Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lain-lain. Tampilkan semua postingan

*artikel ini adalah kado dari Tuhan di ulang tahun anak kami Luvmika Gloria Tarigan yang ke-1 (12 Agustus), dan ulang tahun saya yang ke-29 (13 Agustus). Tuhan membawa saya dalam perenungan akan pemeliharaan-Nya yang sempurna, dan pekerjaan tangan-Nya yang tak terselami. Tulisan ini semoga juga menjadi kado buat teman-teman, balasan saya sebagai ungkapan terima kasih atas semua ucapan selamat ulang tahun dan setiap doa yang dipanjatkan buat keluarga kami.



Judulnya tidak salah tulis. Bahagia itu tidak sederhana. Saya memang sering membaca “BAHAGIA ITU SEDERHANA”, khususnya beberapa waktu ini. Belakangan saya tahu ternyata itu juga judul lagu. Pencetus frase ini niatnya baik, agar orang berhenti berpikir bahwa bahagia itu adalah hal yang ribet, ruwet, susah untuk dicapai. Jadi katanya, bahagia itu sederhana, hanya dengan melihat senyummu. Aku dan kamu kita berdua bahagia, sederhana. Lama-lama frase “Bahagia itu sederhana” semakin luas digunakan orang, dengan alasan-alasan yang juga sederhana. Misalnya:

- bahagia itu sederhana, ketika bisa berkumpul bersama keluarga dengan ceria
- bahagia itu sederhana, sesederhana kita mengucapkannya: “BAHAGIA”
- bahagia itu sederhana, makan ikan bakar bareng istri
- bahagia itu sederhana, gak sengaja nemu duit di kantong celana
- bahagia itu sederhana, melihat sendalku jejer dekat sendalmu

Alasan-alasan kebahagiaan itu kelihatannya memang sederhana. Tapi apakah memang benar adanya “sederhana”? Kalau kita meyakini bahwa tidak ada yang terjadi secara “kebetulan”, semuanya ada di bawah kendali Tuhan, maka kalau diresapi dalam-dalam, hal-hal yang kita lihat sebagai hal yang sederhana, sebenarnya tidak terjadi begitu saja dengan sederhana. Ada Tuhan yang mengaturnya. Tuhan menggunakan segala sumber daya yang ada, bahkan bekerja sama dengan kita, untuk membuat hal itu bisa terjadi. Dan karena ini melibatkan begitu banyak faktor, maka ini bukan lagi menjadi hal yang sederhana. Tapi hal-hal yang tidak sederhana itulah yang Tuhan kerjakan bahkan untuk hal-hal yang kita anggap sebagai hal yang sederhana. Untuk lebih jelas, mari kita kupas satu per satu, dari 5 contoh alasan “bahagia itu sederhana” yang sudah disebut di atas.

- bahagia itu sederhana, ketika bisa berkumpul bersama keluarga dengan ceria.
bayangkan bagaimana Allah bekerja untuk mendatangkan setiap anggota keluarga bisa berkumpul, apalagi dengan ceria. Pertama-tama Allah harus membangunkan setiap anggota keluarga dari tidurnya, memberinya nafas hidup, kesehatan, makanan untuk dimakan, mencukupkan setiap detail kebutuhannya, menyertainya dalam perjalanan, dan menganugerahkan sukacita di hatinya. Daftar ini bisa sangat panjang jika kita merincinya dengan lebih runut lagi. Dan itu dikerjakan Tuhan untuk setiap pribadi, supaya bisa berkumpul bersama-sama.

- bahagia itu sederhana, sesederhana kita mengucapkannya: “BAHAGIA”
untuk bisa mencapai hal ini, orang tersebut harus disertai hidupnya agar bisa berbicara, mendengar, dan berkomunikasi. Tuhan juga harus bersabar membuat orang ini dari tidak bisa membaca jadi bisa membaca, dari tidak bahagia jadi bahagia

- bahagia itu sederhana, makan ikan bakar bareng istri
nah, ini bisa dibuat lebih detail lagi. Bayangkan apa yang harus dikerjakan Allah agar kita bisa makan ikan bakar bareng istri. Tuhan harus memelihara si ikan sampai sebesar itu. Tuhan harus memelihara hidup si nelayan agar bisa menangkap ikan itu; memelihara hidup si pengangkut ikan, si pemasak ikan, dan si pengantar ikan, sampai ikan itu berada di hadapan kita, di piring untuk kita santap, bareng istri. Dan untuk yang terakhir ini, Tuhan harus bekerja bertahun-tahun untuk mempertemukan kita dan menyatukan menjadi suami istri, dan hari itu kita dianugerahi kegembiraan supaya bisa menikmati makan ikan. Karena seenak apapun makanan, tanpa hati yang enak, tidak akan jadi enak. Saya sudah membuktikan. Di restoran enak, banyak pasangan pulang dengan berantam, makanan tersisa, atau bahkan gak jadi makan.

- bahagia itu sederhana, gak sengaja nemu duit di kantong celana
ini juga tidak kalah “tidak sederhana”. Bagaimana Tuhan memberimu rezeki untuk mendapatkan uang dan celana itu, menjaganya selama dicuci, dijemur, disetrika, sampai dipakai kembali, dan menggerakkan tanganmu untuk menggapai uang beruntung itu.

- bahagia itu sederhana, melihat sendalku jejer dekat sendalmu
dari jutaan sendal yang ada di dunia, kenapa kau memilih sendal itu, dan dia memilih sendal yang itu. Dari banyaknya peluang kejadian yang mungkin, kenapa posisi dua pasang sendal itu berjejer? Kebetulan? Tuhan bekerja panjang untuk hal-hal yang kita sebut sebagai kebetulan.

Saya sendiri kalau meneruskan pola ini, saya bisa berkata:

- bahagia itu sederhana, bisa melihat anakku tertawa lepas
berarti Tuhan telah menjaga anakku hingga seusia sekarang, bekerja luar biasa dalam proses tumbuh kembangnya, Tuhan menjalin rapi tiap sel-sel syaraf dalam tubuhnya hingga dia bisa berespon dengan tertawa lepas

- bahagia itu sederhana, saat jalanan Kalimalang tidak macet
saya pikir ini salah satu jalanan termacet di dunia. Tapi pernah beberapa kali memang Kalimalang tidak macet, dan saya sangat bersyukur. Membayangkan bagaimana Tuhan bekerja mengatur lalu lintas, menahan kendaraan entah dari mana, melancarkan kendaraan entah di sisi jalan yang mana, mengimajinasikan jalanan yang saling terhubung sambung menyambung menjadi satu, diatur di sini, berefek ke yang sana, dan semua itu Tuhan yang atur. Luar biasa.

Maaf, bukan lebay dalam menganalisis masalah, atau memperpanjang masalah, atau cari-cari masalah dengan merumitkan yang sederhana. Saya hanya mengajak kita untuk merenung lagi beberapa hal: pertama, yang kita pikir sederhana ternyata tidak sederhana. Kalau bahagia sesederhana hal kecil tersebut, apakah terkandung arti sebaliknya, kita bisa mudah menjadi tidak bahagia (bahkan) jika hal (yang) kecil tersebut tidak terjadi? Saya bukan mutlak tidak menyetujui “bahagia itu sederhana”. Kalau tujuan frase itu untuk lebih mengajak orang selalu bersyukur, oke, mantap, silahkan. Tapi semoga jangan sampai men-downgrade makna atau menurunkan kedalaman perenungan akan pekerjaan Allah di balik kebahagiaan.

Mari tilik sejenak Alkitab kita. Ada 360 ayat yang mengungkapkan berbahagialah (happy, blessed, makarioi). Kalau satu tahun digenapkan 360 hari, 1 ayat cukup untuk 1 hari selama setahun untuk mengingatkan kita tentang kebahagiaan di dalam Tuhan, hari demi hari. Alkitab versi Indonesia Terjemahan Baru mungkin kurang dari itu, hanya seratusan ayat yang diterjemahkan jadi “bahagia”. Sebagian besar muncul dari kitab Mazmur. Pemazmur konsisten menuliskan: orang yang bagaimana yang sesungguhnya berbahagia. Ayo kita lihat, mana bahagia yang disebut sederhana itu? Saya ambil contoh, 13 ayat dari Mazmur.

Mzm. 1:1 Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh,
Mzm. 32:1 Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi!
Mzm. 32:2 Berbahagialah manusia, yang kesalahannya tidak diperhitungkan TUHAN, dan yang tidak berjiwa penipu!
Mzm. 40:5 Berbahagialah orang, yang menaruh kepercayaannya pada TUHAN, yang tidak berpaling kepada orang-orang yang angkuh, atau kepada orang-orang yang telah menyimpang kepada kebohongan!
Mzm. 84:5 Berbahagialah orang-orang yang diam di rumah-Mu, yang terus-menerus memuji-muji Engkau.
Mzm. 84:6 Berbahagialah manusia yang kekuatannya di dalam Engkau, yang berhasrat mengadakan ziarah!
Mzm. 89:16 Berbahagialah bangsa yang tahu bersorak-sorai, ya TUHAN, mereka hidup dalam cahaya wajah-Mu;
Mzm. 94:12 Berbahagialah orang yang Kauhajar, ya TUHAN, dan yang Kauajari dari Taurat-Mu,
Mzm. 106:3 Berbahagialah orang-orang yang berpegang pada hukum, yang melakukan keadilan di segala waktu!
Mzm. 112:1 Berbahagialah orang yang takut akan TUHAN, yang sangat suka kepada segala perintah-Nya.
Mzm. 119:1 Berbahagialah orang-orang yang hidupnya tidak bercela, yang hidup menurut Taurat TUHAN.
Mzm. 119:2 Berbahagialah orang-orang yang memegang peringatan-peringatan-Nya, yang mencari Dia dengan segenap hati,
Mzm. 128:1 Berbahagialah setiap orang yang takut akan TUHAN, yang hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya!

Kalau itu belum cukup, mari ingat satu bagian terkenal dari Khotbah di Bukit: Ucapan Bahagia, yang disampaikan langsung oleh Tuhan Yesus. Bagian mana yang berani kita tunjuk sebagai hal yang sederhana?
Mat. 5:3 "Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Mat. 5:4 Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.
Mat. 5:5 Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.
Mat. 5:6 Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.
Mat. 5:7 Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.
Mat. 5:8 Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.
Mat. 5:9 Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.
Mat. 5:10 Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga.
Mat. 5:11 Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.

Saya sendiri makin paham, akhirnya kebahagiaan itu hanya anugerah. Dan kebahagiaan itu adalah Tuhan sendiri. Itulah tujuan hidup manusia: memuliakan dan menikmati Tuhan. Hanya dengan itulah dia bahagia. Jadi bahagianya inside-out, karena Tuhan sudah ada di dalam hatinya, makanya dia bahagia, walau apapun yang terjadi di luar sana. Bukan dibalik, outside-in, kebahagiaannya terlalu temporer, sangat tergantung apa yang terjadi di luar sana. Bahagia itu di sini (tunjuk hati). Pusat jiwa, di mana Tuhan bertahta. Tanyakan pada semua orang, apa tujuan hidupnya? Pasti: BAHAGIA. Tau dari mana itu tujuan hidupnya? Coba tanyakan pertanyaan “untuk apa?” atas jawabannya. Selama masih bisa ditanyakan “untuk apa”, maka itu belum menjadi tujuan final. Misalnya: untuk apa hidup? Untuk kerja. Ini bukan tujuan final, karena masih bisa ditanya: untuk apa kerja? Jawabnya biar dapat uang. Masih bisa ditanya lagi: untuk apa dapat uang? Biar bisa beli ini itu. Untuk apa beli ini itu? Biar memenuhi kebutuhan hidup. Untuk apa memenuhi kebutuhan hidup? Biar berkecukupan. Untuk apa berkecukupan? Biar bahagia. Nah, di sini stop. Tidak bisa ditanya lagi, untuk apa bahagia? Bahagia ya untuk bahagia. Itulah tujuan finalnya. Dan sekali lagi, akhirnya kebahagiaan itu adalah Tuhan sendiri, hanya anugerah-Nya.

Jadi, masihkah kita menganggap sederhana pekerjaan-pekerjaan Allah yang luar biasa itu? Bisa bangun pagi, masih bernafas, terlalu sederhanakah sehingga kita alpa bersyukur? Berapa banyak orang susah bernafas? Berapa duit kalau dirupiahkan oksigen yang kita gunakan? Sehari, sebulan, selama hidup? Berapa juta sel bekerja, jaringan, organ, sistem organ hanya untuk 1 kali tarikan nafas? Mujizat besar dalam hal kecil.
Masih banyak contoh lain, yang bisa kita tambahkan sendiri. Ternyata tak sesederhana yang kita bayangkan. Seorang teman memilih berjalan kaki ke kantor, kelihatannya sederhana, tapi untuk itu dia membeli sepatu karet yang menurut saya harganya mahal sekali untuk sepasang sepatu. Tidak jadi sederhana. Orang bersepeda, bisa jadi terkesan sederhana, tapi ternyata harga sepedanya lebih mahal dari harga motor. Bahkan tempat makan yang namanya SEDERHANA sangat mungkin harganya mahal, dan bukan untuk konsumen golongan orang sederhana. Untuk gaya hidup sederhana, orang membutuhkan disiplin dan penyangkalan diri. Dalam pelaksanaannya seringkali tidak sederhana, buktinya banyak alumni yang gagal meneladankannya.

Jadi bagaimana? Apa yang membuat hidup pas, puas, bahagia? Sekali lagi, Allah sendiri. Seorang bapa gereja, Agustinus pernah berkata: jiwa kita yang berlubang-lubang cacat ini tidak bisa diisi oleh apapun di dunia, kecuali oleh Allah sendiri. Lubang-lubang yang tertinggal itu, adalah lubang yang gedenya, luasnya, dalamnya, sebesar, sedalam, seluas, yang namanya Allah. Lubang itu hanya dapat terisi, lalu tertutup oleh diri Allah sendiri. Ketika lubang itu dinyatakan sebesar Allah, itu artinya limitless, jadi jangan coba ditutup, diisi, dengan hal-hal yang limited.

Salam bahagia, dari kami, KLM
Kawas-Luv-Misni

Read More..


23 Maret 2015. Hari ini kami memperingati hari jadi perkawinan kami yang kedua. Kami masih kapas. Versinya buku Grace on Marriage menuliskan:orang hanya berani menghitung kebahagiaan pernikahan sampai angka 60 tahun saja.

Tahun ke-1      :           Perkawinan Kertas (paper)
Tahun ke-2      :           Perkawinan Kapas (cotton)
Tahun ke-3      :           Perkawinan Kulit (leather)
Tahun ke-4      :           Perkawinan Bunga (flower)
Tahun ke-5      :           Perkawinan Kayu (wood)
Tahun ke-6      :           Perkawinan Besi (candy)
Tahun ke-7      :           Perkawinan Tembaga (copper)
Tahun ke-8      :           Perkawinan Perunggu (bronze)
Tahun ke-9      :           Perkawinan Periuk (pottery)
Tahun ke-10    :           Perkawinan Timah (tin)
Tahun ke-11    :           Perkawinan Baja (steel)
Tahun ke-12    :           Perkawinan Sutera (silk)
Tahun ke-13    :           Perkawinan Renda (lace)
Tahun ke-14    :           Perkawinan Gading (ivory)
Tahun ke-15    :           Perkawinan Kristal (crystal)
Tahun ke-20    :           Perkawinan Tembikar (china)
Tahun ke-25    :           Perkawinan Perak (silver)
Tahun ke-30    :           Perkawinan Mutiara (pearl)
Tahun ke-35    :           Perkawinan Karang (coral)
Tahun ke-40    :           Perkawinan Manikam (ruby)
Tahun ke-45    :           Perkawinan Nilam (sapphire)
Tahun ke-50    :           Perkawinan Emas (gold)
Tahun ke-55    :           Perkawinan Ratna (emerald)
Tahun ke-60    :           Perkawinan Intan (diamond)

Dan kami masih di step ke-2: Kapas. Saya searching karakteristiknya: berwarna putih, berbentuk serat halus yang susunan seratnya longgar, ringan, mudah terbakar. Sifat fisik produk dari kapas: bahan terasa dingin dan sedikit kaku, mudah kusut, mudah menyerap keringat, rentan terhadap jamur. Ya, mungkin masih seperti itulah pernikahan kami. 2 tahun penuh makna dan pembelajaran. Kami bersyukur,Tuhan yang setia menuntun kami sampai di titik ini. Banyak hal yang sudah DIA kerjakan dalam keluarga kecil kami. Saya pribadi, saya sungguh berbahagia dianugerahi 2 wanita istimewa dalam keluarga ini.


Yang pertama, putri kecil kami, Luvmika Gloria Tarigan (Lulu). Kehadirannya membawa keceriaan tiap waktu, dan bersamanya kami banyak mendapat pelajaran tentang hidup beriman. Bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kami bulan demi bulan, bagaimana DIA menyembuhkan anak kami secara mujizat. Kami sungguh bersyukur dan takjub. Kami berjuang sebaik-baiknya membesarkannya, karena kami tahu bahwa kami tidak sekedar sedang merawat anak, tapi dalam rangka menghasilkan generasi unggul penerus bangsa ini puluhan tahun lagi. Kiranya Lulu terus berkembang dan bertumbuh menjadi wanita terbaik, takut akan Tuhan, seperti ibunya: Misni, wanita teristimewa dalam hidup saya. Bersamanya, saya merasa menjadi suami yang terberkati. Bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kasih, kesetiaan, kesabaran, ketangguhannya dalam berdoa dan berjuang.

2 tahun ini tidak banyak berubah, dia tetaplah Misni yang seringkali tidak menutup kran air dengan sempurna, susah untuk menjawab hp dengan cepat, bisa bolak balik ke kamar 10 kali sebelum berangkat keluar rumah, ada saja barangnya yang ketinggalan, lupa naruh kunci dimana. Tapi itulah Misni yang kadang mengesalkan sekaligus merindukan, memancing marah sekaligus penenang gundah. Melihatnya, saya bisa menuliskan Amsal 31 versi saya sendiri. Pagi-pagi dia bangun untuk menyusui Lulu, sambil bersenandung atau menyanyikan lagu rohani, dan membacakan 1 pasal Alkitab setiap hari. Malam-malam dia tidur setelah kami renungan malam, dia menyusui Lulu dan memastikan besok pagi semua perlengkapan sudah siap. Dia sepi dari dunia maya, tetapi terus mengikuti informasinya. Di rumah, dia membuat aturan seminim mungkin menggunakan gadget, demi quality time. Dia tidak gembar gembor tentang ASI di media sosial, karena itu adalah naturnya ibu, layak dan wajar, tidak perlu diekspos. Sama seperti orang Kristen yang rajin berdoa, atau pegawai yang bekerja dengan baik. Tanpa digaungkan pun, itu akan tetap dikerjakan, karena memang seharusnya begitu. Striker sepakbola, Mario Balotelli, mengatakan: "When I score, I don't celebrate because I'm only doing my job. When a postman delivers letters, does he celebrate?"

Lebih dari itu,dia adalah partner terbaik, mendukung saya menjadi suami seutuhnya, pelayan Tuhan yang maksimal, imam keluarga. Kalau banyak ibu-ibu yang permisif tidak ikut ini itu karena punya anak kecil, dia setia mendampingi saya pelayanan, bahkan bukan hanya berjuang ikut, tapi selagi bisa dan mungkin, dia akan memboyong anak kami untuk turut ikut di pelayanan/ persekutuan/ kegiatan itu.

Saya ingin menjalani tahun ke-3, 4, 10, 60, 100, pernikahan kami, sampai mati bersamanya. Tentu kisah cinta terindah tidak hanya terjadi dalam dongeng. Saya mengumpulkan beritanya, dan berharap daftar pasangan ini sampai kepada nama kami sebagai pasangan kekasih yang menuliskan cerita cinta, kisah sejati itu.

