Kawas Rolant Tarigan

-now or never-



STRATEGI HIDUP KRISTEN


Kawas Rolant Tarigan


Mengapa tema strategi hidup Kristen menjadi sangat penting?
1.     Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai perumusan visi dan misi hidup, namun melupakan strategi. Akhirnya banyak mimpi yang tak tergapai, hidup berjalan tidak efektif, banyak hal tertunda, dan waktu terlewat begitu saja. Inilah salah satu cara kerja iblis yang halus, membuai kita terlena, tak terasa semakin tua, dan kita belum melakukan apa-apa yang begitu berarti selama hidup. Dunia menawarkan berbagai alternatif strategi hidup, tapi belum tentu kristiani.
2.     Jangan terjebak pada 2 ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah orang-orang yang terjebak dalam ’pimpinan Roh’. Jadi apa yang mereka lakukan tergantung kepada Roh, tanpa ada satu penataan dalam hidupnya. Ekstrim yang kedua adalah orang yang sebegitu menata hidupnya sampai-sampai Allah terlupakan atau terabaikan. Kita harus berada dalam tegangan yang harmonis: bagaimana di dalam pimpinan Roh, kita menata hidup dengan penuh tanggung jawab.
3.     Hidup hanya sekali, sesudah itu akan mati, dan kita tidak tahu kapan itu terjadi. Jadi kita harus hidup secara maksimal dan penuh arti, bukan diukur dari kesementaraan (harta, jabatan, ketenaran), melainkan dari kekekalan (dampak hidup kita bagi Allah untuk sesama/ menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini). Memaksimalkan hidup kita bagi Allah hanya mungkin dicapai dengan hidup terencana: efisien dan efektif. Efisien berbicara tentang penghematan tenaga, waktu, dan dana, (do the things right); sedangkan efektif berbicara soal hasil, dampak, dan kemaksimalan di dalam hidup kita, (do the right things).
 
Ayat penuntun
 
1.     Ef 5:15-17 - Akribos
Be very careful, then, how you live--not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore do not be foolish, but understand what the Lord's will is. (NIV)
Tentang penjelasan bagian ini, Sen Sendjaya menguraikannya dengan sangat baik dalam bukunya Jadilah Pemimpin demi Kristus:
Kata asli yang dipakai untuk “perhatikan dengan seksama”: adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yang sedang menganalisa suatu zat di bawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup akribos adalah hidup yang tidak sembarangan, selalu sepadan dengan standar, dengan sebuah idealisme. Dalam PB, kata ini dipakai minimal 4 kali: Mat 2:8 (akribos seperti seorang detektif), Luk 1:3 (akribos seperti seorang jurnalis), Kis 18:25 (akribos seperti seorang guru), 1 Tes 5:2 (akribos seperti seorang murid). Ada 1 benang merah, akribos yaitu ketelitian dan akurasi yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.
Dalam Ef 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, melainkan gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis (sekarang bagian dari Turki). Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yang sangat tersohor sehingga semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya. Sebagaimana kota metropolitan pada hari ini, segala macam dosa ada di Efesus. Kepada jemaat ini Paulus berkata: “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!”. Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang.
Anda dan saya akan disebut orang bebal bila kita hidup terus menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang yang belum mengenal Allah.
NIV Study Bible Notes memperlihatkan bagaimana Paulus menggunakan penegasan antonim di bagian ayat ini: unwise . . . wise. Having emphasized the contrast between light and darkness (8-14), Paul now turns to the contrast between wisdom and foolishness. foolish . . . understand. The contrast continues. "Foolish" here is a stronger word than "unwise". The foolish person not only misses opportunities to make wise use of time; he has a more fundamental problem: He does not understand what are God's purposes for mankind and for Christians.

2.     2 Tim 4:1 - Coram Deo
Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya
Di akhir masa hidupnya, di penjara yang suram dan terbelenggu, Rasul Paulus masih saja dengan iman yang berkobar menuliskan surat terakhir/ surat regenerasi ini untuk meneguhkan Timotius. Paulus memandang hidup sebagai sebuah pertandingan iman, yang sebentar lagi akan ia akhiri dengan baik, dan memasuki tahap (baca: keberangkatan; NIV: departure) yang baru. Mengawali dan mengakhiri perikop ini (ay.1 dan 8), Paulus menekankan bahwa Kristus adalah Hakim yang akan mengevaluasi seluruh hidup kita. Allah melihat seluruh detail hidup kita, tidak ada yang tersembunyi. Inilah yang disebut Coram Deo: hidup di hadapan Tuhan. R. C. Sproul menyatakan “The big idea of the Christian life is coram Deo. Coram Deo captures the essence of the Christian life.” Lebih lanjut dia menjelaskan: “This phrase literally refers to something that takes place in the presence of, or before the face of, God. To live coram Deo is to live one’s entire life in the presence of God, under the authority of God, to the glory of God. To live in the presence of God is to understand that whatever we are doing and wherever we are doing it, we are acting under the gaze of God. It involves recognizing that there is no higher goal than offering honor to God. Our lives are to be living sacrifices, oblations offered in a spirit of adoration and gratitude”.
Pdt. Liem Kok Han dalam satu khotbahnya berkata: Coram Deo, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan maka semakin tidak menegakkan diri atau menonjolkan diri. Pengenalan kita akan Tuhan sangat mempengaruhi hidup ibadah, hidup kesalehan dan hidup aktivitas rohani kita. Coram Deo adalah istilah besar, kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan, Allah yang Mahahadir dan yang Mahatahu. Saat hidup dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita sedang dilihat Tuhan. Apapun yang sedang kita kerjakan kita harus sungguh menyadari bahwa kita sedang melakukannya di hadirat Tuhan, Pemilik alam semesta ini... Coram Deo berarti kita mau hidup saleh. Orang saleh adalah orang yang hidup dalam hadirat Tuhan yang menyadari bahwa seluruh tindakannya adalah respons kepada Tuhan. Tuhan yang berdaulat atas hidupnya dan apa yang dilakukannya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan.

3.     Mat 6:33 – Focus on God
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Kalau ditanya satu ayat ringkas yang menyatakan 1 fokus hidup manusia, ayat inilah jawabannya. Tujuan, prioritas, yang paling ultima dan satu-satunya dalam hidup manusia hanyalah Allah. Selama hidup, tak perlu cari berkat-Nya, tetapi single-minded carilah Allah – Sang Pemberi berkat, maka tidak ada lagi kekuatiran dalam hidup. (ay. 25 Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?).
Sen Sendjaya kembali menjelaskan dengan sangat baik tentang konsentrasi hidup yang hanya berfokus kepada Allah: Terlalu banyak pemimpin Kristen yang tidak efektif  menjalankan perannya bukan karena kurang terampil, kurang pengalaman, atau kurang training; namun karena mereka terlalu banyak memiliki fokus hidup. Perhatian dan energi mereka dikuras di berbagai area hidup.  Menjadi orang tua di rumah, menjadi pemimpin perusahaan A, manajer B, direktur perusahaan C dan D, konsultan perusahaan E, dosen universitas F, majelis gereja G, ketua panita H, pengurus organisasi I, dan seterusnya.
Mau tidak mau, setiap pemimpin harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan sulit saat ia ingin hidup efektif bagi Kristus. Apakah satu hal yang anda dapat lakukan, yang saat ini tidak anda lakukan, yang jika dilakukan konsisten, akan menimbulkan perubahan positif besar dalam hidup anda dan orang lain? Inilah konsentrasi. Memang tidak mudah untuk fokus, perlu pengorbanan. Perlu belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang baik, untuk dapat berkata “ya” pada satu hal yang terbaik. Good is the enemy of the best. Setiap orang yang Tuhan bangkitkan dalam sejarah dunia menginvestasikan hidup mereka dalam satu hal (bukan dua atau tiga hal).
Itu berarti kita dituntut membuat prioritas hidup yang tepat. Masalahnya, seringkali prioritas kita disusun seperti berikut: (1) Allah, (2) keluarga, (3) pekerjaan, (4) pelayanan. Akibatnya kita merasa tertarik ke berbagai area di mana tidak ada Tuhan dalam perencanaan dan keputusan kita. Prioritas yang lebih biblikal adalah (1) Allah, (2) Allah dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan seterusnya. Dengan kata lain, kita hanya memiliki satu fokus yaitu Allah. Saat kita memandang Allah, segala dimensi lain dalam kehidupan ada pada perspektif yang benar. Dan kita menjadi seorang yang holistik: Kristus benar-benar menjadi Pemilik/ Tuan (Kurios) atas hidup kita (tidak lagi mendikotomikan antara sekuler dan rohani).
Kita tidak perlu menjadi seorang “full timer” untuk dapat dikhususkan bagi Allah, karena Allah memakai setiap individu yang Ia panggil dalam berbagai peran dan profesi. Namun kita perlu berhenti bermain-main dengan hidup. Kita perlu berhenti hidup sembarangan, hidup untuk hal-hal remeh. Kita perlu serius berpikir apakah kita numpang lewat dalam hidup ini (lahir-dewasa-menikah-mati), atau ingin menjadi orang yang jika anda rindu dipakai menjadi pemimpin yang langgeng dan berdampak penting, berilah dirimu dikhususkan (consecrated) dan difokuskan (concentrated) pada Allah.

4.     Mrk 1:35-39 - Relationship with God
"Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
Ketika orang banyak mencari Yesus, dengan segala permasalahannya, dengan segala perjuangan, ternyata secara mengejutkan dan sepertinya kejam, Yesus tidak melayani mereka dan meninggalkan mereka.  Mengapa? Karena Yesus tahu visi dan tujuan utama kedatangan-Nya adalah memberitakan Injil, bukan yang lain. Darimana Yesus mendapat kepekaan yang sangat tinggi untuk tetap fokus pada tujuan utama-Nya itu? Ay.35 menjelaskan, Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Disiplin menjaga relasi yang intim dengan Allah adalah kunci agar kita tidak ter-distraksi dengan hal-hal yang bukan utama. Sisihkan (bukan sisakan) waktu untuk melakukan disiplin rohani: saat teduh, berdoa, merenungkan firman Tuhan. Dengan disiplin inilah kita semakin peka mengambil keputusan, mana yang harus kita kerjakan karena “Tuhan suruh”, mana yang kita tolak. Terlalu sibuk, justru harus berdoa. Kita sangat mudah untuk jalan mengikuti kemana kesibukan membawa kita. Kelelahan membuat tujuan kita tidak jelas. Kalau kita terus terjebak mengerjakan hal-hal urgent, apakah kondisi urgent akan berhenti? TIDAK! Hal itu akan selalu ada. Ketika kita mencoba melakukan segala sesuatu, sebenarnya kita sedang tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Banyak permasalahan terjadi dalam hidup dan pelayanan karena kita sering mengatakan “ya” dan “tidak” secara terbalik. Hidup Kristen adalah hidup yang dipimpin, diarahkan, diserahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Tanpa berefleksi dengan firman, hidup akan mudah kita jalani dengan sembarangan.
Kalau ada yang suka bilang gini: “saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan”, kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang 9 kali! Jadi kesalahan yang sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Time is Life

Paham kapitalisme yang mengatakan Time is money sangat tidak alkitabiah. Paling tidak karena dua alasan: pertama, waktu tidak setara dan tidak bisa ditukar dengan uang; kedua: betapa malangnya kita kalau setiap detik dalam hidup ini tolok ukur hasilnya adalah uang. Alkitab mengajarkan Time is Life. Hidup kita dibatasi waktu, dan di waktu yang sementara inilah kita melakukan hal-hal yang bernilai kekal selama kita hidup di dunia.
Bicara tentang waktu, saya setuju dengan pernyataan bahwa “manajemen waktu” sebenarnya suatu terminologi yang membingungkan, karena kita tidak mungkin mengelola –seperti menunda, menghentikan, menyimpan, atau menghilangkan– waktu. Kita tidak bisa mengubah apapun terhadap waktu. Yang kita bisa lakukan adalah mengelola diri kita agar dengan waktu yang diberikan, kita mampu menjalani apa yang seharusnya (Pengkh. 3).
Saya masih ingat, mama saya seringkali berkata: Kita yang mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita. Walau kalimat itu sering diucapkan mama sambil marah ketika kami dulu sering lupa waktu (bermain, nonton, telat makan/ pulang), tapi kalimat itu sangat melekat. Kita yang harus mengatur diri kita, karena waktu akan terus berjalan, tidak akan kembali, apapun yang terjadi. Kita lebih sering berkata: andai saja aku bisa mengatur waktu dengan lebih baik...”, tapi jarang: andai saja aku bisa mengatur diriku dengan lebih baik...”. Semua orang sama-sama diberikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Kenapa ada orang yang bisa berbuat banyak, sedangkan yang lain tidak berbuat apa-apa? Bukan waktu yang kurang banyak, tapi kita yang kurang bijak. Kita mengatakan waktu kurang banyak, untuk menutupi ketidakmampuan kita mengatur waktu.
Alkitab menegaskan agar kita bijaksana menggunakan waktu yang ada untuk bekerja dan berkarya (Yoh 9:4; Mzm 90:12). Dalam hal ini, Allah menentang dua hal, yaitu: kemalasan dan workaholic (gila kerja). Harus kita akui, orang sibuklah yang mempunyai waktu. Mereka selalu mengatur waktunya secara sistematis, sehingga selalu ada waktu untuk kepentingan orang lain (pelayanan, pekerjaan Allah). Sedangkan orang malas akan terus menunda-nunda dan menghabiskan waktu dengan kemalasannya (Ams 6:6-10). Saya melihat kenyataan ini, pelayan/ mahasiswa/ alumni yang sering menolak pelayanan sehingga jadwalnya banyak kosong, malah akan kosong terus. Sedangkan mereka yang mengatur kepadatan jadwalnya sedemikian rupa, bisa mengelola dan melaksanakan pelayanannya dengan efektif.
Memang gampang sekali mencari alasan untuk menunda sesuatu, dan sebaliknya susah mencari alasan untuk berbuat sesuatu. Sekalipun kita katakan waktu itu berharga, tidak ada hal yang lebih gampang kita boroskan tanpa pikir panjang selain waktu. Bahkan saya pernah melihat status seorang teman di facebook: “I’m expert in wasting time.. hahaha”.
Hati-hati dengan jebakan hal-hal kecil. Seringkali waktu terhilang saat kita melakukan hal-hal yang tidak produktif di sela-sela waktu senggang kita. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Yang membentuk karakter kita bukan 10 keputusan besar yang kita ambil dalam seluruh hidup kita sejauh ini, tetapi 10.000 keputusan-keputusan kecil yang setiap hari kita ambil. Perhatikan apa yang kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita.
Untuk membagi banyaknya kegiatan dalam skala prioritas, kuadran berikut ini bisa digunakan:

           I.              PENTING –MENDESAK
            II.            PENTING –
TIDAK MENDESAK
Necessity
·         Deadline
·         Masalah yang menekan
·         Rapat
Effectiveness
·         Persiapan
·         Pencegahan
·         Perencanaan
·         Membangun hubungan
·         Rekreasi
           III.           TIDAK PENTING – MENDESAK
           IV.           TIDAK PENTING – TIDAK MENDESAK
Deception
·         Interupsi yang tak perlu
·         Laporan yang tak perlu
·         Rapat, telepon, email yang tak penting
·         Masalah-masalah kecil orang lain
Waste
·         Hal-hal remeh
·         Telepon, surat, email yang tidak relevan.
·         Aktivitas “pelarian”
·         TV, internet, relaksasi berlebihan

Kita harus berlatih untuk menggeser hal-hal yang akan kita kerjakan ke kuadran II: penting – tidak mendesak, agar pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan baik, meminimalisir dikerjakan dengan buru-buru, atau tidak dikerjakan sama sekali.

Saran praktis:

1.             Utamakan HPDT (hubungan pribadi dengan Tuhan). Allah menganugerahkan means of grace sebagai sarana pertumbuhan kita: saat teduh, jam doa, pembacaan/ penggalian Alkitab, komunitas/ persekutuan, pelayanan. Disiplinlah, jangan gantungkan kerohanianmu hanya di hari minggu. Ingat, kita Christ direction, bukan outer direction.

2.             Milikilah perencanaan yang baik. Fail to plan, plan to fail. Cari cara yang cocok untuk membantu kita disiplin. Ada banyak cara, tapi belum tentu cocok bagi setiap orang. Beberapa cara di antaranya:
·                     Pakai agenda (bisa berupa buku atau smartphone). Masukkan semua jadwal ke dalam tanggal yang telah ditetapkan, dan durasi (jam mulai – jam berakhir).
·                     Libatkan orang lain. Kita bisa sharing jadwal ke sahabat, kekasih, teman, rekan pelayanan, orang tua, sehingga ada waktu-waktu saling mengingatkan (reminder) kalau ada jadwal kosong atau berbenturan, kegiatan yang sudah dekat, atau yang masih perlu persiapan.
·                     Membuat to do list harian/ mingguan/ bulanan. Daftar ini bisa dibuat detail dengan menambahkan 5W + 1H di tiap point. Misalnya: hari ini saya harus mengerjakan apa, dengan siapa saja, jam berapa, dimana, apa yang harus dibawa; siang ini saya harus beli apa; untuk rapat malam ini siapa yang belum diundang, bahan yang belum ada, dst.
·                     Buatlah daftar peran/ status anda, dan tanggung jawab yang mengikutinya. Misalnya: sebagai anak Tuhan: HPDT, pelayanan punya waktu khusus; sebagai mahasiswa: jadwal kuliah, tugas-tugas, belajar kelompok; sebagai anak (apalagi kalau tidak kos): jam berangkat, jam pulang, acara keluarga; sebagai kekasih: makan bersama. Hal ini akan membantu kita mengatur prioritas dan jadwal harian/ mingguan.
·                     Buatlah target 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun (atau satuan waktu lain). Kapan lulus S1/ S2/ S3? Kapan melamar/ pindah kerja? Pelayanan baru? Kapan menikah/ punya anak? Target ini seharusnya terukur, tapi tidak kaku. Dari daftar target ini, kita bisa menyusun beberapa perencanaan/ persiapan.
·                     Gunakan kuadran skala prioritas: penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, tidak penting-tidak mendesak. Usahakan bekerja efektif di kuadran penting-tidak mendesak.

3.             Lakukan beberapa hal sederhana tetapi berguna sebagai berikut:
·                     Selalu gunakan jam tangan, atau pastikan ada jam dinding di kamar. Ini akan membantu kita selalu ingat waktu.
·                     Letakkan setiap barang dengan rapi, pada tempatnya, sehingga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari barang-barang ketika dibutuhkan.
·                     Sebelum tidur malam, pikirkan sejenak gambaran kegiatan esok hari, dan doakan.
·                     Buatlah catatan atau tempelan kertas yang bisa memotivasi kita tetap disiplin. Bisa ayat Alkitab, yang kita taruh di meja belajar, dinding kamar, halaman buku, pembatas buku, post it, atau wallpaper handphone.

4.             Jangan jadi yes-man. Belajar berkata “tidak” untuk kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung tujuan hidup (organisasi, kepanitiaan, acara-acara lain). Too much focus means no focus. Betapa sering kita melelahkan diri sendiri dengan mengerjakan banyak hal yang (kalau boleh jujur) hanya kemauan kita sendiri, sebenarnya Tuhan tidak suruh (ingat poin 1 tentang HPDT). Bagaimana seseorang meminta Allah bertanggung jawab memberinya kekuatan lebih padahal dia melakukan hal-hal yang bukan diamanatkan Allah? Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan, namun seberapa banyak yang kita selesaikan.

5.             Pendelegasian. Semakin teraturnya kita menyusun jadwal, akan kita temui ada hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan, atau lebih baik dikerjakan oleh orang lain, apalagi kalau anda di posisi pemimpin. Delegasikanlah tugas itu kepada orang yang tepat; right man, right place, right time.

6.             Isilah waktu senggang, idle, waktu menunggu, dengan hal yang baik/ produktif, atau multitasking. Misalnya tiduran sambil menghafalkan firman Tuhan, di angkot sambil membaca buku, menunggu sambil merenung (bukan melamun), makan siang bersama teman lama yang ingin ditemui, mengerjakan pekerjaan rumah sambil mendengarkan musik (jadi tidak perlu ada waktu tambahan khusus lagi untuk satu kegiatan itu). Hati-hati bahaya laten hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan buruk. Ada hobi yang bisa menimbulkan kecanduan seperti bermain game, menonton film berseri, gadget, internetan, dll.

7.             Istirahat, refreshing dan olahraga adalah keharusan, dengan waktu yang cukup, dan pada waktu yang tepat. Jangan berlebihan.

8.             Evaluasi. Ini dapat dilakukan harian (saat doa malam, saat teduh, dsb), atau mingguan (bisa evaluasi bersama sahabat/ rekan pelayanan. Bila ada hari kosong, bisa sambil liburan). Pertanyaan reflektif ini bisa kita tanyakan dalam hati: “Why are you doing what you are doing?”. Melalui evaluasi ini kita dapat melihat hidup yang kita lewati dan kembali menata hidup yang akan kita jalani. Hidup kembali diatur apakah kita telah mencapai sasaran, masih on the track atau sudah lari dari jalur. Jadi ada satu evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan, membangun, menstrukturisasi sehingga kita kembali ke dalam track Allah.
·                     Mungkin ada beberapa penatalayanan yang kita tingkatkan, misalnya: Spiritual Life (agar tidak menjadi kering dan hanya mekanis), Keluarga (kunjungan kasih, rencana menikah), Pekerjaan (jenjang karir, pelatihan), Pelayanan (karunia? bermisi?), Social Relation (menanyakan kabar, sms, telepon), Olahraga (tanggung jawab terhadap anugerah kesehatan), Rekreasi (bacaan, tontonan, cuti), Uang (persembahan, tabungan, belanja)
·                     Dari evaluasi yang ada, kita bisa melakukan analisa S W O T (Strength, Weakness, Opportunity, Treaten). Kenapa ini berhasil, kenapa yang ini gagal, masalahnya dimana, apa solusinya, dari S/W/O/T.
·                     Baik sekali kalau kita khususkan waktu di tiap akhir bulan untuk menuliskan jurnal kehidupan di bulan itu. Apa yang kita alami, apa yang Tuhan telah kerjakan, sehingga kita bisa bersyukur dan belajar untuk waktu-waktu ke depan. Bisa juga dibagikan melalui media sosial untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Jika hidup kita di dunia ini berakhir, kira-kira apa yang akan diingat oleh orang lain tentang kita? Apakah kita akan mempermuliakan Allah seturut kalimat Yesus: ”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya." (Yoh 17:4) Atau pernyataan kemenangan iman seperti seruan Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. (2 Tim 4:7-8). Ini kerinduan kita, hidup yang penuh dan maksimal, hanya untuk kemuliaan Allah. Soli Deo gloria!


Sumber:
Jadilah Pemimpin demi Kristus - Sen Sendjaya
Kepemimpinan Rohani - J. Oswald Sanders
Our Herritage - Perkantas
Handout dan ringkasan khotbah dari beberapa situs:
http://mimbarbinaalumni.blogspot.com
http://christianreformedink.wordpress.com
http://www.ligonier.org/


(disampaikan di Retreat Koordinator XIII; Bandung, Februari 2014)

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo