Kawas Rolant Tarigan

-now or never-

There's no plan B !
-Memikirkan kembali Pemuridan di Kampus-

Tentu kita tahu anekdot “There is no plan B!”. Setelah Yesus naik ke surga, strategi apa yang dilakukan-Nya agar seluruh dunia percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat? Dia pakai murid-murid-Nya, untuk bersaksi, untuk memberitakan. Itu plan A. Bagaimana kalau plan A gagal? “There is no plan B!”. Yesus mengutus murid-murid-Nya dari generasi ke generasi untuk turut mengerjakan misi Allah di dunia. Amanat ini sampai kepada kita sekarang ini: Apakah PMK tetap menghasilkan murid-murid Kristus, yang memper-Tuhan-kan Kristus dalam setiap aspek hidupnya?

Kenapa murid?
Istilah murid adalah sebutan umum (secara khusus dalam Perjanjian Baru) untuk menunjuk kepada para pengikut Kristus sebelum mereka disebut Kristen. Istilah Kristen sendiri baru muncul beberapa tahun kemudian di jemaat Antiokhia untuk mengindikasikan “identitas” mereka di tengah komunitas internasional di tempat itu. Bahkan John Stott dalam bukunya “Murid yang Radikal” memberi catatan: “merupakan hal yang mengejutkan bagi banyak orang tatkala menemukan hanya 3 kali dalam PB para pengikut Yesus Kristus disebut ‘Kristen’: Kis 11:26; Kis 26:28; 1Pet 4:16... Mungkin kata ‘murid’ adalah istilah yang lebih kuat (daripada ‘Kristen’) sebab ia menyatakan hubungan murid dengan Gurunya. Selama tiga tahun dalam pelayanan publik-Nya, kedua belas orang yang dipilih Yesus adalah murid sebelum mereka menjadi rasul, dan sebagai murid, mereka ada di bawah instruksi Guru dan Tuhan mereka”. Istilah ‘murid’ (disciple-Ing, mathetes-Yun) muncul: 73 kali dalam Injil Matius, 46 kali di Injil Markus, 37 kali di Injil Lukas, 78 kali di Injil Yohanes, 28 kali di Kisah Para Rasul. Istilah ini terus digunakan agar orang Kristen punya kesadaran diri secara serius dan bertanggung jawab di bawah ‘disiplin’ Sang Guru. Sekarang ini begitu gampangnya orang mengaku ‘Kristen’, padahal belum tentu dia adalah murid.
Kalaulah kita membagi ‘kelompok’ orang yang ada di sekitar Yesus, secara sederhana kita bisa membaginya menjadi: Kelompok I: kerumunan orang banyak, yang hanya sebatas pendengar, banyak mencari tahu tapi tanpa komitmen; Kelompok II: orang Farisi, yang tahu banyak firman tapi tidak melakukan bahkan menentang; Kelompok III: para murid, yang bukan sekedar tahu firman, tapi melakukan, mentaati dan menghidupi. Akhirnya yang membedakan ketiga kelompok orang ini bukan knowing, tapi doing. Ini adalah hal yang sangat penting dalam proses pemuridan. Bahkan penekanan ini kembali dinyatakan saat para rasul diamanatkan untuk memuridkan kembali (Mat 28.20a: ajarlah mereka melakukan). Nah, pertanyaannya: kelompok mana yang sedang dihasilkan PMK saat ini?? Jangan bangga dulu ketika ada ‘kerumunan orang banyak’ yang ikut retreat, memenuhi ruang kebaktian, atau sekian banyak orang yang khatam ayat Alkitab namun gagal menjadi teladan? Berapa murid yang kita hasilkan melalui pelayanan PMK? Siapa tak meratap melihat begitu banyaknya alumni PMK yang berubah setia dari Tuhan? Alumni yang jauh dari hidup persekutuan dengan Tuhan padahal dulu begitu aktif di PMK? Jangan-jangan, PMK sibuk melakukan banyak kegiatan namun tidak dalam rangka menghasilkan murid. Takutnya, PMK hanya menghasilkan ‘kerumunan orang banyak’ atau ‘farisi-farisi baru’, tanpa karakter seorang murid sejati: berakar kuat, dan menyaksikan Kristus dalam hidupnya.
Murid itu dihasilkan, bukan dilahirkan. Dalam proses inilah pemuridan menjadi sangat penting. Pemuridan bukanlah sesuatu pekerjaan yang boleh dilakukan saat kita punya waktu. Sebaliknya, pemuridan menjadi satu-satunya hal yang sangat penting yang harus kita kerjakan. Pemuridan adalah proses menolong seseorang mengikut Kristus dengan sepenuh hidupnya. Di dalam pemuridan terjadi pembaharuan total seseorang dalam values (nilai-nilai hidup), attitude (sikap & karakter), behaviour (kelakuan sehari-hari). Sebagaimana artinya, murid senantiasa belajar, dan hal ini terlihat dari pertumbuhan yang nyata, semakin serupa dengan Kristus melalui firman, komunitas orang percaya dan waktu-waktu pribadi/ pengalaman-pengalaman iman bersama dengan Tuhan.
Sesungguhnya, esensi Amanat Agung Tuhan Yesus di Matius 28:19-20 adalah PEMURIDAN. Dalam bahasa asli (Yunani), hanya ada satu kata perintah: “muridkanlah” (matheteusate). Itulah yang menjadi fokus pelayanan Tuhan Yesus selama kurang lebih tiga setengah tahun, yang harusnya juga menjadi fokus PMK. PMK punya visi: menghasilkan alumni yang dewasa, berakar kuat, dan menjalankan fungsinya sebagai garam dan terang dalam panggilannya. Itulah murid. Itu visi yang kita kerjakan, supaya tidak sebatas mimpi. Misi 4P yang kita lakukan itu: Penginjilan, Pembinaan, Pelipatgandaan, Pengutusan, baik pelayanan secara pribadi, kelompok, ataupun persekutuan besar, semuanya dalam proses pemuridan: menghasilkan murid sejati.

Bukan Pekerjaan Mudah
Pemuridan bukan proses yang instant dan gampang. Lihat saja beberapa daftar masalah yang umum terjadi di PMK perihal pemuridan: terlalu banyak program (bagi PMK berkembang), atau malah bingung harus mulai dari mana (bagi PMK baru), regenerasi yang bermasalah dalam kualitas dan kuantitas, kegiatan-kegiatan kampus di luar PMK yang lebih menarik mahasiswa, kuliah makin padat, mahal dan cepat, banyak isme-isme yang mempengaruhi mahasiswa (materialisme, hedonisme, dll), lembaga dan gereja yang mengancam visi, misi dan keunikan PMK, Kelompok Kecil (KK) yang tidak diperjuangkan sungguh-sungguh, KK hanya dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak program/ kegiatan yang dilakukan oleh PMK. KK belum menjadi tulang punggung PMK, semakin banyak PMK yang terlena menggantikan peran KK dengan program ‘shortcut’, misalnya pembinaan/ training seringkali mengambil alih tanggung jawab PKK dalam mempersiapkan AKK menjadi PKK (melatih AKK untuk bisa PA, memimpin, dll). KK yang berjalan pun seperti kursus bahan –bab demi bab, PA bukan lagi yang terutama dalam KK, diperparah dengan evaluasi HPDT yang tumpul, dan proyek ketaatan yang suam-suam kuku. Deretan masalah ini semakin panjang kalau ditambah lagi masalah pribadi: masalah keluarga, keuangan, prestasi.
Banyak hal yang sepertinya gampang sekali membuat kita putus asa untuk setia mengerjakan pemuridan ini. Namun ada 2 hal yang perlu diingat: pertama, masalah pemuridan kita sekarang ini tidaklah lebih sulit dari zaman para rasul dahulu, maka jangan lemah; kedua, pemuridan adalah inisiatif dan karya Allah, karena itu Allah akan terus bekerja dengan cara-Nya yang ajaib untuk memelihara umat-Nya. Pemuridan ini ide-Nya Allah, IA akan bekerja dengan waktu-Nya dan kemampuan-Nya.
Ada beberapa catatan yang bisa kita pikirkan ulang dalam menghadapi berbagai masalah di atas, antara lain:

1. Realitas sistem perkuliahan yang semakin cepat, padat, dan mahal bukan merupakan ancaman, tapi tantangan bagi pelayanan mahasiswa: Bagaimana pelayanan pemuridan dapat tetap terselenggara dengan baik, sementara kesempatan yang tersedia begitu terbatas? Jawabannya, fokus pada satu-dua aktivitas yang paling penting demi amanat pemuridan tetap terselenggara di kampus! Too many focus means no focus.

2. Kerjakan KK dengan baik, karena KK merupakan sarana yang efektif dalam proses pemuridan dan berperan sebagai tulang punggung PMK.
• Pikirkan lagi sungguh-sungguh regenerasi PKK. Di akhir pelayanan Yesus, tugas memuridkan kembali hanya dipercayakan kepada mereka yang setia, yang secara intensif dan utuh menikmati pengajaran dan hidup-Nya, yaitu Petrus, dkk.
• Hasilkan waktu-waktu yang berkualitas (formal dan informal) sesama anggota KK di sela waktu yang ada. Semakin banyak intensitas waktu bersama, semakin besar pula dampak dan pengaruhnya. Jumlah AKK yang tidak terlalu banyak akan memungkinkan PKK untuk menyisihkan waktu secara optimal untuk menuntun tiap-tiap AKK. KK harusnya menarik! Kalau tidak menarik, berarti ada yang salah!
• Tanamkan dasar yang kokoh: relasi dengan Tuhan dalam doa, saat teduh, belajar Alkitab, persekutuan. Jaga pengajaran yang benar dan sehat; dorong dan buat kesepakatan dalam KK untuk belajar sama-sama menggali dan mengaplikasikan Firman. Adanya teman-teman KK akan sangat membantu masing-masing anggota untuk saling menguatkan dan bertumbuh. Di dalam KK, pembelajaran hidup menerapkan perintah Tuhan dilakukan bersama-sama: saling sharing, diskusi, dan belajar artinya hidup dengan saudara seiman (bersekutu).

3. Mutlak diperlukan orang-orang yang menjadi teladan dan pendoa. Sebagaimana Yesus menjadi teladan hidup bagi para muridNya, seperti itu juga AKK belajar banyak dari teladan hidup PKK, atau jemaat meneladani pengurus. Mereka tidak hanya belajar ilmu saja (doktrin, PA, iman Kristen), tapi juga bagaimana PKK menghidupi imannya tersebut. Dan jangan pernah lupa menjaga kehidupan doa yang baik, untuk terus memohon pertolongan Roh Kudus bekerja dalam pemuridan.

Kita sungguh bersyukur, Tuhan mengajak PMK terlibat dalam rencana agung Allah. IA sudah bekerja tanpa kita dan sebelum bertemu dengan kita; pekerjaan Allah tidak tergantung pada kemampuan kita, tetapi dalam kemurahan-Nya Ia mengijinkan kita berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya. Beberapa hasil/ buah pemuridan ada yang cepat, beberapa lainnya perlu bertahun-tahun. Hasil/ buah pertumbuhan adalah pekerjaan Allah, bukan kita. Mungkin kita tidak punya kesempatan melihat buah dari pelayanan kita. Namun kadang Tuhan mengizinkan kita melihatnya untuk meneguhkan apa yang kita kerjakan. Yang pasti, Allah-lah yang bekerja dalam setiap pribadi. Kita sudah menyaksikan bagaimana Allah menghasilkan orang-orang-Nya dari zaman Alkitab sampai kepada murid-murid Tuhan yang setia di zaman kita –yang bisa kita saksikan sendiri hidupnya saat ini. Bayangkan betapa kuatnya alumni yang dihasilkan dari PMK yang pemuridan-nya kuat. Bangsa ini punya harapan. Tuhan sudah bekerja dalam sejarah dan akan terus bekerja. Selamat memuridkan. Jangan sampai Yesus menegur lagi seperti di Luk 6:46 "Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”. Kalaupun ada PMK yang “umur”nya hanya satu hari, maka yang harus dikerjakannya dalam waktu yang ada itu adalah pemuridan; bukan yang lain. There is no plan B !!

Kawas Rolant Tarigan –Alumnus STAN, sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.


*diterbitkan di Buletin NEHEMIA edisi Oktober 2011.

Read More..

Sore itu, gerimis, di kereta api Depok…


Teringatku pada hatimu. Kiranya Tuhan menganugerahkan cinta yang besar kepadaku; jauh lebih besar daripada kelemahanmu.. sehingga bila kelemahanmu tampak olehku, aku masih sanggup mencintaimu, bahkan belajar mencintai kekuranganmu.. Ehm... Aku pun banyak kelemahan, bahkan tak mungkin setia tanpa dirimu, tapi.. tapi.. aku ingin selalu mencintaimu sampai masa yang tak kutahu..

Waktu akan berlalu, kecantikan pun akan berlalu, doaku semoga bisa mencintaimu selalu..


Kasihmu,


Kawas.

yang –udah gendut –gak wangi –rambutnya gak bersinar –gak pake baju bodyfit –gaya kebapakan –kadang kumisan –pokoknya gak gaul kayak cowok2 di XXI theater.

Read More..


Malam ini saya akan berangkat ke Rembang, Jawa Tengah. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan teman-teman yang lain, satu angkatan, satu kampus, satu persekutuan, satu mobil carteran [khusus 3 hari ke depan] :) Beberapa dari kami yang di sekitar Jakarta, masih tergabung dalam satu KTB, dan beberapa teman yang lain, rela datang jauh-jauh dari Sulawesi demi satu perhelatan ini: pernikahan sahabat kami: Kristyanu Widyanto (Anu) dengan kekasihnya Eliani Angga Safitri (Angga). Dua-duanya teman terbaik kami, dan akhirnya mereka berdualah yang perdana dari kami untuk berani melangkah ke babak baru hidup ini: berkeluarga, menikah, berumah tangga, membentuk satu ikatan yang kudus, menjalani mandat dari Tuhan: menyatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, beranak cucu dan bertambah banyak.

Saya pribadi punya pengalaman sendiri dengan dua teman terbaik saya ini: Anu dan Angga.

Anu, partner pertama saya sebagai gitaris di PMK STAN, di retreat pula lagi, masih mahasiswa baru. Kami berkenalan. Saya berulang kali menanyakan namanya untuk mengingat dan memastikan: Kristyanu. Siapa? Kristyanu. Panggilannya? Anu. Siapa? Anu. Hahaha... Bagi saya nama ini aneh, tapi unik. Gantian dia melakukan hal yang sama pada saya. Nama lu siapa? Kawas. Siapa? Kawas. K.A.W.A.S. Kok aneh? Tanyanya... hahaha... Itulah awal perkenalan kami, nama kami sama-sama berawal dari huruf K, dan saling merasa aneh. Orang ini hatinya rendah (rendah hati), tapi skillnya tinggi. Permainan gitarnya keren, dan saya tahu bahwa ke depan dia akan jadi pemusik yang kelasnya bukan kampus lagi (terbukti sekarang). Kerendahan hatinya nampak sejak pertemuan kami pertama itu, ketika selesai latihan, dia menawarkan tumpangan untuk mengantarkan saya pulang ke kos, naik motornya (yang lambat laun terkenal sebagai motor berisik seantero STAN..haha), bahkan setelah mengantar, dia menanyakan lagi: besok latihan mau gw jemput gak? Itulah Anu, sekali menolong, pasti menawarkan pertolongan selanjutnya; sampai kita yang minta tolong jadi gak enak hati, walau kepingin :) Sampai di Makrab tingkat 1, saat dia membawahi bidang musik, saya ditunjuknya sebagai gitaris, bersama pemusik yang lain (awal terbentuknya KAyaBE). Anu punya andil.

Beda lagi perkenalan pertama saya dengan Angga. Waktu masih tingkat satu, di kelas agama, cowok-cowok bangku belakang pada bicarain: ada anak -pajak -cewek -cantik, puteri Jawa Tengah (alamak...), udah sempat kuliah sebentar di UI, tapi pindah ke STAN. Saya pura-pura diam, tapi mendengarkan. Pura-pura tak tahu, tapi penasaran. Hahaha... Ternyata itu orangnya... Dan teman dekatnya ternyata satu kelas dengan saya. Dari situ kenalan, dan cuma say ‘Hi...’. Sehabis UTS agama, melihat nilai yang diselipkan di buku absen, saya ternyata nilai tertinggi. Bangga sedikit (gagal di akuntansi, tapi tidak di agama...hehe). Eh, ternyata ada satu orang lagi yang nilainya sama: ya.. si Angga itu. Hari demi hari makin sering komunikasi dan sering ketemu di Komisi Pemuda, juga PMK, tapi tidak terlalu akrab, walau banyak pria yang tergila padanya :)

Saya akui, satu masa yang membuat saya sangat akrab dengan Anu dan Angga, ketika tingkat 3, ketika saya, dalam anugerah Tuhan, menjadi Ketua Umum PMK STAN, Angga menjadi Sekretaris, dan Anu Kabid Perlengkapan dan Olahraga. Di masa ini juga kami membentuk satu kelompok belajar (Angga dan beberapa teman lain), supaya bisa jadi kesaksian dalam studi dan pelayanan. Wah... di sinilah saya sadar, bahwa mereka telah menjadi sahabat saya. Masa-masa bergumul sebagai pengurus, rapat sampai malam, tertawa (seringkali karena Angga), sedih, sharing, dan Angga yang paling sering nangis, bahkan sampai ketika Ujian Komprehensif-nya si Angga, malamnya, kami semua BPH harus berkumpul di kosnya Angga, karena dia tak berhenti menangis. Kenapa? Karena salah jawab dikit doang waktu ujian lisan, dan ada beberapa bagian tugas akhirnya yang harus direvisi. Ya ampun... ini orang... udah IP tiap semester tak pernah di bawah 3,5, karya tulisnya lebih tebal dua kali daripada punya saya -dan duluan selesai, masih aja nangis semalaman karena nila setitik. (Bayangkan, waktu wisuda, dia peringkat 5, tak perlu nunggu lama untuk mendengar namanya dipanggil. Saya? Mungkin beda 2 jam dari namanya Angga dipanggil, baru nama saya. Sampai Bapak saya nelepon: kok lama kali namamu dipanggil? Hahaha). Tapi malam itu, kami berkumpul di kosnya Angga. Kami ingin menghibur dia, tapi tak tau caranya. Kami suruh dia cerita tapi terbata-bata. Kami bercanda, akhirnya dia tertawa, tapi sambil menangis,mulut tertawa, air mata terus mengalir. Akhirnya kami hanya duduk bersama, lama terdiam, dan itu jauh lebih baik. Bahkan...setelah semua membaik...tak ada yang mau pulang; kami disana sampai larut malam...dan malah bicarain jodoh. Hahahaha... Disitu kami tau, si Angga baru jadian sama si Anu. Hihihi...dan nama Anu terukir manis di kata pengantar tugas akhirnya Angga :) Setiap kali Anu lewat, motor yang berisik bagaikan nyanyian merdu bagi telinga Angga. Hahaha... suatu kado manis bagi doa dan penantian panjang seorang Anu, apalagi di penghujung studi, dan sekarang Tuhan persatukan mereka bekerja di Jakarta.
Saya semakin akrab. Juga dengan Anu, di dalam pelayanan bersama (kalau boleh memilih, setiap saya pemimpin pujian, saya akan pilih Anu sebagai gitaris. Di STAN, di IKJ, di PMKJS2, dsb), di dalam olahraga, dan dalam banyak kebersamaan lainnya. Pelayanannya semakin berkembang seiring kerendahan hatinya. Di dalam KTB kami, dan kesempatan-kesempatan bersama lainnya, persahabatan ini semakin terjaga. Dan tak terasa, besok mereka berdua, akan dipersatukan Tuhan dalam pernikahan kudus, membentuk satu keluarga baru, sampai maut memisahkan.

Tepat seminggu yang lalu, demi pelayanan di UI, saya numpang nginap di rumah yang sudah dibeli Anu di Depok. Seperti biasa, Anu dengan kerendahan hatinya menawarkan: mau ini? mau itu? Mau gw buatin ini? Mau pake itu? Dst. Tapi yang tak terlupakan... untuk pelayanan besok di UI, saya ketinggalan sepatu!!! Dan dengan ragu saya bertanya: Nu, ada sepatu? Tapi tanpa ragu Anu menjawab: Ada tuh, masih di dalam kotak. Terus, saya dekati, pegang dan bertanya: Kok masih baru banget Nu? Iya, gw siapin untuk pernikahan gw. Alamaaaakjaaaang................ Sepatu yang udah disiapkan jauh-jauh hari, rela gak dipake-pake demi hari sakral itu, ternyata saya yang pakai pertama kali... Aduh, perasaan tak enak dari lubuk hati saya yang paling dalam. Tapi tak ada pilihan lain. Saya tak mungkin jadi Pembicara yang tak pakai sepatu. Coba dulu...kata Anu. Ternyata memang tak muat. Dia tak habis cara. Coba pakai kaos kaki ini, biar gak terlalu kesat. Akhirnya kaos kakipun ikut dipinjamkan, dan besoknya saya pelayanan dengan kaos kaki dan sepatu baru dari calon pengantin yang seminggu lagi akan menikah :)

Selamat menempuh hidup baru, sahabat saya: Anu dan Angga. Cinta kalian jadi berkat bagi banyak orang. Bukan kuantitas nya, tapi kualitas dan kontinuitasnya. Menjadi suami yang mengasihi dan melindungi isteri; menjadi isteri yang mengasihi dan menghormati suami. Tuhan menganugerahkan kasih, damai, sukacita, kekuatan dalam rumah tangga kalian, untuk mengarungi lautan dengan bahtera keluarga kalian. Entah pelangi yang kalian lewati, atau badai yang akan berlalu, jangan tinggalkan bahtera, jalanilah bersama, bersama dengan Tuhan.

Anu dan Angga tetap bersahabat. Selama menjadi kekasih, merekapun bersahabat. Setelah menjadi suami istri, ayah ibu, kakek nenek, mereka pun tetap bersahabat. Karena cinta sebagai sahabat itu, seringkali mengasihi tanpa pamrih; seperti Yesus yang jadi Sahabat bagi kita –berkorban demi yang dikasihi. Love is giving…

Hei, di pernikahan kalian, kami akan menyanyikan lagu “Love will be our home”. Cinta yang menjadi rumah kita (kalian); tempat bersatu hati, berbagi, bersatu dalam perbedaan, ada tawa, senyuman, mimpi, nyanyian, detupan jantung, kata-kata yang membangun, janji, ikatan yang tak terputuskan, di sana ada cinta… dan Cinta itulah yang jadi rumah kita…

Tuhan besertamu, sahabat…

Love Will Be Our Home

If home is really where the heart is
Then home must be a place we all can share
for even with our differences our hearts are much the same
for where love is we come together there.

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Love will be our home.
Wherever there are children singing
Where a tender heart is beating
We can live together there
cause Love will be our home

With love our hearts can be a family
And hope can bring this family face to face
And though we may be far apart our hearts can be as one
When love brings us together in one place.

Wherever there is laughter ringing
Someone smiling, someone dreaming
We can live together there
Love will be our home.
Where there are words of kindness spoken
Where a vow is never broken
We can live together there
cause Love will be our home

Love will, love will be our home
Love will, love will be our home
Love will, love will be our home
Love will, love will be our home

Read More..

English:

"I, (name), take you, (name), to be my (wife/husband), my constant friend, my faithful partner and my love from this day forward. In the presence of God, our family and friends, I offer you my solemn vow to be your faithful partner in sickness and in health, in good times and in bad, and in joy as well as in sorrow. I promise to love you unconditionally, to support you in your goals, to honor and respect you, to laugh with you and cry with you, and to cherish you for as long as we both shall live."









Karo:


"Aku ... muat kam si ... jadi (ndehara/perbulangen) ku, Janah aku erpadan tetep ngaloken kam, subuk ibas paksa susah ntah pe senang, subuk ibas paksa sakit ntah pe sehat, subuk ibas paksa ceda ate bage pe meriah ukur. Aku erpadan njaga kebadian perjabunta seh Dibata nirangken kita alu kematen"

Read More..

Biasanya saya mengikuti kebaktian minggu di GBKP Perpulungen Karawang. Tapi Minggu lalu (5/6), karena suatu hal, saya ber-gereja di GBKP Bekasi. Sehabis kebaktian, saya duduk-duduk dekat parkiran motor. Motor saya gak bisa keluar, karena banyaknya mobil. Daripada nunggu gak jelas, saya baca-baca spanduk yang dipasang di dinding atas gereja.
Salah satu spanduk besar, isinya: “Penekanan Program GBKP 2011: Peningkaten Teologia, Spiritualitas, dan Mutu Ibadah”.
Saya tersenyum membacanya, kalau mengingat:

1. minimnya pembacaan Alkitab dalam ibadah jemaat di GBKP. Total ayat untuk ogen dan khotbah, bisa hanya 5-15 ayat (perikop dipenggal-penggal); introitus pun kadang hanya setengah ayat. (bandingkan dengan beberapa gereja yg lain, atau outline perikop Alkitab terjemahan lain, NIV misalnya). Memang ini bukan faktor yang paling menentukan pertumbuhan teologia/ spiritualitas jemaat, tapi salah satu faktor TERPENTING. Bukankah pengetahuan dan iman timbul dari pembacaan, pendengaran, dan perenungan firman Tuhan? (Rom 10:17; Neh 8; Mzm 119). Bagaimana merangsang jemaat cinta baca Alkitab kalau di hari Minggu pun hanya beberapa ayat yang dibaca? Apalagi kalau banyak jemaat-nya yang baca Alkitab hanya di kebaktian Minggu? (itupun numpang Alkitab sebelahnya; atau sekedar di-paraf setelah dibaca).


2. tema besar itu sepertinya hanya menjadi tema bulan Januari di pekan penatalayanan. Selama beribadah dari Pebruari-Juni, saya hampir tidak pernah mendengar pendeta dari atas mimbar menyerukan dan terus menggaungkan tema itu dengan kuat. Hampir tidak pernah saya mendengar pengkhotbah di GBKP menekankan jemaat untuk punya relasi pribadi yang intim dengan Allah, melalui saat teduhnya, jam doanya, Bible readingnya, kebaktian keluarganya. Kalaupun ada, hanya sepintas lalu, di samping hal-hal umum lainnya (relasi suami-istri, ortu-anak, menghadapi masalah, sakit, dsb). Padahal relasi vertikal akar dari relasi horizontal.

3. saya bertanya-tanya. Berapa banyak GBKP yang sungguh-sungguh mempersiapkan kebaktian minggunya? Memilih lagu dengan serius sesuai dengan tema minggu itu, mempersiapkan liturgos (Pertua/Diaken) supaya tidak hanya berperan sebagai pembaca buku Liturgi, tetapi pemimpin pujian, mempersiapkan pemusik dan song leader dengan baik, bukan sekedar mencocokkan nada dasar/ tempo beberapa saat sebelum ibadah (itupun sering salah). Termasuk Anda yang berdiri di mimbar (Pdt/ Pt/ Dk), kalau Anda tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan ketika di mimbar (tidak ikut menyanyi atau sibuk mengecek handphone/ membolak-balik kertas), jangan heran kalau jemaat akan meneladani Anda.

Dahi saya mengkerut, tanda berpikir. Pertanda hari semakin panas juga. Ternyata mobil APV yang salah parkir tadi sudah berpindah. Saatnya saya pulang dan membawa kerinduan ini di dalam doa, dan talenta yang Tuhan anugerahkan, demi GBKP Simalem :) mumpung tahun 2011 masih ada setengah tahun lagi :)
Semoga semangat ini bukan hanya ada di aku saja, tapi kam juga.

Bage pe tek aku maka iterusken Dibata nge dahin si mehuli si enggo ibenakenNa i bas kam seh ku warina Kristus reh mulihken. (Pil 1:6)

Kws.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo