1 Mei, ada 2 Paskah yang pengen banget aku ikutin, Paskah Budi Luhur, dan Paskah PO PTK (Persekutuan Oikumene Perguruan Tinggi Kedinasan). Mana yang harus kupilih, aku tak tahu. Ingin ke BL ketemu dengan AKK yg udah lama gak ketemu. Ingin juga ke Paskah PO PTK, siapa tau makin akrab dengan pengurusnya dan bisa terus dampingi mereka… Ah,,, jam nya tabrakan pula… Harus milih… Ya sudahlah, aku pilih Paskah PO PTK, karena STAN tuan rumah dan di situ aku jadi pendamping sharing kelompok. Ternyata………. Waktu di jalan mau kesana, udah rapi, berbatik, ban motor bocorrrrr di Jalan Thamrin… Ah, sebelnya. Masa di jalan sebesar Thamrin masih ada paku?
Pulang dari situ, makan di Mang Kabayan, simpang Depsos Bintaro… Hahaha… Ini unik, karena sejak dari mahasiswa selalu lewat situ untuk Bible Study PMKJ Selatan 2, tiap senin. Tapi baru kesampaian makan di situ setelah alumni… Enak dan tidak terlalu mahal.*
2 Mei, lanjut dengan Paskah Bonapasogit. Aku jadi tim doa. Menikmati bagaimana terus berdoa selama acara (baik di ruang doa maupun di tempat duduk) demi orang bisa menikmati Allah dalam ibadah ini melalui pujian, doa, kesaksian dan firman. Menakjubkan rasanya melihat sekitar 8000-an orang Batak (dan ada juga non batak) sekitar Jabodetabek memenuhi Istora Senayan dan bersama-sama bernyanyi buat Tuhan. Dari pengusaha sampai tidak punya usaha, dari direktur sampai kondektur, dari semua lapisan masyarakat, umur dan pekerjaan. Sangat menyentuh hati. Tapi, tetap aja ada evaluasi pribadiku untuk acara ini: masakan untuk acara yang dari siang sampai sore ini tidak disediakan konsumsi, snack sekalipun? Bagaimana orang bisa fokus bernyanyi apalagi dengar firman dengan kerongkongan kering dan perut lapar? Sekalipun kita berdoa supaya Roh Kudus yang menguasai hati pikiran mereka, tapi masak kita tidak berbuat sesuatu supaya kondisi mereka fit ketika dengar firman? Sekalipun acara ini gratis, dan memakan sangat banyak biaya (apalagi kalau ditambah konsumsi), mungkin lebih baik jika panitia mengutip sumbangsih dana bagi mereka yang mampu memberikan donasi, untuk konsumsi bersama. Terus lagi, karena jemaatnya banyak, durasinya lama, di beberapa bagian tempat duduk mulai tidak tenang (khususnya yang bawa anak kecil), dan terkadang mengganggu khusuknya ibadah. Dan satu lagi, kiranya firman disampaikan dengan sederhana, jelas, kuat dan tepat waktu. Berharap juga, melalui orang Batak yang secara jumlah sangat banyak, ada perubahan bagi perbaikan bangsa ini. Banyak orang batak yang berkualitas dan menjadi berkat bagi bangsa ini, tapi banyak juga yang merusak bangsa ini. Semoga lebih baik. Ido ate?*
Selanjutnya… dihubungin untuk jadi trainer Pemimpin Pujian (MC) di Bea Cukai, tanggal 9 dan 16, lanjut lagi, Pembicara di kebaktian BC tanggal 12. Karena aku lihat jadwal kosong, aku jawab OK. Tapi bukan karena alasan itu saja, lebih dari itu. Ada sukacita besar di hati ini. Ada persekutuan di BC!!! Ini adalah jawaban doa dari sekitar 5 tahun yang lalu, ketika mereka pindah dari Bintaro ke Rawamangun. Dan baru sekarang mulai dirintis dan sudah rutin. Puji Tuhan. Aku gak akan menyia-nyiakan pelayanan ini. Tanggal 9 beres, bawain Hymnology dan teknis MC. Tinggal nunggu tanggal 16, simulasi. Tanggal 12 juga beres, padahal itu hari Rabu (tapi aku lihat besoknya merah/libur), aku laju dari Karawang ke Rawamangun, demi Bea Cukai :) bawain tema Hubungan Pribadi dengan Allah, apa pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, bible reading, dan persekutuan, tanpa itu, hancurlah hidup ini, kita akan mati, sekalipun secara fisik masih hidup! Karena itulah nafas rohani kita.
Tanggal 14 Mei… seakan hidupku berhenti sejenak. Aku kecelakaan. Jumat malam, di Cakung, lagi berhenti, eh, ditabrak Kijang Inova dari belakang, tabrakan beruntun, 2 mobil dan 2 motor… Hah… sial banget rasanya. Si sopir lagi ngantuk, dia sopir perusahaan rental, dan kelelahan antar jemput karyawan katanya. (artikel tentang insiden ini bisa dibaca di Semua dalam kendali). Aku lagi boncengan ama Misni. Waktu aku terhempas, aku masih bisa dengar suara Misni teriak, “kakak…kakak…”, dia jatuh terduduk. Kakiku lecet, motor rusak parah. Orang udah ramai banget, polisi datang, sampai pagi di kantor polisi. Misni bilang: “kak, ini pertama kali aku tabrakan, dan aku bersyukur itu sama kakak…”. Hah… udah kayak sinetron, ada kasih di balik kisah, mengurangi rasa nyerinya luka. Pihak yang nabrak mau ganti. Tapi, beresnya lamaaaaa banget. Gakpapalah, asal tanggung jawab. Dan ternyata… akhirnya si sopir dipecat, padahal baru kerja disitu 4 bulan. Kasihan juga. Bodi motor yang diganti banyak yang imitasi, tapi berpikir 2 kali untuk komplain, karena si sopir pun bingung mau cari kerja dimana. Gara-gara kejadian itu, banyak pelayanan gagal: ketemuan untuk buat bahan PA STAN, bawa firman di pembinaan PKK STAN, tanggal 15 gagal. Dan juga lanjutan training MC di BC, ikut gagal. Yah… mungkin waktunya istirahat dulu.*
Setelah pelayanan di Bonapasogit, sebenarnya langsung ditawarin pelayanan di Panitia HUT Perkantas (tanggal 3 Juli), sebagai koordinator pula. Aku doain dulu, aku bilang. Aku sebenarnya sih butuh pelayanan yang kontinu seperti ini untuk jaga kondisi, karena di Karawang gak ada pelayanan, walaupun Karawang-Jakarta menempuh 80km. Aku terima, sekaligus sebagai rasa “hutang” terhadap pertumbuhan dan pembinaan yang kudapat dari Perkantas dan orang-orangnya. Ternyata Perkantas sudah 39 tahun. Rapat perdanaku tanggal 15 pula… Ikutlah aku rapat perdana ini dengan keadaan pincang-pincang…
Hari demi hari, keadaan semakin baik, tapi motor belom selesai.
Tanggal 22, KTB 2005 ke Kebun Raya Bogor. Dengan bahan Diberkati untuk Menjadi Berkat bab 5, pulang dengan Proyek Ketaatan: bangun persekutuan di kantor masing-masing… Aduh,,, beratnya ini… Gimana aku mau ngomong ama kepala2 seksi?? Waktu ada kebaktian di kantor sebelah aja, miskin respon. Gimana nih?? Tapi mencoba beranikan diri… 1 langkah berhasil, ada yang mendukung, tapi usulnya 3 bulan sekali aja… Waduh, apa ini?? Pikirku. Kebaktian apa 3 bulan sekali, setahun cuma 4 kali? Hubungi yang lain, miskin respon. Padahal di kantor ada yang sintua, kayaknya ada juga ikut persekutuan waktu mahasiswa, tapi setelah di kantor, gak ada passion untuk membuat persekutuan kantor… Bersiaplah kalian para mahasiswa!!! Jangan cepat bangga kalau terbina di mahasiswa, tunjukkan di alumni!!!
Bulan Mei, maybe yes maybe no.
Sepertinya saya harus menjelaskan perbedaan antara: “mendukung” dengan “prediksi menang”. Ini hal yang berbeda. Misalnya, kalau suatu saat ada pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Inggris, dengan sepenuh hati, jiwa, raga, saya akan mendukung tim Indonesia. Tapi apakah saya memprediksikan Indonesia menang? Tidak. Karena memang saya juga sadar dan yakin, pertandingan itu sangat mungkin dimenangkan oleh Inggris. Tapi, sekali lagi, sekalipun saya prediksikan Inggris menang, tetapi dukungan saya tetaplah buat Indonesia. Bedakan “mendukung” dengan “prediksi”.
Begitu juga di Piala Dunia kali ini. Hati saya, dari dulu, tak akan tergugah dari dukungan terhadap Italia. Alasannya? Nanti saya jelaskan. Tapi, terus terang saja, dari awal saya sudah prediksi, bahwa Italia tidak akan menjadi juara dunia di World Cup kali ini. Mungkin memang karena saya lihat permainannya tidak sebaik seharusnya, dan satu lagi, sangat jarang terjadi, juara musim lalu akan juara lagi musim ini, karena pasti jauh lebih sulit mempertahankan daripada merebut. Prediksi saya siapa? Argentina atau Brasil. Itu prediksi saya dari awal sekali, bahkan sebelum pertandingan pertama dimulai. Karena menurut saya –yang awam dan terbatas ini, 2 negara ini memang sedang berkembang-kembangnya bibit dan skill para pemain. Tapi apakah dengan prediksi ini hati saya akan tergeser dari dukungan terhadap Italia? Sekali-kali tidak. Baik buruk, menang kalah, Italy tetap di hati.
Walaupun memang banyak sekali rasa kesal dalam hati, misalnya tentang pemilihan pemain, pola permainan yang tidak ‘greget’, lama panasnya, regenerasi pemain yang lambat, dll. Tapi saya tetap mendukungnya. Sama seperti saya mendukung persepakbolaan Indonesia. Hati saya cinta PSSI (atau klub PSMS), siapapun lawan tandingnya. Sekalipun: liga tak beres, gaji pemain tak beres, stadion amburadul, pengurus PSSI yang tak jelas (satu-satunya federasi sepakbola yang dipimpin dari penjara), dll, tapi sambil terus berharap perubahan dan perbaikan sepakbolanya, saya tetap mendukung Indonesia.
Atau satu lagi, di Piala Dunia ini, di pertandingan yang ada negara Asia-nya, hati saya mendukung Asia, meskipun –sekali lagi, prediksi saya tidak selalu pada tim Asia, tapi bagi saya, mereka harus didukung, sekalipun lewat teriakan, tepuk tangan, kepalan tangan dan lipatan bibir sewaktu menonton di depan televisi. Korsel, Jepang (yang sudah lolos ke 16 besar), atau Tim fantastis, Korea Utara. Berikut saya kutip potongan berita menarik dari Korea Utara:
Korea memang kalah dan belum tentu mendulang kemenangan pada dua laga (berikutnya), di mana Portugal dan Pantai Gading sudah menanti. Namun, mencetak gol balasan ke gawang raja Piala Dunia, dalam keadaan tertinggal dua gol dan dengan sisa waktu satu menit adalah prestasi.
Bagi Indonesia, pencapaian Korea Utara adalah tamparan (yang sangat menyakitkan).
Korea yang kesulitan mengakses siaran Piala Dunia dan setengah mati meminta restu negara untuk mencari (dan mendapatkan) sponsor, mampu mencapai Afrika Selatan dan mencetak gol ke gawang Brasil, setelah ketinggalan 0-2, dan menjelang masa injury time pula.
Indonesia,yang punya semuanya (kecuali mungkin semangat dan kejujuran), mulai dari sumber daya manusia, sponsorhip, suporter, dan akses informasi yang jauh lebih luas ketimbang Korut, malah berharap tampil di Piala Dunia dengan memenangi bidding tuan rumah. Ironisnya, untuk melewati jalan pintas seperti itu pun, Indonesia juga gagal.
Korea Utara mungkin tak akan meraih poin lagi di dua pertandingan(lagi) dan gagal melaju ke putaran kedua. Namun, mereka tetap berhak pulang dengan kepala tegak karena dengan segala keterbatasannya, mereka mampu menjebol gawang Julio Cesar, yang Lionel Messi pun gagal melakukannya.
Dan, sementara nanti Ji Yun Nam bercerita kepada junior-juniornya, anak-cucunya, atau tetangga-tetangganya, bagaimana ia menjebol gawang jawara Piala Dunia dengan pertandingan cuma menyisakan satu menit, Indonesia mungkin masih cuma sibuk membuat proposal untuk mendatangkan Manchester United atau melobi FIFA untuk menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia.Tentu, kita berharap Indonesia akan lebih baik dari itu.
Saya tersenyum membacanya. Saya mendukung Indonesia, sekalipun penuh kegagalan. Saya dukung Italia di Piala Dunia, sekalipun gagal melaju ke babak berikutnya (sesuai prediksi saya), dan berharap ini jadi tamparan dan pelajaran besar, tentang apa yang harus diperbaiki dan betapa susahnya mempertahankan gelar. Walaupun jujur saja, panas hati ini meluap melihat pertandingan kemarin, di luar lambannya permainan Italia padahal sudah ketinggalan, saya masih memimpikan “sportivitas sempurna” dari sebuah pertandingan olahraga. Bukankah itu ciri kental dari olahraga? Sportivitas, jujur, di samping tanpa politik, tanpa rasis, dll… Entah itu mungkin terjadi atau tidak. Andai saja… kemarin malam itu… si kiper licik dari Slovakia jujur dan berkata: saya memang mengulur-ulur waktu pertandingan dan saya memang memukul wajah Quaqliarella, saya layak dapat kartu merah… Atau bek Slovakia, Skrtel dengan jujur berkata: “Sit.. (wasit), memang tadi itu gol, bola udah melewati garis gawang, kaki saya sudah di dalam”. Hehehehehe. Entah kapan kejujuran total ini ada di lapangan, sedangkan ‘gol tangan tuhan’ aja bisa membawa Argentina jadi juara dunia…
Ya, semua penuh harapan. Harapan semoga Indonesia suatu saat masuk pentas dunia. Harapan Italia bermain lebih baik kemudian hari. Selamat jalan Italy. Belajar baik-baik, baju biru itu kupakai selalu :) Itulah kenapa aku suka Italia, karena liga Italia-lah yang mengajari Kawas kecil bagaimana cara menendang bola, awalnya suka nonton bola, mulanya melek bola, ngobrol bola, siapa Pagliuca, Roberto Baggio, Vialli, Ravanelli, Peruzzi, dan tim kesayangan Juventus…
Dukungan saya tidak akan berubah, prediksi mungkin berubah. Itu berbeda.
Salam olahraga –dari orang awam. Kawas.
Ada hal-hal yang di luar kemampuan manusia. Hal itu makin memperjelas bahwa manusia terbatas, dan tidak ada alasan untuk sombong apalagi memegahkan diri akan kehebatan. Ada hal yang tidak bisa dikendalikan, dirancangkan manusia. Siapa yang bisa menahan hal-hal berikut: suatu kali sewaktu makan siang, aku menyaksikan langsung sebuah pohon besar tumbang dan menimpa 2 warung serta 1 sepeda motor baru –yang sudah tentu belum lunas kreditnya (Karawang). Orang yang sedang menikmati istirahat, eh... tewas ditimpa bangunan rumah karena gempa hebat (Jogja) atau tsunami (Aceh). Orang sedang tidur, eh rumahnya hancur lebur dihantam meteor (kejadian di Jakarta Timur). Pesawat bisa jatuh hanya karena kabel kecil yang korslet, kapal besar bisa tenggelam hanya karena satu turbin tidak berputar. Sampai ada orang bilang: tidak ada lagi tempat yang aman di dunia ini: di jalan/ berkendara bisa kecelakaan, jalan kaki bisa ditabrak, di rumah bisa bahaya/ kebakaran/ bencana, dll. Semakin sadarlah manusia bahwa kita ini hanyalah debu.
Siapa sangka Jumat malam itu, ketika motorku berhenti di belakang taksi karena macet, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari belakang, dan sopirnya ngantuk, akhirnya menghantam 2 motor dan 1 taksi. Salah satunya adalah motorku, dan taksi itu adalah taksi yang di depanku. Semua berantakan. Aku dan boncenganku (Misni) terpental ke taksi dan ke aspal, luka lecet, memar, motorku masih terseret lagi beberapa puluh meter ke depan dan hancur. Kalau mau komplain, apa penyebab aku celaka? Dibilang pelan-pelan, kurang pelan apa lagi, aku dalam posisi berhenti. Mau dibilang kurang pinggir, aku sudah di pinggir, tepat di belakang taksi. Beberapa pelayanan pun batal karena kecelakaan itu. Entahlah... Memang di luar kekuasaanku. Atau sulit memang memahami ‘kemahakuasaan-Nya’ Allah, atau keadilan hukum. Orang yang sering kebut-kebutan, sepertinya lebih sering aman-aman saja, bahkan hampir tidak pernah kena tilang. Orang yang berhati-hati, pakai helm, mengalah/ sopan di jalan, malah sering ‘teraniaya’ di jalan, ditilang pula. Sehabis kecelakaan, sewaktu menuju unit kecelakaan lalu lintas, kami melihat lagi ada kecelakaan. Ternyata ibu-ibu yang jatuh dari sepeda motor, eh.. jatuhnya ke kolong container pula.. Patah kakinya. Supir containernya bilang; “mimpi apa aku semalam, bisa sesial ini? Gak ada salah apa-apa”. Kami ‘dipersatukan’ di laka lantas sampai jam 3 pagi. Yah,, itulah. Ketidak-hati-hatian orang pun bisa jadi celaka bagi kita. Atau memang kita makin disadarkan, banyal hal di luar kendali kita. Tapi kita imani, everything is under God’s control.
Ayub pernah mengalaminya. Sedang santai-santai di rumah, eh... hartanya semua habis, anak-anaknya meninggal. Belum cukup. Tubuh hancur melepuh karena kusta, istri dan teman meng-intimidasi. Entah apa pastinya yang dirasakan Ayub saat itu, karena memang rasanya dia tidak punya ‘andil kesalahan’ dalam ‘kesialan’ itu. Tapi dalam sujud menyembah, ia mampu berkata “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!... Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (1:20-22; 2:10)
Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (23:10).
Biarlah dalam keadaan apapun, jangan sampai bibir kita berhenti mengucapkan “Tuhan itu baik”. Sekalipun dalam ke-tidak-mengerti-an, jangan ragukan kebaikan Allah. Kita terbatas, Dia Allah yang tidak terbatas. Jangan-jangan dalam keadaan yang sulit itu, sebenarnya diizinkan Tuhan terjadi sebagai "ujian naik kelas". Semua dalam kendali-Nya.
"What's in a name? That which we call a rose by any other word would smell as sweet."
Begitu kata William Shakespeare dalam mahakarya-nya: Romeo & Juliet. Terjemahan bebasnya: “Apalah arti sebuah nama? Mawar, sekalipun kita ubah namanya, harumnya tetaplah sama manisnya.” Anda setuju? Kalau saya? Ya dan Tidak.
Sebentar saya tidak setuju dengan pernyataan itu. Nama tetaplah penting! Nama adalah doa dan harapan dari yang memberikannya. Begitulah nanti –orang yang namanya baru saja diberikan –dipanggil untuk seterusnya. Pasti orang tua kita dan ‘pihak-pihak yang terlibat’ dalam pembuatan nama kita, ingin memberikan yang terbaik.
Mari sejenak back to Bible. Tuhan tidak pernah sembarangan memberi nama. Setiap nama pasti ada maknanya. Tuhan bukan asal memberi nama kepada Adam (Kej5:2). Begitu juga Adam memberi nama Hawa (Kej3:20). Atau arti nama Nuh (Kej5:29) "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN". Bukan sembarangan pula ketika Allah mengganti Abram dengan Abraham (Kej17:5) “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa”. Kemudian ketika memberi nama Ishak, berkatalah Sara: "Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku" (21:6). Si kembar Esau dan Yakub: “Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub (25:25-26). Lalu ketika Yakub berganti nama menjadi Israel: “kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang" (32:28). Terus ke Musa: “sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air." (Kel2:10).
Ah, banyak sekali. Setiap nama punya arti sendiri. Tak akan cukup halaman ini untuk menuliskan semuanya. Nama-nama para nabi juga punya artinya sendiri. Bahkan Sang Juruselamat Yesus, yang disebut juga Kristus (Mat1:16) “(Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan (Yusuf) akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka... Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita (Mat1:21,23)" Kemudian ketika Yesus memberi nama baru kepada Simon: Petrus, sang batu karang (Mat16:18), juga arti nama murid-murid Yesus yang lain. Ketika Rasul besar, Saulus berubah menjadi Paulus (Kis13:9 The names mean "asked [of God]" and "little" respectively. It was customary to have a given name, in this case Saul (Hebrew, Jewish background), and a later name, in this case Paul (Roman, Hellenistic background). NIV Study Bible Notes).
Sekali lagi, terlalu banyak untuk diteruskan. Semua nama (orang bahkan tempat) dalam PL dan PB punya arti, dijelaskan tertulis ataupun tidak. Ada kisah, doa dan harapan di nama itu. Makanya makna nama seharusnyalah baik. Entah apapun dasarnya. Entah itu dari bahasa latin, bahasa asing, bahasa daerah, pasti punya makna baik. Atau bisa dengan mengambil nama tokoh besar (entah dari Alkitab atau tokoh dunia), atau tokoh sehari-hari, di lingkungan sendiri, nama teman lama, atau keluarga, semua yang baik-baik. Harapannya: semoga terus bertumbuh dan menjadi seperti nama yang diembannya.
Tapi saya juga setuju dengan ungkapan Shakespeare di atas. Apalah arti sebuah nama, kalau hanya sekedar nama. Toh, karakter kuat seseorang ataupun kharisma dan kenangannya tidaklah hanya ditentukan dari nama. Contoh Alkitab bisa kita lihat dari Daniel dan 3 temannya. Sekalipun diganti namanya, namun ketaatannya kepada Allah tidaklah berubah. Walaupun penggantian nama ini sebenarnya bukanlah hal sepele. Penggantian nama saat itu sebagai satu cara untuk ‘mencuci otak’ dan menjadikan mereka bagian yang utuh dari bangsa yang tidak mengenal Allah. Supaya diterima sebagai pegawai raja, Daniel dan kawan-kawannya memerlukan kewarganegaraan Babel; hal ini terlaksana dengan memberi mereka nama Babel. Bangsawan muda Daniel ("Allah adalah hakimku") dinamai Beltsazar ("Bel, [dewa tertinggi Babel], melindungi hidupnya"); Hananya ("Tuhan menunjukkan kasih karunia") dinamainya Sadrakh ("Hamba Aku," yaitu dewa bulan); Misael ("Siapa yang setara dengan Allah?") dinamainya Mesakh ("Bayangan pangeran" atau "Siapa ini?"); dan Azarya ("Tuhan menolong") dinamainya Abednego ("Hamba Nego," yaitu dewa hikmat atau bintang fajar). Sebagai penduduk Babel mereka kini mempunyai tanggung jawab resmi. Dan sekalipun memperoleh nama-nama baru, para pemuda Yahudi ini menetapkan bahwa mereka akan tetap setia kepada Allah yang esa dan benar, sekalipun diancam api yang menyala-nyala atau gua singa. Begitu namanya, belum tentu begitu orangnya. Misalnya ketika saya pelayanan ke Lembaga Pemasyarakatan/ Penjara, anda tahu nama-nama mereka? Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus. Wah, wah... Saya merasa seperti berada di jemaat mula-mula :) Semua rasul ada di penjara. Tapi kali ini bukan karena Injil, melainkan narkoba. Apakah nama masih mencerminkan seseorang? Sepertinya tidak selalu. Saya juga mengetahui beberapa orang yang namanya: Derita, yang lain namanya Sedih (mereka ini orang Batak, dan saya memang bingung kenapa nama itu diberikan. Kalaupun untuk mengingat, karena kelahirannya bertepatan pula dengan kepergian anggota keluarga yang lain, mungkin ada alternatif nama lain, seperti Mangapul (artinya menghibur, atau Barnabas dalam Kis 4:36), atau kalau perempuan: Happy), namun dalam kesehariannya, mereka tidaklah sesedih namanya. Jadi baik atau buruk hidupmu, tidaklah selalu bergantung penuh dari namamu. Jangan terlalu bangga dengan nama yang bagus atau ‘hoki’, tunjukkanlah itu sebagai sebuah kebenaran. Nama itu sebuah harapan, jangan sampai harapan tinggallah harapan :) Jangan sedih ketika nama kita ‘mungkin tidak se-keren, tidak sehebat seperti yang kita harapkan kemudian’, hidupmu ada di dalam rencana Allah.
Beberapa 'nama rohani' yang belakangan sering 'diplesetin': Petrus: Penembak Misterius, Matius: Mati Misterius, Markus: Makelar Kasus, dan terakhir Lukas: Lupain Kasus. Hehe... Ada-ada aja...
Bagaimana dengan nama Allah? Allah itu kudus. Karena itu jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (Kel 20:7). Tapi, dengan sebutan hormat apapun kita memanggil-Nya: TUHAN, Tuhan, Allah, God, Lord, El, Elohim, Adonai, Yahweh, Jehovah, atau langsung menunjuk Pribadi-Nya: Bapa, Anak, Roh Kudus, Dia tetaplah Allah dengan ke-Maha-Kuasa-an-Nya, kasih-Nya, keperkasaan-Nya, dan karakter-karakter-Nya yang kekal itu, tidak pernah berubah!
Sekilas di ingatan saya, ada 3 momen di saat manusia mempertanyakan nama Allah: Kej32:29 Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Kemudian cerita Musa di Kel3:13-15 “Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -- apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Dan satu lagi dalam PB, saat Saulus bertanya (Kis9:5): "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”
Siapa namamu, kawan? Dan apa artinya?
Namaku, Kawas Rolant Tarigan. Kawas adalah (bahasa Karo) panggilan bagi setiap laki-laki yang bermarga Tarigan Sibero (hampir saja ada wacana namaku Agus, karena lahir bulan Agustus. Tapi bapak memutuskan: Kawas, supaya orang yang mengerti bisa langsung tahu ‘ciri’ nama ini). Rolant merupakan gabungan nama mamak dan bapak (Rol adalah 3 huruf pertama nama mamak, Ant adalah 3 huruf pertama nama bapak. Jadi aku adalah buah cinta mereka). Tarigan margaku.
Kamu?
Aku tinggal di mess. Dulu mess ini bekas lahan kosong, penuh semak belukar dan tanah rawa. Sekarangpun tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisinya dulu. Karena selain belum pernah direnovasi sejak dibangun, para penghuninya adalah orang-orang yang penuh kesibukan dan ‘hanya menumpang tidur’ di mess, ditambah lagi rumput cepat sekali bertumbuh di tanah kosong. Alhasil dari semuanya itu adalah: banyak banget nyamuknya. Dan bukan nyamuk biasa! Sepertinya mereka (nyamuk itu) sudah cukup tangguh, lihai, sulit sekali di-caplok dengan tangan.
Itulah kondisi yang kuhadapi tiap saat di mess. Entah waktu nonton TV, waktu membaca, waktu tidur, bahkan waktu nulis tulisan ini. Badan habis merah-merah, gatal, digigit nyamuk yang susah banget digampar. Seringkali membuat kesal, seakan semua usaha yang ku lakukan tanpa hasil. Pukul sana, pukul sini, hanya tepukan tangan yang terdengar. Bahkan terkadang yang rasanya sudah kena di tangan, eh tapi hasilnya tidak kelihatan. Sebel !!! Tapi............. diamlah sejenak, dan lihat 15-30 menit lagi, atau besok pagi, di sekitarku banyak bangkai-bangkai nyamuk, tanpa nyawa. Sudah mati. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Ada kok hasilnya. Aku aja yang sering gak sabar melihat hasilnya ‘pengen langsung kelihatan’.
Kejadian sederhana ini spontan membawaku pada perenungan dalam pekerjaan dan pelayanan. Seringkali sesudah aku merasa melakukan banyak hal, malah sering mengeluh karena tidak langsung melihat hasilnya, padahal kepingin, jadi yang dirasakan hanya capeknya saja. Padahal sesungguhnya belum tentu demikian. Siapa bilang TIDAK ada hasil? Mungkin memang BELUM ada hasil, tapi bukan berarti tidak ada, karena mungkin kita-nya tidak sabar. Atau jangan-jangan sebenarnya sudah ada hasil, tapi kita tidak mampu melihatnya karena ‘konsep’ berpikir kita tentang hasil yang ‘selalu spektakuler’.
Sudah setia mengerjakan hal kecil, rasanya langsung ingin lihat ‘dampak’nya, atau tidak sabar ingin hal besar. Sudah melayani, berkorban, namun kok belum ada pertumbuhan, kok belum ada orang lagi yang dihasilkan, kok belum ada pengaruh kepada orang lain... Ah, sudahlah. Jangan sampai ‘obsesi’ hasil membuat kita lupa mengerjakan bagian kita yang sesungguhnya: tetap setia lakukan yang terbaik, seperti yang Tuhan suruh. Nanti pada waktu dan kemampuan-Nya Allah, Dia akan tunjukkan hasilnya, entah kepada kita, atau kepada orang lain –ketika kita tidak punya kesempatan untuk melihat dan menikmati hasilnya. Tapi kerjakan saja. Toh pada akhirnya pujian dari Sang Tuan merupakan hal yang jauh melebihi segalanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat25:21,23).
Ingat, bagian yang kita lakukan adalah ‘memukul nyamuk’. Masakan kalau kita tidak melihat hasilnya (nyamuknya mati), kita berhenti melakukannya? Lakukan aja terus. “Pukul nyamuk”nya. Siapa tau “15-30 menit lagi atau besok pagi” kita lihat hasilnya (bangkainya) di sekitar kita. Tapi kalaupun tidak, setiap ada nyamuk lagi, pukul lagi. Karena itulah yang harus kita lakukan setiap ada nyamuk. Entah dia mati atau enggak. Plok! Plok!