Banyak orang terlibat pelayanan, tapi sepertinya tidak banyak yang selalu merenungi, apakah yang dilakukannya benar-benar pelayanan atau bukan. Bagi sebagian orang mungkin itu tetap bisa disebut sebagai pelayanan, tetapi secara radikal bukanlah pelayanan.
1. Pelayanan yang tidak jelas motivasinya
Kenapa melayani? Ya kenapa ya... ya gitu deh. Kan bagus, dari pada tidak berbuat apa-apa. Memang tidak sesalah: ingin cari perhatian, ingin dapat kenalan, ingin tampil, terkenal; tapi tidak jelas dan tidak tajam. Dan itu yang bahaya, padahal kelihatannya baik. Kenapa jadi guru sekolah minggu? Karena suka anak-anak. Kenapa harus jadi guru sekolah minggu? Jadi guru TK aja, kan banyak anak-anak? Kenapa jadi gitaris, MC? Bakat ku kan di situ. Kenapa gak bentuk grup band aja kalau punya bakat di situ? Kenapa mau jadi panitia ini? Kenapa memutuskan untuk jadi seksi acara/ pubdok/ perlengkapan/ dana/ konsumsi, dll? Gak ada yang mau jadi seksi doa, karena berdoa aja kerjanya? Harusnya pertanyaan ini bisa dijawab dengan mantap oleh orang-orang yang komitmen di pelayanan itu. Jika tidak, jangan heran banyak orang berhenti di tengah jalan, tidak jelas motivasinya, sekalipun kelihatan baik, tidak ada sukacita sejati setelah melayani, senang mungkin iya, karena memang cocok mengerjakan hal itu, tapi bukan damai sejahtera. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut pelayanan jika tanpa motivasi yang jelas? Atau ada juga pelayanan yang versi ini: waktu ditanya, pelayanan dimana? Jawabnya: hidupku adalah pelayananku, atau aku melayani lewat donasi sih sekarang. Benar juga sih, tapi bisa jadi salah, kalau tidak ada pergumulan untuk terlibat lebih dalam, atas pertanyaan what, where, when, who, why, how?
2. Pelayanan yang bukan dikerjakan oleh pelayan
Pelayanan adalah respon ucapan syukur dari orang-orang yang sudah ditebus Kristus, diselamatkan, dengan kesadaran penuh akan kebutuhan untuk terus berelasi dengan Allah dan sesama, serta rasa berhutang agar orang lain juga dapat menikmati apa yang telah dia nikmati bersama Allah. Melayani dengan sadar bahwa Allah terlebih dahulu melayani, dengan ‘turun tahta’, datang ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib demi orang-orang yang dikasihi-Nya. Hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya telah diubahkan Kristus dan membiarkan Kristus yang terus menguasai seluruh hidupnya, hati dan pikirannya. Dia tau apa artinya menghamba, melayani, siapa yang sesungguhnya sedang dilayani, dan apa yang berkenan saat melayani, bukan sekedar berbuat ini itu, bukan sekedar mengerjakan target, deadline, program, atau sebuah event. Tidak jarang melihat ‘pelayanan yang tidak hidup’ karena pemusiknya hanyalah musisi, tapi bukan pelayan (mungkin sedang show); singernya adalah penyanyi, tapi bukan pelayan; panitianya adalah event organizer, tapi bukan pelayan. Selama dia belum terima Kristus, tidak ada relasi dengan Kristus, belum cinta Kristus dan benci dosa, dia bukanlah pelayan. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut sebagai pelayanan jika tidak dikerjakan oleh para pelayan?
3. Pelayanan yang egois
Sepertinya ini terjadi secara tidak sadar, bahkan oleh seorang pelayan yang jam terbangnya sudah tinggi, atau pelayan yang sudah begitu banyak terlibat dalam pelayanan di sana sini. Kenapa melayani? Untuk menjaga kondisi kerohanianku, supaya aku tetap terlibat dalam pelayanan, untuk mengisi waktu kosongku dengan hal yang mulia, supaya aku tetap disegarkan oleh firman Tuhan, supaya aku tetap bisa bersekutu, supaya aku, aku, aku... Tidak ada yang salah dari alasan-alasan itu, tetapi adakah alasan lain selain aku, aku dan aku? Kita terlibat begitu banyak pelayanan, tanpa henti, bahkan rangkap, supaya apa? Supaya aku... aku... Sampai di situkah? Tidak heran kalau banyak pelayan yang kelelahan, karena dia sedang melakukan ‘pelayanan yang egois’. Anugerah terbesar dalam kehidupan manusia adalah saat Allah (yang tidak egois) memberikan anakNya, Yesus Kristus, sebagai Juruselamat bagi umat manusia. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Pembaharuan ini seharusnya membuat para pelayan mampu mengasihi Allah dan orang-orang yang Allah kasihi. Jadi bukan sekedar supaya aku, tapi supaya Allah, dan supaya umat Allah... Pantaskah disebut pelayanan jika pelayanan itu egois?
Aku jadi teringat cerita 3 tukang batu. Dari satu pertanyaan: “Apa yang sedang kamu kerjakan?”, ada 3 jawaban (yang tidak salah, namun berbeda):
Tukang batu 1: aku sedang meletakkan satu batu di atas batu lainnya.
Tukang batu 2: aku sedang mencari nafkah untuk istri dan anakku
Tukang batu 3: aku sedang membangun sebuah gereja besar, suatu saat nanti semua orang akan menyembah Tuhan di gereja ini.
Kita juga sering terjebak berpikir demikian. Namun tukang batu yang ketiga mampu melihat visi besar dalam hal sederhana yang dia lakukan. Harusnya kita juga berjuang untuk terus melayani dan menyadarinya sebagai bagian kecil dari rencana kekal Allah bagi dunia ini. DIA bisa pakai siapa saja untuk melayani-Nya, tetapi sungguh sayang ketika kepercayaan/ anugerah itu diberikan kepada kita namun kita menyia-nyiakannya dengan tidak memberikan yang terbaik di waktu yang tidak banyak/ terbatas ini.
Ngomong tentang pelayanan juga, pasti teringat perikop Maria dan Marta (Lukas 10:38-42). Marta sibuk sekali melayani. Tidak ada yang salah dengan Marta, tapi dia hampir kehilangan kesempatan terbaik untuk mengenal Tuhan Yesus. Dan itu yang ada dalam diri Maria: “...hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay.42). Banyak hal baik yang bisa kita lakukan, tapi jangan-jangan itu bukan yang terbaik? Saya setuju LAI memberi judul Maria dan Marta, padahal yang disebut duluan dan paling banyak beraksi adalah Marta, baru Maria. Tapi bukan banyaknya aksi, hanya Maria memilih bagian yang terbaik, melakukan apa yang Tuhan mau (bukankah itu pelayanan? Pelayan melakukan apa yang disuruh Tuan), duduk diam dengar Tuhan ngomong. Jadi, bagaimana evaluasi pelayanan kita selama ini?
Mungkin setelah membaca tulisan ini, Anda akan berkata: “ah... tulisan ini mah udah biasa. Semua juga udah pada tau. Apalagi yang udah terbina di pelayanan siswa, mahasiswa, alumni, gereja, sekolah minggu sampai kaum lansia. Gak ada yang baru”. Memang. Sama seperti halnya seorang teman berkata kepada anda untuk membersihkan kamar anda yang berantakan. Anda pasti sudah tau itu. Tapi ketika akhirnya anda melakukannya juga, anda lalu berkata: “Oh... ini nih pulpen yang gw cari dari kemaren-kemaren... Ketemu juga akhirnya... thanks ya...”.
Tidak ada salahnya menjadi Marta, asalkan ada hati Maria di dalamnya...
*buat mereka yang merasa sedang melayani atau mengurus pelayanan...
Apa kata-kata paling sering muncul dalam ucapan-ucapan ulang tahun di facebook? “Selamat ulang tahun, Wish you all the best.” (met ultah ye… wis yu ol de bezt). Apa kalimat penutup sms paling populer? “Gbu”. Awalnya menarik, tapi lama-lama kelamaan jadi hambar. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu, sangat baik. Tapi apakah ungkapan itu betul-betul doa dari yang mengucapkan? (supaya yang terbaik, yang terjadi bagi kawanku ini, supaya Tuhan memberkati kawanku ini). Atau sekedar lewat, sekedar kalimat penghias, atau kalimat penutup, supaya tidak dihubungi lagi? Hehehe… “Lagi ngapain?”, “Lagi makan, Gbu”. Habis deh… Padahal tadinya pengen ngobrol lebih panjang. Hihihi…
Terlalu sering kata-kata tersebut diucapkan, jadi bias karena biasa, tidak ada lagi emosi di balik kata-katanya. Bukan karna seringnya, kata itu jadi hambar, sehingga kita harus membatasi mengucapkannya, tapi masihkah kata-kata itu keluar dari hati yang tulus? Seperti kata-kata seorang suami yang telah menikah 30 tahun, kata “sayang, I love you” masih begitu hangat di telinga istrinya, sekalipun diucapkan tiap pagi.
Bukan sembarangan ketika berkat diucapkan. God bless you and keep you… TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (Bil 6:24-26). Itu Tuhan sendiri yang menetapkan agar melalui para imam, Ia memberkati bangsa Israel. Bukan sembarangan ketika dalam mengawali semua suratnya, Paulus mengucapkan salam, syukur, dan berkat. Roma: Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia. Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu: (Rom1:8-9); Efesus: Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. (Ef1:1-2), Filipi: Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. (Flp1:3-4), atau salam penutupnya, Kolose: Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu. (Kol 4:18), Tesalonika: I pray that the Lord, who gives peace, will always bless you with peace. May the Lord be with all of you. I always sign my letters as I am now doing: PAUL. I pray that our Lord Jesus Christ will be kind to all of you. (2Tes3:216-18). Salam ini benar-benar keluar dari kerinduan hati yang paling dalam, dari rasul Paulus, sekalipun di penjara. Dia berani mengatakan bahwa Allah adalah saksinya betapa dia rindu dengan jemaatnya, dia memang bertindak nyata bahwa dia sangat ingin berusaha untuk menemui/ berkunjung ke jemaat itu… bukan sekedar ucapan atau kalimat pengantar dan penutup.
Ok deh. Semoga mulai sekarang kita tidak gampang lagi mengucapkan kata-kata yang indah itu. Wish you all the best, Gbu, ada yang mau di didoakan?? Benarkah kita berdoa demikian? Supaya jangan jadi bias karena biasa, atau jadi basi karna kelamaan, tapi jadi bisa karena terbiasa, dengan doa senantiasa.
Ah, udahlah… Tengkyu, Gbu. Eh, keceplosan… Ada yang mau didoakan? Ups, kebiasaan… Bye… Lho, kok goodbye? Mungkin lebih baik: see you… Bukan selamat tinggal, tapi see you, berharap bertemu denganmu lagi… Prikitiew… Gbu, cu :)
Iman itu sederhana. Percaya saja dan lakukan. Bukan sekedar believe (percaya), tetapi trust (mempercayakan); bukan sekedar do (berbuat), tetapi obey (taat penuh). Sekalipun banyak hal yang tidak dimengerti dan dipahami, tapi tetap taat dan lakukan saja apa yang berkenan kepada Tuhan. Tidak gampang memang, tapi sesederhana itu. Kita harus berlutut dan sadar bahwa kita sangat terbatas dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah yang tidak terbatas. Kita tidak akan mampu memahami sepenuhnya pikiran dan kemauan Allah. Kita hanya mampu mengetahui sebatas apa yang dinyatakan-Nya pada kita, khususnya yang tertulis di Alkitab. Itu saja. Dan Alkitab cukup, untuk memberi tahu segala sesuatu yang perlu kita ketahui, bukan yang ingin kita ketahui. Jadi jangan paksakan diri kita untuk mengerti dan mengetahui secara utuh pikiran-Nya Allah. Kita akan kecewa. Allah bukanlah objek yang bisa diteliti manusia melalui mikroskop. Manusia adalah ciptaan, dan Dia Pencipta. Mungkin kalau dibandingkan, jika pikiran Allah seluas samudera raya di bumi ini, maka pikiran kita hanyalah seperti gayung kecil. Mana mungkin satu gayung kecil mampu menampung isi seluruh lautan di bumi ini?
Iman itu sederhana. Sesederhana tindakan Abraham meninggalkan keluarganya menuju negeri yang ditunjukkan Allah baginya. Sesederhana perkataan Abraham sewaktu diminta mengorbankan Ishak, Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sesederhana tindakan seorang janda miskin dari Sarfat yang memberi Elia makan dengan segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-bulinya. Sesederhana tindakan Ester saat menghadap Sang Raja Ahasyweros untuk memperjuangkan nasib bangsanya walaupun hukuman mati ada di depan mata. Sesederhana pernyataan Sadrakh, Mesakh dan Abednego saat akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu”. Sederhana bukan? Sesederhana tindakan iman perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan yang mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya dengan harapan "Asal kujamah saja jumbai jubah-Nya, aku akan sembuh."
Iman itu sederhana. Saya rasa perempuan yang sakit pendarahan itu percaya pada Tuhan sekalipun dia belum mengerti apa itu doktrin eskatologi, soteriologi, eklesiologi, dan logi-logi yang lain. Yang penting dia percaya, itu Tuhan, yang sanggup mengubahkan hidupnya. Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 8:48). Sederhana bukan? Tapi sayang, iman sesederhana itu jarang dijumpai di kalangan Kristen saat ini. Orang banyak bergantung pada mujizat yang spektakuler, kalau tidak terjadi, dia kecewa, dia meragukan Tuhan. Mungkin dia lupa, banyak mujizat-mujizat sederhana yang telah dia alami. Bukankah masih bangun pagi itu adalah mujizat? Nanti malam masih ada nasi di meja makan, bukankah itu mujizat? Banyak orang semakin pintar, tapi justru makin meragukan imannya, ketika dia tidak bisa memecahkan dengan pikirannya dan menguasai sepenuhnya apa itu: konsep keselamatan, soteriologi, eskatologi, gimana nanti akhir zaman, apa itu Allah Tritunggal, apa itu predestinasi, konsep pilihan, konsep anugerah, keadilan, pengampunan, dst dlsb… Makin dia tidak mengerti, makin ragu dia akan apa yang dia imani. Padahal sederhana: seperti yang sudah saya sebut di atas: kita terbatas, jadi trust and obey aja. Memang, dalam pertumbuhan iman dan kedewasaan seseorang, kita harus semakin bertumbuh dalam knowledge dan character, kita harusnya semakin mengerti dan menguasai apa yang kita imani, tetapi jika kita tidak mampu mengerti seluruhnya, itu wajar, karena kita bukan Allah, dan itu harusnya membuat kita tertunduk takjub dan semakin mengagumi kemaha-kuasaan Allah, bukan malah meragukannya. Belum tentu apa yang tidak kita ketahui sekarang, memang tidak ada, atau bukan kebenaran. Seperti anak SD yang kita paksa mengerjakan soal matematika kalkulus yang rumit, dia akan stress dan mengatakan: jawabannya tidak ada! Benarkah demikian? Oh, ternyata setelah kuliah kita baru mengerti jawabannya. Sederhana bukan? Yang tidak kita ketahui sekarang bukan berarti tidak ada. Ikuti aja. Bukan harus mengerti segala sesuatunya dulu, baru kita ikut Tuhan, tapi itulah uniknya iman, dalam ketidak-tahuan kita, bukan kita yang sibuk untuk menggapai tangan Allah, tapi membiarkan tangan kita untuk dipegang oleh Tuhan. Seperti yang dialami Petrus, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14:30-31).
Apakah kau mengerti sepenuhnya cara kerja otakmu? Kalau tidak, mengapa engkau masih memakainya? Apa tidak lebih baik, keluarkan otakmu, pelajari sungguh-sungguh, setelah mengerti, baru pakai lagi? Kalau tidak mengerti, jangan pakai lagi!! Begitu? Kan tidak? Jadi, kita pelajari aja semampunya, dan jangan pernah lepaskan. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Rom12:3)
Jadi, jangan tunggu mengerti dulu baru ikuti, tapi ikuti saja sambil mengerti. Makin mengerti, makin baik. Banyak yang tidak mengerti, pelajari, masih gak ngerti juga, ya imani… Sederhana.
*buat mereka yang pernah satu kelompok denganku, untuk belajar apa artinya beriman.
1 Mei, ada 2 Paskah yang pengen banget aku ikutin, Paskah Budi Luhur, dan Paskah PO PTK (Persekutuan Oikumene Perguruan Tinggi Kedinasan). Mana yang harus kupilih, aku tak tahu. Ingin ke BL ketemu dengan AKK yg udah lama gak ketemu. Ingin juga ke Paskah PO PTK, siapa tau makin akrab dengan pengurusnya dan bisa terus dampingi mereka… Ah,,, jam nya tabrakan pula… Harus milih… Ya sudahlah, aku pilih Paskah PO PTK, karena STAN tuan rumah dan di situ aku jadi pendamping sharing kelompok. Ternyata………. Waktu di jalan mau kesana, udah rapi, berbatik, ban motor bocorrrrr di Jalan Thamrin… Ah, sebelnya. Masa di jalan sebesar Thamrin masih ada paku?
Pulang dari situ, makan di Mang Kabayan, simpang Depsos Bintaro… Hahaha… Ini unik, karena sejak dari mahasiswa selalu lewat situ untuk Bible Study PMKJ Selatan 2, tiap senin. Tapi baru kesampaian makan di situ setelah alumni… Enak dan tidak terlalu mahal.*
2 Mei, lanjut dengan Paskah Bonapasogit. Aku jadi tim doa. Menikmati bagaimana terus berdoa selama acara (baik di ruang doa maupun di tempat duduk) demi orang bisa menikmati Allah dalam ibadah ini melalui pujian, doa, kesaksian dan firman. Menakjubkan rasanya melihat sekitar 8000-an orang Batak (dan ada juga non batak) sekitar Jabodetabek memenuhi Istora Senayan dan bersama-sama bernyanyi buat Tuhan. Dari pengusaha sampai tidak punya usaha, dari direktur sampai kondektur, dari semua lapisan masyarakat, umur dan pekerjaan. Sangat menyentuh hati. Tapi, tetap aja ada evaluasi pribadiku untuk acara ini: masakan untuk acara yang dari siang sampai sore ini tidak disediakan konsumsi, snack sekalipun? Bagaimana orang bisa fokus bernyanyi apalagi dengar firman dengan kerongkongan kering dan perut lapar? Sekalipun kita berdoa supaya Roh Kudus yang menguasai hati pikiran mereka, tapi masak kita tidak berbuat sesuatu supaya kondisi mereka fit ketika dengar firman? Sekalipun acara ini gratis, dan memakan sangat banyak biaya (apalagi kalau ditambah konsumsi), mungkin lebih baik jika panitia mengutip sumbangsih dana bagi mereka yang mampu memberikan donasi, untuk konsumsi bersama. Terus lagi, karena jemaatnya banyak, durasinya lama, di beberapa bagian tempat duduk mulai tidak tenang (khususnya yang bawa anak kecil), dan terkadang mengganggu khusuknya ibadah. Dan satu lagi, kiranya firman disampaikan dengan sederhana, jelas, kuat dan tepat waktu. Berharap juga, melalui orang Batak yang secara jumlah sangat banyak, ada perubahan bagi perbaikan bangsa ini. Banyak orang batak yang berkualitas dan menjadi berkat bagi bangsa ini, tapi banyak juga yang merusak bangsa ini. Semoga lebih baik. Ido ate?*
Selanjutnya… dihubungin untuk jadi trainer Pemimpin Pujian (MC) di Bea Cukai, tanggal 9 dan 16, lanjut lagi, Pembicara di kebaktian BC tanggal 12. Karena aku lihat jadwal kosong, aku jawab OK. Tapi bukan karena alasan itu saja, lebih dari itu. Ada sukacita besar di hati ini. Ada persekutuan di BC!!! Ini adalah jawaban doa dari sekitar 5 tahun yang lalu, ketika mereka pindah dari Bintaro ke Rawamangun. Dan baru sekarang mulai dirintis dan sudah rutin. Puji Tuhan. Aku gak akan menyia-nyiakan pelayanan ini. Tanggal 9 beres, bawain Hymnology dan teknis MC. Tinggal nunggu tanggal 16, simulasi. Tanggal 12 juga beres, padahal itu hari Rabu (tapi aku lihat besoknya merah/libur), aku laju dari Karawang ke Rawamangun, demi Bea Cukai :) bawain tema Hubungan Pribadi dengan Allah, apa pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, bible reading, dan persekutuan, tanpa itu, hancurlah hidup ini, kita akan mati, sekalipun secara fisik masih hidup! Karena itulah nafas rohani kita.
Tanggal 14 Mei… seakan hidupku berhenti sejenak. Aku kecelakaan. Jumat malam, di Cakung, lagi berhenti, eh, ditabrak Kijang Inova dari belakang, tabrakan beruntun, 2 mobil dan 2 motor… Hah… sial banget rasanya. Si sopir lagi ngantuk, dia sopir perusahaan rental, dan kelelahan antar jemput karyawan katanya. (artikel tentang insiden ini bisa dibaca di Semua dalam kendali). Aku lagi boncengan ama Misni. Waktu aku terhempas, aku masih bisa dengar suara Misni teriak, “kakak…kakak…”, dia jatuh terduduk. Kakiku lecet, motor rusak parah. Orang udah ramai banget, polisi datang, sampai pagi di kantor polisi. Misni bilang: “kak, ini pertama kali aku tabrakan, dan aku bersyukur itu sama kakak…”. Hah… udah kayak sinetron, ada kasih di balik kisah, mengurangi rasa nyerinya luka. Pihak yang nabrak mau ganti. Tapi, beresnya lamaaaaa banget. Gakpapalah, asal tanggung jawab. Dan ternyata… akhirnya si sopir dipecat, padahal baru kerja disitu 4 bulan. Kasihan juga. Bodi motor yang diganti banyak yang imitasi, tapi berpikir 2 kali untuk komplain, karena si sopir pun bingung mau cari kerja dimana. Gara-gara kejadian itu, banyak pelayanan gagal: ketemuan untuk buat bahan PA STAN, bawa firman di pembinaan PKK STAN, tanggal 15 gagal. Dan juga lanjutan training MC di BC, ikut gagal. Yah… mungkin waktunya istirahat dulu.*
Setelah pelayanan di Bonapasogit, sebenarnya langsung ditawarin pelayanan di Panitia HUT Perkantas (tanggal 3 Juli), sebagai koordinator pula. Aku doain dulu, aku bilang. Aku sebenarnya sih butuh pelayanan yang kontinu seperti ini untuk jaga kondisi, karena di Karawang gak ada pelayanan, walaupun Karawang-Jakarta menempuh 80km. Aku terima, sekaligus sebagai rasa “hutang” terhadap pertumbuhan dan pembinaan yang kudapat dari Perkantas dan orang-orangnya. Ternyata Perkantas sudah 39 tahun. Rapat perdanaku tanggal 15 pula… Ikutlah aku rapat perdana ini dengan keadaan pincang-pincang…
Hari demi hari, keadaan semakin baik, tapi motor belom selesai.
Tanggal 22, KTB 2005 ke Kebun Raya Bogor. Dengan bahan Diberkati untuk Menjadi Berkat bab 5, pulang dengan Proyek Ketaatan: bangun persekutuan di kantor masing-masing… Aduh,,, beratnya ini… Gimana aku mau ngomong ama kepala2 seksi?? Waktu ada kebaktian di kantor sebelah aja, miskin respon. Gimana nih?? Tapi mencoba beranikan diri… 1 langkah berhasil, ada yang mendukung, tapi usulnya 3 bulan sekali aja… Waduh, apa ini?? Pikirku. Kebaktian apa 3 bulan sekali, setahun cuma 4 kali? Hubungi yang lain, miskin respon. Padahal di kantor ada yang sintua, kayaknya ada juga ikut persekutuan waktu mahasiswa, tapi setelah di kantor, gak ada passion untuk membuat persekutuan kantor… Bersiaplah kalian para mahasiswa!!! Jangan cepat bangga kalau terbina di mahasiswa, tunjukkan di alumni!!!
Bulan Mei, maybe yes maybe no.
Sepertinya saya harus menjelaskan perbedaan antara: “mendukung” dengan “prediksi menang”. Ini hal yang berbeda. Misalnya, kalau suatu saat ada pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Inggris, dengan sepenuh hati, jiwa, raga, saya akan mendukung tim Indonesia. Tapi apakah saya memprediksikan Indonesia menang? Tidak. Karena memang saya juga sadar dan yakin, pertandingan itu sangat mungkin dimenangkan oleh Inggris. Tapi, sekali lagi, sekalipun saya prediksikan Inggris menang, tetapi dukungan saya tetaplah buat Indonesia. Bedakan “mendukung” dengan “prediksi”.
Begitu juga di Piala Dunia kali ini. Hati saya, dari dulu, tak akan tergugah dari dukungan terhadap Italia. Alasannya? Nanti saya jelaskan. Tapi, terus terang saja, dari awal saya sudah prediksi, bahwa Italia tidak akan menjadi juara dunia di World Cup kali ini. Mungkin memang karena saya lihat permainannya tidak sebaik seharusnya, dan satu lagi, sangat jarang terjadi, juara musim lalu akan juara lagi musim ini, karena pasti jauh lebih sulit mempertahankan daripada merebut. Prediksi saya siapa? Argentina atau Brasil. Itu prediksi saya dari awal sekali, bahkan sebelum pertandingan pertama dimulai. Karena menurut saya –yang awam dan terbatas ini, 2 negara ini memang sedang berkembang-kembangnya bibit dan skill para pemain. Tapi apakah dengan prediksi ini hati saya akan tergeser dari dukungan terhadap Italia? Sekali-kali tidak. Baik buruk, menang kalah, Italy tetap di hati.
Walaupun memang banyak sekali rasa kesal dalam hati, misalnya tentang pemilihan pemain, pola permainan yang tidak ‘greget’, lama panasnya, regenerasi pemain yang lambat, dll. Tapi saya tetap mendukungnya. Sama seperti saya mendukung persepakbolaan Indonesia. Hati saya cinta PSSI (atau klub PSMS), siapapun lawan tandingnya. Sekalipun: liga tak beres, gaji pemain tak beres, stadion amburadul, pengurus PSSI yang tak jelas (satu-satunya federasi sepakbola yang dipimpin dari penjara), dll, tapi sambil terus berharap perubahan dan perbaikan sepakbolanya, saya tetap mendukung Indonesia.
Atau satu lagi, di Piala Dunia ini, di pertandingan yang ada negara Asia-nya, hati saya mendukung Asia, meskipun –sekali lagi, prediksi saya tidak selalu pada tim Asia, tapi bagi saya, mereka harus didukung, sekalipun lewat teriakan, tepuk tangan, kepalan tangan dan lipatan bibir sewaktu menonton di depan televisi. Korsel, Jepang (yang sudah lolos ke 16 besar), atau Tim fantastis, Korea Utara. Berikut saya kutip potongan berita menarik dari Korea Utara:
Korea memang kalah dan belum tentu mendulang kemenangan pada dua laga (berikutnya), di mana Portugal dan Pantai Gading sudah menanti. Namun, mencetak gol balasan ke gawang raja Piala Dunia, dalam keadaan tertinggal dua gol dan dengan sisa waktu satu menit adalah prestasi.
Bagi Indonesia, pencapaian Korea Utara adalah tamparan (yang sangat menyakitkan).
Korea yang kesulitan mengakses siaran Piala Dunia dan setengah mati meminta restu negara untuk mencari (dan mendapatkan) sponsor, mampu mencapai Afrika Selatan dan mencetak gol ke gawang Brasil, setelah ketinggalan 0-2, dan menjelang masa injury time pula.
Indonesia,yang punya semuanya (kecuali mungkin semangat dan kejujuran), mulai dari sumber daya manusia, sponsorhip, suporter, dan akses informasi yang jauh lebih luas ketimbang Korut, malah berharap tampil di Piala Dunia dengan memenangi bidding tuan rumah. Ironisnya, untuk melewati jalan pintas seperti itu pun, Indonesia juga gagal.
Korea Utara mungkin tak akan meraih poin lagi di dua pertandingan(lagi) dan gagal melaju ke putaran kedua. Namun, mereka tetap berhak pulang dengan kepala tegak karena dengan segala keterbatasannya, mereka mampu menjebol gawang Julio Cesar, yang Lionel Messi pun gagal melakukannya.
Dan, sementara nanti Ji Yun Nam bercerita kepada junior-juniornya, anak-cucunya, atau tetangga-tetangganya, bagaimana ia menjebol gawang jawara Piala Dunia dengan pertandingan cuma menyisakan satu menit, Indonesia mungkin masih cuma sibuk membuat proposal untuk mendatangkan Manchester United atau melobi FIFA untuk menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia.Tentu, kita berharap Indonesia akan lebih baik dari itu.
Saya tersenyum membacanya. Saya mendukung Indonesia, sekalipun penuh kegagalan. Saya dukung Italia di Piala Dunia, sekalipun gagal melaju ke babak berikutnya (sesuai prediksi saya), dan berharap ini jadi tamparan dan pelajaran besar, tentang apa yang harus diperbaiki dan betapa susahnya mempertahankan gelar. Walaupun jujur saja, panas hati ini meluap melihat pertandingan kemarin, di luar lambannya permainan Italia padahal sudah ketinggalan, saya masih memimpikan “sportivitas sempurna” dari sebuah pertandingan olahraga. Bukankah itu ciri kental dari olahraga? Sportivitas, jujur, di samping tanpa politik, tanpa rasis, dll… Entah itu mungkin terjadi atau tidak. Andai saja… kemarin malam itu… si kiper licik dari Slovakia jujur dan berkata: saya memang mengulur-ulur waktu pertandingan dan saya memang memukul wajah Quaqliarella, saya layak dapat kartu merah… Atau bek Slovakia, Skrtel dengan jujur berkata: “Sit.. (wasit), memang tadi itu gol, bola udah melewati garis gawang, kaki saya sudah di dalam”. Hehehehehe. Entah kapan kejujuran total ini ada di lapangan, sedangkan ‘gol tangan tuhan’ aja bisa membawa Argentina jadi juara dunia…
Ya, semua penuh harapan. Harapan semoga Indonesia suatu saat masuk pentas dunia. Harapan Italia bermain lebih baik kemudian hari. Selamat jalan Italy. Belajar baik-baik, baju biru itu kupakai selalu :) Itulah kenapa aku suka Italia, karena liga Italia-lah yang mengajari Kawas kecil bagaimana cara menendang bola, awalnya suka nonton bola, mulanya melek bola, ngobrol bola, siapa Pagliuca, Roberto Baggio, Vialli, Ravanelli, Peruzzi, dan tim kesayangan Juventus…
Dukungan saya tidak akan berubah, prediksi mungkin berubah. Itu berbeda.
Salam olahraga –dari orang awam. Kawas.