  • Betapa bahagia pasangan Gordon Yeager (94) dan Norma (90), pasutri Amerika Serikat yang menikah pada tahun 1939 dan menjadi perbincangan dunia tahun 2011 karena meninggal dengan berpegangan tangan. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan keduanya kritis di rumah sakit dan tidak ingin dipisahkan sampai meninggal hanya selisih 1 jam dengan tangan yang masih saling berpegangan. Saat itu usia pernikahan mereka telahmelampaui 72 tahun.
  • Ada lagi pasangan J.C. dan Josie Cox yang menikah tahun 1932. Memasuki usia senja, JC mengalami gangguan pendengaran, dan Josie gangguan penglihatan. JC membantu Josie untuk melihat dan Josie membantu JC untuk mendengar, saling melengkapi. Karena sudah tua dan sakit komplikasi paru dan jantung yang mereka derita, mereka dirawat dan akhirnya meninggal di rumah sakit yang sama, di hari yang sama, tepat pada ulang tahun ke 75 pernikahan mereka.
  • Pasangan Joey dan Mel Schwanke asal Fremont, California, Amerika Serikat. Usia pernikahan mereka telah mencapai 65 tahun. Mereka selalu memakai baju kembar atau senada. Kebiasaan ini sudah berlangsung selama 35 tahun.
  • Jack Millis dan Millie, asal Cambridgeshire, Inggris. Jack memberikan setangkai bunga setiap hari kepada istrinya Millie. Kebiasaan itu sudah dilakukan 70 tahun. Bila dihitung, Jack yang kini sudah berusia 89 tahun, telah memberikan 3000 bunga bagi Millie selama tujuh dekade kebersamaan mereka.
  • Tom Shovelton dan istrinya Joan asal Pentre Flintshire, North Wales. Meski di usianya yang telah memasuki 87 tahun, sikap romantis Tom tak pernah luntur sedikit pun pada Joan yang empat tahun lebih muda. Setiap hari sejak menikahi Joan, Tom tak pernah lupa menaruh setangkai mawar disamping tempat tidur dan memberikan sebuah ciuman selamat pagi dan selamat malam. Ini sudah 60 tahun dilakukannya.

Suatu saat nanti, kami pun ingin diingat orang karena kesaksian cinta yang Tuhan anugerahkan dapat kami jaga dan perjuangkan, sampai mati. Ada satu buku bagus yang sangat menolong saya dan istri: The Momentary Marriage (John Piper). Buku ini juga sering saya pakai untuk berkhotbah tentang kasih/ pernikahan. Saya mengutip kalimat penting dari buku ini, ketika ia menjelaskan tentang keharusan untuk mempertahankan pernikahan, dalam kondisi apapun:
“Karena itu, mempertahankan pernikahan bukan hanya soal mempertahankan cinta. Ini berkaitan dengan mempertahankan perjanjian. “Sampai kematian memisahkan kita”, adalah janji kudus pernikahan – sama seperti janji Yesus kepada mempelai-Nya (jemaat-Nya) ketika Ia mati untuknya... Kristus tidak akan pernah meninggalkan istri-Nya (kita). Selamanya. Mungkin ada masa-masa yang menyakitkan dan kemunduran di pihak kita. Tetapi Kristus mempertahankan perjanjian-Nya selamanya. Pernikahan harus menampilkan hal itu! Itulah yang utama dalam pernikahan. Pernikahan mempertontonkan kepada dunia: kasih ikatan perjanjian Kristus”.
Di buku itu juga mengutip pernyataan Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang dipenjara selama kekuasaan Nazi/ Hitler, dalam bukunya “Letters and Papers from Prison”, dituliskan: Sebagaimana Anda saling memberikan cincin, tetapi Anda menerimanya dari tangan pendeta, demikianlah cinta datang dari Anda, tetapi pernikahan datang dari atas, dikaruniakan oleh Allah. Sebagaimana Allah lebih tinggi daripada manusia, demikianlah tingginya kekudusan, kebenaran, dan janji dari kasih. Bukan cinta Anda yang menopang pernikahan, melainkan sejak sekarang, pernikahanlah yang menopang cinta Anda.

Inilah yang ingin kami tunjukkan, menjadi etalase kasih Allah, yang bisa disaksikan orang lain, bagaimana Allah begitu mengasihi kami sehingga kami dimampukan untuk mempertahankan kasih. Sekalipun masih kapas.
Di hari jadi ini, kami rayakan dengan outdoor dinner, menikmati santap malam bersama, bersantai, berdoa, berbincang, memeluk anak kami, memandangi langit yang sangat cerah malam itu. Waktu terbaik untuk bersyukur.

Mengingat pergumulan dan perjalanan yang masih sangat panjang, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan 2 doa, Serenity Prayer:“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference”.
Dan doa Daud: “Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada dihadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya." (2 Samuel 7:29)

Sayangku Misni,
Terima kasih untuk 2 tahun ini. Kam masih secantik yang dulu. Happy anniversary, hasian. Kam membuatku mengerti arti bahagia dan bersyukur. Aku ingin menggandengmu sampai kita menaiki panggung keabadian dan membungkuk memberi hormat.
Pendampingndu,
Bp. Lulu.


Read More..

Kasih, telah tiba bulan Juni. Bersamamu kini bukan mimpi lagi, tinggal hitungan hari. Akan tiba nanti, tak ada lagi sedih kita di tiap perpisahan Senin dini hari. Karena aku dan kau, kita di sini. Satu kota, satu hati.

Lalu, 2 hal sederhana ingin kulakukan padamu: melantunkan puisi dan menyuarakan lagu.

Dengarlah gema suaraku. Puisi karangan Sapardi Djoko Damono: Hujan Bulan Juni.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu



tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya

yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan

diserap akar pohon bunga itu

***
Dan, bersenandunglah bersamaku. KLA Project: Menjemput Impian.

Indah larik pelangi seusai hujan membuka hari
Samar dirajut mega garis wajahmu lembut tercipta
Telah jauh ku tempuh perjalanan
Bawa sebentuk cinta menjemput impian

Desau rindu meresap kenangan haru ku dekap
Semakin dekat tuntaskan penantian
Kekasih aku pulang menjemput impian
...

Biarkan mereka lanjutkan reff-nya.

Tunggu aku, bersama dekap dan gitarku, ku akan pulang.


Kasihmu,
Subang, malam Juni.

Read More..

Selamat Hari Kebangkitan Nasional!
Saya tidak akan berbicara panjang lebar. Biarkan foto yang bercerita. Foto-foto yang saya upload ini adalah foto lama, kalau tidak salah 4 thn yg lalu, tahun 2010, tepat tanggal 20 Mei, Hari Kebangkitan Nasional, ketika saya ajak istri (waktu itu masih pacar) mengunjungi Museum Kebangkitan Nasional. Waktu itu memang pacar ngekos di daerah belakang museum itu. Saya tanya, museumnya kok sepi ya, padahal Harkitnas ini hari ulang tahunnya? Dia jawab gak tau. Pernah kesana gak? Dia bilang cuma lewat, dan pas pernah ada acara di situ, sekilas lihat gambaran dalamnya melalui jendela. Akhirnya saya ajak saat itu juga: Ayo kesana!

Agak menyedihkan, karena Museum penting ini memang sepi, agak kurang terawat. Gedung bekas kampus perjuangan ini seperti kurang peminat. Entah anda pernah kesana atau tidak. Seingat saya masuk ke sana gratis, isi buku tamu, terus kasih uang kebersihan (? lupa istilahnya) seikhlasnya. Lalu saya dan pacar berkeliling. Ada juga beberapa orang siswa (SMP atau SMA) yang juga sedang mengunjungi museum, mungkin ada tugas sekolah.
Saya begitu takjub melihat benda-benda, saksi bisu sejarah kebangkitan Indonesia. Seakan-akan ingin balik ke masa lalu, dan ikut dalam semangat itu. Semua benda mati itu, foto, miniatur, peninggalan asli (original), kalimat-kalimat semboyan, isi surat otentik,  seakan terus hidup dan berbicara tentang semangat yang tak pernah mati. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, 2 dekade sebelum Sumpah Pemuda, ada momen penting: kebangkitan nasional! Dan kapan itu terjadi? Singkatnya: ketika ada mahasiswa-mahasiswa Indonesia -tonggak harapan bangsa- yang bangkit bagi bangsanya, berbuat nyata, sebagai luapan roh nasionalisme yang menggerakkan mereka. Ya, kebangkitan itu dimulai dari mahasiswa.
Semoga spirit (baca: roh, semangat, jiwa) para mahasiswa sekarang sama atau lebih membara lagi untuk mencintai, dan berjuang bagi bangsa ini. Semoga mahasiswa -kaum intelektual- menyadari strategisnya peran mereka: Student today, leader tomorrow. Dan visi inilah, yg membuat saya akan terus setia terlibat dalam pelayanan mahasiswa. Mereka agen perubahan. Jangan hanya sekedar rusuh demo di jalan, setia nonton acara live show di televisi, nonton komedi, ketawa ketiwi, putar kanan kiri, pakai almamater tapi gak pinter, budaya instan dengan copy-paste-an. Belajar baik-baik, siapkan karakter baik-baik, jadilah pemimpin yang baik.
Saran saya, bagi mahasiswa yg mencla mencle, gak punya semangat juang, putus asa, atau ingin dibangkitkan nasionalisme-nya, datanglah ke museum ini! Jiwamu akan dibakar oleh semangat pendahulumu, oleh sejarah bangsamu.
Salam semangat. Hidup mahasiswa! Selamat hari kebangkitan nasional.

































Read More..



STRATEGI HIDUP KRISTEN


Kawas Rolant Tarigan


Mengapa tema strategi hidup Kristen menjadi sangat penting?
1.     Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai perumusan visi dan misi hidup, namun melupakan strategi. Akhirnya banyak mimpi yang tak tergapai, hidup berjalan tidak efektif, banyak hal tertunda, dan waktu terlewat begitu saja. Inilah salah satu cara kerja iblis yang halus, membuai kita terlena, tak terasa semakin tua, dan kita belum melakukan apa-apa yang begitu berarti selama hidup. Dunia menawarkan berbagai alternatif strategi hidup, tapi belum tentu kristiani.
2.     Jangan terjebak pada 2 ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah orang-orang yang terjebak dalam ’pimpinan Roh’. Jadi apa yang mereka lakukan tergantung kepada Roh, tanpa ada satu penataan dalam hidupnya. Ekstrim yang kedua adalah orang yang sebegitu menata hidupnya sampai-sampai Allah terlupakan atau terabaikan. Kita harus berada dalam tegangan yang harmonis: bagaimana di dalam pimpinan Roh, kita menata hidup dengan penuh tanggung jawab.
3.     Hidup hanya sekali, sesudah itu akan mati, dan kita tidak tahu kapan itu terjadi. Jadi kita harus hidup secara maksimal dan penuh arti, bukan diukur dari kesementaraan (harta, jabatan, ketenaran), melainkan dari kekekalan (dampak hidup kita bagi Allah untuk sesama/ menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini). Memaksimalkan hidup kita bagi Allah hanya mungkin dicapai dengan hidup terencana: efisien dan efektif. Efisien berbicara tentang penghematan tenaga, waktu, dan dana, (do the things right); sedangkan efektif berbicara soal hasil, dampak, dan kemaksimalan di dalam hidup kita, (do the right things).
 
Ayat penuntun
 
1.     Ef 5:15-17 - Akribos
Be very careful, then, how you live--not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore do not be foolish, but understand what the Lord's will is. (NIV)
Tentang penjelasan bagian ini, Sen Sendjaya menguraikannya dengan sangat baik dalam bukunya Jadilah Pemimpin demi Kristus:
Kata asli yang dipakai untuk “perhatikan dengan seksama”: adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yang sedang menganalisa suatu zat di bawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup akribos adalah hidup yang tidak sembarangan, selalu sepadan dengan standar, dengan sebuah idealisme. Dalam PB, kata ini dipakai minimal 4 kali: Mat 2:8 (akribos seperti seorang detektif), Luk 1:3 (akribos seperti seorang jurnalis), Kis 18:25 (akribos seperti seorang guru), 1 Tes 5:2 (akribos seperti seorang murid). Ada 1 benang merah, akribos yaitu ketelitian dan akurasi yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.
Dalam Ef 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, melainkan gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis (sekarang bagian dari Turki). Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yang sangat tersohor sehingga semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya. Sebagaimana kota metropolitan pada hari ini, segala macam dosa ada di Efesus. Kepada jemaat ini Paulus berkata: “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!”. Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang.
Anda dan saya akan disebut orang bebal bila kita hidup terus menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang yang belum mengenal Allah.
NIV Study Bible Notes memperlihatkan bagaimana Paulus menggunakan penegasan antonim di bagian ayat ini: unwise . . . wise. Having emphasized the contrast between light and darkness (8-14), Paul now turns to the contrast between wisdom and foolishness. foolish . . . understand. The contrast continues. "Foolish" here is a stronger word than "unwise". The foolish person not only misses opportunities to make wise use of time; he has a more fundamental problem: He does not understand what are God's purposes for mankind and for Christians.

2.     2 Tim 4:1 - Coram Deo
Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya
Di akhir masa hidupnya, di penjara yang suram dan terbelenggu, Rasul Paulus masih saja dengan iman yang berkobar menuliskan surat terakhir/ surat regenerasi ini untuk meneguhkan Timotius. Paulus memandang hidup sebagai sebuah pertandingan iman, yang sebentar lagi akan ia akhiri dengan baik, dan memasuki tahap (baca: keberangkatan; NIV: departure) yang baru. Mengawali dan mengakhiri perikop ini (ay.1 dan 8), Paulus menekankan bahwa Kristus adalah Hakim yang akan mengevaluasi seluruh hidup kita. Allah melihat seluruh detail hidup kita, tidak ada yang tersembunyi. Inilah yang disebut Coram Deo: hidup di hadapan Tuhan. R. C. Sproul menyatakan “The big idea of the Christian life is coram Deo. Coram Deo captures the essence of the Christian life.” Lebih lanjut dia menjelaskan: “This phrase literally refers to something that takes place in the presence of, or before the face of, God. To live coram Deo is to live one’s entire life in the presence of God, under the authority of God, to the glory of God. To live in the presence of God is to understand that whatever we are doing and wherever we are doing it, we are acting under the gaze of God. It involves recognizing that there is no higher goal than offering honor to God. Our lives are to be living sacrifices, oblations offered in a spirit of adoration and gratitude”.
Pdt. Liem Kok Han dalam satu khotbahnya berkata: Coram Deo, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan maka semakin tidak menegakkan diri atau menonjolkan diri. Pengenalan kita akan Tuhan sangat mempengaruhi hidup ibadah, hidup kesalehan dan hidup aktivitas rohani kita. Coram Deo adalah istilah besar, kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan, Allah yang Mahahadir dan yang Mahatahu. Saat hidup dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita sedang dilihat Tuhan. Apapun yang sedang kita kerjakan kita harus sungguh menyadari bahwa kita sedang melakukannya di hadirat Tuhan, Pemilik alam semesta ini... Coram Deo berarti kita mau hidup saleh. Orang saleh adalah orang yang hidup dalam hadirat Tuhan yang menyadari bahwa seluruh tindakannya adalah respons kepada Tuhan. Tuhan yang berdaulat atas hidupnya dan apa yang dilakukannya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan.

3.     Mat 6:33 – Focus on God
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Kalau ditanya satu ayat ringkas yang menyatakan 1 fokus hidup manusia, ayat inilah jawabannya. Tujuan, prioritas, yang paling ultima dan satu-satunya dalam hidup manusia hanyalah Allah. Selama hidup, tak perlu cari berkat-Nya, tetapi single-minded carilah Allah – Sang Pemberi berkat, maka tidak ada lagi kekuatiran dalam hidup. (ay. 25 Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?).
Sen Sendjaya kembali menjelaskan dengan sangat baik tentang konsentrasi hidup yang hanya berfokus kepada Allah: Terlalu banyak pemimpin Kristen yang tidak efektif  menjalankan perannya bukan karena kurang terampil, kurang pengalaman, atau kurang training; namun karena mereka terlalu banyak memiliki fokus hidup. Perhatian dan energi mereka dikuras di berbagai area hidup.  Menjadi orang tua di rumah, menjadi pemimpin perusahaan A, manajer B, direktur perusahaan C dan D, konsultan perusahaan E, dosen universitas F, majelis gereja G, ketua panita H, pengurus organisasi I, dan seterusnya.
Mau tidak mau, setiap pemimpin harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan sulit saat ia ingin hidup efektif bagi Kristus. Apakah satu hal yang anda dapat lakukan, yang saat ini tidak anda lakukan, yang jika dilakukan konsisten, akan menimbulkan perubahan positif besar dalam hidup anda dan orang lain? Inilah konsentrasi. Memang tidak mudah untuk fokus, perlu pengorbanan. Perlu belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang baik, untuk dapat berkata “ya” pada satu hal yang terbaik. Good is the enemy of the best. Setiap orang yang Tuhan bangkitkan dalam sejarah dunia menginvestasikan hidup mereka dalam satu hal (bukan dua atau tiga hal).
Itu berarti kita dituntut membuat prioritas hidup yang tepat. Masalahnya, seringkali prioritas kita disusun seperti berikut: (1) Allah, (2) keluarga, (3) pekerjaan, (4) pelayanan. Akibatnya kita merasa tertarik ke berbagai area di mana tidak ada Tuhan dalam perencanaan dan keputusan kita. Prioritas yang lebih biblikal adalah (1) Allah, (2) Allah dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan seterusnya. Dengan kata lain, kita hanya memiliki satu fokus yaitu Allah. Saat kita memandang Allah, segala dimensi lain dalam kehidupan ada pada perspektif yang benar. Dan kita menjadi seorang yang holistik: Kristus benar-benar menjadi Pemilik/ Tuan (Kurios) atas hidup kita (tidak lagi mendikotomikan antara sekuler dan rohani).
Kita tidak perlu menjadi seorang “full timer” untuk dapat dikhususkan bagi Allah, karena Allah memakai setiap individu yang Ia panggil dalam berbagai peran dan profesi. Namun kita perlu berhenti bermain-main dengan hidup. Kita perlu berhenti hidup sembarangan, hidup untuk hal-hal remeh. Kita perlu serius berpikir apakah kita numpang lewat dalam hidup ini (lahir-dewasa-menikah-mati), atau ingin menjadi orang yang jika anda rindu dipakai menjadi pemimpin yang langgeng dan berdampak penting, berilah dirimu dikhususkan (consecrated) dan difokuskan (concentrated) pada Allah.

4.     Mrk 1:35-39 - Relationship with God
"Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
Ketika orang banyak mencari Yesus, dengan segala permasalahannya, dengan segala perjuangan, ternyata secara mengejutkan dan sepertinya kejam, Yesus tidak melayani mereka dan meninggalkan mereka.  Mengapa? Karena Yesus tahu visi dan tujuan utama kedatangan-Nya adalah memberitakan Injil, bukan yang lain. Darimana Yesus mendapat kepekaan yang sangat tinggi untuk tetap fokus pada tujuan utama-Nya itu? Ay.35 menjelaskan, Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Disiplin menjaga relasi yang intim dengan Allah adalah kunci agar kita tidak ter-distraksi dengan hal-hal yang bukan utama. Sisihkan (bukan sisakan) waktu untuk melakukan disiplin rohani: saat teduh, berdoa, merenungkan firman Tuhan. Dengan disiplin inilah kita semakin peka mengambil keputusan, mana yang harus kita kerjakan karena “Tuhan suruh”, mana yang kita tolak. Terlalu sibuk, justru harus berdoa. Kita sangat mudah untuk jalan mengikuti kemana kesibukan membawa kita. Kelelahan membuat tujuan kita tidak jelas. Kalau kita terus terjebak mengerjakan hal-hal urgent, apakah kondisi urgent akan berhenti? TIDAK! Hal itu akan selalu ada. Ketika kita mencoba melakukan segala sesuatu, sebenarnya kita sedang tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Banyak permasalahan terjadi dalam hidup dan pelayanan karena kita sering mengatakan “ya” dan “tidak” secara terbalik. Hidup Kristen adalah hidup yang dipimpin, diarahkan, diserahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Tanpa berefleksi dengan firman, hidup akan mudah kita jalani dengan sembarangan.
Kalau ada yang suka bilang gini: “saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan”, kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang 9 kali! Jadi kesalahan yang sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Time is Life

Paham kapitalisme yang mengatakan Time is money sangat tidak alkitabiah. Paling tidak karena dua alasan: pertama, waktu tidak setara dan tidak bisa ditukar dengan uang; kedua: betapa malangnya kita kalau setiap detik dalam hidup ini tolok ukur hasilnya adalah uang. Alkitab mengajarkan Time is Life. Hidup kita dibatasi waktu, dan di waktu yang sementara inilah kita melakukan hal-hal yang bernilai kekal selama kita hidup di dunia.
Bicara tentang waktu, saya setuju dengan pernyataan bahwa “manajemen waktu” sebenarnya suatu terminologi yang membingungkan, karena kita tidak mungkin mengelola –seperti menunda, menghentikan, menyimpan, atau menghilangkan– waktu. Kita tidak bisa mengubah apapun terhadap waktu. Yang kita bisa lakukan adalah mengelola diri kita agar dengan waktu yang diberikan, kita mampu menjalani apa yang seharusnya (Pengkh. 3).
Saya masih ingat, mama saya seringkali berkata: Kita yang mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita. Walau kalimat itu sering diucapkan mama sambil marah ketika kami dulu sering lupa waktu (bermain, nonton, telat makan/ pulang), tapi kalimat itu sangat melekat. Kita yang harus mengatur diri kita, karena waktu akan terus berjalan, tidak akan kembali, apapun yang terjadi. Kita lebih sering berkata: andai saja aku bisa mengatur waktu dengan lebih baik...”, tapi jarang: andai saja aku bisa mengatur diriku dengan lebih baik...”. Semua orang sama-sama diberikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Kenapa ada orang yang bisa berbuat banyak, sedangkan yang lain tidak berbuat apa-apa? Bukan waktu yang kurang banyak, tapi kita yang kurang bijak. Kita mengatakan waktu kurang banyak, untuk menutupi ketidakmampuan kita mengatur waktu.
Alkitab menegaskan agar kita bijaksana menggunakan waktu yang ada untuk bekerja dan berkarya (Yoh 9:4; Mzm 90:12). Dalam hal ini, Allah menentang dua hal, yaitu: kemalasan dan workaholic (gila kerja). Harus kita akui, orang sibuklah yang mempunyai waktu. Mereka selalu mengatur waktunya secara sistematis, sehingga selalu ada waktu untuk kepentingan orang lain (pelayanan, pekerjaan Allah). Sedangkan orang malas akan terus menunda-nunda dan menghabiskan waktu dengan kemalasannya (Ams 6:6-10). Saya melihat kenyataan ini, pelayan/ mahasiswa/ alumni yang sering menolak pelayanan sehingga jadwalnya banyak kosong, malah akan kosong terus. Sedangkan mereka yang mengatur kepadatan jadwalnya sedemikian rupa, bisa mengelola dan melaksanakan pelayanannya dengan efektif.
Memang gampang sekali mencari alasan untuk menunda sesuatu, dan sebaliknya susah mencari alasan untuk berbuat sesuatu. Sekalipun kita katakan waktu itu berharga, tidak ada hal yang lebih gampang kita boroskan tanpa pikir panjang selain waktu. Bahkan saya pernah melihat status seorang teman di facebook: “I’m expert in wasting time.. hahaha”.
Hati-hati dengan jebakan hal-hal kecil. Seringkali waktu terhilang saat kita melakukan hal-hal yang tidak produktif di sela-sela waktu senggang kita. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Yang membentuk karakter kita bukan 10 keputusan besar yang kita ambil dalam seluruh hidup kita sejauh ini, tetapi 10.000 keputusan-keputusan kecil yang setiap hari kita ambil. Perhatikan apa yang kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita.
Untuk membagi banyaknya kegiatan dalam skala prioritas, kuadran berikut ini bisa digunakan:

           I.              PENTING –MENDESAK
            II.            PENTING –
TIDAK MENDESAK
Necessity
·         Deadline
·         Masalah yang menekan
·         Rapat
Effectiveness
·         Persiapan
·         Pencegahan
·         Perencanaan
·         Membangun hubungan
·         Rekreasi
           III.           TIDAK PENTING – MENDESAK
           IV.           TIDAK PENTING – TIDAK MENDESAK
Deception
·         Interupsi yang tak perlu
·         Laporan yang tak perlu
·         Rapat, telepon, email yang tak penting
·         Masalah-masalah kecil orang lain
Waste
·         Hal-hal remeh
·         Telepon, surat, email yang tidak relevan.
·         Aktivitas “pelarian”
·         TV, internet, relaksasi berlebihan

Kita harus berlatih untuk menggeser hal-hal yang akan kita kerjakan ke kuadran II: penting – tidak mendesak, agar pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan baik, meminimalisir dikerjakan dengan buru-buru, atau tidak dikerjakan sama sekali.

Saran praktis:

1.             Utamakan HPDT (hubungan pribadi dengan Tuhan). Allah menganugerahkan means of grace sebagai sarana pertumbuhan kita: saat teduh, jam doa, pembacaan/ penggalian Alkitab, komunitas/ persekutuan, pelayanan. Disiplinlah, jangan gantungkan kerohanianmu hanya di hari minggu. Ingat, kita Christ direction, bukan outer direction.

2.             Milikilah perencanaan yang baik. Fail to plan, plan to fail. Cari cara yang cocok untuk membantu kita disiplin. Ada banyak cara, tapi belum tentu cocok bagi setiap orang. Beberapa cara di antaranya:
·                     Pakai agenda (bisa berupa buku atau smartphone). Masukkan semua jadwal ke dalam tanggal yang telah ditetapkan, dan durasi (jam mulai – jam berakhir).
·                     Libatkan orang lain. Kita bisa sharing jadwal ke sahabat, kekasih, teman, rekan pelayanan, orang tua, sehingga ada waktu-waktu saling mengingatkan (reminder) kalau ada jadwal kosong atau berbenturan, kegiatan yang sudah dekat, atau yang masih perlu persiapan.
·                     Membuat to do list harian/ mingguan/ bulanan. Daftar ini bisa dibuat detail dengan menambahkan 5W + 1H di tiap point. Misalnya: hari ini saya harus mengerjakan apa, dengan siapa saja, jam berapa, dimana, apa yang harus dibawa; siang ini saya harus beli apa; untuk rapat malam ini siapa yang belum diundang, bahan yang belum ada, dst.
·                     Buatlah daftar peran/ status anda, dan tanggung jawab yang mengikutinya. Misalnya: sebagai anak Tuhan: HPDT, pelayanan punya waktu khusus; sebagai mahasiswa: jadwal kuliah, tugas-tugas, belajar kelompok; sebagai anak (apalagi kalau tidak kos): jam berangkat, jam pulang, acara keluarga; sebagai kekasih: makan bersama. Hal ini akan membantu kita mengatur prioritas dan jadwal harian/ mingguan.
·                     Buatlah target 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun (atau satuan waktu lain). Kapan lulus S1/ S2/ S3? Kapan melamar/ pindah kerja? Pelayanan baru? Kapan menikah/ punya anak? Target ini seharusnya terukur, tapi tidak kaku. Dari daftar target ini, kita bisa menyusun beberapa perencanaan/ persiapan.
·                     Gunakan kuadran skala prioritas: penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, tidak penting-tidak mendesak. Usahakan bekerja efektif di kuadran penting-tidak mendesak.

3.             Lakukan beberapa hal sederhana tetapi berguna sebagai berikut:
·                     Selalu gunakan jam tangan, atau pastikan ada jam dinding di kamar. Ini akan membantu kita selalu ingat waktu.
·                     Letakkan setiap barang dengan rapi, pada tempatnya, sehingga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari barang-barang ketika dibutuhkan.
·                     Sebelum tidur malam, pikirkan sejenak gambaran kegiatan esok hari, dan doakan.
·                     Buatlah catatan atau tempelan kertas yang bisa memotivasi kita tetap disiplin. Bisa ayat Alkitab, yang kita taruh di meja belajar, dinding kamar, halaman buku, pembatas buku, post it, atau wallpaper handphone.

4.             Jangan jadi yes-man. Belajar berkata “tidak” untuk kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung tujuan hidup (organisasi, kepanitiaan, acara-acara lain). Too much focus means no focus. Betapa sering kita melelahkan diri sendiri dengan mengerjakan banyak hal yang (kalau boleh jujur) hanya kemauan kita sendiri, sebenarnya Tuhan tidak suruh (ingat poin 1 tentang HPDT). Bagaimana seseorang meminta Allah bertanggung jawab memberinya kekuatan lebih padahal dia melakukan hal-hal yang bukan diamanatkan Allah? Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan, namun seberapa banyak yang kita selesaikan.

5.             Pendelegasian. Semakin teraturnya kita menyusun jadwal, akan kita temui ada hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan, atau lebih baik dikerjakan oleh orang lain, apalagi kalau anda di posisi pemimpin. Delegasikanlah tugas itu kepada orang yang tepat; right man, right place, right time.

6.             Isilah waktu senggang, idle, waktu menunggu, dengan hal yang baik/ produktif, atau multitasking. Misalnya tiduran sambil menghafalkan firman Tuhan, di angkot sambil membaca buku, menunggu sambil merenung (bukan melamun), makan siang bersama teman lama yang ingin ditemui, mengerjakan pekerjaan rumah sambil mendengarkan musik (jadi tidak perlu ada waktu tambahan khusus lagi untuk satu kegiatan itu). Hati-hati bahaya laten hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan buruk. Ada hobi yang bisa menimbulkan kecanduan seperti bermain game, menonton film berseri, gadget, internetan, dll.

7.             Istirahat, refreshing dan olahraga adalah keharusan, dengan waktu yang cukup, dan pada waktu yang tepat. Jangan berlebihan.

8.             Evaluasi. Ini dapat dilakukan harian (saat doa malam, saat teduh, dsb), atau mingguan (bisa evaluasi bersama sahabat/ rekan pelayanan. Bila ada hari kosong, bisa sambil liburan). Pertanyaan reflektif ini bisa kita tanyakan dalam hati: “Why are you doing what you are doing?”. Melalui evaluasi ini kita dapat melihat hidup yang kita lewati dan kembali menata hidup yang akan kita jalani. Hidup kembali diatur apakah kita telah mencapai sasaran, masih on the track atau sudah lari dari jalur. Jadi ada satu evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan, membangun, menstrukturisasi sehingga kita kembali ke dalam track Allah.
·                     Mungkin ada beberapa penatalayanan yang kita tingkatkan, misalnya: Spiritual Life (agar tidak menjadi kering dan hanya mekanis), Keluarga (kunjungan kasih, rencana menikah), Pekerjaan (jenjang karir, pelatihan), Pelayanan (karunia? bermisi?), Social Relation (menanyakan kabar, sms, telepon), Olahraga (tanggung jawab terhadap anugerah kesehatan), Rekreasi (bacaan, tontonan, cuti), Uang (persembahan, tabungan, belanja)
·                     Dari evaluasi yang ada, kita bisa melakukan analisa S W O T (Strength, Weakness, Opportunity, Treaten). Kenapa ini berhasil, kenapa yang ini gagal, masalahnya dimana, apa solusinya, dari S/W/O/T.
·                     Baik sekali kalau kita khususkan waktu di tiap akhir bulan untuk menuliskan jurnal kehidupan di bulan itu. Apa yang kita alami, apa yang Tuhan telah kerjakan, sehingga kita bisa bersyukur dan belajar untuk waktu-waktu ke depan. Bisa juga dibagikan melalui media sosial untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Jika hidup kita di dunia ini berakhir, kira-kira apa yang akan diingat oleh orang lain tentang kita? Apakah kita akan mempermuliakan Allah seturut kalimat Yesus: ”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya." (Yoh 17:4) Atau pernyataan kemenangan iman seperti seruan Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. (2 Tim 4:7-8). Ini kerinduan kita, hidup yang penuh dan maksimal, hanya untuk kemuliaan Allah. Soli Deo gloria!


Sumber:
Jadilah Pemimpin demi Kristus - Sen Sendjaya
Kepemimpinan Rohani - J. Oswald Sanders
Our Herritage - Perkantas
Handout dan ringkasan khotbah dari beberapa situs:
http://mimbarbinaalumni.blogspot.com
http://christianreformedink.wordpress.com
http://www.ligonier.org/


(disampaikan di Retreat Koordinator XIII; Bandung, Februari 2014)

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Labels

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo