Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Dear Misni, apa kabar di sana? Hehe..

Beberapa hari ini, aku kok jadi sering banget dengar lagu ini ya? Teringat dulu waktu pertama kali kenal lagu ini, di masa-masa SMA. Kita belum pacaran, karena kam berkali-kali menolak cintaku :p Tapi waktu aku suka-sukanya sama kam, aku juga lagi suka-sukanya sama lagu ini. Mungkin karena banyak kata "miss"-nya, melafalkan panggilan wanita yang kusayangi: "Miss...". Hehe.. Pantaslah kam ngangenin.

Walau gak seperti Steven Tyler, aku bisa menyanyikannya dengan baik, dengan suara tinggi dan rock, dengan chord yang sama, D=do :)

Aku pernah menyanyikannya dulu dengan gitarku sewaktu di asrama, kam juga ada di situ,, dan aku mau melakukannya lagi..


I could stay awake just to hear you breathing
Watch you smile while you are sleeping
While you're far away dreaming
I could spend my life in this sweet surrender
I could stay lost in this moment forever
Every moment spent with you is a moment I treasure

Don't wanna close my eyes
I don't wanna to fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

Lying close to you feeling your heart beating
And I'm wondering what's your dreaming
Wondering if it's me you're seeing
Then I kiss your eyes and I thank God we're together
I just wanna stay with you
in this moment forever, Forever and ever

I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't wanna miss one smile
I don't wanna miss one kiss
I just want to be with you
Right here with you, just like this
I just want to hold you close
Feel your heart so close to mine
And just stay here in this moment
For all the rest of time…

Don't wanna close my eyes
Don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you baby
And I don't want to miss a thing

I don't wanna close my eyes
I don't wanna fall asleep
Cause I'd miss you baby
And I don't want to miss a thing
Cause even when I dream of you
The sweetest dream would never do
I'd still miss you baby 

And I don't want to miss a thing…
















Coba nih kubuat terjemahan bebas, bahasaku sendiri: hahaha
 

Aku bisa terjaga hanya untuk mendengarmu bernafas
Melihatmu tersenyum saat tertidur
Saat kau jauh bermimpi
Aku bisa menghabiskan waktuku dalam kepasrahan yang manis ini
Aku mau tersesat dalam kondisi ini selamanya
Setiap detik yang dihabiskan bersamamu, adalah waktu-waktu berharga buatku

Aku gak mau memejamkan mataku
Aku gak mau jatuh tertidur
Karena aku merindukanmu
Dan aku gak mau kehilangan satu hal pun
Bahkan ketika aku memimpikanmu
Mimpi termanis pun tidak terjadi
Aku masih saja merindukanmu
Aku gak mau kehilangan sesuatupun

Berbaring dekatmu, merasakan detak jantungmu
Aku bertanya-tanya apa yang kau mimpikan
Apakah diriku yang kau lihat itu
Lalu ku kecup matamu dan aku bersyukur kepada Tuhan karena kita bersama
Aku hanya ingin bersamamu
Saat ini, dan selama-lamanya

Aku gak mau memejamkan mataku
Aku gak mau jatuh tertidur
Karena aku merindukanmu
Dan aku gak mau kehilangan satu hal pun
Bahkan ketika aku memimpikanmu
Mimpi termanis pun tidak terjadi
Aku masih saja merindukanmu
Aku gak mau kehilangan sesuatupun

Aku gak mau kehilangan satu senyuman
Aku gak mau kehilangan satu kecupan
Aku hanya ingin bersamamu
Di sini bersamamu, ya seperti saat ini
Aku ingin mendekapmu erat
Merasakan hatimu begitu dekat di hatiku
Dan bertahan seperti ini
Hingga sisa waktu…

Aku gak mau memejamkan mataku
Aku gak mau jatuh tertidur
Karena aku merindukanmu
Dan aku gak mau kehilangan satu hal pun
Bahkan ketika aku memimpikanmu
Mimpi termanis pun tidak terjadi
Aku masih saja merindukanmu
Aku gak mau kehilangan sesuatupun

Aku gak mau menutup mataku
Aku gak mau jatuh tertidur
Karena aku merindumu
Dan aku gak mau kehilangan satu hal pun
Bahkan ketika aku memimpikanmu
Mimpi termanis pun tidak terjadi
Aku masih saja merindukanmu
Aku gak mau kehilangan sesuatupun…


Subang,
malam hari di pertengahan bulan Mei

Salam rindu Suamimu,
yang jauh di mata- dekat di hati ♥



Read More..

Anda tahu cinta pertama saya? Kalau saya ditanya cinta pertama, saya akan menjawab satu nama: sebut saja Nora. Setelah itu saya akan tertawa geli. Kenapa? Karena: pertama, saya menyukainya sewaktu kelas 6 SD! Saat itu cuma berani memandang dari jauh, kirim-kirim salam lewat kawan, pengakuan lewat diary, dan tulis namanya di atas meja kelas. Hahaha... Cinta bocah ingusan yang masih bercelana pendek. Kedua, sampai saat ini, sampai jari-jari saya mengetikkan huruf demi huruf menulis artikel ini, kami belum pernah ngomongan sama sekali. Jadi saya mencintainya dari jauh. Tidak pernah ngobrol langsung, bahkan ketika saya melihat wajahnya, dia buang muka. Hahaha...dosa saya apa. Terakhir ketemu tahun 1998 (15 tahun yang lalu!). Beruntunglah beberapa tahun yang lalu ada Facebook, di situlah ketemu dia lagi meski di dunia maya. Dan itu tidak gampang. Beberapa kali di-search tidak pernah ketemu. Entah kenapa di suatu hari bisa ketemu akun facebooknya, dan hanya saling berbalas message beberapa baris menanyakan kabar. Ketiga, sekarang dia sudah berumah tangga. Menjadi istri dari seorang pria yang beruntung, ibu dari seorang anak yang lucu, dan seorang guru TK dari murid-murid kecilnya yang berbahagia. Hehehe... Dialah wanita pertama yang saya sukai. Kenapa saya bilang begitu? Karena dialah yang pertama kali membuat si Kawas kecil bisa malu-malu kalau ketemu atau kalau disorakin ciyeee, dialah yang mendorong bocah 12 tahun bernama Kawas akhirnya bisa bermain gitar supaya bisa menyanyikan lagu-lagu cinta, dan dialah yang menjadi salah satu motivasi Kawas kecil untuk meraih ranking 1, supaya ketika nama “Kawas” dipanggil, naik ke podium, itu hanya demi mendapatkan secercah perhatian yang sebentar saja dari gadis kecil yang bernama Nora, walau hanya sekilas pandang sebelum buang muka. Sudah cukup. Hahahaha... bahkan saya masih terus tertawa ketika menulis bagian ini. 

Itu SD. Ternyata ceritanya tak selalu bahagia dan baik seperti roman-roman para pujangga. Saya jadi cowok yang kurang ajar. Saya pantang menyadari sedikit saja diperhatikan cewek, saya akan meresponnya. Suka atau enggak, urusan nanti. Saya rasanya tak bersalah melihat cewek patah hati. Saya merasa tak berdosa pacaran beda agama. Memang tak selalu. Tapi saya pernah berada dalam sisi gelap itu. Memang dalam sebuah cerita, seringkali makna cerita dikasi tahu di bagian akhir. Sewaktu menjalaninya, saya merasa tidak ada yang terlalu serius untuk dipersalahkan. Tapi barulah sekarang ini, ketika mengingat betapa jahatnya saya dulu, saya malu. Ada berapa nama lain yang pernah singgah di kisah cinta saya, sebut saja Rina. Kami tak pernah jadian. Tapi dia tahu saya mencintainya, dan katanya dia juga mencintai saya. (Pokoknya ini cinta-cintaan anak-anak :p) Kami tak pernah jadian, karena teman saya yang duluan menyatakan cintanya, dan malah mereka jadian, walau sebentar. Itu sekitar 13 tahun yang lalu. Dan tahun 2009, saya mendengar kabar bahwa Rina telah dipanggil Tuhan, karena sakit keras, entah apa. Padahal beberapa bulan sebelum kejadian itu, sewaktu pulang kampung, saya mendengar kabar bahwa dia bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah rumah sakit swasta. Suatu hari saya singgah di rumah sakit itu dan ingin berjumpa. Tetapi hari itu dia tidak masuk bekerja. Teman satu bagiannya yang memberi tahu hal ini kepada saya kelihatan ragu. Apalagi ketika saya memberitahukan nama saya, Kawas. Saya ragu apa dia menyimpan sesuatu. Saya hanya bilang bahwa kami kawan lama, yang sudah lama tidak bertemu, saya kebetulan lewat, hanya ingin berjumpa. Akhirnya dia cuma bilang, “Rina sepertinya sudah mau menikah, Pak. Calonnya polisi”. Saya bingung, apakah mereka berteman dekat sehingga Rina pernah menceritakan tentang saya ke dia. Sudah lebih 10 tahun tak berjumpa, dan sudah punya pasangan/ kehidupan masing-masing. Tahun demi tahun tak ada kabar, beda pulau, beda kota, entah sakit apa yang telah merenggut nyawanya, dan akhirnya dia tidak jadi menikah. Saya sangat terkejut, sedih mendengar kabar itu. Sebagai sahabat, saya memang tahu dia punya masalah keluarga, dan bebannya juga lebih berat. Tapi sedikitpun tak pernah menyangka, Tuhan memanggil gadis manis itu begitu cepat. Saya masih menyimpan fotonya, katanya itu foto kesukaannya, tapi dia berikan sebagai ganti ucapan terima kasih karena dulu saya pernah memberikannya boneka kecil dari uang jajan saya. Di belakang foto itu, masih ada tulisan tangannya, yang indah dan tegar, seperti penulisnya. 

Itu kisah remaja. Sampai memasuki SMA, saya tak pernah terlalu serius menjalin cinta. Saya merasa wajar, karena saya masih muda, dan bermain-main dengan cinta monyet. Dengan modal gitar, nyanyian cinta, gombal, puisi, aktif di sana sini, humoris, menyenangkan tapi lama-lama menjijikkan, saya bahkan tak sadar bahwa saya sedang mempermalukan Tuhan dengan menyandang Seksi Rohani Kristen. Sekali lagi, setelah beberapa tahun kemudian, sekarang ini, barulah saya semakin tahu, harusnya saya sadar betapa malunya saya saat itu. Di masa akhir masa SMA barulah saya bertobat. Tapi pertobatan saya akan dosa yang lain, tidak serta merta secepat kilat memulihkan cinta saya. Saya takut apa yang saya alami ini terjadi kepada orang-orang lain yang menyebut dirinya para pelayan Tuhan. Bertobat dari dosa yang satu, tapi masih bermain-main dengan cinta, suka selingkuh, suka tebar pesona gak jelas ke cewek-cewek, suka dikagumi, dst. Justru dalam hal pacaranlah pelayan Tuhan seringkali menjadi batu sandungan. Hanya kesabaran dan kesetiaan Tuhan yang membuat saya berubah. Dalam kesabaran pelayan pembimbing rohani, persekutuan, Tuhan sabar dan setia bekerja menghancurkan keangkuhan saya. Di penghujung tahun SMA, saya dekat dengan adik kelas saya, Misni, gadis yang sederhana, cerdas, dan sekarang menjadi calon istri saya, pendamping, penolong, teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Ini pun tak gampang. Saya harus membayar mahal atas luka-luka yang telah saya tabur. Tak ada yang mendukung, berkali-kali Misni menolak, tak percaya, dan teman-temannya juga satu suara: tidak! Saya harus bersabar, dan memang diuji untuk menunjukkan kesetiaan saya. Bahwa saya mencintainya, sungguh mencintainya. Saya serius. Memang Tuhan baik, panjang sabar. Akhirnya kami jadian tanggal 23 Juni 2004. Saat itu saya sudah di Jogja, dan dia di Sibolga. Cinta apaan ini? Memang Tuhan punya cara unik, kesetiaan langsung diuji berlapis-lapis. 2005-2008 Tuhan satukan kami di Bintaro, tapi sekarang Tuhan jauhkan lagi, Subang-Jakarta. Kadang dekat, berantem, kadang jauh, rindu, berantem juga. Kadang waktu berjalan begitu cepat, kadang begitu lambat, padahal sebenarnya waktu tak merubah kecepatan. Hampir 9 tahun sudah saya dan Misni menjalin kasih, dan kami akan menikah di bulan ini, seminggu sebelum Paskah. Kehidupan keluarga kami ke depan pun kelihatannya tak segampang keluarga lain. Jarak yang memisahkan, menyebabkan kami hanya dapat bertemu seminggu sekali. Weekend adalah waktu yang sangat berharga. Memang tak mudah, banyak liku dan godaan. Sama seperti 9 tahun yang telah kami lewati. Jangan pikir semuanya baik-baik saja, dan seindah kebun bunga. Kami penuh kegagalan. Saya pernah (lagi) tak setia. O Tuhan. Begini, saya pernah membaca artikel psikologi, kalau perselingkuhan ada 3 macam/ tingkatan: hati, pikiran, perbuatan. Makin lama, makin rusak. Selingkuh hati: ketika ada kejenuhan, mulai tertarik kepada orang lain, tapi hanya dalam hati. Selingkuh pikiran mulai terpikir: andai aku dengan dia, mulai membanding-bandingkan. Dan selingkuh tindakan/ perbuatan, ya sudah, jalan sama orang lain, jalan sama pacar orang, sms-an, chating, teleponan, dll. Makanya di jaman jejaring sosial ini perselingkuhan semakin marak, dan banyak yang ketahuan. Selingkuh hati dan pikiran tak ada yang tahu, selain diri kita dan Tuhan, atau terkecuali orang yang bersangkutan atau orang lain bisa dengan jelas membaca tanda-tandanya. Hati dan pikiran, ini yang bahaya: tersembunyi, enak sekali dipelihara. Orang lain tak perlu tahu. Munafik. Kalaulah anda sudah (atau) baru tahu 3 jenis selingkuh yang ternyata sangat luas ini (hati, pikiran, perbuatan), jawablah dalam hati pertanyaan retorik berikut: pernahkah anda berselingkuh? 

Memang masalah pasangan hidup adalah hal yang krusial. Paling tidak karena dua hal: pertama, jatuh cinta ini melibatkan emosi, perasaan yang dalam, mengusik, tak hanya iman gampangan yang tahu bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik tepat pada waktunya. “Kalau boleh, dialah pacarku Tuhan”, “Tuhan, kalau dia bukan jodohku, ubahlah dia jadi jodohku. Kalau bukan juga, jangan biarkan dia mendapat jodoh” #prustasi. Berdoa tetap berdoa, tapi emosi makin menonjol juga. Malah cowok mendekati cewek lain dengan bungkus-bungkus rohani; dengan kata-kata: kudoakan, kugumulkan, padahal dijalani dengan ketidaksetiaan. Ini bisa juga terjadi pada cewek. Meresponi cowok dengan cara yang sama, padahal hatinya sedang condong kepada cowok yang lebih menarik. Dan cowok yang lebih menarik itupun melakukan hal yang sama ke cewek lainnya. Hahahaha... Memang akuilah, cowok lebih rentan jatuh dalam hal ini. Kedua, memilih pasangan hidup adalah keputusan kedua terpenting dalam hidup setelah memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kalau salah pilih, dua-duanya berdampak panjang, bahkan kekal. Salah menikah, nyesal seumur hidup. Salah pilih teman hidup, bisa-bisa makin jauh dari Tuhanmu, dan sengsaralah hidupmu, anak-anakmu. Karena krusial-nya inilah, setiap orang harus bersungguh-sungguh berhati-hati; khususnya pelayan Tuhan, yang hakikinya menjadi teladan secara holistik, bukan jadi batu sandungan. Dan saya mau kasi tau satu lagi kejujuran: Pelayan tidak imun (kebal) terhadap perselingkuhan, entah itu hati, pikiran, dan atau perbuatan. Banyak contoh-contoh ketidaksetiaan yang terlalu malu untuk kita sebutkan, termasuk saya. Dalam hal lain kita setia, tapi dalam hal ini kita bisa rapuh. Anda mungkin tidak terlalu merasakannya. Tapi coba bayangkan kalau pelayanan anda semakin baik, semakin luas, anda semakin dikenal. Anda akan terpikir, berapa wanita yang jatuh hati padaku? Siapa wanita tak tertarik pada sosokku yang bertalenta dan berkharisma ini? Cuih, cuih. Untuk sadar akan sampahnya hal ini, mungkin perlu waktu. Mungkin beberapa tahun lagi baru kita sadar betapa memalukannya kita sekarang. Makin luas pelayanan anda, makin besar godaan untuk dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan: berapa murni cinta anda dan berapa murni pelayanan anda? Berapa murni cinta dan pelayanan anda? Sekarang anda boleh mengerti arti judul artikel ini. Kalau anda pelayanan di balik layar, anda masih bisa menepuk dada. Tapi coba bayangkan anda sebagai pelayan yang “banci tampil” ini, sebagai MC/ Pemimpin pujian, atau sebagai pemusik, sebagai trainer, sebagai pembicara/ pengkhotbah, sebagai panitia, pendamping, dan pelayanan sejenis lainnya. Semua mata tertuju pada anda, semua telinga mendengar anda, dan bahayanya, anda terjebak untuk menanti-nanti mendengar kalimat: “siapa sih dia? Keren banget. Terima kasih ya. Wah....dia lagi yang melayani”. Sekalipun bentuknya bisik-bisik, kuping anda tajam mencari kalimat ini. Ehm, karena kita senang dipuji, kita senang ditepuktangani, kita senang dikagumi, kita senang ditinggikan (bahkan untuk kerendahan hati kita!), kita senang mendengar nama kita dibacakan, kita senang melihat nama kita tercetak, kita senang jadi sorotan. Di sinilah jebakan itu semakin dalam menanamkan akarnya. Kadang kita sengaja memunculkan kharisma itu, untuk diperhatikan. Lihat saja teknik jadul, kampungan, yang masih sering digunakan sampai sekarang oleh para pria yang belum sadar: tepe-tepe (tebar pesona), tiba-tiba jadi sering melempar senyum manis si kawan ini ketika banyak mahasiswi; seperti menabur benih cinta, entah mana nanti yang tumbuh, entah mana nanti yang di-follow up. Atau modus yang dilakukan secara personal: perhatian ke seseorang, rajin sms, rela antar-jemput (sampai gerbang lagi), disiplin tanya kondisi, sabar untuk ramah, dan dewasa. Semua hal ini tak ada yang salah –jika dan hanya jika– dilakukan dengan motivasi yang penuh kemurnian. Bukan dengan teknik tarik ulur: dari intensitas perhatian yang tinggi, lalu menghilang, supaya dirindukan, seakan-akan ada yang hilang, dan ketika si cewek terjebak dalam permainan ini, muncullah pertanyaan yang ditunggu-tunggu, “Kamu ke mana? Kok ada yang hilang tanpa dirimu?”. Trap! Ingat hari ulang tahun, kasi kado, ingat hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai, berbuat hal-hal yang lucu dan seakan penuh pengorbanan, menerobos hujan, berlari-lari mengejar kereta, dll (sekali lagi, kalau ini murni, akan indah) tapi ketika si cewek makin terjerat, ingin memastikan hubungan yang makin serius... si cowok (yang ternyata sudah jenuh atau sudah melihat wanita lain yang lebih menarik), dengan gampang berkata: kita cuma teman kan, kita dekat gini karena rekan pelayanan, dsb, makin rohani kalau pakai doa, ayat, sharing, pergumulan. Kadang wanitanya pun terlalu cepat terbuai. Semoga anda semakin mengerti makna judul artikel ini. Pelayanan dan cinta seringkali ditantang oleh kemurnian. Bahkan pelayanan menjadi wadah yang rawan selingkuh. Dalam sebuah artikel yang mengutip khotbah seorang pendeta yang saya kagumi juga buku-bukunya, dikatakan: bahkan perselingkuhan dimulai tidak dengan motivasi kotor, tetapi dari pikiran yang baik/ tulus. “Kami hanya berteman kok, tidak mungkin saling mencintai”. Namun waktu membuktikan “pertemanan” berubah menjadi perselingkuhan. Ya, entah itu hati, pikiran (baca: ketersembunyian, kemunafikan), atau tindakan. Jadi hanya bisa geleng-geleng kepala ketika seseorang baru putus cinta, cepat sekali dapat gantinya. Kok bisa? Kalau bukan pelarian, ya selama ini sudah dibiarkan hati dan pikirannya mendua kemana-mana, hanya belum bertindak. Itulah ketidaksetiaan yang saya ceritakan pernah menjangkiti saya di sela-sela 9 tahun menjalin kasih. Dan kapan waktu paling matang godaan tidak setia ini menerkam? Saat kesepian, saat bermasalah, saat bertengkar, bahkan saat putus. Saya mencari penghiburan yang sesat. Saya masih ingat status BBM seorang teman: “Fall in love when you are ready, not when you are lonely”. Memang mengobati luka yang telah disakiti itu gak mudah, seperti salah memasang paku di papan, sekalipun sudah dicabut, tetap aja ada bekas pakunya. Saya mohon maaf untuk setiap mereka yang pernah saya sakiti, atau cintai. Terima kasih juga karena Tuhan banyak menghajar dan membentuk saya melalui itu semua. 

Perselingkuhan merajalela bagi orang yang belum bertobat, tapi juga ancaman serius bagi para pelayan-Nya. Apalagi biasanya banyak orang yang tidak suka dikoreksi masalah yang sensitif ini. Perlu kedewasaan dalam bentuk keterbukaan dan kerendahan hati. Catat ini: cinta yang salah akan menghambat pelayanan, sebaliknya, cinta yang benar akan terus mendorong pelayanan. Itulah maksud judul tulisan ini, meskipun pengantarnya panjang. 

Memang masalah pasangan hidup adalah misteri ilahi, dan kita dituntun untuk taat setapak demi setapak, menantikan Tuhan berkarya indah pada waktunya. Bagi anda yang sudah berpacaran, setialah, saling menjaga dan percaya. Hati-hati kalau pasangan anda mulai memasang password dimana-mana: HP, dsb, tidak terbuka lagi, bahkan untuk jejaring sosial, cepat emosi kalau ditanya-tanya. Tapi ini bukan berarti membenarkan anda menjadi stalker yang curigaan, tukang ngecek sms, inbox, dll, karena itu hanya memperburuk keadaan dengan kecemburuan yang tidak sehat, dan karena anda sulit mempercayai, jangan-jangan menandakan bahwa anda juga sulit dipercaya. Bagi anda yang masih single, nikmatilah waktu penantian ini sebagai proses pembentukan Allah. Ada orang yang menjalaninya dengan ceroboh, tidak mau berkomitmen: “jalani aja dulu, kalau jodoh ya lanjut, kalau tidak, ya kita pisah baik-baik”. (Saya hampir tak percaya ada perpisahan yang baik-baik. Hampir pasti ada luka, ada sakit di situ. Maraknya tipuan “akan baik-baik saja” yang ditebar oleh selebritis ini tanpa sadar semakin menjalar; cocok lanjut, tak cocok bubar, tanpa komitmen). Ingat Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik, pendampingmu. Pernah gak kita berpikir iseng: “Enak kali si Adam. Tak perlu bingung memilih, cuma ada 1 wanita: Hawa. Tak pernah terpikir selingkuh”. Hehehe. Tapi jangan lupa, Tuhan yang membawakan Hawa bagi Adam, adalah Tuhan yang sama yang akan membawakan “Hawa” bagi seorang “Adam” seperti dirimu, pada waktu-Nya. Lihatlah seksama narasi kitab Kejadian sebenarnya dengan jelas mencatatnya. Bahwa Hawa diciptakan bukan atas permintaan Adam, tapi inisiatif Allah, ketika TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:18). Inilah pertama kalinya Allah mengucapkan “tidak baik” setelah di satu pasal sebelumnya “semuanya baik”, “sungguh amat baik”. Jadi, tenanglah, Tuhan pasti tahu yang baik dan tidak baik. Dia Pemilik hidup ini. Buat wanita single, banyak buku bagus yang bisa dibaca, salah satunya “Lady in waiting”, bagaimana menjadi wanita Allah, menanti karya Allah dengan tekun. Allah setia, karena itu kita harusnya memohon untuk terus dimampukan setia. Hal ini bukan hanya untuk yang berpasangan, namun juga yang single. Saya pernah membaca satu tagline: “Kabar gembira bagi para jomblo: Jomblo tak pernah selingkuh. Logic”. Lucu, tapi saya tak setuju. Perselingkuhan adalah ketidaksetiaan. Jadi termasuk ketidaksetiaan menanti, ketidaksetiaan mendoakan, ketidaksetiaan memperhatikan, dst. Nah, jangan-jangan di situlah masalah Anda; Tuhan sedang mengajar Anda belajar apa artinya setia. Mungkin Anda yang belum serius mencintai. Tapi itu hanya salah satu contoh dalam per-jomblo-an. Masih banyak alasan lain yang masih menjadi misteri Allah, yang harusnya kita responi dengan sabar, percaya dan taat. 

Di hampir penghujung tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan dari buku Bang Erick Sudharma, “Teologia Bunga Mawar” (mini eksposisi kitab Kidung Agung): “Percayalah, cinta, kalau itu benar-benar bersemi di hati, akan menemukan jalannya sendiri. “Love will find its way”, kata sebuah syair cinta. Saudaraku, janganlah pernah mencoba untuk membangkitkan, apalagi memaksakan cinta dalam diri orang lain terhadapmu, jika saudara tidak memiliki maksud sama sekali untuk menikahinya! Sebagian dari diri kita akan mati ketika cinta mati dalam diri kita. Sekali cinta bersemi, ia pasti menghasilkan buah, atau...ia mati. Karena itu, jangan menjadi petualang cinta seperti Salomo, karena hal tersebut hanya akan mendatangkan luka, sengsara, bahkan petaka, dalam hidup mereka yang menjadi korban cinta... Saudaraku, ingat, setiap pria dan wanita ibarat sekuntum bunga mawar yang siap mekar. Saudara harus memperlakukan setiap orang, termasuk pribadi yang saudara cintai, seperti sekuntum bunga mawar. Yang demikian lembut. Mudah sekali rusak. Karena itu, dia patut diperlakukan dengan penuh rasa sayang dan hormat. Dengan segenap kelembutan. Jangan pernah mencoba mempercepat atau memperlambat tumbuhnya cinta dalam dirinya. Hal itu dapat menghancurkan cinta. Bahkan...membunuhnya”. 

Hahh...saya harus mengakhiri tulisan panjang ini. Saya banyak tertampar, banyak belajar, banyak bercermin. Saya pernah mendengar pernyataan, “pria yang baik dipasangkan untuk wanita yang baik, dan sebaliknya, wanita yang baik dipasangkan untuk pria yang baik. Jadi siapapun anda, pria atau wanita, mulailah dari diri anda sendiri untuk menjadi baik, agar memperoleh pasangan yang baik”. Saya percaya aja pernyataan ini. Tapi ketika melihat diri saya sendiri, Tuhan bekerja unik, dia anugerahkan seorang Misni yang baik, di saat Kawas belum begitu baik, dan menolongnya menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti sebaris dari sepucuk surat yang saya tuliskan padanya menjelang pernikahan kami, “mencintaimu dan dicintai olehmu adalah anugerah buatku”. Setiap orang punya masa lalu, dan kegagalan. Biarlah itu menjadi sarana pembelajaran dari Allah untuk kita menatap masa depan dengan kebangkitan. Terus menerus mencintai. Kita tak pernah lulus/ selesai mencintai. Itulah kenapa kata “kasih” selalu diikuti kata “setia”, karena kasih haruslah setia; lakukanlah terus menerus, tidak terputus, tak berkesudahan, apapun kondisinya. Dalam hitungan hari, saya dan Misni akan memasuki babak baru, pernikahan kudus. Hati saya terus bergetar menghapalkan janji pernikahan yang akan saya ucapkan nanti di hadapan Allah dan jemaat-Nya. Dengan tangan terlipat, saya berdoa bukan hanya untuk mengucapkannya, tapi juga dimampukan untuk habis-habisan memperjuangkannya... Saya ingin mencintainya dengan tulus, sampai nafas tak lagi berhembus, sampai raga tak sanggup lagi terjaga. Memelihara senyuman tetap terpancar di bibirnya, mengecup matanya di malam hari, merapikan rambutnya di pagi hari. Bercerita tentang hidup sebelum mata terpejam, berdoa bersama dengan tangan tergenggam. Menggendongnya saat tak mampu berdiri, memeluknya dengan nyaman sepanjang hari… 

“Saya Kawas Rolant Tarigan mengambil engkau Misnilawaty Sidabutar sebagai isteriku. Dan dengan ini berjanji menerima engkau dalam senang maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji untuk menjaga kekudusan perkawinan kita, sampai Allah memisahkan kita melalui kematian“.

http://www.ewedding.com/sites/KawasMisni/

 

Read More..

Yang miris itu kadang lucu. Yang lucu itu kadang ironis, sering jadi lelucon.

Lihatlah sedikit potret kehidupan mahasiswa Indonesia sekarang...

ditanya update berita terkini, tak semua terikuti. Membahas masalah ekonomi, politik, kondisi hukum, kemiskinan bangsa ini?? sepertinya sangat tidak menarik, kalaupun ikut nimbrung, banyak sekali nada pesimis dalam denyut responnya.


Tapi coba tanya smartphone terbaru, gadget terbaru, mode atau lifestyle apa lagi? Mantap.

Film terbaru?

Konser terkini? Artis lokal? Mancanegara? Langsung di bookmark. Tiket mahal??? Toh tiket terjual habis jauh sebelum tanggal konser.

Lihatlah di siaran TV, di acara mana paling banyak mahasiswa duduk rapi, begitu tertarik dengan acara yang ditontonnya, tertawa lepas, tangan diputar-putar, kompak dengan seragam almamaternya?
Di acara berita? Apa? diskusi tentang solusi kebangsaan? Sepertinya kurang tepat, kawan. Jawabannya: di acara komedi, lucu-lucuan, talk show live, kuis-kuis... tak usah disebutkan nama acaranya, terlalu banyak. Bahkan sepertinya, beberapa kampus harus ngantri mendaftar untuk dipanggil kapan jadi audience...


Dalam hati sekilas sempat bertanya: kapan mereka memikirkan bangsa yang butuh ditolong ini? Kapan mereka memikirkan peran nyata dan strategis mereka bagi negeri ini? Dengan disiplin ilmunya masing-masing? (bukan sekedar nanti bekerja, meskipun tidak nyambung dengan keilmuannya).
Tak berani berkesimpulan, hanya bisa menebak. Jawabannya mungkin di ruang kelas, mungkin sewaktu diskusi kelompok, mungkin sewaktu mengerjakan tugas -sementara yang lain copy paste, mungkin sewaktu di mall, mungkin ketika dosen tidak masuk, mungkin...
Gelinding pertanyaan selanjutnya: Di mana suara-suara lantang mahasiswa ketika diperlukan? Tidak berani berkarya sendiri, berkreasi selain demonstrasi? Enggak tahu...


Sedikit cuplikan ke-mahasiswa-an bangsa ini sekarang.

Pesimis? Tidak juga.

Mahasiswa akan jadi para pemimpin ke depan. Para pemimpin sekarang adalah mahasiswa dulu-nya. Semua orang bisa berubah.

Apakah semua mahasiswa begitu? Tentu TIDAK.

Itulah dasar kita berharap: masih ada mahasiswa yang setia berjuang. Dan satu lagi: masih ada orang-orang yang setia memperjuangkan mahasiswa, karena tetap berani bermimpi: Student today, Leader tomorrow.


Salam semangat, buat rekan-rekan pelayanan mahasiswa.


Subang, hujan tengah malam, spontan di awal Maret 2012.

Read More..

Hari ini aku pake baju kotak-kotak hijau, kado ultah darimu 4 tahun yang lalu. Ternyata masih muat walau bodyfit.
Hari ini tepat H -365 menuju pernikahan kita, dan 2.793 hari sejak kita jadian. Aku ingin mendampingimu lebih lama lagi...


Kasihmu,

Read More..

Sewaktu menulis sharing ini, saya sedang melalui waktu kesendirian di minggu pertama saya berada di daerah tempat kerja yang baru. Tahun baru, kantor baru, suasana baru. Baru 4 hari saya dipindahkan ke Subang, Jawa Barat, dari kantor sebelumnya di Karawang. Di Subang, hampir seluruh pegawai bukanlah orang yang ber-homebase di Subang. Artinya, setiap weekend, semua pegawai akan meninggalkan Subang dan kembali ke homebase masing-masing. Untuk minggu pertama ini saya memilih untuk tetap di Subang. Dan memang sepi, saya ditinggal sendiri. Dalam masa sendiri ini pula saya diminta untuk sharing tentang pentingnya komunitas/ persekutuan.
Saya memang mengalaminya. Dua kali menghadapi penempatan kerja: Karawang dan Subang, dua-duanya saya mulai dari nol; artinya saya tidak punya teman dekat, keluarga atau sahabat yang tinggal di sana, apalagi teman persekutuan. Saya awali berelasi dengan teman-teman baru, meng-eksplor daerah baru saya ini, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan keseharian saya di daerah ini, termasuk wadah bertumbuh dan melayani.
Sewaktu di Karawang (sekitar 65 km dari Jakarta), setelah saya pastikan bahwa memungkinkan bagi saya untuk tiap weekend ke Jakarta, saya pun menjalaninya. Saya terlibat pelayanan yang masih mungkin untuk saya kerjakan. Dan dari situ, saya bersama-sama dengan KTB sewaktu di kampus dulu, kembali menggerakkan KTB kami, yang anggotanya masih bekerja di sekitar Jakarta. Lebih dari 2 tahun saya menjalaninya: menjadi panitia di beberapa event besar, menjadi pelayan di beberapa acara, beberapa kampus; 2 kali pernah kecelakaan sepeda motor, setelah itu berlomba dengan waktu untuk mengejar bis atau omprengan ke Karawang, 9 bulan sempat nge-kos sendiri di Jakarta, dan selebihnya numpang di kos teman KTB, sampai pernah ditegur bapak kos teman saya itu, karena saya keseringan numpang :) Tapi letihnya Karawang-Jakarta-Karawang tidak sebanding dengan sukacita yang saya dapatkan.Belum lagi pengorbanan tenaga, waktu, biaya dengan porsi yang lebih besar; tapi saya sukarela menjalaninya demi satu rangkai alasan: pelayanan dan persekutuan. Meski saya juga melayani di gereja di Karawang, saya tetap memperjuangkan ber-KTB di Jakarta, baik terjadwal maupun bertemu informal. Bahkan beberapa kali memperjuangkan datang PAKJ di Jumat malam meski telat, dan PAB di hari Sabtu-nya; karena 2 wadah yang baik itu, tidak saya dapatkan di Karawang. Semangat saya terbakar lagi, ketika bertemu dengan teman se-visi sewaktu di kampus dulu, gairah pelayanan saya dinyalakan setiap kali pelayanan ke kampus-kampus. Itulah yang membentengi saya saat dunia ini semakin menarik saya dalam nilai-nilainya. Saya yang butuh komunitas, bukan komunitas yang butuh saya. Karena itu saya duluan yang akan mencari komunitas, bukan sebaliknya. Di samping hal kerohanian, persekutuan juga memperkaya saya dalam bertukar pengalaman kerja dengan teman-teman. Dan bukan hanya berdampak ke dalam, dari KTB, kami mulai sedikit demi sedikit berbuat apa yang bisa kami lakukan. Kami ber-proyek memperbaiki/ merintis persekutuan di kantor masing-masing, meski tak berjalan mulus. Di kesempatan lain, sewaktu hari Valentine Pebruari 2011 yang lalu, kelompok kecil kami berkirim surat dan coklat bagi semua teman-teman dekat kami yang bekerja di Indonesia bagian timur. Kami berharap bisa ambil bagian dalam menyemangati mereka bekerja –yang jauh dari homebase, apalagi untuk jangka waktu yang lama, kami berharap bisa mengobati sedikit dari rasa sepi mereka.
Kita semua tahu betapa rentannya menjadi orang Kristen, sementara pada waktu yang sama terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan. Dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Tuhan menghadirkan persekutuan dan para sahabat, yang terus mendorong kita untuk maju. Yakinlah, kita tidak mungkin menjadi single fighter, kita butuh komunitas, kita butuh teman seperjuangan. Individualis adalah bunuh diri rohani. Seberapa besarpun nyala kita, layaknya bara api, bila kita meninggalkan ‘panasnya’ persekutuan, kita akan mati pelan-pelan.
Kita dipanggil sebagai umat Tuhan yang hidup dalam persekutuan. Ini tema klasik yang sudah kita pahami betul sejak siswa, mahasiswa. Kenapa sewaktu alumni pun hal ini terus dikumandangkan? Pastilah karena alumni punya pergumulan, tantangan yang lebih spesifik, terlarut dalam sibuknya hidup, karir, studi, keluarga, rencana-rencana, mimpi-mimpi, sehingga tanpa disadari dunia ini sedang tersenyum membuka tangan lebar-lebar siap menyambut alumni yang terjauh dari persekutuan. Sewaktu siswa, mahasiswa, begitu mudahnya kita mencari wadah persekutuan, tetapi setelah alumni, dan tersebar ke seluruh penjuru nusantara, tidak semua alumni beruntung bisa menikmati persekutuan. Banyak sekali alumni yang ingin menikmati hangatnya persekutuan, tapi tak kuasa mendapatkan wadahnya karena jarak, tempat dan waktu. Tak ada persekutuan di kantornya, di kotanya; dan butuh waktu yang lama untuk merintis itu, selain doa, daya dan dana. Karena itu mari saling menopang. Dan betapa malangnya kita, ketika persekutuan masih bisa dijangkau, namun kita menyia-nyiakannya.
Cobalah renungkan, dalam seminggu, kita jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja (8 jam x 5 hari), dan bergaul dengan dunia, dibanding secuil waktu untuk bersekutu dan ber-HPdT. Menakutkan, semakin banyak waktu yang kita habiskan dengan dunia, cepat atau lambat dunia akan mengikis dan mengubah prinsip-prinsip kebenaran yang kita pegang erat sewaktu mahasiswa dulu. Di persekutuan-lah kita kembali berjumpa dengan teman se-visi, dan kembali saling mengingatkan. Tidak ada orang yang terlalu kuat sehingga sanggup sendiri. Alumni butuh komunitas, bukan untuk mengasingkan diri dari dunia, tapi untuk melekatkan diri pada Allah dan mempengaruhi dunia. Persekutuan bagai oase di tengah padang gurun kehidupan yang hectic. Dalam dunia yang hectic ini, kita harus membangun kehidupan spiritualitas agar tetap peka menanggapi segala sesuatu yang kita baca, dengar, lihat, dan kerjakan dalam perspektif Ilahi. Di dalam persekutuan kita diasah terus untuk itu. Kerohanian di mana iman, pengharapan dan kasih kita lebih terpelihara (disiplin rohani: waktu teduh, doa, PA, baca dan merenungkan firman, baca buku rohani); kita lebih bertumbuh dalam karakter, kualitas, kedewasaan, wawasan, kesaksian di tempat kerja, keluarga, masyarakat; aplikasi firman lebih efektif dan bisa buat proyek nyata; mendorong dan memelihara semangat kita untuk tetap melayani sebagai alumni (di PMK, PAK, gereja, kantor, dll); bisa jadi berkat yang lebih besar (banyak hal yang hanya bisa kita lakukan sebagai persekutuan, yang tidak dapat kita lakukan seorang diri); menolong kita dalam menggumuli dan menekuni panggilan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah; kita tidak merasa kesepian dan sendirian dalam perjuangan iman kita; kita menjadi lebih dewasa, bijak, jadi teladan, terpelihara integritas dan kekudusan hidup, mengasah ketajaman rohani, ketika suatu dosa dianggap tidak dosa lagi karena racun dunia.
Biarlah kecintaan kita untuk bersekutu dengan saudara seiman muncul karena kesadaran, bukan keterpaksaan. Bersyukurlah untuk persekutuan yang Tuhan anugerahkan; dan setialah. Kalau mungkin, jika Tuhan beri kesempatan, berusahalah juga untuk merintis persekutuan di tempat mana Tuhan tunjukkan. Entah kita terlibat dalam Interest Group sesuai dengan profesi, wilayah kerja, atau yang lain.
Di tahun baru ini banyak resolusi, banyak impian dan harapan. Terlalu sibuknya kita mungkin membuat ada masa-masa di mana banyak hal tidak mungkin bisa kita lakukan semuanya, sehingga mengharuskan kita menetapkan prioritas yang terpenting, dan biarlah persekutuan menjadi salah satunya.
Saya baru saja hitungan hari bekerja di Subang. Dan kalau Tuhan belum tunjukkan komunitas untuk saya bertumbuh/ rintis/ melayani di sini, jarak sekitar 160 km ke Jakarta pun akan saya tempuh demi pelayanan, demi hangatnya persekutuan. Terima kasih buat para sahabat. We’re not a single fighter.
Soli Deo gloria.

Oleh: Kawas Rolant Tarigan - alumni STAN
diterbitkan di Buletin PAKJ, Januari 2012

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo