Kawas Rolant Tarigan

-now or never-



STRATEGI HIDUP KRISTEN


Kawas Rolant Tarigan


Mengapa tema strategi hidup Kristen menjadi sangat penting?
1.     Banyak orang Kristen hanya berhenti sampai perumusan visi dan misi hidup, namun melupakan strategi. Akhirnya banyak mimpi yang tak tergapai, hidup berjalan tidak efektif, banyak hal tertunda, dan waktu terlewat begitu saja. Inilah salah satu cara kerja iblis yang halus, membuai kita terlena, tak terasa semakin tua, dan kita belum melakukan apa-apa yang begitu berarti selama hidup. Dunia menawarkan berbagai alternatif strategi hidup, tapi belum tentu kristiani.
2.     Jangan terjebak pada 2 ekstrim. Ekstrim yang pertama adalah orang-orang yang terjebak dalam ’pimpinan Roh’. Jadi apa yang mereka lakukan tergantung kepada Roh, tanpa ada satu penataan dalam hidupnya. Ekstrim yang kedua adalah orang yang sebegitu menata hidupnya sampai-sampai Allah terlupakan atau terabaikan. Kita harus berada dalam tegangan yang harmonis: bagaimana di dalam pimpinan Roh, kita menata hidup dengan penuh tanggung jawab.
3.     Hidup hanya sekali, sesudah itu akan mati, dan kita tidak tahu kapan itu terjadi. Jadi kita harus hidup secara maksimal dan penuh arti, bukan diukur dari kesementaraan (harta, jabatan, ketenaran), melainkan dari kekekalan (dampak hidup kita bagi Allah untuk sesama/ menghasilkan Kerajaan Allah di dunia ini). Memaksimalkan hidup kita bagi Allah hanya mungkin dicapai dengan hidup terencana: efisien dan efektif. Efisien berbicara tentang penghematan tenaga, waktu, dan dana, (do the things right); sedangkan efektif berbicara soal hasil, dampak, dan kemaksimalan di dalam hidup kita, (do the right things).
 
Ayat penuntun
 
1.     Ef 5:15-17 - Akribos
Be very careful, then, how you live--not as unwise but as wise, making the most of every opportunity, because the days are evil. Therefore do not be foolish, but understand what the Lord's will is. (NIV)
Tentang penjelasan bagian ini, Sen Sendjaya menguraikannya dengan sangat baik dalam bukunya Jadilah Pemimpin demi Kristus:
Kata asli yang dipakai untuk “perhatikan dengan seksama”: adalah AKRIBOS. Kata ini berarti exactness, precision, accuracy. Sesuatu yang dibutuhkan oleh seorang ilmuwan yang sedang menganalisa suatu zat di bawah mikroskop dengan sangat teliti dan menyeluruh. Hidup akribos adalah hidup yang tidak sembarangan, selalu sepadan dengan standar, dengan sebuah idealisme. Dalam PB, kata ini dipakai minimal 4 kali: Mat 2:8 (akribos seperti seorang detektif), Luk 1:3 (akribos seperti seorang jurnalis), Kis 18:25 (akribos seperti seorang guru), 1 Tes 5:2 (akribos seperti seorang murid). Ada 1 benang merah, akribos yaitu ketelitian dan akurasi yang begitu tinggi yang mampu dipertanggungjawabkan.
Dalam Ef 5:15, kata Akribos ini tidak menggambarkan sebuah profesi, melainkan gaya hidup. Gaya hidup yang selalu siap siaga, mawas diri, tidak lengah. Efesus adalah kota metropolitan yang paling besar dan paling sibuk di Asia Kecil pada waktu surat ini ditulis (sekarang bagian dari Turki). Bukan hanya itu, Efesus adalah kota pusat penyembahan berhala dengan kuil Dewi Artemis yang sangat tersohor sehingga semua orang datang berduyun-duyun pergi menyembahnya. Sebagaimana kota metropolitan pada hari ini, segala macam dosa ada di Efesus. Kepada jemaat ini Paulus berkata: “Perhatikanlah dengan seksama bagaimana kamu hidup!”. Betapa peringatan ini berlaku bagi kita yang hidup di zaman sekarang.
Anda dan saya akan disebut orang bebal bila kita hidup terus menerus ditipu dan dikalahkan oleh dunia, oleh hawa nafsu daging, dan oleh setan. Ketiga musuh utama orang Kristen ini disinggung Paulus di awal surat ini (2:1-3). Hidupmu jangan lengah, sebab jika engkau lengah, engkau akan kembali kepada hidupmu yang lama, manusia lama yang selalu berkanjang dalam dosa, sama seperti orang yang belum mengenal Allah.
NIV Study Bible Notes memperlihatkan bagaimana Paulus menggunakan penegasan antonim di bagian ayat ini: unwise . . . wise. Having emphasized the contrast between light and darkness (8-14), Paul now turns to the contrast between wisdom and foolishness. foolish . . . understand. The contrast continues. "Foolish" here is a stronger word than "unwise". The foolish person not only misses opportunities to make wise use of time; he has a more fundamental problem: He does not understand what are God's purposes for mankind and for Christians.

2.     2 Tim 4:1 - Coram Deo
Di hadapan Allah dan Kristus Yesus yang akan menghakimi orang yang hidup dan yang mati, aku berpesan dengan sungguh-sungguh kepadamu demi penyataan-Nya dan demi Kerajaan-Nya
Di akhir masa hidupnya, di penjara yang suram dan terbelenggu, Rasul Paulus masih saja dengan iman yang berkobar menuliskan surat terakhir/ surat regenerasi ini untuk meneguhkan Timotius. Paulus memandang hidup sebagai sebuah pertandingan iman, yang sebentar lagi akan ia akhiri dengan baik, dan memasuki tahap (baca: keberangkatan; NIV: departure) yang baru. Mengawali dan mengakhiri perikop ini (ay.1 dan 8), Paulus menekankan bahwa Kristus adalah Hakim yang akan mengevaluasi seluruh hidup kita. Allah melihat seluruh detail hidup kita, tidak ada yang tersembunyi. Inilah yang disebut Coram Deo: hidup di hadapan Tuhan. R. C. Sproul menyatakan “The big idea of the Christian life is coram Deo. Coram Deo captures the essence of the Christian life.” Lebih lanjut dia menjelaskan: “This phrase literally refers to something that takes place in the presence of, or before the face of, God. To live coram Deo is to live one’s entire life in the presence of God, under the authority of God, to the glory of God. To live in the presence of God is to understand that whatever we are doing and wherever we are doing it, we are acting under the gaze of God. It involves recognizing that there is no higher goal than offering honor to God. Our lives are to be living sacrifices, oblations offered in a spirit of adoration and gratitude”.
Pdt. Liem Kok Han dalam satu khotbahnya berkata: Coram Deo, kita harus senantiasa menyadari bahwa kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan. Semakin kita mengenal Tuhan maka semakin tidak menegakkan diri atau menonjolkan diri. Pengenalan kita akan Tuhan sangat mempengaruhi hidup ibadah, hidup kesalehan dan hidup aktivitas rohani kita. Coram Deo adalah istilah besar, kita sedang hidup dalam hadirat Tuhan, Allah yang Mahahadir dan yang Mahatahu. Saat hidup dalam dunia ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita sedang dilihat Tuhan. Apapun yang sedang kita kerjakan kita harus sungguh menyadari bahwa kita sedang melakukannya di hadirat Tuhan, Pemilik alam semesta ini... Coram Deo berarti kita mau hidup saleh. Orang saleh adalah orang yang hidup dalam hadirat Tuhan yang menyadari bahwa seluruh tindakannya adalah respons kepada Tuhan. Tuhan yang berdaulat atas hidupnya dan apa yang dilakukannya adalah hanya untuk menyenangkan Tuhan.

3.     Mat 6:33 – Focus on God
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu.
Kalau ditanya satu ayat ringkas yang menyatakan 1 fokus hidup manusia, ayat inilah jawabannya. Tujuan, prioritas, yang paling ultima dan satu-satunya dalam hidup manusia hanyalah Allah. Selama hidup, tak perlu cari berkat-Nya, tetapi single-minded carilah Allah – Sang Pemberi berkat, maka tidak ada lagi kekuatiran dalam hidup. (ay. 25 Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?).
Sen Sendjaya kembali menjelaskan dengan sangat baik tentang konsentrasi hidup yang hanya berfokus kepada Allah: Terlalu banyak pemimpin Kristen yang tidak efektif  menjalankan perannya bukan karena kurang terampil, kurang pengalaman, atau kurang training; namun karena mereka terlalu banyak memiliki fokus hidup. Perhatian dan energi mereka dikuras di berbagai area hidup.  Menjadi orang tua di rumah, menjadi pemimpin perusahaan A, manajer B, direktur perusahaan C dan D, konsultan perusahaan E, dosen universitas F, majelis gereja G, ketua panita H, pengurus organisasi I, dan seterusnya.
Mau tidak mau, setiap pemimpin harus berhadapan dengan sebuah pertanyaan sulit saat ia ingin hidup efektif bagi Kristus. Apakah satu hal yang anda dapat lakukan, yang saat ini tidak anda lakukan, yang jika dilakukan konsisten, akan menimbulkan perubahan positif besar dalam hidup anda dan orang lain? Inilah konsentrasi. Memang tidak mudah untuk fokus, perlu pengorbanan. Perlu belajar berkata “tidak” pada hal-hal yang baik, untuk dapat berkata “ya” pada satu hal yang terbaik. Good is the enemy of the best. Setiap orang yang Tuhan bangkitkan dalam sejarah dunia menginvestasikan hidup mereka dalam satu hal (bukan dua atau tiga hal).
Itu berarti kita dituntut membuat prioritas hidup yang tepat. Masalahnya, seringkali prioritas kita disusun seperti berikut: (1) Allah, (2) keluarga, (3) pekerjaan, (4) pelayanan. Akibatnya kita merasa tertarik ke berbagai area di mana tidak ada Tuhan dalam perencanaan dan keputusan kita. Prioritas yang lebih biblikal adalah (1) Allah, (2) Allah dalam keluarga, pekerjaan, pelayanan, dan seterusnya. Dengan kata lain, kita hanya memiliki satu fokus yaitu Allah. Saat kita memandang Allah, segala dimensi lain dalam kehidupan ada pada perspektif yang benar. Dan kita menjadi seorang yang holistik: Kristus benar-benar menjadi Pemilik/ Tuan (Kurios) atas hidup kita (tidak lagi mendikotomikan antara sekuler dan rohani).
Kita tidak perlu menjadi seorang “full timer” untuk dapat dikhususkan bagi Allah, karena Allah memakai setiap individu yang Ia panggil dalam berbagai peran dan profesi. Namun kita perlu berhenti bermain-main dengan hidup. Kita perlu berhenti hidup sembarangan, hidup untuk hal-hal remeh. Kita perlu serius berpikir apakah kita numpang lewat dalam hidup ini (lahir-dewasa-menikah-mati), atau ingin menjadi orang yang jika anda rindu dipakai menjadi pemimpin yang langgeng dan berdampak penting, berilah dirimu dikhususkan (consecrated) dan difokuskan (concentrated) pada Allah.

4.     Mrk 1:35-39 - Relationship with God
"Marilah kita pergi ke tempat lain, ke kota-kota yang berdekatan, supaya di sana juga Aku memberitakan Injil, karena untuk itu Aku telah datang."
Ketika orang banyak mencari Yesus, dengan segala permasalahannya, dengan segala perjuangan, ternyata secara mengejutkan dan sepertinya kejam, Yesus tidak melayani mereka dan meninggalkan mereka.  Mengapa? Karena Yesus tahu visi dan tujuan utama kedatangan-Nya adalah memberitakan Injil, bukan yang lain. Darimana Yesus mendapat kepekaan yang sangat tinggi untuk tetap fokus pada tujuan utama-Nya itu? Ay.35 menjelaskan, Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana. Disiplin menjaga relasi yang intim dengan Allah adalah kunci agar kita tidak ter-distraksi dengan hal-hal yang bukan utama. Sisihkan (bukan sisakan) waktu untuk melakukan disiplin rohani: saat teduh, berdoa, merenungkan firman Tuhan. Dengan disiplin inilah kita semakin peka mengambil keputusan, mana yang harus kita kerjakan karena “Tuhan suruh”, mana yang kita tolak. Terlalu sibuk, justru harus berdoa. Kita sangat mudah untuk jalan mengikuti kemana kesibukan membawa kita. Kelelahan membuat tujuan kita tidak jelas. Kalau kita terus terjebak mengerjakan hal-hal urgent, apakah kondisi urgent akan berhenti? TIDAK! Hal itu akan selalu ada. Ketika kita mencoba melakukan segala sesuatu, sebenarnya kita sedang tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan. Banyak permasalahan terjadi dalam hidup dan pelayanan karena kita sering mengatakan “ya” dan “tidak” secara terbalik. Hidup Kristen adalah hidup yang dipimpin, diarahkan, diserahkan, dibentuk oleh firman Allah dalam kehidupan keseharian kita. Firman Allah adalah bijaksana hidup yang membuat kita hidup bijaksana. Tanpa berefleksi dengan firman, hidup akan mudah kita jalani dengan sembarangan.
Kalau ada yang suka bilang gini: “saya sudah berpengalaman 10 tahun di bidang pendidikan”, kita mungkin jangan keburu kagum dulu. Karena tanpa refleksi, bisa jadi pengalaman 10 tahun itu cuma pengalaman 1 tahun yang diulang 9 kali! Jadi kesalahan yang sama tetap dilakukan dengan hasil yang itu-itu saja.

Time is Life

Paham kapitalisme yang mengatakan Time is money sangat tidak alkitabiah. Paling tidak karena dua alasan: pertama, waktu tidak setara dan tidak bisa ditukar dengan uang; kedua: betapa malangnya kita kalau setiap detik dalam hidup ini tolok ukur hasilnya adalah uang. Alkitab mengajarkan Time is Life. Hidup kita dibatasi waktu, dan di waktu yang sementara inilah kita melakukan hal-hal yang bernilai kekal selama kita hidup di dunia.
Bicara tentang waktu, saya setuju dengan pernyataan bahwa “manajemen waktu” sebenarnya suatu terminologi yang membingungkan, karena kita tidak mungkin mengelola –seperti menunda, menghentikan, menyimpan, atau menghilangkan– waktu. Kita tidak bisa mengubah apapun terhadap waktu. Yang kita bisa lakukan adalah mengelola diri kita agar dengan waktu yang diberikan, kita mampu menjalani apa yang seharusnya (Pengkh. 3).
Saya masih ingat, mama saya seringkali berkata: Kita yang mengatur waktu, bukan waktu yang mengatur kita. Walau kalimat itu sering diucapkan mama sambil marah ketika kami dulu sering lupa waktu (bermain, nonton, telat makan/ pulang), tapi kalimat itu sangat melekat. Kita yang harus mengatur diri kita, karena waktu akan terus berjalan, tidak akan kembali, apapun yang terjadi. Kita lebih sering berkata: andai saja aku bisa mengatur waktu dengan lebih baik...”, tapi jarang: andai saja aku bisa mengatur diriku dengan lebih baik...”. Semua orang sama-sama diberikan 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu. Kenapa ada orang yang bisa berbuat banyak, sedangkan yang lain tidak berbuat apa-apa? Bukan waktu yang kurang banyak, tapi kita yang kurang bijak. Kita mengatakan waktu kurang banyak, untuk menutupi ketidakmampuan kita mengatur waktu.
Alkitab menegaskan agar kita bijaksana menggunakan waktu yang ada untuk bekerja dan berkarya (Yoh 9:4; Mzm 90:12). Dalam hal ini, Allah menentang dua hal, yaitu: kemalasan dan workaholic (gila kerja). Harus kita akui, orang sibuklah yang mempunyai waktu. Mereka selalu mengatur waktunya secara sistematis, sehingga selalu ada waktu untuk kepentingan orang lain (pelayanan, pekerjaan Allah). Sedangkan orang malas akan terus menunda-nunda dan menghabiskan waktu dengan kemalasannya (Ams 6:6-10). Saya melihat kenyataan ini, pelayan/ mahasiswa/ alumni yang sering menolak pelayanan sehingga jadwalnya banyak kosong, malah akan kosong terus. Sedangkan mereka yang mengatur kepadatan jadwalnya sedemikian rupa, bisa mengelola dan melaksanakan pelayanannya dengan efektif.
Memang gampang sekali mencari alasan untuk menunda sesuatu, dan sebaliknya susah mencari alasan untuk berbuat sesuatu. Sekalipun kita katakan waktu itu berharga, tidak ada hal yang lebih gampang kita boroskan tanpa pikir panjang selain waktu. Bahkan saya pernah melihat status seorang teman di facebook: “I’m expert in wasting time.. hahaha”.
Hati-hati dengan jebakan hal-hal kecil. Seringkali waktu terhilang saat kita melakukan hal-hal yang tidak produktif di sela-sela waktu senggang kita. Saat kita tidak berhati-hati dengan hal-hal kecil yang kita lakukan sehari-hari, yang menjadi taruhannya adalah karakter kita. Yang membentuk karakter kita bukan 10 keputusan besar yang kita ambil dalam seluruh hidup kita sejauh ini, tetapi 10.000 keputusan-keputusan kecil yang setiap hari kita ambil. Perhatikan apa yang kita katakan, pikirkan, perbuat dalam keseharian hidup kita.
Untuk membagi banyaknya kegiatan dalam skala prioritas, kuadran berikut ini bisa digunakan:

           I.              PENTING –MENDESAK
            II.            PENTING –
TIDAK MENDESAK
Necessity
·         Deadline
·         Masalah yang menekan
·         Rapat
Effectiveness
·         Persiapan
·         Pencegahan
·         Perencanaan
·         Membangun hubungan
·         Rekreasi
           III.           TIDAK PENTING – MENDESAK
           IV.           TIDAK PENTING – TIDAK MENDESAK
Deception
·         Interupsi yang tak perlu
·         Laporan yang tak perlu
·         Rapat, telepon, email yang tak penting
·         Masalah-masalah kecil orang lain
Waste
·         Hal-hal remeh
·         Telepon, surat, email yang tidak relevan.
·         Aktivitas “pelarian”
·         TV, internet, relaksasi berlebihan

Kita harus berlatih untuk menggeser hal-hal yang akan kita kerjakan ke kuadran II: penting – tidak mendesak, agar pekerjaan itu bisa diselesaikan dengan baik, meminimalisir dikerjakan dengan buru-buru, atau tidak dikerjakan sama sekali.

Saran praktis:

1.             Utamakan HPDT (hubungan pribadi dengan Tuhan). Allah menganugerahkan means of grace sebagai sarana pertumbuhan kita: saat teduh, jam doa, pembacaan/ penggalian Alkitab, komunitas/ persekutuan, pelayanan. Disiplinlah, jangan gantungkan kerohanianmu hanya di hari minggu. Ingat, kita Christ direction, bukan outer direction.

2.             Milikilah perencanaan yang baik. Fail to plan, plan to fail. Cari cara yang cocok untuk membantu kita disiplin. Ada banyak cara, tapi belum tentu cocok bagi setiap orang. Beberapa cara di antaranya:
·                     Pakai agenda (bisa berupa buku atau smartphone). Masukkan semua jadwal ke dalam tanggal yang telah ditetapkan, dan durasi (jam mulai – jam berakhir).
·                     Libatkan orang lain. Kita bisa sharing jadwal ke sahabat, kekasih, teman, rekan pelayanan, orang tua, sehingga ada waktu-waktu saling mengingatkan (reminder) kalau ada jadwal kosong atau berbenturan, kegiatan yang sudah dekat, atau yang masih perlu persiapan.
·                     Membuat to do list harian/ mingguan/ bulanan. Daftar ini bisa dibuat detail dengan menambahkan 5W + 1H di tiap point. Misalnya: hari ini saya harus mengerjakan apa, dengan siapa saja, jam berapa, dimana, apa yang harus dibawa; siang ini saya harus beli apa; untuk rapat malam ini siapa yang belum diundang, bahan yang belum ada, dst.
·                     Buatlah daftar peran/ status anda, dan tanggung jawab yang mengikutinya. Misalnya: sebagai anak Tuhan: HPDT, pelayanan punya waktu khusus; sebagai mahasiswa: jadwal kuliah, tugas-tugas, belajar kelompok; sebagai anak (apalagi kalau tidak kos): jam berangkat, jam pulang, acara keluarga; sebagai kekasih: makan bersama. Hal ini akan membantu kita mengatur prioritas dan jadwal harian/ mingguan.
·                     Buatlah target 1 tahun, 5 tahun, 10 tahun (atau satuan waktu lain). Kapan lulus S1/ S2/ S3? Kapan melamar/ pindah kerja? Pelayanan baru? Kapan menikah/ punya anak? Target ini seharusnya terukur, tapi tidak kaku. Dari daftar target ini, kita bisa menyusun beberapa perencanaan/ persiapan.
·                     Gunakan kuadran skala prioritas: penting-mendesak, penting-tidak mendesak, tidak penting-mendesak, tidak penting-tidak mendesak. Usahakan bekerja efektif di kuadran penting-tidak mendesak.

3.             Lakukan beberapa hal sederhana tetapi berguna sebagai berikut:
·                     Selalu gunakan jam tangan, atau pastikan ada jam dinding di kamar. Ini akan membantu kita selalu ingat waktu.
·                     Letakkan setiap barang dengan rapi, pada tempatnya, sehingga tidak perlu menghabiskan banyak waktu untuk mencari barang-barang ketika dibutuhkan.
·                     Sebelum tidur malam, pikirkan sejenak gambaran kegiatan esok hari, dan doakan.
·                     Buatlah catatan atau tempelan kertas yang bisa memotivasi kita tetap disiplin. Bisa ayat Alkitab, yang kita taruh di meja belajar, dinding kamar, halaman buku, pembatas buku, post it, atau wallpaper handphone.

4.             Jangan jadi yes-man. Belajar berkata “tidak” untuk kegiatan-kegiatan yang tidak mendukung tujuan hidup (organisasi, kepanitiaan, acara-acara lain). Too much focus means no focus. Betapa sering kita melelahkan diri sendiri dengan mengerjakan banyak hal yang (kalau boleh jujur) hanya kemauan kita sendiri, sebenarnya Tuhan tidak suruh (ingat poin 1 tentang HPDT). Bagaimana seseorang meminta Allah bertanggung jawab memberinya kekuatan lebih padahal dia melakukan hal-hal yang bukan diamanatkan Allah? Ingat, yang terpenting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan, namun seberapa banyak yang kita selesaikan.

5.             Pendelegasian. Semakin teraturnya kita menyusun jadwal, akan kita temui ada hal-hal yang tidak bisa kita kerjakan, atau lebih baik dikerjakan oleh orang lain, apalagi kalau anda di posisi pemimpin. Delegasikanlah tugas itu kepada orang yang tepat; right man, right place, right time.

6.             Isilah waktu senggang, idle, waktu menunggu, dengan hal yang baik/ produktif, atau multitasking. Misalnya tiduran sambil menghafalkan firman Tuhan, di angkot sambil membaca buku, menunggu sambil merenung (bukan melamun), makan siang bersama teman lama yang ingin ditemui, mengerjakan pekerjaan rumah sambil mendengarkan musik (jadi tidak perlu ada waktu tambahan khusus lagi untuk satu kegiatan itu). Hati-hati bahaya laten hal-hal kecil yang menjadi kebiasaan buruk. Ada hobi yang bisa menimbulkan kecanduan seperti bermain game, menonton film berseri, gadget, internetan, dll.

7.             Istirahat, refreshing dan olahraga adalah keharusan, dengan waktu yang cukup, dan pada waktu yang tepat. Jangan berlebihan.

8.             Evaluasi. Ini dapat dilakukan harian (saat doa malam, saat teduh, dsb), atau mingguan (bisa evaluasi bersama sahabat/ rekan pelayanan. Bila ada hari kosong, bisa sambil liburan). Pertanyaan reflektif ini bisa kita tanyakan dalam hati: “Why are you doing what you are doing?”. Melalui evaluasi ini kita dapat melihat hidup yang kita lewati dan kembali menata hidup yang akan kita jalani. Hidup kembali diatur apakah kita telah mencapai sasaran, masih on the track atau sudah lari dari jalur. Jadi ada satu evaluasi untuk perbaikan dan peningkatan, membangun, menstrukturisasi sehingga kita kembali ke dalam track Allah.
·                     Mungkin ada beberapa penatalayanan yang kita tingkatkan, misalnya: Spiritual Life (agar tidak menjadi kering dan hanya mekanis), Keluarga (kunjungan kasih, rencana menikah), Pekerjaan (jenjang karir, pelatihan), Pelayanan (karunia? bermisi?), Social Relation (menanyakan kabar, sms, telepon), Olahraga (tanggung jawab terhadap anugerah kesehatan), Rekreasi (bacaan, tontonan, cuti), Uang (persembahan, tabungan, belanja)
·                     Dari evaluasi yang ada, kita bisa melakukan analisa S W O T (Strength, Weakness, Opportunity, Treaten). Kenapa ini berhasil, kenapa yang ini gagal, masalahnya dimana, apa solusinya, dari S/W/O/T.
·                     Baik sekali kalau kita khususkan waktu di tiap akhir bulan untuk menuliskan jurnal kehidupan di bulan itu. Apa yang kita alami, apa yang Tuhan telah kerjakan, sehingga kita bisa bersyukur dan belajar untuk waktu-waktu ke depan. Bisa juga dibagikan melalui media sosial untuk menjadi berkat bagi orang lain.

Jika hidup kita di dunia ini berakhir, kira-kira apa yang akan diingat oleh orang lain tentang kita? Apakah kita akan mempermuliakan Allah seturut kalimat Yesus: ”Aku telah mempermuliakan Engkau di bumi dengan jalan menyelesaikan pekerjaan yang Engkau berikan kepadaku untuk melakukannya." (Yoh 17:4) Atau pernyataan kemenangan iman seperti seruan Paulus: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, pada hari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya”. (2 Tim 4:7-8). Ini kerinduan kita, hidup yang penuh dan maksimal, hanya untuk kemuliaan Allah. Soli Deo gloria!


Sumber:
Jadilah Pemimpin demi Kristus - Sen Sendjaya
Kepemimpinan Rohani - J. Oswald Sanders
Our Herritage - Perkantas
Handout dan ringkasan khotbah dari beberapa situs:
http://mimbarbinaalumni.blogspot.com
http://christianreformedink.wordpress.com
http://www.ligonier.org/


(disampaikan di Retreat Koordinator XIII; Bandung, Februari 2014)

Read More..

Anakku, nanti saatnya kau akan tahu, 23.03.13 adalah angka yang istimewa. Itu tanggal pernikahan papa mama, 23 Maret 2013. Artinya hari ini adalah hari perayaan cinta, peringatan akan kasih setia Tuhan yang memelihara keluarga kita, di usia yang masih sangat hijau, 1 tahun, dan kebanggaannya adalah suka duka yang telah dilewati bersama-sama.

Anakku, maafkan papa, yang terlalu dini mengajakmu bercerita kisah ini. Di perayaan 1 tahun pernikahan papa mama, kau adalah pemberian terindah dari Tuhan di momen ini, dan semenjak kehadiranmu, rasanya tidak mungkin bagi papa mama bercerita tentang cinta tanpa mengajakmu untuk turut serta. Kau adalah buah cinta kami. Karena itu, sekali lagi, maafkan papa, yang tak bisa membendung rasa ingin bercerita denganmu, walau masih 4,5 bulan dalam kandungan mama. Sudah setengah perjalanan, sayang. Sebentar lagi kau akan melihat dunia ini. Bahkan entah berapa lama lagi, kau baru bisa membaca tulisan-tulisan papa. Tapi tenanglah sayang, sekarang papa akan membacakannya dengan sempurna, membisikkannya kepadamu, sambil membantu mama mengelus perutnya sebagai cara membelaimu, nak. Mungkin di dalam sana kau akan tersenyum, atau bergejolak, mendengar kisah cinta papa dan mamamu ini. Kami sungguh takjub dan penasaran, apa yang kau rasakan di dalam sana. Apakah kau juga menyahut, beresponsoria waktu papa membacakan Mazmur 139 di perut mama? Papa baca ayat ganjil, kau baca ayat genap? Hahaha... “Sebab Engkaulah yang membentuk buah pinggangku, menenun aku dalam kandungan ibuku. Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya. Tulang-tulangku tidak terlindung bagi-Mu, ketika aku dijadikan di tempat yang tersembunyi, dan aku direkam di bagian-bagian bumi yang paling bawah; mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satu pun dari padanya. Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!”. Papa mama selalu takjub setiap kali kau di-USG. Papa bahkan harus menahan haru tiap melihat pergerakanmu. Bu dokter pernah bertanya: “ih lihat pak, bu, dia lagi lipat tangan”. Waktu itu papa pengen bilang: “lagi berdoa kali, dok”. Habis itu kau bergerak riang seperti sedang bertepuk tangan.


Anakku, tidak ada maksud lain kalau cerita kali ini berbentuk monolog papa denganmu, selain alasan sukacita. Ini yang terbaik buat kami. Demikian tulis C.S. Lewis, Pujian merupakan bentuk cinta yang mengandung unsur sukacita di dalamnya. Pujian yang benar; tentang Dia sebagai Sang Pemberi, dan engkau sebagai pemberian-Nya. Sungguh, bukan ingin pamer apalagi sombong. Nanti kau akan tahu, bahwa papa dan mama juga sempat resah menanti kehadiranmu. Sejak menikah bulan Maret, papa mama berdoa, dan sepakat menunda sejenak untuk mempunyai momongan. Memang, ada yang mendukung, dan ada yang tidak setuju. Tapi kami punya pertimbangan. Papa dan mama tinggal dan kerja di kota yang berbeda, kami ingin belajar menjalani kehidupan awal suami istri dengan situasi ini. Papa mama juga ingin menikmati indahnya awal pernikahan, keintiman berdua yang indah dan membangun, yang berbeda dengan fase pacaran sebelumnya. Papa mama ingin menikmati waktu-waktu berkualitas bersama -yang tak banyak, menikmati pekerjaan sebagai seorang suami dan istri, mengerjakan pelayanan masing-masing dan bersama, yang mungkin bakal berbeda jika sudah memiliki anak. Tapi memang waktunya tidak lama, hanya 6 bulan dalam perencanaan kami. Bulan September, sesuai rencana, papa mama sudah sangat ingin memilik anak, apalagi banyak orang rasa-rasanya mulai bertanya-tanya, kapan kami akan memiliki anak, entah yang diomongkan langsung, ataupun hanya berupa tatapan mata tapi niatnya bertanya. Namun mama belum juga hamil. September, Oktober, November, masih negatif. Kami mulai gelisah. Apa yang salah, apa mungkin karena kecapekan, apa karena papa mama jauh. Dalam penantian ini, 3 bulan rasanya 3 tahun. Dan saat itulah kami sadar bahwa iman kami masih sangat rapuh. Lemah. Seakan-akan papa ingin mengajak Tuhan duduk berdua, berdiskusi, tapi papa yang harus menguasai pembicaraan. “Kalau rencana-Mu pasti baik, apa baiknya menunggu dan tidak segera memberikan kami anak? Atau kurang baik apanya kalau kami memiliki anak, sehingga Kau belum mengabulkannya?”; “kami sudah Kau persatukan dalam pernikahan, kenapa masih Kau pisahkan sehingga kami hanya bisa ketemu seminggu sekali? Keluarga macam apa ini?”; “katanya berdoa, biar dikabulkan. Kami berdoa biar memiliki anak sesuai rencana, enggak terkabul; kami (hampir bosan) berdoa biar disatukan dalam satu kota, enggak terkabul juga, dari sejak pacaran sudah jarak jauh”. Begitulah yang pernah papa gumamkan. Sampai suatu kali dalam percakapan sebelum tidur, setelah berdoa dengan pokok doa yang masih sama, mama menatap papa dan berkata: “kak, kita baru disuruh menunggu 3 bulanan, udah cepat kali komplain sama Tuhan, gimana mereka yang sudah menunggu bertahun-tahun ya? Pasti iman mereka lebih diuji. Kita sabar ya kak”. Memang waktu ini terasa lebih lama kalau orang menghitung sejak tanggal kami menikah, sudah 9 bulan, dan belum hamil. Tapi terbuktilah kalau Tuhan tidak diam. Waktu-Nya ternyata di minggu kedua bulan Desember. Di jumat malam, ketika perjalanan pulang, sudah lewat jam 9 malam, papa sudah di simpang rumah, mama nelepon, "kak, singgahkan beli test-pack dong”. Papa kaget, bertanya-tanya, tapi sukacita juga. Kok tiba-tiba? Papa singgah di minimarket dekat apartemen. Karena agak malu kalau cuma beli test-pack doang, papa sekalian beli kanebo (kain lap mobil), hehehe. Nyetir mobil dari situ ke apartemen yang tinggal beberapa meter rasanya sukacita, padahal belum tentu juga nanti hasilnya positif. Tapi memang sedikit berbeda, seingat papa, mama masih punya test pack, dan sejak hasilnya beberapa kali negatif, mama gak pernah lagi cerita secara khusus tentang itu. Sampai di rumah, papa lihat mama yang kelelahan, karena hari itu juga mama baru pulang dinas dari Kalimantan. Dia sajikan nasi padang yang dibungkusnya untuk makan malam papa, sambil ngobrol. Papa agak takut nanyain tentang test pack, jadi pakai pengantar dulu: "gimana sepulang dari Balikpapan?" Tapi mama langsung cerita, bahwa kemarin dia pakai test pack yang tersisa dan hasilnya positif, makanya nyuruh papa beli test pack yang baru, yang merknya lain. Besok pagi mau dites lagi. Dan... bener, paginya hasilnya positif lagi, walau garisnya agak kabur. Papa gendong mama, terus dia bilang: hati-hati..., dan dia bilang: “jangan terlalu yakin dulu, ayo cek dokter, lagian aku udah perjalanan jauh via pesawat, sempat minum kopi di sana (oh iya, mamamu penikmat kopi), badan capek, bahkan natalan sampai tahun baru ini kita mau pulang kampung lagi naik pesawat. Kita cek dululah, takutnya kenapa-kenapa”. Dan semua baik, Tuhan sertai. Sampailah saat ini, kau terus berkembang, nak. Mamamu sudah mulai terkaget-kaget merasakan gerakan-gerakanmu di dalam perutnya. Makanya papa mohon ijin untuk kali ini aja, boleh mengajakmu sejenak bercerita. Papa janji nanti gak akan terlalu sering meng-upload fotomu di media sosial, sesekali boleh ya, itupun untuk momen spesial, gak tiap hari, gak asal upload, lagi makan, lagi tidur, lagi ngompol. Jangan sampai tiap orang buka home facebook-nya ada fotomu. Papa sangat tahu, itu mengganggu bagi banyak orang, dan sensitif bagi beberapa orang. Papa pernah berada di posisi itu. Papa juga gak akan update status setiap saat, setiap hari, tentangmu: jagoan kecilku sudah bobo, lucunya anakku waktu nangis, anak papa mulai tengkurap, dlsb. Sepertinya mamamu juga setuju untuk itu. Yang biasa ajalah. Masa anak bayi udah bisa comment di facebook: terima kasih tante, kecup basah untuk om dan tante, dll. Jangan gitu ya nak. Kau harus lebih bijaksana. Papa dan mama juga gak akan membuat fotomu, full, di profile picture atau display picture di media sosial atau contact BB dan whatsapp, kecuali di foto itu ada papa dan/atau mama. Soalnya kasihan orang yang baru papa/mama hubungin, bingung ini siapa yang hubungin, lihat fotonya kok foto bayi, ini nomor siapa? Papa juga sering mengalaminya. Kasihan kan kalau pengurus kampus atau komisi gereja menghubungi papa jadi pembicara, kok gambarnya anak bayi?

Anakku, Tuhan membuat segala sesuatu indah pada waktu-Nya. Kadang Ia terasa bertindak sangat lambat, kadang terasa sangat cepat, tapi yang pasti: Ia selalu tepat waktu. Sama seperti kehadiranmu, semakin menghiasi bulan Natal waktu itu, menghantarkan kami semakin berpengharapan memasuki 2014, dan perkiraan bulan kelahiranmu tahun ini juga sama seperti papa: Agustus, sama kayak opung boru Binjai juga, hehehe... Dari pengalaman ini, papa semakin mengerti dan mengalami apa artinya ber-iman, bukan berarti tanpa rencana, tetapi meletakkan semuanya di bawah kehendak Allah. Agak aneh juga kalau mendengar pasangan baru suami istri waktu ditanya “kapan punya anak”, jawabnya “kapan dikasinya aja”. Menurut papa, kemungkinannya dua: pertama, si pasangan ini pengen segera punya anak sebenarnya, tapi malu-malu, atau lebih rohani: tak berani melangkahi Tuhan katanya. Kedua, pasangan ini tak punya rencana apa-apa, jadi terserah. Menurut papa, jawaban terbaik, jujur saja. Awali dengan kata-kata: rencana kami... atau: pengennya sih... kalau boleh meminta..., dan akhiri dengan kata-kata: semua kami serahkan kepada Tuhan, Dia tahu yang terbaik, atau seperti akhir doa Tuhan Yesus: Jadilah kehendak-Mu. Thy will be done. Dulu, waktu papa ditanya kapan punya anak, papa jawab: “rencana kami sih mau nunda sebentar dulu, karena kondisinya ini dan itu”. Responnya sering juga begini: “jangan nunda2 lho, nanti sewaktu tiba pengen punya, eh dikasinya lama”. Papa jawab: “berarti belum waktu-Nya” (sambil berpikir apa rumusan Tuhan sekejam itu? Rasanya tidak).

Anakku, setahun perjalanan kisah cinta ini membuat memori papa kembali ke masa-masa indah dulu. Tahun ini juga (23 Juni), menuju 10 tahun papa mama berpacaran, sudah satu dasawarsa kami saling mengenal, satu dekade penuh cerita. Waktu SMA, mama bukanlah wanita tercantik, itulah yang sempat membuat papa malah lebih tertarik dengan gadis lain. Tapi mama waktu itu orangnya penuh rahasia, bikin papa penasaran, dan makin papa ajak ngobrol, makin papa sadar bahwa papa telah mencintainya. Papa masih ingat jelas, di malam perpisahan kelas 3 SMA, sewaktu papa dan band tampil menyanyikan lagu Bon Jovi “Never Say Goodbye”, papa lepaskan gitar, turun panggung, dan kasi boneka kecil ke mama, papa usap-usap kepalanya, terus naik ke panggung lagi. Dia malu, papa disorakin, karena memang saat itu kami belum jadian. Hehe... setelah jadian, papa ke Jogja, mama tetap di Sibolga. Pacaran jarak jauh, akhirnya kuliah bareng, setelah kerja, pacaran jarak jauh (lagi), setelah menikah, jarak jauh (lagi). Tapi bukankah mama begitu istimewa sehingga papa bisa merasakan cintanya meskipun jauh darinya? Papa ingat suatu kali harus menahan kesedihan di supermarket, di bagian roti, mama bertanya: “besok pagi, sarapan kakak di jalan apa ya?”. Papa terdiam, seperti tim yang sedang kalah dalam pertandingan, dan melihat wasit sebentar lagi akan meniup pluit terakhir. “Ah, kebersamaan ini segera berakhir; andai saja ada perpanjangan waktu”. Jam seakan berhenti, doa singkat terucap dalam hati: “Tuhan, kalau boleh, janganlah kami terpisah jauh lagi”. Kesederhanaannya dan ketulusannya tidak pernah berubah sampai sekarang. Kecantikannya makin bersinar, dan kehangatan kasihnya masih menyejukkan. Papa masih saja jatuh cinta kepadanya, dan bangun cinta bersamanya. Indahnya Bali sewaktu bulan madu waktu itu takkan ada artinya tanpa mama. Ya betul. Apalah artinya Bali kalau papa hanya sendirian ke sana. Yang membuat Bali tahun lalu begitu indah, adalah mama.

Di awal-awal tahun lalu seperti ini, kami lagi sibuk-sibuknya mempersiapkan pernikahan. Persiapan di Binjai kami pantau dari Jakarta, sambil mengerjakan apa yang bisa dikerjakan di Jakarta. Papa masih ingat menemani mama mencari bahan kebaya, dan mengantarnya setiap kali fitting baju. Semua kami lakukan bersama, memesan cincin nikah, nama kami terukir di dalamnya, memesan souvenir, foto prewed (gratisan sama Om Ido), mencetak undangan (yang desain tante Vera, gratis juga). Banyak sekali orang-orang yang dengan sukarela membantu papa mama, sampai akhirnya kami pulang dua minggu sebelum hari H, untuk persiapan akhir segala sesuatunya, martumpol tanggal 16, persiapan gereja, dan hari H. 23.03.13, pasti banyak cerita. Sewaktu pengucapan janji pernikahan, papa dengan lancar mengucapkannya, menggenggam tangan mama, menatap matanya... tapi, ternyata papa gak kuat menahan air mata saat mendekati kalimat terakhir “sampai Allah memisahkan kita melalui kematian”. Papa nangis. Ternyata ini ngefek ke mama. Dari awal mengucapkan janji pernikahan, mama udah nangis, terbata-bata sampai akhir. Papa curi-curi waktu ngusap air mata pakai saputangan. Setelah berbalik ke jemaat, eh ternyata banyak juga yang ikutan nangis. Gak tau pastinya kenapa. Tapi semoga momen sakral itu dipakai Tuhan juga untuk mengingatkan jemaat akan detik-detik kudus pernikahan mereka masing-masing, betapa bermaknanya janji pernikahan itu, kata per kata, berapapun usia pernikahan mereka, senang susah, sehat sakit, suka duka, setialah, berjuanglah, sampai akhirnya Tuhan sendiri yang memisahkannya hanya melalui kematian. Sewaktu teringat momen ini, lucu juga, karena sehari sebelumnya, waktu persiapan/ gladi bersama orang tua dan penatua, papa mama terus tertawa terbahak-bahak setiap ngucapin janji pernikahan, gak bisa selesai karena ketawa, diulang lagi dan lagi. Padahal sebelumnya udah hapal, udah latihan sendiri-sendiri juga. Gak tahu hari ini karena grogi atau apa, setiap ngucapin janji itu kami ketawa terus... eh besoknya ternyata nangis.
(Momen ini kami rekonstruksi lagi tahun ini). Selesai pemberkatan, lanjut pesta adat. Mama ganti gaun putihnya jadi songket. Secara terpisah, kami dihias jadi pengantin karo. Setelah selesai, papa lihat mama berpakaian karo, cantik sekali. Seperti dari khayangan, wajahnya bercahaya, dengan tudung karo, uis, dan kuningan2nya. Kau pasti setuju sama papa kalau lihat fotonya. Belum lagi kalau lihat rekaman video saat papa mama adu nari (landek), dan nyanyi karo. Hampir sempurna. Padahal hanya latihan satu kali, papa ajarin, mama langsung bisa, dan lagu dihapalin. Semua orang kagum, seakan melihat putri karo asli, bukan gadis batak toba yang besar di simalungun. Jadi pantaslah mama menyandang banyak marga sekarang: Tarigan, Sidabutar, Lumban Gaol, Sebayang. Besoknya resepsi juga seru. Papa mama berduet, langsung 2 lagu: Karena Cinta, dan Semua Baik. Kawan2 alumni PMK STAN memberikan kesaksian pujian: Bersama Keluargaku. Mereka banyak datang dari jauh lho. Ada juga kawan kantor papa dari Subang, dan kawan kantor mama dari Jakarta. Lihatlah foto-foto yang menceritakan 1000 kisah itu. Semua tamu-tamu yang datang, suatu saat nanti harus kau ucapkan terima kasih. Kado-kado juga banyak, mulai dari seperangkat alat tidur (sprei, sarung bantal, bed cover, selimut), handuk, bakal kain, alat pecah belah, alat masak, magic com, dan kado istimewa dari KTB: kulkas :) Tuhan sungguh baik. Sebelum pernikahan, papa mama masih kekurangan dana, karena memang kami berusaha untuk menikah pakai uang sendiri, tidak merepotkan orang tua lagi. Tapi akhirnya Tuhan cukupkan semuanya. Seakan-akan papa mama mengalami mujizat seperti Penikahan di Kana. Sesampainya di Jakarta, teman-teman Perkantas (Kak Pur, Kak Lina) dan panitia RK XI, mengadakan syukuran buat pernikahan papa mama. Lihatlah nak, kita dikelilingi orang-orang yang sangat baik. 

Mulai hari itu, petualangan keluarga baru dimulai. Banyak masalah, tapi selalu ada penyertaan. Intimidasi berbanding lurus dengan providensi. Tuhan selalu punya cara. Bukankah ini memang sudah dibuktikan-Nya di waktu-waktu sebelumnya? Setahun ini rasanya berjalan cepat, dan penuh dengan kejutan-kejutan. Sewaktu bingung mau tinggal di mana, tidak mungkin beli rumah karena harga rumah di Jakarta begitu tinggi, Tuhan menolong lewat Pak Uda danTante Arthur, yang menyediakan apartemennya untuk ditinggali dengan cuma-cuma. Papa masih di Subang, mama di Jakarta. Papa pulang setiap Jumat malam, dan balik ke Subang hari Senin subuh. Agak susah karena papa harus nebeng sama teman kantor yang bawa mobil dari Jakarta, kadang mereka ada tugas di hari senin atau jumat, papa susah kendaraannya. Akhirnya karena jadwal tidak fleksibel, dan ketidakjelasan kapan papa pindah ke Jakarta, ditambah rumah yang belum terbeli dan masih bisa tinggal di apartemen, kebutuhan yang paling mendesak saat ini adalah kendaraan, agar papa bisa lebih gampang pulang pergi, kami kredit-lah mobil di bulan Desember. Tak lama setelah itu, datanglah kabar kehamilan mama. Di tahun yang baru, mama tanya, “sampai kapan kita gak punya rumah, kak? Gak terasa bentar lagi kita udah punya anak”. Papa jawab santai, “sampai nanti Tuhan sediakan”. Saat itu sebenarnya ada Bang Reza dan Kak Ido yang Tuhan pakai untuk menolong kami, dengan menyediakan rumahnya di Kalimalang untuk kami tempati secara cuma-cuma, karena mereka pindah ke Manado. Tapi pembicaraan papa mama berlanjut lebih serius, mulai dari masih pisah kota, sampai lonjakan harga rumah. Memang dari pengalaman sudah 2 tahun mencari rumah, harganya makin tak terjangkau. Makin ditunda, makin tak terbeli. Setiap tahun, harga rumah di Jabodetabek rata-rata naik 100 juta. Padahal gaji kami cuma naik 100 ribu. Setelah anak, kami selalu mendoakan ini: hidup satu kota, ada rumah. Seakan jawaban doa, nantulang Nona ngasi kabar ada rumah dijual murah di Bekasi, di bawah harga rata-rata, yang punya pensiunan mau pulang kampung. Kami mau beli, tapi uang sudah tidak ada lagi. Tapi mengingat semua kondisi di atas, akhir Februari kami beranikan untuk minjam/ ngutang demi rumah ini. Akhirnya jadi. Kami makin yakin kalau ini pimpinan Tuhan, karena sewaktu pagi tanggal 1 Maret, keluar pengumuman papa lulus seleksi ke Kantor Layanan Informasi dan Pengaduan. Artinya papa pindah ke Jakarta, ke Kantor Pusat. Mungkin bagi orang lain ini adalah hal yang biasa, seperti mutasi pegawai yang lainnya. Tapi bagi kami pegawai yang terpisah dari keluarganya, ini adalah anugerah. Kami bisa berkumpul, melihat pertumbuhan anak kami. Papa mama senang sekali pagi itu. Mama memeluk dan mencium papa. Terima kasih Tuhan. Bulan Juni nanti, papa ke Jakarta, ibukota yang keras ini. Kita bisa tinggal satu rumah, papa bisa antar jemput mama, kita bisa berjemaat tetap dan pelayanan di satu gereja. Kata orang itu rezeki bayi. Kejutan-kejutan susulan sejak kehamilan. Makanya setiap doa dan syukur, seringkali kami lakukan sambil mengusap-usap perut mama.

Tapi masalah tidak berhenti sampai di situ. Pergumulan ke depan masih sangat panjang. Banyak pertanyaan belum terjawab: siapa nanti yang menjagamu kalau papa mama kerja? Bagaimana kebutuhan hidup kita dicukupi sambil nyicil hutang dan tetap berdonasi? Bagaimana pertumbuhanmu nanti? Saat orang lain bicara mana susu yang terbaik, menghabiskan sekian duit untuk susu, papa percaya pada susu buatan Tuhan sendiri: ASI. Bagaimana pendidikanmu kelak? Saat orang lain sibuk bercerita tentang pendidikan anak usia dini, sekolah internasional, tes masuk yang wahid, les ini itu, uang pangkal dan iuran yang fantastis, papa percaya bahwa didikan orang tua yang takut akan Tuhan adalah kunci semuanya. Sekolah bagus dan mahal tidak menjamin seorang anak menjadi pintar, sopan, santun, sukses. Papa mamamu yang berkualitas ini bukan hasil produk sekolah mahal, malah gratisan. Begitu juga dengan abang dan kakaknya papa mama, kami dididik oleh orang tua yang hebat. Papamu yang musisi ini tidak pernah les musik, tapi malah jadi trainer gitaris. Papa mama tidak pernah les privat, tetapi sewaktu kuliah harus ngajar les privat untuk kebutuhan uang bulanan dan pelayanan. Jadi tenanglah, Tuhan telah, sedang dan akan terus pelihara kita. Mari jalani hari demi hari sambil menyaksikan bagaimana Tuhan menjawab satu demi satu semua pertanyaan tadi. Termasuk, apakah nanti mama tetap bekerja atau harus resign menjadi ibu rumah tangga fulltimer seperti yang sudah dilakukan beberapa orang? Kau tahu mama orangnya sangat bertanggung jawab sama kerjaan. Papa salut dengan wanita yang tetap bekerja dan tetap menjadi ibu yang baik, seperti opungmu. Juga salut dengan wanita yang berani resign demi keluarga dan anak-anak, atau berhenti bekerja dari kantor dan memulai bisnis rumahan. Asal jangan ketidakjelasan di antara keduanya: pengen tetap bekerja, pengen gajinya tetap gede, tapi tidak produktif lagi karena kerja setengah hati, atau nyambi kerja sampingan bisnis online/ MLM untuk ban serep. Papa dan mama akan berusaha selalu bertanggung jawab penuh, jujur, mencari berkat, dan menjadi berkat.

Anakku, kau terus bertumbuh di dalam sana. Sejak di kandungan saja, kau sudah menemani papa ke mana-mana. Kau tahu, mama setia sekali mendampingi papa pelayanan. Karena pertemuan kami cuma weekend, dan di situ papa pelayanan, mama setia ikut. Lihatlah berapa jauh sudah jarak yang kau tempuh sejak dalam kandungan, 3 pulau. Berapa kampus dan gereja yang kau datangi karena nemenin papa pelayanan? Berapa kali ikut KTB? Berapa lagu yang kau dengar sewaktu papa sebagai pemimpin pujian? Berapa khotbah sewaktu papa pembicara? Bahkan kau sudah ikut Retreat Koordinator XIII, pertemuan para pemimpin kampus Jakarta dan regional? Membahas eksposisi kitab Hakim-Hakim? Kalau bayi lain disarankan mendengar lagu-lagu klasik, kau sudah berkali-kali berada di tengah ratusan orang yang gegap gempita menyanyikan lagu-lagu hymnal. Ini gak akan ada di forum bunda atau majalah ayahbunda. Di mobil dengerin lagu Our Daily Bread, KJ, NKB. Sebelum saat teduh di sabtu minggu, papa mama menyanyikan lagu-lagu Buku Lagu Perkantas buatmu. Pantaslah mamamu juga semakin cantik. Tiap pagi, sebelum bangkit dari tempat tidur, ketika papa ada, mama selalu minta dibuatin teh manis panas, jangan terlalu manis. Kadang mama minta dipijitin pinggulnya. Benarlah paradoks papa ini: fisik melemah, cinta menguat. Sewaktu mengusap-usap kepala papa lagi tiduran, mama bilang uban papa makin banyak. Papa bilang “iyalah, kita makin tua, bentar lagi kita juga jadi orang tua”. Lalu mama mengacak rambut papa atau kadang mencabutkan uban yang terlihat, tujuannya sama: biar ubannya jangan kelihatan, biar tetap muda. Tapi waktu akan terus berjalan, anakku. Rambut yang hitam akan memutih, raga yang kuat akan merapuh, tetapi kisah kasih kita bersama Tuhan tak akan terhenti, sampai jiwa kita berlabuh. Tuhan yang pegang kini dan nanti. Seperti sepotong syair lagu: “Banyak hal tak kupahami akan masa menjelang, tapi terang bagiku ini: tangan Tuhan yang pegang”. Suatu saat nanti, ketika kau menemukan tulisan ini, ingatlah Papa sangat mengasihimu. Peluk cium untuk mama, wanita hebat yang juga sangat-sangat mencintaimu.




Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo