Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


AKU PUNYA SEBUAH IMPIAN
Dr. Isabelo Magalit
(ringkasan artikel "I have a dream" dari buku Our Herritage)


Saya punya sebuah impian.... Saya memimpikan bahwa dari dunia mahasiswa bangsa ini akan muncul secara terus-menerus pria dan wanita yang mengasihi Tuhan Yesus lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun.
Pria dan wanita yang mengenal Allah mereka dan menaruh perhatian pada zaman mereka sehingga dapat melayani Allah yang hidup dalam generasi mereka. Pertama-tama mereka harus mengenal Allah mereka. Mengenal-Nya bukan hanya dengan kepala mereka tetapi juga dalam pengalaman hidup sehari-hari. Tahu dengan yakin bahwa Allah itu hidup dan bahwa Dia adalah Allah yang bertindak. Ia bukanlah berhala yang bisu atau produk sia-sia dari khayalan manusia. Ia adalah satu pribadi yang begitu jelas bekerja dalam hidup mereka sehingga menjadi satu-satunya alasan yang cukup dapat menjelaskan mengapa mereka begitu berbeda dengan semua orang lain di dunia. Mereka berbeda sebab mereka mengenal Allah secara pribadi.
Orang-orang ini bukanlah petapa-petapa yang hidup selamanya di biara untuk merenungkan misteri-misteri Ilahi. Mereka adalah pria dan wanita sejati yang hidup di tengah kenyataan masa kini yang sulit dihadapi: kemiskinan, penderitaan, ketidakadilan. Dalam situasi hidup sehari-hari itulah, bukan dalam atmosfir religius, mereka mengalami realitas kehadiran Kristus dan dapat membagikannya kepada orang lain. Mereka dapat membagikan kabar baik tentang Kristus dalam bentuk yang bermakna bagi orang-orang sezamannya dalam bentuk yang mudah dimengerti.
Mereka mengenal Allah dan menaruh perhatian kepada zamannya, sehingga mereka terus terkait dengan pelayanan pendamaian dua pihak yang bermusuhan: makhluk yang berdosa dan mementingkan diri sendiri di satu pihak dan Allah yang kudus yang mengasihi mereka di pihak yang lain.
Sebagian mereka dalam impian saya akan menjadi pendeta, mengisi mimbar-mimbar Injili terkenal di kota-kota besar. Mereka juga akan ada di tempat-tempat terpencil. Oleh karena itu, dibutuhkan sekolah teologi terbaik dengan pengajar-pengajar terbaik yang setia pada jiwa Injili.
Dari dunia mahasiswa juga akan muncul orang-orang profesional- dokter, insinyur, ahli hukum, pelaku bisnis. Dokter yang mau pergi secara pribadi ke daerah-daerah terpencil, di klinik-klinik misi, dimana tidak ada orang lain yang dipersiapkan untuk pergi. Betapa kita membutuhkan pelaku bisnis Kristen yang menghasilkan banyak uang, namun tidak menghabiskan untuk dirinya sendiri. Saya memimpikan juga bahwa ada orang-orang Krsiten yang akan terjun di dunia perfilman. Pertama-tama mereka harus menghasilkan film-film penginjilan yang berkualitas sehingga dapat diputar di bioskop kelasa atas. Tapi bukan hanya film penginjilan, juga film-film yang akan dapat meningkatkan nilai-nilai kehidupan masyarakat dan bangsa. Kita tidak hanya butuh pembuat film tapi juga jurnalis. Kita memiliki sangat sedikit penulis yang dapat menghasilkan literatur yang dapat membangun kehidupan orang percaya. Mimpi saya mencakup juga lahirnya politisi dan pembaharu sosial yang bertemu membahas Firman Allah, mendiskusikan kebutuhan bangsa dan menyusun rencana untuk memenuhi kebutuhan tersebut melalui aksi sosial dan politik. Orang-orang ini meliputi hakim, gubernur, anggota kongres, industrialis, kepala daerah, dan pekerja sosial. Akhirnya impian saya adalah melihat rumah tangga Kristen yang tidak terhitung banyaknya – sebagai tempat di mana kasih dan keadilan dibungkus dalam darah dan daging dalam kehidupan sehari-hari. Tempat dimana calon-calon warganegara di masa datang dididik, dimana orang-orang Kristen muda dibesarkan dalam iman, sementara tetangga menerima pemberitaan Injil dari orang-orang Kristen yang sungguh-sungguh memperhatikan mereka.
Pendeta, teolog, profesor, profesional, penulis, politikus, keluarga Kristen – yang kesetiaan tertingginya adalah kepada Kristus dan Injilnya. Dengan orang-orang seperti ini dalam Gereja Tuhan, kita akan mendukung dan mengirim misionaris ke Asia, m2m, ke Afrika, ke Amerika Latin dan bahkan ke dunia barat yang mengalami era pasca kekristenan. Ini adalah suatu visi yang besar.
Milikilah juga impian ini. Ambillah tempat Anda di dalamnya. Berdirilah dan masuk ke dalam barisan, untuk Kristus. Berikan padaNya segala sesuatu yang sudah Anda dapat. Dia layak menerimanya. Biarlah Ia ditinggikan di atas segala sesuatu. Filipi 2:6-11. Amin.

Read More..



Setelah berapa lama “hibernasi”, akhirnya muncul juga ke permukaan. Huaah,,, puas sekali rasanya. Sebenarnya bukan vakum juga sih, cuma berada “di belakang layar”, menyelesaikan beberapa artikel untuk gerejaku GBKP (Gereja Batak Karo Protestan), dan beberapa momen yang terjadi beberapa waktu ini, yang menyita waktu dan pikiran… Itulah yang mau aku sharingkan:

1. Di tengah kejenuhan rutinitas dan penantian, akhirnya aku mendapat kesempatan mengikuti Diklat Prajabatan Golongan II periode I dari 9-18 Juli 2009 di Hotel Griya Medan. Sebagai gerbang awal bagi PNS Depkeu untuk berkarya bagi bangsa ini :), itulah tujuannya dan harapanku juga. Kurang lebih 10 hari yang melelahkan, secara fisik dan mental. Targetnya bukan hanya pengetahuan, tapi justru ditekankan pada pendisiplinan. Diawasi oleh 2 instruktur dari TNI. Tiap subuh bangun, senam pagi, sarapan, apel/ baris berbaris, belajar di kelas, coffee break, ke kelas lagi, makan siang, istirahat, ke kelas lagi, makan malam, belajar, apel malam, istirahat. Kira-kira begitulah, ditutup dengan 2 hari ujian. Semua pria harus botak. Aku teringat kehiduan asrama sewaktu SMA.Tahun ini sebenarnya sudah jauh lebih baik. Tahun-tahun sebelumnya bukan di hotel, tapi barak TNI. Sekali lagi, tujuannya pasti baik, menghasilkan PNS yang teruji secara ilmu dan moral. Tapi jujur saja, ada rasa sedih di hati ini. Masih saja aku melihat ada orang yang “curi-curi pelanggaran”, entah itu merokok, atau tindakan pelanggaran yang lain. Menurutku, biro SDM sudah waktunya memikirkan cara yang lebih efektif untuk pembentukan moral dan mental. Aku pikir gimana cara ya, biar orang-orang yang “berjiwa pemberontak” gitu dikasi pelajaran/ sanksi aja, supaya mereka benar-benar tahu apa arti sebuah konsekuensi dari sebuah pelanggaran. Aku pikir, kalaupun selama diklat ini banyak orang bersandiwara, masakan itupun tidak mau mereka lakukan? Seringkali orang begitu. Dulu ingin sekali masuk STAN, kerja di Depkeu. Setelah dikabulkan Tuhan, malah seperti orang yang tak tahu bersyukur. Aku tidak tahu apakah teman2 pernah berpikir seperti ini: tapi aku pernah berbicara sendiri dalam hati: “Apakah di setiap tempat harus ada ‘sampah’-nya? Mungkin gak sih tercipta suatu kondisi di mana dalam suatu instansi (apapun itu), semua orangnya berkualitas, gak ada sampahnya? [terkhusus para abdi negara: PNS, Polri, TNI]”. Hah… sepertinya semua orang akan berkata gak mungkin. Tapi marilah tunjukkan rasa dan cahaya kita sebagai garam dan terang yang mampu berbeda dan berpengaruh. Saat diklat itu juga sebenarnya pengen aku jadikan sebagai momen untuk melihat pertumbuhan teman2 alumni PMK yang sudah lama tidak ketemu. Apakah mereka masih setia pada persekutuan, khususnya HPDT di tengah banyak kesibukan (khususnya saat diklat ini)? Tapi niat itu aku urungkan dalam hati, entah kenapa, ada rasa tidak enak, ya sudah aku doakan saja, supaya alumni2 tidak larut dalam kehidupan yang tawar tanpa Tuhan…sambil aku pun mengevaluasi diri dan terus berjaga-jaga.

2. Habis diklat, bapak-mamak ku menjemput ke hotel untuk langsung berangkat ke kampung karena Kerja Tahun (kegiatan tahunan di setiap kampung di Tanah Karo untuk saling berkunjung; sejarahnya dulu sebagai pesta panen. Setiap kampung berbeda tanggalnya. Kampungku di sebuah desa kecil, Singgamanik). Wah, senang sekali rasanya, habis diklat langsung berlibur ke kampung. Sudah lama memang aku gak ke sana. Akhirnya rindu itu terobati. Lelahnya diklat pun terlupakan dengan pemandangan kampung yang sangat indah. Teduh sekali rasanya di suasana desa seperti itu, udaranya sejuk, kabutnya lembut, menatap Gunung Sibayak dan Gunung Sinabung yang masih sangat indah… Wah, pokoknya indah sekali. Ditambah lagi beberapa makanan khas suku Karo yang merupakan ciri Kerja Tahun, yang dihidangkan untuk setiap tamu yang datang: cimpa = makanan yang terbuat dari tepung beras, diisi dengan gula tualah (gula merah dan kelapa), dibungkus dengan daun singkut (sejenis palem tapi rumput-rumputan), terus ada 1 menu makanan yang tak terlupakan, dan aku pun bergumul sangat untuk mengkonsumsinya: terites / pagit-pagit = makanan yang terdiri dari sayur, jeroan/ bagian dalam dan sedikit daging, dan digulai dengan kotoran lembu. Uuwwiihh,,, membayangkannya pasti sudah penasaran. Dan butuh waktu lama untuk beradaptasi. Tapi aku harus jujur mengakui, bahwa pada saat itu aku memang “terpaksa” memakannya juga. Huek, bagiku aromanya sangat menghilangkan selera makan, dan baunya baru hilang dari tangan atau mulut beberapa jam kemudian. Tapi anehnya, justru itu katanya yang membuat terites tetap menjadi menu nomor satu dalam menjamu tamu atau pesta-pesta Karo. Ya, itulah kekayaan budaya, walau secara ilmu kesehatan pun sepertinya enggan menjelaskan :)
Hari Minggunya, kami gereja di desa sebelah, GBKP Sari Nembah, tempat pemberkatan sewaktu bolang/opung ku meninggal tahun 2002. Kami sudah terlambat setengah jam, tapi gereja masih kosong. Ternyata hanya ada 5 orang di dalam, ditambah kami 3 orang. Karena masih sepi, jadinya ngobrol setengah jam lagi, tentang kerja tahun, kehidupan jemaat di situ, GBKP. Aku salut, tidak ada yang merokok, padahal ibadah belum mulai. Beda sekali kondisinya dengan gereja suku pada umumnya. Setelah itu akhirnya ibadah pun dimulai, hanya dengan 8 orang, yaitu 2 orang Pertua (1 yang khotbah, 1 lagi petugas umum), dan 6 jemaat (dan enam orang itu, kami semua adalah pendatang. Artinya, tidak ada penduduk situ yang bergereja hari itu). Tapi jujur, aku sungguh menikmati ibadah itu. Tenang, ruangan dan peralatannya semuanya sangat sederhana, tanpa mic. Seperti sedang merasa di daerah pedalaman yang baru didatangi tenaga misi penginjilan. Senang menikmati momen itu, sekaligus sedih dengan kesadaran beribadah di desa-desa (padahal sabtu sorenya dibunyikan lonceng gereja pertanda besok hari Minggu dan undangan ke gereja. Ini sudah tidak ada lagi di perkotaan).

3. Pulang dari kampung, masuk kantor lagi seperti biasa, ditambah latihan buat kebaktian gathering alumni (aku harusnya MC acara keakraban dan pemain roleplay) sampai malam. Semuanya kegiatan di Medan, jadi aku harus pulang-pergi Binjai-Medan. Akhirnya setelah beberapa kali, aku jatuh sakit. Aku semakin sadar, bahwa aku bukan superman, dan klimaksnya malah sehari sebelum acara. Aku bingung, gimana bilangnya ke pengurus, apakah harus diganti atau plan B yang lain. Saat itu juga aku komplain kecil-kecilan ama Tuhan: ”Tuhan, ini kan pelayanan-Mu, kenapa justru Kau buat aku sakit sekarang?”. Padahal aku sadar, aku yang salah, gak tau jaga kondisi (atau mungkin juga tertular dari teman seruanganku yang memang udah sakit duluan). (Maafkan aku, Tuhan). Kemudian aku mohon: ”Tuhan, sehari aja Kau buat aku kuat, demi pelayanan ini…” (kayak Simson aja). Ternyata Tuhan kabulkan.

4. Walaupun masih agak lemas dan dilarang naik sepeda motor, akhirnya aku diantar ke restoran Koki Sunda tempat acara Gathering Alumni-Perkantas Medan. Temanya itu loh… “Menjemput Impian”, membahas apa kata Firman tentang pasangan hidup dan apa yang seharusnya kita lakukan. Bang Denny Boy Saragih mengekspos Kitab Kidung Agung. Banyak juga yang aku semakin dibukakan, misalnya tentang inner beauty but outer expression, kedewasaan, tanggung jawab, hubungan yang sehat. Perasaanku antara mengerti, malu, senang, bangga, mengevaluasi, bercampurlah, dan juga ingin melanjutkan ke arah yang lebih serius bersama kekasihku Miss, yang sudah mendampingiku 5 tahun ini dalam jatuh bangun…Hehehe. Aku ingin selalu jatuh cinta lagi padanya berkali-kali, dan bertambah dalam lagi. Hihihi… Bersyukurlah karena Tuhan berikan kekuatan akhirnya aku bisa melayani hari itu, walaupun hanya sebagai roleplayer :) Beraksi sebagai seorang cowok yang menyatakan cintanya kepada wanita yang selama ini sudah didoakannya dan sudah disharingkan dengan 4 orang staf Perkantas. Huahauaaha… Pertama ditolak, tapi akhirnya dikasi kesempatan mencintai juga… Hah,,, paling tidak, malam itu aku sudah menghadirkan gelak tawa keceriaan di wajah-wajah alumni.
Sebenarnya sebelum mulai acara, ada satu hal yang sangat menarik perhatianku; Bang Jefri, BPC Perkantas Medan mengatakan bahwa hari itu harusnya jadwal KTB mereka, tapi karena ada acara itu, jadinya mereka datang lebih awal, supaya bisa KTB dulu. Dan aku sangat kaget sekaligus kagum, ketika melihat anggota KTB-nya datang; alumni yang sudah senior bersama dengan istri mereka. Mulailah mereka KTB sambil menyantap hidangan di meja masing-masing. Yang suami dipimpin Bang Jefri, yang istri dipimpin Istri Bang Tiopan (staf senior). Tanpa sadar ternyata aku sudah tersenyum dan melamun. Membayangkan apakah aku juga akan sanggup setia terbina atau membina, bahkan dalam KTB seperti itu, sampai di usia mereka? Bahkan dengan pendamping hidupku? Atau bahkan akankah Kelompok Kecilku akan tetap terjalin sampai selama itu? Aku berharap Ya! Dan aku juga ingin teman2 berpengharapan melalui teladan itu.

5. Ternyata Tuhan mengabulkan tepat seperti doaku waktu sakit. Setelah sehari diberikan kekuatan untuk melayani, besoknya aku sakit lagi!!! Malah tambah parah. Mungkin karena kondisi malam itu hujan dan dalam ruangan ber-AC, padahal kondisiku belum fit. Demam, flu, karena pilek, panasnya gak turun dan pusing, hidung mampet, susah bernapas. Batuk parah, antara kering dan berdahak, sangat menekan, buat tambah pusing dan sakit perut, jadilah lagi diare. Kurang selera makan, padahal lapar, ada asam lambung pula, jadi susahlah minum obat. Waduh menderitanya. Akhirnya karena semakin parah dan sampai gak masuk kantor, disuntiklah… dan alamaaaaakk sakitnya bukan main. Kayaknya belum pernah aku disuntik sesakit itu, dan itupun seminggu baru hilang rasa sakit dan pegalnya. Antara yakin dan tidak, apakah memang perawatnya terpercaya untuk mengobati. Tapi sudahlah, sekarang sudah sembuh, dan mampu tersenyum kembali. Hehehe…

6. Dalam masa akhir penyembuhan, eh diajak jalan-jalan ama teman2: Hendrawan, Nopa, Lia, B’Nanda dan satu teman baru: B’Frengki. Kami jalan2 ke Taman Simalem (antara Kab. Karo dan Dairi). Puji Tuhan, pemandangan alam terbagus yang pernah ku lihat. Belum pernah kulihat indahnya Danau Toba dan sekitarnya seperti saat itu. Begitu teduh. Seperti bukan Indonesia. Wah, bangga rasanya menjadi warga Sumatera Utara, tak kalah dari pemandangan lain di negara orang… Pulang dari situ kami menyegarkan badan, mandi di pemandian air panas Lau Debuk-Debuk di kaki gunung Sibayak, dan ditutup dengan makan BPK Ola Kisat Padang Bulan. Satu hari yang melelahkan namun menceriakan. Terima kasih teman-teman…

7. Isunya tanggal 18 Agustus, SK Penempatan definitif keluar. Aku akan ditempatkan Tuhan dimana di belahan Indonesia ini? Akankah tetap di Medan, atau menjemput impian ke Jakarta (lagi)? Atau tak keduanya? Entahlah. Sekalipun selama ini rasanya ragu mengambil pelayanan jangka pendek/ menengah karena waktu yang tak jelas, tapi aku ingin sekali berbuat sesuatu. Ingin ikut dalam perintisan PAB (Persekutuan Abdi Bangsa) kota Medan. Sebenarnya Indonesia punya harapan besar untuk lebih baik, melalui orang-orang yang takut akan Tuhan dan mau berkarya bagi bangsanya. Untuk itulah PAB ada, mengingatkan kepada Pegawai Negeri untuk punya passion yang menghasilkan action bagi nation. Aku sangat menikmati PAB Jakarta, dan akupun ingin kota besar Medan juga memilikinya. Tolong bantu doa dan dukungannya teman-teman…

Thank You my Lord for a beautiful day
Thank You my Lord I’m so happy to say
Thank You my Lord for the flowers that grow
There would be nothing i know without You
Foa all the music and the songs that we sing
For all the laughter and the joy that You bring
Thank You my Lord, I have nothing to fear
As long as i have You here beside me…
(Thank You my Lord for the sun in the sky, the rivers that flow, the birds in the tree, the rain and the snow, for all the mountain, for all the valleys… Thank You my Lord…)

-Kawas-.


Read More..





Sharing ini diterbitkan di Buletin PMK Universitas Budi Luhur Jakarta.
Shalom teman-teman PMK Budi Luhur (BL). Terima kasih untuk kesempatan sharing tentang kelompok kecil di Kampus Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (STAN). Sebagai kampus yang berada di wilayah pelayanan yang berdekatan (Jakarta Selatan 2), semoga STAN dan BL bisa terus saling membangun dan mendukung, baik dalam doa dan sumber daya.
What?
Kelompok kecil (KK) merupakan wadah pembinaan yang Allah gunakan di dalam sejarah. KK bukanlah produk suatu gereja atau persekutuan/organisasi tertentu. KK juga bukanlah suatu kelompok yang eksklusif, yang hanya dikhususkan untuk orang tertentu. KK adalah suatu kelompok yang terdiri dari 3-6 orang, yang sepakat untuk berkumpul secara kontinu dalam satu tempat dan melakukan berbagai hal yang menunjang pertumbuhan mereka dalam Kristus (mempelajari dan menerapkan Firman Tuhan). Tiap KK terdiri dari anggota dan satu pemimpin. Visi KK jelas: menghasilkan murid yang memiliki karakter Kristus (Yoh8:31-32, 13:34-35, 15:8, dll), dan bukan hanya itu saja, tetapi murid yang memuridkan kembali.

Karena itu di KK di STAN dinamai dengan KKP (Kelompok Kecil Pemuridan). KKP ini terdiri dari 3-5 orang Anggota KKP (AKK) dan 1 Pemimpin KKP (PKK). AKK tingkat 1 dipimpin PKK tingkat 2 dan AKK tingkat 2 dipimpin PKK tingkat 3, karena kami hanya punya waktu studi 3 tahun. Saat ini STAN memiliki total KKP seluruhnya lebih dari 60 KKP (seluruh tingkat, cowok dan cewek).
Who?
Semua orang harusnya menikmati dan terjangkau dalam KK. Dalam konteks PMK, semua jemaat seharusnya diperjuangkan untuk menikmati Injil dan terjangkau dalam KK. Walaupun memang sebuah perjuangan berat. Di PMK STAN, hanya sekitar 50% yang dibina dalam KKP. Doa kita, semoga terus Tuhan tambahkan.
Why?
• Perjanjian Lama: Allah sering memakai “kelompok kecil” untuk menggenapkan rencana-Nya. Contoh: keluarga Nuh, Daniel dkk, dll
• Perjanjian Baru: Teladan Yesus sendiri yang mem-fokus-kan pengajaran-Nya pada 12 murid, yang diharapkan melanjutkan misi-Nya memberitakan Injil ke seluruh dunia (Mat28:19-20). Teladan para rasul yang juga memuridkan, misalnya Rasul Paulus.
• Efektif dan efisien dalam segi interaksi, tempat, biaya, suasana, mendorong pertumbuhan, keterbukaan, fleksibel,dll.
Memang di kampus-kampus, KK-lah sarana pembinaan yang paling efektif, termasuk di STAN. Persekutuan besar setiap Jumat tidak akan cukup utnuk terus memperhatikan pertumbuhan jemaat, karena itu diperlukan KKP untuk memperhatikan pertumbuhan AKK demi AKK yang terus dipantau. Pertumbuhan dan ketaatan akan semakin terbina di KKP. AKK yang pertumbuhannya baik dan terpanggil untuk melayani kemudian dijadikan pelayan, pengurus, sehingga orang-orang yang terlibat dalam pelayanan bisa terbina dengan baik. Itulah sebabnya KK sering disebut “tulang punggung” PMK. PMK yang memiliki KK yang kropos, lama kelamaan akan semakin rawan karena pertumbuhan jemaat (apalagi pelayan dan pengurus) tidak terpantau dengan baik. Itupun pernah dialami PMK STAN.
Where n When?
KK bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, tergantung kesepakatan semua anggota. Di STAN sendiri, waktunya bisa bermacam-macam, tapi biasanya sore atau malam karena dari pagi sampai siang banyak kegiatan studi dan pelayanan lain. Atau pagi hari kalau libur atau sedang tidak ada kuliah. Untungnya memang sebagian besar anak PMK STAN ngekos di sekitar kampus, jadi waktu dan tempat bertemunya lebih bisa diatur.
Melihat pertumbuhan KKP PMK STAN yang cukup luar biasa, memang suatu anugrah. PMK STAN sebenarnya baru saja menikmati masa-masa Allah menggerakkan pertumbuhan KKP. Itu juga hasil dari dukungan banyak pihak dan kampus lain, dalam doa dan daya. Pergerakan ini diawali tahun 2005. Anak tingkat 1 yang baru masuk, “ditantang” apakah mau ikut KKP atau tidak. Bagi yang bersedia, diikutkan KKP. Karena saat itu PKK belum ada, maka untuk pembinaan PKK diadakanlah KKP Sedang setiap hari Sabtu pagi, yang dipimpin staf Perkantas, yang memperlengkapi PKK dalam mempersiapkan bahan KKP, serta mengajari dan melatih skill menggali Alkitab (PA induktif). KKP Sedang ini masih berlangsung sampai sekarang, dengan bahan KKP: MHB (Memulai Hidup Baru) untuk tingkat 1 dan Ketuhanan Kristus untuk tingkat 2. Tahun 2006, sedikit berbeda. Semua anak tingkat 1 (baru) langsung dibagi dalam KKP, dan untuk penjangkauannya diserahkan kepada PKK yang telah disusun. Dari hasil evaluasi yang ada, di tahun 2007 mengalami perbaikan. Anak baru di-Injil-i dulu melalui PIPA (Pengabaran Injil melalui PA), yang dibagi dalam KK-KK. Kemudian baru ditanyakan kesediaan mereka ikut KKP, kemudian disusun per PKK. Bagi yang menyatakan tidak bersedia pun sebenarnya terus didoakan dan di follow up melalui kunjungan,dll. Dan betapa pujian syukur hanya kepada Tuhan ketika di tahun 2008 ini, PMK STAN boleh mulai mencicipi buah yang dianugrahkan Tuhan. Bisa melihat KKP-KKP di sekitar kampus STAN yang bisa mempelajari Alkitab bersama, pembinaan bagi pengurus dan jemaat yang semakin baik, bahkan puji Tuhan, PMK STAN akhirnya bisa menjadi berkat melalui PKK Misi yang bermisi menjadi PKK di kampus lain (termasuk BL ). It’s only by His grace...
How?
Ada pengajaran (pembahasan Firman, bahan/ kurikulum KKP), penyembahan (pujian dan doa), persekutuan (sharing kondisi), pengutusan (proyek ketaatan, akhirnya kembali memuridakan dan memberitakan Injil kepada orang lain). Dalam KKP, harus ada murid yang dihasilkan; murid yang ber-karakter Kristus.
Ingat, waktu kita di kampus hanya sebentar. Terbatas. Jangan sia-siakan. Kenallah Tuhan, sekarang!
Buat teman-teman di BL, tetap semangat mengikut Tuhan. DIA rindu, kamu juga menjadi murid-Nya. Kamu mau?
Tuhan memberkati.

Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008

Read More..


Lukas 14:33 “Demikian pulalah tiap-tiap orang di antara kamu, yang tidak melepaskan dirinya dari segala miliknya, tidak dapat menjadi murid-Ku.”

Mengikut Yesus pasti butuh “pengorbanan”. Tapi tunggu dulu, pernyataan ini tidak sesempit itu juga. Kenapa? Nanti jawabannya ada di bagian berikut.
Sungguh ajaib, paradoks dalam Kekristenan: kita harus rela “melepaskan” sesuatu untuk “mendapatkannya”. Dalam pelayanan juga demikian, ada hal-hal yang harus kita lepaskan (baca: korbankan; ada “harga yang harus dibayar”) demi pelayanan yang terbaik kepada Allah.
Bersyukur PMK STAN kembali diberi kesempatan untuk sharing pelayanan, yang saat ini temanya “bayar harga”.
Karakteristik seorang pelayan adalah berkorban, seperti yang diteladankan Kristus (Filipi 2). Seorang pelayan harus bersedia membayar harga pelayanan. Mungkin yang kami hadapi juga tidak jauh berbeda dengan yang teman-teman hadapi di kampus atau tempat pelayanan kita masing-masing. Berikut beberapa hal yang sering “dianggap sebagai harga yang harus dibayar” dalam pelayanan (khususnya konteks PMK STAN):

Pikiran. Sering ada saat-saat di mana pengurus harus mencurahkan segenap pikirannya demi memikirkan jemaat (dalam lingkup lebih kecil: pengurus, pelayan, PKK, AKK), dan program-program yang ada. Padahal mungkin saat itu juga pengurus sedang punya masalah lain/ pribadi yang harus dipikirkan. Belum lagi kalau dilihat pengurus dan jemaat PMK STAN yang berjumlah besar, lebih dari 500 orang, yang pasti dengan berbagai pemikiran. Tetapi saat-saat seperti itulah seringkali justru kita semakin menikmati Allah bekerja.
Perasaan. Terkadang kurang dihargai, ada juga sakit hati, kurasan emosi, ya... tapi itulah warna dalam pelayanan yang akhirnya membuat kita kembali memandang kepada Kristus untuk mampu tersenyum dan berkata “Aku ingin tetap melayani-Mu, Tuhan”...
Uang. Pengeluaran-pengeluaran seperti: ongkos, pulsa, terkadang makan di luar, dan biaya-biaya lain yang terkadang tidak terasa jumlahnya namun kalau diakumulasi sudah menguras kantong seorang mahasiswa yang uang kirimannya bulanannya pun terbatas :). Tetapi hal ini akhirnya lebih mengajarkan arti memberi, berhemat, prioritas dan aplikasi ilmu ekonomi :)...
Waktu. Terkadang lebih banyak keluar daripada di kos; lebih banyak rapat; lebih sering nyiapin pelayanan; sering pulang malam; berjam-jam di jalan, dll. Memang terkadang salah sendiri sih kalau gak bisa mengatur waktu, sering keteteran jadinya. Tapi semakin belajar berhikmat untuk tetap menyisihkan waktu terhadap studi. Apalagi waktu kuliah di STAN sering tidak pasti; terkadang sangat kosong, tiba-tiba sangat padat :) dan ancaman DO tiap semester yang sering membayangi :)
Tenaga. Pastilah dalam pelayanan ada waktu di mana kita lelah dan butuh istirahat. Terkadang kalau lagi banyak yang sedang dikerjakan jadi sering telat makan, telat tidur... dan...saat-saat yang menggembirakan, di saat-saat itu, berdatanganlah sms dari beberapa pengurus/PKK: [“Tetep smangaad!! \^-^/ Ada yg mw ddoain? :) Ingat, Allah sumber kuatku...Gbu”] :)
Zona kenyamanan yang lain: hobi, kesenangan, ambisi-ambisi pribadi untuk lebih dikenal, dihargai, aktif dalam berbagai kegiatan, dll yang mungkin harus kita “nomor sekian-kan” demi pelayanan, demi kepentingan Allah dan jemaat-Nya.
Daftar tersebut bisa terus kita perpanjang bahkan kita tambah-tambahi dan akhirnya semakin bias dengan hitung-hitungan. TETAPI, kalau kita renungkan apa yang sudah Yesus berikan buat kita, bahkan nyawa-Nya... maka semua daftar di atas sangatlah tidak sebanding dengan betapa besar kasih-Nya, dan akhirnya kita pun tertunduk dan bersyukur...
Kembali ke pernyataan di awal sharing ini: Mengikut Yesus pasti butuh “pengorbanan”. Ya. Tapi tunggu dulu, bukankah sebagai suatu keuntungan, kita bisa berkorban, ambil bagian dalam pelayanan Allah? Saya ingin berbisik dan mengajak kita sadar: “Ternyata kita adalah orang yang beruntung, bisa berkorban...”
Tidak ada yang terlalu berharga demi jiwa-jiwa dibawa kepada Kristus. Pelayanan kepada orang lain bukan sebagai gangguan atau beban, tetapi sebagai kesempatan: “merupakan hak istimewa bisa melayanimu”.
Kalau Allah sudah memberikan segala-galanya buat kita, bukankah hal yang wajar, jika respon kita memberikan segala-galanya buat DIA? Lagipula, bukankah segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36).
Paling akhir di sharing ini, saya ingin menyajikan satu bait lagu yang sangat saya suka, kerinduan di dalam hati:
Terindah dalamku rela aku tinggalkan
Terkasih dalamku rela ku lepaskan
Asal hati Yesus merasa s’nang selamanya
Kar’na aku tahu apa arti hidupku...



Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008

Read More..


Bila kam ada waktu…
(Anniversary, 23 Juni)

Aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintainya, belajar melupakan. Dia mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku. Rasanya aku tak percaya. Beberapa kali mengulang, mencoba memastikan, jawabannya tetap sama: dia tidak menyayangiku. Ya, aku harus menelan pil pahit di masa-masa akhir studi. Tak kusangka, rasa sayangku harus ku kubur jauh di palung hati. Justru di saat hati ini ingin berteguh memulai sehelai lembaran baru untuk dijalani sepenuh hati setelah banyak belajar dari kegagalan dan kejatuhan masa silam. Justru di saat itu pula hatiku langsung diuji dan tersadar bahwa memang tak mudah. Namun aku tahu, aku harus pergi. Berangkat dengan berbagai angan dan beranjak meninggalkan sejuta kenangan. Aku harus pergi melanjutkan kehidupanku. “Tapi aku bersyukur, aku pernah menyayangimu, sudah kuungkapkan, dan kam tahu itu. Entah sampai kapan. Terima kasih untuk semua ini.” Begitu kata terakhirku mengiringi perpisahan kami.
Tapi tidak tahu, saat membalikkan badan dan kaki ini menginjakkan langkah demi langkah, dia masih saja setia menunggu, berdiri terus di atas balkonnya memperhatikan kepergianku sampai tak dilihatnya lagi. Makin gundahlah hati ini. Hati kecilku yakin kalau dia menyayangiku. Tapi satu sisi lain, aku terus meyakinkan diriku untuk tidak usah berharap, karena dia sudah beberapa kali menyatakannya dengan jelas.
Tapi masih saja gelisah, karena suara hati yang menang: kenapa dia rela berbohong (tidak jujur saja mengatakan “Ya, aku juga sayang”)? Apa karena teman-temannya (yang memang tidak menyetujui)? Aku cuma bisa menghela napas, kalaupun benar begitu, memang aku yang salah, terima sajalah…
Tapi... masih saja, cinta mengalahkan segalanya. Seakan tak pernah terjadi sesuatu apapun, sebelum berangkat ke pulau yang jauh, aku memastikan (lagi) perasaannya padaku. Oh Tuhan… seakan tak percaya (bahkan untuk hal yang selama ini justru ku percayai dengan sungguh-sungguh, meskipun di muka bumi ini cuma aku yang percaya). Dia mengatakan kalau dia menyayangiku. Ku tanya sejak kapan? Dia jawab tidak tahu; tidak usah ditanya kapan dan kenapa. Yang jelas dia mengakui tidak ingin menyesal dan terlambat lagi, untuk mengatakan bahwa dia benar-benar mencintaiku. Aku memastikannya sekali lagi, dan ia menjawab dengan lebih mantap lagi. Dia mengatakan tidak tahu apakah waktu seindah ini akan datang lagi, karena itu tidak akan disia-siakannya. Dia memastikan, dia menyayangiku dan ingin menjalani cinta ini bersamaku.
***
Hahahaha… Memori itu masih terlintas jelas di ingatanku. Itu 5 (lima) tahun yang lalu. Dan sampai detik ini, dia masih setia mengisi hati dan hariku. Ternyata sudah 5 tahun. Mungkin angka yang besar, bagi pasangan yang masih dalam hitungan minggu, bulan [atau belum sama sekali :)], tapi adalah angka yang sangat kecil bagi mereka yang telah menjalaninya selama puluhan tahun. Ya, perjalanan masih sangat panjang dan penuh kejutan. Kami memulai hubungan ini dengan jarak jauh, penuh keraguan akankah bertahan, ternyata bisa. Tuhan menganugerahkan kebersamaan selama tiga tahun. Dan kini kembali lagi terpisahkan oleh jarak. Bahkan melihat kondisi pekerjaan, kelihatannya akan sangat mungkin untuk terpisah lagi oleh jarak, entah berapa kali lagi, entah berapa lama lagi. Tinggal menunggu…
Akhirnya belajar sendiri bagaimana menjalin komunikasi dan mengelola rindu di saat rasa itu melanda. Seringkali bulan menjadi sasarannya. Ketika muncul di malam hari, aku mengajaknya untuk menyempatkan diri memandang bulan pada saat yang bersamaan, dan berbisik via telepon: “Bulan yang kita lihat sama kan? Semoga pandangan kita bertemu di bulan itu”. Hahahaha. Pernah aku merayunya dari kalimat yang ku dapat dari film: “Kam tau berapa jarak yang ditempuh bulan untuk menyinari kam?”. “Gak tau”, jawabnya. “Sekitar 962 mil”, sahutku. “Wow, jauh banget”, balasnya. “Tapi kam memang pantas mendapatkannya, karena kam sangat berharga”. Hahahaha. Momen-momen itu, memanjakan jiwa melankolis ini…
23 Juni 2004-23 Juni 2009, banyak hal yang telah terjadi. Suka-duka, tawa-air mata, mengisi perjalanan penuh liku ini. Tapi satu hal, Tuhan tidak pernah meninggalkan. Beberapa kali terjatuh, tapi Tuhan tetap menopang. Benarlah kata pemazmur: TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. (Mzm37:23-24). Doa kami, biarlah kami boleh terus setia kepada Tuhan yang senantiasa setia menyertai langkah-langkah kami. Kiranya Allah terus mengaruniakan hati yang setia. Kami tahu perjalanan ini tidak selalu mulus, karena itu yang paling diperlukan adalah kasih setia, apalagi di saat keraguan menguji hati ini. Biarlah doa kami seperti doa Pemazmur: “Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.” (Mzm33:22), “Lanjutkanlah kasih setia-Mu (ya Allah)…” (Mzm36:11). Itulah kenapa kata “kasih” selalu diikuti kata “setia”, karena kasih haruslah setia/ terus menerus/ tak berkesudahan, seperti kasih Allah. Sungguh standar yang maha tinggi. Aku pribadi mengakui masih perlu belajar banyak untuk hal ini. Bukan berarti tidak mungkin dicapai, tetapi terus berjuang untuk hal itu. Bukan berapa kali kita jatuh, tetapi berapa kali kita bangkit. Itulah dinamika yang disediakan Tuhan untuk menikmati karya keindahanNya di dalam hidup ini. Untuk segala sesuatu ada masanya. Pengkhotbah 3:1-11 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya…ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;… ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;…ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;…ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai…Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”. Di gelombang kehidupan itu Allah terus bekerja. Sungguh indah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Tapi aku tahu, Allah ada di sana, dan itu sudah cukup! Semua ada waktunya. Cuma aku yang sering tak sabar. Tak sabar untuk bertemu dirinya, tak sabar untuk selalu dekat dengannya dan tak terpisah lagi. Hatiku, bersabarlah, hai sang waktu, berbaik hatilah… :) Aku ingin menutup tulisan rindu ini dengan sebuah puisi spontan yang sangat sederhana, buat pujaan hatiku:
Bila kam ada waktu…

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan pandangi rembulan tersenyum syahdu,
Sinarnya yang lembut dan sederhana menyatu,
Ditemani bintang, yang bermain mata, tersipu.

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan menyentuh embun pagi,
Sinar mentari yang setia menemani,
Sampai permisi di senja hari untuk berganti malam lagi.

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan mengingatku lagi,
Mengunjungiku kalaupun jauh dari sisi,
Menatapku dengan penuh arti,
Hingga kekosongan ini tak bermakna lagi, kala cinta ini bersemi…

---
Kam kan pernah bilang, kalau kita ini adalah malaikat bersayap satu, yang hanya dapat terbang jika saling berangkulan?
Aku ingin sekali terbang bersamamu…
Itupun kalau kam punya waktu.
Aku menunggu.

Kasihmu selalu, Kak Kawas-
yang dengan segala keterbatasannya ingin mencintaimu dengan lebih baik…

P.S.: kalau nanti aku menggubah syair ini menjadi sebuah lagu, aku akan memulainya dengan chord minor, supaya orang bisa merasakan betapa senyapnya lagu ini. Itupun kalau ada waktu :)

Uh, aku merindukannya. SMS ini pernah ku kirim kepadanya:

Sender:
Name missing
Number missing
Sent: Date missing
Missing u a lot hat’s why
Everything is missing…
Luv u.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo