Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


23 Maret 2015. Hari ini kami memperingati hari jadi perkawinan kami yang kedua. Kami masih kapas. Versinya buku Grace on Marriage menuliskan:orang hanya berani menghitung kebahagiaan pernikahan sampai angka 60 tahun saja.

Tahun ke-1      :           Perkawinan Kertas (paper)
Tahun ke-2      :           Perkawinan Kapas (cotton)
Tahun ke-3      :           Perkawinan Kulit (leather)
Tahun ke-4      :           Perkawinan Bunga (flower)
Tahun ke-5      :           Perkawinan Kayu (wood)
Tahun ke-6      :           Perkawinan Besi (candy)
Tahun ke-7      :           Perkawinan Tembaga (copper)
Tahun ke-8      :           Perkawinan Perunggu (bronze)
Tahun ke-9      :           Perkawinan Periuk (pottery)
Tahun ke-10    :           Perkawinan Timah (tin)
Tahun ke-11    :           Perkawinan Baja (steel)
Tahun ke-12    :           Perkawinan Sutera (silk)
Tahun ke-13    :           Perkawinan Renda (lace)
Tahun ke-14    :           Perkawinan Gading (ivory)
Tahun ke-15    :           Perkawinan Kristal (crystal)
Tahun ke-20    :           Perkawinan Tembikar (china)
Tahun ke-25    :           Perkawinan Perak (silver)
Tahun ke-30    :           Perkawinan Mutiara (pearl)
Tahun ke-35    :           Perkawinan Karang (coral)
Tahun ke-40    :           Perkawinan Manikam (ruby)
Tahun ke-45    :           Perkawinan Nilam (sapphire)
Tahun ke-50    :           Perkawinan Emas (gold)
Tahun ke-55    :           Perkawinan Ratna (emerald)
Tahun ke-60    :           Perkawinan Intan (diamond)

Dan kami masih di step ke-2: Kapas. Saya searching karakteristiknya: berwarna putih, berbentuk serat halus yang susunan seratnya longgar, ringan, mudah terbakar. Sifat fisik produk dari kapas: bahan terasa dingin dan sedikit kaku, mudah kusut, mudah menyerap keringat, rentan terhadap jamur. Ya, mungkin masih seperti itulah pernikahan kami. 2 tahun penuh makna dan pembelajaran. Kami bersyukur,Tuhan yang setia menuntun kami sampai di titik ini. Banyak hal yang sudah DIA kerjakan dalam keluarga kecil kami. Saya pribadi, saya sungguh berbahagia dianugerahi 2 wanita istimewa dalam keluarga ini.


Yang pertama, putri kecil kami, Luvmika Gloria Tarigan (Lulu). Kehadirannya membawa keceriaan tiap waktu, dan bersamanya kami banyak mendapat pelajaran tentang hidup beriman. Bagaimana Tuhan mencukupkan kebutuhan kami bulan demi bulan, bagaimana DIA menyembuhkan anak kami secara mujizat. Kami sungguh bersyukur dan takjub. Kami berjuang sebaik-baiknya membesarkannya, karena kami tahu bahwa kami tidak sekedar sedang merawat anak, tapi dalam rangka menghasilkan generasi unggul penerus bangsa ini puluhan tahun lagi. Kiranya Lulu terus berkembang dan bertumbuh menjadi wanita terbaik, takut akan Tuhan, seperti ibunya: Misni, wanita teristimewa dalam hidup saya. Bersamanya, saya merasa menjadi suami yang terberkati. Bukan karena kesempurnaannya, tetapi karena kasih, kesetiaan, kesabaran, ketangguhannya dalam berdoa dan berjuang.

2 tahun ini tidak banyak berubah, dia tetaplah Misni yang seringkali tidak menutup kran air dengan sempurna, susah untuk menjawab hp dengan cepat, bisa bolak balik ke kamar 10 kali sebelum berangkat keluar rumah, ada saja barangnya yang ketinggalan, lupa naruh kunci dimana. Tapi itulah Misni yang kadang mengesalkan sekaligus merindukan, memancing marah sekaligus penenang gundah. Melihatnya, saya bisa menuliskan Amsal 31 versi saya sendiri. Pagi-pagi dia bangun untuk menyusui Lulu, sambil bersenandung atau menyanyikan lagu rohani, dan membacakan 1 pasal Alkitab setiap hari. Malam-malam dia tidur setelah kami renungan malam, dia menyusui Lulu dan memastikan besok pagi semua perlengkapan sudah siap. Dia sepi dari dunia maya, tetapi terus mengikuti informasinya. Di rumah, dia membuat aturan seminim mungkin menggunakan gadget, demi quality time. Dia tidak gembar gembor tentang ASI di media sosial, karena itu adalah naturnya ibu, layak dan wajar, tidak perlu diekspos. Sama seperti orang Kristen yang rajin berdoa, atau pegawai yang bekerja dengan baik. Tanpa digaungkan pun, itu akan tetap dikerjakan, karena memang seharusnya begitu. Striker sepakbola, Mario Balotelli, mengatakan: "When I score, I don't celebrate because I'm only doing my job. When a postman delivers letters, does he celebrate?"

Lebih dari itu,dia adalah partner terbaik, mendukung saya menjadi suami seutuhnya, pelayan Tuhan yang maksimal, imam keluarga. Kalau banyak ibu-ibu yang permisif tidak ikut ini itu karena punya anak kecil, dia setia mendampingi saya pelayanan, bahkan bukan hanya berjuang ikut, tapi selagi bisa dan mungkin, dia akan memboyong anak kami untuk turut ikut di pelayanan/ persekutuan/ kegiatan itu.

Saya ingin menjalani tahun ke-3, 4, 10, 60, 100, pernikahan kami, sampai mati bersamanya. Tentu kisah cinta terindah tidak hanya terjadi dalam dongeng. Saya mengumpulkan beritanya, dan berharap daftar pasangan ini sampai kepada nama kami sebagai pasangan kekasih yang menuliskan cerita cinta, kisah sejati itu.

  • Betapa bahagia pasangan Gordon Yeager (94) dan Norma (90), pasutri Amerika Serikat yang menikah pada tahun 1939 dan menjadi perbincangan dunia tahun 2011 karena meninggal dengan berpegangan tangan. Mereka mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan keduanya kritis di rumah sakit dan tidak ingin dipisahkan sampai meninggal hanya selisih 1 jam dengan tangan yang masih saling berpegangan. Saat itu usia pernikahan mereka telahmelampaui 72 tahun.
  • Ada lagi pasangan J.C. dan Josie Cox yang menikah tahun 1932. Memasuki usia senja, JC mengalami gangguan pendengaran, dan Josie gangguan penglihatan. JC membantu Josie untuk melihat dan Josie membantu JC untuk mendengar, saling melengkapi. Karena sudah tua dan sakit komplikasi paru dan jantung yang mereka derita, mereka dirawat dan akhirnya meninggal di rumah sakit yang sama, di hari yang sama, tepat pada ulang tahun ke 75 pernikahan mereka.
  • Pasangan Joey dan Mel Schwanke asal Fremont, California, Amerika Serikat. Usia pernikahan mereka telah mencapai 65 tahun. Mereka selalu memakai baju kembar atau senada. Kebiasaan ini sudah berlangsung selama 35 tahun.
  • Jack Millis dan Millie, asal Cambridgeshire, Inggris. Jack memberikan setangkai bunga setiap hari kepada istrinya Millie. Kebiasaan itu sudah dilakukan 70 tahun. Bila dihitung, Jack yang kini sudah berusia 89 tahun, telah memberikan 3000 bunga bagi Millie selama tujuh dekade kebersamaan mereka.
  • Tom Shovelton dan istrinya Joan asal Pentre Flintshire, North Wales. Meski di usianya yang telah memasuki 87 tahun, sikap romantis Tom tak pernah luntur sedikit pun pada Joan yang empat tahun lebih muda. Setiap hari sejak menikahi Joan, Tom tak pernah lupa menaruh setangkai mawar disamping tempat tidur dan memberikan sebuah ciuman selamat pagi dan selamat malam. Ini sudah 60 tahun dilakukannya.

Suatu saat nanti, kami pun ingin diingat orang karena kesaksian cinta yang Tuhan anugerahkan dapat kami jaga dan perjuangkan, sampai mati. Ada satu buku bagus yang sangat menolong saya dan istri: The Momentary Marriage (John Piper). Buku ini juga sering saya pakai untuk berkhotbah tentang kasih/ pernikahan. Saya mengutip kalimat penting dari buku ini, ketika ia menjelaskan tentang keharusan untuk mempertahankan pernikahan, dalam kondisi apapun:
“Karena itu, mempertahankan pernikahan bukan hanya soal mempertahankan cinta. Ini berkaitan dengan mempertahankan perjanjian. “Sampai kematian memisahkan kita”, adalah janji kudus pernikahan – sama seperti janji Yesus kepada mempelai-Nya (jemaat-Nya) ketika Ia mati untuknya... Kristus tidak akan pernah meninggalkan istri-Nya (kita). Selamanya. Mungkin ada masa-masa yang menyakitkan dan kemunduran di pihak kita. Tetapi Kristus mempertahankan perjanjian-Nya selamanya. Pernikahan harus menampilkan hal itu! Itulah yang utama dalam pernikahan. Pernikahan mempertontonkan kepada dunia: kasih ikatan perjanjian Kristus”.
Di buku itu juga mengutip pernyataan Dietrich Bonhoeffer, seorang pendeta yang dipenjara selama kekuasaan Nazi/ Hitler, dalam bukunya “Letters and Papers from Prison”, dituliskan: Sebagaimana Anda saling memberikan cincin, tetapi Anda menerimanya dari tangan pendeta, demikianlah cinta datang dari Anda, tetapi pernikahan datang dari atas, dikaruniakan oleh Allah. Sebagaimana Allah lebih tinggi daripada manusia, demikianlah tingginya kekudusan, kebenaran, dan janji dari kasih. Bukan cinta Anda yang menopang pernikahan, melainkan sejak sekarang, pernikahanlah yang menopang cinta Anda.

Inilah yang ingin kami tunjukkan, menjadi etalase kasih Allah, yang bisa disaksikan orang lain, bagaimana Allah begitu mengasihi kami sehingga kami dimampukan untuk mempertahankan kasih. Sekalipun masih kapas.
Di hari jadi ini, kami rayakan dengan outdoor dinner, menikmati santap malam bersama, bersantai, berdoa, berbincang, memeluk anak kami, memandangi langit yang sangat cerah malam itu. Waktu terbaik untuk bersyukur.

Mengingat pergumulan dan perjalanan yang masih sangat panjang, saya ingin mengakhiri tulisan ini dengan 2 doa, Serenity Prayer:“God, grant me the serenity to accept the things I cannot change; the courage to change the things I can; and the wisdom to know the difference”.
Dan doa Daud: “Kiranya Engkau sekarang berkenan memberkati keluarga hamba-Mu ini, supaya tetap ada dihadapan-Mu untuk selama-lamanya. Sebab, ya Tuhan ALLAH, Engkau sendirilah yang berfirman dan oleh karena berkat-Mu keluarga hamba-Mu ini diberkati untuk selama-lamanya." (2 Samuel 7:29)

Sayangku Misni,
Terima kasih untuk 2 tahun ini. Kam masih secantik yang dulu. Happy anniversary, hasian. Kam membuatku mengerti arti bahagia dan bersyukur. Aku ingin menggandengmu sampai kita menaiki panggung keabadian dan membungkuk memberi hormat.
Pendampingndu,
Bp. Lulu.


0 komentar:

Posting Komentar

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo