Kawas Rolant Tarigan

-now or never-


Saya dihubungi tim buletin untuk sharing tentang studi dan pelayanan. Dalam hati kecil saya, rasanya kok saya kurang layak untuk topik ini, karena bahkan sampai tamat kuliah, saya masih dan akan terus belajar untuk maksimal di kedua-keduanya.
Mari berimajinasi beberapa kemungkinan kondisi mahasiswa baru yang diterima dan akan kuliah di STAN: membawa petuah-petuah sakti dari orang tua yang disampaikan sebelum berangkat, impian untuk memperoleh IP tinggi, bahkan lulus cum laude (di kamarnya ditempel potongan kertas yang berisi impian: Ayo!! IPK=3,75), dengar-dengar dari senior: ancaman DO tiap semester, sistem perkuliahan yang tak menentu (SSD: suka-suka dosen), setelah lulus: sindrom ‘prestasi menentukan lokasi’ (penempatan), obsesi cari pacar karena ingin dapat calon pendamping yang juga PNS, atau apa lagi?Bisa anda perpanjang sendiri daftarnya. Saya anak daerah, dan mengalami hampir semua kondisi tersebut, kecuali yang terakhir. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi-ambisi itu dikikis sedikit demi sedikit. Apalagi setelah saya mengenal PMK, wadah bertumbuh dan melayani, ambisi saya yang kelihatannya baik itu, ternyata hampir semua egosentris, dan perlahan-lahan dibelokkan menjadi Theosentris. Rasanya sangat sayang sekali, 3 tahun masa kuliah yang dianugerahkan Tuhan, cuma dipakai untuk kuliah, ditambah nge-kos, makan, tidur, main bola, belanja, mengerjakan tugas, begitu seterusnya. Saya sangat yakin ketika Allah mengizinkan 3 tahun di STAN ini, ada sesuatu yang lebih, yang harus saya kerjakan, dan itu saya dapat di PMK, terlebih lagi di KKP (kelompok kecil). Saya dibina dan mulai terlibat dalam pelayanan. Awalnya sebagai abid ibadah yang mengurus persekutuan tiap Jumat. Ternyata cukup memakan banyak waktu: mempersiapkan tema, pelayan, Pembicara, mendampingi latihan, sampai evaluasi, begitu setiap minggunya, selama setahun. Namun saya semakin menikmati, dan semakin lama semakin terlibat dalam pelayanan yang lebih besar dan luas lagi. Kalau boleh didaftarkan, pelayanan yang pernah saya kerjakan selama 3 tahun itu: abid ibadah, panitia Bintal, Retreat, BPH (Ketua 2, kemudian Ketua Umum PMK STAN), Guru Sekolah Minggu GKI BIntaro Utama, PKK (pemimpin KKP), P-PIPA, ditambah pelayanan di PMKJ/ Perkantas Jakarta, sangat melelahkan, dan pasti menambah beban pikiran, namun ada sukacita di lubuk hati. Sangat menyita waktu, bahkan sampai di titik saat saya ‘keteteran’ dalam studi. Hanya belajar kalau di kelas. Kalau dosen tidak masuk, ya tidak belajar. Lebih suka baca buku rohani daripada Akuntansi, lebih sering bawa Alkitab daripada Kitab UU Perpajakan. Akhirnya tidak mengerti apa-apa, ujian mendekat. Seringkali menyalahkan dosen, sistem perkuliahan. Padahal harusnya saya sadar, bahwa tugas mahasiswa adalah belajar (aktif), bukan diajar (pasif). Untung ada teman-teman persekutuan yang menolong saya. Akhirnya saya belajar, menyeimbangkan antara studi dan pelayanan. Di tingkat 3 saya sangat bersyukur, bersama beberapa teman PMK, kami membentuk kelompok belajar, dan saya sangat merasakan dampaknya. Pelajaran yang kosong, tidak dimengerti, jam tentir yang tak terikuti, tak jadi masalah berarti lagi, karena kelompok belajar yang siap mengganti  Wah, pokoknya senang sekali, pelayanan dan studi berjalan berdampingan.
Dalam perenungan saya, adalah kerugian yang tak tergantikan, apabila seseorang yang mengaku mahasiswa Kristen, namun selama masa yang terbatas dan singkat di kampus hanya digunakan untuk kuliah, tak menggunakannya untuk menyaksikan Kristus dan karya-Nya pada orang lain. Alasannya apa? Banyak. Misalnya: “sekarang masa kuliah, jadi fokus ke kuliah dulu”. (Pendapat ini sebenarnya diformulakan dari nasihat orang tua kebanyakan: “kau kesana untuk kuliah, jangan macam-macam”. Adakah orang tua yang ikut menitipkan pesan pelayanan kepada anaknya? “Kalau ada kesempatan, melayanilah! Gunakan waktumu sebaik-baiknya.”. Jarang sekali. Dan saya sangat merindukannya. Mungkin pesan penting lainnya adalah: “Jangan pindah gereja/ cari gereja yang baik. Rajin-rajin gereja.”. Titik sampai di situ. Tidak ada dorongan melayani). Kalau kita pakai pandangan ini, kita tidak akan pernah terlibat dalam pelayanan. Waktu kuliah: fokus kuliah dulu, waktu kerja: fokus kerja, waktu berkeluarga: fokus keluarga, akhirnya: tak jadi-jadi ambil pelayanan. Atau alasan yang lebih rohani: “Yang penting aku belajar baik, studiku baik. Bukankah itu pelayananku?”. Ya, sangat setuju. Tapi, masakan pelayananmu hanya dalam bentuk studi yang baik? Terlalu egois rasanya. Tidak adakah bagian yang lebih nyata untuk mengenalkan Kristus pada orang lain, dalam penginjilan, pembinaan (pemuridan), pelipatgandaan orang-orang, untuk menghasilkan alumni yang bukan hanya bermutu dalam ilmu namun juga iman???
Mungkin inti masalahnya adalah bagaimana menjadikan Kristus yang terutama, menjadi poros kehidupan. Seperti roda, apapun yang sedang kita prioritaskan, tetaplah porosnya adalah Kristus, sekalipun suatu saat nanti akan berganti prioritas (berputar), tetap semua berpusat pada Kristus. Melakukan semuanya untuk Tuhan (Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia- Kol3:23). Wah, indah sekali bila kita menerapkannya. Kuliah yang baik, bukan untuk cari nilai, tetapi cari ilmu, bukan sebatas menyenangkan hati orang tua, tetapi menyenangkan hati Allah. Seimbang antara studi dan pelayanan. Bukan fokus studi namun menerlantarkan kesempatan (kairos) pelayanan, bukan pula fokus pelayanan namun melalaikan tanggung jawab belajar dan jadi batu sandungan.
Seperti yang saya tulis di awal, saya juga bergumul dan terus belajar untuk menyeimbangkan keduanya. Saya belajar banyak dari orang-orang yang saya teladani, yang sama-sama dianugerahi 1 hari=24jam, dan mereka mampu mengefektifkannya. Saya pun terdorong untuk itu, bahkan setelah alumni. Di tengah pekerjaan, saya komitmen untuk pelayanan sebagai penilik dan pendamping pelayanan mahasiswa Jakarta, khususnya STAN, meskipun menempuh jarak dari Karawang, Jawa Barat. Dan setelah alumi pula, saya semakin menikmati pekerjaan Allah dulunya sewaktu saya kuliah. Seperti doa seseorang, doa saya sewaktu menjadi mahasiswa: “Ya Tuhan, anugerahkanlah studi yang baik, persekutuan yang baik, gereja yang baik.”. Puji Tuhan, Dia jawab ketiga-tiganya. Dan 3 tahun, adalah waktu yang sangat singkat, untuk melayani selagi mahasiswa, jadi jangan sia-siakan, jangan gantikan dengan sesuatu yang nilainya hanya sementara. Hold tightly to what is eternal. Hold lightly to what is temporal! Selamat melayani rekan-rekan mahasiswa dan alumni. Ingat, visi pelayanan mahasiswa adalah menghasilkan alumni yang berintegritas. Artinya? Mampu mengintegrasikan iman dan ilmu. Soli Deo Gloria. Semuanya milik Tuhan, studi, pekerjaan, pelayanan, waktu, harta, seluruh hidup kita. Seperti tema bulletin ini: I’m YOURS. Seperti kata pemazmur: “I am yours--save me! I have tried to obey your commands” (Psalm 119:94-TEV).

Salam dari Karawang, Kawas Rolant Tarigan.


Read More..


Pak, Mak, apa kabar? Wah, sudah bulan Desember. Di mall-mall, pohon Natal udah dipasang, pernak-pernik Natal dijual sana-sini, lagu-lagu Natal terdengar hampir di setiap tempat. Gimana di rumah? Bapak mamak lagi sibuk apa? Pasti sekarang lagi sibuk-sibuknya latihan koor... Untuk festival koor, tampil di Natal Oikumene, Gereja, Sekolah dan Natal-natal lainnya. Dan pasti mamak sering kali ke salon dalam bulan ini untuk disanggul. Ya kan? :)

Aku jadi teringat waktu kecil, bulan Desember penuh kenangan, bulan yang paling ku tunggu (selain bulan Agustus). Di bulan ini pasti aku siap tampil dimana-mana. Hahaha... Mulai dari liturgi, puisi, deklamasi, drama, koor anak-anak, vokal group, cerdas tangkas Alkitab, dll, dan pasti aku pengen jadi juara satu. Hehehe... Bukan hanya di Natal Sekolah Minggu, tapi di Natal sekolah bapak, mamak, natal STM, bahkan kalian suruh pun tampil di natal-natal arisan. Wah, heboh... Beberapa hal yang masih kuingat setiap kali aku di depan, bapak pasti sibuk mengambil kamera dan memotretku dari berbagai sisi setiap aku tampil, atau sehabis Natal, pasti mamak nyuruh kami poto di depan pohon Natal gereja, dan sering kali sikapku adalah sikap sempurna tanpa ekspresi (atau tangan dimasukkan ke dalam kantong celana). Hahaha... Foto kami bertiga masih ada di kamarku. O iya, ada lagi yang lain. Saat itu baju putihku cuma satu (itupun “kembar” sama B’ Epon, beli dua biar murah, modelnya sama persis, cuma beda ukuran, katanya supaya bagus kelihatan seragam. Jadi aku sering ketawa sendiri sekarang kalo ngelihat anak-anak kecil orang Batak yang bajunya kembar-kembar). Hahaha... Jadi baju putihku itu harus beberapa kali cuci kering pakai, karena dalam seminggu ada beberapa Natal, dan pakaiannya putih-hitam. Saat itu juga mamak pasti memasangkanku dasi kupu-kupu, karena aku gak bisa memasangnya sendiri. Dan setelah semua siap, setelah rambutku disisir ke samping, mamak pun membanggakan: “Ah, ganteng kali anak mamak...”, aku pun jadi PeDe, padahal seringkali kurasa saat itu celanaku udah kekecilan, jadi agak gantung, tapi gak papa. Hanya mamak yang bilang aku ganteng. Hahahaha...
Tapi itu sampe aku SD aja. Setelah SMP gak gitu lagi. Aku mulai laris jadi gitaris Natal. Hehehe...

O iya. Mamak udah buat kue belum? Teringat dulu waktu kecil, bulan segini pasti kita udah sibuk buat kue. Semua kerja. Dan setiap tahun bagianku (sama b’ Epon) adalah mengupas kacang, untuk dibuat kacang tojin. Kacangnya disiram air panas, dan dikasi garam, terus dipencet-pencet supaya terkelupas. Awalnya seru, tapi lama-lama (karena kacangnya banyak) tangan udah kisut, bosan juga. Akhirnya jadi main-main. Gitu juga kalo buat kue yang lain. Jadi tukang ayak tepung, giling adonan pake botol, atau ngoles kuning telur di atas kue kacang atau kue keju. Awalnya seru, lama-lama bosan, main-main, akhirnya: kena cubit! Wow. Setelah di-oven, aku selalu menanti ada kue yang pecah, rusak, gagal lah pokoknya, dan langsung dimakan. Lama-lama dimarahin, karna ternyata kue yang sempurna cuma dikit. Kalo semua kuenya udah jadi, mamak nyimpan stoples kuenya di kamar, supaya gak kami habiskan. Hahaha…

Hah,,, seru ya, momen-momen Natal gitu... Bapak, mamak, Natal ini aku gak pulang (lagi)... Tapi semoga keceriaan Natal kita tiap tahun makin bertambah, seiring berkat-berkat Tuhan yang tak pernah habisnya. Dan semoga kita juga enggak terjebak di kesibukan Natal, sekedar pelaksana/ panitia, peserta, atau sekedar seremonial. Tapi kita boleh terus mengingat kasih Allah, yang menyertai kita itu, DIA lahir demi kita, dan ingin tinggal tetap di hati kita, melakukan perubahan-perubahan istimewa supaya kita juga boleh menjadi perwujud-hadiran-Nya di sekitar kita. DIA lahir menghadirkan damai, sukacita dan keselamatan buat dunia ini. Tapi biarlah semuanya itu dapat kita tunjukkan di dunia yang paling kecil: keluarga kita, atau lebih kecil lagi: diri kita sendiri.
Sekali lagi Bapak, mamak, selamat Natal ya… Walaupun aku gak pulang, tapi kalian selalu ku ingat dalam doaku. Oh iya, bentar lagi kan tahun baru. Apa harapan di tahun baru nanti? Kalau aku sederhana aja, semoga kita semua masih mampu tersenyum tulus karena kesadaran bahwa Tuhan telah, masih, dan akan terus menyertai keluarga kita.

Salam rindu dari Karawang,
Kawas Rolant Tarigan


*satu lagi: Bapak tau gak sih, bisa facebook-an lewat hp bapak itu? Kapan mamak punya facebook? Hehe… Miss you all…

Read More..

KTB 05 harus dihidupkan lagi!!

Kenapa? KTB: Kelompok Tumbuh Bersama. Untuk orang berTUMBUH, dia perlu komunitas (KELOMPOK), dan betapa susahnya bertahan kalau dia hanya sendiri, dibutuhkan wadah keBERSAMAan. Untuk itulah KTB ada. Sudah cukup kebaktian kantor? Berapa orang yang punya persekutuan kantor? Bagi yang ada, berapa sehat persekutuan kantor? Bagi yang persekutuan kantornya baik, maukah membagikannya dengan yang lain? Di mana kita yang dulu pernah dibina bersama bisa kembali lagi saling belajar firman, sharing dan mendoakan saling menguatkan. Kesenangan hati karena: “ah,,, ternyata ada yang mendoakanku”. Berapa orang alumni yang masih setia dalam perkara kecil? Atau sudah larut dalam kompromi2 kecil, kemalasan? Dari semua pertanyaan itu, mungkin jawabannya 1 yang efektif: ayo, kita KTB lagi!
Sejarah mencatat, apa yang mampu membuat orang bertahan setia pada kebenaran? KTB salah satu jawabannya.• PMK-PMK berdiri, mulanya hanya diawali oleh KTB-KTB
• Pejuang-pejuang kebenaran, contohnya: KAMG (Komunitas Air Mata Guru) hanya dimulai dan dipertahankan lewat KTB
• Beberapa tokoh: Pieter Jacob, Rully Simanjuntak, Mangapul Sagala, Jonathan Parapak, Zakheus Indrawan, dll mampu setia karena terus ber-KTB
• Daniel, Mesakh, Sadrakh, Abednego mampu bertahan karena KTB mereka.
• Masih banyak lagi yang bisa teman2 tambahkan, bahkan hal-hal kecil atau orang-orang yang kita jumpai sehari-hari.

KTB ini hanya mimpi, kalau tidak diwujudkan. Ayo, kita KTB lagi. Kami sudah membuktikannya melalui kelompok yang lebih kecil (Kawas, Dapot, Anu, Anto, Valen, Misni, Angga), hari Jumat yang lalu, berkumpul di Monas, di bawah pohon rindang, duduk di atas koran, dengan banyak snack, membahas Filipi 1:1-11. Wah, indah sekali... Dari situ kami menyatakan perjuangan untuk terus mempertahankan KTB kita, bahkan dalam kelompok yang lebih besar. Ini doa kita bersama, bukan?

Doakan dan hadirilah: KTB 05 kita:

Sabtu, 12 Desember 2009 jam 13.00 di Monas. Bahan: Diberkati untuk menjadi Berkat bab 2.

Yang mimpin: cewek: Angga, cowok: Anu ; Pemusik: Kawas.
Datang ya semua teman-teman... Ajak semua PMK angkatan 05 semaksimal mungkin yang bisa kita ajak, jangkau dan hubungi.

Ditunggu ya temans... When you pray, will you pray for me?

Kis 2:42-47 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa... Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, .. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

Read More..


Shalom teman-teman. Aku mau mensharingkan tentang Retreat Koordinator XI. Retreat Koordinator (RK) adalah wadah pembinaan dan kesatuan bagi pemimpin-pemimpin PMK (Jakarta dan regional). Sudah dimulai sejak 1991, dan sekarang RK XI. (untuk setiap perkembangannya, ada di attachment from RK to RK). Kalau ditanya aku pribadi, tentang kebangkitan kampusku, aku akan jawab salah satu hal yang paling penting adalah RK IX (thn 2005), di momen itu PMK STAN ditolong bangkit, dan puji Tuhan bisa terus bertumbuh :). Hal itu jugalah yang mendorongku kenapa mau ambil bagian dalam kepanitiaan RK XI yang sangat melelahkan dan memakan banyak biaya, tenaga ini: aku adalah orang yang berhutang... Aku ingin kampus lain juga menikmati hal yang lebih baik lagi.

RK XI (Retreat Koordinator XI) diadakan untuk memperlengkapi pemimpin-pemimpin kampus dalam melayani di kampus (mengerjakan visi Allah di kampusnya) dan mengobarkan semangat visi kesatuan dan kedewasaan. RK XI diadakan di Bandung, 25-28 Februari 2010, dan dihadiri total sekitar 500 orang dari 14 kota besar di Indonesia, dengan tema Dipilih Allah Untuk DipakaiNya (D.A.U.D). Mengeksposisi tokoh Daud, pemimpin dengan penuh liku dalam sejarah Alkitab dan dicatat sebagai orang yang berkenan di hati Allah (Kis13:22), kiranya demikian juga pemimpin-pemimpin PMK.Karena momen besar, biaya yang dibutuhkan juga cukup besar. Total biaya yang dibutuhkan Rp.258.746.000 (target pemasukan dari donatur Rp.108.296.000). Kalau dirata-ratakan satu orang peserta selama 4 hari 3 malam memakan biaya sekitar 500 ribu per orang, dan itu pastilah sangat memberatkan bagi para peserta yang adalah mahasiswa. Apalagi bagi teman-teman yang ada di regional (Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi), yang untuk ongkos perjalanan sudah harus berjuang keras. Jadi semua peserta disubsidi dengan pencarian dana. Dan panitia juga membuat adanya perbedaan kontribusi peserta berdasarkan pertimbangan kesanggupan. Untuk kampus yang sudah memadai (alumninya juga sudah kuat), dikenakan 400 ribu per orang, begitu seterusnya, ada yang 300 ribu dan 200 ribu. Karena itulah kebutuhan pencarian dana sangatlah besar.

Apa yang bisa teman-teman berikan?
• DOA. Tolong doakan agar Allah dalam segala kemurahan-Nya menolong setiap persiapan Panitia, termasuk dalam menghubungi peserta, pelayan, dan pencarian dana.
• DIRI. Teman-teman bisa ikut ambil bagian dalam menghubungi peserta yang bisa teman-teman jangkau, atau ada teman-teman yang dihubungi sebagai pelayan.
• DANA. Teman-teman bisa menjadi saluran berkat Allah dengan memberikan donasi kebutuhan dana yang masih sangat besar. (Nomor Rekening ada di proposal RK). Bayangkan, berapa pun yang teman-teman berikan, itu sangat berarti untuk menolong (mensubsidi) peserta yang membutuhkan. Mungkin kondisi kita berbeda-beda, mungkin sedang di saat-saat (atau akan) banyaknya pengeluaran; namun, bukankah di situ letak arti indahnya memberi? berapa pun yang teman-teman sisihkan, sangat berarti di mata Allah. Teman-teman tidak harus memberikan sekaligus, kita juga bisa menjadikan donasi ini sebagai salah satu persembahan bulanan (mungkin sampai Februari), yang mungkin nilainya tidak terlalu besar, namun sangat berarti bila dikumpulkan dengan setia.


Terima kasih teman-teman. Ditunggu responnya. Kiranya Allah terus bekerja melalui orang-orang yang Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya. Ini doa kita.


“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Roma 11:36.

Salam persahabatan, Kawas, panitia RK XI.

Read More..


Lanjutkanlah kasih setia-Mu ya Allah…
(Menyongsong Sidang Sinode GBKP 2010)
Oleh: Kawas Rolant Tarigan

1. Spiritualitas; Kesaksian yang Utuh
Keagamaan biasanya diekspresikan melalui tiga cara, yaitu: ritual (ibadah), creed (pengakuan), dan life (cara hidup). Hal inilah yang membedakan agama yang satu dengan yang lainnya, secara khusus pagan religion (agama kuno, penyembah berhala/ tidak menyembah Allah), dengan revealed religion (agama penyataan/ yang dinyatakan). Bagi penganut pagan religion, ritual adalah hal yang paling utama, namun mereka tidak memiliki creed (pengakuan), karena tiadanya theologi yang utuh. Hal ini ditunjukkan dalam cara hidup mereka yang sangat jauh berbeda dibandingkan saat mereka melakukan ritualnya. Berbeda dengan revealed religion, contohnya agama Kristen, ritualnya ditunjukkan melalui ibadah dan kegiatan rohani, memiliki theologi yang utuh dengan pengakuan ke-tri-tunggal-an Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Sejatinya, umat Kristiani mampu menunjukkan apa yang ia percayai melalui cara hidupnya.
Apakah hal ini sudah tercermin dalam cara hidup jemaat GBKP? Sudahkah GBKP menjadi gereja seutuhnya yang menjadi saksi di tengah-tengah keberadaannya? (bukan hanya sebatas kegiatan keagamaan saja). Karena seringkali orang seakan-akan sangat taat beribadah, namun tidak demikian dalam kehidupan sehari-hari. Ini tantangan bagi gereja, bagaimana membentuk jemaat yang di dalam dirinya tidak ada dikotomi antara kehidupan pribadi dan kehidupan di muka umum, antara yang disaksikan dan yang diterapkan, antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Jonathan Lamb dalam bukunya Integritas mengutip: “Sebagian besar kekristenan Amerika telah kembali ke paham-paham penyembahan berhala murni, di mana para penyembah berhala ternyata bisa sangat khusuk menjalankan agamanya tanpa harus terikat dengan nilai-nilai etika, moralitas, pengorbanan diri atau integritas”. Adalah bahaya yang besar apabila banyak jemaat GBKP seperti penyembah berhala ini. Jemaat yang tiap minggu rajin ke gereja namun di kehidupan keseharian tidak berbeda dengan seorang atheis. Dia tidak sadar bahwa dia sedang hidup di hadapan Allah yang maha hadir dan maha melihat, memperhatikan, memelihara dan menghakimi, meminta pertanggungjawaban.

Beberapa kali dicatat dalam Injil ketika Yesus mengecam ahli Taurat dan Farisi (Mat 15:7-9; 23:13-36), padahal mereka sangat-sangat taat beribadah, tapi cara hidupnya jauh dari kebenaran. Mengapa? Terbukti bahwa ibadah mereka bukan lahir dari pemahaman dan relasi yang benar dengan Tuhan. Bandingkan dengan kehidupan seorang jemaat GBKP yang aktif (bisa saja Pertua/ Diaken): Minggu ke gereja, Senin-Sabtu kerja, ditambah Selasa PJJ, Rabu Moria, Kamis Mamre, Jumat rapat-rapat, Sabtu menghadiri pesta-pesta, kembali ke Minggu lagi ditambah arisan-arisan persadan merga, atau PA Permata, di samping (jika ada) ngapuli, kunjungan orang sakit, dan kerja-kerja. Rutinitas yang sangat menyibukkan dan mungkin saja tak bermakna lagi, sehingga seringkali timbul keluhan karena yang didapat hanya lelahnya saja. Herannya lagi, banyak orang yang bangga dengan kesibukannya ini, bersosial, padahal tak membuahkan apa-apa bagi perubahan hidupnya. Pernahkah kita bergumul jujur di dalam hati: “jangan-jangan” sebenarnya Tuhan tidak menyuruh kita sibuk melakukan ini-itu, melainkan ada hal yang lebih penting? Mari ingat cerita Maria dan Marta dalam Luk11:38-42; Yesus memuji Maria yang duduk diam mendengarkan-Nya berbicara, bukannya pada Marta yang sibuk menyusahkan diri melayani sekalipun itu baik. Bukan menyalahkan “sibuk”-nya, justru sebagai seorang jemaat yang peduli haruslah menyisihkan waktunya untuk pelayanan, namun jangan pernah lupakan hal yang paling esensi: relasi dengan Tuhan; spiritualitas, itulah yang harus diperjuangkan GBKP bagi jemaatnya.. Spiritualitas adalah gaya hidup seseorang sebagai hasil dari kedalaman pemahamannya tentang Allah secara utuh. Spiritualitas adalah gaya hidup sehari-hari yang merupakan buah dari hubungan kita dengan Yesus. Spiritualitas adalah kedekatan atau keakraban hubungan kita dengan Yesus secara transenden yang ditampakkan dalam sikap hidup kita terhadap orang-orang yang adalah imanensi atau perwujud-hadiran Yesus . Kegiatan keagamaan yang banyak tidak menjamin spiritualitas hidup seseorang. Pelayanan bukanlah sibuk sana-sibuk sini, tetapi persekutuan dengan Allah dalam doa, saat teduh, disiplin pembacaan Alkitab dan persekutuan. Relasi itulah sebenarnya yang disebut pelayanan, dan “hal-hal yang tampak dari luar” (seperti PA, kebaktian, kunjungan diakonia, bahkan kesaksian hidup) adalah buah dari relasi kita dengan Allah. Yesus, yang adalah Tuhan, juga melakukannya (Mrk 1:35, Mat 14:23): sesibuk apapun pelayanan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan persekutuan dengan Bapa, karena itulah yang terutama. Dalam Yoh15:1-8 (Pokok Anggur yang Benar), kata yang lebih ditekankan adalah “tinggal (remain)”, kemudian “berbuah (bear/fruitful)”. Jangan dibalik! Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh15:5).
Hal-hal seperti ini yang harusnya diperjuangkan dalam program-program GBKP bagi pembinaan jemaat, menghasilkan jemaat yang memiliki relasi intim dengan Allah, yang disaksikan dalam sikap hidupnya. Bagaimana gereja dapat melakukan mandat Injilnya secara efektif, apabila jemaatnya gagal menjadi saksi? Ketika satu orang jemaat gagal menjadi saksi, kegagalan ini bisa meracuni satu komunitas, menghancurkan kepercayaan, menggagalkan misi yang saling terkait dan menyatu, dan yang paling berbahaya, kegagalan ini bisa mengkhianati usaha-usaha dalam pengabaran Injil dan merendahkan Allah yang kita sembah. Terlalu sedih rasanya menulis bagian ini, apalagi sepertinya tidak ada lagi passion yang menghasilkan action. Misalnya dalam beberapa sidang runggun, hampir semua hal dianggap biasa, ingin cepat selesai, tak jarang terdengar kata: “nggo me. Lanjutken kari yah...”. Sidang yang lama dianggap sebagai hal yang membuang waktu saja, padahal bisa saja ide-ide baru muncul dari situ. Akibatnya pelayanan gereja pun begitu-begitu saja, tidak ada perubahan signifikan. Banyak pula jemaat yang tidak mau tahu dan menerima saja. Bagaimana orang bisa menerima pesan Injil yang kita beritakan kalau mereka melihat “produk” Injil tersebut tidak seperti yang dikatakan? The man is the message. Kitalah yang sebenarnya saksi hidup itu. Apalagi para presbyter, penilik jemaat harus mampu menjaga dirinya terlebih dahulu, baru menjaga kawanan dombanya. Jangan “pembina” yang justru membuat pusing karena harus dibina (meskipun sedihnya, hal ini sering jadi pergumulan di GBKP). Bukankah dalam Kis 20:28 dikatakan: Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.
Biarlah hal ini menjadi perenungan di penghujung regenerasi kepengurusan ini, bagaimana pelayanan dan pembinaan yang dilakukan bisa membawa jemaat menjadi Kristen yang sesungguhnya, memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, yang ditunjukkan dalam cara hidupnya, bukan sekedar sibuk dengan banyaknya kegiatan agama. Kalau tidak ada perubahan nilai hidup jemaat, bukankah GBKP sedang menciptakan “ahli Taurat dan Farisi” yang baru, yang begitu sibuk (katanya) melayani, namun gagal menjadi saksi hidup?
2. History is His story (Past, Present and Future)
Sejarah kita adalah cerita tentang Allah. History is His story. Ketika kita mengingat ke belakang, bagaimana Allah memulai penginjilan bagi orang Karo, seharusnya semangat kita “terbakar” untuk terus melakukan tanggung jawab gerejawi secara pribadi. Kalau pada abad ke-19, ada orang-orang (dan itu bukan orang Karo) yang rela mati demi Injil disampaikan kepada orang Karo, bukankah kita yang mengaku berdarah Karo harusnya lebih punya kerinduan yang jauh lebih dalam agar semakin banyak orang Karo mengenal dan memper-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya? Para penginjil di Tanah Karo, rela meninggalkan segala sesuatunya dan melakukan segala usaha agar Injil semakin diberitakan. Mereka belajar bahasa dan adat Karo, menjadi tenaga pendidik, mendirikan rumah-rumah sekolah, tenaga kesehatan, memberikan pelayanan kesehatan/ medis, mendirikan poliklinik, setelah adanya gereja, mereka menerjemahkan lagu-lagu rohani dalam bahasa Karo agar orang Karo bisa memuji Tuhan, perbaikan perekonomian dengan pengadaan sarana pertanian, pembangunan irigasi dan jalan, dan membina pemuda sebagai generasi penerus gereja.
Bagaimana dengan kita warga GBKP? Semangat dan pembelajaran yang lalu (past), harusnya membuat kita melakukan yang terbaik saat ini (present), untuk menghasilkan masa depan (future) yang jauh lebih baik. Moderamen membentuk badan-badan pelayanan untuk efektifitas kinerja. Ada Biro Theologia dan Litbang, Biro Sekretariat dan Administrasi, Biro Humas dan Informasi, Biro Hukum dan Harta Benda, Biro Penggalian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya (BPPPB), Biro Pengembangan Ibadah dan Musik Gereja (BPIMG), Biro Oikumene, Komisi HIV-AIDS dan Napza, Pembinaan Warga Gereja (PWG), Penginjilan ke dalam (evangelisasi), Penginjilan Keluar, yang secara job description sudah cukup baik (walau perlu dipertajam agar lebih aplikatif), namun dalam pelaksanaannya masih sangat perlu ditingkatkan. Dengan mengingat “kasih mula-mula” itu, mari saat ini kita “membangunkan” badan-badan pelayanan GBKP yang saat ini (khususnya pada tingkat runggun) masih banyak yang “tertidur”. Dalam Kis 2:41-47, sungguh indah kehidupan jemaat (gereja) mula-mula yang saling peduli, mau tahu dan memberikan kontribusi nyata: “…Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan…mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,…dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”
Bukankah kerinduan kita semua, GBKP memiliki persekutuan yang erat dan hangat (koinonia), persekutuan itu menjadi kesaksian hidup dalam penyebaran Injil, pemberitaan Firman Tuhan dan pelayanan mimbar yang kuat (marturia), dan pelayanan yang menghadirkan Kristus di tengah-tengah keberadaan kita (diakonia)?
3. Man oriented
Menurut data statistik 2006 , anggota GBKP sebanyak 72.696 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa 277.693 orang. Pertambahan anggota rata-rata setahun sebanyak 2.373 orang/tahun, dan faktor yang utama dalam penambahan jemaat GBKP adalah kelahiran anak di tengah keluarga jemaat yang otomatis menjadi anggota GBKP. Hanya itulah yang memberikan kontribusi dalam pertambahan jemaat ini. Kalau demikian, bagaimana program pembinaan jemaat dan penginjilan selama ini untuk “menjala manusia” menjadi murid Kristus? Sepertinya kita harus jujur, bahwa hal itu masih “berjalan di tempat”. Angka-angka di atas itu bukan hanya sekedar data statistik! Itu orang, itu jiwa yang harus “digembalakan”. Sudahkah kita merenungkan hal itu? Dalam Mat 9:35-38 “…melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus dengan belas kasihan”. Apakah murid-murid Yesus tidak melihat “orang banyak itu” sehingga tidak berespon? Sepertinya tidak mungkin. Namun yang membedakannya adalah cara pandang (kedalaman visi). Ketika Yesus melihat, Ia “terbeban” bahwa orang banyak itu butuh digembalakan, sekalipun tuaian banyak, pekerja sedikit. Berdasarkan data 2008, jumlah daerah pelayanan GBKP adalah 434 runggun yang dilayani oleh 200 Pendeta; 42 Vikaris dan 10 calon Vikaris, jadi totalnya 252. Sebenarnya kalau diteliti lebih jauh berdasarkan bajem, jumlah jemaat tiap runggun yang tidak merata dan sebagian ada yang lebih dari 400 kepala keluarga, dan Pendeta yang tidak membawahi runggun, dibutuhkan sekitar 500 pendeta lagi agar pelayanan ini efektif. Namun dengan jumlah yang masih kurang ini (dan berdoa Tuhan akan terus tambahkan), kita yakin bahwa kuasa Tuhan tidak akan terkendala. Little is much when God is in it. Lebih dari itu, setiap orang percaya harusnya bertanggung jawab terhadap sesamanya yang belum mengenal Kristus. Jumlah orang Karo yang terus bertambah mau dibawa ke mana? Bukankah tanggung jawab kita-GBKP untuk membawanya dan terus mengenalkannya kepada Kristus? Apalagi “kita” yang sudah menikmati banyak pembinaan dan mengenal Kristus melalui GBKP, sebenarnya adalah orang-orang yang “berhutang” kepada orang-orang Karo yang belum menikmati hal yang sama. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 1:14-15, “kita” adalah orang-orang yang berhutang, “hutang Injil” kepada orang-orang yang belum menikmati Injil.
Terkhusus bagi para presbyter (Pendeta, Pertua, Diaken) sebagai gembala jemaat, yang diberikan mandat oleh Kristus untuk “menjaga kawanan domba-Nya”, dalam menetapkan berbagai kebijakan, sudahkah pertumbuhan jemaat menjadi prioritas utama? Pelayanan ini ada karena “orang”, bukan program. Seringkali orang bekerja karena program, sehingga kehilangan visinya. Ketika ditanya kenapa melakukan ini-itu? Jawabnya adalah karena sudah program. Tidak tahu lagi, apa dan kenapa program itu ada, dan diapun tidak mengerti untuk apa, sehingga hanya menjadi sekedar pelaksana program. Dan itu bukanlah pelayan! Seorang pelayan harusnya tahu what, why, who, where, when dan how, atas pelayanannya. Program itu ada karena visi, jangan dibalik! Visi-lah yang harusnya menggerakkan semua pelayanan. Dan fokus dari visi adalah “orang”-nya bukan programnya. Visi lahir dengan melihat kondisi jemaat dan melakukan apa yang Tuhan suruh. See to the world, and listen to His word, that’s vision! Jadi seharusnya semua program pelayanan, berangkat dari dan menuju ke visi, yang fokusnya adalah pertumbuhan jemaat. Makanya, seharusnya pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang “man oriented” dan bukan “program oriented”. Berfokus pada orang yang dilayani.
Visi GBKP dipertahankan moderamen selama 2 periode (2000-2010): “Hidup Setia kepada Tuhan”. Visi yang tidak diperjuangkan hanyalah menjadi sebuah mimpi. Bagaimana visi ini bisa menjadi perjuangan bersama? Jadikan visi itu sebagai visi pribadi dulu, dan tularkan ke pribadi yang lain, kemudian menjadi visi sektor. Semua sektor memiliki visi yang sama, jadilah visi runggun, visi klasis, dan seluruh jemaat GBKP.
Saya tidak tahu seberapa jauh evaluasi pelayanan dan feedback yang dilakukan baik di tingkat runggun, klasis ataupun moderamen. Apakah hanya sekedar “program ini terlaksana atau tidak”, atau lebih dalam lagi: bagaimana kualitas manusia melalui program yang dilakukan? Kalau evaluasi selama ini masih sekedar “terlaksana atau tidak terlaksana”, saatnya untuk berubah, berpikir lebih keras lagi: melalui pelayanan ini, bagaimana perubahan nilai hidup jemaat kepada Kristus? Itulah tugas gembala.
Regenerasi (sebagian) Pertua/ Diaken dan kepengurusan yang terjadi, sebenarnya adalah sebuah harapan, dan sidang sinode 2010 adalah kesempatan (kairos) yang sangat strategis untuk menetapkan hal-hal yang fundamental, program dan kebijakan yang “man oriented”, berfokus kepada “orang”, bukan digerakkan program, serta pengawasan dan pendampingan yang tak henti-hentinya dari tingkat moderamen ke klasis dan ke runggun, hingga tiap jemaat merasakan buah pelayanan dan pembinaan yang berdampak pada kualitas, kuantitas dan kontinuitas pelayanan.
4. Penutup
Berefleksi dari Matius 25, bagi Pendeta, Pertua, Diaken, dan Pengurus Kategorial: pertanggungjawaban sesungguhnya pelayanan ini adalah kepada Allah, yang empunya pelayanan. Ketika Dia bertanya: Apa yang sudah kita lakukan atas kepercayaan yang diberikan-Nya, apa jawab kita? Dan kira-kira apa respon Tuhan: hamba-Ku yang baik dan setia (ay.21,23); atau hamba yang malas dan jahat (ay.26-30)?. Dan kepada anggota jemaat: sudahkah yang terbaik kita berikan kepada Tuhan? Seberapa besar kita mengambil bagian bagi pertumbuhan gereja-Nya? Sewaktu digembalakan, kita menjadi domba yang setia (ay.32-33)?
Biarlah kerinduan hati Tuhan menjadi kerinduan hati kita: jemaat GBKP yang melekat kepada Tuhan, mencintai Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun; jemaat GBKP yang berperan, mampu menunjukkan “garam”-nya dan “terang”-nya, bukan hanya di keluarga dan gereja, tapi menembus masyarakat dan bangsa ini. Banyak orang pesimis, sepertinya tidak mungkin? Bukankah bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin (Luk 1:37; 18:27)? Ternyata bagi orang percaya juga (Mrk 9:23). Maka itu percayalah, kepada Allah! Semua ambil bagian, lanjutkan perjuangan ini, melakukan yang (paling maksimal) bisa kita lakukan. Mungkin saja bukan bagian kita melihat hasilnya kelak, yang penting, kerjakanlah tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus sepenuhnya, dan Allah akan bekerja dengan cara dan waktu-Nya. Selamat berjuang. Berjuang untuk setia. Setia kepada Allah yang setia. Saat ini adalah saat yang baik untuk menoleh ke balakang, kasih setia Tuhan yang menyertai hingga saat ini, menatap ke depan, di sana pun kasih setia dari Allah yang sama tetap menanti, dan menengadah ke atas, berdoa mengucap syukur, dan berseru seperti ungkapan hati pemazmur di Mazmur 36:8-11, “Lanjutkanlah kasih setia-Mu (ya Allah) …”. Soli Deo gloria.

Read More..

Regards,

Kawas Rolant Tarigan




Yang rajin baca:

Posting Terbaru

Komentar Terbaru

Join Now

-KFC- Kawas Friends Club on
Click on Photo