Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Beberapa kalender yang kulihat memberikan template warna pink pada lembaran bulan Februari, termasuk kalender PMK STAN dan Perkantas yang di kamarku. Begitu juga di tempat-tempat umum (mall khususnya), memberikan nuansa valentine, mulai dari balon, pernak-pernik, diskon di bulan kasih sayang, mawar, coklat, dan cewek- cowok (iiihh...) yang berbaju pink. Hebat bener St.Valentine ini, yakinku. Sudah berabad-abad, kenangannya masih diingat orang, meskipun dari mulut ke mulut. Tgl 14 Februari, masih diperingati orang, meskipun ada 2 versi, entah itu tanggal kelahirannya atau tanggal kematiannya. Tapi 1 hal yang jelas: dampak luar biasa dari kasih yang ditunjukkannya! Betapa luar biasanya kasih bekerja, menjalar sendiri, merambat dari satu hati ke hati yang lain. Bahkan dari gerakan satu orang, kasih mengalir, sampai ke seluruh dunia, seluruh lapisan, sampai sekarang, entah sampai kapan. Meskipun katanya setiap hari adalah hari kasih sayang, tapi adalah sangat baik, momen ini mengingatkan lagi, seorang demi seorang, bagaimana mengasihi dan betapa berbahagianya dia karena dikasihi. Tahun lalu, di kebaktian valentine Persekutuan Alumni Kristen Medan, aku ingat Bang Mangapul bilang begini dalam khotbahnya: “Bodoh kali-lah kalau ada orang yang ingin ‘mengharamkan’ perayaan valentine. Apa mereka tak bisa merasakan kedalaman makna kasih itu? Bagaimana mengasihi dengan benar, merenungi kasih Allah kepada kita, kasih kita kepada Allah dan sesama manusia, khususnya orang-orang terdekat dengan kita?”. Sungguh, itu perlu dirayakan dengan benar, penghayatan, dan tindakan kasih yang nyata.
13 Februari. Pagi itu tak secerah seperti biasanya. Hujan deras, gerimis, bergantian. (ada yang bilang karena mau imlek, pasti sering hujan. Entahlah. Meneketehe. Tapi nanti aku ceritakan, bagaimana Allah, Pencipta Langit dan Bumi menyatakan kuasa-Nya atas alam semesta sewaktu PHP RK, dan selama RK sampai waktu kepulangan. Kalau badai besar saja sanggup Dia tenangkan, apalagi hanya hujan?). Hari itu KTB kami (Anu, Angga, Mokmok, Ogi, Anto, Jo, Misni, aku) sepakat untuk membagikan 80 nasi bungkus (walaupun jadinya nasi kotak) bagi mereka yang membutuhkan, yang kami jumpai di sekitar Jakarta Pusat. Tapi hujan turun terus dari pagi. Aku sms teman-teman berdoa, kalau Tuhan berkenan kiranya menghentikan hujan, tapi kalau tidak, Dia berikan semangat dan jalan keluar. Ternyata kali ini, Tuhan menjawab opsi yang kedua. Walaupun saat itu hujan sempat berhenti, eh ternyata setelah itu turun makin sangat deras. Kami menembus hujan deras, dan mulai berpencar. Paling tidak, kami telah membuat 80 penduduk Jakarta tersenyum di hari itu. Aku sendiri sangat terberkati melihat semangat dari kawan-kawan. Kami berkumpul lagi dan berbagi cerita tentang apa yang kami alami. Ada ibu yang bercerita tentang hidup di stasiun, ada ibu yang berjalan kaki jauh sekali sambil mengais sampah, ada tukang sapu jalan yang sudah 5 tahun menyapu jalan di Kwitang pulang pergi dengan truk sampah, ada tukang bajaj yang langsung cuci tangan dengan air hujan dan langsung menyantap nasi kotak, ada pula yang kaget dan menolak. Ada juga fenomena lucu menurutku. Sewaktu Misni dengan jubah mantel hujan hitamnya masuk ke kolong fly over atrium yang gelap, kelihatan seperti malaikat pencabut nyawa, namun semakin menuju tempat yang disinari cahaya, perlahan-lahan, kelihatanlah wajahnya… Ah, ternyata dia adalah seorang malaikat pembawa nasi kotak, bagi sekitar 15 orang di kolong fly over itu. Wah, aku tersadar, ternyata ada 88 penduduk dunia yang tersenyum hari itu, 80 orang, ditambah kami ber-8. Dinginnya hujan tak terasa lagi, kasih bekerja dengan caranya sendiri. You can give without love, but you cannot love without give. Kasih...ya, kasih! Memberi. Aku jadi teringat sebuah perenungan dari sebuah milis:

Mari coba kita hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari :
Jumlah penduduk Indonesia +/- 250.000.000 orang.
Kalau satu hari 3 X makan dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, maka setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang setiap orang.
Maka 3 butir X 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari.....
(Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan?)

Ternyata setelah dihitung, dalam 1 kg beras terdapat +/- 50.000 butir.......
Maka :
750.000.000 : 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras dibuang setiap hari.
Kalau 1 kg beras cukup untuk 10 orang makan, maka 15.000 X 10 orang = cukup untuk 150.000 orang makan.
Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.

Kalau seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang.
FANTASTIK bukan??!!
Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini.

Ah, andaikan orang-orang Kristen yang miliyaran itu mengerti hal ini dan menjadi saluran berkat... Aku juga teringat sebuah buku: “Transformasi Masyarakat”, begini kira-kira kalimat bebasnya: “Bagaimana mungkin kita terus menerus hanya memberitakan Injil, bahkan berdiri di mimbar, sedangkan mereka yang mendengarkan perutnya kosong, lapar karena tidak ada yang memberi makan? Dapatkah mereka mengerti kasih Allah yang kita kobar-kobarkan? Atau kesalahan kedua: bagaimana mungkin kita menggantikan pemberitaan Injil keselamatan kepada orang-orang hanya dengan melakukan aksi-aksi sosial?”. Keduanya harus seiring. Seperti yang Yesus lakukan: memproklamasikan Kerajaan Allah, dan menolong mereka yang membutuhkan, tersisih dan marginal. Oh indahnya...

14 Februari. Hari valentine ini berbeda. Banyak kulihat orang pacaran, jadi pengen :). Tapi hari ini ada pelayanan dari pagi sampai malam, apa boleh buat... Thy will be done. Hehehehew... Pulang gereja, berangkat ke Bintaro untuk kebaktian penghiburan Nova Devi Freny Friska Fransiska Dewi Astuti Saragih (ah, panjang kali namanya, semua diborong), habis itu training MC Pemusik, habis itu PBPA untuk PJ PA bulan Februari. Ah, padat sekali. Pulangnya hanya bisa makan berdua ama Misni di sebuah warung kecil penuh asap, di situ dulu kami sering makan waktu masih mahasiswa: ayam bakar madura samping tempel ban :) ditemani gerimis hujan, dan pulang naik motor, memakan coklat Silverqueen sisa-sisa tadi pagi. Sederhana sekali. Tapi aku sangat menikmati banyak hal hari itu. Khususnya di kebaktian penghiburan Nova. Itu ketiga kalinya aku membawakan firman di kebaktian penghiburan. Ada rasa gelisah dalam hati, kapan giliranku yang akan diadakan kebaktian penghiburan? Di situ aku belajar banyak tentang cinta kasih, rencana Allah, kebaikan, kesetiaan, suka duka, arti kehadiran yang sangat berarti justru setelah kita sadar akan ketidakhadiran, makna kesempatan sebelum kata ‘sudah terlambat’, apa artinya memiliki sebelum kehilangan, ah...banyak sekali. Februari ini penuh cerita. Cerita tentang Allah, tentang cinta-Nya.

Selain tanggal 13,14? Hati, pikiran, terfokus untuk perhelatan besar: Retreat Koordinator XI, bahkan sampai hal teknis: buku acara, spanduk, nametag, souvenir, rapat-rapat, hingga Allah menyertai sampai selesai...4 hari 3 malam, 25-28 Februari 2010, Ciwidey, Bandung. Itu punya ceritanya sendiri. Sampai di sini dulu... Tuhan mencintai kau dan aku.

3 komentar:

irene salomo mengatakan... 17 Mar 2010, 18.16.00  

wah mantap2, izin share linknya ke FB ya kak :)

hmm,,, cerita yang indah,, jadi semangat menulis,,, hari-hari ini adalah hari cinta Tuhan kepada kita... :) Semangat melayani,,,

Kawas mengatakan... 22 Mar 2010, 18.29.00  

> iren: ya, silahkan di-share. Semoga jadi berkat bagi orang banyak :)

> kinan: ayo melayani, lewat tulisan :)

Posting Komentar

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo