Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


Saya bergabung di mailist gereja saya, sebuah gereja suku. Tiba-tiba di sana terjadi diskusi alot tentang rokok.
Diskusi ini sangat mendorong saya untuk memberi ulasan tentang rokok, racun 9 cm yang sangat umum ini. Saya kurang terlalu nyaman jika dikaitkan: ‘rohani atau tidak’, ‘masuk neraka atau surga’, ‘haram atau halal’ seperti yang beberapa kali telah disebutkan, mempengaruhi keselamatan atau enggak, walaupun memang ini perlu dipertanyakan, masakan orang yang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya menyia-nyiakan anugerah kesehatan dengan meracuni diri lewat rokok? Sungguh sayang... Tapi mari kita lihat sebentar secara theologis. Meskipun tidak tertulis di Alkitab (alasan beberapa perokok membela diri), tetapi Alkitab cukup memberi tahu hal-hal yang perlu kita ketahui dan membenarkan cara pandang Kristen (Christian World View).
Mari bahas sedikit tentang “dosa”. Hakikat dosa adalah hamartia (Yunani, artinya: melenceng, meleset dari tujuan/sasaran). Kapan suatu hal dikatakan berdosa? Jika tidak sesuai dengan tujuannya diciptakan. Apa tujuan manusia diciptakan? Yes 43:7 menjawabnya: “...Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku”, untuk memuliakan Allah. Dan Rasul Paulus juga menulis dengan sangat jelas dalam 1Kor10:31: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”. Nah, sekarang pikirkanlah apakah merokok itu memuliakan Allah: (Saya ingin menambahkan dan menekankan bahwa hal ini juga relevan untuk hal yang lain, seperti yang telah didiskusikan beberapa orang: bagi mereka yang sering begadang, candu kopi, pola makan dan tidur yang tidak beres, sekalipun bukan perokok adalah tidak lebih baik dari perokok).
• Sekarang zaman online, tapi banyak orang yang gak connect. Apa yang selalu didoakan dalam setiap doa bahkan minta didoakan oleh orang lain: “Ya Tuhan, berikanlah kesehatan...” tapi habis berdoa langsung merokok (mengisap racun)? Bahkan saya tak sanggup mengimajinasikan bagaimana respon Tuhan yang mendengar doa yang tidak nyambung itu.
• Dari segi kesehatanpun, tidak ada hasil riset yang menyatakan rokok itu baik. Malah sebaliknya: begitu banyak racun yang terkandung dalam rokok: bahkan sampai campuran cat, pembersih lantai, dan racun-racun lainnya (banyak blog yang membahas hal ini). Itulah yang dihirup para perokok (padahal daftar racun beserta peringatannya sudah tertulis di luar kotak). Sebuah penelitian yang pernah saya dengar, jika dalam kondisi normal, dirata-ratakan, menghisap 1 batang rokok, mengurangi umur 3 menit. Berapa rokok yang anda habiskan satu hari? Kemudian, waktu yang paling berbahaya untuk merokok adalah pagi hari, sehabis makan, atau sehabis berolahraga, karena saat itu tubuh sedang sangat giat menyerap zat-zat yang mengalir dalam tubuh. Tapi ironisnya, di saat-saat seperti itulah para perokok mengepulkan asapnya. Kasihan sekali...
• Mari berpikir, seandainya rokok itu memang baik:
• Kenapa tidak ada di manapun, kapan pun, anjuran untuk merokok: “TOLONGLAH ANDA MEROKOK” atau “KAMI HARAP ANDA MEROKOK DI TEMPAT INI”. Kenapa tidak pernah ada tema khotbah: Ayo merokok. Kenapa dokter tidak ada yang menasihati pasiennya untuk merokok, guru sekolah minggu mengajari anak sekolah minggu untuk merokok. Malah sebaliknya, dokter akan berkata: “Silahkan anda merokok, jika ingin mati”, di sekolah-sekolah akan diadakan razia rokok bagi para siswa dengan hukuman yang pasti bagi siswa yang membawa rokok atau ketahuan merokok, Perda yang melarang merokok, bahkan ayah yang perokok sekalipun, tidak menganjurkan anaknya untuk merokok. Atau tahukah anda bahwa di pabrik rokok pun ada tulisan “DILARANG MEROKOK”? Dan pikirkanlah, apa rokok masih baik?
• Banyak orang sudah tahu, bahwa perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif. Dan saya berpikir, bahwa kepala keluarga yang merokok adalah orang tidak mengasihi keluarganya. Perokok pasti langsung protes. Tapi bagaimana mungkin dia mengatakan mengasihi keluarganya jika yang dilakukannya setiap mengepulkan asap adalah meracuni istri dan anak-anaknya? Kalau istri marah, atau lagi kesal, suami akan “berselingkuh” dengan rokoknya. Atau hal yang satu ini: jika satu bungkus per hari dengan harga rata-rata 10.000, maka dalam sebulan si Bapak akan menghabiskan 300.000 hanya untuk rokok. Dan sedihnya lagi, menurut sebuah pendataan, lapisan masyarakat terbanyak perokok adalah mereka yang penghasilannya di bawah UMR, kemudian ada wacana bahwa syarat pembagian BLT adalah bukan perokok.
• Tidaklah heran melihat orang yang terlibat ganja dan narkoba, diawali dengan rokok. Karena memang rokok adalah bentuk sederhana dari narkoba, mengandung zat adiktif yang membuat candu. Tapi saya yakin, dimana ada kemauan yang sungguh, perokok mampu lepas dari racun yang memperhamba ini. Saya mengenal beberapa perokok berat yang berhasil lepas dari jerat rokok, setelah divonis jantung koroner. Kalau ternyata bisa... kenapa gak dari sekarang?
• Saya sangat ingin melebarkan jabaran tentang rokok ini dari beberapa aspek lagi: asal mula suap/ korupsi adalah dari “uang rokok”; siapa bilang tidak merokok tidak jantan? (saya akan jawab: Lho, bukannya waria yang dominan merokok? ); hal-hal yang bisa dilakukan gereja dalam memberantas rokok sebagai racun dan narkoba, penatua, pendeta; kebijaksanaan untuk membicarakan rokok dalam adat; dan dari aspek pajak yang menjalankan fungsinya sebagai regulerent (pengatur), dengan mengenakan pajak yang tinggi terhadap rokok, serta pergumulan bangsa dalam memperbaiki kualitas penduduk dengan menekan tingkat perokok dengan ekonomi bangsa. Saya salut membaca sebuah berita: seorang yang keluar dari pekerjaannya di sebuah pabrik rokok ternama, dengan gaji besar, berubah menjadi penjual air tebu, karena dia sadar, pekerjaannya di pabrik itu sedang membuat racun yang membunuh banyak orang.
• Saya bahkan sudah mencicipi rokok sejak SD, tapi syukurlah sekarang saya bukan perokok. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Berhenti merokok, jangan merokok, jangan jualan rokok, nasihati orang terkasih yang merokok, jangan nikahi pria (apalagi wanita) yang masih merokok. Matikan rokok sebelum rokok mematikan anda.
• Semoga hal-hal ini bisa membuka pikiran kita. Soli deo gloria!

Read More..


Semua baik. Yakinlah, di balik semua kejadian, pasti ada sisi baiknya. Masalahnya adalah bagaimana melihat sisi baik itu, dan mengucap syukur atasnya. Dalam hiruk pikuk sekalipun, ada secercah kedamaian di dalamnya. Coba lihat dari sisi lain. Aku teringat cerita tentang seorang wanita berusia 92 tahun yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia selalu berpakaian rapi. Rambutnya selalu tersisir dan ia berdandan sangat cantik. Setiap pagi ia menyambut hari yang baru dengan penuh semangat. Setelah suaminya meninggal pada usia 70 tahun, wanita itu merasakan perlunya pindah ke panti wreda supaya mendapatkan perawatan yang layak. Pada hari kepindahannya itu, seorang tetangga yang baik hati mengantarkannya ke panti wreda. Ketika akhirnya seorang petugas datang menjemputnya, ia tersenyum manis sembari mengarahkan alat bantu jalannya menuju lift. Petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya kepadanya, termasuk gorden-gorden baru yang dipasang di jendela kamarnya. “Saya menyukainya,” sahut wanita buta itu. “Tapi Bu, Anda kan belum melihat kamar Anda,” sahut petugas itu. “Hal itu tidak ada pengaruhnya bagi saya,” timpalnya. “Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Entah saya menyukai kamar saya atau tidak, hal itu bukan tergantung pada bagaimana penataan kamar saya. Itu tergantung pada bagaimana saya menata pikiran saya.”
*
Bulan Maret ini kantorku tak pernah sepi dari Wajib Pajak (WP). Memang, semua WP diwajibkan melaporkan SPT Tahunannya ke KPP setempat. Saking ramainya, kantorku memasang tambahan tenda di depan kantor. Wuih... mumet, ramai, berisik. Nasib jadi seksi pelayanan –pelayanan publik. Ada anak-anak yang lari-lari, teriak, menangis,ah... lama-lama kantor ini tak mirip kantor pajak lagi (yang umumnya elegan), lebih cocok jadi puskesmas; atau tempat konseling –tempat orang yang banyak tanya, jarang mau dengar, susah diatur; atau kantor apa ya namanya –yang banyak calo; atau bisa juga pasar –karena tiba-tiba banyak orang datang untuk jualan. Ah, pusing... Ditambah lagi suara kebisingan kendaraan –motor yang berisiknya minta ampun –lebih cocok jadi becak mesin; suara printer pita dot matrix; stempel... Ribut! Tak tahan lagi. Di tengah hectic-nya situasi itu, aku berdiam, mengusap mata, menutup keduanya, meletakkan kedua telapak tanganku menutupi wajah, dan mencoba tenang, tenang sekali... Lama-lama suara bising perlahan-lahan mulai terdengar teratur di telingaku. Suara printer bagiku seperti nada: trit-trit-ck-ck-trit-trit...trit-trit-ck-ck-trit-trit... Suara stempel sepertinya bagai ketukan metronom dengan tempo nada ±80, atau lebih tepatnya perkusi akustikan: dung-tak-deng-deng-tak...dung-tak-deng-deng-tak... Sambil membuka mata perlahan-lahan, aku tersenyum. Ternyata ritmenya indah. Aku bisa mendengarnya dari sisi lain. Printernya tetap sama, stempelnya juga, tapi kedengaran berbeda di sisi lain pendengaranku. Kalau digabung bisa jadi ritmis pengiring lagu: trit-trit-ck-ck-trit-trit [dung-tak-deng-deng-tak]... trit-trit-ck-ck-trit-trit [dung-tak-deng-deng-tak]... Wah, suasana ini tak membosankan lagi buatku. Aku mulai semangat melihat orang yang banyak di depanku, dari ujung ke ujung. Eh, ternyata di ujung sana, sudah ada orang yang duluan bisa melihat sisi lain dari kebisingan ini. Sepasang muda –suami-istri, jongkok di belakang mobil yang diparkir untuk menghindari sinar matahari, mereka saling bergantian menyuapkan buah –rujak yang baru dibeli –satu sama lain. Si suami menyuapkan potongan mangga ke mulut istrinya, si istri membalas dengan memberikan jambu. Wah, manis sekali, seakan tenda itu milik mereka berdua. Seakan tak ada kebisingan di sekelilingnya. Waktu mengantri yang sangat lama itu, bisa mereka lihat menjadi momen bercengkerama. Ups, ternyata si istri kepedasan, langsung saja si suami menyuguhkan es cendol yang dibelinya di samping tukang rujak. Wah, aku jadi tidak sabar, ingin tahu sebenarnya mereka nomor antrian berapa... Hahaha... Indahnya sisi lain.
*
Memang banyak hal yang bisa kita syukuri, dalam hal buruk sekalipun –dari sisi lain. Mungkin ada saatnya kita jatuh sakit –bisa jadi itu momen pengingat untuk kita istirahat; mungkin terjebak macet –kenapa tidak menjadikan momen itu untuk melihat-lihat sekeliling, dengar syair lagu dari pengamen, atau membalas sms, atau mengecek contact/ phonebook satu persatu sambil mengingat wajah-wajahnya, mungkin ada yang perlu kita sms, telepon atau motivasi, atau baca buku yang belum sempat kita selesaikan sekalipun dibawa kemana-mana; mungkin ada saat kita terlambat –bisa jadi itu pembelajaran untuk bangun lebih cepat, atau jangan lama-lama mandi, atau momen untuk membuat kita sedikit berkeringat, mengingatkan kita untuk berolahraga karena lemak yang semakin merajalela; mungkin ada saat kita dicopet –bisa jadi itu membuat kita ingat untuk menjaga barang bawaan, atau bersyukurlah karena kita adalah orang yang dicopet, bukan sebagai pencopet. Dan masih banyak “mungkin-mungkin” yang lain yang mugnkin terjadi. Esok hari punya cerita sendiri. Entah lebih baik, entah tidak. Tapi pasti ada kebaikan di dalamnya. Coba lihat dari sisi lain... Semua baik.

Read More..


7 Agustus 2009 aku baru saja menerima pengumuman bahwa aku ditempatkan di Karawang, sorenya seorang staf, Kak Pur sms mengajakku untuk bergumul dan bergabung di kepanitiaan RK XI. Aku kaget, darimana dia tahu kalau aku akan hijrah dari Medan? Ternyata dikasi tahu staf yang lain. Aku bilang lihat nanti dulu, lihat bagaimana kerjaan di Karawang, memungkinkan atau tidak, apalagi harus mobile dari dan ke Jakarta. Ternyata dalam masa “lihat nanti dulu” itu, Kak Pur sudah memperlakukanku seperti telah “meng-iya-kan” jawaban, dikenalkan dengan panitia lain (yang sudah menjawab ataupun belum), dikasi tau job desc-nya apa, bahan-bahan yang mau dipikirkan, dll. Akhirnya pada tanggal yang ditetapkan, ku jawablah “ya”. Entah apa yang kurasakan saat itu, ragu, apa salah motivasi, takut jawab enggak, banyaklah... tapi maju terus. Di akhir nanti baru aku tahu apa jawaban sebenarnya.
Pulang dari Kamp Pengutusan Mahasiswa (akhir Agustus), rapat perdana di Depok, sekaligus perkenalan dengan seorang wanita, rekan satu seksi nantinya, namanya Dea. Baru bedua, sebelum ditambah Jeri beberapa hari berikutnya. Bertiga kami di seksi acara (nanti akhirnya dibantu Refly dan Melina dalam buku acara dan multimedia).
6 September adalah pleno pertama. Di situ aku melihat teman-teman panitia lainnya, orang-orang yang “terhisap” di RK dan persiapannya selama 6 bulan ini. Bagiku mereka adalah orang-orang yang penuh semangat.
Seksi acara sendiri mulai memikirkan konsep-konsep acara, pemantapan eksposisi tokoh Daud, menentukan pelayan. Dan selama proses itu, aku bisa merasakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Tema besar, melintas di pikiranku begitu aja sehabis bangun pagi: D.A.U.D: Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya. Bahkan akupun tak yakin membawanya ke rapat, dan aku diam, menunggu ditanya pendapat. Ternyata memang ditanya. Aku jawab: usulku: D.A.U.D: Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya, dan langsung pura-pura tertawa sendiri, sebelum (pikirku) aku akan ditertawakan. Ketika ditanya kenapa? Aku mulai mencari-cari penjelasan (selain dapat ilham dari bangun tidur) dengan gaya yang sok meyakinkan: “kenapa gak kita buat tema yang gampang diingat, melekat dengan tokoh eksposisi, dan kata-katanya kuat: pemimpin-pemimpin yang tahu apa itu dipilih, dipakai. Dan lihat bentuk pasifnya: Allah yang aktif, memilih dan memakai”. Padahal kata-kata itu baru ku dapat saat itu. Hihihihi... Dan memang tidak ada yang terlalu tertarik, bahkan sampai 3 minggu tidak ada yang menanggapi, sampai dibuat voting, eh suara terbanyak... Logo juga begitu, dari tema itu, aku terpikir logo itu waktu naik motor, eh disetujui. Lalu perikop-perikop dalam eksposisi pun kudapat dalam perenungan-perenungan pribadi tentang Daud, eh ternyata dipakai. Lagu tema pun begitu, aku dukung-dukung aja, padahal aku sendiri masih salah-salah nyanyiinnya. Tapi waktu ditanya kenapa: kata-katanya akan mengalir saat itu juga (identik dengan ngarang. Hahahaha...). Allah bekerja luar biasa dalam banyak ketidaktahuan ku. Selain ngurusin acaranya, disuruh juga bantuin cari dana, hubungin peserta, dan pasti hubungin pelayan (bersyukur dikasi kesempatan bertemu banyak TPPM). Dalam semua proses itulah, Allah pelan-pelan berbisik semakin keras untuk meyakinkan aku mengerjakan pelayanan di RK ini. Rekanku Dea dan Jeri juga adalah pelayan luar biasa. Mereka semangat. Baik rapat di Kramat ataupun Semanggi, baik rapat malam ataupun pagi. Terkadang aku malu, apalagi kalau ada yang menyebutku sebagai kabid acara. Aku gak layak. Dea yang selalu mencatat hal-hal yang perlu diperbincangkan, Jeri yang sering sms kondisi dan mendorong untuk saling mendoakan, sedangkan aku hanya nongol sabtu atau minggu. Bahkan pernah dalam kelelahan di titik terendah, aku bergumul ulang dengan pelayanan ini, apakah ini pengorbanan atau kekonyolan. Pikirku, aku sudah di Karawang, bukan bagianku lagi melayani di Jakarta. Letih. Mungkinkah Tuhan mengubah orang, apalagi kampus, apalagi kota, apalagi bangsa dalam 4 hari 3 malam? Tetapi sejarah membuktikan YA! Allah sedang bekerja, dan rekan-rekan panitia RK XI ingin menjadi bagian kecil dari sejarah itu. Jujur saja, tidak ada yang meyakinkan aku untuk bertahan selain semangat Dea dan Jeri, juga teman-teman lainnya, tidak ada kekuatiran dan sungut-sungut sedikitpun di wajah-wajah mereka, padahal dana masih kurang ratusan juta, peserta belum ada yang merespon. Tapi hanya sukacita yang kulihat setiap rapat dan PD. Aku mau bertahan karena itu. Sampai hari demi hari Tuhan tunjukkan kesetiaan-Nya satu per satu, rupiah demi rupiah, peserta demi peserta, pelayan demi pelayan, peralatan demi peralatan, sampai hari H. Selama hari H pun, aku begitu takjub dengan pekerjaan Allah, firman diberitakan secara kuat, pujian-pujian yang agung, para pelayan menunjukkan kemaksimalan mereka. Aku hanya bisa mencuri-curi waktu untuk bersembunyi dan berdoa. Panitia yang lain sangat menyala-nyala, bersukacita, padahal semua saling tahu bahwa semua saling kelelahan. Terimakasih kawan-kawan. Kalian adalah orang-orang yang luar biasa. Aku belajar banyak sekali hal dari RK ini:
• Melangkah dengan iman
Aku ingat waktu PHP RK. Paginya awan gelap sekali. Tetapi sms berjalan, yang berisi doa Tuhan sanggup menghentikan hujan, Tuhan jawab. Sehari sebelum RK, Ciwidey longsor, tapi Tuhan jagai Alloysius. Ada pohon tumbang, tanah longsor, Tuhan cukupkan angkot dan tidak ada omelan dari peserta. Supaya kondisi lancar, Kak Pur terus ingatkan: doa yuk supaya tidak hujan; dan memang Tuhan jawab, tidak turun hujan selama RK, walaupun tiap hari awan gelap, hanya sebentar gerimis kecil, kecuali hari terakhir: hujan deras banget. Bagaimana ini pulang? Tapi doa lagi: dan Tuhan hentikan hujan beberapa saat kemudian, langit cerah, pulang aman. Memang pertolongan kita adalah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.
Bagaimana juga kita melangkah dengan iman, memulai suatu retreat dengan wisma yang belum lunas, dan dana yang masih dibutuhkan 95 juta dalam 3 hari. Tapi Tuhan cukupkan jauh dari yang sanggup kita doakan dan pikirkan, tepat di tengah malam terakhir. Begitu juga bagaimana Allah mencukupkan peserta (bahkan surplus), pelayan, kebutuhan perlengkapan, transport, dll. Dia sungguh tidak terbatas! Di akhir pelayanan inilah konfirmasi yang sangat jelas bahwa menjawab Ya menjadi panitia RK adalah hal yang sangat tepat, dan sangatlah menyesal untuk dilewatkan.

• Aku belajar sadar untuk berbuat yang lebih baik lagi.
Seorang panitia menceritakan perkataan dari seorang pelayan: “Seksi acara ada 3 kan ya? Jeri: jelas, ngurusin pemusik, Dea: tanggung jawab warta. Nah, yang satu lagi apa kerjanya???”. Meskipun perkataan itu disambut gelak tawa panitia lain, termasuk aku, pertanyaan itu sangat membantuku untuk merenung. Iya ya, ternyata aku belum berbuat apa-apa... Aku sungguh bersyukur punya rekan-rekan yang menolongku.

• Persahabatan
Aku punya sahabat yang luar biasa, berbeda karakter, emosi, latar belakang, tapi semuanya unik dan menarik. Bisa doa pagi walaupun sebelumnya rapat sampai pagi (meski ada yang tidur). Aku berpikir, seberapa efektif rapat tengah malam ini? Ada yang udah tidur, ada yang kelelahan, ada yang ikut rapat tapi rohnya udah gak di situ lagi, gimana bisa berpikir? Tapi karena aku lihat yang lain masih semangat, ya aku ikut aja, lagian penting untuk koordinasi buat besoknya. Walaupun di malam terakhir diwarnai dengan jugulisme. Kalau saja malam itu aku milih tidur, kenangan berkesan itu pasti tidak pernah terjadi. Makasih kawan-kawan... Ada Kak Pur yang mengingatkan bergantung pada Allah, Ola yang tidak pernah marah walau lelah, Grace yang meyakini hujan berkat kan tercurah walaupun tidak berbentuk cash, Dea yang susah konsen tapi kompeten, Jerri yang bisa menangani hal ribet jadi enteng, Oci, Kia, Yani yang setia berdoa dan mau mengingatkan serta mengantar makanan untuk panitia yang lupa makan, Catherine, Christina, Mimi, yang setia membawakan makanan kecil setiap rapat untuk dijual, dari keuntungan 500 demi 500 akhirnya tercukupi 250juta, tetap sms walau tak dibalas, tanpa muka jaim terus mengingatkan “jaim”, Anto, Aris, Eva, Julinar, Helen, Medi, 6 orang yang sanggup menangani 372 orang lebih, 15 kota besar di Indonesia, bahkan peserta surplus sebelum waktunya, apalagi Aris yang bisa menangani anjing Alloysius selama sesi, dan memecah kebekuan rapat tengah malam dengan suara ‘tokek’, Leo Ginting, Leo Manik, yang bekerja ligat, sigap, tanggap, naik turun tangga, kebun teh, Jupri yang berjerih lelah supaya perlengkapan beres, acara lancar, dan Gilbert yang masih muda, namun siap antar jaga...

Aku teringat ama PD Panitia lalu yang aku bawa dari Mzm 126. Nyanyian ziarah. Akan ada masanya kita seperti orang-orang bermimpi ketika melihat karya tangan Tuhan yang tak sanggup kita pikirkan, akan ada waktunya kita menuai dengan sorak sorai. Semoga RK XI ini menjadi bagian dari nyanyian ziarah kita. Seperti lagu kesaksian kita: We’re pilgrim on the journey... Kita sedang berziarah dalam satu perjalanan.... Oh may all who come behind us find us faithful...
Terimakasih untuk banyak pembelajaran ini teman-teman... all the glory must be to the Lord!

Read More..

Beberapa kalender yang kulihat memberikan template warna pink pada lembaran bulan Februari, termasuk kalender PMK STAN dan Perkantas yang di kamarku. Begitu juga di tempat-tempat umum (mall khususnya), memberikan nuansa valentine, mulai dari balon, pernak-pernik, diskon di bulan kasih sayang, mawar, coklat, dan cewek- cowok (iiihh...) yang berbaju pink. Hebat bener St.Valentine ini, yakinku. Sudah berabad-abad, kenangannya masih diingat orang, meskipun dari mulut ke mulut. Tgl 14 Februari, masih diperingati orang, meskipun ada 2 versi, entah itu tanggal kelahirannya atau tanggal kematiannya. Tapi 1 hal yang jelas: dampak luar biasa dari kasih yang ditunjukkannya! Betapa luar biasanya kasih bekerja, menjalar sendiri, merambat dari satu hati ke hati yang lain. Bahkan dari gerakan satu orang, kasih mengalir, sampai ke seluruh dunia, seluruh lapisan, sampai sekarang, entah sampai kapan. Meskipun katanya setiap hari adalah hari kasih sayang, tapi adalah sangat baik, momen ini mengingatkan lagi, seorang demi seorang, bagaimana mengasihi dan betapa berbahagianya dia karena dikasihi. Tahun lalu, di kebaktian valentine Persekutuan Alumni Kristen Medan, aku ingat Bang Mangapul bilang begini dalam khotbahnya: “Bodoh kali-lah kalau ada orang yang ingin ‘mengharamkan’ perayaan valentine. Apa mereka tak bisa merasakan kedalaman makna kasih itu? Bagaimana mengasihi dengan benar, merenungi kasih Allah kepada kita, kasih kita kepada Allah dan sesama manusia, khususnya orang-orang terdekat dengan kita?”. Sungguh, itu perlu dirayakan dengan benar, penghayatan, dan tindakan kasih yang nyata.
13 Februari. Pagi itu tak secerah seperti biasanya. Hujan deras, gerimis, bergantian. (ada yang bilang karena mau imlek, pasti sering hujan. Entahlah. Meneketehe. Tapi nanti aku ceritakan, bagaimana Allah, Pencipta Langit dan Bumi menyatakan kuasa-Nya atas alam semesta sewaktu PHP RK, dan selama RK sampai waktu kepulangan. Kalau badai besar saja sanggup Dia tenangkan, apalagi hanya hujan?). Hari itu KTB kami (Anu, Angga, Mokmok, Ogi, Anto, Jo, Misni, aku) sepakat untuk membagikan 80 nasi bungkus (walaupun jadinya nasi kotak) bagi mereka yang membutuhkan, yang kami jumpai di sekitar Jakarta Pusat. Tapi hujan turun terus dari pagi. Aku sms teman-teman berdoa, kalau Tuhan berkenan kiranya menghentikan hujan, tapi kalau tidak, Dia berikan semangat dan jalan keluar. Ternyata kali ini, Tuhan menjawab opsi yang kedua. Walaupun saat itu hujan sempat berhenti, eh ternyata setelah itu turun makin sangat deras. Kami menembus hujan deras, dan mulai berpencar. Paling tidak, kami telah membuat 80 penduduk Jakarta tersenyum di hari itu. Aku sendiri sangat terberkati melihat semangat dari kawan-kawan. Kami berkumpul lagi dan berbagi cerita tentang apa yang kami alami. Ada ibu yang bercerita tentang hidup di stasiun, ada ibu yang berjalan kaki jauh sekali sambil mengais sampah, ada tukang sapu jalan yang sudah 5 tahun menyapu jalan di Kwitang pulang pergi dengan truk sampah, ada tukang bajaj yang langsung cuci tangan dengan air hujan dan langsung menyantap nasi kotak, ada pula yang kaget dan menolak. Ada juga fenomena lucu menurutku. Sewaktu Misni dengan jubah mantel hujan hitamnya masuk ke kolong fly over atrium yang gelap, kelihatan seperti malaikat pencabut nyawa, namun semakin menuju tempat yang disinari cahaya, perlahan-lahan, kelihatanlah wajahnya… Ah, ternyata dia adalah seorang malaikat pembawa nasi kotak, bagi sekitar 15 orang di kolong fly over itu. Wah, aku tersadar, ternyata ada 88 penduduk dunia yang tersenyum hari itu, 80 orang, ditambah kami ber-8. Dinginnya hujan tak terasa lagi, kasih bekerja dengan caranya sendiri. You can give without love, but you cannot love without give. Kasih...ya, kasih! Memberi. Aku jadi teringat sebuah perenungan dari sebuah milis:

Mari coba kita hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari :
Jumlah penduduk Indonesia +/- 250.000.000 orang.
Kalau satu hari 3 X makan dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, maka setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang setiap orang.
Maka 3 butir X 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari.....
(Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan?)

Ternyata setelah dihitung, dalam 1 kg beras terdapat +/- 50.000 butir.......
Maka :
750.000.000 : 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras dibuang setiap hari.
Kalau 1 kg beras cukup untuk 10 orang makan, maka 15.000 X 10 orang = cukup untuk 150.000 orang makan.
Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.

Kalau seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang.
FANTASTIK bukan??!!
Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini.

Ah, andaikan orang-orang Kristen yang miliyaran itu mengerti hal ini dan menjadi saluran berkat... Aku juga teringat sebuah buku: “Transformasi Masyarakat”, begini kira-kira kalimat bebasnya: “Bagaimana mungkin kita terus menerus hanya memberitakan Injil, bahkan berdiri di mimbar, sedangkan mereka yang mendengarkan perutnya kosong, lapar karena tidak ada yang memberi makan? Dapatkah mereka mengerti kasih Allah yang kita kobar-kobarkan? Atau kesalahan kedua: bagaimana mungkin kita menggantikan pemberitaan Injil keselamatan kepada orang-orang hanya dengan melakukan aksi-aksi sosial?”. Keduanya harus seiring. Seperti yang Yesus lakukan: memproklamasikan Kerajaan Allah, dan menolong mereka yang membutuhkan, tersisih dan marginal. Oh indahnya...

14 Februari. Hari valentine ini berbeda. Banyak kulihat orang pacaran, jadi pengen :). Tapi hari ini ada pelayanan dari pagi sampai malam, apa boleh buat... Thy will be done. Hehehehew... Pulang gereja, berangkat ke Bintaro untuk kebaktian penghiburan Nova Devi Freny Friska Fransiska Dewi Astuti Saragih (ah, panjang kali namanya, semua diborong), habis itu training MC Pemusik, habis itu PBPA untuk PJ PA bulan Februari. Ah, padat sekali. Pulangnya hanya bisa makan berdua ama Misni di sebuah warung kecil penuh asap, di situ dulu kami sering makan waktu masih mahasiswa: ayam bakar madura samping tempel ban :) ditemani gerimis hujan, dan pulang naik motor, memakan coklat Silverqueen sisa-sisa tadi pagi. Sederhana sekali. Tapi aku sangat menikmati banyak hal hari itu. Khususnya di kebaktian penghiburan Nova. Itu ketiga kalinya aku membawakan firman di kebaktian penghiburan. Ada rasa gelisah dalam hati, kapan giliranku yang akan diadakan kebaktian penghiburan? Di situ aku belajar banyak tentang cinta kasih, rencana Allah, kebaikan, kesetiaan, suka duka, arti kehadiran yang sangat berarti justru setelah kita sadar akan ketidakhadiran, makna kesempatan sebelum kata ‘sudah terlambat’, apa artinya memiliki sebelum kehilangan, ah...banyak sekali. Februari ini penuh cerita. Cerita tentang Allah, tentang cinta-Nya.

Selain tanggal 13,14? Hati, pikiran, terfokus untuk perhelatan besar: Retreat Koordinator XI, bahkan sampai hal teknis: buku acara, spanduk, nametag, souvenir, rapat-rapat, hingga Allah menyertai sampai selesai...4 hari 3 malam, 25-28 Februari 2010, Ciwidey, Bandung. Itu punya ceritanya sendiri. Sampai di sini dulu... Tuhan mencintai kau dan aku.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo