat itu: untuk apa rajin ke gereja, bukan rajin berdoa yang penting, bukan seberapa banyak firman yang kita tahu, baca Alkitab itu bukan baca tiap hari, dst. BAHAYA kan kalimat seperti itu. Kita tahu rajin ke gereja itu penting, berdoa, baca Alkitab, semuanya perlu dilakukan teratur, latih diri disiplin. Dan kita setuju, jangan berhenti sampai di situ. Disiplin rohani tersebut harusnya cepat lambat punya hasil, buah yang terlihat, terasa, menyenangkan hati Tuhan dan orang sekitaran. Jangan karena ada orang yang sering datang ke gereja tapi hidupnya tetap ngerepotin orang, kata-katanya pedas, terus kita simpulkan kalimat: untuk apa rajin ke gereja. Ini bisa jadi mengecilkan hati orang yang sudah berjuang rajin ke gereja, dan sebaliknya: membuat bangga, bertepuk tangan, pemakluman, bagi orang yang malas ke gereja. Jadi bukan rajinnya yang salah, tapi si pelaku yang harus mendapat pemahaman lebih dalam: datang ke gereja tidak otomatis membuat dirimu beribadah. Itu adalah 2 hal yang berbeda!

Saya jadi teringat waktu SD. Di satu tes ulangan, yang harusnya dikerjakan masing-masing, tetapi beberapa siswa kerja sama, nyontek, membuat guru marah. Ngamuk di kelas: "Untuk apa kalian sekolah tapi tukang nyontek? Untuk apa capek ngajarin kalian tapi tidak bisa dibilangin? Satu kelas tidak boleh keluar main-main (jam istirahat)!!". Saya merasa kalah. Si pencontek merasa menang, sama-sama kena hukuman. Sampai detik ini saya tidak terima. Saya rajin ke sekolah, saya sudah persiapan belajar semalaman, saya jujur, saya tidak mau dihukum atau disamaratakan dengan si curang. Saya tidak mau direndahkan dengan kalimat: untuk apa sekolah, untuk apa capek ngajarin! Karena saya serius dan saya menghargai tiap perjuangan saya untuk itu! Jangan membuat saya merasa sial atau sia-sia melakukannya.

Dari hati yang paling dalam, saya meragukan... orang yang melontarkan kalimat: "untuk apa rajin ke gereja, bukan rajin berdoa yang penting, bukan seberapa banyak firman yang kita baca", jangan-jangan orang yang jarang gereja, doa seadanya, atau malas baca Alkitab. Kalau sempet, kalau inget, kalau dapet. Kalimat racun tadi jadi pembenaran atas lubang-lubang kegagalan.

Kalau didalami:
"Untuk apa rajin ke gereja, tapi gak berubah kelakuannya". Apakah maksudnya gakpapa gak rajin ke gereja, asal baik?
"Bukan rajin berdoa yang penting, tapi kasih yang nyata". Jadi malas berdoa bisa dimaafkan, asal kasih?
"Bukan seberapa banyak firman yang kita baca atau hapal, tetapi seberapa banyak yang kita lakukan". Jadi malas baca Alkitab tidak masalah, asal ramah?
Yang seperti ini membuat banyak orang Kristen merasa baik-baik saja, padahal kerohaniannya parah. Kegagalan yang satu ditutupi dengan penghiburan semu yang belum tentu terbukti.
Yakin mengaku Kristen tapi malas ibadah, berdoa ala kadarnya, dan gak akrab dengan Alkitab? Ngapain aja selama ini? Berpuluh tahun jadi Kristen gak pernah selesai baca 1 buku yang namanya Alkitab?

Setelah itu kita masuk ke tantangan lanjutan: gak malu kelihatan rajin ibadah, doa, baca Alkitab, tapi gak bisa dirasakan sekeliling kita perubahan kita?

Jadi keduanya perlu dikoreksi dengan berimbang. Janganlah melemahkan satu sisi. Aksi dan aplikasi keduanya penting! Ubah kalimat itu.
Terus rajin ibadah! Tunjukkan kualitasnya.
Terus rajin berdoa! Jadi jawaban doa.
Baca Alkitab tiap hari! Hapalkan, lakukan.

Karena kita bukan super hero, maka wajar jika fase jatuh-bangun, gagal-bangkit itu ada. Kesanggupan kita adalah pekerjaan Allah (2 Kor 3:5). Bagian kita berjuang setia melakukannya. Maka, jangan selalu memandang remeh yang namanya "rutinitas". Rutinitas tidak selalu buruk. Justru itu yang menjaga kita tetap melakukan sesuatu sekalipun sedang tidak baik. Akan ada kalanya saat teduh kurang dinikmati, doa terasa hambar, baca Alkitab kurang gairah. Jangan berhenti, atau menunggu sampai kita semangat lagi. Kenyataan yang sering terjadi, sekali berhenti, permisif, susah lagi mendisiplinkannya. Di sinilah rutinitas menolong. Kita tetap lakukan disiplin itu sampai nikmatnya muncul lagi: agungnya ibadah, akrabnya doa, kaya dan dalamnya firman Tuhan.

0 komentar:

Posting Komentar

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo