Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


Bila kam ada waktu…
(Anniversary, 23 Juni)

Aku sudah memutuskan untuk berhenti mencintainya, belajar melupakan. Dia mengatakan bahwa dia tidak mencintaiku. Rasanya aku tak percaya. Beberapa kali mengulang, mencoba memastikan, jawabannya tetap sama: dia tidak menyayangiku. Ya, aku harus menelan pil pahit di masa-masa akhir studi. Tak kusangka, rasa sayangku harus ku kubur jauh di palung hati. Justru di saat hati ini ingin berteguh memulai sehelai lembaran baru untuk dijalani sepenuh hati setelah banyak belajar dari kegagalan dan kejatuhan masa silam. Justru di saat itu pula hatiku langsung diuji dan tersadar bahwa memang tak mudah. Namun aku tahu, aku harus pergi. Berangkat dengan berbagai angan dan beranjak meninggalkan sejuta kenangan. Aku harus pergi melanjutkan kehidupanku. “Tapi aku bersyukur, aku pernah menyayangimu, sudah kuungkapkan, dan kam tahu itu. Entah sampai kapan. Terima kasih untuk semua ini.” Begitu kata terakhirku mengiringi perpisahan kami.
Tapi tidak tahu, saat membalikkan badan dan kaki ini menginjakkan langkah demi langkah, dia masih saja setia menunggu, berdiri terus di atas balkonnya memperhatikan kepergianku sampai tak dilihatnya lagi. Makin gundahlah hati ini. Hati kecilku yakin kalau dia menyayangiku. Tapi satu sisi lain, aku terus meyakinkan diriku untuk tidak usah berharap, karena dia sudah beberapa kali menyatakannya dengan jelas.
Tapi masih saja gelisah, karena suara hati yang menang: kenapa dia rela berbohong (tidak jujur saja mengatakan “Ya, aku juga sayang”)? Apa karena teman-temannya (yang memang tidak menyetujui)? Aku cuma bisa menghela napas, kalaupun benar begitu, memang aku yang salah, terima sajalah…
Tapi... masih saja, cinta mengalahkan segalanya. Seakan tak pernah terjadi sesuatu apapun, sebelum berangkat ke pulau yang jauh, aku memastikan (lagi) perasaannya padaku. Oh Tuhan… seakan tak percaya (bahkan untuk hal yang selama ini justru ku percayai dengan sungguh-sungguh, meskipun di muka bumi ini cuma aku yang percaya). Dia mengatakan kalau dia menyayangiku. Ku tanya sejak kapan? Dia jawab tidak tahu; tidak usah ditanya kapan dan kenapa. Yang jelas dia mengakui tidak ingin menyesal dan terlambat lagi, untuk mengatakan bahwa dia benar-benar mencintaiku. Aku memastikannya sekali lagi, dan ia menjawab dengan lebih mantap lagi. Dia mengatakan tidak tahu apakah waktu seindah ini akan datang lagi, karena itu tidak akan disia-siakannya. Dia memastikan, dia menyayangiku dan ingin menjalani cinta ini bersamaku.
***
Hahahaha… Memori itu masih terlintas jelas di ingatanku. Itu 5 (lima) tahun yang lalu. Dan sampai detik ini, dia masih setia mengisi hati dan hariku. Ternyata sudah 5 tahun. Mungkin angka yang besar, bagi pasangan yang masih dalam hitungan minggu, bulan [atau belum sama sekali :)], tapi adalah angka yang sangat kecil bagi mereka yang telah menjalaninya selama puluhan tahun. Ya, perjalanan masih sangat panjang dan penuh kejutan. Kami memulai hubungan ini dengan jarak jauh, penuh keraguan akankah bertahan, ternyata bisa. Tuhan menganugerahkan kebersamaan selama tiga tahun. Dan kini kembali lagi terpisahkan oleh jarak. Bahkan melihat kondisi pekerjaan, kelihatannya akan sangat mungkin untuk terpisah lagi oleh jarak, entah berapa kali lagi, entah berapa lama lagi. Tinggal menunggu…
Akhirnya belajar sendiri bagaimana menjalin komunikasi dan mengelola rindu di saat rasa itu melanda. Seringkali bulan menjadi sasarannya. Ketika muncul di malam hari, aku mengajaknya untuk menyempatkan diri memandang bulan pada saat yang bersamaan, dan berbisik via telepon: “Bulan yang kita lihat sama kan? Semoga pandangan kita bertemu di bulan itu”. Hahahaha. Pernah aku merayunya dari kalimat yang ku dapat dari film: “Kam tau berapa jarak yang ditempuh bulan untuk menyinari kam?”. “Gak tau”, jawabnya. “Sekitar 962 mil”, sahutku. “Wow, jauh banget”, balasnya. “Tapi kam memang pantas mendapatkannya, karena kam sangat berharga”. Hahahaha. Momen-momen itu, memanjakan jiwa melankolis ini…
23 Juni 2004-23 Juni 2009, banyak hal yang telah terjadi. Suka-duka, tawa-air mata, mengisi perjalanan penuh liku ini. Tapi satu hal, Tuhan tidak pernah meninggalkan. Beberapa kali terjatuh, tapi Tuhan tetap menopang. Benarlah kata pemazmur: TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya. (Mzm37:23-24). Doa kami, biarlah kami boleh terus setia kepada Tuhan yang senantiasa setia menyertai langkah-langkah kami. Kiranya Allah terus mengaruniakan hati yang setia. Kami tahu perjalanan ini tidak selalu mulus, karena itu yang paling diperlukan adalah kasih setia, apalagi di saat keraguan menguji hati ini. Biarlah doa kami seperti doa Pemazmur: “Kasih setia-Mu, ya TUHAN, kiranya menyertai kami, seperti kami berharap kepada-Mu.” (Mzm33:22), “Lanjutkanlah kasih setia-Mu (ya Allah)…” (Mzm36:11). Itulah kenapa kata “kasih” selalu diikuti kata “setia”, karena kasih haruslah setia/ terus menerus/ tak berkesudahan, seperti kasih Allah. Sungguh standar yang maha tinggi. Aku pribadi mengakui masih perlu belajar banyak untuk hal ini. Bukan berarti tidak mungkin dicapai, tetapi terus berjuang untuk hal itu. Bukan berapa kali kita jatuh, tetapi berapa kali kita bangkit. Itulah dinamika yang disediakan Tuhan untuk menikmati karya keindahanNya di dalam hidup ini. Untuk segala sesuatu ada masanya. Pengkhotbah 3:1-11 “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya…ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari;… ada waktu untuk memeluk, ada waktu untuk menahan diri dari memeluk;…ada waktu untuk berdiam diri, ada waktu untuk berbicara;…ada waktu untuk mengasihi, ada waktu untuk membenci; ada waktu untuk perang, ada waktu untuk damai…Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya, bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka. Tetapi manusia tidak dapat menyelami pekerjaan yang dilakukan Allah dari awal sampai akhir.”. Di gelombang kehidupan itu Allah terus bekerja. Sungguh indah. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan sana. Tapi aku tahu, Allah ada di sana, dan itu sudah cukup! Semua ada waktunya. Cuma aku yang sering tak sabar. Tak sabar untuk bertemu dirinya, tak sabar untuk selalu dekat dengannya dan tak terpisah lagi. Hatiku, bersabarlah, hai sang waktu, berbaik hatilah… :) Aku ingin menutup tulisan rindu ini dengan sebuah puisi spontan yang sangat sederhana, buat pujaan hatiku:
Bila kam ada waktu…

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan pandangi rembulan tersenyum syahdu,
Sinarnya yang lembut dan sederhana menyatu,
Ditemani bintang, yang bermain mata, tersipu.

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan menyentuh embun pagi,
Sinar mentari yang setia menemani,
Sampai permisi di senja hari untuk berganti malam lagi.

Bila kam ada waktu,
Coba sempatkan mengingatku lagi,
Mengunjungiku kalaupun jauh dari sisi,
Menatapku dengan penuh arti,
Hingga kekosongan ini tak bermakna lagi, kala cinta ini bersemi…

---
Kam kan pernah bilang, kalau kita ini adalah malaikat bersayap satu, yang hanya dapat terbang jika saling berangkulan?
Aku ingin sekali terbang bersamamu…
Itupun kalau kam punya waktu.
Aku menunggu.

Kasihmu selalu, Kak Kawas-
yang dengan segala keterbatasannya ingin mencintaimu dengan lebih baik…

P.S.: kalau nanti aku menggubah syair ini menjadi sebuah lagu, aku akan memulainya dengan chord minor, supaya orang bisa merasakan betapa senyapnya lagu ini. Itupun kalau ada waktu :)

Uh, aku merindukannya. SMS ini pernah ku kirim kepadanya:

Sender:
Name missing
Number missing
Sent: Date missing
Missing u a lot hat’s why
Everything is missing…
Luv u.

Read More..


Selidiki aku, lihat hatiku
Apakah ku sungguh mengasihi-Mu Yesus
Kau yang Maha Tahu, dan menilai hidupku
Tak ada yang tersembunyi bagi-Mu
T’lah ku lihat kebaikan-Mu
Yang tak pernah habis di hidupku
Ku berjuang sampai akhirnya Kau dapati aku tetap setia

Meski lagu ini sering dinyanyikan, lebih sering lagi saya bertanya dalam hati: seberapa jujur hati kita (saya) menyanyikan lagu ini? Apakah kita memang berani mengucapkan bait ini, seperti pemazmur, di hadapan Allah yang memang Maha Tahu? Di tengah segala keberadaaan kita, pergumulan, keberdosaan, kelemahan, kita berani berkata jujur: Search me O God, and know my heart today (O Allahku, jenguklah diriku)...

Mungkin ini juga yang dialami pemazmur dalam pergumulannya. Dan puji Tuhan, ia melakukan hal yang tepat; ia datang kepada Allah. Mazmur 139 ini memang membukakan kita tentang hubungan yang personal antara pemazmur dan Allah. Sebuah doa agar Allah menguji hati dan melihat apakah itu penyerahan diri, kesetiaan, ketaatan (devotion) yang benar. Seperti kisah Ayub, pemazmur dengan kuat menyatakan kesetiaannya kepada Tuhan. Tidak ada lagi kita temukan sebuah pengakuan dengan kesadaran penuh (selain di kedua bagian ini), betapa luar biasanya meminta Allah untuk menguji, bukan hanya kehidupan (life) namun juga seluruh jiwa (soul) kita. Padahal kita tahu bahwa Tuhan mengetahui setiap pikiran, perkataan, sifat, karakter, perilaku, dan dari pada-Nya tidak ada yang mampu bersembunyi.

Hidup penuh pergumulan. Sayangnya, banyak orang yang tidak tahu ke mana ia harus mencari jawab. Bahkan untuk hal-hal dasar. Pertanyaan-pertanyaan setiap orang sepanjang masa: “Siapakah aku?”, “Sesungguhnya untuk apa aku hidup di dalam dunia?”, “Apa yang akan kuhadapi nanti?”, dan masih banyak lagi.
Seorang filsuf, Arthur Schopenhauer (1788-1860) suatu hari sedang berjalan mengelilingi Tiergarden, taman yang terkenal di Berlin. Pertanyaan yang sangat mengganggu pikirannya muncul: “Siapa sebenarnya aku? Aku akan ke mana?”. Seorang penjaga taman mengamati dekat-dekat filsuf yang berjubah ini, berjalan pelan dengan kepala tertunduk. Tahulah ia bahwa si filsuf sedang kebingungan. Lalu ia berjalan mendekati sang filsuf dan bertanya: “Siapa kamu? Kamu mau ke mana?”. Dengan wajah sedih, Schopenhauer menjawab: “Aku tidak tahu. Aku berharap seseorang memberi tahuku”.

Bukankah masih banyak orang yang bertanya hal yang sama? Tapi syukur kepada Allah! Alkitab cukup memberi jawaban bagi tiap manusia. Kita ada bukan kebetulan. Allah menciptakan kita untuk tujuan-Nya yang mulia. Semuanya telah direncanakan indah oleh-Nya. Ketika kita mempertanyakan siapa kita sesungguhnya, sebenarnya kita bukan sedang membicarakan diri kita, tetapi berbicara tentang Allah. Ini bukan mengenai kita, tetapi mengenai Allah. Kita harus mengenal Allah, lalu kita bisa mengenal diri sendiri. Kita harus memulainya dari Allah, karena kita diciptakan oleh Dia dan untuk Dia. Pencarian tujuan hidup telah membingungkan orang selama ribuan tahun, karena mereka memulai dengan titik awal yang keliru, diri mereka sendiri. Siapa aku, bagaimana aku, ke mana aku, dll... Bukan kita yang menciptakan diri kita, jadi kita sama sekali tidak mengetahui untuk apa kita diciptakan! Karena itu bertanyalah kepada Allah, Sang Pencipta, dan semua akan menjadi jelas....

Allah mengenal siapa milik kepunyaan-Nya. Mazmur ini diawali (juga diakhiri) dengan kesadaran akan ke-Maha-Tahu-an Allah. Karena itu pemazmur datang kepada Allah, yang mengenal dia sampai jauh ke dalam hati (through and through). Allah tahu segala sesuatu, semua yang kita lakukan, bahkan sebelum kita melakukannya (ay.1-6). Seperti pengakuan pemazmur, kita pun harusnya tertunduk dan berseru “Terlalu ajaib bagiku pengetahuan itu, terlalu tinggi, tidak sanggup aku mencapainya”.
Allah bukan hanya Maha Tahu, tapi juga hadir di setiap tempat dan waktu (ay.7-12). Tidak ada yang tersembunyi di hadapan-Nya. Tangan Allah menjaga anak-anak-Nya di manapun mereka berada, bahkan di tempat “tergelap” sekalipun. Mari pikirkan kembali kalimat teologis ini “Lebih baik berjalan bersama Allah dalam kegelapan, dari pada berjalan dalam terang namun tidak bersama Allah”. Bagi Allah hanya ada terang (ay.12), dan terang-Nya akan menghalau kegelapan, karena Dia-lah Terang itu. Tidak ada yang luput dari mata Allah. Mari ingat firman-Nya di Yeremia 23:23-24 “Masakan Aku ini hanya Allah yang dari dekat, demikianlah firman TUHAN, dan bukan Allah yang dari jauh juga? Sekiranya ada seseorang menyembunyikan diri dalam tempat persembunyian, masakan Aku tidak melihat dia? demikianlah firman TUHAN. Tidakkah Aku memenuhi langit dan bumi? demikianlah firman TUHAN”.

Kepercayaan diri kita akan kebesaran Allah semakin diteguhkan dengan tujuan-Nya bagi hidup kita, secara individu, bahkan sebelum kita diciptakan (ay.13-18). Ia menjadikan kita begitu berharga, begitu unik. Sungguh dahsyat dan ajaib. Ilmu pengetahuan pun tak cukup untuk mengungkapkan kebesaran Allah. Allah bahkan sudah memikirkan kita, jauh sebelum kita pernah terpikir sedikitpun untuk memikirkan Dia. Kita ada hanya karena Allah menghendaki kita ada. Hanya di dalam Allah-lah kita menemukan asal-usul kita, identitas kita, makna hidup kita, tujuan kita, pentingnya kita dan masa depan kita. Tujuan Allah bagi kehidupan kita telah ada sebelum keberadaan kita. Dia merencanakannya sebelum kita ada, tanpa masukan dari kita.Karena segala sesuatu telah direncanakan Allah, maka tidak ada istilah kebetulan. Bukan suatu kebetulan kalau anda sekarang sedang berada atau mengerjakan atau diberikan tanggung jawab ini dan itu. Pasti Allah sudah tahu. Sebelum kita dilahirkan, Allah sudah merencanakan “saat ini” di dalam hidup kita, bahkan ketika anda sekarang sedang membaca artikel ini . Allah memikirkan kita terlebih dahulu. “Waktu tulang-tulangku dijadikan, dengan cermat dirangkaikan dalam rahim ibuku, sedang aku tumbuh di sana secara rahasia, aku tidak tersembunyi bagi-Mu. Engkau melihat aku waktu aku masih dalam kandungan; semuanya tercatat di dalam buku-Mu; hari-hariku sudah Kau tentukan sebelum satu pun mulai.”(ay.15-16 BIS). Ia merancang setiap bagian tubuh kita, setiap karakteristik, talenta, keunikan, seperti yang Dia inginkan. Satu hal yang kita yakini, Allah tidak pernah membuat kesalahan, ya kan? :) Kalau jawaban kita Ya, berarti harusnya hidup kita penuh dengan ucapan syukur. Allah memiliki alasan untuk segala sesuatu yang Dia ciptakan. Motivasi Allah menciptakan anda dan saya adalah kasih-Nya. Alkitab berkata “Allah adalah kasih” (1Yoh4:8). Ayat ini tidak berkata Allah memiliki kasih. Dia adalah kasih! Kasih adalah hakikat karakter Allah. Ada kasih yang sempurna dalam persekutuan Trinitas. Jadi Allah tidak perlu menciptakan kita, Dia tidak akan kesepian. Tetapi Dia menciptakan kita karena kasih-Nya. Yang paling mengagumkan, Allah menjadikan kita supaya Dia bisa mengasihi kita. Inilah sebuah kebenaran sebagai landasan kehidupan kita. Kita adalah pusat kasih-Nya. Lihat, betapa Allah begitu mengasihi dan menghargai kita! Yesaya 46:3-4 "Dengarkanlah Aku... hai orang-orang yang Kudukung sejak dari kandungan, hai orang-orang yang Kujunjung sejak dari rahim. Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu”. Maz139:17 Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!

Pujian, semangat, dan ungkapan terima kasih si pemazmur terhadap tujuan dan kasih Allah dalam hidupnya, “membuka matanya” akan kesia-siaan orang fasik; orang-orang yang menentang Allah (ay.19-22). Bahkan menganggap mereka sebagai musuh, karena mereka memusuhi Allah. Kalau kita pikir, bukankah kita juga harusnya demikian? Mengasihi yang Allah kasihi dan membenci hal yang Allah benci. Tapi kembali pemazmur menyerahkan semuanya kepada Allah, untuk menyelidiki hatinya dan melihat motivasinya (ay.23-24). Sekali lagi, (seperti awalnya) mazmur ini ditutup manis dengan kembali sadar akan ke-Maha-Tahu-an Allah. Ia membawa pergumulannya dalam doa ratapan kepada Allah, Satu-satunya yang paling mengenal “hati” dan “pikiran”-nya. Tidak ada yang diingininya selain menyesuaikan keinginan hatinya seturut dengan keinginan hati Allah. “The heart of the problem is the problem of the heart”. Pemazmur bukan hanya memohon “pengujian” dirinya, namun juga tuntunan dari Allah. Ia sadar bahwa hanya itu yang sanggup menjaganya tetap di jalan yang benar. Ia mengakhiri bagian ini dengan mengakui bahwa hanya ada dua jalan yang dapat dipilih seseorang: jalan menuju kebinasaan, atau jalan menuju hidup kekal bersama Allah?; dan ia memilih yang kedua...berjalan bersama Allah dalam kekekalan. Abraham Lincoln pernah berkata: “Tentu Allah tidak akan menciptakan makhluk seperti manusia hanya untuk hidup sehari! Tidak, tidak, manusia diciptakan untuk kekekalan”. Kalau rata-rata lama hidup manusia sekarang ini sekitar 25.550 hari, tentu waktu yang sangat singkat sekali dibandingkan masa kekekalan Allah. (cara gampang membayangkannya, buat saja angka itu dalam satuan Rupiah. Nilai Rp.25.550 tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan nilai uang yang sangat-sangat besar, bukan?). Kalau demikian, pikirkanlah hal-hal apa yang akan kita lakukan di masa hidup kita yang se-begitu singkat ini namun akhirnya bernilai kekal?

Menulis bagian-bagian penutup ini, bibir saya tak henti-hentinya bersenandung lagu di awal artikel ini, dan ternyata mata saya sudah berkaca-kaca. Kalau saya mengingat kebaikan Tuhan, penyertaan-Nya yang sempurna, kasih-Nya yang begitu besar, dan betapa Ia mengenal sampai kedalaman hati saya, sungguh... saya menyadari bahwa setiap jengkal hidup ini sangat berarti karena Allah ada di dalamnya, dan tidak akan mungkin saya bisa luput dari pandangan-Nya. Betapa kudusnya kita harus hidup. Saya berdoa buat seluruh mahasiswa dan alumni PMK STAN agar mampu menyadari dan terus belajar mengenal siapa Allah sesungguhnya, sehingga juga mampu mengenal siapa diri kita sesungguhnya. Bukankah kerinduan kita, supaya kita mampu mencintai Allah lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun? Akhirnya seperti pemazmur, kita berani jujur berucap: Selidiki aku, ya Allah, dan kenallah hatiku...tuntunlah aku di jalan yang kekal!

Selamat berjuang untuk setia. Setia sampai akhir. Setia pada Allah yang setia. Allah yang omniscience, omnipresence, omnipotent itu! Soli Deo gloria.


Kawas Rolant Tarigan
Ketua Umum PMK STAN 2007/2008.

Sumber: NIV Study Bible, The Purpose Driven Life, Our Daily Bread

Read More..

Genesis 22:14 And Abraham called the name of that place Jehovahjireh: as it is said to this day, In the mount of the LORD it shall be seen. (KJV)
Kejadian 22:14 Dan Abraham menamai tempat itu: "TUHAN menyediakan"; sebab itu sampai sekarang dikatakan orang: "Di atas gunung TUHAN, akan disediakan." (LAI – TB)

Ya, itulah keyakinan iman dari bapa orang beriman, Abraham, ketika taat melakukan segala sesuatu yang diperintahkan Allah. Ketika percaya saja dan lakukan (trust and obey), akhirnya kita pun akan menikmati kesetiaan Allah akan janji-Nya, pemeliharaan-Nya, dan Dia sendiri pasti yang akan mencukupkan segala sesuatunya.
Narasi tentang iman Abraham yang diuji Allah (Kejadian 22:1-19) sungguh suatu cerita yang seharusnya membuat kita semakin tunduk serta menyerah pada kehendak Allah, maka ending-nya pun jelas, dengan mata kepala kita sendiri, kita akan melihat Allah yang menyediakan dan memelihara.
Dalam konteks pergumulan iman Abraham ini, kita melihat suatu tindakan ketaatan luar biasa, yang ditunjukkan Abraham. Dalam kondisi harus memilih: memenuhi tuntutan Allah yang tampaknya tidak bisa diterima dengan akal sehat, atau tetap mempertahankan Ishak, anak satu-satunya yang sudah sangat lama ditunggu, yang sangat ia kasihi. Secara pikiran manusia, permintaan Allah tersebut adalah suatu hal yang sangat tidak masuk akal. Bagaimana mungkin Allah yang setia itu, yang berjanji akan membuat Abra(ha)m menjadi bangsa yang besar (ps.12), melalui keturunannya Allah akan memberkati bangsa-bangsa (ps.15 diulang ps.18) dan bertahun-tahun ditunggu sampai akhirnya Ishak lahir (ps.21), namun sekarang Allah meminta Ishak dikorbankan??? Sungguh suatu pergumulan iman yang menggetarkan… Tapi akhirnya Abraham sampai kepada keputusan yang paling tepat, untuk lebih menuruti kehendak Allah!

Ketaatan Abraham kepada perintah Allah tidak berakhir dengan sad ending Sebaliknya, pergumulan Abraham telah melahirkan suatu dimensi pengenalan yang lebih dalam terhadap diri Allah. Dalam konteks pergolakan imannya, Abraham telah mengalami Allah sebagai “Yehovah Jireh” (Allah yang menyediakan, Allah yang mencukupkan, Allah melihat apa yang diperlukan); Dialah Allah yang menyediakan solusi bagi ketaatan iman Abraham, bahkan cerita ini ditutup manis dengan peneguhan kembali janji berkat Allah kepada Abraham (ay.15-18).
“Yehovah Jireh” bukan istilah eksklusif milik Abraham atau para tokoh Alkitab saja, tetapi merupakan sebutan yang bersifat terbuka bagi siapa saja yang mau berjalan dalam pergaulan dengan Allah yang hidup. Setiap kita yang percaya kepada Allah dapat mengalami kehadiran-Nya sebagai “Yehovah Jireh” dalam situasi pergumulan pribadi kita masing-masing. Dan yang terpenting adalah Allah dapat dialami sebagai “Yehovah Jireh” hanya dalam konteks ketaatan kita kepada kehendak-Nya!

Pengalaman itu jugalah yang membuat buletin PMK STAN edisi ini mengangkat tema “Yehovah Jireh”. Allah yang setia menyertai perjalanan PMK STAN selama ± 29 tahun ini (20 April 1979- 20 April 2008). Dari awal perjalanan PMK STAN sampai pelayannya yang terus berkembang hingga saat ini, Allah sekalipun tidak pernah meninggalkan. Allah telah, sedang dan akan terus berkarya di PMK STAN menghasilkan alumni-alumni Kristen yang akan menggarami dan menerangi bangsa ini. Bukankah pemeliharaan Allah terhadap pelayanan mahasiswa (Khususnya PMK STAN) adalah demonstrasi nyata bahwa Allah memperhatikan dan sedang bekerja atas bangsa Indonesia yang masih diliputi krisis ini?
Dalam perjalanan studi dan pelayanan kami setiap pengurus dan jemaat PMK STAN terus menikmati pemeliharaan Allah dalam setiap kebutuhan dan kecukupan, bahkan boleh menjadi saluran berkat bagi orang lain. Allah yang menyediakan dan membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Ini juga doa kami kepada seluruh alumni PMK STAN di manapun berada. Hanya Allah yang sanggup mencukupkan dan menjawab setiap pergumulan, baik pekerjaan, keluarga, dan pergumulan lain tanpa terkecuali. “Taat dan setialah walau sukar jalanmu…”. Percayalah pada pemeliharaan-Nya, Yehovah Jireh… Biarlah pengharapan yang kita miliki sama seperti yang dirasakan Rasul Paulus dalam menikmati pemeliharaan Allah dalam pelayanannya (sewaktu di Filipi sedang dalam penjara), sekalipun secara manusia tak sanggup kita pikirkan.
Filipi 4:19 Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus.
Selamat menikmati pemeliharaan Allah…


Kawas Rolant Tarigan

Read More..

Ini renungan spontan, ketika semakin sering melihat orang-orang tidak tahu malu di depan umum. Wanita yang berpakaian minim, berpacaran terlalu intim di jalan, tempat terbuka dan tempat umum, “suap” terang-terangan di jalan dan di tempat kerja, perkataan-perkataan kasar dan tidak sopan, dan yang lain-lainlah. Seakan-akan bertanya dalam hati: apa mereka tidak malu? Dan bagaimana perasaan kita ketika melihat fenomena-fenomena itu? “Sudah biasa”?? Kalau ya, jangan-jangan kita sudah kehilangan “visi ilahi” ketika melihat orang banyak, tidak ada lagi rasa “belas kasihan”.
Sedangkan bagi orang-orang Kristen, ada rasa malu yang mengganjal sedikit ketika harus membaca Alkitab di tempat umum, berdoa sebelum makan di tempat umum, membawa Alkitab (jadi harus dimasukkan ke dalam tas), baru pulang dari kebaktian, dan hal-hal lain yang menunjukkan identitas Kristen kita (misalnya wallpaper PC atau HP, ringtone, buku bacaan, dlsb). Bahkan ketika ada orang yang menanyakan agama, seringkali dijawab: “Maaf, saya agama Kristen”. Kenapa minta maaf? Apa ada yang salah? Bukankah cukup dengan: “Terimakasih, saya Kristen”. Terimakasih, karena ini kesempatan (kairos) menunjukkan kita pengikut Kristus.
Bukan maksudnya supaya kita mengekspos kehidupan rohani kita menjadi tontonan orang, seperti ahli-ahli Taurat dan orang Farisi yang memang sengaja melakukannya untuk mendapatkan pujian. (contoh: Mat 6: dalam hal memberi sedekah, hal berdoa, hal berpuasa, dll). Bukan begitu. Kualitas ke-Kristen-an kita adalah dalam relasi pribadi dengan Tuhan, bukan “pameran kerohanian” di depan umum. Tapi, kalau melakukan beberapa tindakan sederhana karena kita Kristen (sekalipun di depan umum), dan kitapun merasa malu, sepertinya ada hal yang perlu dipertanyakan tentang pemahaman dan kesaksian kita. Kalau orang berbuat dosa dan dengan santai mengatakan “Cuek aja, ngapain dengar kata orang”, masakan kita yang melakukan kebenaran tidak mampu mengatakan hal yang sama padahal yang kita lakukan adalah kebenaran? Kalau Saksi Yehuwa tidak malu datang ke rumah-rumah mengatakan apa yang mereka percayai (dan itu sesat), masakan kita yang yakin akan kebenaran malah “malu” menyaksikannya pada orang lain?

Bukankah kita orang percaya harus menjadi terang yang menelanjangi kegelapan? Efesus 5:8-13 “Memang dahulu kamu adalah kegelapan, tetapi sekarang kamu adalah terang di dalam Tuhan. Sebab itu hiduplah sebagai anak-anak terang, karena terang hanya berbuahkan kebaikan dan keadilan dan kebenaran, dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan. Janganlah turut mengambil bagian dalam perbuatan-perbuatan kegelapan yang tidak berbuahkan apa-apa, tetapi sebaliknya telanjangilah perbuatan-perbuatan itu. Sebab menyebutkan saja pun apa yang dibuat oleh mereka di tempat-tempat yang tersembunyi telah memalukan. Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang.”

Harusnya kita malu karena keberdosaan kita, harusnya kita juga membuat orang sadar dan malu akan dosa-dosanya. Jangan sampai kita membuat Allah malu karena kita, dan jangan “malu-maluin” menyandang status pengikut Kritus.

Markus 8:38 “Sebab barangsiapa malu karena Aku dan karena perkataan-Ku di tengah-tengah angkatan yang tidak setia dan berdosa ini, Anak Manusia pun akan malu karena orang itu apabila Ia datang kelak dalam kemuliaan Bapa-Nya, diiringi malaikat-malaikat kudus.”

Selamat bersaksi.
Salam, Kawas. 13 Juni 2009.
(di tengah-tengah belajar berjalan mengikut Tuhan, meski tertatih-tatih…)

Read More..

Dulu yang ada cuma Puteri Indonesia, entah kenapa muncul Miss Indonesia. Dulu juga kayaknya cuma Miss Universe yang ada, kemudian muncul Miss World. Apa supaya kesempatan bagi para wanita menjadi lebih besar? Gagal di kompetisi yang satu, coba lagi kompetisi yang satunya. Entahlah.
Tapi dengar-dengar kabar, Miss Indonesia 2009 sudah terpilih. Entah siapa namanya, yang jelas dari DKI Jakarta (eh, katanya Kristen ya?). Kalau dipikir-pikir, para finalis itu pasti orang-orang pilihan, entah karena kecantikan, intelektual, pengalaman, keaktifan organisasi, atau yang lainlah. Apalagi yang Juara, berarti dia yang terbaik, selama masa karantina, dan penilaian dari dewan juri (yang pasti juga orang-orang pilihan). Harusnya begitu. Karena mereka akan menjadi public figure, yang kehidupannya akan diamati dan bahkan mungkin diikuti oleh orang lain, di samping sebagai wakil negara ini di dunia internasional.
***
Beberapa waktu yang lalu kembali mendengar kabar, seorang tokoh, artis, politikus akhirnya mengakui bahwa ia telah hamil, telah menikah, dan telah meninggalkan Kristus. Ia tidak lagi setia kepada Kristus yang telah setia kepadanya selama ini, bahkan ia menyebut Kristen sebagai “agama mereka” (orang tuanya). Hal itu diakuinya di depan media, yang pasti jadi tontonan jutaan orang. Dia bersaksi, tapi sayang, tentang penyangkalan kepada Kristus. Padahal sewaktu aku SMA, aku ingat dia pernah menjadi “Profile tokoh” di salah satu majalah Kristen untuk kaum muda. Fotonya dipampang besar, lengkap dengan kalung salibnya.

Siapa tak meratap melihat kejadian seperti ini terjadi berkali-kali di kalangan artis, yang jadi sorotan banyak orang, dan dari segi wajah, harta, sudah lebih dari cukup. Ternyata itu semua tidak menjamin kebahagiaan. Cantik-cantik dapat duda juga, atau ada yang cerai juga, (padahal wanita yang tidak secantik mereka pun bisa mendapat pemuda yang gagah, setia, dan rumah tangganya awet). Benarlah kata Amsal:”Kemolekan adalah bohong dan kecantikan adalah sia-sia…” (Ams 30:31). Jadi jangan cepat tergoda dengan kecantikan, ITU ‘KAN HANYA SEMENTARA, TIDAK KEKAL. Tidak jarang melihat kasus para pria “terperosok” hanya karena kecantikan semu para wanita. Bukan hanya jaman sekarang, itu sudah dari jaman Adam. Lihat tokoh-tokoh Alkitab berikut: Adam, Simson, Daud, Salomo, karena siapa lupa Tuhannya? Ssstt!! Karena wanita :) Pasti para wanita protes: siapa suruh para pria tidak tahan godaan? Ada benarnya juga :) [harta, tahta, wanita]. Tapi janganlah pancing-pancing… :)
Berhati-hatilah. Iblis memakai kenikmatan dunia ini untuk menggodai kita. Bahkan itu sudah iblis lakukan sewaktu mencobai Tuhan Yesus di padang gurun (Mat 4:1-11; Luk 4:1-13; Yesus menang). Iblis memakai sifat dasar manusia yang tidak pernah merasa puas. Harta, jabatan, dan kepuasan-kepuasan lainnya. Semakin tinggi kedudukan seseorang, justru makin besar godaannya. Seperti pohon kelapa, semakin tinggi-semakin goyah, karena anginnya semakin kencang, kelihatannya saja kokoh. Kalau tidak punya “AKAR” yang kuat, pastilah dia tumbang.
Menarik sekali menyimak “Kebenaran yang sejati” yang dituliskan Rasul Paulus dalam Filipi 3:1-16. Sebenarnya dia punya banyak alasan untuk menyombongkan diri, merasa hebat dan bisa saja “melupakan” Kristus. Namun apa yang dia katakan di ayat 7-8: “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya SAMPAH (-kotoran-), supaya aku memperoleh Kristus,”... Luar biasa!!! Menulis bagian ini, aku berhenti sejenak. Tanganku gemetaran. Sambil membayangkan bagaimana Sang Rasul tua ini (bahkan di dalam penjara) bisa menuliskan pengakuan mulia ini? Sambil merenungi: mampukah aku, ketika di masa tua nanti, mungkin saja sudah dengan berbagai kenikmatan, mengucapkan kalimat yang sama? Paulus memberi tahu rahasianya: “…mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya, supaya aku akhirnya beroleh kebangkitan dari antara orang mati.” (ay.10-11). Kalau tidak punya “AKAR” yang kuat, pastilah dia tumbang.
Jangan tinggalkan Kristusmu demi SAMPAH (apalagi demi seorang wanita/ pria). DIA tidak pernah mengecewakan, bukan? Jangan salah pilih. “HOLD TIGHTLY TO WHAT IS ETERNAL & HOLD LIGHTLY TO WHAT IS TEMPORAL”.
Iblis akan terus menggoda kita sampai kesudahannya, dan ketika kita jatuh dia akan bilang: “siapa suruh tidak tahan godaan?”. Sebagai alumni, godaan semakin besar, saling mendoakanlah. Kalau tidak punya “AKAR” yang kuat, pastilah kita tumbang. Karena itu, melekatlah kepada Tuhan, berjuang terus untuk MENGENAL Yesus, dalam relasi pribadi dengan-Nya, dan persekutuan. Ketika kita memiliki segala sesuatu di dunia ini, tetapi tanpa memiliki Kristus, sebenarnya kita sedang tidak memiliki apa-apa. Tetapi ketika kita sudah memiliki Kristus, sekalipun tidak memiliki apa-apa, sebenarnya kita telah memiliki segala sesuatu. Jangan salah pilih: mana yang kekal, mana yang fana; mana yang berkat, mana yang Sumber berkat.
Rasanya ingin melanjutkan terus sampai ke ayat 16, indah sekali. Tapi sudahlah, baca dan renungi sendiri saja, mungkin lebih meresapi.
Aku tambah lagi satu ayat: 1 Yoh 2:17 “Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya.”. Coba ambil waktu, sebentar saja, untuk berpikir: kenapa makin banyak orang meninggalkan (atau belum menerima) Yesus? Yang pertama bolehlah: itu anugerah semata. Tapi yang kedua, jangan-jangan orang-orang Kristen gagal (belum) menyaksikan Kristus bagi sesamanya??? Lalu? “The man is the message”. Kita-lah kitab terbuka itu. Bagaimana mungkin orang bisa percaya Kristus jika pengikut-Nya bukanlah “imitasi-imitasi Kristus”?

Oh iya. Kenapa judul tulisan ini Miss Indonesia? Karena dia baru saja terpilih. Berharap semoga dia jadi TELADAN yang baik (lebih baik lagi dari pendahulu-pendahulunya). Mungkin menurut dewan juri, dialah yang terbaik, seperti miss-miss atau puteri-puteri Indonesia sebelumnya. Tapi menurut “JURI di atas segala juri” (Yesus)? Tidak tahulah. Karena “…Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Sam 16:7).
Mungkin banyak wanita bermimpi ingin menjadi Miss Indonesia. Mungkin banyak pula pria bermimpi punya pasangan hidup Miss Indonesia. Kalau aku? Ah, tidak usahlah Miss Indonesia. Nanti semakin sukses dia, tergoda pula untuk “melupakan” Allahnya, yang lebih parahnya lagi, digodanya pula aku untuk itu. Tidak usahlah Miss Indonesia. Misnilawaty saja :)
Seperti namanya:
Misnilawaty = Miss Universe pribadi, selalu istimewa di hati.
Misnilawaty = Miss Universe pribadi, pantaslah Kawas menanti.
Ah, sudahlah, nanti semakin panjang lagi… :) “Pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku…”
Selamat bersaksi!

Salam, Kawas. 7 Juni 2
009.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo