Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Jakarta, Pebruari 2011.
Berkat sebuah pertemanan...

Teman, apa kabar? Kami berdoa semoga semua baik-baik saja, sama seperti kami di sini... Semua baik, karena kebaikan dan penyertaan Tuhan selalu melimpah atas kita.

Ehm... teman, kami teringat kebersamaan kita dulu, waktu masih di kampus, sewaktu masih mahasiswa, sewaktu semangat kita masih menyala untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, bagi keluarga, gereja dan bangsa... Bagaimana semangat kita sekarang? 2 tahun lebih setelah kita di-wisuda, bulan demi bulan setelah memasuki dunia kantor, masihkah semangat itu menyala? Terlalu naif rasanya jika berharap semangat itu akan terus menyala dengan konstan atau bertambah besar. Kamipun mengalaminya. Penuh pergumulan. Kadang semangat itu menyala begitu hebat, dalam bekerja, dalam berdoa, dalam menjaga kekudusan, menyaksikan identitas diri sebagai seorang pekerja Kristen, tapi kadang... semangat itu redup dan semakin redup, butuh suatu energi yang besar untuk membakarnya lagi, dan itu kami dapatkan di KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang kami lanjutkan di sini. Di KTB, kami belajar menjaga semangat itu tetap menyala, menjaga relasi dengan Tuhan, Sang Sumber Kekuatan, saling mengingatkan, dan saling mendoakan. Kalian di sana bagaimana?

Teman, kami teringat tawa kita dulu, sewaktu semuanya begitu akrab, begitu dekat. Tapi sekarang, Tuhan mengizinkan kita untuk berkarya di tempat yang berbeda. Mari yakini, bahwa setiap yang terjadi dalam hidup kita, semua dalam kendali Allah, dan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan! Termasuk dalam menempatkan kita di kantor masing-masing untuk berkarya di Indonesia yang luas ini. Indonesia butuh anak-anak Tuhan untuk menjadi lilin-lilin kecil di setiap daerahnya. Lilin ini harus tersebar untuk menunjukkan terangnya, dan kita sedang berada dalam misi ini: menjadi terang yang menerangi lingkungan kita masing-masing, mulai dari lingkup terkecil, kantor di mana kita berkarya. Ini hanya masalah jarak, tetapi berkat sebuah pertemanan, jauh melebihi tantangan jarak. Kita boleh dipisahkan oleh jarak, tapi kita disatukan oleh doa, kita diikat oleh kasih Kristus.

Teman, mari terus saling mendukung untuk tetap setia pada Allah yang setia. Setia dalam relasi dengan Dia, setia dalam beribadah, setia dalam bekerja jujur dan berbuat yang terbaik. Mungkin kita hanya bertanggungjawab untuk sebuah tugas dan pelayanan kecil, mungkin menurut orang lain tanggung jawab ini tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan tanggung jawab besar lainnya. Namun janganlah kita sampai kehilangan inti dari apa yang kita kerjakan. Dalam tugas-tugas yang terkecil sekalipun, kita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ada prinsip dasar yang harus dipegang, yaitu kita sedang menyampaikan sesuatu kebenaran sebagai pengikut Kristus. Dalam keseharian, sebetulnya kita sedang diamati, bagaimana cara kita menangani tugas-tugas kecil dan menjengkelkan, bagaimana cara kita merespon orang-orang yang sulit ditangani, bagaimana cara kita berkomunikasi, bagaimana cara kita merespon di saat sedang lelah; dalam semua ini kita menunjukkan nilai-nilaiKristus yang kita percayai. Terlalu sedih rasanya jika memikirkan kegagalan-kegagalan kita menjadi saksi Kristus. Kita semua tahu betapa rentannya kita ketika melayani sebagai orang Kristen; sementara pada waktu yang sama terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan. Walaupun mungkin dipandang sebagai orang Kristen yang setia, kita tahu bahwa dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Allah terus menopang kita dengan firman dan Roh-Nya, juga dengan persekutuan teman-teman seiman, yang terus mendorong kita untuk maju. Mari kita saling mendukung. Kalau ada yang ingin kalian sampaikan, bagikan, ceritakan, kami ada. Telinga kami terbuka lebar untuk kisah kalian, tangan kami siap terlipat untuk mendoakan kalian. Itulah kekuatan kita, itulah kesatuan kita. Hanya sejauh doa.

Teman, kata orang ini bulan kasih sayang, tapi kami mau bilang, bahwa setiap bulan, setiap hari, kami sayang kalian. Kata orang juga, coklat lambang manisnya hidup, jadi kami kirimkan coklat ini, dengan cinta kami, sebagai tanda manisnya pertemanan kita... Surat ini juga kami sertakan sebagai wujud relasi seorang teman kepada teman yang dikasihinya. Hehe...

Teman, sampai bertemu di keadaan yang lebih baik. Kadang, tak sabar rasanya, menunggu waktunya Tuhan, entah berapa tahun lagi, ketika ada di antara kita yang semakin Tuhan percayakan tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi bangsa ini, ketika ada di antara kita yang dipercayakan Tuhan sebagai pemimpin, yang penuh kasih Kristus, berdiri tegap bagi instansinya, bagi bangsanya, bagi nama Tuhan. Ini mimpi kita, kan? Mari berdoa dan bekerja, menjadikannya nyata. Mulai dari sekarang,mulai dari apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun, sesederhana apapun, menjadi berkat bagi daerah di manapun Tuhan tempatkan kita sekarang untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya, berkat bagi Indonesia, berkat memberikan suatu pengaruh kecil dalam perbaikan kondisi bangsa, berkat dari doa seorang teman kepada temannya yang lain, berkat sebuah pertemanan...

“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ams 17:17.

Dari teman-temanmu: Andri Mok2, Dapot, Kasogi, Kawas, Kristyanu, Risanto, Angga, Misni, Valen.

Read More..


Doa terakhir
(Yohanes 17:6-23)


Aku berdoa untuk mereka… (Yoh 17:9)

Sebuah anekdot ringan yang mungkin sudah sering kita dengar, mengkhayalkan percakapan iblis dengan Tuhan Yesus, sesudah Dia tidak lagi di dunia ini. Iblis bertanya, “Apa cara yang Kau lakukan agar seluruh dunia percaya kepada-Mu?”. Yesus menjawab, “Aku pakai murid-murid-Ku, mereka yang akan memberitakannya”. “Bagaimana kalau mereka gagal? Apa plan B-nya?”, iblis balik bertanya. Dan Yesus langsung menjawab, “Tidak ada plan B!”.

Fiksi singkat ini memberi tahu kita bahwa cara Allah untuk menyebarkan kasih-Nya dan membuat dunia percaya kepada-Nya adalah melalui murid-murid-Nya. Bukan hal yang sulit bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang spektakuler dan mengagumkan (entah melalui alam ciptaan-Nya, atau hal-hal ajaib) untuk menunjukkan ke-maha-kuasa-an-Nya dan keadilannya, sehingga semua orang di dunia ini –mau tidak mau –harus sujud menyembah Dia. Tapi Yesus tidak pakai cara itu, Dia punya cara sendiri: murid-murid!
Bacaan pagi terakhir ini berisi doa syafaat Tuhan Yesus untuk 12 murid-Nya (ay.6-19) dan semua orang yang percaya kepada-Nya(20-26). Yohanes mencatat bagian ini sebagai doa terakhir Sang Guru sebelum terpisah dari murid-Nya, tepat sebelum penggenapan karya salib Kristus.
Doa terakhir... Isinya pasti sangat penting. Dan yang Yesus lakukan ialah mendoakan murid-murid-Nya, agar Bapa memelihara mereka (11), menguduskan mereka (17). Dia ingin agar mereka dilindungi dari yang jahat, disempurnakan dalam kekudusan, dan supaya mereka menjadi satu. William Barclay menulis, “Kekristenan tidak pernah bermaksud menarik manusia dari kehidupannya, namun bertujuan untuk memperlengkapinya dengan lebih baik dalam kehidupannya. Kekristenan tidak membuat kita terlepas dari masalah, tetapi menawarkan suatu jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Kekristenan tidak menawarkan kedamaian dengan mudah, tetapi menawarkan suatu kemenangan atas pergumulan hidup. Kekristenan tidak menawarkan suatu kehidupan yang terbebas dari masalah, tetapi menawarkan suatu kehidupan, di mana masalah harus dihadapi dan diselesaikan... Orang Kristen tidak boleh berkeinginan untuk meninggalkan dunia, tetapi harus selalu berkeinginan untuk mengalahkan dunia... Orang Kristen harus dikuduskan dari dunia, tapi tidak berarti bahwa ia harus hidup sendirian. Orang Kristen membutuhkan saudara seiman lainnya. Kesatuan orang Kristen memberikan kekuatan bagi orang percaya dan menjadi saksi bagi yang belum percaya –dua pertolongan penting bagi para pengikut Yesus dalam menghadapi masa-masa sulit”.
Di pagi terakhir ini, berdoa jugalah. Ambil waktu untuk mengingat semua yang didapatkan selama retreat, mengapa retreat ini ada dan diikuti berbagai mahasiswa, berbagai kampus. Ingatlah jemaat yang Tuhan percayakan, murid-murid yang dihasilkan. Doakan agar Tuhan memelihara, menguduskan, dan kita dimampukan berjuang menjaga kesatuan, seperti kerinduan-Nya. Sepulang dari sini, kita tidak tahu tantangan pelayanan ke depan. Tapi, 2000 tahun yang lalu, Yesus telah berdoa syafaat untuk umat-Nya, termasuk dirimu, termasuk kampusmu. Kerjakanlah bagianmu...
Doakan kerjamu, kerjakan doamu.


(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)

Read More..


Mau pergi?
(Yohanes 6:60-71)

Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67).

Saya terlarut dalam narasi ini. Seakan-akan saya masuk dalam cerita itu, berada di sana, menyelip di antara gerombolan murid. Saya takjub melihat Yesus. Saya hadir ketika Dia melakukan mujizat, ketika Dia menyembuhkan, apalagi ketika Dia memberi makan 5000 laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak), saya kekenyangan. Saya juga ikut menyeberang menemui-Nya, dan kagum mendengar khotbah-Nya. Saya turut terkejut ketika Dia mengatakan "Akulah roti hidup… sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu….” (ay.48-58). Saya mengerutkan dahi, mencoba mengerti dan menerima pernyataan Guru yang saya kagumi itu. Tapi selagi berpikir, eh, gerombolan murid yang jumlahnya banyak tadi mulai membubarkan diri. Saya heran, lho bukannya mereka itu yang ikut menyeberang mencari Yesus? Bukannya mereka tadi juga ikut melihat langsung mujizat Yesus dan makan roti, ikan? Mengapa mereka kini pergi? Saya ragu bila mereka tidak mengerti apa yang Yesus katakan, justru saya yakin mereka mengerti, sehingga mereka bersungut: "Pengajaran ini terlalu berat. Siapa yang dapat menerimanya!" (ay.60 BIS). Oh, jadi itu masalahnya, bukan tidak mengerti, tapi tidak mau menerima, dan akhirnya memilih pergi. Kekerasan itu sebenarnya ada di dalam hati mereka, bukan pada perkataan Yesus.

Saya kaget juga ketika Yesus bertanya, "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?”. Ternyata Yesus tahu keberatan mereka, dan Dia mengatakan hanya oleh Roh kita bisa mengerti apa yang dikatakan-Nya, dan hanya atas karunia Bapa kita bisa percaya lalu mengikut-Nya.
Rombongan yang tadinya puluhan ribu orang, hanya tinggal sedikit sekali, tinggal belasan (itupun ada yang tidak setia). Walau belum mengerti sepenuhnya, saya memilih untuk tinggal di situ, berdiri di samping Petrus. Tiba-tiba Yesus menatap kami dalam-dalam… bukan tatapan mengusir, justru sangat menguatkan. "Apakah kamu tidak mau pergi juga?”, kata-Nya. Saya diam, tapi saya tahu Yesus mengharapkan jawaban “tidak” dari pertanyaan-Nya. Ah… untunglah Petrus menjawab mewakili kami, "Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."
Saya masih saja terkagum. Yang dicari Yesus bukan popularitas, ketika banyak orang yang mengikut-Nya, Dia tidak melunakkan pengajaran-Nya. Yang diprioritaskan-Nya bukan kuantitas, tapi kualitas. Karena yang dicari-Nya bukan sekedar pengikut (TEV: follower), tapi murid (disciple) yang siap dengan segala konsekuensi mengikut-Nya. Itulah yang Dia ingin kita kerjakan: menghasilkan murid. Berapa banyak orang di kampus yang ramai-ramai ikut retreat, kebaktian, kelompok kecil atau persekutuan doa? Tapi berapa banyak murid yang dihasilkan? Kalau tidak ada, sebenarnya kita tidak sedang mengerjakan apa-apa.
Jadilah murid, dan hasilkanlah. Bayangkan saat ini dirimu juga ada di barisan itu, dan Yesus sedang menatap penuh makna ke arahmu, bertanya pertanyaan yang sama: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Jawablah di retreat ini.


(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)

Read More..

Selamat buat alumni yang akan bekerja. Selamat berkarya bersama Allah, bagi masyarakat, bagi gereja, keluarga, dan bangsa.
Aku heran, setiap kali mendengar/ melihat orang yang luar biasa senang ketika dia ditempatkan di kota besar, di tempat yang tidak jauh (bukan di luar jawa sumatera misalnya), mungkin memang dia punya pergumulan sendiri, masalah keluarga, kesehatan, dan aku sangat menghargai itu. Tapi, yang aku sangat heran, kalau alasan rasa syukurnya itu, hanya karena apa yang dipikirkannya selama ini terkabul semua/ sebagian. Ini juga berlaku terbalik, aku tak habis pikir melihat orang yang begitu sedihnya ketika "apa yang ada di kepalanya" tidak terkabul. Jangan2 dia lupa, Allah punya rencana besar yang seringkali tidak bisa langsung kita mengerti, dan sering tidak sesuai rencana kita. Lagian kalau mau jujur, seringkali semua subjek atas rencana kita, cuma aku, aku dan aku... Puji Tuhan, aku ditempatkan di sini, supaya aku... nanti aku... trus aku bisa... mudah2an aku... syukurlah aku... coba kalau aku di situ, aku bisa... aku pasti... aku mau... Kapan giliran Allah? Kapan mereka/ orang lain merasakan kehadiran kita? Tidakkah Allah memakai orang yang dikasihi-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain lagi? Apakah Indonesia sesempit Jawa Sumatera? Tidakkah Allah sayang umat-Nya dari barat sampai timur?

Allah tidak pernah membiarkan seseorang pergi ke tempat di mana kasih karunia-Nya tidak cukup untuk menyertai. Allah tidak pernah membuat kesalahan! Ragukah engkau akan hal
itu???
Bagian kita hanya taat dan setia, ke manapun DIA suruh. Mungkin padang rumput, mungkin air tenang, bahkan lembah kekelaman, tapi itu bukan soal, ketika TUHAN yang jadi Gembala. Masalahnya bukan apa yang kita lewati, tapi bersama SIAPA kita berjalan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, entah enak atau tidak, tapi satu hal yang pasti kita tahu, TUHAN ada di sana, dan itu sudah CUKUP!
Ada 2 lagu yang sampai sekarang sanggup menenangkan hatiku: (semoga juga hatimu)

Shepherd of my soul I give you full control,
Wherever You may lead I will follow.
I have made the choice to listen for Your voice,
Wherever You may lead I will go.

Be it in a quiet pasture or by a gentle stream,
The Shepherd of my soul is by my side.
Should I face a mighty mountain or a valley dark and deep,

The Shepherd of my soul will be my guide.

Shepherd of my soul Oh You have made me whole,
Where’er I hear You call how my tears flow.
How I feel your love how I want to serve
I gladly give my heart to You O Lord.

Be it in the flowing river or in the quiet night,
The Shepherd of my soul is by my side.
Should I face the stormy weather or the dangers of this world.
The Shepherd of my soul will be my guide.

Lagu yang satu lagi:

I will follow wherever He leads
ev’ ry problem my sa viour He knows
Though the path may be long with His help I’ll be strong
I will go just wherever he goes

Reff:
He may lead me to countries Where troubles surround
Eventhere He’ll be with me I know
I promise I’ll follow
Where ver Christ leads me, and so
I will go just wherever He goes

When the sun starts to set in the sky
I shall know that I’m nearer my home
But until that great day I shall still trust and pray
I will go just wherever He goes
Reff:

Kalau hidup adalah perjalanan, ku ucapkan selamat berjalan. Have a great journey with God.

Read More..


Alumni: perwujudan visi

I was not disobedient to the vision from heaven... (Paulus – Kis26:19)


Ketika dihubungi untuk sharing tentang visi PMK di buletin ini, saya merasa tidak layak, apalagi sharing sebagai alumni. Sharing tentang visi - sebagai alumni - apa yang dinikmati - apa dampaknya. Ah... Saya ini masih sangat muda. Rasanya untuk tema sepenting dan sangat esensi ini, ada orang yang lebih baik, lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih tangguh. Itu yang pertama. Yang kedua, apalah yang telah dihasilkan PMK STAN, persekutuan yang pernah saya pimpin bersama tim inti yang lain. Kampus diploma, kedinasan, gratis, yang sudah berdiri lebih dari 3 dekade, setiap tahunnya meluluskan alumni yang langsung bekerja di Kementerian Keuangan, yang katanya “banyak uang”, namun terlanjur di-cap miring oleh masyarakat awam, terlebih lagi dengan seringnya media memberitakan kasus korupsi dan penyelewengan di Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, sampai-sampai sempat muncul slogan masyarakat “kampus penghasil koruptor”, atau yang lebih rohani: dari jaman Alkitab, orang pajak dan pemungut cukai-lah orang paling berdosa. Miris. Bagaimana mengobarkan visi menghasilkan alumni yang menjadi garam dan terang di kondisi yang demikian?
Dua alasan ini membuat saya tertunduk, tapi sekaligus menganggukkan kepala pertanda setuju untuk menulis sharing ini dengan apa yang saya punya, dengan apa yang telah saya saksikan, dengan apa yang telah Allah kerjakan dalam diri saya dan PMK STAN.

Sudah 6 tahun belakangan ini, dari ribuan mahasiswa yang masuk STAN, rata-rata 10%-nya (200 ratusan lebih) mahasiswa Kristen menambah jumlah anggota PMK STAN setiap tahun. Kebanyakan dari daerah (luar Jakarta) dan banyak dari golongan ekonomi menengah ke bawah, yang rela meninggalkan kesempatan kuliah di PTN lain, demi kuliah gratis dan langsung kerja. Dari latar belakang ini, ada dua kondisi (baca: kenyataan) yang mungkin terjadi setelah alumni: sangat bersyukur atas anugerah Allah, punya pola hidup menderma dan sederhana sekalipun penghasilan yang lumayan, atau yang kedua: lupa daratan! Tentu opsi pertama yang selalu saya doakan dan harapkan. Dan mimpi itulah yang kami kerjakan di PMK: nantinya mahasiswa ini menjadi alumni yang makin cinta Tuhan dan benci dosa, berintegritas, mampu mengintegrasikan iman dan ilmunya, sebagai Penjaga Keuangan Negara (slogan Kementerian Keuangan: Nagara Dana Rakca). Mereka bukan sekedar alumni, tetapi alumni KRISTEN, yang harusnya berdampak, menunjukkan rasanya sebagai garam dan cahayanya sebagai terang. Bekerja jujur, rajin, bukan hanya sekedar kode etik, tapi sebagai perwujudan takut akan Allah. Visi yang sederhana: menghasilkan alumni yang dewasa dan berdampak. Entah apapun kalimatnya: menghasilkan murid Kristus, garam terang, mimpinya tetaplah sama. Visi itulah yang terus ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, yang dikerjakan dalam bentuk misi dan program dengan waktu yang singkat selagi berada di kampus. Untuk apa ada Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan, Pengutusan? Dalam rangka mewujudkan visi itu. Untuk apa tiap Jumat sore ada persekutuan? Untuk menghasilkan alumni yang berakar dalam Kristus. Untuk apa ada kelompok kecil? Untuk menghasilkan alumni yang dewasa. Untuk apa persekutuan doa dan pembinaan lain, dan program-program lain? Untuk menghasilkan alumni yang siap menyaksikan Kristus dalam hidupnya. Dalam setiap kegiatan, pengurus harus menyadari sasarannya apa. Saya selalu menanyakan: ini untuk apa? Ngapain mengadakan itu? Mereka harus tangkap visinya. Jadikan visi ini sebagai visi pribadi, tularkan ke pengurus yang lain, tularkan ke jemaat, tularkan ke semua orang menjadi visi bersama, visi ilahi. Ini memang mimpi besar, tapi tidak ada hal besar yang terjadi tanpa diawali oleh mimpi/ visi yang besar. Dalam suatu KTB, saya pernah berkata: “siapa bilang PMK STAN tidak bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik? Tunggu waktu-Nya Allah!! Kita tetap kerjakan visi ini”. Think globally act locally. “Mimpi bagi bangsa ini dimulai dari membina mahasiswa STAN”, itu saya katakan dalam beberapa kesempatan. PMK STAN ada di dalam visi besar Allah, untuk memperbaiki bangsa ini. Beberapa kali sharing dengan orang-orang kunci, bahkan dengan beberapa generasi di bawah, saya sering katakan: tiap melihat wajah-wajah jemaat, milikilah visi ilahi, penglihatan ilahi, cara Allah berbelas kasihan, mereka ini mahasiswa-mahasiswa yang bisa dipakai Allah menjadi pemimpin seturut kehendak-Nya. Memang mereka mahasiswa, tapi nantinya mereka jadi pemimpin. Bukankah itu visi besar? Student today, leader tomorrow.
Saya teringat ketika menjadi Ketua Umum, setiap ikut pembinaan, retreat, kamp, selalu VISI digaungkan, dan harus meresap dalam diri setiap pelayan. Bahaya terbesar dalam pelayanan mahasiswa adalah hilangnya atau semakin kaburnya visi. Kegiatan tetap ada, dana tetap tersedia, orang-orang masih ada, tapi tidak ada lagi “nyawa” dalam setiap hal yang dilakukan, hanya sebatas organisasi dengan banyak program. Tanpa visi, PMK hanya sebagai kumpulan pengurus yang sibuk melakukan ini itu tanpa tahu “mimpi besar” dari hal yang dikerjakannya. Gerakan-gerakan (movement) tetap dilakukan: doa, belajar Alkitab, penginjilan sampai misi; tapi tanpa visi, movement itu hanya menjadi monument yang menjulang tinggi tanpa dampak. Dan kenyataan sekarang: movement-movement yang selama ini kita cap sebagai keunikan PMK, sekarang tidak unik lagi. Prayer movement, bible movement, evangelism movement, discipleship movement, mission movement, tidak eksklusif menjadi ciri pelayanan PMK, sudah banyak gereja yang mengerjakan movement itu. Mungkin yang tertinggal hanyalah interdenomination movement dan student movement, itupun sepertinya tidak lagi, sudah banyak organisasi pelayanan dan parachurch yang juga memperjuangkan kedua hal itu. Jadi, keunikan PMK sudah tidak unik lagi. Tapi, pelayanan mahasiswa haruslah tetap unik. Dan apa yang bisa menjaganya tetap unik? Cuma satu: VISI. Hanya pelayanan mahasiswa yang mempunyai visi menghasilkan alumni yang menggarami dan menerangi dunia ini dengan iman dan ilmunya. Darimana kita jelas melihat keunikan PMK itu? Dari outputnya: alumni. Kapan PMK dikatakan mempunyai discipleship movement? Ketika ada alumni-alumni yang masih rindu memuridkan di tengah kesibukannya sebagai alumni, ketika ada alumni yang berjuang keras membentuk komunitas-komunitas di kantornya, di gerejanya, atau lingkungannya. Kapan PMK dikatakan unik dalam hal prayer movement, bible movement dan yang lainnya? Ketika ada alumni-alumni yang tetap menjadi pendoa yang setia, mencintai firman Tuhan, atau sederhananya: memperjuangkan relasi pribadi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, pelayanan, sesibuk apapun, sejauh manapun Tuhan tempatkan dia di bagian Indonesia ini. Itulah kekuatan VISI, itulah kehebatan VISI. Visi-lah yang menggerakkan pengurus-pengurus terus berjuang membina mahasiswa untuk mimpi besar: menghasilkan alumni yang berdampak bagi dunia ini. Visi-lah yang membuat seorang alumni tetap mau ikut Yesus sekalipun susah bahkan menderita. Dan itu bukan isapan jempol belaka. Itu sangat mungkin terjadi. Ketika ada orang-orang yang berjuang dan tetap TAAT demi visi ilahi itu. Alkitab sudah mencatatnya. Sejarah sudah membuktikannya. Ada Abraham, Musa, Nehemia, Daniel, Petrus, dan rasul-rasul yang lain, ada Paulus. Ada Polikarpus, John Sung, Wiliam Carey, A.W Tozer, Nommensen, C.S Lewis, David Livingstone, William Wilberforce, Marthin Luther King Jr, Leimeina, T.B Simatupang, dan pejuang-pejuang visi lainnya, yang telah membuktikannya. Teruskan nama-nama itu sampai ke namamu. Dan biarlah kampusmu menghasilkan nama-nama itu. Itulah VISI, mimpi, dan bersama Allah, sangat mungkin terwujud jadi kenyataan. Trust and obey.
Sekarang saya memang masih sangat muda dan belum menjabat apa-apa. Tapi visi itu terus bergema di hati, terjaga dalam KTB, apalagi setiap dihubungi menjadi pelayan dalam pelayanan mahasiswa. Saya tersenyum dan bersyukur bahwa saya tidak pernah sendiri, teman-teman saya yang lain juga sedang berjuang. Kami turut bersedih lalu berdoa ketika melihat visi itu memudar bagi beberapa orang alumni. Saya selalu mengingatkan pengurus: orang yang berintegritas itu tidak banyak, biarlah PMK STAN menghasilkan orang yang tidak banyak itu. Untuk visi itulah, PMK STAN ada.
Ah... saya terlalu banyak bercerita tentang STAN. Tapi saya memang dihubungi untuk itu: sharing sebagai alumni STAN, yang menikmati visi Allah sewaktu mahasiswa. Tapi bukan berarti pekerjaan Allah hanya di STAN. Ketika kamu membaca artikel ini, ketika buletin Nehemia ini ada di tanganmu, Tuhan juga bisa memakai dirimu untuk visi besar-Nya. Dia bisa bekerja memakai kampusmu, menghasilkan alumni yang v(m)isioner, dalam setiap bidang ilmu, ekonomi, hukum, sosial, politik, teknik, kesehatan, Indonesia membutuhkan alumni dari kampusmu, yang takut akan Tuhan. Mimpikanlah. Kerjakanlah. Dream your work, work your dream.

Kawas Rolant Tarigan, alumni STAN, sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.

[tulisan ini dimuat dalam NEHEMIA edisi Nopember 2010; Buletin Doa PMKJ]

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo