Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

Anda tahu cinta pertama saya? Kalau saya ditanya cinta pertama, saya akan menjawab satu nama: sebut saja Nora. Setelah itu saya akan tertawa geli. Kenapa? Karena: pertama, saya menyukainya sewaktu kelas 6 SD! Saat itu cuma berani memandang dari jauh, kirim-kirim salam lewat kawan, pengakuan lewat diary, dan tulis namanya di atas meja kelas. Hahaha... Cinta bocah ingusan yang masih bercelana pendek. Kedua, sampai saat ini, sampai jari-jari saya mengetikkan huruf demi huruf menulis artikel ini, kami belum pernah ngomongan sama sekali. Jadi saya mencintainya dari jauh. Tidak pernah ngobrol langsung, bahkan ketika saya melihat wajahnya, dia buang muka. Hahaha...dosa saya apa. Terakhir ketemu tahun 1998 (15 tahun yang lalu!). Beruntunglah beberapa tahun yang lalu ada Facebook, di situlah ketemu dia lagi meski di dunia maya. Dan itu tidak gampang. Beberapa kali di-search tidak pernah ketemu. Entah kenapa di suatu hari bisa ketemu akun facebooknya, dan hanya saling berbalas message beberapa baris menanyakan kabar. Ketiga, sekarang dia sudah berumah tangga. Menjadi istri dari seorang pria yang beruntung, ibu dari seorang anak yang lucu, dan seorang guru TK dari murid-murid kecilnya yang berbahagia. Hehehe... Dialah wanita pertama yang saya sukai. Kenapa saya bilang begitu? Karena dialah yang pertama kali membuat si Kawas kecil bisa malu-malu kalau ketemu atau kalau disorakin ciyeee, dialah yang mendorong bocah 12 tahun bernama Kawas akhirnya bisa bermain gitar supaya bisa menyanyikan lagu-lagu cinta, dan dialah yang menjadi salah satu motivasi Kawas kecil untuk meraih ranking 1, supaya ketika nama “Kawas” dipanggil, naik ke podium, itu hanya demi mendapatkan secercah perhatian yang sebentar saja dari gadis kecil yang bernama Nora, walau hanya sekilas pandang sebelum buang muka. Sudah cukup. Hahahaha... bahkan saya masih terus tertawa ketika menulis bagian ini. 

Itu SD. Ternyata ceritanya tak selalu bahagia dan baik seperti roman-roman para pujangga. Saya jadi cowok yang kurang ajar. Saya pantang menyadari sedikit saja diperhatikan cewek, saya akan meresponnya. Suka atau enggak, urusan nanti. Saya rasanya tak bersalah melihat cewek patah hati. Saya merasa tak berdosa pacaran beda agama. Memang tak selalu. Tapi saya pernah berada dalam sisi gelap itu. Memang dalam sebuah cerita, seringkali makna cerita dikasi tahu di bagian akhir. Sewaktu menjalaninya, saya merasa tidak ada yang terlalu serius untuk dipersalahkan. Tapi barulah sekarang ini, ketika mengingat betapa jahatnya saya dulu, saya malu. Ada berapa nama lain yang pernah singgah di kisah cinta saya, sebut saja Rina. Kami tak pernah jadian. Tapi dia tahu saya mencintainya, dan katanya dia juga mencintai saya. (Pokoknya ini cinta-cintaan anak-anak :p) Kami tak pernah jadian, karena teman saya yang duluan menyatakan cintanya, dan malah mereka jadian, walau sebentar. Itu sekitar 13 tahun yang lalu. Dan tahun 2009, saya mendengar kabar bahwa Rina telah dipanggil Tuhan, karena sakit keras, entah apa. Padahal beberapa bulan sebelum kejadian itu, sewaktu pulang kampung, saya mendengar kabar bahwa dia bekerja sebagai tenaga administrasi di sebuah rumah sakit swasta. Suatu hari saya singgah di rumah sakit itu dan ingin berjumpa. Tetapi hari itu dia tidak masuk bekerja. Teman satu bagiannya yang memberi tahu hal ini kepada saya kelihatan ragu. Apalagi ketika saya memberitahukan nama saya, Kawas. Saya ragu apa dia menyimpan sesuatu. Saya hanya bilang bahwa kami kawan lama, yang sudah lama tidak bertemu, saya kebetulan lewat, hanya ingin berjumpa. Akhirnya dia cuma bilang, “Rina sepertinya sudah mau menikah, Pak. Calonnya polisi”. Saya bingung, apakah mereka berteman dekat sehingga Rina pernah menceritakan tentang saya ke dia. Sudah lebih 10 tahun tak berjumpa, dan sudah punya pasangan/ kehidupan masing-masing. Tahun demi tahun tak ada kabar, beda pulau, beda kota, entah sakit apa yang telah merenggut nyawanya, dan akhirnya dia tidak jadi menikah. Saya sangat terkejut, sedih mendengar kabar itu. Sebagai sahabat, saya memang tahu dia punya masalah keluarga, dan bebannya juga lebih berat. Tapi sedikitpun tak pernah menyangka, Tuhan memanggil gadis manis itu begitu cepat. Saya masih menyimpan fotonya, katanya itu foto kesukaannya, tapi dia berikan sebagai ganti ucapan terima kasih karena dulu saya pernah memberikannya boneka kecil dari uang jajan saya. Di belakang foto itu, masih ada tulisan tangannya, yang indah dan tegar, seperti penulisnya. 

Itu kisah remaja. Sampai memasuki SMA, saya tak pernah terlalu serius menjalin cinta. Saya merasa wajar, karena saya masih muda, dan bermain-main dengan cinta monyet. Dengan modal gitar, nyanyian cinta, gombal, puisi, aktif di sana sini, humoris, menyenangkan tapi lama-lama menjijikkan, saya bahkan tak sadar bahwa saya sedang mempermalukan Tuhan dengan menyandang Seksi Rohani Kristen. Sekali lagi, setelah beberapa tahun kemudian, sekarang ini, barulah saya semakin tahu, harusnya saya sadar betapa malunya saya saat itu. Di masa akhir masa SMA barulah saya bertobat. Tapi pertobatan saya akan dosa yang lain, tidak serta merta secepat kilat memulihkan cinta saya. Saya takut apa yang saya alami ini terjadi kepada orang-orang lain yang menyebut dirinya para pelayan Tuhan. Bertobat dari dosa yang satu, tapi masih bermain-main dengan cinta, suka selingkuh, suka tebar pesona gak jelas ke cewek-cewek, suka dikagumi, dst. Justru dalam hal pacaranlah pelayan Tuhan seringkali menjadi batu sandungan. Hanya kesabaran dan kesetiaan Tuhan yang membuat saya berubah. Dalam kesabaran pelayan pembimbing rohani, persekutuan, Tuhan sabar dan setia bekerja menghancurkan keangkuhan saya. Di penghujung tahun SMA, saya dekat dengan adik kelas saya, Misni, gadis yang sederhana, cerdas, dan sekarang menjadi calon istri saya, pendamping, penolong, teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan. Ini pun tak gampang. Saya harus membayar mahal atas luka-luka yang telah saya tabur. Tak ada yang mendukung, berkali-kali Misni menolak, tak percaya, dan teman-temannya juga satu suara: tidak! Saya harus bersabar, dan memang diuji untuk menunjukkan kesetiaan saya. Bahwa saya mencintainya, sungguh mencintainya. Saya serius. Memang Tuhan baik, panjang sabar. Akhirnya kami jadian tanggal 23 Juni 2004. Saat itu saya sudah di Jogja, dan dia di Sibolga. Cinta apaan ini? Memang Tuhan punya cara unik, kesetiaan langsung diuji berlapis-lapis. 2005-2008 Tuhan satukan kami di Bintaro, tapi sekarang Tuhan jauhkan lagi, Subang-Jakarta. Kadang dekat, berantem, kadang jauh, rindu, berantem juga. Kadang waktu berjalan begitu cepat, kadang begitu lambat, padahal sebenarnya waktu tak merubah kecepatan. Hampir 9 tahun sudah saya dan Misni menjalin kasih, dan kami akan menikah di bulan ini, seminggu sebelum Paskah. Kehidupan keluarga kami ke depan pun kelihatannya tak segampang keluarga lain. Jarak yang memisahkan, menyebabkan kami hanya dapat bertemu seminggu sekali. Weekend adalah waktu yang sangat berharga. Memang tak mudah, banyak liku dan godaan. Sama seperti 9 tahun yang telah kami lewati. Jangan pikir semuanya baik-baik saja, dan seindah kebun bunga. Kami penuh kegagalan. Saya pernah (lagi) tak setia. O Tuhan. Begini, saya pernah membaca artikel psikologi, kalau perselingkuhan ada 3 macam/ tingkatan: hati, pikiran, perbuatan. Makin lama, makin rusak. Selingkuh hati: ketika ada kejenuhan, mulai tertarik kepada orang lain, tapi hanya dalam hati. Selingkuh pikiran mulai terpikir: andai aku dengan dia, mulai membanding-bandingkan. Dan selingkuh tindakan/ perbuatan, ya sudah, jalan sama orang lain, jalan sama pacar orang, sms-an, chating, teleponan, dll. Makanya di jaman jejaring sosial ini perselingkuhan semakin marak, dan banyak yang ketahuan. Selingkuh hati dan pikiran tak ada yang tahu, selain diri kita dan Tuhan, atau terkecuali orang yang bersangkutan atau orang lain bisa dengan jelas membaca tanda-tandanya. Hati dan pikiran, ini yang bahaya: tersembunyi, enak sekali dipelihara. Orang lain tak perlu tahu. Munafik. Kalaulah anda sudah (atau) baru tahu 3 jenis selingkuh yang ternyata sangat luas ini (hati, pikiran, perbuatan), jawablah dalam hati pertanyaan retorik berikut: pernahkah anda berselingkuh? 

Memang masalah pasangan hidup adalah hal yang krusial. Paling tidak karena dua hal: pertama, jatuh cinta ini melibatkan emosi, perasaan yang dalam, mengusik, tak hanya iman gampangan yang tahu bahwa Tuhan akan menyediakan yang terbaik tepat pada waktunya. “Kalau boleh, dialah pacarku Tuhan”, “Tuhan, kalau dia bukan jodohku, ubahlah dia jadi jodohku. Kalau bukan juga, jangan biarkan dia mendapat jodoh” #prustasi. Berdoa tetap berdoa, tapi emosi makin menonjol juga. Malah cowok mendekati cewek lain dengan bungkus-bungkus rohani; dengan kata-kata: kudoakan, kugumulkan, padahal dijalani dengan ketidaksetiaan. Ini bisa juga terjadi pada cewek. Meresponi cowok dengan cara yang sama, padahal hatinya sedang condong kepada cowok yang lebih menarik. Dan cowok yang lebih menarik itupun melakukan hal yang sama ke cewek lainnya. Hahahaha... Memang akuilah, cowok lebih rentan jatuh dalam hal ini. Kedua, memilih pasangan hidup adalah keputusan kedua terpenting dalam hidup setelah memilih Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Kalau salah pilih, dua-duanya berdampak panjang, bahkan kekal. Salah menikah, nyesal seumur hidup. Salah pilih teman hidup, bisa-bisa makin jauh dari Tuhanmu, dan sengsaralah hidupmu, anak-anakmu. Karena krusial-nya inilah, setiap orang harus bersungguh-sungguh berhati-hati; khususnya pelayan Tuhan, yang hakikinya menjadi teladan secara holistik, bukan jadi batu sandungan. Dan saya mau kasi tau satu lagi kejujuran: Pelayan tidak imun (kebal) terhadap perselingkuhan, entah itu hati, pikiran, dan atau perbuatan. Banyak contoh-contoh ketidaksetiaan yang terlalu malu untuk kita sebutkan, termasuk saya. Dalam hal lain kita setia, tapi dalam hal ini kita bisa rapuh. Anda mungkin tidak terlalu merasakannya. Tapi coba bayangkan kalau pelayanan anda semakin baik, semakin luas, anda semakin dikenal. Anda akan terpikir, berapa wanita yang jatuh hati padaku? Siapa wanita tak tertarik pada sosokku yang bertalenta dan berkharisma ini? Cuih, cuih. Untuk sadar akan sampahnya hal ini, mungkin perlu waktu. Mungkin beberapa tahun lagi baru kita sadar betapa memalukannya kita sekarang. Makin luas pelayanan anda, makin besar godaan untuk dipertanyakan dan dipertanggungjawabkan: berapa murni cinta anda dan berapa murni pelayanan anda? Berapa murni cinta dan pelayanan anda? Sekarang anda boleh mengerti arti judul artikel ini. Kalau anda pelayanan di balik layar, anda masih bisa menepuk dada. Tapi coba bayangkan anda sebagai pelayan yang “banci tampil” ini, sebagai MC/ Pemimpin pujian, atau sebagai pemusik, sebagai trainer, sebagai pembicara/ pengkhotbah, sebagai panitia, pendamping, dan pelayanan sejenis lainnya. Semua mata tertuju pada anda, semua telinga mendengar anda, dan bahayanya, anda terjebak untuk menanti-nanti mendengar kalimat: “siapa sih dia? Keren banget. Terima kasih ya. Wah....dia lagi yang melayani”. Sekalipun bentuknya bisik-bisik, kuping anda tajam mencari kalimat ini. Ehm, karena kita senang dipuji, kita senang ditepuktangani, kita senang dikagumi, kita senang ditinggikan (bahkan untuk kerendahan hati kita!), kita senang mendengar nama kita dibacakan, kita senang melihat nama kita tercetak, kita senang jadi sorotan. Di sinilah jebakan itu semakin dalam menanamkan akarnya. Kadang kita sengaja memunculkan kharisma itu, untuk diperhatikan. Lihat saja teknik jadul, kampungan, yang masih sering digunakan sampai sekarang oleh para pria yang belum sadar: tepe-tepe (tebar pesona), tiba-tiba jadi sering melempar senyum manis si kawan ini ketika banyak mahasiswi; seperti menabur benih cinta, entah mana nanti yang tumbuh, entah mana nanti yang di-follow up. Atau modus yang dilakukan secara personal: perhatian ke seseorang, rajin sms, rela antar-jemput (sampai gerbang lagi), disiplin tanya kondisi, sabar untuk ramah, dan dewasa. Semua hal ini tak ada yang salah –jika dan hanya jika– dilakukan dengan motivasi yang penuh kemurnian. Bukan dengan teknik tarik ulur: dari intensitas perhatian yang tinggi, lalu menghilang, supaya dirindukan, seakan-akan ada yang hilang, dan ketika si cewek terjebak dalam permainan ini, muncullah pertanyaan yang ditunggu-tunggu, “Kamu ke mana? Kok ada yang hilang tanpa dirimu?”. Trap! Ingat hari ulang tahun, kasi kado, ingat hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai, berbuat hal-hal yang lucu dan seakan penuh pengorbanan, menerobos hujan, berlari-lari mengejar kereta, dll (sekali lagi, kalau ini murni, akan indah) tapi ketika si cewek makin terjerat, ingin memastikan hubungan yang makin serius... si cowok (yang ternyata sudah jenuh atau sudah melihat wanita lain yang lebih menarik), dengan gampang berkata: kita cuma teman kan, kita dekat gini karena rekan pelayanan, dsb, makin rohani kalau pakai doa, ayat, sharing, pergumulan. Kadang wanitanya pun terlalu cepat terbuai. Semoga anda semakin mengerti makna judul artikel ini. Pelayanan dan cinta seringkali ditantang oleh kemurnian. Bahkan pelayanan menjadi wadah yang rawan selingkuh. Dalam sebuah artikel yang mengutip khotbah seorang pendeta yang saya kagumi juga buku-bukunya, dikatakan: bahkan perselingkuhan dimulai tidak dengan motivasi kotor, tetapi dari pikiran yang baik/ tulus. “Kami hanya berteman kok, tidak mungkin saling mencintai”. Namun waktu membuktikan “pertemanan” berubah menjadi perselingkuhan. Ya, entah itu hati, pikiran (baca: ketersembunyian, kemunafikan), atau tindakan. Jadi hanya bisa geleng-geleng kepala ketika seseorang baru putus cinta, cepat sekali dapat gantinya. Kok bisa? Kalau bukan pelarian, ya selama ini sudah dibiarkan hati dan pikirannya mendua kemana-mana, hanya belum bertindak. Itulah ketidaksetiaan yang saya ceritakan pernah menjangkiti saya di sela-sela 9 tahun menjalin kasih. Dan kapan waktu paling matang godaan tidak setia ini menerkam? Saat kesepian, saat bermasalah, saat bertengkar, bahkan saat putus. Saya mencari penghiburan yang sesat. Saya masih ingat status BBM seorang teman: “Fall in love when you are ready, not when you are lonely”. Memang mengobati luka yang telah disakiti itu gak mudah, seperti salah memasang paku di papan, sekalipun sudah dicabut, tetap aja ada bekas pakunya. Saya mohon maaf untuk setiap mereka yang pernah saya sakiti, atau cintai. Terima kasih juga karena Tuhan banyak menghajar dan membentuk saya melalui itu semua. 

Perselingkuhan merajalela bagi orang yang belum bertobat, tapi juga ancaman serius bagi para pelayan-Nya. Apalagi biasanya banyak orang yang tidak suka dikoreksi masalah yang sensitif ini. Perlu kedewasaan dalam bentuk keterbukaan dan kerendahan hati. Catat ini: cinta yang salah akan menghambat pelayanan, sebaliknya, cinta yang benar akan terus mendorong pelayanan. Itulah maksud judul tulisan ini, meskipun pengantarnya panjang. 

Memang masalah pasangan hidup adalah misteri ilahi, dan kita dituntun untuk taat setapak demi setapak, menantikan Tuhan berkarya indah pada waktunya. Bagi anda yang sudah berpacaran, setialah, saling menjaga dan percaya. Hati-hati kalau pasangan anda mulai memasang password dimana-mana: HP, dsb, tidak terbuka lagi, bahkan untuk jejaring sosial, cepat emosi kalau ditanya-tanya. Tapi ini bukan berarti membenarkan anda menjadi stalker yang curigaan, tukang ngecek sms, inbox, dll, karena itu hanya memperburuk keadaan dengan kecemburuan yang tidak sehat, dan karena anda sulit mempercayai, jangan-jangan menandakan bahwa anda juga sulit dipercaya. Bagi anda yang masih single, nikmatilah waktu penantian ini sebagai proses pembentukan Allah. Ada orang yang menjalaninya dengan ceroboh, tidak mau berkomitmen: “jalani aja dulu, kalau jodoh ya lanjut, kalau tidak, ya kita pisah baik-baik”. (Saya hampir tak percaya ada perpisahan yang baik-baik. Hampir pasti ada luka, ada sakit di situ. Maraknya tipuan “akan baik-baik saja” yang ditebar oleh selebritis ini tanpa sadar semakin menjalar; cocok lanjut, tak cocok bubar, tanpa komitmen). Ingat Tuhan sedang mempersiapkan yang terbaik, pendampingmu. Pernah gak kita berpikir iseng: “Enak kali si Adam. Tak perlu bingung memilih, cuma ada 1 wanita: Hawa. Tak pernah terpikir selingkuh”. Hehehe. Tapi jangan lupa, Tuhan yang membawakan Hawa bagi Adam, adalah Tuhan yang sama yang akan membawakan “Hawa” bagi seorang “Adam” seperti dirimu, pada waktu-Nya. Lihatlah seksama narasi kitab Kejadian sebenarnya dengan jelas mencatatnya. Bahwa Hawa diciptakan bukan atas permintaan Adam, tapi inisiatif Allah, ketika TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kej 2:18). Inilah pertama kalinya Allah mengucapkan “tidak baik” setelah di satu pasal sebelumnya “semuanya baik”, “sungguh amat baik”. Jadi, tenanglah, Tuhan pasti tahu yang baik dan tidak baik. Dia Pemilik hidup ini. Buat wanita single, banyak buku bagus yang bisa dibaca, salah satunya “Lady in waiting”, bagaimana menjadi wanita Allah, menanti karya Allah dengan tekun. Allah setia, karena itu kita harusnya memohon untuk terus dimampukan setia. Hal ini bukan hanya untuk yang berpasangan, namun juga yang single. Saya pernah membaca satu tagline: “Kabar gembira bagi para jomblo: Jomblo tak pernah selingkuh. Logic”. Lucu, tapi saya tak setuju. Perselingkuhan adalah ketidaksetiaan. Jadi termasuk ketidaksetiaan menanti, ketidaksetiaan mendoakan, ketidaksetiaan memperhatikan, dst. Nah, jangan-jangan di situlah masalah Anda; Tuhan sedang mengajar Anda belajar apa artinya setia. Mungkin Anda yang belum serius mencintai. Tapi itu hanya salah satu contoh dalam per-jomblo-an. Masih banyak alasan lain yang masih menjadi misteri Allah, yang harusnya kita responi dengan sabar, percaya dan taat. 

Di hampir penghujung tulisan ini, saya ingin mengutip tulisan dari buku Bang Erick Sudharma, “Teologia Bunga Mawar” (mini eksposisi kitab Kidung Agung): “Percayalah, cinta, kalau itu benar-benar bersemi di hati, akan menemukan jalannya sendiri. “Love will find its way”, kata sebuah syair cinta. Saudaraku, janganlah pernah mencoba untuk membangkitkan, apalagi memaksakan cinta dalam diri orang lain terhadapmu, jika saudara tidak memiliki maksud sama sekali untuk menikahinya! Sebagian dari diri kita akan mati ketika cinta mati dalam diri kita. Sekali cinta bersemi, ia pasti menghasilkan buah, atau...ia mati. Karena itu, jangan menjadi petualang cinta seperti Salomo, karena hal tersebut hanya akan mendatangkan luka, sengsara, bahkan petaka, dalam hidup mereka yang menjadi korban cinta... Saudaraku, ingat, setiap pria dan wanita ibarat sekuntum bunga mawar yang siap mekar. Saudara harus memperlakukan setiap orang, termasuk pribadi yang saudara cintai, seperti sekuntum bunga mawar. Yang demikian lembut. Mudah sekali rusak. Karena itu, dia patut diperlakukan dengan penuh rasa sayang dan hormat. Dengan segenap kelembutan. Jangan pernah mencoba mempercepat atau memperlambat tumbuhnya cinta dalam dirinya. Hal itu dapat menghancurkan cinta. Bahkan...membunuhnya”. 

Hahh...saya harus mengakhiri tulisan panjang ini. Saya banyak tertampar, banyak belajar, banyak bercermin. Saya pernah mendengar pernyataan, “pria yang baik dipasangkan untuk wanita yang baik, dan sebaliknya, wanita yang baik dipasangkan untuk pria yang baik. Jadi siapapun anda, pria atau wanita, mulailah dari diri anda sendiri untuk menjadi baik, agar memperoleh pasangan yang baik”. Saya percaya aja pernyataan ini. Tapi ketika melihat diri saya sendiri, Tuhan bekerja unik, dia anugerahkan seorang Misni yang baik, di saat Kawas belum begitu baik, dan menolongnya menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti sebaris dari sepucuk surat yang saya tuliskan padanya menjelang pernikahan kami, “mencintaimu dan dicintai olehmu adalah anugerah buatku”. Setiap orang punya masa lalu, dan kegagalan. Biarlah itu menjadi sarana pembelajaran dari Allah untuk kita menatap masa depan dengan kebangkitan. Terus menerus mencintai. Kita tak pernah lulus/ selesai mencintai. Itulah kenapa kata “kasih” selalu diikuti kata “setia”, karena kasih haruslah setia; lakukanlah terus menerus, tidak terputus, tak berkesudahan, apapun kondisinya. Dalam hitungan hari, saya dan Misni akan memasuki babak baru, pernikahan kudus. Hati saya terus bergetar menghapalkan janji pernikahan yang akan saya ucapkan nanti di hadapan Allah dan jemaat-Nya. Dengan tangan terlipat, saya berdoa bukan hanya untuk mengucapkannya, tapi juga dimampukan untuk habis-habisan memperjuangkannya... Saya ingin mencintainya dengan tulus, sampai nafas tak lagi berhembus, sampai raga tak sanggup lagi terjaga. Memelihara senyuman tetap terpancar di bibirnya, mengecup matanya di malam hari, merapikan rambutnya di pagi hari. Bercerita tentang hidup sebelum mata terpejam, berdoa bersama dengan tangan tergenggam. Menggendongnya saat tak mampu berdiri, memeluknya dengan nyaman sepanjang hari… 

“Saya Kawas Rolant Tarigan mengambil engkau Misnilawaty Sidabutar sebagai isteriku. Dan dengan ini berjanji menerima engkau dalam senang maupun susah, dalam sehat maupun sakit, dalam suka maupun duka. Saya berjanji untuk menjaga kekudusan perkawinan kita, sampai Allah memisahkan kita melalui kematian“.

http://www.ewedding.com/sites/KawasMisni/

 

Read More..

Yang miris itu kadang lucu. Yang lucu itu kadang ironis, sering jadi lelucon.

Lihatlah sedikit potret kehidupan mahasiswa Indonesia sekarang...

ditanya update berita terkini, tak semua terikuti. Membahas masalah ekonomi, politik, kondisi hukum, kemiskinan bangsa ini?? sepertinya sangat tidak menarik, kalaupun ikut nimbrung, banyak sekali nada pesimis dalam denyut responnya.


Tapi coba tanya smartphone terbaru, gadget terbaru, mode atau lifestyle apa lagi? Mantap.

Film terbaru?

Konser terkini? Artis lokal? Mancanegara? Langsung di bookmark. Tiket mahal??? Toh tiket terjual habis jauh sebelum tanggal konser.

Lihatlah di siaran TV, di acara mana paling banyak mahasiswa duduk rapi, begitu tertarik dengan acara yang ditontonnya, tertawa lepas, tangan diputar-putar, kompak dengan seragam almamaternya?
Di acara berita? Apa? diskusi tentang solusi kebangsaan? Sepertinya kurang tepat, kawan. Jawabannya: di acara komedi, lucu-lucuan, talk show live, kuis-kuis... tak usah disebutkan nama acaranya, terlalu banyak. Bahkan sepertinya, beberapa kampus harus ngantri mendaftar untuk dipanggil kapan jadi audience...


Dalam hati sekilas sempat bertanya: kapan mereka memikirkan bangsa yang butuh ditolong ini? Kapan mereka memikirkan peran nyata dan strategis mereka bagi negeri ini? Dengan disiplin ilmunya masing-masing? (bukan sekedar nanti bekerja, meskipun tidak nyambung dengan keilmuannya).
Tak berani berkesimpulan, hanya bisa menebak. Jawabannya mungkin di ruang kelas, mungkin sewaktu diskusi kelompok, mungkin sewaktu mengerjakan tugas -sementara yang lain copy paste, mungkin sewaktu di mall, mungkin ketika dosen tidak masuk, mungkin...
Gelinding pertanyaan selanjutnya: Di mana suara-suara lantang mahasiswa ketika diperlukan? Tidak berani berkarya sendiri, berkreasi selain demonstrasi? Enggak tahu...


Sedikit cuplikan ke-mahasiswa-an bangsa ini sekarang.

Pesimis? Tidak juga.

Mahasiswa akan jadi para pemimpin ke depan. Para pemimpin sekarang adalah mahasiswa dulu-nya. Semua orang bisa berubah.

Apakah semua mahasiswa begitu? Tentu TIDAK.

Itulah dasar kita berharap: masih ada mahasiswa yang setia berjuang. Dan satu lagi: masih ada orang-orang yang setia memperjuangkan mahasiswa, karena tetap berani bermimpi: Student today, Leader tomorrow.


Salam semangat, buat rekan-rekan pelayanan mahasiswa.


Subang, hujan tengah malam, spontan di awal Maret 2012.

Read More..

Hari ini aku pake baju kotak-kotak hijau, kado ultah darimu 4 tahun yang lalu. Ternyata masih muat walau bodyfit.
Hari ini tepat H -365 menuju pernikahan kita, dan 2.793 hari sejak kita jadian. Aku ingin mendampingimu lebih lama lagi...


Kasihmu,

Read More..

Sewaktu menulis sharing ini, saya sedang melalui waktu kesendirian di minggu pertama saya berada di daerah tempat kerja yang baru. Tahun baru, kantor baru, suasana baru. Baru 4 hari saya dipindahkan ke Subang, Jawa Barat, dari kantor sebelumnya di Karawang. Di Subang, hampir seluruh pegawai bukanlah orang yang ber-homebase di Subang. Artinya, setiap weekend, semua pegawai akan meninggalkan Subang dan kembali ke homebase masing-masing. Untuk minggu pertama ini saya memilih untuk tetap di Subang. Dan memang sepi, saya ditinggal sendiri. Dalam masa sendiri ini pula saya diminta untuk sharing tentang pentingnya komunitas/ persekutuan.
Saya memang mengalaminya. Dua kali menghadapi penempatan kerja: Karawang dan Subang, dua-duanya saya mulai dari nol; artinya saya tidak punya teman dekat, keluarga atau sahabat yang tinggal di sana, apalagi teman persekutuan. Saya awali berelasi dengan teman-teman baru, meng-eksplor daerah baru saya ini, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan keseharian saya di daerah ini, termasuk wadah bertumbuh dan melayani.
Sewaktu di Karawang (sekitar 65 km dari Jakarta), setelah saya pastikan bahwa memungkinkan bagi saya untuk tiap weekend ke Jakarta, saya pun menjalaninya. Saya terlibat pelayanan yang masih mungkin untuk saya kerjakan. Dan dari situ, saya bersama-sama dengan KTB sewaktu di kampus dulu, kembali menggerakkan KTB kami, yang anggotanya masih bekerja di sekitar Jakarta. Lebih dari 2 tahun saya menjalaninya: menjadi panitia di beberapa event besar, menjadi pelayan di beberapa acara, beberapa kampus; 2 kali pernah kecelakaan sepeda motor, setelah itu berlomba dengan waktu untuk mengejar bis atau omprengan ke Karawang, 9 bulan sempat nge-kos sendiri di Jakarta, dan selebihnya numpang di kos teman KTB, sampai pernah ditegur bapak kos teman saya itu, karena saya keseringan numpang :) Tapi letihnya Karawang-Jakarta-Karawang tidak sebanding dengan sukacita yang saya dapatkan.Belum lagi pengorbanan tenaga, waktu, biaya dengan porsi yang lebih besar; tapi saya sukarela menjalaninya demi satu rangkai alasan: pelayanan dan persekutuan. Meski saya juga melayani di gereja di Karawang, saya tetap memperjuangkan ber-KTB di Jakarta, baik terjadwal maupun bertemu informal. Bahkan beberapa kali memperjuangkan datang PAKJ di Jumat malam meski telat, dan PAB di hari Sabtu-nya; karena 2 wadah yang baik itu, tidak saya dapatkan di Karawang. Semangat saya terbakar lagi, ketika bertemu dengan teman se-visi sewaktu di kampus dulu, gairah pelayanan saya dinyalakan setiap kali pelayanan ke kampus-kampus. Itulah yang membentengi saya saat dunia ini semakin menarik saya dalam nilai-nilainya. Saya yang butuh komunitas, bukan komunitas yang butuh saya. Karena itu saya duluan yang akan mencari komunitas, bukan sebaliknya. Di samping hal kerohanian, persekutuan juga memperkaya saya dalam bertukar pengalaman kerja dengan teman-teman. Dan bukan hanya berdampak ke dalam, dari KTB, kami mulai sedikit demi sedikit berbuat apa yang bisa kami lakukan. Kami ber-proyek memperbaiki/ merintis persekutuan di kantor masing-masing, meski tak berjalan mulus. Di kesempatan lain, sewaktu hari Valentine Pebruari 2011 yang lalu, kelompok kecil kami berkirim surat dan coklat bagi semua teman-teman dekat kami yang bekerja di Indonesia bagian timur. Kami berharap bisa ambil bagian dalam menyemangati mereka bekerja –yang jauh dari homebase, apalagi untuk jangka waktu yang lama, kami berharap bisa mengobati sedikit dari rasa sepi mereka.
Kita semua tahu betapa rentannya menjadi orang Kristen, sementara pada waktu yang sama terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan. Dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Tuhan menghadirkan persekutuan dan para sahabat, yang terus mendorong kita untuk maju. Yakinlah, kita tidak mungkin menjadi single fighter, kita butuh komunitas, kita butuh teman seperjuangan. Individualis adalah bunuh diri rohani. Seberapa besarpun nyala kita, layaknya bara api, bila kita meninggalkan ‘panasnya’ persekutuan, kita akan mati pelan-pelan.
Kita dipanggil sebagai umat Tuhan yang hidup dalam persekutuan. Ini tema klasik yang sudah kita pahami betul sejak siswa, mahasiswa. Kenapa sewaktu alumni pun hal ini terus dikumandangkan? Pastilah karena alumni punya pergumulan, tantangan yang lebih spesifik, terlarut dalam sibuknya hidup, karir, studi, keluarga, rencana-rencana, mimpi-mimpi, sehingga tanpa disadari dunia ini sedang tersenyum membuka tangan lebar-lebar siap menyambut alumni yang terjauh dari persekutuan. Sewaktu siswa, mahasiswa, begitu mudahnya kita mencari wadah persekutuan, tetapi setelah alumni, dan tersebar ke seluruh penjuru nusantara, tidak semua alumni beruntung bisa menikmati persekutuan. Banyak sekali alumni yang ingin menikmati hangatnya persekutuan, tapi tak kuasa mendapatkan wadahnya karena jarak, tempat dan waktu. Tak ada persekutuan di kantornya, di kotanya; dan butuh waktu yang lama untuk merintis itu, selain doa, daya dan dana. Karena itu mari saling menopang. Dan betapa malangnya kita, ketika persekutuan masih bisa dijangkau, namun kita menyia-nyiakannya.
Cobalah renungkan, dalam seminggu, kita jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja (8 jam x 5 hari), dan bergaul dengan dunia, dibanding secuil waktu untuk bersekutu dan ber-HPdT. Menakutkan, semakin banyak waktu yang kita habiskan dengan dunia, cepat atau lambat dunia akan mengikis dan mengubah prinsip-prinsip kebenaran yang kita pegang erat sewaktu mahasiswa dulu. Di persekutuan-lah kita kembali berjumpa dengan teman se-visi, dan kembali saling mengingatkan. Tidak ada orang yang terlalu kuat sehingga sanggup sendiri. Alumni butuh komunitas, bukan untuk mengasingkan diri dari dunia, tapi untuk melekatkan diri pada Allah dan mempengaruhi dunia. Persekutuan bagai oase di tengah padang gurun kehidupan yang hectic. Dalam dunia yang hectic ini, kita harus membangun kehidupan spiritualitas agar tetap peka menanggapi segala sesuatu yang kita baca, dengar, lihat, dan kerjakan dalam perspektif Ilahi. Di dalam persekutuan kita diasah terus untuk itu. Kerohanian di mana iman, pengharapan dan kasih kita lebih terpelihara (disiplin rohani: waktu teduh, doa, PA, baca dan merenungkan firman, baca buku rohani); kita lebih bertumbuh dalam karakter, kualitas, kedewasaan, wawasan, kesaksian di tempat kerja, keluarga, masyarakat; aplikasi firman lebih efektif dan bisa buat proyek nyata; mendorong dan memelihara semangat kita untuk tetap melayani sebagai alumni (di PMK, PAK, gereja, kantor, dll); bisa jadi berkat yang lebih besar (banyak hal yang hanya bisa kita lakukan sebagai persekutuan, yang tidak dapat kita lakukan seorang diri); menolong kita dalam menggumuli dan menekuni panggilan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah; kita tidak merasa kesepian dan sendirian dalam perjuangan iman kita; kita menjadi lebih dewasa, bijak, jadi teladan, terpelihara integritas dan kekudusan hidup, mengasah ketajaman rohani, ketika suatu dosa dianggap tidak dosa lagi karena racun dunia.
Biarlah kecintaan kita untuk bersekutu dengan saudara seiman muncul karena kesadaran, bukan keterpaksaan. Bersyukurlah untuk persekutuan yang Tuhan anugerahkan; dan setialah. Kalau mungkin, jika Tuhan beri kesempatan, berusahalah juga untuk merintis persekutuan di tempat mana Tuhan tunjukkan. Entah kita terlibat dalam Interest Group sesuai dengan profesi, wilayah kerja, atau yang lain.
Di tahun baru ini banyak resolusi, banyak impian dan harapan. Terlalu sibuknya kita mungkin membuat ada masa-masa di mana banyak hal tidak mungkin bisa kita lakukan semuanya, sehingga mengharuskan kita menetapkan prioritas yang terpenting, dan biarlah persekutuan menjadi salah satunya.
Saya baru saja hitungan hari bekerja di Subang. Dan kalau Tuhan belum tunjukkan komunitas untuk saya bertumbuh/ rintis/ melayani di sini, jarak sekitar 160 km ke Jakarta pun akan saya tempuh demi pelayanan, demi hangatnya persekutuan. Terima kasih buat para sahabat. We’re not a single fighter.
Soli Deo gloria.

Oleh: Kawas Rolant Tarigan - alumni STAN
diterbitkan di Buletin PAKJ, Januari 2012

Read More..

.


Pagi itu tampak seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Saya berangkat ke kantor, dan bekerja seperti hari-hari biasanya. Kantor yang sama (KPP Pratama Karawang Utara), Seksi yang sama (Pelayanan) dan TPT (Tempat Pelayanan Terpadu) yang sama, tepatnya di Loket 3. Ya, sebagai frontliner, banyak Wajib Pajak (WP) yang memanggil saya dengan “Bapak Loket 3”. Tak apalah; saya juga senang dipanggil seperti itu, bagi saya itu suatu penghargaan dari WP yang mengkaitkan identitas saya dengan loket yang saya tanggungjawabi. TPT memang unik, berbeda dari yang lain. TPT-lah ‘wajahnya’ DJP. Pertama sekali WP menilai DJP dari pelayanannya, ya di TPT itu. Bahkan ‘TPT’ sering menjadi kata ganti bagi ‘DJP’. Kalau WP merasa senang dilayani di TPT, dia akan bilang, “DJP sekarang bagus ya...”, atau sebaliknya. Maka, kami petugas TPT dituntut memberikan servis terbaik dalam pelayanan prima; termasuk penampilan. Walau wajah saya pas-pasan, tapi ikut dituntut untuk memaksimalkan yang pas-pasan ini: rambut mengkilap, baju rapi, dan senyum simpul yang mempesona hati. Biasanya hanya bertahan sampai tengah hari (jam 12 siang), habis itu, sirnalah rambut yang mengkilap, pudarlah wajah yang merona, dan semakin sempitlah senyum yang tersimpul tadi. Semakin siang, semakin lelah, apalagi kalau tanggal-tanggal ramai, puncak pelaporan SPT Masa, berjuang untuk mengalahkan rasa lelah (dan amarah).

Siang itupun tiba. Saya memanggil antrian selanjutnya, dan datanglah seorang Bapak berwajah sangar yang tak asing lagi bagi saya. Dia memang sering datang, dengan SPT-nya yang banyak, dengan CV-nya yang banyak, dan NIHIL semua. Kami sering membahasakannya dengan “CV. NIHIL JAYA” untuk SPT yang dibawa para calo –SPT yang tak pernah berisi angka di kolomnya selain tulisan “NIHIL”. Sedihnya, kebanyakan WP jenis ini adalah rekanan Pemda. Sudah lama saya berpikir, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan (paling tidak, memperlambat) gerak komunitas calo ini. Ternyata ini terjadi hampir di semua KPP, namun belum ada solusi terbaik. Saya melihat titik terang di pasal 4 ayat (3) dan pasal 32 UU KUP, bahwa pemenuhan kewajiban perpajakan (mengisi, menandatangani, termasuk pelaporan SPT) yang dilakukan bukan oleh pengurus WP yang bersangkutan, harus menggunakan Surat Kuasa Khusus. Nah, saya punya celah, dan akan saya lakukan untuk Bapak yang berwajah preman ini. Dia datang ke Loket 3, singgasana saya, memberikan SPT yang banyak. Saya membuka pembicaraan, “Pak, untuk pelaporan SPT yang bukan punya Bapak, atau dititip, Bapak harus buat Surat Kuasa”. Nadanya langsung tinggi, “Ah, jangan mempersulit, kemarin-kemarin bisa kok, di kantor lain masih bisa kok”. Aduh, 2 frase jitu ini yang paling sering digunakan WP sebagai senjata: “kemarin-kemarin bisa kok” (padahal yang “kemarin-kemarin bisa” itu seringkali karena belas kasihan dari petugas TPT agar WP bisa melapor hari itu juga), dan frase kedua: “di kantor lain bisa kok” (karena memang banyak sekali masalah teori dan teknis yang KPP-KPP belum satu suara). Saya cuma bisa membalas, “Peraturan ini kita terapkan berdasarkan Undang-Undang, Pak. Bapak silahkan baca ketentuannya (KUP), atau berkonsultasi dengan AR Bapak”. “Ah, kamu jangan mengada-ada”, sambarnya. “Udah terima aja. Jangan mempersulit”. Saya tetap bertahan, “Gak bisa, Pak. Ini sudah peraturan. Dan ini juga untuk tertib administrasi, supaya WP yang bersangkutan sebisa mungkin melaporkan sendiri SPT-nya, tidak melalui perantara (perantara?? dalam hati pengen bilang ‘calo’, khususnya bagi komplotan CV.NIHIL JAYA). Maaf, Pak, SPT-nya gak bisa saya terima”. “Kamu mau melawan saya?”, tantangnya. Gubraakk !! Dia sambil memukul meja. “Kamu masih muda gak usah cari masalah. Kamu orang mana kamu? Kamu orang mana? Pendatang kamu kan? Saya orang asli ini. Hati-hati kamu”. Dia teriak di TPT kami yang kecil. WP yang banyak hanya menonton diam. Teman-teman di loket lain, masih menjaga loketnya masing-masing. “Orang mana kamu?”. Saya mulai gentar, tapi entah dari mana datang keberanian ini, “Saya orang Medan, Pak. Saya memang pendatang di sini, tapi saya melaksanakan tugas”. “Oh... orang Medan. Orang jauh ternyata... Hati-hati kamu ya.. Awas kamu, berani sama saya”, ancamnya sambil merapikan berkas SPT-nya. Keras kepala saya muncul saat itu, mungkin karena terbawa emosi, saya masih saja meladeni kalimatnya, “Iya, Pak. Saya hati-hati, Terima kasih”. Tampaknya dia semakin panas, dan terus memelototi saya, sambil berjalan sampai di pintu keluar. TPT rasanya senyap sekali sesaat setelah kejadian itu. Jantung saya berdebar, keringat mengucur, jujur saja, saya shock, saya pergi ke toilet, cuci muka, menenangkan diri. Itu terjadi saat saya baru beberapa bulan ditempatkan di Karawang. Sebagai anak kampung, memang muncul ketakutan saya saat itu, walau berusaha kelihatan tegar. Hampir 2 minggu saya tidak percaya diri untuk berpergian sendiri, untuk makan, belanja, jalan, di parkiran. Saya gelisah, takut kenapa-kenapa. Saya berpikir, “masih baru banget saya ditempatkan di sini...masih sangat panjang waktu ke depan yang harus saya jalani untuk bekerja di sini, menunggu dimutasi. Kalau saya dikalahkan oleh rasa takut ini, berapa tahun lagi saya harus bekerja dalam tekanan dan penderitaan? Saya harus bangkit, berani. Tuhan pasti menjaga. Saya memang pendatang di sini, bahkan di dunia ini. Ini hanya sementara, jangan takut”.


Sekarang… dua tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Ternyata sampai detik ini saya aman-aman saja. Justru setelah saat itu, saya tidak pernah bertemu Bapak itu lagi, bahkan wajahnya pun sirna dari ingatan saya, saking lamanya tidak bertemu. Saya masih sehat sentosa sampai sekarang, bahkan menulis berbagi kisah ini bagi Anda. Masih di seksi yang sama, dan loket 3 yang setia. Saya menikmati pekerjaan ini. Memang, sempat dalam masa-masa kalut itu, saya hampir saja terjebak untuk menyerah, “ngapain nyusahin diri sendiri? Rela capek untuk kantor/ negara? Negara aja gak menjamin nyawamu. Ngapain kau mau kerja keras di TPT: lebih capek, waktu istirahatnya ketat, gak boleh ijin, harus standby, loket gak boleh kosong, setiap hari berhadapan dengan orang banyak, ditanya ini itu harus jawab, belum lagi pekerjaan back office yang harus dikerjakan sebagian. Capek! Bandingkan dengan seksi lain:
lebih enak, berhadapan dengan berkas dan komputer yang gak bisa marah, lebih fleksibel kalau mau keluar, ijin, pakai sandal, ketawa ketiwi, main game, internetan, gak perlu rambut mengkilap dan senyum lebar sepanjang hari. Gajimu sama (bahkan lebih rendah), grademu lebih rendah (lagi!), dan kau rela mengorbankan kenyamananmu untuk itu? Untuk apa?”. Untunglah bisikan iblis ini tak meraja di hati. Bersyukur di dalam doa dan persekutuan dengan para sahabat setia, saya dikuatkan: “betapa bodohnya aku kalau kerjaku hanya diukur dari uang, penghargaan, dan hal-hal sementara lainnya, yang sekarang ada dan besok tiada. Bukankah semua ini aku lakukan dengan tulus sebagai ibadah yang nilainya kekal dan tidak bisa diukur secara materi? Rasa syukur dan ikhlas karena pekerjaan ini melebihi segalanya”. Saya hampir terjebak dalam self pity: ‘kasihan sekali saya’. Tapi saya makin belajar bahwa, orang yang kasihan bukanlah orang yang dipusingkan oleh pekerjaannya. Orang yang patut dikasihani justru adalah mereka yang beranjak bangun dari tempat tidurnya di pagi hari, minum kopi atau teh, berjuang melawan kepadatan lalu lintas untuk pergi ke tempat kerja yang sama, makan siang di tempat yang sama, pulang ke rumah pada jam yang sama, menonton tv, dan kemudian tidur lagi, besok kerja lagi, sampai pensiun, dan mati tanpa berkarya.

Orang jarang putus asa di bawah tekanan pekerjaan. Mereka justru putus asa karena tidak memiliki aktivitas yang bermakna. Tantangan terbesar dalam hidup bukan ketika Anda bekerja keras. Tantangan itu justru terjadi ketika Anda tidak mempunyai pekerjaan sama sekali untuk dikerjakan. Wah, betapa beruntungnya kita teman-teman... wahai kita yang berkarya dan bekerja keras bagi bangsa ini, dalam setiap hal-hal sederhana yang kita lakukan, tapi bermakna. Pikiran ini sering sekali saya munculkan dalam pikiran saya setiap kali rasa jenuh mulai hinggap: “Betapa mulianya pekerjaan ini. Dari lembar demi lembar laporan dan SSP yang saya terima, dari jumlah yang kecil hingga terbesar, di suatu tempat di luar sana, ada anak yang dibiayai sekolahnya dari uang pajak, ada guru yang di usia tuanya masih mendapat gaji untuk menghidupi keluarganya, ada petani yang terbantu usahanya, ada jalan yang diperbaiki, ada bapak yang masih bisa mengumpulkan beras untuk besok pagi...”, meskipun saya tidak bisa melihat langsung impian ini semua, tapi saya sungguh sadar, bekerja di DJP ini adalah satu anugerah, bukan untuk disesali, tapi disyukuri. Saya juga sadar, peran saya masih sangat amat teramat keciiiiiiillll sekali bagi bangsa ini, tapi saya bersyukur untuk itu. Kalau kita masih bekerja ogah-ogahan, betapa tak tahu bersyukurnya kita, banyak orang yang ingin namun tidak seberuntung kita untuk dapat bekerja di instansi ini, mungkin termasuk di antara mereka yang sering mencaci maki instansi ini (jangan-jangan mereka sebenarnya ingin juga bekerja di DJP). Setialah mengerjakan hal-hal kecil, siapa tahu itu bisa berdampak besar. Mungkin kita hanya bertanggungjawab untuk sebuah tugas dan pelayanan kecil, mungkin menurut orang lain tanggung jawab ini tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan tanggung jawab besar lainnya. Namun janganlah kita sampai kehilangan inti dari apa yang kita kerjakan. Dalam tugas-tugas yang terkecil sekalipun, kita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ada prinsip dasar yang harus dipegang, yaitu kita sedang menyampaikan sesuatu kebenaran, integritas yang sesungguhnya justru dibuktikan bagaimana kita setia dalam perkara yang kecil. Dalam keseharian, sebetulnya kita sedang diamati, bagaimana cara kita menangani tugas-tugas kecil dan menjengkelkan, bagaimana cara kita merespon orang-orang yang sulit ditangani, bagaimana cara kita berkomunikasi, bagaimana cara kita merespon di saat sedang lelah; dalam semua ini kita menunjukkan jati diri kita yang sesungguhnya. Terlalu sedih rasanya jika memikirkan kegagalan-kegagalan kita. Terlalu naif pula kalau kita menganggap diri sempurna. Kita semua tahu betapa rentannya kita untuk terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan, dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Tuhan menghadirkan keluarga dan para sahabat, yang terus mendorong kita untuk maju. Yakinlah, kita tidak mungkin menjadi single fighter, kita butuh komunitas, kita butuh teman seperjuangan. Sadar akan hal ini, saya teringat sewaktu hari Valentine Pebruari yang lalu, saya dan para sahabat kampus dulu yang bekerja di Jakarta, Kementerian Keuangan, melakukan suatu hal yang menarik, kelompok kecil kami berkirim surat dan coklat bagi semua teman-teman dekat kami yang bekerja di Indonesia bagian timur. Kami berharap bisa ambil bagian dalam menyemangati mereka bekerja –yang jauh dari homebase, apalagi untuk jangka waktu yang lama. Saya tahu benar, saya tidak berjuang sendiri. Ada banyak orang, yang mengalami kisah (bahkan lebih berat) demi integritasnya bagi bangsa ini. Mungkin Anda. Ketika Anda membaca ini, Anda pun adalah teman seperjuangan, asalkan kita punya visi yang sama bagi kemajuan bangsa ini. Tidak usah terlalu berharap juga, kalau kita bekerja keras dan jujur, maka akan disukai semua orang. Ini sudah hukumnya: orang jahat tidak suka kalau orang baik bertambah banyak. Justru ada suatu anomali kalau kita disukai semua orang. Kemalasan dan ketidakjujuran belum menjadi musuh semua orang, masih ada yang senang memeliharanya. Jadi jangan surut karena ‘ketidaksenangan’ oknum tertentu. Senangkanlah sebanyak mungkin orang, tapi tidak mungkin semua orang. Paling tidak, DJP ini lebih baik sewaktu kita tinggalkan nantinya, dibanding sewaktu dulu kita memasukinya; bahkan dunia ini menjadi lebih baik sewaktu suatu saat nanti kita meninggalkannya. Ini pertanggungjawaban kita di akhirat. Karena itu setialah.

Itu sedikit cerita dari banyaknya kisah yang saya dapati di dunia per-TPT-an yang kaya ini. Masih banyak hal yang tak tertuliskan di sini. Bagaimana saya mengurusi NPWP para Pensiunan yang tak bisa berbahasa Indonesia. Saya yang punya lidah Batak harus belajar bahasa Sunda halus, ieu, Pak punteun NPWP-na, hatur nuhun atos ngadameul NPWP”. Bagaimana saya menolak amplop dari WP, mulai dari yang tipis sampai (sepertinya) agak tebal; mulai dari yang berpakaian dinas, sipil, aparat, sampai bercelana pendek; mulai dari WP yang punya bengkel sampai pabrik baja. Bagaimana suka duka mengurus SPMKP, SPMIB ke KPPN. Bagaimana nama panggilan saya kadang berganti jadi ‘Gayus’ kalau berkumpul dengan saudara dan teman lama dulu: “Woi gayus.”, “Wess.... si gayus datang”. Padahal saya lebih senang dipanggil, “Eh, Bapak loket 3”. “Mau ketemu siapa neng?”, “itu... ehm... Bapak loket 3”. Hehehe. Tak apalah nama saya dilupakan oleh manusia, asal jangan oleh Sang Pencipta. Saya juga tak bisa lupa bagaimana akhirnya WP berkata di loket 3, “Sekarang kantor pajak udah beda ya pak..”, “Saya senang lho kalo ke kantor ini..”. Wah, itu sangat menghibur saya. (cerita-cerita ini akan saya ceritakan kalau ada sesi berikutnya. Hehe). Saya bersyukur sekali, di usia yang masih muda, masa kerja yang masih hijau dibandingkan para tetua di DJP, saya diijinkan untuk mencicipi pengalaman ini dari awal.

O iya, ngomong-ngomong tentang tersenyum di TPT, jadinya saya belajar bagaimana cara tetap tersenyum, meski lelah, meski hati saya sedang dirundung badai. Kadang saya cukup memejamkan mata, mengingat berkah Sang Khalik dan bersyukurtak terasa bibir saya sudah melengkungkan senyuman. Hidup tak selamanya seindah kebun bunga, akan datang saat-saat badai datang untuk menguji ketangguhan kita, dalam pekerjaan, dalam keluarga. Jadi, keputusannya ada di kita, bagaimana tetap tersenyum di tengah badai... bila topan k’ras melanda hidupmu. Walaupun tidak harus belajar di TPT, tapi bisa belajar banyak dari TPT, pelajaran berharga dari TPT. Ah... saya ingin memejamkan mata dulu... mumpung sedang tidak di TPT.


*tulisan ini adalah naskah asli dari artikel (yang telah di-edit) dengan judul "Bapak Loket 3", yang telah diterbitkan di Buku Berkah (Berbagi Kisah dan Harapan) 2, Berjuang di tengah badai ; oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Hari Anti Korupsi Sedunia. 06122011.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo