<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078</id><updated>2012-01-26T00:11:30.802+07:00</updated><category term='Artikel'/><category term='Lain-lain'/><category term='Resensi Buku'/><category term='Doa'/><category term='Renungan'/><category term='Sharing'/><title type='text'>Kawas Rolant Tarigan</title><subtitle type='html'>belajar berjalan mengikut Tuhan</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>62</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-5066558911897773173</id><published>2012-01-16T18:19:00.002+07:00</published><updated>2012-01-16T18:24:08.999+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Not a Single Fighter</title><content type='html'>Sewaktu menulis &lt;span style="font-style: italic;"&gt;sharing&lt;/span&gt; ini, saya sedang melalui waktu kesendirian di minggu pertama saya berada di daerah tempat kerja yang baru. Tahun baru, kantor baru, suasana baru. Baru 4 hari saya dipindahkan ke Subang, Jawa Barat, dari kantor sebelumnya di Karawang. Di Subang, hampir seluruh pegawai bukanlah orang yang ber-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;homebase&lt;/span&gt; di Subang. Artinya, setiap &lt;span style="font-style: italic;"&gt;weekend&lt;/span&gt;, semua pegawai akan meninggalkan Subang dan kembali ke &lt;span style="font-style: italic;"&gt;homebase&lt;/span&gt; masing-masing. Untuk minggu pertama ini saya memilih untuk tetap di Subang. Dan memang sepi, saya ditinggal sendiri. Dalam masa sendiri ini pula saya diminta untuk sharing tentang pentingnya komunitas/ persekutuan.&lt;br /&gt;Saya memang mengalaminya. Dua kali menghadapi penempatan kerja: Karawang dan Subang, dua-duanya saya mulai dari nol; artinya saya tidak punya teman dekat, keluarga atau sahabat yang tinggal di sana, apalagi teman persekutuan. Saya awali berelasi dengan teman-teman baru, meng-eksplor daerah baru saya ini, dan memikirkan kemungkinan-kemungkinan keseharian saya di daerah ini, termasuk wadah bertumbuh dan melayani.&lt;br /&gt;Sewaktu di Karawang (sekitar 65 km dari Jakarta), setelah saya pastikan bahwa memungkinkan bagi saya untuk tiap weekend ke Jakarta, saya pun menjalaninya. Saya terlibat pelayanan yang masih mungkin untuk saya kerjakan. Dan dari situ, saya bersama-sama dengan KTB sewaktu di kampus dulu, kembali menggerakkan KTB kami, yang anggotanya masih bekerja di sekitar Jakarta. Lebih dari 2 tahun saya menjalaninya: menjadi panitia di beberapa event besar, menjadi pelayan di beberapa acara, beberapa kampus; 2 kali pernah kecelakaan sepeda motor, setelah itu berlomba dengan waktu untuk mengejar bis atau omprengan ke Karawang, 9 bulan sempat nge-&lt;span style="font-style: italic;"&gt;kos&lt;/span&gt; sendiri di Jakarta, dan selebihnya numpang di kos teman KTB, sampai pernah ditegur bapak kos teman saya itu, karena saya keseringan numpang :) Tapi letihnya Karawang-Jakarta-Karawang tidak sebanding dengan sukacita yang saya dapatkan.&lt;span class="fullpost"&gt;Belum lagi pengorbanan tenaga, waktu, biaya dengan porsi yang lebih besar; tapi saya sukarela menjalaninya demi satu rangkai alasan: pelayanan dan persekutuan. Meski saya juga melayani di gereja di Karawang, saya tetap memperjuangkan ber-KTB di Jakarta, baik terjadwal maupun bertemu informal. Bahkan beberapa kali memperjuangkan datang PAKJ di Jumat malam meski telat, dan PAB di hari Sabtu-nya; karena 2 wadah yang baik itu, tidak saya dapatkan di Karawang. Semangat saya terbakar lagi, ketika bertemu dengan teman se-visi sewaktu di kampus dulu, gairah pelayanan saya dinyalakan setiap kali pelayanan ke kampus-kampus. Itulah yang membentengi saya saat dunia ini semakin menarik saya dalam nilai-nilainya. Saya yang butuh komunitas, bukan komunitas yang butuh saya. Karena itu saya duluan yang akan mencari komunitas, bukan sebaliknya. Di samping hal kerohanian, persekutuan juga memperkaya saya dalam bertukar pengalaman kerja dengan teman-teman. Dan bukan hanya berdampak ke dalam, dari KTB, kami mulai sedikit demi sedikit berbuat apa yang bisa kami lakukan. Kami ber-proyek memperbaiki/ merintis persekutuan di kantor masing-masing, meski tak berjalan mulus. Di kesempatan lain, sewaktu hari Valentine Pebruari 2011 yang lalu, kelompok kecil kami berkirim surat dan coklat bagi semua teman-teman dekat kami yang bekerja di Indonesia bagian timur. Kami berharap bisa ambil bagian dalam menyemangati mereka bekerja –yang jauh dari &lt;span style="font-style: italic;"&gt;homebase&lt;/span&gt;, apalagi untuk jangka waktu yang lama, kami berharap bisa mengobati sedikit dari rasa sepi mereka.&lt;br /&gt;Kita semua tahu betapa rentannya menjadi orang Kristen, sementara pada waktu yang sama terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan. Dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Tuhan menghadirkan persekutuan dan para sahabat, yang terus mendorong kita untuk maju. Yakinlah, kita tidak mungkin menjadi single fighter, kita butuh komunitas, kita butuh teman seperjuangan. Individualis adalah bunuh diri rohani. Seberapa besarpun nyala kita, layaknya bara api, bila kita meninggalkan ‘panasnya’ persekutuan, kita akan mati pelan-pelan.&lt;br /&gt;Kita dipanggil sebagai umat Tuhan yang hidup dalam persekutuan. Ini tema klasik yang sudah kita pahami betul sejak siswa, mahasiswa. Kenapa sewaktu alumni pun hal ini terus dikumandangkan? Pastilah karena alumni punya pergumulan, tantangan yang lebih spesifik, terlarut dalam sibuknya hidup, karir, studi, keluarga, rencana-rencana, mimpi-mimpi, sehingga tanpa disadari dunia ini sedang tersenyum membuka tangan lebar-lebar siap menyambut alumni yang terjauh dari persekutuan. Sewaktu siswa, mahasiswa, begitu mudahnya kita mencari wadah persekutuan, tetapi setelah alumni, dan tersebar ke seluruh penjuru nusantara, tidak semua alumni beruntung bisa menikmati persekutuan. Banyak sekali alumni yang ingin menikmati hangatnya persekutuan, tapi tak kuasa mendapatkan wadahnya karena jarak, tempat dan waktu. Tak ada persekutuan di kantornya, di kotanya; dan butuh waktu yang lama untuk merintis itu, selain doa, daya dan dana. Karena itu mari saling menopang. Dan betapa malangnya kita, ketika persekutuan masih bisa dijangkau, namun kita menyia-nyiakannya.&lt;br /&gt;Cobalah renungkan, dalam seminggu, kita jauh lebih banyak menghabiskan waktu untuk bekerja (8 jam x 5 hari), dan bergaul dengan dunia, dibanding secuil waktu untuk bersekutu dan ber-HPdT. Menakutkan, semakin banyak waktu yang kita habiskan dengan dunia, cepat atau lambat dunia akan mengikis dan mengubah prinsip-prinsip kebenaran yang kita pegang erat sewaktu mahasiswa dulu. Di persekutuan-lah kita kembali berjumpa dengan teman se-visi, dan kembali saling mengingatkan. Tidak ada orang yang terlalu kuat sehingga sanggup sendiri. Alumni butuh komunitas, bukan untuk mengasingkan diri dari dunia, tapi untuk melekatkan diri pada Allah dan mempengaruhi dunia. Persekutuan bagai oase di tengah padang gurun kehidupan yang hectic. Dalam dunia yang hectic ini, kita harus membangun kehidupan spiritualitas agar tetap peka menanggapi segala sesuatu yang kita baca, dengar, lihat, dan kerjakan dalam perspektif Ilahi. Di dalam persekutuan kita diasah terus untuk itu. Kerohanian di mana iman, pengharapan dan kasih kita lebih terpelihara (disiplin rohani: waktu teduh, doa, PA, baca dan merenungkan firman, baca buku rohani); kita lebih bertumbuh dalam karakter, kualitas, kedewasaan, wawasan, kesaksian di tempat kerja, keluarga, masyarakat; aplikasi firman lebih efektif dan bisa buat proyek nyata; mendorong dan memelihara semangat kita untuk tetap melayani sebagai alumni (di PMK, PAK, gereja, kantor, dll); bisa jadi berkat yang lebih besar (banyak hal yang hanya bisa kita lakukan sebagai persekutuan, yang tidak dapat kita lakukan seorang diri); menolong kita dalam menggumuli dan menekuni panggilan hidup yang sesuai dengan kehendak Allah; kita tidak merasa kesepian dan sendirian dalam perjuangan iman kita; kita menjadi lebih dewasa, bijak, jadi teladan, terpelihara integritas dan kekudusan hidup, mengasah ketajaman rohani, ketika suatu dosa dianggap tidak dosa lagi karena racun dunia.&lt;br /&gt;Biarlah kecintaan kita untuk bersekutu dengan saudara seiman muncul karena kesadaran, bukan keterpaksaan. Bersyukurlah untuk persekutuan yang Tuhan anugerahkan; dan setialah. Kalau mungkin, jika Tuhan beri kesempatan, berusahalah juga untuk merintis persekutuan di tempat mana Tuhan tunjukkan. Entah kita terlibat dalam Interest Group sesuai dengan profesi, wilayah kerja, atau yang lain.&lt;br /&gt;Di tahun baru ini banyak resolusi, banyak impian dan harapan. Terlalu sibuknya kita mungkin membuat ada masa-masa di mana banyak hal tidak mungkin bisa kita lakukan semuanya, sehingga mengharuskan kita menetapkan prioritas yang terpenting, dan biarlah persekutuan menjadi salah satunya.&lt;br /&gt;Saya baru saja hitungan hari bekerja di Subang. Dan kalau Tuhan belum tunjukkan komunitas untuk saya bertumbuh/ rintis/ melayani di sini, jarak sekitar 160 km ke Jakarta pun akan saya tempuh demi pelayanan, demi hangatnya persekutuan. Terima kasih buat para sahabat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;We’re not a single fighter. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Soli Deo gloria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Oleh: Kawas Rolant Tarigan - alumni STAN&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;diterbitkan di Buletin PAKJ, Januari 2012&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-5066558911897773173?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/5066558911897773173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2012/01/not-single-fighter.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5066558911897773173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5066558911897773173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2012/01/not-single-fighter.html' title='Not a Single Fighter'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4886950306394883305</id><published>2011-12-07T17:11:00.021+07:00</published><updated>2011-12-08T10:06:30.292+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Senyum dari TPT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-9P3t9HldOEM/TuAjF_LHhZI/AAAAAAAAAKg/R7OEa6h_oX8/s1600/IMG-20111207-00056.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-9P3t9HldOEM/TuAjF_LHhZI/AAAAAAAAAKg/R7OEa6h_oX8/s200/IMG-20111207-00056.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5683581315505948050" /&gt;&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;br /&gt;Pagi itu tampak seperti biasanya. Tidak ada yang berbeda. Saya berangkat ke kantor, dan bekerja seperti hari-hari biasanya. Kantor yang sama (KPP Pratama Karawang Utara), Seksi yang sama (Pelayanan) dan TPT (Tempat Pelayanan Terpadu) yang sama, tepatnya di Loket 3. Ya, sebagai &lt;i&gt;frontliner&lt;/i&gt;, banyak Wajib Pajak (WP) yang memanggil saya dengan &lt;i&gt;“Bapak Loket 3”&lt;/i&gt;. Tak apalah; saya juga senang dipanggil seperti itu, bagi saya itu suatu penghargaan dari WP yang mengkaitkan identitas saya dengan loket yang saya tanggungjawabi. TPT memang unik, berbeda dari yang lain. TPT-lah ‘wajahnya’ DJP. Pertama sekali WP menilai DJP dari pelayanannya, &lt;i&gt;ya&lt;/i&gt; di TPT itu. Bahkan ‘TPT’ sering menjadi kata ganti bagi ‘DJP’. Kalau WP merasa senang dilayani di TPT, dia akan bilang, &lt;i&gt;“DJP sekarang bagus ya...”&lt;/i&gt;, atau sebaliknya. Maka, kami petugas TPT dituntut memberikan servis terbaik dalam pelayanan prima; termasuk penampilan. Walau wajah saya &lt;i&gt;pas-pasan&lt;/i&gt;, tapi ikut dituntut untuk memaksimalkan yang &lt;i&gt;pas-pasan&lt;/i&gt; ini: rambut mengkilap, baju rapi, dan senyum simpul yang mempesona hati. Biasanya hanya bertahan sampai tengah hari (jam 12 siang), habis itu, sirnalah rambut yang mengkilap, pudarlah wajah yang merona, dan semakin sempitlah senyum yang tersimpul tadi. Semakin siang, semakin lelah, apalagi kalau tanggal-tanggal ramai, puncak pelaporan SPT Masa, berjuang untuk mengalahkan rasa lelah (dan amarah).   &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Siang itupun tiba. Saya memanggil antrian selanjutnya, dan datanglah seorang Bapak berwajah sangar yang tak asing lagi bagi saya. Dia memang sering datang, dengan SPT-nya yang banyak, dengan CV-nya yang banyak, dan NIHIL semua. Kami sering membahasakannya dengan “CV. NIHIL JAYA” untuk SPT yang dibawa para calo&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; –SPT &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;yang tak pernah &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;berisi angka&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; di kolomnya selain &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;tulisan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;“NIHIL”. Sedihnya, kebanyakan WP jenis ini adalah rekanan Pemda. Sudah lama saya berpikir, bagaimana cara terbaik untuk menghentikan (paling tidak, memperlambat) gerak komunitas calo ini. Ternyata ini terjadi hampir di semua KPP, namun belum ada solusi&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; terbaik&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. Saya melihat titik terang di pasal &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;4 ayat (3) dan pasal 32 &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;UU KUP, bahwa &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;pemenuhan kewajiban perpajakan (mengisi, menandatangani, termasuk &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;pelaporan SPT&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;)&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; yang dilakukan bukan oleh pengurus WP yang bersangkutan, harus menggunakan Surat Kuasa Khusus. &lt;i&gt;Nah&lt;/i&gt;, saya punya celah, dan akan saya lakukan untuk Bapak yang berwajah preman ini. Dia datang ke Loket 3, singgasana saya, memberikan SPT yang banyak. Saya membuka pembicaraan, &lt;i&gt;“Pak, untuk pelaporan SPT yang bukan punya Bapak, atau dititip, Bapak harus buat Surat Kuasa”&lt;/i&gt;. Nadanya langsung tinggi, &lt;i&gt;“Ah, jangan mempersulit, kemarin-kemarin bisa kok, di kantor lain masih bisa kok”&lt;/i&gt;. Aduh, 2 frase jitu ini yang paling sering digunakan WP sebagai senjata: &lt;i&gt;“kemarin-kemarin bisa kok”&lt;/i&gt; (padahal yang &lt;i&gt;“kemarin-kemarin bisa”&lt;/i&gt; itu seringkali karena belas kasihan dari petugas TPT agar WP bisa melapor hari itu&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; juga&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;), dan frase kedua: &lt;i&gt;“di kantor lain bisa kok”&lt;/i&gt; (karena memang banyak sekali masalah teori dan teknis yang KPP-KPP belum satu suara). Saya cuma bisa membalas, &lt;i&gt;“Peraturan ini kita terapkan berdasarkan Undang-Undang, Pak. Bapak silahkan baca ketentuannya (KUP), atau berkonsultasi dengan AR Bapak”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;“Ah, kamu jangan mengada-ada”&lt;/i&gt;, sambarnya. &lt;i&gt;“Udah terima aja. Jangan mempersulit”&lt;/i&gt;. Saya tetap bertahan, &lt;i&gt;“Gak bisa, Pak. Ini sudah peraturan. Dan ini juga untuk tertib administrasi, supaya WP yang bersangkutan sebisa mungkin melaporkan sendiri SPT-nya, tidak melalui perantara&lt;/i&gt; (perantara?? dalam hati pengen bilang ‘calo’, khususnya bagi k&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;omplotan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;CV.NIHIL JAYA). &lt;i&gt;Maaf, Pak, SPT-nya gak bisa saya terima”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;“Kamu mau melawan saya?”&lt;/i&gt;, tantangnya. &lt;i&gt;Gubraakk !!&lt;/i&gt; Dia sambil memukul meja. &lt;i&gt;“Kamu masih muda gak usah cari masalah. Kamu orang mana kamu? Kamu orang &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;mana&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;? Pendatang kamu kan? Saya orang asli ini. Hati-hati kamu”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. Dia teriak di TPT kami yang kecil. WP yang banyak hanya menonton diam. Teman-teman di loket lain, masih menjaga loketnya masing-masing. &lt;i&gt;“Orang mana kamu?”&lt;/i&gt;. Saya mulai gentar, tapi entah dari mana datang keberanian ini, &lt;i&gt;“Saya orang Medan, Pak. Saya memang pendatang di sini, tapi saya melaksanakan tugas”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;“Oh... orang Medan. &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;Orang j&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;auh ternyata... Hati-hati kamu ya.. Awas kamu, berani sama saya”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, ancamnya sambil merapikan berkas SPT-nya. Keras kepala saya muncul saat itu, mungkin karena terbawa emosi, saya masih saja meladeni kalimatnya, &lt;i&gt;“Iya, Pak. Saya hati-hati, Terima kasih”&lt;/i&gt;. Tampaknya dia semakin panas, dan terus memelototi saya, sambil berjalan sampai di pintu keluar. TPT rasanya senyap sekali sesaat setelah kejadian itu. Jantung saya berdebar, keringat mengucur, jujur saja, saya &lt;i&gt;shock&lt;/i&gt;, saya pergi ke toilet, cuci muka, menenangkan diri. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;I&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;tu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;terjadi saat saya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;baru beberapa bulan ditempatkan di Karawang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Sebagai anak kampung, memang muncul ketakutan saya saat itu, walau berusaha kelihatan tegar. Hampir 2 minggu saya tidak percaya diri untuk berpergian sendiri, untuk makan, belanja, jalan, di parkiran. Saya gelisah, takut kenapa-kenapa. Saya berpikir, &lt;i&gt;“masih baru &lt;/i&gt;banget&lt;i&gt; saya ditempatkan di sini...masih sangat panjang waktu ke depan yang harus saya jalani untuk bekerja di sini&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; menunggu dimutasi. Kalau saya dikalahkan oleh rasa takut ini, berapa tahun lagi saya harus bekerja dalam tekanan dan penderitaan? Saya harus bangkit, berani. Tuhan pasti menjaga. Saya memang pendatang di sini, bahkan di dunia ini. Ini hanya sementara, jangan takut”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;&lt;br /&gt;Sekarang… dua tahun telah berlalu setelah kejadian itu. Ternyata sampai detik ini saya aman-aman saja. Justru setelah saat itu, saya tidak pernah bertemu Bapak itu lagi, bahkan wajahnya pun sirna dari ingatan saya, &lt;i&gt;saking&lt;/i&gt; lamanya tidak bertemu. Saya masih sehat sentosa sampai sekarang, bahkan menulis berbagi kisah ini bagi Anda. Masih di seksi yang sama, dan loket 3 yang setia. Saya menikmati pekerjaan ini. Memang, sempat dalam masa-masa kalut itu, saya hampir saja terjebak untuk menyerah, &lt;i&gt;“ngapain nyusahin diri sendiri? Rela capek untuk kantor/ negara? Negara aja gak menjamin nyawamu. Ngapain kau mau kerja keras di TPT: lebih capek, waktu istirahatnya ketat, gak boleh ijin, harus &lt;/i&gt;standby&lt;i&gt;, loket gak boleh kosong, setiap hari berhadapan dengan orang banyak, ditanya ini itu harus jawab, belum lagi pekerjaan &lt;/i&gt;back office&lt;i&gt; yang harus dikerjakan sebagian. Capek! Bandingkan dengan seksi lain: &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;lebih &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;enak, berhadapan dengan berkas dan komputer yang gak bisa marah, lebih fleksibel kalau mau keluar, ijin, pakai sandal, ketawa ketiwi, main game, internetan, gak perlu rambut mengkilap dan senyum lebar sepanjang hari. Gajimu sama (bahkan lebih rendah), grademu lebih rendah (lagi!), dan kau rela mengorbankan kenyamananmu untuk itu? Untuk apa?”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. Untunglah bisikan iblis ini tak meraja di hati. Bersyukur di dalam doa dan persekutuan dengan para sahabat setia, saya dikuatkan: &lt;i&gt;“betapa bodohnya aku kalau kerjaku hanya diukur dari uang, penghargaan, dan hal-hal sementara lainnya, yang sekarang ada dan besok tiada. Bukankah semua ini aku lakukan dengan tulus sebagai ibadah yang nilainya kekal dan tidak bisa diukur secara materi? Rasa syukur dan ikhlas karena pekerjaan ini melebihi segalanya”&lt;/i&gt;. Saya hampir terjebak dalam &lt;i&gt;self pity&lt;/i&gt;: ‘kasihan sekali saya’. Tapi saya makin belajar bahwa, orang yang kasihan bukanlah orang yang dipusingkan oleh pekerjaannya. Orang yang patut dikasihani justru adalah mereka yang beranjak bangun dari tempat tidurnya di pagi hari, minum kopi atau teh, berjuang melawan kepadatan lalu lintas untuk pergi ke tempat kerja yang sama, makan siang di tempat yang sama, pulang ke rumah pada jam yang sama, menonton &lt;i&gt;tv&lt;/i&gt;, dan kemudian tidur lagi, besok kerja lagi, sampai pensiun, dan mati tanpa berkarya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Orang jarang putus asa di bawah tekanan pekerjaan. Mereka justru putus asa karena tidak memiliki aktivitas yang bermakna. Tantangan terbesar dalam hidup bukan ketika Anda bekerja keras. Tantangan itu justru terjadi ketika Anda tidak mempunyai pekerjaan sama sekali untuk dikerjakan. &lt;i&gt;Wah&lt;/i&gt;, betapa beruntungnya kita teman-teman... wahai kita yang berkarya dan bekerja keras bagi bangsa ini, dalam setiap hal-hal sederhana yang kita lakukan, tapi bermakna. Pikiran ini sering sekali saya munculkan dalam pikiran saya setiap kali rasa jenuh mulai hinggap: “&lt;i&gt;Betapa mulianya pekerjaan ini. Dari lembar demi lembar laporan dan SSP yang saya terima, dari jumlah yang kecil hingga terbesar, di suatu tempat di luar sana, ada anak yang dibiayai sekolahnya dari uang pajak, ada guru yang di usia tuanya masih mendapat gaji untuk menghidupi keluarganya, ada petani yang terbantu usahanya, ada jalan yang diperbaiki, ada bapak yang masih bisa mengumpulkan beras untuk besok pagi&lt;/i&gt;...”, meskipun saya tidak bisa melihat langsung impian ini semua, tapi saya sungguh sadar, bekerja di DJP ini adalah satu anugerah, bukan untuk disesali, tapi disyukuri. Saya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;juga &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;sadar, peran saya masih sangat amat teramat &lt;i&gt;keciiiiiiillll&lt;/i&gt; sekali bagi bangsa ini, tapi saya bersyukur untuk itu. Kalau kita masih bekerja &lt;i&gt;ogah&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;ogahan&lt;/i&gt;, betapa tak tahu bersyukurnya kita, banyak orang yang ingin namun tidak seberuntung kita untuk dapat bekerja di instansi ini, mungkin termasuk di antara mereka yang sering mencaci maki instansi ini (jangan-jangan mereka sebenarnya ingin juga bekerja di DJP). Setialah mengerjakan hal-hal kecil, siapa tahu itu bisa berdampak besar. Mungkin kita hanya bertanggungjawab untuk sebuah tugas dan pelayanan kecil, mungkin menurut orang lain tanggung jawab ini tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan tanggung jawab besar lainnya. Namun janganlah kita sampai kehilangan inti dari apa yang kita kerjakan. Dalam tugas-tugas yang terkecil sekalipun, kita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ada prinsip dasar yang harus dipegang, yaitu kita sedang menyampaikan sesuatu kebenaran, integritas yang sesungguhnya justru dibuktikan bagaimana kita setia dalam perkara yang kecil. Dalam keseharian, sebetulnya kita sedang diamati, bagaimana cara kita menangani tugas-tugas kecil dan menjengkelkan, bagaimana cara kita merespon orang-orang yang sulit ditangani, bagaimana cara kita berkomunikasi, bagaimana cara kita merespon di saat sedang lelah; dalam semua ini kita menunjukkan jati diri kita yang sesungguhnya. Terlalu sedih rasanya jika memikirkan kegagalan-kegagalan kita. Terlalu naif pula kalau kita menganggap diri sempurna. Kita semua tahu betapa rentannya kita untuk terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan, dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Tuhan menghadirkan keluarga dan para sahabat, yang terus mendorong kita untuk maju. Yakinlah, kita tidak mungkin menjadi &lt;i&gt;single fighter&lt;/i&gt;, kita butuh komunitas, kita butuh teman seperjuangan. Sadar akan hal ini, saya teringat sewaktu hari &lt;i&gt;Valentine&lt;/i&gt; Pebruari yang lalu, saya dan para sahabat kampus dulu yang bekerja di Jakarta, Kementerian Keuangan, melakukan suatu hal yang menarik, kelompok kecil kami berkirim surat dan coklat bagi semua teman-teman dekat kami yang bekerja di Indonesia bagian timur. Kami berharap bisa ambil bagian dalam menyemangati mereka bekerja –yang jauh dari &lt;i&gt;homebase&lt;/i&gt;, apalagi untuk jangka waktu yang lama. Saya tahu benar, saya tidak berjuang sendiri. Ada banyak orang, yang mengalami kisah (bahkan lebih berat) demi integritasnya bagi bangsa ini. Mungkin Anda. Ketika Anda membaca ini, Anda pun adalah teman seperjuangan, asalkan kita punya visi yang sama bagi kemajuan bangsa ini. Tidak usah terlalu berharap juga, kalau kita bekerja keras dan jujur, maka akan disukai semua orang. Ini sudah hukumnya: orang jahat tidak suka kalau orang baik bertambah banyak&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;’&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. Justru ada suatu anomali kalau kita disukai semua orang. Kemalasan dan ketidakjujuran belum menjadi musuh semua orang, masih ada yang senang memeliharanya. Jadi jangan surut karena ‘ketidaksenangan’ oknum tertentu. Senangkanlah sebanyak mungkin orang, tapi tidak mungkin semua orang. Paling tidak, DJP ini lebih baik sewaktu kita tinggalkan nantinya, dibanding sewaktu dulu kita memasukinya; bahkan dunia ini menjadi lebih baik sewaktu &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;suatu saat nanti &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;kita meninggalkannya. Ini pertanggungjawaban kita di akhirat. Karena itu setialah.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;Itu sedikit &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;cerita dari banyaknya kisah yang&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; saya &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;dapati &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;di dunia &lt;i&gt;per&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;TPT&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;an&lt;/i&gt; yang kaya ini. Masih banyak hal yang tak tertuliskan di sini. Bagaimana saya mengurusi NPWP para Pensiunan yang tak bisa berbahasa Indonesia. Saya yang punya lidah Batak harus belajar bahasa Sunda halus, &lt;i&gt;“&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;i&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;e&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;u, Pak punteun&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt; NPWP-na, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;hatur &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;nuhun atos &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;" &gt;ngadameul &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;NPWP”&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;. Bagaimana saya menolak amplop dari WP, mulai dari yang tipis sampai (sepertinya) agak tebal&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; mulai dari yang berpakaian dinas, sipil, aparat, sampai bercelana pendek&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt; mulai dari WP yang punya bengkel sampai pabrik baja. Bagaimana suka duka mengurus SPMKP, SPMIB ke KPPN. Bagaimana nama panggilan saya kadang berganti jadi ‘Gayus’ kalau berkumpul dengan saudara dan teman lama dulu: &lt;i&gt;“Woi gayus.”, “Wess.... si gayus datang”&lt;/i&gt;. Padahal saya lebih senang dipanggil, &lt;i&gt;“Eh, Bapak loket 3”. “Mau ketemu siapa neng?”, “itu... ehm... Bapak loket 3”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Hehehe&lt;/i&gt;. Tak apalah nama saya dilupakan oleh manusia, asal jangan oleh Sang Pencipta. Saya juga tak bisa lupa bagaimana akhirnya WP berkata di loket 3, &lt;i&gt;“Sekarang kantor pajak udah beda ya pak..”, “Saya senang lho kalo ke kantor ini..”&lt;/i&gt;. &lt;i&gt;Wah&lt;/i&gt;, itu sangat menghibur saya. (cerita-cerita ini &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;akan &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;saya ceritakan kalau ada sesi berikutnya. &lt;i&gt;Hehe&lt;/i&gt;). Saya bersyukur sekali, di usia yang masih muda, masa kerja yang masih hijau dibandingkan para tetua di DJP, saya diijinkan untuk mencicipi pengalaman ini dari awal.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;O iya&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;, &lt;i&gt;ngomong&lt;/i&gt;-&lt;i&gt;ngomong&lt;/i&gt; tentang tersenyum di TPT, jadinya saya belajar bagaimana cara tetap tersenyum, meski lelah, meski hati saya sedang dirundung badai. Kadang saya cukup memejamkan mata, mengingat berkah Sang Khalik dan bersyukur&lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt;… &lt;/span&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;tak terasa bibir saya sudah melengkungkan senyuman. Hidup tak selamanya seindah kebun bunga, akan datang saat-saat badai datang untuk menguji ketangguhan kita, dalam pekerjaan, dalam keluarga. Jadi, keputusannya ada di kita, bagaimana tetap tersenyum di tengah badai... bila topan k’ras melanda hidupmu. Walaupun tidak harus belajar di TPT, tapi bisa belajar banyak dari TPT, pelajaran berharga dari TPT. &lt;i&gt;Ah&lt;/i&gt;... saya ingin memejamkan mata dulu... mumpung sedang tidak di TPT.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  lang="IN" &gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:100%;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal;" align="right"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;"  lang="IN"&gt;*tulisan ini adalah naskah asli dari artikel (yang telah di-edit) dengan judul "Bapak Loket 3", yang telah diterbitkan di Buku Berkah (Berbagi Kisah dan Harapan) 2, Berjuang di tengah badai ; oleh Direktorat Jenderal Pajak (DJP) di Hari Anti Korupsi Sedunia. 06122011.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; line-height: normal;"&gt;&lt;span style=";font-family:&amp;quot;;font-size:12pt;"  &gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4886950306394883305?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4886950306394883305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/12/senyum-dari-tpt.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4886950306394883305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4886950306394883305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/12/senyum-dari-tpt.html' title='Senyum dari TPT'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-9P3t9HldOEM/TuAjF_LHhZI/AAAAAAAAAKg/R7OEa6h_oX8/s72-c/IMG-20111207-00056.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-2169231347460430518</id><published>2011-10-11T10:10:00.003+07:00</published><updated>2011-10-11T10:19:59.477+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>There's no plan B!</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;There's no plan B !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-Memikirkan kembali Pemuridan di Kampus-&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita tahu anekdot &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“There is no plan B!”&lt;/span&gt;. Setelah Yesus naik ke surga, strategi apa yang dilakukan-Nya agar seluruh dunia percaya bahwa Dia adalah Tuhan dan Juruselamat? Dia pakai murid-murid-Nya, untuk bersaksi, untuk memberitakan. Itu &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plan A&lt;/span&gt;. Bagaimana kalau plan A gagal? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“There is no plan B!”&lt;/span&gt;. Yesus mengutus murid-murid-Nya dari generasi ke generasi untuk turut mengerjakan misi Allah di dunia. Amanat ini sampai kepada kita sekarang ini: Apakah PMK tetap menghasilkan murid-murid Kristus, yang memper-Tuhan-kan Kristus dalam setiap aspek hidupnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenapa murid?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Istilah murid adalah sebutan umum (secara khusus dalam Perjanjian Baru) untuk menunjuk kepada para pengikut Kristus sebelum mereka disebut Kristen. Istilah Kristen sendiri baru muncul beberapa tahun kemudian di jemaat Antiokhia untuk mengindikasikan “identitas” mereka di tengah komunitas internasional di tempat itu. Bahkan John Stott dalam bukunya “Murid yang Radikal” memberi catatan: “merupakan hal yang mengejutkan bagi banyak orang tatkala menemukan hanya 3 kali dalam PB para pengikut Yesus Kristus disebut ‘Kristen’: Kis 11:26; Kis 26:28; 1Pet 4:16... Mungkin kata ‘murid’ adalah istilah yang lebih kuat (daripada ‘Kristen’) sebab ia menyatakan hubungan murid dengan Gurunya. Selama tiga tahun dalam pelayanan publik-Nya, kedua belas orang yang dipilih Yesus adalah murid sebelum mereka menjadi rasul, dan sebagai murid, mereka ada di bawah instruksi Guru dan Tuhan mereka”. Istilah ‘murid’ (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;disciple-Ing, mathetes-Yun&lt;/span&gt;) muncul: 73 kali dalam Injil Matius, 46 kali di Injil Markus, 37 kali di Injil Lukas, 78 kali di Injil Yohanes, 28 kali di Kisah Para Rasul. Istilah ini terus digunakan agar orang Kristen punya kesadaran diri secara serius dan bertanggung jawab di bawah ‘disiplin’ Sang Guru. Sekarang ini begitu gampangnya orang mengaku ‘Kristen’, padahal belum tentu dia adalah murid.&lt;br /&gt;Kalaulah kita membagi ‘kelompok’ orang yang ada di sekitar Yesus, secara sederhana kita bisa membaginya menjadi: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelompok I&lt;/span&gt;: kerumunan orang banyak, yang hanya sebatas pendengar, banyak mencari tahu tapi tanpa komitmen; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelompok II&lt;/span&gt;: orang Farisi, yang tahu banyak firman tapi tidak melakukan bahkan menentang; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kelompok III&lt;/span&gt;: para murid, yang bukan sekedar tahu firman, tapi melakukan, mentaati dan menghidupi. Akhirnya yang membedakan ketiga kelompok orang ini bukan knowing, tapi doing. Ini adalah hal yang sangat penting dalam proses pemuridan. Bahkan penekanan ini kembali dinyatakan saat para rasul diamanatkan untuk memuridkan kembali (Mat 28.20a: ajarlah mereka &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;melakukan&lt;/span&gt;). Nah, pertanyaannya: kelompok mana yang sedang dihasilkan PMK saat ini?? Jangan bangga dulu ketika ada ‘kerumunan orang banyak’ yang ikut retreat, memenuhi ruang kebaktian, atau sekian banyak orang yang khatam ayat Alkitab namun gagal menjadi teladan? Berapa murid yang kita hasilkan melalui pelayanan PMK? Siapa tak meratap melihat begitu banyaknya alumni PMK yang berubah setia dari Tuhan? Alumni yang jauh dari hidup persekutuan dengan Tuhan padahal dulu begitu aktif di PMK? Jangan-jangan, PMK sibuk melakukan banyak kegiatan namun tidak dalam rangka menghasilkan murid. Takutnya, PMK hanya menghasilkan ‘kerumunan orang banyak’ atau ‘farisi-farisi baru’, tanpa karakter seorang murid sejati: berakar kuat, dan menyaksikan Kristus dalam hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Murid itu dihasilkan, bukan dilahirkan. Dalam proses inilah pemuridan menjadi sangat penting. Pemuridan bukanlah sesuatu pekerjaan yang boleh dilakukan saat kita punya waktu. Sebaliknya, pemuridan menjadi satu-satunya hal yang sangat penting yang harus kita kerjakan. Pemuridan adalah proses menolong seseorang mengikut Kristus dengan sepenuh hidupnya. Di dalam pemuridan terjadi pembaharuan total seseorang dalam &lt;span style="font-style: italic;"&gt;values&lt;/span&gt; (nilai-nilai hidup), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;attitude&lt;/span&gt; (sikap &amp;amp; karakter), &lt;span style="font-style: italic;"&gt;behaviour&lt;/span&gt; (kelakuan sehari-hari). Sebagaimana artinya, murid senantiasa belajar, dan hal ini terlihat dari pertumbuhan yang nyata, semakin serupa dengan Kristus melalui firman, komunitas orang percaya dan waktu-waktu pribadi/ pengalaman-pengalaman iman bersama dengan Tuhan.&lt;br /&gt;Sesungguhnya, esensi Amanat Agung Tuhan Yesus di Matius 28:19-20 adalah PEMURIDAN. Dalam bahasa asli (Yunani), hanya ada satu kata perintah: “muridkanlah” (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;matheteusate&lt;/span&gt;). Itulah yang menjadi fokus pelayanan Tuhan Yesus selama kurang lebih tiga setengah tahun, yang harusnya juga menjadi fokus PMK. PMK punya visi: menghasilkan alumni yang dewasa, berakar kuat, dan menjalankan fungsinya sebagai garam dan terang dalam panggilannya. Itulah murid. Itu visi yang kita kerjakan, supaya tidak sebatas mimpi. Misi 4P yang kita lakukan itu: Penginjilan, Pembinaan, Pelipatgandaan, Pengutusan, baik pelayanan secara pribadi, kelompok, ataupun persekutuan besar, semuanya dalam proses pemuridan: menghasilkan murid sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bukan Pekerjaan Mudah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pemuridan bukan proses yang instant dan gampang. Lihat saja beberapa daftar masalah yang umum terjadi di PMK perihal pemuridan: terlalu banyak program (bagi PMK berkembang), atau malah bingung harus mulai dari mana (bagi PMK baru), regenerasi yang bermasalah dalam kualitas dan kuantitas, kegiatan-kegiatan kampus di luar PMK yang lebih menarik mahasiswa, kuliah makin padat, mahal dan cepat, banyak isme-isme yang mempengaruhi mahasiswa (materialisme, hedonisme, dll), lembaga dan gereja yang mengancam visi, misi dan keunikan PMK, Kelompok Kecil (KK) yang tidak diperjuangkan sungguh-sungguh, KK hanya dianggap sebagai salah satu dari sekian banyak program/ kegiatan yang dilakukan oleh PMK. KK belum menjadi tulang punggung PMK, semakin banyak PMK yang terlena menggantikan peran KK dengan program ‘shortcut’, misalnya pembinaan/ training seringkali mengambil alih tanggung jawab PKK dalam mempersiapkan AKK menjadi PKK (melatih AKK untuk bisa PA, memimpin, dll). KK yang berjalan pun seperti kursus bahan –bab demi bab, PA bukan lagi yang terutama dalam KK, diperparah dengan evaluasi HPDT yang tumpul, dan proyek ketaatan yang suam-suam kuku. Deretan masalah ini semakin panjang kalau ditambah lagi masalah pribadi: masalah keluarga, keuangan, prestasi.&lt;br /&gt;Banyak hal yang sepertinya gampang sekali membuat kita putus asa untuk setia mengerjakan pemuridan ini. Namun ada 2 hal yang perlu diingat: pertama, masalah pemuridan kita sekarang ini tidaklah lebih sulit dari zaman para rasul dahulu, maka jangan lemah; kedua, pemuridan adalah inisiatif dan karya Allah, karena itu Allah akan terus bekerja dengan cara-Nya yang ajaib untuk memelihara umat-Nya. Pemuridan ini ide-Nya Allah, IA akan bekerja dengan waktu-Nya dan kemampuan-Nya.&lt;br /&gt;Ada beberapa catatan yang bisa kita pikirkan ulang dalam menghadapi berbagai masalah di atas, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Realitas sistem perkuliahan yang semakin cepat, padat, dan mahal bukan merupakan ancaman, tapi tantangan bagi pelayanan mahasiswa: Bagaimana pelayanan pemuridan dapat tetap terselenggara dengan baik, sementara kesempatan yang tersedia begitu terbatas? Jawabannya, fokus pada satu-dua aktivitas yang paling penting demi amanat pemuridan tetap terselenggara di kampus! &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Too many focus means no focus&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kerjakan KK dengan baik, karena KK merupakan sarana yang efektif dalam proses pemuridan dan berperan sebagai tulang punggung PMK.&lt;br /&gt;• Pikirkan lagi sungguh-sungguh regenerasi PKK. Di akhir pelayanan Yesus, tugas memuridkan kembali hanya dipercayakan kepada mereka yang setia, yang secara intensif dan utuh menikmati pengajaran dan hidup-Nya, yaitu Petrus, dkk.&lt;br /&gt;• Hasilkan waktu-waktu yang berkualitas (formal dan informal) sesama anggota KK di sela waktu yang ada. Semakin banyak intensitas waktu bersama, semakin besar pula dampak dan pengaruhnya. Jumlah AKK yang tidak terlalu banyak akan memungkinkan PKK untuk menyisihkan waktu secara optimal untuk menuntun tiap-tiap AKK. KK harusnya menarik! Kalau tidak menarik, berarti ada yang salah!&lt;br /&gt;• Tanamkan dasar yang kokoh: relasi dengan Tuhan dalam doa, saat teduh, belajar Alkitab, persekutuan. Jaga pengajaran yang benar dan sehat; dorong dan buat kesepakatan dalam KK untuk belajar sama-sama menggali dan mengaplikasikan Firman. Adanya teman-teman KK akan sangat membantu masing-masing anggota untuk saling menguatkan dan bertumbuh. Di dalam KK, pembelajaran hidup menerapkan perintah Tuhan dilakukan bersama-sama: saling sharing, diskusi, dan belajar artinya hidup dengan saudara seiman (bersekutu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Mutlak diperlukan orang-orang yang menjadi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;teladan&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;pendoa&lt;/span&gt;. Sebagaimana Yesus menjadi teladan hidup bagi para muridNya, seperti itu juga AKK belajar banyak dari teladan hidup PKK, atau jemaat meneladani pengurus. Mereka tidak hanya belajar ilmu saja (doktrin, PA, iman Kristen), tapi juga bagaimana PKK menghidupi imannya tersebut. Dan jangan pernah lupa menjaga kehidupan doa yang baik, untuk terus memohon pertolongan Roh Kudus bekerja dalam pemuridan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sungguh bersyukur, Tuhan mengajak PMK terlibat dalam rencana agung Allah. IA sudah bekerja tanpa kita dan sebelum bertemu dengan kita; pekerjaan Allah tidak tergantung pada kemampuan kita, tetapi dalam kemurahan-Nya Ia mengijinkan kita berpartisipasi dalam pekerjaan-Nya. Beberapa hasil/ buah pemuridan ada yang cepat, beberapa lainnya perlu bertahun-tahun. Hasil/ buah pertumbuhan adalah pekerjaan Allah, bukan kita. Mungkin kita tidak punya kesempatan melihat buah dari pelayanan kita. Namun kadang Tuhan mengizinkan kita melihatnya untuk meneguhkan apa yang kita kerjakan. Yang pasti, Allah-lah yang bekerja dalam setiap pribadi. Kita sudah menyaksikan bagaimana Allah menghasilkan orang-orang-Nya dari zaman Alkitab sampai kepada murid-murid Tuhan yang setia di zaman kita –yang bisa kita saksikan sendiri hidupnya saat ini. Bayangkan betapa kuatnya alumni yang dihasilkan dari PMK yang pemuridan-nya kuat. Bangsa ini punya harapan. Tuhan sudah bekerja dalam sejarah dan akan terus bekerja. Selamat memuridkan. Jangan sampai Yesus menegur lagi seperti di Luk 6:46 &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Mengapa kamu berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, padahal kamu tidak melakukan apa yang Aku katakan?”&lt;/span&gt;. Kalaupun ada PMK yang “umur”nya hanya satu hari, maka yang harus dikerjakannya dalam waktu yang ada itu adalah pemuridan; bukan yang lain. &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;There is no plan B !!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"  style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kawas Rolant Tarigan –Alumnus STAN, sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;*diterbitkan di Buletin NEHEMIA edisi Oktober 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-2169231347460430518?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/2169231347460430518/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/10/theres-no-plan-b.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2169231347460430518'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2169231347460430518'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/10/theres-no-plan-b.html' title='There&apos;s no plan B!'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6923645689674896509</id><published>2011-07-18T10:52:00.007+07:00</published><updated>2011-07-18T12:36:50.959+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>16 Juli 2011</title><content type='html'>&lt;xml&gt;&lt;w:worddocument&gt;&lt;w:trackmoves&gt;&lt;w:trackformatting&gt;&lt;w:punctuationkerning&gt;&lt;w:validateagainstschemas&gt;&lt;w:donotpromoteqf&gt;&lt;w:compatibility&gt;&lt;w:breakwrappedtables&gt;&lt;w:snaptogridincell&gt;&lt;w:wraptextwithpunct&gt;&lt;w:useasianbreakrules&gt;&lt;w:dontgrowautofit&gt;&lt;w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;w:word11kerningpairs&gt;&lt;w:browserlevel&gt;&lt;/w:browserlevel&gt;&lt;m:mathpr&gt;&lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;&lt;m:brkbin val="before"&gt;&lt;m:brkbinsub val=""&gt;&lt;m:smallfrac val="off"&gt;&lt;m:dispdef&gt;&lt;m:lmargin val="0"&gt;&lt;m:rmargin val="0"&gt;&lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;&lt;m:wrapindent val="1440"&gt;&lt;m:intlim val="subSup"&gt;&lt;m:narylim val="undOvr"&gt;&lt;/m:narylim&gt;&lt;/m:intlim&gt;&lt;/m:wrapindent&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:lsdexception&gt; &lt;/w:lsdexception&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;!----&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;  mso-para-margin-top:0cm;  mso-para-margin-right:0cm;  mso-para-margin-bottom:10.0pt;  mso-para-margin-left:0cm;  line-height:115%;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;} &lt;/style&gt; &lt;!--[endif]--&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;Sore itu, gerimis, di kereta api Depok…&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;Teringatku pada hatimu. Kiranya Tuhan menganugerahkan cinta yang besar kepadaku; jauh lebih besar daripada kelemahanmu.. sehingga bila kelemahanmu tampak olehku, aku masih sanggup mencintaimu, bahkan belajar mencintai kekuranganmu.. Ehm... Aku pun banyak kelemahan, bahkan tak mungkin setia tanpa dirimu, tapi.. tapi.. aku ingin selalu mencintaimu sampai masa yang tak kutahu..&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;Waktu akan berlalu, kecantikan pun akan berlalu, doaku semoga bisa mencintaimu selalu..&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;Kasihmu,&lt;/p&gt;&lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;Kawas.   &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p style="font-style: italic;" class="MsoNoSpacing"&gt;yang –udah gendut –gak wangi –rambutnya gak bersinar –gak pake baju bodyfit –gaya kebapakan –kadang kumisan –pokoknya gak gaul kayak cowok2 di XXI theater.&lt;/p&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:lsdexception&gt;&lt;/w:latentstyles&gt;&lt;/xml&gt;&lt;/m:defjc&gt;&lt;/m:rmargin&gt;&lt;/m:lmargin&gt;&lt;/m:dispdef&gt;&lt;/m:smallfrac&gt;&lt;/m:brkbinsub&gt;&lt;/m:brkbin&gt;&lt;/m:mathfont&gt;&lt;/m:mathpr&gt;&lt;/w:word11kerningpairs&gt;&lt;/w:dontvertalignintxbx&gt;&lt;/w:dontbreakconstrainedforcedtables&gt;&lt;/w:dontvertaligncellwithsp&gt;&lt;/w:splitpgbreakandparamark&gt;&lt;/w:dontgrowautofit&gt;&lt;/w:useasianbreakrules&gt;&lt;/w:wraptextwithpunct&gt;&lt;/w:snaptogridincell&gt;&lt;/w:breakwrappedtables&gt;&lt;/w:compatibility&gt;&lt;/w:donotpromoteqf&gt;&lt;/w:validateagainstschemas&gt;&lt;/w:punctuationkerning&gt;&lt;/w:trackformatting&gt;&lt;/w:trackmoves&gt;&lt;/w:worddocument&gt;&lt;/xml&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6923645689674896509?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6923645689674896509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/07/16-juli-2011.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6923645689674896509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6923645689674896509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/07/16-juli-2011.html' title='16 Juli 2011'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-7655883976232613575</id><published>2011-07-08T21:54:00.006+07:00</published><updated>2011-07-08T22:00:25.261+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>8-10 Juli 2011</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-g7psiykMCTM/Thca83qP_PI/AAAAAAAAAKA/ThhCbXF5NM0/s1600/fb64.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-g7psiykMCTM/Thca83qP_PI/AAAAAAAAAKA/ThhCbXF5NM0/s200/fb64.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5626995892458355954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Malam ini saya akan berangkat ke Rembang, Jawa Tengah. Saya tidak sendiri, tapi bersama dengan teman-teman yang lain, satu angkatan, satu kampus, satu persekutuan, satu mobil carteran [khusus 3 hari ke depan] :) Beberapa dari kami yang di sekitar Jakarta, masih tergabung dalam satu KTB, dan beberapa teman yang lain, rela datang jauh-jauh dari Sulawesi demi satu perhelatan ini: pernikahan sahabat kami: Kristyanu Widyanto (Anu) dengan kekasihnya Eliani Angga Safitri (Angga). Dua-duanya teman terbaik kami, dan akhirnya mereka berdualah yang perdana dari kami untuk berani melangkah ke babak baru hidup ini: berkeluarga, menikah, berumah tangga, membentuk satu ikatan yang kudus, menjalani mandat dari Tuhan: menyatukan seorang laki-laki dengan seorang perempuan, beranak cucu dan bertambah banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pribadi punya pengalaman sendiri dengan dua teman terbaik saya ini: Anu dan Angga.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Anu, partner pertama saya sebagai gitaris di PMK STAN, di retreat pula lagi, masih mahasiswa baru. Kami berkenalan. Saya berulang kali menanyakan namanya untuk mengingat dan memastikan: Kristyanu. Siapa? Kristyanu. Panggilannya? Anu. Siapa? Anu. Hahaha... Bagi saya nama ini aneh, tapi unik. Gantian dia melakukan hal yang sama pada saya. Nama lu siapa? Kawas. Siapa? Kawas. K.A.W.A.S. Kok aneh? Tanyanya... hahaha... Itulah awal perkenalan kami, nama kami sama-sama berawal dari huruf K, dan saling merasa aneh. Orang ini hatinya rendah (rendah hati), tapi skillnya tinggi. Permainan gitarnya keren, dan saya tahu bahwa ke depan dia akan jadi pemusik yang kelasnya bukan kampus lagi (terbukti sekarang). Kerendahan hatinya nampak sejak pertemuan kami pertama itu, ketika selesai latihan, dia menawarkan tumpangan untuk mengantarkan saya pulang ke kos, naik motornya (yang lambat laun terkenal sebagai motor berisik seantero STAN..haha), bahkan setelah mengantar, dia menanyakan lagi: besok latihan mau gw jemput gak? Itulah Anu, sekali menolong, pasti menawarkan pertolongan selanjutnya; sampai kita yang minta tolong jadi gak enak hati, walau kepingin :) Sampai di Makrab tingkat 1, saat dia membawahi bidang musik, saya ditunjuknya sebagai gitaris, bersama pemusik yang lain (awal terbentuknya KAyaBE). Anu punya andil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beda lagi perkenalan pertama saya dengan Angga. Waktu masih tingkat satu, di kelas agama, cowok-cowok bangku belakang pada bicarain: ada anak -pajak -cewek -cantik, puteri Jawa Tengah (alamak...), udah sempat kuliah sebentar di UI, tapi pindah ke STAN. Saya pura-pura diam, tapi mendengarkan. Pura-pura tak tahu, tapi penasaran. Hahaha... Ternyata itu orangnya... Dan teman dekatnya ternyata satu kelas dengan saya. Dari situ kenalan, dan cuma say ‘Hi...’. Sehabis UTS agama, melihat nilai yang diselipkan di buku absen, saya ternyata nilai tertinggi. Bangga sedikit (gagal di akuntansi, tapi tidak di agama...hehe). Eh, ternyata ada satu orang lagi yang nilainya sama: ya.. si Angga itu. Hari demi hari makin sering komunikasi dan sering ketemu di Komisi Pemuda, juga PMK, tapi tidak terlalu akrab, walau banyak pria yang tergila padanya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui, satu masa yang membuat saya sangat akrab dengan Anu dan Angga, ketika tingkat 3, ketika saya, dalam anugerah Tuhan, menjadi Ketua Umum PMK STAN, Angga menjadi Sekretaris, dan Anu Kabid Perlengkapan dan Olahraga. Di masa ini juga kami membentuk satu kelompok belajar (Angga dan beberapa teman lain), supaya bisa jadi kesaksian dalam studi dan pelayanan. Wah... di sinilah saya sadar, bahwa mereka telah menjadi sahabat saya. Masa-masa bergumul sebagai pengurus, rapat sampai malam, tertawa (seringkali karena Angga), sedih, sharing, dan Angga yang paling sering nangis, bahkan sampai ketika Ujian Komprehensif-nya si Angga, malamnya, kami semua BPH harus berkumpul di kosnya Angga, karena dia tak berhenti menangis. Kenapa? Karena salah jawab dikit doang waktu ujian lisan, dan ada beberapa bagian tugas akhirnya yang harus direvisi. Ya ampun... ini orang... udah IP tiap semester tak pernah di bawah 3,5, karya tulisnya lebih tebal dua kali daripada punya saya -dan duluan selesai, masih aja nangis semalaman karena nila setitik. (Bayangkan, waktu wisuda, dia peringkat 5, tak perlu nunggu lama untuk mendengar namanya dipanggil. Saya? Mungkin beda 2 jam dari namanya Angga dipanggil, baru nama saya. Sampai Bapak saya nelepon: kok lama kali namamu dipanggil? Hahaha). Tapi malam itu, kami berkumpul di kosnya Angga. Kami ingin menghibur dia, tapi tak tau caranya. Kami suruh dia cerita tapi terbata-bata. Kami bercanda, akhirnya dia tertawa, tapi sambil menangis,mulut tertawa, air mata terus mengalir. Akhirnya kami hanya duduk bersama, lama terdiam, dan itu jauh lebih baik. Bahkan...setelah semua membaik...tak ada yang mau pulang; kami disana sampai larut malam...dan malah bicarain jodoh. Hahahaha... Disitu kami tau, si Angga baru jadian sama si Anu. Hihihi...dan nama Anu terukir manis di kata pengantar tugas akhirnya Angga :) Setiap kali Anu lewat, motor yang berisik bagaikan nyanyian merdu bagi telinga Angga. Hahaha... suatu kado manis bagi doa dan penantian panjang seorang Anu, apalagi di penghujung studi, dan sekarang Tuhan persatukan mereka bekerja di Jakarta.&lt;br /&gt;Saya semakin akrab. Juga dengan Anu, di dalam pelayanan bersama (kalau boleh memilih, setiap saya pemimpin pujian, saya akan pilih Anu sebagai gitaris. Di STAN, di IKJ, di PMKJS2, dsb), di dalam olahraga, dan dalam banyak kebersamaan lainnya. Pelayanannya semakin berkembang seiring kerendahan hatinya. Di dalam KTB kami, dan kesempatan-kesempatan bersama lainnya, persahabatan ini semakin terjaga. Dan tak terasa, besok mereka berdua, akan dipersatukan Tuhan dalam pernikahan kudus, membentuk satu keluarga baru, sampai maut memisahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tepat seminggu yang lalu, demi pelayanan di UI, saya numpang nginap di rumah yang sudah dibeli Anu di Depok. Seperti biasa, Anu dengan kerendahan hatinya menawarkan: mau ini? mau itu? Mau gw buatin ini? Mau pake itu? Dst. Tapi yang tak terlupakan... untuk pelayanan besok di UI, saya ketinggalan sepatu!!! Dan dengan ragu saya bertanya: Nu, ada sepatu? Tapi tanpa ragu Anu menjawab: Ada tuh, masih di dalam kotak. Terus, saya dekati, pegang dan bertanya: Kok masih baru banget Nu? Iya, gw siapin untuk pernikahan gw. Alamaaaakjaaaang................ Sepatu yang udah disiapkan jauh-jauh hari, rela gak dipake-pake demi hari sakral itu, ternyata saya yang pakai pertama kali... Aduh, perasaan tak enak dari lubuk hati saya yang paling dalam. Tapi tak ada pilihan lain. Saya tak mungkin jadi Pembicara yang tak pakai sepatu. Coba dulu...kata Anu. Ternyata memang tak muat. Dia tak habis cara. Coba pakai kaos kaki ini, biar gak terlalu kesat. Akhirnya kaos kakipun ikut dipinjamkan, dan besoknya saya pelayanan dengan kaos kaki dan sepatu baru dari calon pengantin yang seminggu lagi akan menikah :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menempuh hidup baru, sahabat saya: Anu dan Angga. Cinta kalian jadi berkat bagi banyak orang. Bukan kuantitas nya, tapi kualitas dan kontinuitasnya. Menjadi suami yang mengasihi dan melindungi isteri; menjadi isteri yang mengasihi dan menghormati suami. Tuhan menganugerahkan kasih, damai, sukacita, kekuatan dalam rumah tangga kalian, untuk mengarungi lautan dengan bahtera keluarga kalian. Entah pelangi yang kalian lewati, atau badai yang akan berlalu, jangan tinggalkan bahtera, jalanilah bersama, bersama dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anu dan Angga tetap bersahabat. Selama menjadi kekasih, merekapun bersahabat. Setelah menjadi suami istri, ayah ibu, kakek nenek, mereka pun tetap bersahabat. Karena cinta sebagai sahabat itu, seringkali mengasihi tanpa pamrih; seperti Yesus yang jadi Sahabat bagi kita –berkorban demi yang dikasihi. Love is giving…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hei, di pernikahan kalian, kami akan menyanyikan lagu “Love will be our home”. Cinta yang menjadi rumah kita (kalian); tempat bersatu hati, berbagi, bersatu dalam perbedaan, ada tawa, senyuman, mimpi, nyanyian, detupan jantung, kata-kata yang membangun, janji, ikatan yang tak terputuskan, di sana ada cinta… dan Cinta itulah yang jadi rumah kita…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tuhan besertamu, sahabat…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Love Will Be Our Home&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;If home is really where the heart is&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Then home must be a place we all can share&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for even with our differences our hearts are much the same&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;for where love is we come together there.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wherever there is laughter ringing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Someone smiling, someone dreaming&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can live together there&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will be our home.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wherever there are children singing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where a tender heart is beating&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can live together there&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cause Love will be our home&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;With love our hearts can be a family&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And hope can bring this family face to face&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;And though we may be far apart our hearts can be as one&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;When love brings us together in one place.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wherever there is laughter ringing&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Someone smiling, someone dreaming&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can live together there&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will be our home.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where there are words of kindness spoken&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Where a vow is never broken&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;We can live together there&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;cause Love will be our home&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will, love will be our home&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will, love will be our home&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will, love will be our home&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Love will, love will be our home&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-7655883976232613575?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/7655883976232613575/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/07/8-10-juli-2011.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7655883976232613575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7655883976232613575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/07/8-10-juli-2011.html' title='8-10 Juli 2011'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-g7psiykMCTM/Thca83qP_PI/AAAAAAAAAKA/ThhCbXF5NM0/s72-c/fb64.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6110113692652564683</id><published>2011-06-23T16:06:00.002+07:00</published><updated>2011-06-23T16:28:48.166+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Janji Suci</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;English:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I, (name), take you, (name), to be my (wife/husband), my constant friend, my faithful partner and my love from this day forward. In the presence of God, our family and friends, I offer you my solemn vow to be your faithful partner in sickness and in health, in good times and in bad, and in joy as well as in sorrow. I promise to love you unconditionally, to support you in your goals, to honor and respect you, to laugh with you and cry with you, and to cherish you for as long as we both shall live."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-H9apmvQyuPs/TgMHGulEH9I/AAAAAAAAAJM/FFyHbdpsRBw/s1600/cincin-kawin.jpg"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 200px; height: 131px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-H9apmvQyuPs/TgMHGulEH9I/AAAAAAAAAJM/FFyHbdpsRBw/s200/cincin-kawin.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5621344572052611026" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karo:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku ... muat kam si ... jadi (ndehara/perbulangen) ku, Janah aku erpadan tetep ngaloken kam, subuk ibas paksa susah ntah pe senang, subuk ibas paksa sakit ntah pe sehat, subuk ibas paksa ceda ate bage pe meriah ukur. Aku erpadan njaga kebadian perjabunta seh Dibata nirangken kita alu kematen"&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6110113692652564683?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6110113692652564683/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/06/janji-suci.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6110113692652564683'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6110113692652564683'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/06/janji-suci.html' title='Janji Suci'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-H9apmvQyuPs/TgMHGulEH9I/AAAAAAAAAJM/FFyHbdpsRBw/s72-c/cincin-kawin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3461832770222878291</id><published>2011-06-08T09:47:00.001+07:00</published><updated>2011-06-08T10:19:21.855+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>GBKP tengah tahun 2011</title><content type='html'>Biasanya saya mengikuti kebaktian minggu di GBKP Perpulungen Karawang. Tapi Minggu lalu (5/6), karena suatu hal, saya ber-gereja di GBKP Bekasi. Sehabis kebaktian, saya duduk-duduk dekat parkiran motor. Motor saya gak bisa keluar, karena banyaknya mobil. Daripada nunggu gak jelas, saya baca-baca spanduk yang dipasang di dinding atas gereja.&lt;br /&gt;Salah satu spanduk besar, isinya: “Penekanan Program GBKP 2011: Peningkaten Teologia, Spiritualitas, dan Mutu Ibadah”.&lt;br /&gt;Saya tersenyum membacanya, kalau mengingat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. minimnya pembacaan Alkitab dalam ibadah jemaat di GBKP. Total ayat untuk ogen dan khotbah, bisa hanya 5-15 ayat (perikop dipenggal-penggal); introitus pun kadang hanya setengah ayat. (bandingkan dengan beberapa gereja yg lain, atau outline perikop Alkitab terjemahan lain, NIV misalnya). Memang ini bukan faktor yang paling menentukan pertumbuhan teologia/ spiritualitas jemaat, tapi salah satu faktor TERPENTING. Bukankah pengetahuan dan iman timbul dari pembacaan, pendengaran, dan perenungan firman Tuhan? (Rom 10:17; Neh 8; Mzm 119). Bagaimana merangsang jemaat cinta baca Alkitab kalau di hari Minggu pun hanya beberapa ayat yang dibaca? Apalagi kalau banyak jemaat-nya yang baca Alkitab hanya di kebaktian Minggu? (itupun numpang Alkitab sebelahnya; atau sekedar di-paraf setelah dibaca).&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. tema besar itu sepertinya hanya menjadi tema bulan Januari di pekan penatalayanan. Selama beribadah dari Pebruari-Juni, saya hampir tidak pernah mendengar pendeta dari atas mimbar menyerukan dan terus menggaungkan tema itu dengan kuat. Hampir tidak pernah saya mendengar pengkhotbah di GBKP menekankan jemaat untuk punya relasi pribadi yang intim dengan Allah, melalui saat teduhnya, jam doanya, Bible readingnya, kebaktian keluarganya. Kalaupun ada, hanya sepintas lalu, di samping hal-hal umum lainnya (relasi suami-istri, ortu-anak, menghadapi masalah, sakit, dsb). Padahal relasi vertikal akar dari relasi horizontal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. saya bertanya-tanya. Berapa banyak GBKP yang sungguh-sungguh mempersiapkan kebaktian minggunya? Memilih lagu dengan serius sesuai dengan tema minggu itu, mempersiapkan liturgos (Pertua/Diaken) supaya tidak hanya berperan sebagai pembaca buku Liturgi, tetapi pemimpin pujian, mempersiapkan pemusik dan song leader dengan baik, bukan sekedar mencocokkan nada dasar/ tempo beberapa saat sebelum ibadah (itupun sering salah). Termasuk Anda yang berdiri di mimbar (Pdt/ Pt/ Dk), kalau Anda tidak sungguh-sungguh memuji Tuhan ketika di mimbar (tidak ikut menyanyi atau sibuk mengecek handphone/ membolak-balik kertas), jangan heran kalau jemaat akan meneladani Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dahi saya mengkerut, tanda berpikir. Pertanda hari semakin panas juga. Ternyata mobil APV yang salah parkir tadi sudah berpindah. Saatnya saya pulang dan membawa kerinduan ini di dalam doa, dan talenta yang Tuhan anugerahkan, demi GBKP Simalem :) mumpung tahun 2011 masih ada setengah tahun lagi :)&lt;br /&gt;Semoga semangat ini bukan hanya ada di aku saja, tapi kam juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bage pe tek aku maka iterusken Dibata nge dahin si mehuli si enggo ibenakenNa i bas kam seh ku warina Kristus reh mulihken. (Pil 1:6)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kws.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3461832770222878291?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3461832770222878291/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/06/gbkp-tengah-tahun-2011.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3461832770222878291'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3461832770222878291'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/06/gbkp-tengah-tahun-2011.html' title='GBKP tengah tahun 2011'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-9120946660201763699</id><published>2011-05-18T18:28:00.001+07:00</published><updated>2011-05-18T18:35:26.845+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 4</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAGIAN 4: HUBUNGAN YANG SEHAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 28 – Melayani Bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Meninjau jalinan hubungan anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan mempunyai cara unik. Ia hendak menggunakan relasi/ konflik antarpribadi yang kita alami untuk membentuk kita menjadi semakin seperti Anak-Nya. Dalam proses itu, kita akan menjadi alat yang lebih efektif sewaktu melayani; kita akan membawa kemuliaan bagi Dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa kita tidak dapat melakukannya seorang diri&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dosa bersifat menipu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan menempatkan orang-orang di sekitar kita untuk menolong kita melihat apa yang tidak dapat kita lihat dengan sendirinya&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita memerlukan kontribusi orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan kita tidak akan seefektif dan seefisien kalau saya melibatkan orang-orang lainnya. Hati-hati dengan kesombongan kita yang cenderung memimpin sendiri.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menjalin hubungan yang baik termasuk ibadah kepada Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana kita berhubungan dengan orang lain, sama pentingnya ketika kita memimpin menyanyikan lagu pujian. Bahkan lebih penting dari yang kita duga. Bagaimana kita melayani dan berelasi dengan anggota gereja/ jemaat, tim musik, pendeta, akan menjadi kesaksian hidup kita sebagai penyembah Allah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 29 – Gereja Anda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang pemimpin ibadah lebih berurusan dengan soal memimpin orang daripada memimpin lagu. Mempedulikan jemaat dan melayani mereka lebih penting daripada hanya membuat ibadah kelihatan berhasil. Kita membutuhkan lebih banyak waktu, pikiran, dan tenaga. Kita butuh Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Prioritas doa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak mendoakan orang-orang di gereja kita, maka kuasa, anugerah, dan kasih Tuhan tidak akan penuh di dalam diri kita sewaktu memimpin mereka. Berdoalah bagi jemaat yang akan anda pimpin ketika anda sedang menyusun lagu-lagu yang akan dinyanyikan, ketika sedang mengadakan latihan, ketika bersiap-siap memimpin, ketika sedang mengadakan waktu pribadi bersama Tuhan.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doa mengingatkan kita tentang apa yang tidak dapat kita lakukan&lt;/span&gt;. Hanya Allah sajalah yang dapat secara aktif membuka mata hati orang, sehingga mereka melihat harapan dalam Injil dan  kuasa Tuhan yang bekerja dalam hidup mereka (Ef1:16-19)&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doa membuka mata kita untuk melihat maksud-tujuan Tuhan&lt;/span&gt;. Seringkali Tuhan berbicara secara khusus dan menjawab pergumulan seorang demi seorang jemaat secara spesifik sewaktu beribadah.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Doa juga memupuk rasa kepedulian kita terhadap orang lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dorongan semangat dan koreksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1. Mendapat pujian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Biasanya kita bergumul dengan kenyataan bahwa kita senang dipuji, tetapi tidak mau menjadi sombong. Berikut beberapa hal yang bisa membantu kita ketika menerima pujian:&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ucapkanlah terima kasih kepada orang terkait atas pujiannya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kalau pujiannya tidak jelas, mintalah ia memberi keterangan lebih lanjut&lt;/span&gt;. Ini bukan untuk memancing lebih banyak pujian, tetapi hanya membantu kita mengetahui bagaimana Tuhan secara spesifik bekerja di hati orang lain.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ungkapkanlah rasa terima kasih atas kesempatan melayani&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Perhatikanlah kontribusi orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Dengan segenap hati “mentransfer kemuliaan kepada Tuhan”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;2. Mendapat lontaran kritik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena berperan di depan umum, para pemimpin akan selalu dievaluasi. Teguran akan membuat kita lebih sadar bahwa kita membutuhkan kasih karunia Allah. Teguran membantu kita bergumul melawan sikap meninggikan diri. Teguran merupakan tanda bahwa kita membutuhkan orang lain ketika menjalani proses pengudusan. Teguran membantu kita mengakui bahwa kita tidak mengetahui segalanya. (band.Mzm 141:5 BIS).&lt;br /&gt;• Jadi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;berdoalah agar kita mendapat koreksi&lt;/span&gt;. Mintalah Tuhan mempertemukan kita dengan orang-orang yang membangun, menunjukkan letak kesalahan dan dosa kita, dan menunjukkan apa yang bisa kita lakukan dengan lebih baik.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berharaplah untuk mendapat koreks&lt;/span&gt;i. Kalau kita merasa tertampar ketika mendengar lontaran kritik, biasanya itu karena kita diam-diam ingin mencari pujian. Hanya orang yang merasa sempurna dan sombong sajalah yang tidak pernah menyangka dirinya akan melakukan suatu kesalahan.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hendaknya kita proaktif&lt;/span&gt;. Mintalah masukan yang jujur dari orang-orang yang dipercaya.&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Berterimakasihlah kepada orang-orang yang mengoreksi kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ajukanlah pertanyaan lebih lanjut&lt;/span&gt;. Kecenderungan awal kita biasanya membenarkan diri sendiri atau mempersalahkan orang lain. Maka mintalah pendapat lebih lanjut guna melengkapi apa yang mereka katakan. Ini akan menolong kita mendengar dengan lebih jelas dan berespons dengan lebih rendah hati.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bersyukurlah atas koreksi dari Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tantangan lainnya dalam kepemimpinan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic; font-weight: bold;"&gt;1. Menangani usul lagu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Pertama, periksalah hati kita sendiri, hati-hati dengan dosa menghakimi dan kesombongan&lt;br /&gt;• Kedua, berterimakasihlah atas usul mereka&lt;br /&gt;• Ketiga, menanyakan alasan mereka mengusulkan lagu itu&lt;br /&gt;• Lalu, berilah tanggapan tentang syair, makna dan melodi lagu itu.&lt;br /&gt;Tujuan kita ialah menyanyikan lagu-lagu yang meninggikan kemuliaan Allah dalam Kristus di hati dan pikiran jemaat, dengan cara yang paling jelas dan paling baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;2. Memberi penjelasan dan memimpin ketika terjadi perubahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Pastikanlah para pemimpin seia-sekata&lt;br /&gt;• Secara konsisten, ajarlah jemaat tentang apa yang dinamakan ibadah yang alkitabiah&lt;br /&gt;• Memimpin secara teologis&lt;br /&gt;• Memimpin dengan rendah hati namun penuh keyakinan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;3. Mengajar lagu baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Bantulah jemaat mengerti beberapa aspek dari lagu itu seperti: syair, makna, latar belakang lagu,dan melodi.&lt;br /&gt;• Minta jemaat untuk menyimak ketika pemimpin menyanyikan bait lagu dan refreinnya, lalu mengajak mereka ikut menyanyikannya. Bisa diawali dari refreinnya dulu (kalau ada), karena ini lebih mudah. Atau mengajarkan baris demi baris, dan meminta jemaat mengulanginya setiap pemimpin telah menyanyikan satu baris. Ada kalanya kita tidak perlu berkomentar apa-apa karena lagu itu mudah dipelajari.&lt;br /&gt;• Usahakan tidak memulai ibadah dengan mengumandangkan lagu yang belum dikenal oleh siapa pun dalam jemaat; juga tidak menampilkan lebih dari satu lagu baru di satu ibadah.&lt;br /&gt;• Ulangi menyanyikan lagu tersebut beberapa kali (mungkin juga dalam ibadah berikutnya) agar jemaat semakin menguasai, memahami dan mengingat lagu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda mengasihi gereja/ persekutuan di mana anda melayani? Tuhan mengasihi mereka (Ef3:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 30 – Tim Anda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membangun tim anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peranan yang berbeda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita memerlukan pemusik yang tidak hanya peduli soal musik, tetapi juga soal kerohanian. Peran lain yang dibutuhkan adalah seorang music director atau orang yang memastikan lagu-lagu sudah dipersiapkan, dilatih dan dibawakan dengan baik. Kita juga memerlukan seorang koordinator atau fasilitator, yang memastikan lagu-lagu sudah diketik/ difotokopi, dan mengkoordinir jadwal latihan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Standar tim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tampilnya timmusik di depan jemaat dari minggu ke minggu memberi kesan bahwa kehidupan mereka patut dicontoh –bukan sempurna, tetapi menunjukkan adanya buah-buah Injil. Bila tidak demikian, jemaat akan mendapat bahwa ibadah lebih berurusan dengan soal musik daripada soal cara hidup. Apalagi kalau yang tampil adalah pemusik yang belum percaya Kristus atau non-Kristen, kita memberi kesan bahwa seni dalam ibadah lebih penting daripada hati.&lt;br /&gt;Itulah sebabnya penting untuk mendiskusikan dan menetapkan standar anggota tim ibadah yang meliputi: keanggotaan, pemahaman doktrin, komitmen bertumbuh, relasinya dengan Tuhan, rendah hati, setia dan tepat waktu, komitmen mengembangkan kecakapan musiknya, dan didukung oleh pendeta atau pemimpin kelompok kecil.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Level komitmen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jangka waktu komitmen pelayanan, jumlah pelayan, banyaknya jadwal latihan dan pelayanan, serta kondisi spesifik dari tiap pelayan akan berpengaruh pada level komitmen yang disepakati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memberi dorongan semangat kepada tim anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali bersama tim, cobalah kenali adanya tanda-tanda kasih karunia pada diri anggota tim, dan dukunglah mereka dalam hal itu. Mengapresiasi mereka, mengucapkan terima kasih, memberi hadiah, mengajukan pertanyaan sebelum, sesudah dan ketika latihan, saling mendoakan, akan membantu kita mengingat bahwa hubungan di antara tim lebih penting daripada sekadar bermain musik bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperlengkapi tim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu memastikan bahwa para anggota tim termotivasi untuk mengembangkan kecakapannya dan dimungkinkan untuk melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertumbuhan teologis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Selain khotbah yang didengar setiap minggu, memperlengkapi mereka dengan pengetahuan tentang Allah dan pengertian ibadah bisa melalui buku-buku yang berbobot, artikel, atau web yang baik dan membangun.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perkembangan musikal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bisa dengan saling berlatih/ belajar, bertukar pengetahuan atau kursus musik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Latihan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Latihan berlebih bisa membuat letih. Berlatih dengan cermat adalah solusi yang lebih baik. Artinya tiap orang perlu berlatih sendiri sebelum latihan bersama. Bisa juga diadakan latihan yang bervariasi: belajar lagu baru, mengulang lagu lama, aransemen baru, berdoa bersama, mempelajari tema ibadah, latihan vokal, mendengar/ mengevaluasi sebuah lagu/ konser, berbagi kesaksian dan keteladanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengevaluasi tim&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita sendiri harus menjadi teladan orang yang suka meminta masukan dan pengamatan dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Presentasi musik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi setelah ibadah tentang mengawali dan mengakhiri lagu, memberi aba-aba, kontribusi tiap orang atau monitor proyeksi suara. Evaluasi dilakukan dengan semangat kekeluargaan, rasa syukur dan dorongan semangat. Seringkali mendengar rekaman/ melihat video ibadah yang lalu adalah cara evaluasi yang baik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Karakter&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menjadi seorang pemusik tidak dibenarkan melakukan dosa. Kita harus menegaskan bahwa mereka bertanggung jawab mengejar karakter yang kudus, dan kita berusaha membantu mereka bertumbuh. Sikap mereka lebih penting daripada kecakapan musiknya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bakat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan:&lt;br /&gt;• Apakah kecakapan mereka berkembang?&lt;br /&gt;• Apakah bakat satu orang masih dapat melayani jemaat yang semakin besar jumlahnya?&lt;br /&gt;• Apakah ada orang-orang lain dalam jemaat, yang hidup kudus, tetapi lebih berbakat daripada orang yang ada di dalam tim?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Nikmati tim anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nikmatilah kesatuan dan kebersamaan dalam tim, bekerja keras bersama, memberi dorongan semangat, sebagai sahabat, mengalami duka dan sukacita, di saat tegang dan membosankan. Kalau kita setia dan rendah hati memimpin tim ini, para musisi akan semakin bertumbuh dalam kasihnya kepada Injil, kepada satu sama lain, dan pada pelayanannya kepada Allah. Jemaat akan memuliakan Allah tidak hanya pada hari Minggu, tetapi setiap hari, melalui pelayanan dan kesaksian sebuah tim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 31 – Pendeta Anda&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pendeta itu pemberian dari Tuhan bagi jemaat. Yang memberikan gembala-gembala, pengajar-pengajar kepada jemaat-Nya adalah Kristus yang sudah naik ke surga (Ef4:11-12). Sebagai pemimpin ibadah, kita bertanggung jawab mendukung pelayanan pendeta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Melayani pendeta anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan memberi tanggung jawab kepada pendeta untuk mengarahkan gereja. Kalau kita pendeta dan pemimpin ibadah berbeda pendapat, maka kita yang harus tunduk kepada pendeta. Tunduk kepada pendeta berarti melayaninya dengan sukacita dan rendah hati. Kita akan melakukan hal itu dengan lebih baik kalau kita menjalin relasi dan komunikasi yang baik dengan pendeta, mengenai hal yang paling penting baginya, pembagian waktu, ayat yang akan dikhotbahkan, sehingga kitabisa mendukung pelayanan pendeta, dan membuatnya bersukacita dalam pelayanan. Dan perlu diingat, tidak ada cara yang lebih efektif untuk melayani pendeta daripada berdoa baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mendengarkan pendeta anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mendengarkan adalah sesuatu yang membutuhkan waktu dan pengendalian diri. Kita perlu mendengarkan teologi pendeta, hatinya, pengertiannya tentang peranan pemimpin pujian, hubungannya dengan anggota keluarganya, stafnya, dan hal lainnya. Kita perlu saling mengerti definisi yang kita gunakan –bukan didebatkan, khususnya tentang kesamaan “bahasa” di bidang musik. Dengarkan khotbahnya, semangatnya, pandangannya tentang gereja, dan dengarkan baik-baik tentang apa yang menurutnya kita lakukan dengan baik dan apa yang tidak kita lakukan dengan baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berinisiatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Melayani pendeta bukan berarti kita tidak boleh mengambil inisiatif atau tidak boleh kreatif, justru hal ini sangat diperlukan. Berinisiatiflah:&lt;br /&gt;• Mencari tahu lagu yang beredar dan terabaikan, serta membicarakannya juga kepada pemimpin ibadah yang lainnya&lt;br /&gt;• Beritahukanlah kepada pendeta apa yang sedang (akan) kita lakukan dan pikirkan tentang musik&lt;br /&gt;• Memberi dorongan semangat kepada pendeta&lt;br /&gt;• Mengevaluasi diri sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bertumbuh&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kerohanian kita bertumbuh, pendeta akan semakin yakin bahwa memimpin jemaat mengagungkan Kristus bukan hanya tugas kita, melainkan kehidupan kita. Kalau kita bertumbuh semakin rendah hati, pendeta akan semakin menikmati kerja sama dengan kita. Kalau kita bertumbuh semakin menyukai firman Tuhan, kita akan dapat semakin memberitakan firman Tuhan dengan lebih efektif melalui lagu-lagu. Kalau kita bertumbuh dalam pengetahuan teologi, kita akan dapat menyelidiki tema-tema yang belum dipelajari pendeta, misalnya tentang nyanyian, ibadah. Kalau kita bertumbuh dalam kepemimpinan, maka pelayanan kita akan lebih berkualitas dan bermanfaat bagi jemaat. Kalau kemahiran kita dalam bidang musik berkembang, semakin terampil, dan menguasai pengetahuan musik dan teori alat musik, maka kita dapat semakin melayani pendeta, memainkan lagu apa saja yang diminta pendeta, karena kebanyakan pendeta kurang berpengetahuan dalam bidang ini, jadi semakin pentinglah bagi kita untuk berinisiatif mengalami kemajuan di bidang musik. Kita dapat juga bertumbuh secara administratif, dengan jalanmemikirkan cara komunikasi yang lebih cepat, jelas dan efektif. Bertumbuh secara estetis, membuat para pemusik dan panggung tampil menarik tiap ibadah. Bertumbuh secara teknologi, untuk mendukung ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bilamana tidak sependapat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• Pertama, pastikan dulu secara pasti duduk permasalahannya. Apakah masalah teologi, metodologi, budaya/ generasi, atau seringkali akar permasalahannya adalah dosa, yang mementingkan diri sendiri, menghakimi, iri, atau sombong.&lt;br /&gt;• Kedua, mencari penyelesaian masalah. Mulailah menjalinnya di atas landasan doa. Lalu dengan rendah hati, bertanya dan bicarakanlah dengan jelas. Membahas artikel tertentu atau buku tertentu sangat membantu. Kalau masalahnya adalah dosa, akuilah seluruhnya dengan jelas, mintalah pendeta untuk mengamati hati, perkataan dan kehidupan kita. Dan, bersabarlah, izinkan Tuhan bekerja dari waktu ke waktu.&lt;br /&gt;• Lalu, bertindaklah, ambillah keputusan, lakukan dengan iman. Sesudah cukup berdoa, mendapat banyak nasihat, bijaklah untuk melangkah dengan iman, dan tetap menjaga hubungan yang damai dengan pendeta. Kita juga memerlukan dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 32 – Perenungan bagi para Pendeta&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Para pemimpin ibadah memerlukan pendeta-pendeta yang lebih bergairah –dari diri mereka sendiri –dalam memuliakan Yesus Kristus. Para pemimpin ibadah memerlukan pendeta yng bersedia memimpin mereka, mempedulikan mereka, dan yang berbicara sejujurnya.&lt;br /&gt;Di banyak gereja, setengah dari waktu ibadah digunakan untuk menyanyi. Tetapi, pemimpin ibadah dan musisinya adalah orang yang mungkin mempunyai atau mungkin tidak mempunyai pendidikan teologi ataupun karunia pastoral. Memang pendeta punya banyak aktivitas. Tetapi salah satu hal terpenting yang dapat dilakukannya ialah memastikan bahwa gereja mengerti dan mempraktikkan ibadah yang alkitabiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kenalilah peranan anda sendiri dalam memimpin ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memimpin ibadah adalah sebuah peranan pastoral, setelah itu baru peranan musik. Sadarilah bahwa jemaat melihat kepada anda untuk mengetahui seperti apakah yang dinamakan seorang penyembah Tuhan. Anda adalah pemimpin ibadah utama di gereja anda. Respons jemaat dalam memuji Tuhan jarang sekali melebihi keteladanan pendetanya. Jemaat yang anda pimpin mengamati anda tidak hanya ketika anda sedang berkhotbah. Pelajaran seperti apa yang dapat mereka petik dari anda? Keteladanan seperti apakah yang anda berikan pada mereka? Kalau anda tidak serius –sibuk sendiri –selagi jemaat menyanyi memuji Tuhan, mereka akan mendapat kesan bahwa menyanyi tidak begitu penting.&lt;br /&gt;Tuhan memanggil para pendeta untuk memberi makanan rohani, memimpin, mempedulikan, dan melindungi para anggota gerejanya. Pendeta cenderung berpikir bahwa cara memenuhi tanggung jawab itu adalah dengan berkhotbah dan pelayanan pastoral pribadi. Tapi jangan anda mengabaikan fakta bahwa ibadah bersama yang dipimpin dengan sungguh-sungguh, dengan suasana hati yang hangat dan bersemangat, serta dengan kecakapan yang tinggi, dapat menjadi sarana untuk mencapai tujuan tersebut. Anda dapat memberi makanan rohani kepada gereja dengan jalan memastikan lagu-lagu yang dipilih liriknya benar secara teologis, menyuarakn Injil, hakikat Allah, dan unsur ibadah lain yang alkitabiah. Itulah pentingnya para pendeta mempelajari teologi tentang ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ketahuilah apa yang harus ada pada seorang pemimpin ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Kerendahan hati&lt;/span&gt;. Cara terbaik adalah memastikannya sudah merenungi Injil dan salib Kristus, yang menghancurkan segala kesombongan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Hidup kudus&lt;/span&gt;. Kalau para pemimpin terus menerus berkubang dalam dosa, ini suatu penghinaan terhadap nama Allah, gereja-Nya, dan misi-Nya. Kekudusan lebih penting daripada kecakapan musik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Menyukai teologi yang benar.&lt;/span&gt; Ia harus memperhatikan lirik lagu jemaat daripada irama lagunya. Musik hanya berupa sarana pengantar kebenaran Tuhan, namun bukan kebenaran itu sendiri. Kebenaranlah yang memerdekakan kita, bukan suasana yang penuh pijar emosi. Kebenaran teologi memampukan seseorang mempengaruhi orang lain dengan Injil dan firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Talenta kepemimpinan.&lt;/span&gt; Sepanjang waktu ibadah, jemaat harus berfokus pada kasih karunia Alah dalam Kristus. Untuk itu diperlukan kepemimpinan yang baik. Talenta inijuga diperlukan untuk bekerja sama dalam tim, menangani konflik, membantu jemaat bertumbuh, dan mendapatkan sikap respek dari orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Keterampilan musik.&lt;/span&gt; Akan sangat memudahkan kalau pemimpin ibadah mahir dalam bidang musik, untuk berkreasi dan aransemen, selain pengetahuannya akan firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperlengkapi dan mendukung pemimpin ibadah di gereja anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Cara yang bisa dilakukan seperti: menyediakan bahan-bahan yang membantu pemimpin ibadah bertumbuh, mengirimkan artikel-artikel, buku, tulisan, CD, kaset dan peralatan lain yang memperlengkapinya. Ajaklah ia menghadiri seminar, tidak selalu bertema ibadah, tapi yang meningkatkan pengetahuan tentang firman Tuhan dan kepemimpinan yang alkitabiah. Berilah dorongan semangat dan dukungan. Amatilah di bidang apa dalam hidupnya anda melihat Tuhan sedang bekerja, mungkin dalam pemahaman firman Tuhan, atau ide-ide musik. Berilah pujian, hargailah, dan beritahukanlah setiap kemajuannya. Bersyukurlah atas ketekunannya, keteladanan, talenta dan persiapan yang telah dilakukannya. Persilahkan dia memberi laporan tentang apa yang dibutuhkan oleh gereja, dan jagalah komunikasi yang efektif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setialah membuat rencana dan setialah evaluasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dimulai ketika menyusun lagu, memilih lagu yang paling membangun jemaat, tetapkanlah apakah anda yang menyusun sendiri atau anda memeriksa daftar lagu yang disusun pemimpin ibadah? Ini adalah kesempatan yang baik untuk memberi tahu lagu-lagu yang baik dan kuat. Beritahukan penilaian anda sewaktu bertemu atau melalui e-mail, telepon. Berikan pengamatan yang tulus tentang cara memimpin, lagu-lagu, aransemen, secara spesifik, dan bantulah ia bertumbuh untuk melakukan hal yang lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menangani konflik secara alkitabiah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bersikaplah rendah hati, jalin hubungan yang baik dan perlancar komunikasi. Jangan langsung memandang orang lain yang salah. Tuhan sering kali  menggunakan dosa-dosa orang lain untuk menyingkapkan kelemahan kita sendiri. Ambillah waktu untuk menelusuri penyebabnya; apakah masalah komunikasi, teologi, metodologi, atau dosa: menghakimi, membanding-bandingkan, kesombongan, ketidaksabaran, ketidakpuasan atau yang lain. Kalau anda salah, akuilah kesalahan itu secara spesifik, dan upayakan untuk tidak mengulanginya lagi. Jangan menunda-nunda untuk membereskan sesuatu dengan seseorang.&lt;br /&gt;Tuhan ingin hubungan anda dengan pemimpin ibadah (dan juga orang lain) diwarnai sukacita, saling menghormati, dan berbuah lebat. Dengan beriman pada firman-Nya, bergantung pada Roh-Nya, dan bersandar pada Injil, itu akan terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kata penutup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ini peranan yang sangat penting. Pendeta berpedoman pada Alkitab, untuk membawa gerejanya beribadah kepada Tuhan. Pendeta menjadi teladan tentang apa artinya menjadi seorang penyembah Tuhan,yang ditunjukkan lewat kepekaan, perhatian, bimbingan, kasihnya, dan seluruh kehidupannya yang mengasihi Juruselamat, setia mengarahkan matanya dan orang-orang yang dipimpinnya pada Injil kasih karunia dan pada keindahan salib.&lt;br /&gt;Apa yang akan dikatakan gereja dan  pemimpin ibadah tentang keteladanan anda? Tentang gereja anda? Tentang ibadah anda? Tentang keluarga anda? Apa yang akan Tuhan katakan? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:85%;" class="fullpost" &gt;Kawas Rolant Tarigan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-9120946660201763699?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/9120946660201763699/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-4.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/9120946660201763699'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/9120946660201763699'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-4.html' title='Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 4'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-1658237300426555033</id><published>2011-05-18T18:17:00.001+07:00</published><updated>2011-05-18T18:27:21.498+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 3</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAGIAN 3: TEGANGAN YANG SEHAT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 18 – Prinsip-prinsip yang Memberi Arahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Apakah yang kita lakukan setiap beribadah dilakukan karena hal-hal tersebut alkitabiah atau karena preferensi semata-mata, atau karena tata cara itulah yang sudah sejak dulu turun temurun dilakukan? Apakah ada tata cara tertentu yang normal dan alkitabiah yang harus dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Arahan dari masa silam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pada abad ke-16 dan ke-17, kebaktian jemaat menjadi tema yang ramai diperbincangkan ketika kaum Protestan berusaha mereformasi praktik liturgi yang tidak alkitabiah. John Calvin memunculkan apa yang kemudian dikenal sebagai prinsip regulatif ibadah, suatu bentuk keyakinan bahwa segala sesuatu yang dilakukan dalam kebaktian umum gereja harus didasari perintah yang jelas dari Alkitab atau terimplikasi di dalam Alkitab. Prinsip lainnya dipraktikkan oleh Marthin Luther dan diadopsi oleh kaum Lutheran dan Metodis. Prinsip normatif memegang keyakinan bahwa apapun yang tidak dilarang dalam Alkitab, itu diperbolehkan. Pada abad-abad selanjutnya, timbullah denominasi baru dan konflik pun terus bergulir hingga masa kini.&lt;br /&gt;Mengapa sulit sekali untuk menentukan, Tuhan ingin kita melakukan apa ketika berkumpul bersama? Ada beberapa sebab, seperti:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, meski setiap generasi dan setiap gereja bertanggung jawab mempertimbangkan apakah praktik-praktiknya sesuai dengan firman Tuhan, Tuhan memang tidak memberi rincian yang spesifik dalam hal ini seperti yang dikehendaki semua orang. Di dalam Alkitab tidak tertera tata cara ibadah yang dapat diterapkan pada segala budaya dan zaman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, kita cenderung membaca Alkitab dengan cara/ aplikasi yang kita sukai sendiri. Kelompok yang satu mendasarkan ibadahnya pada ayat ini, yang lain pada ayat yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; sebagian orang Kristen berpikir bahwa Tuhan tidak berkata apa-apa tentang bagaimana kita harus beribadah. Mereka berpikir bahwa kita dapat beribadah kepada Tuhan dengan cara yang bagaimana pun sesuai dengan kemauan kita. Paham ini mengutamakan pikiran dan ekspresi pribadi. Padahal Tuhan sudah memberi kita beberapa contoh dan perintah yang jelas-jelas menyatakan apa yang Ia ingin kita lakukan saat kita berkumpul bersama (Kis2:46-47; 1Tim2:1-12; 2Tim4:2; Kol3:16; 1Kor14:29; 11:17-34).&lt;br /&gt;Tuhan memang tidak memberi petunjuk tentang segalanya, tetapi yang pasti, Ia tidak bungkam tentang hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tiga prinsip&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan Alkitab dan dengan menghormati para pendahulu kita, 3 prinsip berikut inilah yang kita pegang ketika menyusun acara ibadah:&lt;br /&gt;1. Melakukan apa yang jelas-jelas diperintahkan Tuhan&lt;br /&gt;2. Tidak melakukan apa yang jelas-jelas dilarang Tuhan&lt;br /&gt;3. Menggunakan hikmat alkitabiah untuk hal-hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang dapat kita pelajari dari orang lain?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat berdiskusi dengan orang lain yang tata cara ibadahnya berbeda. Titik tolaknya, sepakatlah tentang hal-hal yang paling penting. Alkitab adalah standar untuk segala sesuatu yang berhubungan dengan kehidupan dan doktrin. Allah sajalah yang berwenang menentukan bagaimana kita memanggil Dia, dan bagaimana kita berhubungan dengan-Nya. Yesus adalah satu-satunya Juruselamat; Dia mati dan bangkit bagi setiap orang yang bertobat dan beriman pada karya penebusan yang dilakukan-Nya di kayu salib, dan bahwa menyembah Allah tidak mungkin dapat dilakukan tanpa kuasa Roh Kudus –kuasa yang memampukan kita menyembah Dia. Semuanya itu adalah kebenaran yang tidak dapat diganggu gugat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Tegangan yang sehat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa aspek ibadah di mana kita mempunyai perbedaan pandangan atau perbedaan praktik. Daripada mendiskusikannya berkepanjangan, marilah menimba pelajaran dari apa yang dimiliki pihak lain, yang tidak kita miliki. Inilah yang disebut tegangan yang sehat sehubungan dengan tata cara ibadah. Allen Ross berkata: “Tidak beralasan bagi sebuah gereja untuk mengubah segala sesuatu yang selama ini mereka lakukan; tetapi sangat beralasan bagi seluruh jemaat untuk mengevaluasi segala sesuatu yang mereka lakukan guna melihat bagaimana mereka dapat melakukan semuanya itu dengan lebih baik”.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 19 – Transenden dan Imanen&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Alasan sikap respek kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Transenden berarti Allah independen dan superior atas ciptaan-Nya. Ketika kita menyembah Allah, kita harus menyadari bahwa Dia bukan seperti kita. Dia Raja yang berdaulat penuh, agung dan mulia, adil, suci.&lt;br /&gt;Respons yang pantas terhadap hakikat Allah yang transenden adalah: respek dan hormat kepada-Nya. (Kel20:18; Yes6:5; Why1:7; Ibr12;28-29).&lt;br /&gt;Terkadang liturgi yang formal dapat membantu kita beribadah dengan cara seperti itu; setiap kata sudah dipikirkan baik-baik, diucapkan dengan penuh kesungguhan, dan ditujukan untuk menarik perhatian jemaat pada keagungan dan hakikat Allah yang transenden. Orang-orang yang menghampiri Allah dalam ibadah dengan cara yang santai, tidak menyelami kebenaran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dekat dan lebih dekat lagi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Namun Allah tidak hanya transenden, Ia juga imanen. Artinya: Ia dekat dengan kita. Ia tidak mengisolasi diri dari ciptaan-Nya. Allah tidak hanya berada bersama kita –Ia diam di dalam kita (Kis17:28; 1Kor6:19). Allah yang transenden mengambil tempat untuk tinggal di dalam umat-Nya bagi kemuliaan-Nya. Kebenaran ini menjadi sumber ketakjuban, sumber rasa syukur dan penghiburan. Allah itu imanen, Ia seperti Sahabat, Gembala dan Juruselamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjaga tegangan yang sehat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa cara untuk menjaga gar hakikat Allah yang transenden dan imanen ini tetap berada pada tegangan yang sehat. Salah satunya melalui tema ibadah yang berbeda-beda, membahas pada kebesaran Allah dan kedekatan-Nya. Namun cara terbaik untuk menjaga tegangan yang sehat ini ialah dengan terus berfokus pada Injil. Kekudusan dan keadilan Allah yang transenden bertemu dalam pengorbanan diri Anak Allah. Kita membantu jemaat mengagumi hal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 20 – Kepala dan Hati&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sebuah gereja mungkin saja mengalami kesulitan untuk menghubungkan pengetahuan yang ada di kepala dengan gelora semangat yang ada di hati. Sesungguhnya keduanya harus saling berhubungan dan melengkapi. Keduanya sama pentingnya dalam ibadah yang alkitabiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggunakan kepala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap kali memimpin jemaat beribadah, kita tidak hanya memimpin jemaat menyanyikan lagu. Kita sedang memimpin jemaat dalam peperangan menjunjung kebenaran. Itulah sebabnya kita perlu menyembah Tuhan dengan pikiran kita juga. Tuhan mau kita sedapat-dapatnya menggunakan daya pikir kita merenungkan kebesaran dan keajaiban perbuatan-perbuatan-Nya. Beberapa lagu perlu diulang untuk meresapi artinya, atau cara pengungkapan dan penyajiannya perlu diperbarui, atau kita perlu menjelaskan arti kata-kata tertentu, istilah alkitabiah, dan beberapa kata yang belum benar-benar dipahami sekalipun sering didengar. Memimpin ibadah dengan cara yang menjadikan Tuhan terasa menjemukan adalah dosa. Kreativitas kita menolong jemaat memahami karakter dan perbuatan Allah dengan lebih jelas lagi.&lt;br /&gt;Memang ada bahayanya, intelektualitas itu sendiri dapat menjadi tujuan akhir kita. Kita dapat lebih terkesan oleh penjabaran doktrin daripada oleh Yesus. Akhirnya kita memimpin jemaat yang teologinya baik, namun mati emosinya. Melalui kombinasi ini, Allah tidak dimuliakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggunakan hati&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Banyak jemaat sudah terbiasa menjalani ibadah yang tidak responsif, tidak menyentuh hati, tidak mengubahkan. Kita harus memimpin jemaat menyembah Tuhan dengan bergairah. Gairah yang hendak kita bangkitkan adalah sesuatu yang lebih dari sekadar emosi yang cepat berlalu, yang dangkal, atau yang ditimbulkan oleh diri sendiri. Gairah dalam Tuhan bersifat mendalam dan langgeng. Ini merupakan hasil dari berfokus pada apa yang sudah dilakukan Allah dan pada siapa Allah itu sendiri. Gambaran yang jelas tentang Allah yang hidup, hakikat-Nya, pengenalan kita akan kedaulatan-Nya, merenungkan harga yang sudah dibayar Juruselamat, akan menggugah hati kita, membuat kita takjub, merasakan damai, dan membuat kita terperangah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mewaspadai emosi agar terkendali&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah sesuatu yang mungkin bahwa perasaan dan pengalaman menjadi tujuan kita semata-mata, bukan Allah itu sendiri. Kita datang beribadah untuk mendapatkan perasaan enak, tanpa mempedulikan apa yang menghasilkan perasaan itu atau bagaimana kita mengekspresikannya.&lt;br /&gt;Kita memerlukan lagu-lagu yang membuat kita berpikir secara mendalam tentang Tuhan dan yang membantu kita memberi respons dengan sepenuh hati. Pemimpin ibadah mengambil tanggung jawab atas apa yang dinyanyikan jemaat. Kita perlu dengan bijak membimbing jemaat untuk memunculkan perasaan kuat yang didasari kebenaran firman Tuhan, dan hal ini akan menghasilkan buah yang baik. Kebenaran alkitabiah dan perasaan/ emosi yang mendalam mempunyai tempatnya masing-masing ketika kita menyembah Tuhan; dan kedua unsur itu perlu berjalan seiring.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 21 – Internal dan Eksternal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Latar belakang seseorang bisa membuatnya sangat ekspresif sewaktu memuji Tuhan. Kita tidak akan mengetahui apakah seseorang sedang benar-benar menyembah Tuhan kalau kita hanya mengamati penampilan luarnya. Kita perlu mengetahui keadaan di dalam dirinya, yaitu hatinya. (band. 1Sam16:7; Mat15:8-9; Ams4:23). Kata “hati” dalam firman Tuhan mencakup segala sesuatu dari apa yang kita pikirkan, rasakan, hingga apa yang kita pilih. Itulah sebabnya tidak cukup kalau jemaat hanya hadir dalam ibadah. Kita perlu memperhatikan apa yang sedang terjadi dalam alam kehendak, pikiran dan perasaan mereka.&lt;br /&gt;Beribadah dari dalam hati, itu paling penting. Tapi, apa yang kita lakukan/ ekspresikan dengan tubuh kita selagi beribadah bukan berarti sesuatu yang tidak penting. Kita perlu menyatakan apa yang ada di hati kita dengan cara yang konkrit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memimpin dengan cara dan ekspresi yang menghormati Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Arahkan perhatian jemaat kepada Allah dan Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sikap ekspresif dalam ibadah bersama akan muncul saat kita dengan jelas menatap dan mengenal Siapa yang kita sembah, memahami keagungan-Nya dan mengerti kasih karunia Juruselamat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Informasikan ekspresi fisik yang pantas dan batas-batasnya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbagai gerakan fisik dapat memuliakan Allah, termasuk bertepuk tangan, menyanyi, sujud menyembah, berlutut, mengangkat tangan, bersorak sorai, memainkan alat musik, menari, dan berdiri dengan sikap takjub (Mzm47:2,6; Kel12:27; Mzm95:6; 134:2; 33:1; 150:3-4; 33:8). Ekspresi lahiriah dalam ibadah dapat mencerminkan banyak hal, tetapi tidak segalanya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Bahaslah rintangan ekspresi fisik dalam ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menahan jemaat berekspresi? Mungkin ada jemaat yang takut pada apa yang dipikirkan orang lain, mungkin konsep mereka pada ibadah yang “hormat dan khidmat”, atau karena takut mengganggu konsentrasi orang lain yang sedang fokus pada Kristus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Ajukan kepedulian terhadap orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ekspresi fisik ada batasnya. Prioritas utama kita ketika beribadah bersama bukan soal ekspresi pribadi, melainkan bagaimana kita juga dapat melayani orang lain (1Kor14:12; 13:1-8). Jemaat akan belajar dan meneladani apa yang pemimpinnya percontohkan. Dalm berekspresi dan memuji Tuhan, jemaat jarang melebihi para pemimpinnya. Kita harus membantu jemaat memahami bahwa Allah pantas menerima ekspresi kasih kita yang mendalam, kuat, lagi murni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 22- Vertikal dan Horizontal&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Elemen vertikal dari ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah memilih kita sebelum dunia dijadikan karena Ia mengasihi kita. Bukan supaya kita terus menerus fokus pada diri sendiri, tetapi supaya kita memuji kasih dan kemuliaan-Nya (Ef1:3-6). Ketika kita menyembah Allah, kita ikut melakukan aktivitas yang sudah dimulai sejak kekekalan dan yang akan berlanjut selamanya.&lt;br /&gt;Ibadah adalah tentang Allah dan bagi Allah. Kita keliru kalau mengira ibadah yang berkenan itu bergantung pada upaya, ketulusan atau persembahan kita. Tuhan menghendaki kita menyembah Dia bukan karena ada kekurangan pada diri-Nya, tetapi karena ada kekurangan pada diri kita. Kitalah yang perlu menyembah Allah, dan karena kesempurnaan moral-Nya, Allah membuat diri-Nya satu-satunya yang pantas disembah.&lt;br /&gt;Karena semua itulah, yang disebut ibadah yang alkitabiah adalah ibadah yang berfokus pada Allah (Allah jelas terlihat), berpusat pada Allah (Allah jelas menjadi prioritas), dan mengagungkan Allah (Allah jelas dihormati).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Elemen horizontal dari ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita sedang berkumpul bersama, kita tidak beribadah sendiri-sendiri, seakan-akan terlepas satu sama lain (Ibr10:24-25; 1Kor14:26; Ef5:19; Kol3:16). Persekutuan ini saling membangun. Kita bisa mengaplikasikannya dengan bersama belajar kebenaran firman Tuhan, mengambil waktu secara khusus mendoakan jemaat dalam pergumulan yang sedang dihadapi, memberi kesempatan bagi jemaat untuk bersaksi, memberi apresiasi kepada jemaat.&lt;br /&gt;Namun, hati-hati kalau pertemuan ibadah menjadi sesuatu yang hanya berpusat pada apa yang kita lakukan satu sama lain, memenuhi kebutuhan orang-orang, dan memastikan semua orang senang. Arahkanlah perhatian orang-orang pada anugerah Allah, supaya Allahlah yang disembah, dan umat-Nya mengalami pertumbuhan rohani bagi kemulian-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 23 – Yang Direncanakan dan yang Spontan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Adalah bijak untuk membiasakan diri membuat rencana detail tentang ibadah yang akan kita lakukan. Petunjuk yang diberikan Roh Kudus seringkali datang sebelum pertemuan ibadah dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang tidak boleh dilakukan dengan adanya perencanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Perencanaan tidak boleh mengambil tempat kebergantungan kepada Roh Kudus&lt;/span&gt;. Tetaplah berdoa.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perencanaan tidak boleh menggantikan kebutuhan kita mendengarkan Roh Kudus saat ibadah sedang berlangsung. &lt;/span&gt;Kita tetap mengantisipasi bahwa Tuhan mungkin saja memberi petunjuk lainnya ketika ibadah sedang berlangsung&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perencanaan juga tidak dapat menjamin segalanya akan berjalan dengan baik dan benar.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang boleh dilakukan dengan adanya perencanaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membuat rencana dapat menyadarkan kita bahwa kita betul-betul memerlukan Tuhan sebelum mengadakan dan memulai ibadah&lt;/span&gt;. Jemaat datang dengan berbagai masalah. Tapi, kita mempunyai firman Tuhan untuk disampaikan, lagu yang akan dinyanyikan, waktu yang terbatas untuk membantu jemaat melihat Tuhan lebih besar daripada masalah mereka, bahwa Yesus Kristus adalah Juruselamat yang luar biasa.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membuat rencana dapat menuntun kita untuk memperjelas tujuan yang akan kita capai dan bagaimana mencapainya&lt;/span&gt;. Membuat rencana membantu para pelayan untuk menyiapkan kontribusinya masing-masing dan secara tim, menggunakan gaya musik yang berbeda, memperkaya keragaman, dan menggunakan firman Tuhan dengan lebih konsisten selagi menyanyi bersama.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam perencanaan, kita juga dapat mempersiapkan orang-orang yang hendak bersaksi.&lt;/span&gt; Kesaksian tertulis masih dapat disempurnakan, menjadi lebih jelas dan lebih mantap. Hal ini juga dapat meredakan kecemasan, fokus pada tema, dan lebih mungkin menepati waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Manfaat spontanitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Spontanitas memberi kita kemerdekaan untuk merespons kebutuhan yang ada saat itu juga, dan merespons pimpinan Roh Kudus yang aktif, selagi kita memimpin.&lt;br /&gt;Beberapa hal yang perlu diingat untuk bertumbuh dalam spontanitas:&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jangan merencanakan terlalu banyak hal untuk dilakukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Latihlah spontanitas musikal anda sendirian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;• Latihlah spontanitas dengan tim anda&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Roh Kudus dapat memakai kita dengan cara yang kuat ketika kita memainkan lagu yang sudah kita kuasai lewat latihan berjam-jam, berbulan-bulan. Tetapi kemampuan untuk bermain musik secara spontan memungkinkan kita menanggapi, kapan pun Roh Kudus memberi arahan kepada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 24 – Yang Dari Zaman Dulu dan yang Relevan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menimba manfaat dari zaman dulu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Himne-himne masa silam yang kita nyanyikan pada zaman sekarang sudah teruji dari abad ke abad. Teologinya mantap, syair yang teramat indah, dan kasih kepada Tuhan yang teramat sangat dalam. Bentuk liturgi masa lalu juga memberi banyak manfaat. Liturgi yang diulang-ulang, yang didasarkan pada Alkitab dapat membantu jemaat ingat akan kisah penebusan setiap kali mereka berhimpun. Sepanjang sejarah, liturgi sudah membantu menjaga asupan teologis jemaat dan melindungi mereka dari bahaya doktrin sesat yang gencar menyerang setiap generasi. Liturgi yang baik dapat pula menjaga jemaat sehingga mereka tidak menjadi sama dengan budaya yang mencampur baur iman.&lt;br /&gt;Terkait tegangan yang sehat ini, memang selalu ada keburukannya kalau kita terlalu berfokus pada satu tiang saja. Pelaksanaan tradisi religius yang terlalu berlebihan akan melahirkan ortodoksi yang mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pentingnya relevansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita hendak memberitakan Injil yang tidak berubah itu dengan cara yang dapat dimengerti oleh budaya kita sekarang –cara yang memudahkan orang-orang untuk melihat siapa Yesus Kristus dan bagaimana Dia sudah mengubahkan hidup kita.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal yang bisa kita aplikasikan terkait relevansi:&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Hendaknya kita tidak menggunakan bait-bait himne yang syairnya tidak jelas&lt;/span&gt;. Apakah lirik yang kita nyanyikan terdengar bagai bahasa asing di telinga jemaat?&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kita bisa menggunakan visual/ teknologi yang relevan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang penting, setiap gereja perlu memastikan bahwa kisah nyata tentang penebusan yang dilakukan Allah dapat dimengerti dengan mudah dan dialami oleh orang-orang yang hendak dijangkau dengan Injil, sesuai dengan daerahnya, cirinya, dan kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bahayanya mengejar relevansi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Media, perkembangan teknologi, dapat berdampak buruk, bahkan mempersuram pesan yang sedang disampaikan. Menggunakan tampilan video secara berlebihan dapat mengurangi dampak firman Tuhan dan memancing keinginan untuk lebih banyak lagi melihat tampilan visual.&lt;br /&gt;Ketika kita sedang mengevaluasi cara-cara untuk menjadi relevan, kita perlu berfokus pada basis teologi bagi tindakan kita (Kebenaran alkitabiah apa yang hendak kita komunikasikan dengan lebih jelas melalui perubahan ini?). Kita juga perlu cermat memeriksa motif-motif kita (Apakah kita cuma ingin dipandang paling modern?). Kita juga perlu realistis dalam mengantisipasi akibatnya (Apa yang perlu kita hentikan supaya kita dapat mulai melakukan suatu hal?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mana yang perlu didahulukan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Budaya berubah, gaya dan bentuk berubah, tradisi berubah, waktu berubah. Allah tetap sama. Melalui kepemimpinan yang bijak dan keteladanan yang terus menerus kita berikan, marilah melatih jemaat menimba manfaat dari “warisan” generasi masa silam, sekaligus berupaya terus menyuarakan Injil yang kekal dengan cara yang dapat dipahami oleh budaya kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 25 – Terampil dan Tulus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Semua keterampilan bermain musik di seluruh dunia tidak dapat dijadikan pengganti hati yang dengan setulusnya menyembah Allah. Tetapi, gereja yang meremehkan pentingnya keterampilan akan cenderung menjadi sentimental belaka, lamban, menjurus ke sikap malas, dan menyombongkan ketulusannya. Allah menghendaki kita mengejar keduanya –keahlian dan hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dapatkah kecakapan menjadi sesuatu yang berlebihan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita beribadah kepada Allah dengan cakap, kita mempersembahkan apa yang  terbaik (Kel23:19a; Bil18:29-30). Namun bila kecakapan dan excellence diutamakan secara ekstrim, hal itu dapat menjurus ke arah arogansi, formalisme, dan ibadah yang mengedepankan seni semata-mata. Dalam ibadah bersama, excellence mempunyai tujuan memfokuskan perhatian jemaat pada atribut dan perbuatan Allah yang luar biasa. Kita bermain musik atau memimpin pujian sebaik mungkin supaya kita dapat melayani orang lain dengan lebih efektif, membangun jemaat, dan ini kita lakukan bagi kemuliaan Allah, tidak semata-mata untuk membangun standar tertentu. Standar yang paling minim ialah memainkan musik/ memimpin pujian dengan cukup baik sehinnga tidak mengganggu konsentrasi jemaat yang sedang kita layani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memimpin atau menyembah Tuhan –Apakah ini pertanyaan anda?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa secara efektif memimpin jemaat dalam ibadah, bersamaan dengan itu menyembah Tuhan. Semakin kita cakap memimpin, semakin mudah bagi kita untuk menyembah Tuhan (tanpa dipusingkan lagi dengan hal-hal teknis) melalui lagu-lagu yang sedang dinyanyikan, dan jemaat akan melihat serta merayakan supremasi Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kualitas atau kuantitas?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dengan berkembangnya persekutuan, jumlah orang yang ingin melayani pun akan semakin bertambah. Ada lebih terampil, ada yang lebih tulus, ada yang terampil dan tulus. Yang pertama-tama perlu dilakukan adalah memohon Tuhan memberi kita hikmat dan kasih karunia, untuk menempatkan orang yang tepat pada tempat yang tepat, sesuai karunianya (Rom12:3-8). Tanggung jawab kita yang pertama bukanlah untuk membuat seseorang senang, melainkan melayani jemaat dengan karunia-karunia yang sudah Allah berikan di dalam persekutuan, untuk membangun jemaat, bukan memenuhi aspirasi beberapa anggotanya.&lt;br /&gt;Seseorang yang rindu melayani belum tentu mempunyai bakat di bidang di mana ia ingin melayani. Baik sekali bila anda berkumpul dengan tim anda untuk menjelaskan syarat-syarat keanggotaan. Paling sedikit, syarat itu harus mencakup kesalehan, kecakapan musikal, dan kemampuan untuk berekspresi secara alamiah. Memang ini bukan pekerjaan mudah. Keanggotaan tim musik pun bisa berganti seiring berkembangnya bakat jemaat. Menjadi anggota tim musik merupakan kesempatan untuk melayani bukan suatu hak untuk dipertahankan. Kita dipanggil untuk mengembangkan bakat yang Tuhan berikan, bukan untuk mengungguli orang lain. Kita bisa saja menyatukan para musisi yang kurang berbakat dengan yang lebih berbakat untuk jadwal tertentu, bahkan mendorong para musisi terbaik untuk berkumpul dengan yang kurang berbakat di luar jadwal latihan, untuk saling belajar.&lt;br /&gt;Hendaknya kita tidak mengkompromikan keterampilan ataupun ketulusan dalam ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 26 – Bagi Jemaat dan Orang yang Belum Percaya&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memahami identitas komunitas penyembah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Prioritas kita yang utama dalam ibadah ialah menguatkan jemaat. Allah tidak menghendaki jemaat yang kita pimpin setiap ibadah tetap tidak dewasa alias kerdil. Ia menghendaki mereka dalam segala hal bertumbuh dalm Kristus. Pasalnya, kedewasaan itu dapat terhambat kalau kita memusatkan perhatian utama pada orang-orang baru, atau pada orang-orang yang belum percaya.&lt;br /&gt;Pertumbuhan gereja berarti bertumbuh dalam pemahamannya akan Injil, bertumbuh dalam kesalehannya, bertumbuh dalam keikutsertaannya melayani, bertumbuh dalam kerinduannya emnjangkau orang-orang terhilang. Jadi, bukan hanya bertumbuh secara kuantitas. Pertumbuhan seperti itu harus lebih diutamakan daripada mengadakan acara ibadah yang maksudnya hanya untuk mengumpulkan sebanyak mungkin orang. Dampaknya terhadap dunia pun akan lebih besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Memperhatikan orang-orang yang belum percaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dirasakan orang-orang yang belum percaya ketika mereka hadir dalam ibadah kita? Apakah mereka bingung oleh “kekristenan” kita? Tidak akan datang lagi karena merasa asing? Merasakan kesombongan rohani pada diri kita? Memang ada bahayanya kalau kita lupa adanya orang-orang yang belum percaya yang hadir di tengah-tengah kita; mereka mudah kebingungan. Apakah itu mengangkat tangan, liturgi formal, tradisi non verbal, kita perlu memandangnya dari kacamata orang-orang yang belum percaya. Kita bisa berbicara dengan lebih sederhana, dan perlu menjelaskan istilah atau kata-kata Kristen yang sudah umum (tanpa menggantinya dengan istilah lain yang merendahkan maknanya).&lt;br /&gt;Banyak gereja/ persekutuan mengadakan survei untuk membuat strategi dan ibadah yang mencerminkan keinginan orang-orang yang belum percaya. Namun masalahnya, orang-orang yang belum percaya tahu apa yang mereka inginkan, tetapi tidak tahu kebutuhannya untuk diperdamaikan dengan Allah. Kebutuhan itu harusnya dapat disadari dalam ibadah yang jemaatnya mengagungkan Kristus –dan yang mempedulikan siapa yang hadir bersama mereka.&lt;br /&gt;Ada beberapa hal positif yang dapat dilihat orang-orang yang belum percaya dalam ibadah kita:&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Semangat yang tulus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita beribadah, orang-orang yang belum percaya harusnya melihat kita yang terkagum-kagum oleh kebaikan dan rahmat Allah. Bukan karena direkayasa, tetapi karena anugerah Allah saja yang sangat dalam mempengaruhi kita. Kita berkumpul tidak hanya untuk berbicara tentang Allah; kita berjumpa dengan-Nya dan berada di hadirat-Nya.&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Kasih&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita menyambut dan menjangkau mereka dengan baik. Misalnya dengan menyapa mereka, meminta mereka berdiri sejenak, memberikan ucapan terima kasih, tepuk tangan, memberi kesempatan memperkenalkan diri, mengobrol atau makan bersama setelahnya. Kita ingin “mencengangkan” mereka dengan kasih kita.&lt;br /&gt;Bukan hanya kasih yang ditujukan untuk orang-orang yang belum percaya, tetapi kita juga harus menunjukkan kasih di antara para anggota gereja/ persekutuan (Yoh17:21). Kalau kita memberi dorongan semangat kepada jemaat untuk saling melayani, kita tidak hanya sedang menggenapi ibadah yang alkitabiah, tetapi orang-orang yang belum percaya pun akan melihatnya, lalu menjadi tertarik untuk mendekat pada Sang Juruselamat.&lt;br /&gt;•&lt;span style="font-style: italic;"&gt; Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada cara yang lebih baik untuk melayani orang-orang yang belum percaya selain membantu mereka mendengar, mengerti, dan mengalami kisah terbesar tentang penebusan yang dari Allah di dalam Yesus Kristus. Untuk itu kita harus memberitakan dan menjelaskan Injil.&lt;br /&gt;D.A.Carson menulis: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalau jemaat dibangun dengan pesona dan personalitas yang memukau saja...tetapi tidak ada pemberitaan terus menerus yang penuh semangat tentang ‘Yesus Kristus yang disalibkan’, maka yang akan bergabung dengan kita hanyalah orang-orang yang hanya menjadi penganut saja, bukan petobat-petobat sungguhan”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 27 – Yang Khusus dan yang Sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beribadah kepada Tuhan dengan seluruh kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Meski ada beberapa kata bahasa Yunani dalam PB yang diterjemahkan menjadi “penyembahan”, tidak ada satu pun yang mengandung arti “menyanyi”. Kebanyakan dari kata bahasa Ibrani (PL) yang diterjemahkan penyembahan (ibadah) mengacu pada gerakan, sikap, dan perbuatan yang dapat terjadi kapan saja, dengan atau tanpa menyanyi. Jadi apa artinya beribadah kepada Tuhan (menyembah Tuhan) sepanjang waktu? Artinya melakukan segala sesuatu untuk menarik perhatian orang-orang terhadap kebesaran dan kebaikan Tuhan, melakukan apa yang Tuhan perintahkan, tidak melakukan apa yang dilarang oleh-Nya (band.Rom12:1; 1Kor10:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beribadah dengan jemaat yang berkumpul bersama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau kita beribadah kepada Tuhan sepanjang hari dan setiap hari, seberapa pentingkah kita berkumpul sebagai jemaat untuk beribadah bersama? Sangat penting!&lt;br /&gt;Orang-orang Kristen abad pertama hampir selalu terlihat sedang beribadah bersama, menginjil, berdoa, menyanyi dan menempuh kehidupan ini bersama-sama. Di PL juga, yang disoroti adalah umat Allah, bukan individu secara perseorangan.&lt;br /&gt;Ada beberapa sebab mengapa kita berkumpul setiap minggu sebagai jemaat:&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita memerlukan dorongan semangat dan dukungan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memang benar, kita dapat mempelajari Alkitab, membaca buku-buku Kristen, menyanyikan lagu-lagu rohani, berdoa, dengan Tuhan secara pribadi di rumah masing-masing. Itu harus kita lakukan. Tetapi kita mudah terperdaya oleh hati kita sendiri yang sudah tercemar dosa. Seseorang tidak mungkin dapat bertumbuh dalam kesalehannya dan sepenuhnya mengalami kasih karunia kalau mereka hidup terpisah dari jemaat.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Allah lebih dimuliakan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan Allah memang tidak pernah bertambah ataupun berkurang. Namun seperti Donald Whitney menjelaskan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ketika sebuah tim sepakbola menang dalam pertandingan, kemuliaan yang diterimanya akan lebih besar bila pertandingan itu disiarkan di seluruh negeri, di hadapan jutaan pemirsa, daripada kalau pertandingan hanya ditonton oleh anda seorang diri lewat saluran TV closed-circuit... Kemuliaan di hadapan publik membawa kemuliaan yang lebih besar daripada kemuliaan di hadapan satu orang. Demikian juga, Allah mendapat lebih banyak kemuliaan ketika anda beribadah kepada-Nya bersama jemaat daripada seorang diri”&lt;/span&gt;. Namun sekali lagi, ibadah bersama tidak dapat menggantikan pengabdian pribadi yang memuliakan Tuhan. Tanpa dibarengi perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara pribadi, ibadah bersama hanya akan menjadi sesuatu yang dangkal dan munafik. Tapi kalau kita berkumpul bersama untuk memasyhurkan besarnya kebajikan Tuhan (Mzm145:7), lebih banyak orang akan melihat bahwa Allah pantas dipuji.&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita menerima pengajaran dan bimbingan dari pendeta –gembala sidang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pendeta mengemban tanggung jawab untuk memimpin, membimbing, menjaga dan memberi makanan rohani kepada umat Allah (1Pet5:2; Kis20:28).&lt;br /&gt;• &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita diingatkan bahwa kita sudah dipisahkan dari dunia dan dipersatukan bersama-sama dengan Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berkumpul bersama merupakan wujud nyata dari keadaan kita yang berbeda dari dunia, tanda kesatuan kita dalam Injil yang telah memperdamaikan kita satu sama lain, yang memampukan kita saling mengasihi dan mengampuni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyatukan yang khusus dan yang sehari-hari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sesudah menyanyikan lagu-lagu dalam ibadah, berdoalah agar kebenaran yang sudah dilantunkan dalam lagu-lagu (dan juga pemberitaan firman) akan nyata dalam kehidupan jemaat sehari-hari.&lt;br /&gt;Hari Minggu bisa menjadi titik puncak dari satu pekan, tetapi setiap hari sepanjang satu pekan kita dapat menempuh kehidupan yang beribadah, menyembah Tuhan dalam relasi dan pekerjaan sehari-hari; kita menjadi jemaat yang sedang beribadah meski tidak sedang berkumpul di satu tempat. Tetapi kita perlu dikuatkan, diberi dorongan semangat oleh firman Tuhan, dan dukungan saudara seiman; kita menjadi jemaat yang beribadah dan berkumpul di satu tempat.&lt;br /&gt;Secara individu dan bersama-sama, kita menyadari tujuan kita diciptakan: mengagungkan kebesaran Allah dalam Yesus Kristus melalui kuasa Roh Kudus.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-1658237300426555033?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/1658237300426555033/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-3.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1658237300426555033'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1658237300426555033'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-3.html' title='Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 3'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-1346161826417798904</id><published>2011-05-18T17:59:00.006+07:00</published><updated>2011-06-08T17:50:56.673+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 2</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAGIAN 2: PEKERJAAN PELAYANAN SEORANG PEMIMPIN IBADAH&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 6 – Jadi, Apa yang Dilakukan Seorang Pemimpin Ibadah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;Seorang pemimpin ibadah sebetulnya hanyalah bagian dari jajaran kepemimpinan musik dalam gereja. Para singer, paduan suara, pemain musik, semua memainkan perannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Beberapa pertanyaan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepenting apakah seorang pemimpin ibadah? Apa yang seharusnya dilakukannya?&lt;br /&gt;Siapapun yang mendorong orang lain menyembah dan memuji Tuhan dapat saja disebut pemimpin ibadah. Ibadah dapat mengikutsertakan musik, tetapi dapat juga dilakukan tanpa musik. Aspek-aspek peranan seorang pemimpin ibadah dapat disimpulkan dari Alkitab, tidak ada persyaratan supaya kita mempunyai seorang pemimpin ibadah. Seorang pendeta atau sebuah tim dapat melayani bersama untuk tujuan itu. (1Taw16:1-7; Ibr9:23-28; Yoh4:23-24; Ibr10:19-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menggunakan situasi secara maksimal&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mereka yang memimpin ibadah jemaat mempunyai kesempatan besar setiap minggu untuk mengajar, melatih, dan mendorong umat Allah memuji Dia dengan benar dan hidup bagi kemuliaan-Nya. Satu definisi lengkap untuk pemimpin ibadah: setia –meninggikan kebesaran Allah –dalam Yesus Kristus –melalui kuasa Roh Kudus –dengan memadukan firman Allah –dan musik secara terampil –sehingga memotivasi jemaat –untuk mewartakan Injil –menikmati kehadiran Tuhan –dan hidup bagi kemuliaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 7 – Pemimpin Ibadah yang Setia&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kita dipanggil Tuhan bukan untuk menjadi populer. Kita dipanggil untuk setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Panggilan untuk setia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kesetiaan berarti tekun melakukan pekerjaan pelayanan, memegang perkataan, memenuhi tanggung jawab. Ini juga berarti loyal, konstan, dapat diandalkan. (1Kor4:1-2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Godaan yang potensial&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu godaan yang dapat membuat kita tidak setia dan tidak dapat dipercaya adalah popularitas. Kita tergoda untuk menilai keberhasilan pelayanan dengan angka, misalnya berapa orang yang hadir di ibadah kita. Jumlah orang yang lebih banyak tidak selalu berarti bahwa kita menyenangkan hati Tuhan.&lt;br /&gt;Kita juga terbias dengan “mentalitas konser” dalam ibadah. Ingat bahwa kita tidak bermaksud merangsang jemaat secara emosi tanpa mempedulikan sumbernya. Tujuan kita sebagai pemimpin ibadah berbeda, dan jauh lebih signifikan dari tujuan konser manapun. Kita melayani supaya jemaat terpesona oleh kemuliaan Sang Juruselamat yang melampaui keadaan sekeliling dan melebihi teknologi tercanggih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Setia memimpin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memimpin jemaat menyembah Tuhan memerlukan energi, kesungguhan, dan kepekaan. Walaupun kita tidak tahu pasti respon jemaat dalam beribadah, tapi kita akan menuai apa yang kita tabur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Buah kepemimpinan yang setia&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kepemimpinan yang setia tidak selalu mendatangkan pujian, tepuk tangan atau penghargaan. Terkadang kita malah menerima kritik karena melakukan halyang alkitabiah. Buah sejati dari kepemimpinan yang setia adalah mengetahui bahwa kita menyenangkan Dia. Kita bersukacita bukan karena sudah memimpin ibadah dengan sempurna atau mendapat kepuasan pribadi, popularitas. Suatu saat kita akan mendengar, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia” (Mat25:21,23). Itulah upah terbesar, lebih besar daripada yang dapat diberikan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 8 – Mengagungkan Kebesaran Allah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mengagungkan dan menghayati kebesaran Allah adalah inti dari ibadah yang alkitabiah (Mzm145:3; 34:4). Pemimpin ibadah bertugas mengingatkan orang-orang bahwa Allah lebih besar daripada masalah dan sukacita mereka, daripada kesedihan dan kesuksesan mereka, daripada pencobaan dan kemenangan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pimpinlah secara jelas dan spesifik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Manusia cenderung lupa mengapa Tuhan amat sangat layak disembah. Kita dipanggil untuk mengingatkan mereka dengan jelas dan spesifik, apa yang sudah dinyatakan Tuhan tentang diri-Nya. Seharusnya lagu-lagu dapat dengan akurat berbicara tentang Tuhan dan memuji satu-satunya Tuhan yang sudah menyatakan diri-Nya dalam Pribadi Sang Juruselamat, Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menyelami kebesaran Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanapun kita mengurus lampu, video, sound system, multimedia, tujuan kita yang utama bukan menampilkan gambar terbaik, aransemen yang paling menggairahkan, atau perlengkapan tercanggih. Kita ingin jemaat pulang dengan perasaan kagum bahwa Allah mau berbicara kepada mereka; kita menghendaki mereka dikuatkan oleh janji-janji Tuhan, ditantang oleh perintah-perintah-Nya, dan bersyukur atas berkat-berkat-Nya. Kita ingin mereka menatap keagungan Allah di dalam firman-Nya. (Mzm 56:11-12; 19:8-10; 119; 145:8-9; 117; 21;14; 99:3).&lt;br /&gt;Sesungguhnya ibadah merupakan undangan dari Allah Tritunggal agar kita mengambil bagian dalam persekutuan dan sukacita yang telah disediakan-Nya dari kekekalan sebelum dunia diciptakan. Kita dipilih untuk bergabung dengan-Nya, menyatakan keagungan, kesempurnaan, dan keindahan-Nya yang tiada terbatas. Jadi, bagaimana mungkin seseorang berpikir bahwa menyembah Tuhan adalah hal yang membosankan? Kekudusan, kemuliaan, dan kedaulatan-Nya tidak terbatas. Kebenaran, hikmat, dan kekayaan-Nya tak habis-habisnya. Ia sumber segala sesuatu yang baik dan indah. (Rom11:33-36; Mzm105:2).&lt;br /&gt;Salah satu masalah yang kita hadapi: seringkali kita lebih tertarik dengan apa yang kita lakukan daripada apa yang sudah Tuhan kerjakan. Maka ibadah jemaat harusnya menolong kita disegarkan oleh apa yang sudah Tuhan lakukan bagi kita. Kitab Mazmur secara rinci memuji pekerjaan Allah yang luar biasa. Lagu-lagu kita pun seharusnya demikian.&lt;br /&gt;Pekerjaan Allah terbesar ialah mengaruniakan Anak-Nya di Kalvari. Hanya melalui pengorbanan Yesus yang sempurna di kayu salib, kita dapat menghampiri Allah (Ibr10:19-22).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mencintai kebesaran Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keterlibatan hati dalam beribadah membangkitkan perasaan, emosi, dan kasih di hati. Ketika perasaan kita terhadap Allah mati, ibadah itu sendiri mati (John Piper). Mungkin kita sering merasa sebagai orang munafik ketika sedang menyanyikan kalimat seperti: “Aku mengasihi-Mu”, “Aku akan setia mengikut-Mu”, “Hanya Kau yang kusembah”, “Kuserahkan segalanya”, dst. Tapi ekspresi-ekspresi seperti ini dapat menolong kita menyelaraskan hati ini dengan pekerjaan Tuhan di dalam kita melalui kebenaran Injil, terutama ketika kita sadar betapa kita memerlukan Roh Tuhan untuk melaksanakan komitmen-komitmen itu.&lt;br /&gt;Mengagungkan kebesaran Allah melibatkan pengungkapan iman kepercayaan kita dan kasih yang mendalam kepada Tuhan. Tanggung jawab kita sebagai pemimpin ibadah ialah memastikan bahwa melalui kebenaran Alkitabiah dan kasih yang kuat kepada-Nya, jemaat diberi kesempatan untuk mengagungkan Allah dan berjumpa dengan Dia yang mahabesar dan mahatinggi. (Mzm31:24; 100:2; 18:2; 34:2,9; 63:2,5; 84:3; 77:8-10; 62:9; Flp4:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 9 – Di Dalam Yesus Kristus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Ibadah kristiani adalah ibadah dalam perjanjian yang baru –ibadah yang teinspirasi Injil, ibadah yang berpusat pada Kristus; ibadah yang berfokus pada salib (D.A.Carson).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Yesus Pengantara kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kebanyakan orang belum begitu menyadari bahwa mereka memerlukan seorang Pengantara dalam berhubungan dengan Allah. Sebabnya ialah karena kita memandang remeh dosa-dosa kita. Kita tidak memandangnya di bawah terang kemuliaan, kekudusan, dan keadilan Allah. Yesus menjadi Pengantara ketika Ia dengan rela menanggung murka Allah di kayu salib terhadap semua dosa kita, padahal Ia sama sekali tidak berdosa. (1Pet3:18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa makna salib begitu penting dalam ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Injil adalah tema inti yang merupakan fondasi ibadah itu sendiri. Keseluruhan ibadah berawal dan berfokus pada salib Yesus (1Kor2:2; 1Kor15:3-4; 1Pet2:24; 1Yoh4:10). Makna Kristus bagi kita sama dengan makna salib... Segala hal yang dapat kita pahami tentang Kristus, siapa Ia di surga ataupun di dunia, dinyatakan melalui pengorbanan-Nya di kayu salib... Anda tidak akan bisa mengerti Kristus sampai anda mengerti salib-Nya (P.T.Forsyth).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagi jalan masuk kepada Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada pemimpin ibadah, pendeta, band, atau lagu apapun yang dapat mendekatkan kita kepada Allah. Sorak sorai, tarian, nubuat, bahkan ibadah itu sendiri tidak dapat membawa kita ke hadirat Allah. Hanya Yesus yang dapat melakukannya, dan Ia telah melakukannya melalui pengorbanan-Nya, yang perlu kita beritakan dan percayai setiap saat. (Ef3:12; Im16:2; Ibr10:19-22).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ibadah yang berkenan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya Allah dapat menolak ibadah kita karena berbagai sebab. Dengan gamblang Ia mengecam praktik ibadah yang berkaitan dengan penyembahan berhala, ketidakpercayaan, ketidaktaatan, dan motif yang jahat (Yer13:10; 7:21-26; Kel30:9; 32:22-27). Makin sadarlah kita bahwa bila dilakukan dari diri kita sendiri, persembahan ibadah yang kita lakukan tidak akan pernah menyenangkan Tuhan. Sekuat apapun kita berusaha, hati dan ibadah kita akan selalu bercela pada pandangan Tuhan. Satu-satunya faktor utama yang membuat ibadah berkenan adalah iman dan persekutuan dengan Yesus Kristus. Mungkin seringkali kita “merasa” diterima Allah ketika beribadah. Namun jika perasaann tersebut bukan sesuatu yang timbul dari Injil, maka perasaan itu hanya sensasi belaka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bagi kemuliaan Allah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan Allah dinyatakan paling jelas melalui karya Kristus di kayu salib. (Flp2:6-11)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Untuk berpartisipasi dalam ibadah surgawi. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karya Kristus di kayu salib adalah fokus ibadah di surga (Why5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana bermegah dalam salib Kristus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salib menunjuk pada besarnya dosa kita. Salib membebaskan kita dari terhadap diri sendiri yang cenderung menyesatkan, sehingga kita dapat sepenuhnya mengasihi Dia yang sudah menebus kita. Maka, apakah waktu yang kita khususkan bersama untuk beribadah memperkuat pandangan jemaat, memperdalam iman, dan meningkatkan kerinduan akan kemuliaan Allah dalam Kristus, dan pada Dia yang disalibkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 10 – Melalui Kuasa Roh Kudus&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Gereja dapat saja setia mengagungkan kebesaran Allah dalam Kristus, namun gagal mempercontohkan kehidupan yang ditopang oleh kuasa dan semangat yang lahir dari kekuatan Injil. Mengapa? Penyebabnya sudah umum: kita berusaha menyembah Allah di luar Roh Kudus. Kita percaya pada hikmat, rencana, kreativitas dan kecakapan kita sendiri. Kita lupa bahwa menyembah Allah Tritunggal melibatkan Roh Kudus. (Ef2:18; Gal5:25; 1Kor2:12).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sikap kita terhadap peranan Roh Kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Bergantung penuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita lemah, dan perlu pimpinan Roh Kudus setiap kali kita melangkah untuk memimpin. Keinginan daging berperang melawan di dalam hati (1Pet2:11; 1Yoh2:15-17; 1Pet5:8; Ef6:18; Yud20; Rom8:26). Roh Kudus menolong di tengah kelemahan kita. Doa adalah salah satu cara untuk menyatakan betapa kita bergantung penuh kepada Tuhan. Berapa banyak kita berdoa? Mengakui kebergantungan penuh kepada Roh Kudus seharusnya membuahkan rasa syukur, kerendahan hati, dan kedamaian. Kebergantungan ini seharusnya membebaskan kita dari kecemasan tentang apakah ibadah akan berlangsung dengan lancar, perlengkapan akan berfungsi dengan baik, respon jemaat terhadap kita, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Berharap penuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah masih dapat melakukan apa yang dilakukan-Nya dari zaman dulu. Ia masih bekerja; Ia masih bertindak; Ia tidak berubah. Tetapi apakah kita sungguh percaya? Secara teori mungkin. Seringkali fokus kita lebih tertuju pada rencana yang kita buat, bukannya menantikan Allah bekerja melalui Roh-Nya. &lt;/span&gt;Kita lebih takut kalau listrik mati ketika ibadah, daripada ibadah yang mati tanpa Roh Kudus. &lt;span class="fullpost"&gt;Kita menyanyikan lagu-lagu tanpa memikirkan apa yang hendak Roh Kudus lakukan selagi kita menyanyi. Allah tidak selalu menyatakan kuasa-Nya secara spektakuler dalam ibadah. Namun kita dapat berharap agar Ia menyatakan kuasa-Nya dengan cara tertentu. Kapan terakhir kali ada orang yang datang ke ibadah yang anda pimpin dan ia disadarkan sedemikian rupa akan dosanya dan mengalami pertobatan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sikap tanggap yang disertai kerendahan hati.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita menyadari kuasa Roh Kudus, kita harus bersikap rendah hati dan tanggap terhadap apa yang sedang dilakukan-Nya. Kita harus peka, terhadap apa yang Roh Kudus “katakan” pada kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Fokus yang benar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hendaknya kita tidak membatasi pekerjaan Roh Kudus seakan-akan Ia hanya bekerja dalam karunia-karunia tertentu. Dengan anugerah Tuhan, kiranya jemaat menyadari bahwa Roh Allah benar-benar ada di antara kita –bekerja dengan aktif, mencurahkan kuasa-Nya, memberi dorongan semangat, menegur dan menyadarkan –demi kebaikan gereja Tuhan, dan demi kemuliaan Sang Juruselamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 11 – Terampil Memadukan Firman Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Keseluruhan persekutuan adalah ibadah ; seluruhnya perlu dipenuhi dengan firman Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengapa ibadah harus berfokus pada firman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita dapat berbicara kepda Allah, terlebih dahulu Ia harus berbicara kepada kita. Sebelum kita dapat mempersembahkan diri kepada-Nya dalam ibadah yang berkenan di hati-Nya, terlebih dahulu Ia harus menyatakan kepada kita siapa diri-Nya. Ibadah kepada Tuhan selalu merupakan respon terhadap firman Tuhan. Alkitab mengarahkan dan memperkaya ibadah kita (John Stott). Lih.Ul4:2-12; Neh8:9; Mat15:3-9; Luk24:27; Kis2:42; 1Tim4:13; Kol3:16.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana supaya ibadah kita terfokus pada firman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menghargai firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita menghargai dan menjunjung firman Allah, orang lain akan menyadarinya. Orang yang berkunjung ke ibadah kita tidak akan mendapat kesan bahwa Alkitab hanyalah bagian tambahan atau sekadar buku referensi. Mereka akan mendengarnya melalui suara anda dan melihat di mata anda bahwa firman Allah adalah sukacita anda.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyanyikan firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita memerlukan lagu-lagu yang liriknya memuat teologi yang penting, berbobot dan alkitabiah. Penggunaan lagu-lagu pujian yang dangkal dan subjektif cenderung menghasilkan orang Kristen yang dangkal dan subjektif pula. Kata-kata yang kita nyanyikan harusnya lugas, jelas, tidak kabur, dan bukan tafsiran pribadi. Roh Tuhan hendak menerangi pikiran kita ketika kita sedang menyanyi. Jangan sampai kita menghalangi proses tersebut melalui lagu-lagu yang kita nyanyikan. Kalau anda sendiri tidak memahami arti tiap baris lagu yang anda nyanyikan, jangan-jangan jemaat pun tidak memahaminya.&lt;br /&gt;Sebagai pemimpin ibadah, kita dapat menambahkan komentar pendek di sela-sela liriknya, memberikan kata pengantar lagu, atau menambahkan lagu lain untuk menyempurnakan pesan lagu itu. Nyanyikanlah firman Allah. Syair lebih penting daripada musik. Kebenaran firman Tuhan lebih penting daripada lagu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Membaca firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Fenomenanya justru pembacaan Alkitab jarang dilakukan di hadapan jemaat. Allah memerintahkan kita secara spesifik agar kita tekun mengadakan pembacaan Alkitab di hadapan jemaat (1Tim4:13). Ketika kita sedang mendengarkan pembacaan firman Allah, sebetulnya kita sedang mengakui bahwa kita bergantung dan tunduk pada firman-Nya. Jangan memakai Alkitab untuk sekadar mengisi kekosongan. Jemaat harus mengerti mengapa kita membaca ayat tertentu pada saat tertentu. Kita juga dapat membacakan firman Tuhan untuk mengantar lagu, di antara lagu atau bait lagu, atau secara bergantian dengan jemaat. Jemaat harus menyadari bahwa kata-kata yang dibacakan itu bukan kata-kata kita, melainkan kata-kata Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menayangkan firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa menayangkan ayat-ayat Alkitab yang relevan di layar proyektor, atau kertas acara. Semuanya itu dimaksudkan untuk menarik perhatian jemaat pada firman-Nya, bukan pada kreativitas kita.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mendoakan firman Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita juga bisa berdoa dengan menggunakan ayat-ayat Alkitab. Doa anda akan mencerminkan adanya iman yang semakin kuat, dan jemaat akan memperoleh manfaat dari teladan anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 12 – Dengan Musik (Bagian I: Macam Apa?)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Musik dapat menipu. Tersentuh secara emosi oleh musik dan benar-benar menyembah Tuhan adalah dua hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sejarah yang menyedihkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dari abad ke abad, orang-orang Kristen ramai berdebat soal musik. Kalau kita tidak memahami tujuan Allah berkenaan dengan musik dalam ibadah, kita akan cenderung menyalahgunakan musik. Lebih buruk lagi, musik dapat mencuri kemuliaan yang hendak kita tujukan bagi Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bagaimana musik membantu kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik menggugah dan mengekspresikan emosi yang memuliakan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian yang dinaikkan dengan bersemangat memungkinkan kita secara halus memadukan kebenaran tentang Allah dengan ungkapan kasih kita kepada-Nya. Doktrin terpadu dengan pengabdian, pikiran terpadu dengan hati.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik membantu kita memusatkan perhatian pada kemuliaan dan aktivitas Allah Tritunggal.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah adalah Allah yang menyanyi (Zef3:17,18; Mat26:30; Ef5:18-19). Sesuatu yang membesarkan hati kalau kita menyadari bahwa Allah memberi kita musik dengan tujuan supaya kita dapat memperdalam dan membangun hubungan dengan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik membantu kita ingat kebenaran tentang Allah. (Ul31:21).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada hal lain yang lebih penting untuk diingat selain firman Tuhan. Musik yang memancing emosi akan berlalu, tetapi firman Tuhan yang hidup dan aktif akan terus bekerja di hati kita, memperbarui pikiran dan memperkuat iman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik membantu kita mengungkapkan kesatuan dalam Injil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita bernyanyi bersama-sama dan memuliakan Allah (Ef5:19; Kol3:16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik macam apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Musik harus mendukung lirik nyanyian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jemaat memerlukan lagu-lagu yang memberi “makanan” rohani kepada mereka, bukan hanya lagu-lagu yang membuat mereka merasa nyaman.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nyanyikan lagu-lagu yang mengatakan sesuatu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata sebuah lagu harus sekuat melodi yang mengiringinya atau sekuat aransemen musik yang melatarbelakanginya. Bila anda ragu-ragu terhadap sebuah lagu, jangan anda memainkannya. Lagu dapat mengatakan sesuatu dengan cara yang berbeda-beda: lirik obyektif (membicarakan kebenaran tentang Allah), lirik subyektif (respon menghadap Allah, misalnya kasih, kerinduan, keyakinan, dll), lirik reflektif (apa yang kita lakukan ketika menyembah Tuhan).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sesuaikan aransemen dan volume&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengadakan variasi ketika bermain musik, berapa keras, dan apa yang kita mainkan, semuanya ini akan sangat mempengaruhi jemaat mendengar kata-kata lagu yang sedang dinyanyikan. Adakanlah berbagai kombinasi permainan instrumen musik, variasi volume.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Usahakan agar permainan instrumen berfungsi secara tepat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadah bukan sebuah konser di mana para penonton hanya duduk nyaman sambil mendengarkan para musisi menampilkan bakatnya. Semakin lama tim musik memainkan musik, semakin besar pula kemungkinannya jemaat terlena dan terpesona pada kecakapan para pemusik daripada kepada Yesus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Perhatikan tampilan/proyeksi lirik lagu&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gunakan musik yang mendukung&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau dilakukan dengan cara yang tepat di waktu yang tepat, maka iringan musik instrumental dapat menjadi sarana yang efektif dan dapat mendukung penyampaian kata-kata lisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik harus bervariasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tipe musik yang berbeda-beda akan menyukakan hati Tuhan. Kita baiknya menyanyikan semua macam lagu –yang pendek, yang panjang, yang cepat, yang lambat, yang lama, yang baru –dengan hati penuh rasa syukur kepada Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mencerminkan berbagai atribut Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keberagaman musik mencerminkan beragam aspek hakikat Allah. Allah mahabesar dan pengalaman manusia begitu banyak sehingga tidak mungkin satu macam musik saja dapat selalu mengekspresikan dinamika hubungan kita dengan Allah yang hidup.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mendengar kata-kata yang sudah biasa dengan cara yang baru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memainkan/ mengaransemen musik yang belum pernah kita mainkan hendaknya tidak dipersoalkan (kebanyakan lagu himne sebetulnya ditulis tanpa musik).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengenali hati Allah bagi semua orang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu menyambut semua gaya musik ibadah yang membantu gereja menghasilkan murid Kristus, selalu mencari cara baru untuk menyanyikan Injil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Musik harus membangun gereja&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Musik yang terbaik adalah musik yang memungkinkan jemaat secara tulus dan konsisten mengagungkan kebesaran Sang Juruselamat dalam hati, pikiran, dan kehendaknya. Jemaat harus dapat mendengar pesan yang disampaikan dalam sebuah lagu tanpa merasa terganggu oleh musik yang mengusung pesan itu. Pada waktu kita menyembah Tuhan, kita tidak bermaksud memuliakan kreativitas; kita hendak memuliakan Sang Pencipta! Jemaat dapat diajari menyanyikan lagu-lagu yang belum biasa mereka dengan, atau yang kompleks.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 13 – Dengan Musik (Bagian II: Menyusun Lagu)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Rencanakan dengan selektif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sewaktu memikirkan lagu yang akan kita nyanyikan, kita bisa mengkategorikannya ke dalam kategori: “jangan pakai”, “pribadi”, “bisa pakai”, “harus pakai”.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan dengan hati damai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Keyakinan kita tidak bertumpu pada lagu tertentu, tetapipada Tuhan yang penuh rahmat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan sambil berdoa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan mau kita meminta pertolongan-Nya selama persiapan. Setiap orang yang melangkah masuk ke ruang ibadah mempunyai kebutuhannya masing-masing. Mereka sedang bergumul dengan dosa tertentu; mereka mempunyai kelemahannya sendiri-sendiri dan cenderung lupa akan Injil. Kita mempunyai kesempatan yang sangat baik untuk mengarahkan mereka pada kebesaran, kebaikan, dan kasih karuniaYesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan bersama rekan-rekan sepelayanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya akan lebih baik dibanding kalau kita menyusun sendiri, karena semunya akan saling melengkapi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan menurut tema&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat dalam ibadah, kita memberi jemaat suatu arahan supaya mereka mengerti pada perkara apa mereka perlu memusatkan perhatian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan menurut konteks&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perhatikan tahap kedewasaaan rohani, keragaman suku, peristiwa khusus yang sedang terjadi, waktu yang tersedia, besar kecilnya jemaat, dan hal-hal yang sudah direncanakan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan dengan progresif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Progresif artinya sesuatu yang mengalir. Ini menunjukkan adanya keselarasan, pengembangan sebuah tema, bagian-bagian yang berbeda dari sebuah ibadah saling berhubungan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan dengan kreatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita dapat mengubah aransemen, tempo, struktur lagu, dsb dengan kreatif dan jelas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan dengan realistis&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pastikan terlebih dahulu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyanyikan lagu-lagu. Lebih baik menyanyikan lebih sedikit lagu tetapi dengan nyaman, daripada menyanyikan lebih banyak lagu dengan rusuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rencanakan jangka panjang&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Perlu untuk membuat catatan tentang lagu-lagu yang sudah pernah kita nyanyikan, yang paling sering kita pilih, yang baru kita ajarkan kepada jemaat. Ini memungkinkan kita menjadwalkan lagu yang akan kita nyanyikan lagi, menjadwalkan elemen spesial yang kreatif, lagu yang akan kita perkenalkan, dan menyajikan menu yang lebih sehat kepada jemaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 14 – Jadi Memotivasi Jemaat&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Cara yang salah untuk memotivasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Pertama, hendaknya kita tidak menuntut orang-orang menyembah Tuhan (apalagi tanpa mengutarakan sebabnya). Kedua, kita tidak  mau memotivasi orang memuji Tuhan dengan manipulasi. Ketiga, kita tidak mau membuat jemaat mengalami perasaan bersalah yang tidak pada tempatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Membantu jemaat mengadakan koneksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hanya Tuhan yang dapat menerangi hati jemaat menyembah-Nya. Namun pemimpin ibadah dapat mempermudah atau mempersulit mereka menyembah Tuhan. Untuk itu, seringkali Tuhan menggunakan sarana yang menolong pemimpin ibadah memimpin jemaat menyembah Tuhan, di antaranya: keteladanan, imbauan, dan dorongan semangat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Keteladanan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau saya sendiri sedang mengagungkan kebesaran Allah dalam Yesus Kristus, saya berada di posisi terbaik untuk memotivasi orang lain bergabung dengan saya. Apa yang sedang saya lakukan akan tercermin di wajah, suara dan ekspresi tubuh saya. Jemaat melihat, mendengar dan mengamatinya. Hal ini juga berlaku buat tim musik, maka ikutlah bernyanyi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Imbauan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa memberikan komentar yang tepat tentang sebuah lagu agar menolong jemaat fokus pada kata-kata yang sedang dinyanyikan. Sementara memimpin, kita dapat berbagi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: Mengapa ini benar? Apa bedanya? Apa yang tidak dikatakan di sini? Apa arti kata ini? Kenapa kalimat ini ditekankan? –kepada jemaat lewat kata-kata yang kita ucapkan atau nyanyikan. Halini membutuhkan pemikiran cermat dan latihan, untuk kata-kata yang singkat, tepat, dan waktu yang tepat pula.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dorongan semangat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apapun yang sedang dialami jemaat yang datang ke ibadah, tujuan kita adalah membuat mereka terkesan oleh apa yang sudah dilakukan Allah dalam Yesus Kristus, apa yang telah dijanjikan-Nya, dan apa yang dihasilkan semuanya itu dalam hidup mereka. Semakin kita mengarahkan orang-orang untuk mengetahui bahwa Tuhan sudah dan sedang bekerja di dalam hati kita (Flp2:13), akan semakin mudah mereka mengingatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Orang-orang percaya yang berkumpul (Gereja)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Dalam ibadah, Tuhan menghendaki kita melakukan lebih dari sekadar menyanyi bersama dan mengalami saat-saat indah dalam ibadah. Ia hendak merajut benang kehidupan kita menjadi satu. Patut disayangkan, kondisi ibadah yang individualistis, orang yang hanya menjadi konsumen ibadah, dan hanya memikirkan diri sendiri. Komunitas yang beribadah sejatinya terdiri atas individu-individu yang hidupnya berpusat pada Sang Juruselamat, yakni Yesus yang mereka puji dan sembah bersama-sama setiap minggu. Komunitas yang beribadah berharap untuk berada di hadirat Allah tidak hanya pada hari Minggu, tetapi juga setiap hari. (1Kor3:9; Ef2:19-22; 1Kor12:12; 1Pet2:5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 15 – Untuk Memberitakan Injil&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam ibadah, kita berbuat lebih dari sekadar berekspresi, khusuk atau semarak. Kita memberitakan mengapa Allah itu mahabesar, apa yang sudah berhasil dilakukan-Nya, apa saja janji-janji-Nya. Kita diselamatkan untuk memberitakan (1Pet2:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mengaitkan Injil dengan kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu kesempatan yang baik bagi kita untuk membantu jemaat melihat bagaimana Injil berperan dalam setiap aspek kehidupan mereka. Berikut beberapa contoh:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Injil dan dosa kita.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu memberitakan bahwa Kristus sudah mati karena dosa-dosa saya, jadi saya tidak lagi berada di bawah murka Allah. Saya tidak perlu hidup di bawah tekanan perasaan bersalah. Saya sudah diampuni. Saya dinyatakan benar di mata Allah –bukan berdasarkan perbuatan saya, tetapi berdasarkan kebenaran Kristus yang sudah diberikan-Nya pada saya. (1Kor15:3-4; Rom8:1).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Injil dan penderitaan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mungkin di antara jemaat ada yang di tengah deritanya, mungkin saja tergoda untuk meragukan kebaikan Tuhan, mempertanyakan kedaulatan-Nya dan mencurigai hikmat-Nya. Kita berkesempatan memberitakan bahwa Tuhan sedang mengerjakan rencana-Nya yang sempurna buat kita. Kasih karunia-Nya berlimpah, dan mendatangkan kebaikan. (Rom8:18-29; 2Kor4:17,18)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Injil dan pengudusan kita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita sudah dimerdekakan untuk menaati Allah dengan kuasa Roh-Nya. Mengetahui bahwa kita sudah diampuni dari dosa-dosa kita melalui Injil, hal itu juga meyakinkan kita akan rahmat Tuhan dan memotivasi kita untuk hidup taat pada perintah-perintah-Nya. (1Pet2:24; 1Kor6:20; 2Kor5:21; Tit2:13-14).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Injil dan hubungan yang terputus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau Tuhan sudah mengampuni kesalahan kita yang begitu serius itu, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengampuni mereka yang bersalah terhadap kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bersama-sama memberitakan Injil&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak hal yang dapat kita suarakan sewaktu dan sesudah beribadah bersama. Sementara kita membantu orang-orang memahami hubungan antara kasih Allah dalam Kristus dan pergumulan mereka sehari-hari, akan bertumbuhlah kasih mereka terhadap Injil. Mereka akan semakin menghargai Injil. Alhasil, muncullah komunitas yang mengalami sukacita dan berfokus pada Injil –komunitas yang memberitakan kabar baik tentang kasih karunia Allah kepada dunia. Mulailah terus mengingatkan diri sendiri akan Injil, setiap hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 16 – Untuk Menikmati Kehadiran Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menikmati kehadiran Tuhan yang dijanjikan-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan ada di mana-mana, tetapi terkadang Ia memilih untuk “melokalisasi” kehadiran-Nya. Dan Ia ada bersama kita, karena kita adalah “bait Allah”yang baru, di mana Allah berdiam (Ef2:19-22; Mat18:20). Yang membawa kita ke hadirat Allah hanya Yesus, melalui kematian dan kebangkitan-Nya. Kalau kita mengira ibadah kitalah (musik, suara, performa) yang membuat kehadiran Tuhan dekat dengan kita, maka kita akan berpikir bahwa kita patut dipuji atau berbangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kehadiran Allah yang aktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita perlu mendengarkan selagi memimpin, memasang telinga untuk mendengar, Roh Kudus mengarahkan kita untuk melakukan apa selagi kita mempedulikan umat-Nya? Entah dengan spontan, melibatkan orang lain, atau dengan persiapan sebelumnya. Nikmatilah kehadiran Allah, sampai kelak kita memuji Allah dalam kemuliaan, kemegahan dan kekekalan di surga, penggenapan segala puji-pujian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 17 – Untuk Hidup bagi Kemuliaan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan seharusnya membuat kita rendah hati. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita berjumpa dengan Tuhan, tidak ada sesuatu pun pada diri kita yang patut dibanggakan. Tidak ada yang dapat membuat kita lebih rendah hati daripada menyembah Dia di kaki salib.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan seharusnya membuat kita merasa aman.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Rasa aman kita berdiri di atas dasar kasih Tuhan yang tidak berubah, yang puncaknya dinyatakan di Kalvari.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan seharusnya membuat kita merasa berterima kasih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita memandang salib Kristus dan sungguh-sungguh menyadari bahwa sebenarnya kitalah yang seharusnya digantung di situ, sudah pasti kita akan merespon dengan rasa terima kasih yang berlimpah-limpah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan harus membuat kita hidup kudus&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semakin senang kita menyembah Dia, semakin benci kita terhadap dosa dan segala macam manifestasinya. Kita mempunyai tugas khusus untuk mengingatkan jemaat bahwa Allah sudah menebus kita supaya kita mengambil bagian dalam kekudusan-Nya, bagi kemuliaan-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan seharusnya membuat kita pengasih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengalami dan menikmati kasih karunia Allah akan membuat kita menyalurkannya juga kepada orang lain.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Menyembah Tuhan seharusnya membuat kita berjiwa bagai seorang penginjil. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bukankah kita rindu agar sebanyak mungkin orang mengalami sukacita karena mengenal Dia? Kita memuji Allah yang rindu agar semua orang diselamatkan dan memperoleh pengetahuan akan kebenaran (1Tim2:4; 2Pet3:9). Sudah pasti kita ingin orang-orang yang kita kasihi, yang dekat dengan kita, bahkan yang belum kita kenal –semuanya mengenal Juruselamat yang kita sembah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ibadah yang sejati mengubah kehidupan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kalau jemaat pulang seusai ibadah tanpa berbekal hasrat untuk hidup semakin berkenan di hadapan Tuhan, maka tujuan ibadah belum tercapai... Kitab suci menyatakan dengan jelas bahwa ibadah yang sejati mengubah kehidupan”&lt;/span&gt; (Allen Ross).&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-1346161826417798904?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/1346161826417798904/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1346161826417798904'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1346161826417798904'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-2.html' title='Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 2'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4063642689423340885</id><published>2011-05-18T17:38:00.004+07:00</published><updated>2011-05-18T18:37:07.427+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resensi Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 1</title><content type='html'>Saya ingin berbagi kepada kita semua tentang hal-hal yang saya nikmati sewaktu membaca dan merangkum buku Worship Matter karya Bob Kauflin, sebuah buku tebal, terjemahannya diterbitkan Lembaga Literatur Baptis, terdiri dari 32 bab.&lt;br /&gt;Awalnya ini sebagai tugas dalam Training for Trainer Tim Pendamping Pelayanan Mahasiswa (TPPM) bidang Musik, Perkantas Jakarta. Tetapi rasanya terlalu sayang kalau hanya berakhir sebagai tugas yang dikumpulkan, saya ingin berbagi dengan anda semua :) Semoga menjadi berkat, bukan hanya bagi anda yang terlibat langsung/ yang bertanggung jawab untuk suatu ibadah (pendeta, penatua, pemimpin ibadah, worship leader, pemusik, seksi ibadah/ acara, panitia-panitia), tapi juga bagi kita semua, yang diciptakan untuk memuji dan menyembah Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;BAGIAN 1:  SANG PEMIMPIN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 1 - Hal-hal Penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Inikah yang saya mau?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memimpin umat Tuhan dalam ibadah adalah salah satu pekerjaan pelayanan yang paling memuaskan, menyenangkan, penuh binar-binar semangat, dan mengubah kehidupan. Dengan melakukan hal itu, kita sedang menolong orang-orang terhubung dengan tujuan mereka diciptakan, yakni menyembah dan memuliakan Allah yang hidup. Kita sedang mengarahkan hati mereka kepada Dia yang berdaulat penuh, Dia yang lebih besar daripada segala pencobaan, Dia yang lebih baik daripada yang dapat mereka bayangkan. Kita harus memperhatikan Sang Juruselamat yang tiada bandingnya, yang sudah mati menggantikan kita, yang sudah menaklukkan dosa, maut, dan kematian kekal.&lt;br /&gt;Sukacita memimpin ibadah jauh melebihi tantangan yang ada. Ibadah bukan hanya kesempatan untuk menggunakan talenta musik, ibadah lebih dari sekadar pengalaman emosional yang memuncak, lebih dari sekadar aktivitas di hari Minggu. Ibadah itu berkaitan dengan siapa yang kita kasihi, apa tujuan hidup kita, dan siapa kita di hadapan Allah.&lt;br /&gt;Segala pujian hanya bagi Allah. Jangan menggenggam sesuatu pun bagi diri Anda. Ini satu-satunya cara hidup yang berkenan bagi seorang pemimpin ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Apa yang bermakna?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ibadah itu bermakna. Bermakna bagi Allah karena Dialah satu-satunya yang layak disembah. Bermakna bagi kita karena menyembah Allah adalah tujuan mengapa kita diciptakan. Dan bermakna bagi setiap pemimpin ibadah karena tidak ada kehormatan yang lebih tinggi daripada memimpin orang-orang untuk menatap kebesaran Allah.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 2 - Hatiku: Apa yang Kukasihi?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Selama bertahun-tahun, kita sudah membaca ataupun mengalami langsung apa yang disebut “peperangan ibadah” –perdebatan soal gaya musik, pilihan lagu, dsb. Namun jarang sekali kita menyadari “peperangan ibadah” yang terjadi dalam diri kita. Sesungguhnya ini lebih serius: Hati kita.&lt;br /&gt;Kalau ada hal-hal lain yang kita cintai dan utamakan, dan hal itu menggantikan tempat Tuhan dalam hidup ini, kita sedang terlibat dalam penyembahan berhala. Kita pikir itu akan mendatangkan sukacita, dan memuaskan. Entah itu dosa, kenikmatan dan kenyamanan duniawi, atau (berhala yang paling kuat adalah yang paling tidak terlihat) hal-hal seperti reputasi, kuasa dan pengaruh. Satu sisi kita ingin Tuhan dimuliakan dalam hidup kita, namun ada agenda lain di hati kita, kita ingin orang-orang mengakui, mengagumi dan menghujani kita dengan tepuk tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Merobohkan gangguan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita sering terjebak mencari kemuliaan bagi diri sendiri. Kita senang mendengar nama kita disebut-sebut, atau bila melihat nama kita tercetak, dan bentuk-bentuk pemujaan lain (bahkan untuk kerendahan hati kita!). Kita harus sadar bahwa satu-satunya pengakuan yang berarti –pengakuan dari Tuhan, tidak mungkin dapat diperoleh melalui usaha kita. Pengakuan itu sudah diberikan cuma-cuma melalui berita Injil. Kalau kita merasa diri kita tidak begitu berdosa, kita tidak akan sadar bahwa kita memerlukan Juruselamat yang begitu besar. Ketika kita mencari kemuliaan bagi diri sendiri, sebenarnya kita sedang tidak bergantung pada Sang Juruselamat.&lt;br /&gt;Ibadah bukan hanya soal musik, teknik, liturgi, lagu-lagu atau metodologi. Ibadah itu menyangkut soal HATI. Ibadah itu menyangkut apa dan siapa yang lebih kita kasihi dari apapun juga. Bisa saja saya memimpin orang-orang menyembah Tuhan, tetapi di dalam hati, saya menyembah hal-hal lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kasih dan ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tuhan ingin kita mengasihi Dia lebih daripada musik dan alat musik, lebih daripada SEMUA yang kita miliki. Jangan terjatuh untuk mencintai hal-hal yang tidak sebanding dengan Tuhan yang paling pantas kita kasihi. Itulah sebabnya, yang paling perlu diperhatikan oleh seorang pemimpin ibadah bukan soal mempersiapkan lagu, menciptakan aransemen musik yang kreatif, atau alat musik yang canggih. Hal yang paling perlu diperhatikan ialah keadaan hatinya. Isaac Watts menulis: “Allah Mahabesar tidak memperhitungkan pelayanan manusia jika tidak ada kesungguhan hati di dalamnya. Tuhan melihat dan menguji hati; Ia tidak memperhitungkan bentuk luar dari ibadah jika tidak ada penyembahan dari dalam hati, jika tidak ada kasih yang tulus di dalamnya.”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 3 - Pikiranku: Apa yang Kupercayai?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Semakin akurat kita mengenal Allah melalui firman-Nya, semakin berkenanlah ibadah kita di hadapan-Nya. Tidak akan ada ibadah yang berkenan kepada Allah kalau tidak ada pengenalan yang benar tentang Allah. (2Tes2:10; Yoh4:24; 14:6; 8:32; 17:19; 1Tim2:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Teologi dan doktrin&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin ibadah yang hanya sepintas lalu saja membaca Alkitab tidak akan dapat menjadi pemimpin ibadah yang setia. Bagaimana kita dapat memahami segalanya yang dikatakan Alkitab tentang Allah? Diperlukan proses pembelajaran yang mendalam dan berdisiplin. Hal itu membawa kita pada dua patah kata yang tidak begitu nyaman di telinga kebanyakan orang Kristen –teologi dan doktrin. Ibadah yang alkitabiah tidak dapat dipisahkan dari kedua hal itu. Teologi berarti belajar tentang Tuhan. Doktrin berarti “apa yang diajarkan” (tentang topik tertentu, seperti ibadah, gereja, karunia Roh). Sumber utamanya adalah Alkitab. Itulah caranya kita mencari tahu seperti apakah Tuhan itu, apa yang Ia ingin kita percayai, bagaimana Ia menghendaki kita menyembah Dia. (Kita juga terbantu dengan belajar dari para penulis yang buku-bukunya menantang dan menolong kita menggali kekayaan firman Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Anggapan yang keliru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Mempelajari hal-hal ini seharusnya tidak susah-susah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang benar, Setelah menyadari bahwa otak kita terbatas, sedangkan Allah begitu mahabesar, lagipula kita sepenuhnya bergantung pada kebenaran yang disingkapkan dalam Alkitab, bagaimana kita bisa berpikir ada jalan mudah untuk mengenal Allah yang kita sembah? Tidak ada jalan pintas, selain ketekunan seumur hidup yang dimotivasi kasih karunia Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Kita dapat mengenal Allah dengan lebih dalam lagi melalui musik daripada melalui kata-kata&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang benar, Tersentuh secara emosi berbeda dari diubahkan secara spiritual. Musik dapat mempengaruhi dan membantu kitadalam banyak hal, namun tidak dapat menggantikan kebenaran tentang Allah. Teologi yang benar membantu kita menempatkan musik pada tempat yang benar. Kita mengerti bahwa musik bukan tujuan ibadah. Musik hanyalah sarana untuk mengekspresikan ibadah yang sudah terjadi di dalam hati sejak kita menerima hidup baru dalam Yesus Kristus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Teologi dan doktrin memunculkan masalah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang benar, Ibadah dan pengenalan kita tentang Allah tidak bisa didasarkan oleh pendapat manusia, pengalaman, gagasan atau perkiraan semata. Teologi dan doktrin mencegah kita menafsirkan ayat-ayat Alkitab di luar konteks. Teologi dan doktrin memperjelas konsep kita tentang hidup dan ibadah yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Hati dan pikiran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Hati dan pikiran itu serangkai. Kerinduan yang kuat dan mendalam kepada Tuhan muncul sebagai hasil dari proses belajar tentang Tuhan. Pemimpin ibadah haruslah akrab dengan Firman Kebenaran sebagaimana ia akrab dengan (bahkan lebih dari) alat musiknya. Jika ini terjadi, orang-orang akan pulang dari ibadah yang kita pimpin dengan perasaan yang lebih mengagumi Tuhan daripada musik kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 4 - Tanganku: Apa yang Kulatih?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Kecakapan adalah kemampuan untuk melakukan sesuatu dengan baik. Hal ini berhubungan dengan kualitas seperti keahlian dan kompetensi. Tentu Tuhan dapat saja bekerja melalui kita meski kita melakukan kesalahan, kurang kompeten, kurang latihan. Tapi Ia menghargai kecakapan. (Kel36:1; 1Taw15:22; Mzm33:3; Mzm78:72).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Lima hal penting yang perlu diingat mengenai kecakapan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Kecakapan adalah pemberian Allah, bagi kemuliaan-Nya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap bakat dari Tuhan ditujukan untuk mengarahkan perhatian dan kasih kita kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Kecakapan harus dikembangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak hanya menganugerahkan bakat, tetapi juga kemampuan untuk mengembangkannya. Kemahiran bukan semata karena bakat, tetapi latihan yang lebih keras, lebih lama, lebih komprehensif.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Kecakapan tidak membuat ibadah lebih berkenan di hadapan Tuhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak mendengarkan suara musik dan performa kita lebih dari Ia mendengarkan suara hati kita (Mzm51:19).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Kecakapan perlu dievaluasi orang lain&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Masukan yang jujur dan membangun dari tim sepelayanan ataupun orang lain selama latihan atau seusai ibadah sangat berharga untuk peningkatan pelayanan, dan mengajar kita rendah hati. Walaupun tulus, pujian dari orang lain malah tidak selalu membantu kita bertumbuh.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;5. Kecakapan bukan suatu tujuan akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika kita terlalu tinggi menjunjung kecakapan, akan menghasilkan buah yang buruk. Kita mempersingkat persiapan rohani dan menghabiskan tenaga pada urusan musik saja. Kita lupa kalau peran kita harusnya menolong jemaat melihat karakter dan karya Tuhan dengan lebih jelas selagi menaikkan pujian, dan membawa kemuliaan bagi nama-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Dalam hal apakah kecakapan menolong kita?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Kecakapan menolong kita berfokus kepada Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Semakin kita menguasai aspek praktis dalam memimpin, semakin kita dapat berkonsentrasi kepada Dia yang sedang kita puji.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Kecakapan menolong kita melayani jemaat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita tidak lagi dipusingkan mekanisme memimpin ibadah, kita akan terbebas memandang kepada Dia yang sedang kita sembah, dan ini akan membantu jemaat yang kita pimpin menyembah dan memuji Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Kecakapan akan melipatgandakan kesempatan melayani.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecakapan yang harus dikembangkan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;1. Kepemimpinan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang pemimpin yang baik akan mengarahkan perhatian jemaat pada apa yang paling penting. Untuk ibadah yang baik, kepemimpinan yang cakap akan melibatkan kesiapan untuk mengatakan “ya” pada beberapa hal dan “tidak” pada hal lainnya, sekalipun keputusan ini bisa saja tidak menyenangkan bagi semua orang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;2. Musikalitas&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyangkut aspek teknis: kemampuan untuk memainkan atau menyanyikan apapun yang diperlukan dalam situasi saat itu; dan aspek teori: bagaimana musik bekerja (struktur dasar akor, notasi, interval, modulasi, selera, dinamika, penjiwaan, ritme, pembagian suara dan instrumen, improvisasi, transisi)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;3. Komunikasi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Berbicara kepada orang lain dengan jelas dan meyakinkan memerlukan persiapan yang matang. Semakin cermat kita memikirkan kalimat yang hendak kita sampaikan, semakin kuatlah pesan yang terkandung di dalamnya. Allah ingin mengubah orang-orang melalui kebenaran yang kekal dan Injil yang tidak berubah, untuk itulah dibutuhkan komunikasi yang didasari teologi yang jelas.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;4. Teknologi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknologi dapat menolong kita mengkomunikasikan kebenaran Allah dengan lebih jelas, tetapi juga bisa menjadi penghalang utama. Jadi, persiapkanlah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Kecakapan itu penting&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk memimpin jemaat beribadah kepada Tuhan diperlukan lebih dari sekadar hati yang tulus dan niat yang baik. Diperlukan kecakapan. Untuk itu diperlukan waktu, kerja keras dan persiapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Bab 5 – Hidupku: Apa yang Kucontohkan?&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Memimpin ibadah dimulai bagaimana kita hidup sehari-hari, bukan dari apa yang saya lakukan di depan umum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Menjadi teladan bagi orang percaya (1Tim4:12)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda rindu memimpin orang-orang menyembah Tuhan? Kalau begitu, hal tersebut akan tercermin dari teladan hidup anda. Tidak menjadi soal, apakah kita memimpin sebuah jemaat, berkendara, atau seorang diri dalam kamar. Segala sesuatu yang kita lakukan harus didasari satu gol –melihat Kristus Yesus dipuji, ditinggikan, diagungkan dan ditaati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan perkataan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sebagai seorang pemimpin, setiap perkataan yang kita ucapkan berpotensi meneguhkan keteladanan kita atau malah merusaknya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan perilaku. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Jika cara hidup kita tidak mendukung apa yang kita katakan pada hari Minggu, kita bukan hanya menipu gereja, tetapi juga salah memberi gambaran tentang Allah yang kita sembah. Standar untuk memimpin ibadah bukanlah kesempurnaan, tetapi seorang pemimpin ibadah haruslah menempuh gaya hidup yang konstan kudus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan kasih. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita gagal memberi keteladanan dalam hal kasih, orang-orang akan meragukan kesungguhan kita memimpin jemaat beribadah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dengan iman. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Untuk secara efektif memimpin orang-orang menyembah Tuhan dalam ibadah, kita perlu memancarkan iman dan kepercayaan yang kokoh kepada Tuhan beserta janji-janji-Nya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dalam kekudusan. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mengingat kekudusan Tuhan, “cemburu”-Nya, dan nilai yang tak terkira dari Tubuh Kristus, dosa sungguhlah berbahaya dan tak dapat ditolerir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Pekerjaan kita yang abadi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Menyembah Allah adalah pekerjaan yang kekal. Jika kita belum menunjukkan adanya kerinduan yang tulus untuk memuliakan Allah dalam setiap aspek kehidupan, maka bukan bagian kita untuk memimpin ibadah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4063642689423340885?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4063642689423340885/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-1.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4063642689423340885'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4063642689423340885'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/05/worship-matter-bob-kauflin-bagian-1.html' title='Worship Matter (Bob Kauflin) - Bagian 1'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-1816021948103332501</id><published>2011-03-02T10:29:00.002+07:00</published><updated>2011-03-02T10:33:03.099+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Berkat sebuah pertemanan...</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Jakarta, Pebruari 2011.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Berkat sebuah pertemanan...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, apa kabar? Kami berdoa semoga semua baik-baik saja, sama seperti kami di sini... Semua baik, karena kebaikan dan penyertaan Tuhan selalu melimpah atas kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ehm... teman, kami teringat kebersamaan kita dulu, waktu masih di kampus, sewaktu masih mahasiswa, sewaktu semangat kita masih menyala untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan, bagi keluarga, gereja dan bangsa... Bagaimana semangat kita sekarang? 2 tahun lebih setelah kita di-wisuda, bulan demi bulan setelah memasuki dunia kantor, masihkah semangat itu menyala? Terlalu naif rasanya jika berharap semangat itu akan terus menyala dengan konstan atau bertambah besar. Kamipun mengalaminya. Penuh pergumulan. Kadang semangat itu menyala begitu hebat, dalam bekerja, dalam berdoa, dalam menjaga kekudusan, menyaksikan identitas diri sebagai seorang pekerja Kristen, tapi kadang... semangat itu redup dan semakin redup, butuh suatu energi yang besar untuk membakarnya lagi, dan itu kami dapatkan di KTB (Kelompok Tumbuh Bersama) yang kami lanjutkan di sini. Di KTB, kami belajar menjaga semangat itu tetap menyala, menjaga relasi dengan Tuhan, Sang Sumber Kekuatan, saling mengingatkan, dan saling mendoakan. Kalian di sana bagaimana?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, kami teringat tawa kita dulu, sewaktu semuanya begitu akrab, begitu dekat. Tapi sekarang, Tuhan mengizinkan kita untuk berkarya di tempat yang berbeda. Mari yakini, bahwa  setiap yang terjadi dalam hidup kita, semua dalam kendali Allah, dan Tuhan tidak pernah membuat kesalahan! Termasuk dalam menempatkan kita di kantor masing-masing untuk berkarya di Indonesia yang luas ini. Indonesia butuh anak-anak Tuhan untuk menjadi lilin-lilin kecil di setiap daerahnya. Lilin ini harus tersebar untuk menunjukkan terangnya, dan kita sedang berada dalam misi ini: menjadi terang yang menerangi lingkungan kita masing-masing, mulai dari lingkup terkecil, kantor di mana kita berkarya. Ini hanya masalah jarak, tetapi berkat sebuah pertemanan, jauh melebihi tantangan jarak. Kita boleh dipisahkan oleh jarak, tapi kita disatukan oleh doa, kita diikat oleh kasih Kristus.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teman, mari terus saling mendukung untuk tetap setia pada Allah yang setia. Setia dalam relasi dengan Dia, setia dalam beribadah, setia dalam bekerja jujur dan berbuat yang terbaik. Mungkin kita hanya bertanggungjawab untuk sebuah tugas dan pelayanan kecil, mungkin menurut orang lain tanggung jawab ini tidak terlalu penting bila dibandingkan dengan tanggung jawab besar lainnya. Namun janganlah kita sampai kehilangan inti dari apa yang kita kerjakan. Dalam tugas-tugas yang terkecil sekalipun, kita bertanggung jawab untuk memastikan bahwa ada prinsip dasar yang harus dipegang, yaitu kita sedang menyampaikan sesuatu kebenaran sebagai pengikut Kristus. Dalam keseharian, sebetulnya kita sedang diamati, bagaimana cara kita menangani tugas-tugas kecil dan menjengkelkan, bagaimana cara kita merespon orang-orang yang sulit ditangani, bagaimana cara kita berkomunikasi, bagaimana cara kita merespon di saat sedang lelah; dalam semua ini kita menunjukkan nilai-nilaiKristus yang kita percayai. Terlalu sedih rasanya jika memikirkan kegagalan-kegagalan kita menjadi saksi Kristus. Kita semua tahu betapa rentannya kita ketika melayani sebagai orang Kristen; sementara pada waktu yang sama terus bergumul dengan ketidak-konsistenan dan kegagalan yang dirahasiakan. Walaupun mungkin dipandang sebagai orang Kristen yang setia, kita tahu bahwa dalam menjawab panggilan untuk hidup tak bercacat, kita seringkali menjalaninya dengan perlahan dan terseok-seok. Namun Allah terus menopang kita dengan firman dan Roh-Nya, juga dengan persekutuan teman-teman seiman, yang terus mendorong kita untuk maju. Mari kita saling mendukung. Kalau ada yang ingin kalian sampaikan, bagikan, ceritakan, kami ada. Telinga kami terbuka lebar untuk kisah kalian, tangan kami siap terlipat untuk mendoakan kalian. Itulah kekuatan kita, itulah kesatuan kita. Hanya sejauh doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, kata orang ini bulan kasih sayang, tapi kami mau bilang, bahwa setiap bulan, setiap hari, kami sayang kalian. Kata orang juga, coklat lambang manisnya hidup, jadi kami kirimkan coklat ini, dengan cinta kami, sebagai tanda manisnya pertemanan kita... Surat ini juga kami sertakan sebagai wujud relasi seorang teman kepada teman yang dikasihinya. Hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman, sampai bertemu di keadaan yang lebih baik. Kadang, tak sabar rasanya, menunggu waktunya Tuhan, entah berapa tahun lagi, ketika ada di antara kita yang semakin Tuhan percayakan tanggung jawab yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi bangsa ini, ketika ada di antara kita yang dipercayakan Tuhan sebagai pemimpin, yang penuh kasih Kristus, berdiri tegap bagi instansinya, bagi bangsanya, bagi nama Tuhan. Ini mimpi kita, kan? Mari berdoa dan bekerja, menjadikannya nyata. Mulai dari sekarang,mulai dari apa yang bisa kita lakukan, sekecil apapun, sesederhana apapun, menjadi berkat bagi daerah di manapun Tuhan tempatkan kita sekarang untuk berkarya bagi kemuliaan nama-Nya, berkat bagi Indonesia, berkat memberikan suatu pengaruh kecil dalam perbaikan kondisi bangsa, berkat dari doa seorang teman kepada temannya yang lain, berkat sebuah pertemanan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seorang sahabat menaruh kasih setiap waktu, dan menjadi seorang saudara dalam kesukaran.” Ams 17:17.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari teman-temanmu: Andri Mok2, Dapot, Kasogi, Kawas, Kristyanu, Risanto, Angga, Misni, Valen.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-1816021948103332501?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/1816021948103332501/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/03/berkat-sebuah-pertemanan_6797.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1816021948103332501'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1816021948103332501'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2011/03/berkat-sebuah-pertemanan_6797.html' title='Berkat sebuah pertemanan...'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-421070416673489431</id><published>2010-12-23T14:17:00.002+07:00</published><updated>2010-12-23T14:22:37.117+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Doa terakhir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL4m5GGPkI/AAAAAAAAAI8/ss34XDXNjxE/s1600/jesus%2Bpray.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 170px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL4m5GGPkI/AAAAAAAAAI8/ss34XDXNjxE/s200/jesus%2Bpray.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553774637546356290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Doa terakhir&lt;br /&gt;(Yohanes 17:6-23)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Aku berdoa untuk mereka… (Yoh 17:9)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Sebuah anekdot ringan yang mungkin sudah sering kita dengar, mengkhayalkan percakapan iblis dengan Tuhan Yesus, sesudah Dia tidak lagi di dunia ini. Iblis bertanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apa cara yang Kau lakukan agar seluruh dunia percaya kepada-Mu?”&lt;/span&gt;. Yesus menjawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku pakai murid-murid-Ku, mereka yang akan memberitakannya”&lt;/span&gt;. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Bagaimana kalau mereka gagal? Apa plan B-nya?”&lt;/span&gt;, iblis balik bertanya. Dan Yesus langsung menjawab, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tidak ada plan B!”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Fiksi singkat ini memberi tahu kita bahwa cara Allah untuk menyebarkan kasih-Nya dan membuat dunia percaya kepada-Nya adalah melalui murid-murid-Nya. Bukan hal yang sulit bagi Allah untuk melakukan hal-hal yang spektakuler dan mengagumkan (entah melalui alam ciptaan-Nya, atau hal-hal ajaib) untuk menunjukkan ke-maha-kuasa-an-Nya dan keadilannya, sehingga semua orang di dunia ini –mau tidak mau –harus sujud menyembah Dia. Tapi Yesus tidak pakai cara itu, Dia punya cara sendiri: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;murid-murid!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bacaan pagi terakhir ini berisi doa syafaat Tuhan Yesus untuk 12 murid-Nya (ay.6-19) dan semua orang yang percaya kepada-Nya(20-26). Yohanes mencatat bagian ini sebagai doa terakhir Sang Guru sebelum terpisah dari murid-Nya, tepat sebelum penggenapan karya salib Kristus.&lt;br /&gt;Doa terakhir... Isinya pasti sangat penting. Dan yang Yesus lakukan ialah mendoakan murid-murid-Nya, agar Bapa memelihara mereka (11), menguduskan mereka (17). Dia ingin agar mereka dilindungi dari yang jahat, disempurnakan dalam kekudusan, dan supaya mereka menjadi satu. William Barclay menulis, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kekristenan tidak pernah bermaksud menarik manusia dari kehidupannya, namun bertujuan untuk memperlengkapinya dengan lebih baik dalam kehidupannya. Kekristenan tidak membuat kita terlepas dari masalah, tetapi menawarkan suatu jalan keluar untuk menyelesaikan masalah. Kekristenan tidak menawarkan kedamaian dengan mudah, tetapi menawarkan suatu kemenangan atas pergumulan hidup. Kekristenan tidak menawarkan suatu kehidupan yang terbebas dari masalah, tetapi menawarkan suatu kehidupan, di mana masalah harus dihadapi dan diselesaikan... Orang Kristen tidak boleh berkeinginan untuk meninggalkan dunia, tetapi harus selalu berkeinginan untuk mengalahkan dunia... Orang Kristen harus dikuduskan dari dunia, tapi tidak berarti bahwa ia harus hidup sendirian. Orang Kristen membutuhkan saudara seiman lainnya. Kesatuan orang Kristen memberikan kekuatan bagi orang percaya dan menjadi saksi bagi yang belum percaya –dua pertolongan penting bagi para pengikut Yesus dalam menghadapi masa-masa sulit”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Di pagi terakhir ini, berdoa jugalah. Ambil waktu untuk mengingat semua yang didapatkan selama retreat, mengapa retreat ini ada dan diikuti berbagai mahasiswa, berbagai kampus. Ingatlah jemaat yang Tuhan percayakan, murid-murid yang dihasilkan. Doakan agar Tuhan memelihara, menguduskan, dan kita dimampukan berjuang menjaga kesatuan, seperti kerinduan-Nya. Sepulang dari sini, kita tidak tahu tantangan pelayanan ke depan. Tapi, 2000 tahun yang lalu, Yesus telah berdoa syafaat untuk umat-Nya, termasuk dirimu, termasuk kampusmu. Kerjakanlah bagianmu...&lt;br /&gt;Doakan kerjamu, kerjakan doamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-421070416673489431?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/421070416673489431/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/12/doa-terakhir.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/421070416673489431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/421070416673489431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/12/doa-terakhir.html' title='Doa terakhir'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL4m5GGPkI/AAAAAAAAAI8/ss34XDXNjxE/s72-c/jesus%2Bpray.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3798205436318051830</id><published>2010-12-23T14:02:00.004+07:00</published><updated>2010-12-23T14:14:32.049+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mau pergi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL2vw9mi8I/AAAAAAAAAI0/P3AQ2Kz9ggg/s1600/yesus%2Bmemberi%2Bmakan%2B5000%2Borang.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 150px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL2vw9mi8I/AAAAAAAAAI0/P3AQ2Kz9ggg/s200/yesus%2Bmemberi%2Bmakan%2B5000%2Borang.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5553772590958808002" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Mau pergi?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Yohanes 6:60-71)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Maka kata Yesus kepada kedua belas murid-Nya: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?" (Yoh 6:67).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Saya terlarut dalam narasi ini. Seakan-akan saya masuk dalam cerita itu, berada di sana, menyelip di antara gerombolan murid. Saya takjub melihat Yesus. Saya hadir ketika Dia melakukan mujizat, ketika Dia menyembuhkan, apalagi ketika Dia memberi makan 5000 laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak), saya kekenyangan. Saya juga ikut menyeberang menemui-Nya, dan kagum mendengar khotbah-Nya. Saya turut terkejut ketika Dia mengatakan&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Akulah roti hidup… sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu….”&lt;/span&gt; (ay.48-58). Saya mengerutkan dahi, mencoba mengerti dan menerima pernyataan Guru yang saya kagumi itu. Tapi selagi berpikir, eh, gerombolan murid yang jumlahnya banyak tadi mulai membubarkan diri. Saya heran, lho bukannya mereka itu yang ikut menyeberang mencari Yesus? Bukannya mereka tadi juga ikut melihat langsung mujizat Yesus dan makan roti, ikan? Mengapa mereka kini pergi? Saya ragu bila mereka tidak mengerti apa yang Yesus katakan, justru saya yakin mereka mengerti, sehingga mereka bersungut: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Pengajaran ini terlalu berat. Siapa yang dapat menerimanya!"&lt;/span&gt; (ay.60 BIS). Oh, jadi itu masalahnya, bukan tidak &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mengerti&lt;/span&gt;, tapi tidak mau &lt;span style="font-weight: bold; font-style: italic;"&gt;menerima&lt;/span&gt;, dan akhirnya memilih pergi. Kekerasan itu sebenarnya ada di dalam hati mereka, bukan pada perkataan Yesus.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya kaget juga ketika Yesus bertanya,&lt;span style="font-style: italic;"&gt; "Adakah perkataan itu menggoncangkan imanmu?”. &lt;/span&gt;Ternyata Yesus tahu keberatan mereka, dan Dia mengatakan hanya oleh Roh kita bisa mengerti apa yang dikatakan-Nya, dan hanya atas karunia Bapa kita bisa percaya lalu mengikut-Nya.&lt;br /&gt;Rombongan yang tadinya puluhan ribu orang, hanya tinggal sedikit sekali, tinggal belasan (itupun ada yang tidak setia). Walau belum mengerti sepenuhnya, saya memilih untuk tinggal di situ, berdiri di samping Petrus. Tiba-tiba Yesus menatap kami dalam-dalam… bukan tatapan mengusir, justru sangat menguatkan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Apakah kamu tidak mau pergi juga?”&lt;/span&gt;, kata-Nya. Saya diam, tapi saya tahu Yesus mengharapkan jawaban “tidak” dari pertanyaan-Nya. Ah… untunglah Petrus menjawab mewakili kami, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah perkataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa Engkau adalah Yang Kudus dari Allah."&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya masih saja terkagum. Yang dicari Yesus bukan popularitas, ketika banyak orang yang mengikut-Nya, Dia tidak melunakkan pengajaran-Nya. Yang diprioritaskan-Nya bukan kuantitas, tapi kualitas. Karena yang dicari-Nya bukan sekedar&lt;span style="font-style: italic;"&gt; pengikut&lt;/span&gt; (TEV: follower), tapi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;murid&lt;/span&gt; (disciple) yang siap dengan segala konsekuensi mengikut-Nya. Itulah yang Dia ingin kita kerjakan: menghasilkan murid. Berapa banyak orang di kampus yang ramai-ramai ikut retreat, kebaktian, kelompok kecil atau persekutuan doa? Tapi berapa banyak murid yang dihasilkan? Kalau tidak ada, sebenarnya kita tidak sedang mengerjakan apa-apa.&lt;br /&gt;Jadilah murid, dan hasilkanlah. Bayangkan saat ini dirimu juga ada di barisan itu, dan Yesus sedang menatap penuh makna ke arahmu, bertanya pertanyaan yang sama: "Apakah kamu tidak mau pergi juga?". Jawablah di retreat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span style="font-size:78%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;(bahan saat teduh Retreat Antar Kampus Medis Jakarta, 19-21 Nop 2010)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3798205436318051830?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3798205436318051830/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/12/mau-pergi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3798205436318051830'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3798205436318051830'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/12/mau-pergi.html' title='Mau pergi?'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TRL2vw9mi8I/AAAAAAAAAI0/P3AQ2Kz9ggg/s72-c/yesus%2Bmemberi%2Bmakan%2B5000%2Borang.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-2976958249228492654</id><published>2010-11-24T17:19:00.004+07:00</published><updated>2010-11-24T18:18:07.666+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Journey with God</title><content type='html'>Selamat buat alumni yang akan bekerja. Selamat berkarya bersama Allah, bagi masyarakat, bagi gereja, keluarga, dan bangsa.&lt;br /&gt;Aku heran, setiap kali mendengar/ melihat orang yang luar biasa senang ketika dia ditempatkan di kota besar, di tempat yang tidak jauh (bukan di luar jawa sumatera misalnya), mungkin memang dia punya pergumulan sendiri, masalah keluarga, kesehatan, dan aku sangat menghargai itu. Tapi, yang aku sangat heran, kalau alasan rasa syukurnya itu, hanya karena apa yang dipikirkannya selama ini terkabul semua/ sebagian. Ini juga berlaku terbalik, aku tak habis pikir melihat orang yang begitu sedihnya ketika "apa yang ada di kepalanya" tidak terkabul. Jangan2 dia lupa, Allah punya rencana besar yang seringkali tidak bisa langsung  kita mengerti, dan sering tidak sesuai rencana kita. Lagian kalau mau jujur, seringkali semua subjek atas rencana kita, cuma aku, aku dan aku... Puji Tuhan, aku ditempatkan di sini, supaya aku... nanti aku... trus aku bisa... mudah2an aku... syukurlah aku... coba kalau aku di situ, aku bisa... aku pasti... aku mau... Kapan giliran Allah? Kapan mereka/ orang lain merasakan kehadiran kita? Tidakkah Allah memakai orang yang dikasihi-Nya untuk menunjukkan kasih-Nya kepada orang lain lagi? Apakah Indonesia sesempit Jawa Sumatera? Tidakkah Allah sayang umat-Nya dari barat sampai timur?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Allah tidak pernah membiarkan seseorang pergi ke tempat di mana kasih karunia-Nya tidak cukup untuk menyertai. Allah tidak pernah membuat kesalahan! Ragukah engkau akan hal &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;itu???&lt;br /&gt;Bagian kita hanya taat dan setia, ke manapun DIA suruh. Mungkin padang rumput, mungkin air tenang, bahkan lembah kekelaman, tapi itu bukan soal, ketika TUHAN yang jadi Gembala. Masalahnya bukan apa yang kita lewati, tapi bersama SIAPA kita berjalan. Kita tidak tahu apa yang terjadi di depan, entah enak atau tidak, tapi satu hal yang pasti kita tahu, TUHAN ada di sana, dan itu sudah CUKUP!&lt;br /&gt;Ada 2 lagu yang sampai sekarang sanggup menenangkan hatiku: (semoga juga hatimu)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzsHPpmLQI/AAAAAAAAAIY/BUcFtsbJmPU/s1600/walk-with-God.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 150px; height: 125px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzsHPpmLQI/AAAAAAAAAIY/BUcFtsbJmPU/s200/walk-with-God.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543064850590477570" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Shepherd of my soul I give you full control,&lt;br /&gt;Wherever You may lead I will follow.&lt;br /&gt;I have made the choice to listen for Your voice,&lt;br /&gt;Wherever You may lead I will go.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be it in a quiet pasture or by a gentle stream,&lt;br /&gt;The Shepherd of my soul is by my side.&lt;br /&gt;Should I face a mighty mountain or a valley dark and deep,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;The Shepherd of my soul will be my guide.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shepherd of my soul Oh You have made me whole,&lt;br /&gt;Where’er I hear You call how my tears flow.&lt;br /&gt;How I feel your love how I want to serve&lt;br /&gt;I gladly give my heart to You O Lord.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Be it in the flowing river or in the quiet night,&lt;br /&gt;The Shepherd of my soul is by my side.&lt;br /&gt;Should I face the stormy weather or the dangers of this world.&lt;br /&gt;The Shepherd of my soul will be my guide.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Lagu yang satu lagi&lt;/span&gt;:&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzu2IDUxCI/AAAAAAAAAIg/44r2Qkh7bTU/s1600/footprint.jpg"&gt;&lt;img style="cursor: pointer; width: 200px; height: 133px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzu2IDUxCI/AAAAAAAAAIg/44r2Qkh7bTU/s200/footprint.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543067855028012066" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;I will follow wherever He leads&lt;br /&gt;ev’ ry problem my sa viour He knows&lt;br /&gt;Though the path may be long with His help  I’ll be strong&lt;br /&gt;I will go just wherever he goes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;He may lead me to countries Where troubles surround&lt;br /&gt;Eventhere He’ll be with me I know&lt;br /&gt;I promise I’ll follow&lt;br /&gt;Where ver Christ leads me, and so&lt;br /&gt;I will go just wherever He goes&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;When the sun starts to set in the sky&lt;br /&gt;I shall know that I’m nearer my home&lt;br /&gt;But until that great day I shall still trust and pray&lt;br /&gt;I will go just wherever He goes&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau hidup adalah perjalanan, ku ucapkan selamat berjalan. Have a great journey with God.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-2976958249228492654?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/2976958249228492654/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/journey-with-god.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2976958249228492654'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2976958249228492654'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/journey-with-god.html' title='Journey with God'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzsHPpmLQI/AAAAAAAAAIY/BUcFtsbJmPU/s72-c/walk-with-God.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4309608220840824454</id><published>2010-11-24T15:17:00.007+07:00</published><updated>2010-11-24T16:09:37.983+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Alumni: perwujudan visi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzV6Ay569I/AAAAAAAAAIQ/qylQb9OYM84/s1600/toga.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzV6Ay569I/AAAAAAAAAIQ/qylQb9OYM84/s200/toga.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5543040434008878034" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center; font-weight: bold;"&gt;Alumni: perwujudan visi&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: right; font-style: italic;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;I was not disobedient to the vision from heaven... (Paulus – Kis26:19)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika dihubungi untuk sharing tentang visi PMK di buletin ini, saya merasa tidak layak, apalagi sharing sebagai alumni. Sharing tentang visi - sebagai alumni - apa yang dinikmati - apa dampaknya. Ah... Saya ini masih sangat muda. Rasanya untuk tema sepenting dan sangat esensi ini, ada orang yang lebih baik, lebih senior, lebih berpengalaman, dan lebih tangguh. Itu yang pertama. Yang kedua, apalah yang telah dihasilkan PMK STAN, persekutuan yang pernah saya pimpin bersama tim inti yang lain. Kampus diploma, kedinasan, gratis, yang sudah berdiri lebih dari 3 dekade, setiap tahunnya meluluskan alumni yang langsung bekerja di Kementerian Keuangan, yang katanya “banyak uang”, namun terlanjur di-cap miring oleh masyarakat awam, terlebih lagi dengan seringnya media memberitakan kasus korupsi dan penyelewengan di Direktorat Jenderal Pajak, Bea Cukai, sampai-sampai sempat muncul slogan masyarakat “kampus penghasil koruptor”, atau yang lebih rohani: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;dari jaman Alkitab, orang pajak dan pemungut cukai-lah orang paling berdosa&lt;/span&gt;. Miris. Bagaimana mengobarkan visi menghasilkan alumni yang menjadi garam dan terang di kondisi yang demikian?&lt;br /&gt;Dua alasan ini membuat saya tertunduk, tapi sekaligus menganggukkan kepala pertanda setuju untuk menulis sharing ini dengan apa yang saya punya, dengan apa yang telah saya saksikan, dengan apa yang telah Allah kerjakan dalam diri saya dan PMK STAN.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Sudah 6 tahun belakangan ini, dari ribuan mahasiswa yang masuk STAN, rata-rata 10%-nya (200 ratusan lebih) mahasiswa Kristen menambah jumlah anggota PMK STAN setiap tahun. Kebanyakan dari daerah (luar Jakarta) dan banyak dari golongan ekonomi menengah ke bawah, yang rela meninggalkan kesempatan kuliah di PTN lain, demi kuliah gratis dan langsung kerja. Dari latar belakang ini, ada dua kondisi (baca: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;kenyataan&lt;/span&gt;) yang mungkin terjadi setelah alumni: sangat bersyukur atas anugerah Allah, punya pola hidup menderma dan sederhana sekalipun penghasilan yang lumayan, atau yang kedua:&lt;span style="font-style: italic;"&gt; lupa daratan&lt;/span&gt;! Tentu opsi pertama yang selalu saya doakan dan harapkan. Dan mimpi itulah yang kami kerjakan di PMK: nantinya mahasiswa ini menjadi alumni yang makin cinta Tuhan dan benci dosa, berintegritas, mampu mengintegrasikan iman dan ilmunya, sebagai Penjaga Keuangan Negara (slogan Kementerian Keuangan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Nagara Dana Rakca&lt;/span&gt;). Mereka bukan sekedar alumni, tetapi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;alumni KRISTEN&lt;/span&gt;, yang harusnya berdampak, menunjukkan rasanya sebagai garam dan cahayanya sebagai terang. Bekerja jujur, rajin, bukan hanya sekedar kode etik, tapi sebagai perwujudan takut akan Allah. Visi yang sederhana: menghasilkan alumni yang dewasa dan berdampak. Entah apapun kalimatnya: menghasilkan murid Kristus, garam terang, mimpinya tetaplah sama. Visi itulah yang terus ditularkan dari satu orang ke orang lainnya, yang dikerjakan dalam bentuk misi dan program dengan waktu yang singkat selagi berada di kampus. Untuk apa ada Penginjilan, Pemuridan, Pelipatgandaan, Pengutusan? Dalam rangka mewujudkan visi itu. Untuk apa tiap Jumat sore ada persekutuan? Untuk menghasilkan alumni yang berakar dalam Kristus. Untuk apa ada kelompok kecil? Untuk menghasilkan alumni yang dewasa. Untuk apa persekutuan doa dan pembinaan lain, dan program-program lain? Untuk menghasilkan alumni yang siap menyaksikan Kristus dalam hidupnya. Dalam setiap kegiatan, pengurus harus menyadari sasarannya apa. Saya selalu menanyakan: ini untuk apa? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ngapain&lt;/span&gt; mengadakan itu? Mereka harus tangkap visinya. Jadikan visi ini sebagai visi pribadi, tularkan ke pengurus yang lain, tularkan ke jemaat, tularkan ke semua orang menjadi visi bersama, visi ilahi. Ini memang mimpi besar, tapi tidak ada hal besar yang terjadi tanpa diawali oleh mimpi/ visi yang besar. Dalam suatu KTB, saya pernah berkata: “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;siapa bilang PMK STAN tidak bisa mengubah Indonesia menjadi lebih baik? Tunggu waktu-Nya Allah!! Kita tetap kerjakan visi ini&lt;/span&gt;”. Think globally act locally. “&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mimpi bagi bangsa ini dimulai dari membina mahasiswa STAN&lt;/span&gt;”, itu saya katakan dalam beberapa kesempatan. PMK STAN ada di dalam visi besar Allah, untuk memperbaiki bangsa ini. Beberapa kali sharing dengan orang-orang kunci, bahkan dengan beberapa generasi di bawah, saya sering katakan: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;tiap melihat wajah-wajah jemaat, milikilah visi ilahi, penglihatan ilahi, cara Allah berbelas kasihan, mereka ini mahasiswa-mahasiswa yang bisa dipakai Allah menjadi pemimpin seturut kehendak-Nya. Memang mereka mahasiswa, tapi nantinya mereka jadi pemimpin&lt;/span&gt;. Bukankah itu visi besar? &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Student today, leader tomorrow&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Saya teringat ketika menjadi Ketua Umum, setiap ikut pembinaan, retreat, kamp, selalu VISI digaungkan, dan harus meresap dalam diri setiap pelayan. Bahaya terbesar dalam pelayanan mahasiswa adalah hilangnya atau semakin kaburnya visi. Kegiatan tetap ada, dana tetap tersedia, orang-orang masih ada, tapi tidak ada lagi “nyawa” dalam setiap hal yang dilakukan, hanya sebatas organisasi dengan banyak program. Tanpa visi, PMK hanya sebagai kumpulan pengurus yang sibuk melakukan ini itu tanpa tahu “mimpi besar” dari hal yang dikerjakannya. Gerakan-gerakan (&lt;span style="font-style: italic;"&gt;movement&lt;/span&gt;) tetap dilakukan: doa, belajar Alkitab, penginjilan sampai misi; tapi tanpa visi, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;movement&lt;/span&gt; itu hanya menjadi &lt;span style="font-style: italic;"&gt;monument&lt;/span&gt; yang menjulang tinggi tanpa dampak. Dan kenyataan sekarang: movement-movement yang selama ini kita cap sebagai keunikan PMK, sekarang tidak unik lagi. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Prayer movement, bible movement, evangelism movement, discipleship movement, mission movement&lt;/span&gt;, tidak eksklusif menjadi ciri pelayanan PMK, sudah banyak gereja yang mengerjakan movement itu. Mungkin yang tertinggal hanyalah &lt;span style="font-style: italic;"&gt;interdenomination movement&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style: italic;"&gt;student movement&lt;/span&gt;, itupun sepertinya tidak lagi, sudah banyak organisasi pelayanan dan parachurch yang juga memperjuangkan kedua hal itu. Jadi, keunikan PMK sudah tidak unik lagi. Tapi, pelayanan mahasiswa haruslah tetap unik. Dan apa yang bisa menjaganya tetap unik? Cuma satu: &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;VISI&lt;/span&gt;. Hanya pelayanan mahasiswa yang mempunyai visi menghasilkan alumni yang menggarami dan menerangi dunia ini dengan iman dan ilmunya. Darimana kita jelas melihat keunikan PMK itu? Dari outputnya: alumni. Kapan PMK dikatakan mempunyai discipleship movement? Ketika ada alumni-alumni yang masih rindu memuridkan di tengah kesibukannya sebagai alumni, ketika ada alumni yang berjuang keras membentuk komunitas-komunitas di kantornya, di gerejanya, atau lingkungannya. Kapan PMK dikatakan unik dalam hal prayer movement, bible movement dan yang lainnya? Ketika ada alumni-alumni yang tetap menjadi pendoa yang setia, mencintai firman Tuhan, atau sederhananya: memperjuangkan relasi pribadi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, pelayanan, sesibuk apapun, sejauh manapun Tuhan tempatkan dia di bagian Indonesia ini. Itulah kekuatan VISI, itulah kehebatan VISI. Visi-lah yang menggerakkan pengurus-pengurus terus berjuang membina mahasiswa untuk mimpi besar: menghasilkan alumni yang berdampak bagi dunia ini. Visi-lah yang membuat seorang alumni tetap mau ikut Yesus sekalipun susah bahkan menderita. Dan itu bukan isapan jempol belaka. Itu sangat mungkin terjadi. Ketika ada orang-orang yang berjuang dan tetap TAAT demi visi ilahi itu. Alkitab sudah mencatatnya. Sejarah sudah  membuktikannya. Ada Abraham, Musa, Nehemia, Daniel, Petrus, dan rasul-rasul yang lain, ada Paulus. Ada Polikarpus, John Sung, Wiliam Carey, A.W Tozer, Nommensen, C.S Lewis, David Livingstone, William Wilberforce, Marthin Luther King Jr, Leimeina, T.B Simatupang, dan pejuang-pejuang visi lainnya, yang telah membuktikannya. Teruskan nama-nama itu sampai ke namamu. Dan biarlah kampusmu menghasilkan nama-nama itu. Itulah VISI, mimpi, dan bersama Allah, sangat mungkin terwujud jadi kenyataan. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Trust and obey&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;Sekarang saya memang masih sangat muda dan belum menjabat apa-apa. Tapi visi itu terus bergema di hati, terjaga dalam KTB, apalagi setiap dihubungi menjadi pelayan dalam pelayanan mahasiswa. Saya tersenyum dan bersyukur bahwa saya tidak pernah sendiri, teman-teman saya yang lain juga sedang berjuang. Kami turut bersedih lalu berdoa ketika melihat visi itu memudar bagi beberapa orang alumni. Saya selalu mengingatkan pengurus: &lt;span style="font-style: italic;"&gt;orang yang berintegritas itu tidak banyak, biarlah PMK STAN menghasilkan orang yang tidak banyak itu&lt;/span&gt;. Untuk visi itulah, PMK STAN ada.&lt;br /&gt;Ah... saya terlalu banyak bercerita tentang STAN. Tapi saya memang dihubungi untuk itu: sharing sebagai alumni STAN, yang menikmati visi Allah sewaktu mahasiswa. Tapi bukan berarti pekerjaan Allah hanya di STAN. Ketika kamu membaca artikel ini, ketika buletin Nehemia ini ada di tanganmu, Tuhan juga bisa memakai dirimu untuk visi besar-Nya. Dia bisa bekerja memakai kampusmu, menghasilkan alumni yang v(m)isioner, dalam setiap bidang ilmu, ekonomi, hukum, sosial, politik, teknik, kesehatan, Indonesia membutuhkan alumni dari kampusmu, yang takut akan Tuhan. Mimpikanlah. Kerjakanlah. Dream your work, work your dream.&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span style="font-style: italic;font-size:78%;" &gt;Kawas Rolant Tarigan, alumni STAN, sekarang bekerja di Direktorat Jenderal Pajak.&lt;tulisan&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[tulisan ini dimuat dalam NEHEMIA edisi Nopember 2010; Buletin Doa PMKJ]&lt;br /&gt;&lt;/tulisan&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4309608220840824454?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4309608220840824454/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/alumni-perwujudan-visi.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4309608220840824454'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4309608220840824454'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/alumni-perwujudan-visi.html' title='Alumni: perwujudan visi'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TOzV6Ay569I/AAAAAAAAAIQ/qylQb9OYM84/s72-c/toga.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3941305359353845559</id><published>2010-11-10T13:29:00.004+07:00</published><updated>2010-11-10T14:38:58.986+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Roleplay (Allah mengasihimu,, kamu?)</title><content type='html'>Roleplay&lt;br /&gt;The Greatest Love --- Yoh 3:16&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Setting&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;: small group konseling, dengan 1 konselor dan 3 konseli (siswa, mahasiswa, alumni). Kostum dan aksesoris membantu untuk menunjukkan karakter. Alumni sibuk dgn Blackberry-nya. Semua duduk di kursi, konseli duduk sebaris, konselor berhadapan dgn konseli. Posisinya serong, agar tidak membelakangi dan dapat dilihat jemaat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(musik pengiring dgn lembut: Think about His love)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt;    : Ayo, gimana, sharinglah kondisi nya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siswa&lt;/span&gt;       : Yah... Gitulah kak. Di sekolah, rasanya lama-lama gimanaa gitu aktif di rohkris. Kayak ada jaraknya gitu kalau mau gabung ama anak-anak yang lain, kalau mau main, jalan, nongkrong. Trus rasanya sayang juga ngabisin waktu banyak buat ngurusin kebaktian, yang datang juga itu-itu aja. Aku kan udah kelas 3, mau fokus utk persiapan kuliah, les, bimbel, belom lagi diomelin ama orang tua. Apa berhenti dulu ya dari “kegiatan rohkris” ini? Ntar takutnya gagal lagi cita-citaku gara2 ngurusin ini mulu... Ah, gak taulah...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : Ehm...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt; : Gw juga dulu gitu waktu siswa, capek sih, takut juga, tapi puji Tuhan, bisa kok lulus di kampus yg gw harapin. Yakinlah... Tuhan pasti kasi yang terbaik kok... Tapi... gw jg lagi capek sekarang, di kampus jadi pengurus lagi, udah berapa tahun... hehe&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : wess... udah sering ikut pembinaan dong. Hehe. PPA di sana-sini, MC sana-sini, PKK, trainer, Udah berapa orang yg dibawa pada Kristus?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt; : hahahaha... Malu aku, kak, kalo ditanya gitu... Itu juga sih yg ku pikirkan.Utk apa ya record pelayananku yg banyak itu. Hampa. Banyak ikut training Penginjilan, tapi gak pernah menginjili. Sibuk sana sini, tapi apakah itu aku lakukan dgn sungguh? Apakah Tuhan senang, atau hanya sekedar segudang kegiatan pelayanan? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(sedih)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni&lt;/span&gt;         : aku dengar cerita gini, jadi rindu banget dgn suasana itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : Maksudnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni&lt;/span&gt;         : udah alumni gini, sibuk kerja, gak pernah lagi terlibat pelayanan. Padahal dulu waktu masih di kampus, sekolah, aku aktif jd pengurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siswa&lt;/span&gt;         : sekarang kenapa kak?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni&lt;/span&gt;         : gak sempat. Sibuk bgt kerjaan. Ku pikir aku udah di jalan yg benar, aku kerja, gak terhisap isme-isme alumni: hedonisme, materialisme, konsumerisme, aku gak terpengaruh. Tapi kerjaan ini malah mengambil seluruh waktuku. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(sekali-sekali melihat Blackberry)&lt;/span&gt;. Penghasilan sih lumayan. Tapi, jangankan waktu utk pelayanan, utk keluarga aja makin lama makin kurang, belum lagi aku rencana utk lanjut kuliah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt; : kakak kerja dimana sih?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni&lt;/span&gt;         : di bank&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt; : oh… berarti kakak dulu jurusan ekonomi dong..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni &lt;/span&gt;        : enggak. Aku alumni Fakultas Teknik &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mahasiswa bingung)&lt;/span&gt;. Ya, namanya kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Siswa&lt;/span&gt;         : Lho kok?? Ah, udahlah… jadi pelayanan kakak sekarang?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Alumni&lt;/span&gt;         : sebatas donatur. Ah,,, aku tau pasti ada yg salah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Mahasiswa&lt;/span&gt; : jadi takut gw jadi alumni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : ok deh. Gini... Dengar... Aku mau tanya, kalian tau Allah sangat mengasihi kalian?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semua&lt;/span&gt;         : tau... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(menganggukkan kepala)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : apakah kalian mengasihi Allah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Semua&lt;/span&gt;         : iya... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(mengangguk)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Konselor&lt;/span&gt; : urutan ke berapa Dia dalam hidup kita? &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(semua tertunduk)&lt;/span&gt;... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(sambil konselor pergi)&lt;/span&gt; Dia sangat mengasihimu. Kalau kalian tau itu... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;(satu-satu pergi melangkah lambat)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3941305359353845559?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3941305359353845559/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/roleplay-allah-mengasihimu-kamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3941305359353845559'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3941305359353845559'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/11/roleplay-allah-mengasihimu-kamu.html' title='Roleplay (Allah mengasihimu,, kamu?)'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3144343245423168644</id><published>2010-07-29T12:38:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T13:16:35.050+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kenapa harus aku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcn7Lf4cI/AAAAAAAAAH8/QQmRisRDNEQ/s1600/doa.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcn7Lf4cI/AAAAAAAAAH8/QQmRisRDNEQ/s200/doa.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499208092222480834" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Aku baru aja servis motor. Setelah kecelakaan waktu itu memang satu demi satu bagian harus di servis lagi. Kemarin tiba-tiba semua bagian mati, gak bisa starter, lampu sign, lampu utama, lampu rem, klakson, semua lampu yang di kepala motor, gak ada yang nyala. Aku pikir masalah baterai aki, terus lihat skringnya putus, coba-coba ganti skring, eh ternyata bisa. Besoknya, kumat lagi, semua mati lagi, dan skringnya putus lagi. Aku pikir berarti ada yang gak beres, ada yang korslet mungkin. Tapi gak sempat ke bengkel, karena jam 5 pagi aku harus berangkat dari Jakarta ke Karawang, hujan pula lagi. Pikirku siang aja, atau malam, ternyata gak jadi karena hujan seharian. Besoknya baru kesampaian. Aku bawa ke bengkel, tukang bengkelnya cek, dan memang berkesimpulan ada yang korslet, cuma belum tau yang mana. Dicek kabelnya –yang banyak banget itu, satu per satu, semua bodi motor dibuka. Dan............. akhirnya ketemu. Switch rem belakang korslet. Kabelnya putus, dan menimbulkan percikan api, udah meleleh sebagian. Aku baru ingat, memang switch rem itu baru ku ganti waktu awal bulan karena rusak, tapi ternyata gak rapi waktu dipasang, jadi korslet. Aku terperanjat sejenak waktu dengar tukang bengkelnya bilang: “Untung mas cepat-cepat bawa kemari, kalo gak, motor ini bisa terbakar, ’kan dekat bensin”... Pikiranku langsung berimajinasi: udah berhari-hari rusak tapi belum dibawa ke bengkel, ternyata bisa bahaya banget. Bisa terbakar. Gimana kalo aku lagi di motor, dan tiba-tiba motor terbakar? Atau kalo aku lagi tidur, atau kalo aku lagi di dekat motor? Ah, bisa mati aku… hanya karena percikan api kecil...&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Tapi nyatanya itu tidak terjadi!! Aku masih di bengkel, aku masih hidup, malamnya aku masih bisa nulis artikel ini. Tuhan masih membiarkan aku hidup. Kenapa? Kenapa harus aku?&lt;br /&gt;Aku sering terpikir begitu... Waktu beli nasi goreng, capcay atau pecel lele, sambil nunggu dimasak, mataku terus melihat tabung gas elpiji 3kg dan berpikir: gimana kalo tiba-tiba tabung ini meledak? Matilah aku. Atau waktu naik pesawat, begitu banyak hal yang di luar pemantauan manusia, masalah kecil tapi akibatnya fatal. Sering aku kepikiran, gimana kalo ada sedikit aja kabel yang korslet, meledaklah pesawat ini; atau kalau ada satu baut aja yang longgar, olenglah pesawat ini; atau cuaca buruk; atau bencana lain? Siapa yang bisa memastikan semuanya akan baik-baik saja?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pernah gak kita berpikir demikian? Tapi ternyata kita masih hidup sampai saat ini. Pernahkah kita bertanya: kenapa harus aku? Kenapa harus aku yang masih hidup? Kenapa harus aku yang selamat? Mungkin pertanyaan ini gampang kita lontarkan ketika kita merasa ditimpa sial, tidak beruntung, malang, sakit, dukacita, kecelakaan, kita tidak sulit mengatakan: kenapa harus aku? Kenapa bukan dia?? Tetapi jika keadaannya sangat baik, kondisi fisik yang sempurna, sehat, multitalent, cukup materi, studi yang baik, pekerjaan yang baik, keluarga yang hangat, pernahkah kita bertanya: kenapa harus aku? Siapa aku ini yang layak mendapatkannya? Bukankah masih banyak orang yang lebih layak? Perenungan ini langsung menghantarkan aku pada sebuah lagu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why have You chosen me out of millions Your child to be?&lt;br /&gt;You know all the wrong that I’ve done&lt;br /&gt;O how could You pardon me, forgive my iniquity&lt;br /&gt;To save me, give Jesus Your Son...&lt;br /&gt;     # But (Oh) Lord help me be what You want me to be,&lt;br /&gt;        Your word I will strive to obey&lt;br /&gt;        My life I now give, for You I will live&lt;br /&gt;        And walk by Your side all the way&lt;br /&gt;I am amazed to know that a God so great could love me so&lt;br /&gt;He’s willing and wanting to bless&lt;br /&gt;His grace is so wonderful, His mercy’s so bountiful&lt;br /&gt;I can’t understand it, I confess...#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu ini seringkali meneteskan air mataku. Kenapa aku yang dipilih-Nya? Kenapa aku masih hidup? Bagi Rasul Paulus hanya ada 2 pilihan (Filipi 1:20-26): mati, artinya hidup kekal bersama dengan Allah (20); atau hidup di dunia ini untuk bekerja memberi buah (21). Tidak ada pilihan lain: hidup tapi tidak berbuat apa-apa. Kita masih hidup, kamu masih bisa baca tulisan ini, berarti masih ada pekerjaan yang harus kita lakukan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*buat mereka yang baru, sedang dan akan berulang tahun; buat mereka yang sedang (atau tidak) menikmati hidup&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3144343245423168644?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3144343245423168644/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/kenapa-harus-aku.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3144343245423168644'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3144343245423168644'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/kenapa-harus-aku.html' title='Kenapa harus aku'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcn7Lf4cI/AAAAAAAAAH8/QQmRisRDNEQ/s72-c/doa.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-103009880308802820</id><published>2010-07-29T12:30:00.002+07:00</published><updated>2010-07-29T14:14:22.398+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pelayanan yang bukan pelayanan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcXobH7UI/AAAAAAAAAH0/4u6vBG_5bt4/s1600/maria+martha.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 173px; height: 200px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcXobH7UI/AAAAAAAAAH0/4u6vBG_5bt4/s200/maria+martha.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499207812309839170" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak orang terlibat pelayanan, tapi sepertinya tidak banyak yang selalu merenungi, apakah yang dilakukannya benar-benar pelayanan atau bukan. Bagi sebagian orang mungkin itu tetap bisa disebut sebagai pelayanan, tetapi secara radikal bukanlah pelayanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Pelayanan yang tidak jelas motivasinya&lt;br /&gt;Kenapa melayani? Ya kenapa ya... ya gitu deh. Kan bagus, dari pada tidak berbuat apa-apa. Memang tidak sesalah: ingin cari perhatian, ingin dapat kenalan, ingin tampil, terkenal; tapi tidak jelas dan tidak tajam. Dan itu yang bahaya, padahal kelihatannya baik. Kenapa jadi guru sekolah minggu? Karena suka anak-anak. Kenapa harus jadi guru sekolah minggu? Jadi guru TK aja, kan banyak anak-anak? Kenapa jadi gitaris, MC? Bakat ku kan di situ. Kenapa gak bentuk grup band aja kalau punya bakat di situ? Kenapa mau jadi panitia ini? Kenapa memutuskan untuk jadi seksi acara/ pubdok/ perlengkapan/ dana/ konsumsi, dll? Gak ada yang mau jadi seksi doa, karena berdoa aja kerjanya? Harusnya pertanyaan ini bisa dijawab dengan mantap oleh orang-orang yang komitmen di pelayanan itu. Jika tidak, jangan heran banyak orang berhenti di tengah jalan, tidak jelas motivasinya, sekalipun kelihatan baik, tidak ada sukacita sejati setelah melayani, senang mungkin iya, karena memang cocok mengerjakan hal itu, tapi bukan damai sejahtera. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut pelayanan jika tanpa motivasi yang jelas? Atau ada juga pelayanan yang versi ini: waktu ditanya, pelayanan dimana? Jawabnya: hidupku adalah pelayananku, atau aku melayani lewat donasi sih sekarang. Benar juga sih, tapi bisa jadi salah, kalau tidak ada pergumulan untuk terlibat lebih dalam, atas pertanyaan what, where, when, who, why, how?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Pelayanan yang bukan dikerjakan oleh pelayan&lt;br /&gt;Pelayanan adalah respon ucapan syukur dari orang-orang yang sudah ditebus Kristus, diselamatkan, dengan kesadaran penuh akan kebutuhan untuk terus berelasi dengan Allah dan sesama, serta rasa berhutang agar orang lain juga dapat menikmati apa yang telah dia nikmati bersama Allah. Melayani dengan sadar bahwa Allah terlebih dahulu melayani, dengan ‘turun tahta’, datang ke dunia, mengambil rupa seorang hamba dan taat sampai mati di kayu salib demi orang-orang yang dikasihi-Nya. Hal ini bisa dilakukan oleh orang-orang yang hidupnya telah diubahkan Kristus dan membiarkan Kristus yang terus menguasai seluruh hidupnya, hati dan pikirannya. Dia tau apa artinya menghamba, melayani, siapa yang sesungguhnya sedang dilayani, dan apa yang berkenan saat melayani, bukan sekedar berbuat ini itu, bukan sekedar mengerjakan target, deadline, program, atau sebuah event. Tidak jarang melihat ‘pelayanan yang tidak hidup’ karena pemusiknya hanyalah musisi, tapi bukan pelayan (mungkin sedang show); singernya adalah penyanyi, tapi bukan pelayan; panitianya adalah event organizer, tapi bukan pelayan. Selama dia belum terima Kristus, tidak ada relasi dengan Kristus, belum cinta Kristus dan benci dosa, dia bukanlah pelayan. Dan pelayanan apakah yang pantas disebut sebagai pelayanan jika tidak dikerjakan oleh para pelayan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Pelayanan yang egois&lt;br /&gt;Sepertinya ini terjadi secara tidak sadar, bahkan oleh seorang pelayan yang jam terbangnya sudah tinggi, atau pelayan yang sudah begitu banyak terlibat dalam pelayanan di sana sini. Kenapa melayani? Untuk menjaga kondisi kerohanianku, supaya aku tetap terlibat dalam pelayanan, untuk mengisi waktu kosongku dengan hal yang mulia, supaya aku tetap disegarkan oleh firman Tuhan, supaya aku tetap bisa bersekutu, supaya aku, aku, aku... Tidak ada yang salah dari alasan-alasan itu, tetapi adakah alasan lain selain aku, aku dan aku? Kita terlibat begitu banyak pelayanan, tanpa henti, bahkan rangkap, supaya apa? Supaya aku... aku... Sampai di situkah? Tidak heran kalau banyak pelayan yang kelelahan, karena dia sedang melakukan ‘pelayanan yang egois’. Anugerah terbesar dalam kehidupan manusia adalah saat Allah (yang tidak egois) memberikan anakNya, Yesus Kristus, sebagai Juruselamat bagi umat manusia. Dan Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri, tetapi untuk Dia, yang telah mati dan telah dibangkitkan untuk mereka. Pembaharuan ini seharusnya membuat para pelayan mampu mengasihi Allah dan orang-orang yang Allah kasihi. Jadi bukan sekedar supaya aku, tapi supaya Allah, dan supaya umat Allah... Pantaskah disebut pelayanan jika pelayanan itu egois?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat cerita 3 tukang batu. Dari satu pertanyaan: “Apa yang sedang kamu kerjakan?”, ada 3 jawaban (yang tidak salah, namun berbeda):&lt;br /&gt;Tukang batu 1: aku sedang meletakkan satu batu di atas batu lainnya.&lt;br /&gt;Tukang batu 2: aku sedang mencari nafkah untuk istri dan anakku&lt;br /&gt;Tukang batu 3: aku sedang membangun sebuah gereja besar, suatu saat nanti semua orang akan menyembah Tuhan di gereja ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga sering terjebak berpikir demikian. Namun tukang batu yang ketiga mampu melihat visi besar dalam hal sederhana yang dia lakukan. Harusnya kita juga berjuang untuk terus melayani dan menyadarinya sebagai bagian kecil dari rencana kekal Allah bagi dunia ini. DIA bisa pakai siapa saja untuk melayani-Nya, tetapi sungguh sayang ketika kepercayaan/ anugerah itu diberikan kepada kita namun kita menyia-nyiakannya dengan tidak memberikan yang terbaik di waktu yang tidak banyak/ terbatas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngomong tentang pelayanan juga, pasti teringat perikop Maria dan Marta (Lukas 10:38-42). Marta sibuk sekali melayani. Tidak ada yang salah dengan Marta, tapi dia hampir kehilangan kesempatan terbaik untuk mengenal Tuhan Yesus. Dan itu yang ada dalam diri Maria: “...hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya.” (ay.42). Banyak hal baik yang bisa kita lakukan, tapi jangan-jangan itu bukan yang terbaik? Saya setuju LAI memberi judul Maria dan Marta, padahal yang disebut duluan dan paling banyak beraksi adalah Marta, baru Maria. Tapi bukan banyaknya aksi, hanya Maria memilih bagian yang terbaik, melakukan apa yang Tuhan mau (bukankah itu pelayanan? Pelayan melakukan apa yang disuruh Tuan), duduk diam dengar Tuhan ngomong. Jadi, bagaimana evaluasi pelayanan kita selama ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin setelah membaca tulisan ini, Anda akan berkata: “ah... tulisan ini mah udah biasa. Semua juga udah pada tau. Apalagi yang udah terbina di pelayanan siswa, mahasiswa, alumni, gereja, sekolah minggu sampai kaum lansia. Gak ada yang baru”. Memang. Sama seperti halnya seorang teman berkata kepada anda untuk membersihkan kamar anda yang berantakan. Anda pasti sudah tau itu. Tapi ketika akhirnya anda melakukannya juga, anda lalu berkata: “Oh... ini nih pulpen yang gw cari dari kemaren-kemaren... Ketemu juga akhirnya... thanks ya...”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada salahnya menjadi Marta, asalkan ada hati Maria di dalamnya... &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*buat mereka yang merasa sedang melayani atau mengurus pelayanan...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-103009880308802820?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/103009880308802820/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/pelayanan-yang-bukan-pelayanan.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/103009880308802820'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/103009880308802820'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/pelayanan-yang-bukan-pelayanan.html' title='Pelayanan yang bukan pelayanan'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEcXobH7UI/AAAAAAAAAH0/4u6vBG_5bt4/s72-c/maria+martha.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6699286777215227143</id><published>2010-07-29T12:25:00.001+07:00</published><updated>2010-07-29T12:56:58.318+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Jadi bias karena biasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEYD1foGcI/AAAAAAAAAHs/7MeJeAVDMAE/s1600/sms.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 137px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEYD1foGcI/AAAAAAAAAHs/7MeJeAVDMAE/s200/sms.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499203074174491074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Apa kata-kata paling sering muncul dalam ucapan-ucapan ulang tahun di facebook? “Selamat ulang tahun, Wish you all the best.” (met ultah ye… wis yu ol de bezt). Apa kalimat penutup sms paling populer? “Gbu”. Awalnya menarik, tapi lama-lama kelamaan jadi hambar. Tidak ada yang salah dengan kalimat itu, sangat baik. Tapi apakah ungkapan itu betul-betul doa dari yang mengucapkan? (supaya yang terbaik, yang terjadi bagi kawanku ini, supaya Tuhan memberkati kawanku ini). Atau sekedar lewat, sekedar kalimat penghias, atau kalimat penutup, supaya tidak dihubungi lagi? Hehehe… “Lagi ngapain?”, “Lagi makan, Gbu”. Habis deh… Padahal tadinya pengen ngobrol lebih panjang. Hihihi…&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu sering kata-kata tersebut diucapkan, jadi bias karena biasa, tidak ada lagi emosi di balik kata-katanya. Bukan karna seringnya, kata itu jadi hambar, sehingga kita harus membatasi mengucapkannya, tapi masihkah kata-kata itu keluar dari hati yang tulus? Seperti kata-kata seorang suami yang telah menikah 30 tahun, kata “sayang, I love you” masih begitu hangat di telinga istrinya, sekalipun diucapkan tiap pagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Bukan sembarangan ketika berkat diucapkan. God bless you and keep you… TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera. (Bil 6:24-26). Itu Tuhan sendiri yang menetapkan agar melalui para imam, Ia memberkati bangsa Israel. Bukan sembarangan ketika dalam mengawali semua suratnya, Paulus mengucapkan salam, syukur, dan berkat. Roma: Pertama-tama aku mengucap syukur kepada Allahku oleh Yesus Kristus atas kamu sekalian, sebab telah tersiar kabar tentang imanmu di seluruh dunia. Karena Allah, yang kulayani dengan segenap hatiku dalam pemberitaan Injil Anak-Nya, adalah saksiku, bahwa dalam doaku aku selalu mengingat kamu: (Rom1:8-9); Efesus: Dari Paulus, rasul Kristus Yesus oleh kehendak Allah, kepada orang-orang kudus di Efesus, orang-orang percaya dalam Kristus Yesus. Kasih karunia dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita dan dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kamu. (Ef1:1-2), Filipi: Aku mengucap syukur kepada Allahku setiap kali aku mengingat kamu. Dan setiap kali aku berdoa untuk kamu semua, aku selalu berdoa dengan sukacita. (Flp1:3-4), atau salam penutupnya, Kolose: Salam dari padaku, Paulus. Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri. Ingatlah akan belengguku. Kasih karunia menyertai kamu. (Kol 4:18), Tesalonika: I pray that the Lord, who gives peace, will always bless you with peace. May the Lord be with all of you. I always sign my letters as I am now doing: PAUL. I pray that our Lord Jesus Christ will be kind to all of you. (2Tes3:216-18). Salam ini benar-benar keluar dari kerinduan hati yang paling dalam, dari rasul Paulus, sekalipun di penjara. Dia berani mengatakan bahwa Allah adalah saksinya betapa dia rindu dengan jemaatnya, dia memang bertindak nyata bahwa dia sangat ingin berusaha untuk menemui/ berkunjung ke jemaat itu… bukan sekedar ucapan atau kalimat pengantar dan penutup.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ok deh. Semoga mulai sekarang kita tidak gampang lagi mengucapkan kata-kata yang indah itu. Wish you all the best, Gbu, ada yang mau di didoakan?? Benarkah kita berdoa demikian? Supaya jangan jadi bias karena biasa, atau jadi basi karna kelamaan, tapi jadi bisa karena terbiasa, dengan doa senantiasa.&lt;br /&gt;Ah, udahlah… Tengkyu, Gbu. Eh, keceplosan… Ada yang mau didoakan? Ups, kebiasaan… Bye… Lho, kok goodbye? Mungkin lebih baik: see you…  Bukan selamat tinggal, tapi see you, berharap bertemu denganmu lagi… Prikitiew… Gbu, cu :)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6699286777215227143?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6699286777215227143/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/jadi-bias-karena-biasa.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6699286777215227143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6699286777215227143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/jadi-bias-karena-biasa.html' title='Jadi bias karena biasa'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEYD1foGcI/AAAAAAAAAHs/7MeJeAVDMAE/s72-c/sms.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3408262949953212465</id><published>2010-07-29T12:11:00.003+07:00</published><updated>2010-07-29T17:58:13.900+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Iman yang sederhana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEWxSVyijI/AAAAAAAAAHc/zlFdI-6Sjvg/s1600/sepeda.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 189px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEWxSVyijI/AAAAAAAAAHc/zlFdI-6Sjvg/s200/sepeda.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5499201655988718130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Iman itu sederhana. Percaya saja dan lakukan. Bukan sekedar believe (percaya), tetapi trust (mempercayakan); bukan sekedar do (berbuat), tetapi obey (taat penuh). Sekalipun banyak hal yang tidak dimengerti dan dipahami, tapi tetap taat dan lakukan saja apa yang berkenan kepada Tuhan. Tidak gampang memang, tapi sesederhana itu. Kita harus berlutut dan sadar bahwa kita sangat terbatas dan tidak ada apa-apanya dibandingkan Allah yang tidak terbatas. Kita tidak akan mampu memahami sepenuhnya pikiran dan kemauan Allah. Kita hanya mampu mengetahui sebatas apa yang dinyatakan-Nya pada kita, khususnya yang tertulis di Alkitab. Itu saja. Dan Alkitab cukup, untuk memberi tahu segala sesuatu yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;perlu&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kita ketahui, bukan yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ingin&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; kita ketahui. Jadi jangan paksakan diri kita untuk mengerti dan mengetahui secara utuh pikiran-Nya Allah. Kita akan kecewa. Allah bukanlah objek yang bisa diteliti manusia melalui mikroskop. Manusia adalah ciptaan, dan Dia Pencipta. Mungkin kalau dibandingkan, jika pikiran Allah seluas samudera raya di bumi ini, maka pikiran kita hanyalah seperti gayung kecil. Mana mungkin satu gayung kecil mampu menampung isi seluruh lautan di bumi ini?&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Iman itu sederhana. Sesederhana tindakan Abraham meninggalkan keluarganya menuju negeri yang ditunjukkan Allah baginya. Sesederhana perkataan Abraham sewaktu diminta mengorbankan Ishak, Sahut Abraham: "Allah yang akan menyediakan anak domba untuk korban bakaran bagi-Nya, anakku." Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama. Sesederhana tindakan seorang janda miskin dari Sarfat yang memberi Elia makan dengan segenggam tepung dalam tempayan dan sedikit minyak dalam buli-bulinya. Sesederhana tindakan Ester saat menghadap Sang Raja Ahasyweros untuk memperjuangkan nasib bangsanya walaupun hukuman mati ada di depan mata. Sesederhana pernyataan Sadrakh, Mesakh dan Abednego saat akan dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu”. Sederhana bukan? Sesederhana tindakan iman perempuan yang sudah dua belas tahun lamanya menderita pendarahan yang mendekati Yesus dari belakang dan menjamah jumbai jubah-Nya dengan harapan "Asal kujamah saja jumbai jubah-Nya, aku akan sembuh."&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Iman itu sederhana. Saya rasa perempuan yang sakit pendarahan itu percaya pada Tuhan sekalipun dia belum mengerti apa itu doktrin eskatologi, soteriologi, eklesiologi, dan logi-logi yang lain. Yang penting dia percaya, itu Tuhan, yang sanggup mengubahkan hidupnya. Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Hai anak-Ku, imanmu telah menyelamatkan engkau, pergilah dengan selamat!" (Luk 8:48). Sederhana bukan? Tapi sayang, iman sesederhana itu jarang dijumpai di kalangan Kristen saat ini. Orang banyak bergantung pada mujizat yang spektakuler, kalau tidak terjadi, dia kecewa, dia meragukan Tuhan. Mungkin dia lupa, banyak mujizat-mujizat sederhana yang telah dia alami. Bukankah masih bangun pagi itu adalah mujizat? Nanti malam masih ada nasi di meja makan, bukankah itu mujizat? Banyak orang semakin pintar, tapi justru makin meragukan imannya, ketika dia tidak bisa memecahkan dengan pikirannya dan menguasai sepenuhnya apa itu: konsep keselamatan, soteriologi, eskatologi, gimana nanti akhir zaman, apa itu Allah Tritunggal, apa itu predestinasi, konsep pilihan, konsep anugerah, keadilan, pengampunan, dst dlsb… Makin dia tidak mengerti, makin ragu dia akan apa yang dia imani. Padahal sederhana: seperti yang sudah saya sebut di atas: kita terbatas, jadi trust and obey aja. Memang, dalam pertumbuhan iman dan kedewasaan seseorang, kita &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;harus&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; semakin bertumbuh dalam knowledge dan character, kita harusnya semakin mengerti dan menguasai apa yang kita imani, tetapi jika kita tidak mampu mengerti seluruhnya, itu wajar, karena kita bukan Allah, dan itu harusnya membuat kita tertunduk takjub dan semakin mengagumi kemaha-kuasaan Allah, bukan malah meragukannya. Belum tentu apa yang tidak kita ketahui sekarang, memang tidak ada, atau bukan kebenaran. Seperti anak SD yang kita paksa mengerjakan soal matematika kalkulus yang rumit, dia akan stress dan mengatakan: jawabannya tidak ada! Benarkah demikian? Oh, ternyata setelah kuliah kita baru mengerti jawabannya. Sederhana bukan? Yang tidak kita ketahui sekarang bukan berarti tidak ada. Ikuti aja. Bukan harus mengerti segala sesuatunya dulu, baru kita ikut Tuhan, tapi itulah uniknya iman, dalam ketidak-tahuan kita, bukan kita yang sibuk untuk menggapai tangan Allah, tapi membiarkan tangan kita untuk dipegang oleh Tuhan. Seperti yang dialami Petrus, ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" Segera Yesus mengulurkan tangan-Nya, memegang dia dan berkata: "Hai orang yang kurang percaya, mengapa engkau bimbang?" (Mat 14:30-31).&lt;br /&gt;Apakah kau mengerti sepenuhnya cara kerja otakmu? Kalau tidak, mengapa engkau masih memakainya? Apa tidak lebih baik, keluarkan otakmu, pelajari sungguh-sungguh, setelah mengerti, baru pakai lagi? Kalau tidak mengerti, jangan pakai lagi!! Begitu? Kan tidak? Jadi, kita pelajari aja semampunya, dan jangan pernah lepaskan. Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing. (Rom12:3)&lt;br /&gt;Jadi, jangan tunggu mengerti dulu baru ikuti, tapi ikuti saja sambil mengerti. Makin mengerti, makin baik. Banyak yang tidak mengerti, pelajari, masih gak ngerti juga, ya imani… Sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*buat mereka yang pernah satu kelompok denganku, untuk belajar apa artinya beriman.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3408262949953212465?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3408262949953212465/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/iman-yang-sederhana.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3408262949953212465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3408262949953212465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/07/iman-yang-sederhana.html' title='Iman yang sederhana'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TFEWxSVyijI/AAAAAAAAAHc/zlFdI-6Sjvg/s72-c/sepeda.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3523736293944777992</id><published>2010-06-29T19:50:00.001+07:00</published><updated>2010-06-29T19:52:02.071+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mei 2010</title><content type='html'>1 Mei, ada 2 Paskah yang pengen banget aku ikutin, Paskah Budi Luhur, dan Paskah PO PTK (Persekutuan Oikumene Perguruan Tinggi Kedinasan). Mana yang harus kupilih, aku tak tahu. Ingin ke BL ketemu dengan AKK yg udah lama gak ketemu. Ingin juga ke Paskah PO PTK, siapa tau makin akrab dengan pengurusnya dan bisa terus dampingi mereka… Ah,,, jam nya tabrakan pula… Harus milih… Ya sudahlah, aku pilih Paskah PO PTK, karena STAN tuan rumah dan di situ aku jadi pendamping sharing kelompok. Ternyata………. Waktu di jalan mau kesana, udah rapi, berbatik, ban motor bocorrrrr di Jalan Thamrin… Ah, sebelnya. Masa di jalan sebesar Thamrin masih ada paku? &lt;eh, ternyata akhir-akhir ini baru baca berita, memang ada komplotan penyebar paku di jalan, khususnya di Jalan Gatot Subroto, mereka diupah 50 rb sekali menebar paku… ckckck… Waspadalah!!! Waspadalah!!!&gt;. Tidak berhenti sampai di situ, tukang tambal ban yang 500m dari situ, mulai meriksa ban. Tapi aku gak ikut jongkok dan periksa, malah lihat yang lain. Gak tau kenapa, setelah diperiksa, kok bocor di banku jadi banyak dan gede-gede? Curiga… Soalnya ini yang kedua kalinya aku jadi korban kejadian serupa. Baru 2 minggu ganti ban dalam. Kejadiannya di bawah flyover Galur, mau masuk kolongnya Senen. Ban kempes, kena paku, karena gak dilihatin waktu meriksa bannya, jadi bocornya gede, dan terpaksa ganti ban dalam. Haduh,,, sial… Makin keras aja usaha orang cari uang di Jakarta ini. Tapi ya sudahlah… Pelajaran: Sekali lagi harus ikut jongkok dan ikut memeriksa ban bocor. Dan… sampai Bintaro, Paskah PO PTK, acaranya udah 30 menit khotbah, berarti aku telat sekitar 1 jam. (-_-‘) Waktu acara sharing, aku mimpin AKIP (perguruan tinggi kedinasan untuk sipir penjara itu…), karena mereka juga telat… Hehehe… Aku hanya berharap, PO PTK bisa dipakai Tuhan, untuk memperbaiki bangsa ini melalui mahasiswanya yang akan menjadi alumni di departemen-departemen strategis di bangsa ini, menjadi PNS yang siap menderita demi bangsa. Tidak ada yang salah dengan pengharapan… *&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari situ, makan di Mang Kabayan, simpang Depsos Bintaro… Hahaha… Ini unik, karena sejak dari mahasiswa selalu lewat situ untuk Bible Study PMKJ Selatan 2, tiap senin. Tapi baru kesampaian makan di situ setelah alumni… Enak dan tidak terlalu mahal.*&lt;br /&gt;2 Mei, lanjut dengan Paskah Bonapasogit. Aku jadi tim doa. Menikmati bagaimana terus berdoa selama acara (baik di ruang doa maupun di tempat duduk) demi orang bisa menikmati Allah dalam ibadah ini melalui pujian, doa, kesaksian dan firman. Menakjubkan rasanya melihat sekitar 8000-an orang Batak (dan ada juga non batak) sekitar Jabodetabek memenuhi Istora Senayan dan bersama-sama bernyanyi buat Tuhan. Dari pengusaha sampai tidak punya usaha, dari direktur sampai kondektur, dari semua lapisan masyarakat, umur dan pekerjaan. Sangat menyentuh hati. Tapi, tetap aja ada evaluasi pribadiku untuk acara ini: masakan untuk acara yang dari siang sampai sore ini tidak disediakan konsumsi, snack sekalipun? Bagaimana orang bisa fokus bernyanyi apalagi dengar firman dengan kerongkongan kering dan perut lapar? Sekalipun kita berdoa supaya Roh Kudus yang menguasai hati pikiran mereka, tapi masak kita tidak berbuat sesuatu supaya kondisi mereka fit ketika dengar firman? Sekalipun acara ini gratis, dan memakan sangat banyak biaya (apalagi kalau ditambah konsumsi), mungkin lebih baik jika panitia mengutip sumbangsih dana bagi mereka yang mampu memberikan donasi, untuk konsumsi bersama. Terus lagi, karena jemaatnya banyak, durasinya lama, di beberapa bagian tempat duduk mulai tidak tenang (khususnya yang bawa anak kecil), dan terkadang mengganggu khusuknya ibadah. Dan satu lagi, kiranya firman disampaikan dengan sederhana, jelas, kuat dan tepat waktu. Berharap juga, melalui orang Batak yang secara jumlah sangat banyak, ada perubahan bagi perbaikan bangsa ini. Banyak orang batak yang berkualitas dan menjadi berkat bagi bangsa ini, tapi banyak juga yang merusak bangsa ini. Semoga lebih baik. Ido ate?*&lt;br /&gt;Selanjutnya… dihubungin untuk jadi trainer Pemimpin Pujian (MC) di Bea Cukai, tanggal 9 dan 16, lanjut lagi, Pembicara di kebaktian BC tanggal 12. Karena aku lihat jadwal kosong, aku jawab OK. Tapi bukan karena alasan itu saja, lebih dari itu. Ada sukacita besar di hati ini. Ada persekutuan di BC!!! Ini adalah jawaban doa dari sekitar 5 tahun yang lalu, ketika mereka pindah dari Bintaro ke Rawamangun. Dan baru sekarang mulai dirintis dan sudah rutin. Puji Tuhan. Aku gak akan menyia-nyiakan pelayanan ini. Tanggal 9 beres, bawain Hymnology dan teknis MC. Tinggal nunggu tanggal 16, simulasi. Tanggal 12 juga beres, padahal itu hari Rabu (tapi aku lihat besoknya merah/libur), aku laju dari Karawang ke Rawamangun, demi Bea Cukai :) bawain tema Hubungan Pribadi dengan Allah, apa pentingnya menjaga relasi dengan Tuhan dalam saat teduh, doa, bible study, bible reading, dan persekutuan, tanpa itu, hancurlah hidup ini, kita akan mati, sekalipun secara fisik masih hidup! Karena itulah nafas rohani kita.&lt;br /&gt;Tanggal 14 Mei… seakan hidupku berhenti sejenak. Aku kecelakaan. Jumat malam, di Cakung, lagi berhenti, eh, ditabrak Kijang Inova dari belakang, tabrakan beruntun, 2 mobil dan 2 motor… Hah… sial banget rasanya. Si sopir lagi ngantuk, dia sopir perusahaan rental, dan kelelahan antar jemput karyawan katanya. (artikel tentang insiden ini bisa dibaca di Semua dalam kendali). Aku lagi boncengan ama Misni. Waktu aku terhempas, aku masih bisa dengar suara Misni teriak, “kakak…kakak…”, dia jatuh terduduk. Kakiku lecet, motor rusak parah. Orang udah ramai banget, polisi datang, sampai pagi di kantor polisi. Misni bilang: “kak, ini pertama kali aku tabrakan, dan aku bersyukur itu sama kakak…”. Hah… udah kayak sinetron, ada kasih di balik kisah, mengurangi rasa nyerinya luka. Pihak yang nabrak mau ganti. Tapi, beresnya lamaaaaa banget. Gakpapalah, asal tanggung jawab. Dan ternyata… akhirnya si sopir dipecat, padahal baru kerja disitu 4 bulan. Kasihan juga. Bodi motor yang diganti banyak yang imitasi, tapi berpikir 2 kali untuk komplain, karena si sopir pun bingung mau cari kerja dimana. Gara-gara kejadian itu, banyak pelayanan gagal: ketemuan untuk buat bahan PA STAN, bawa firman di pembinaan PKK STAN, tanggal 15 gagal. Dan juga lanjutan training MC di BC, ikut gagal. Yah… mungkin waktunya istirahat dulu.*&lt;br /&gt;Setelah pelayanan di Bonapasogit, sebenarnya langsung ditawarin pelayanan di Panitia HUT Perkantas (tanggal 3 Juli), sebagai koordinator pula. Aku doain dulu, aku bilang. Aku sebenarnya sih butuh pelayanan yang kontinu seperti ini untuk jaga kondisi, karena di Karawang gak ada pelayanan, walaupun Karawang-Jakarta menempuh 80km. Aku terima, sekaligus sebagai rasa “hutang” terhadap pertumbuhan dan pembinaan yang kudapat dari Perkantas dan orang-orangnya. Ternyata Perkantas sudah 39 tahun. Rapat perdanaku tanggal 15 pula… Ikutlah aku rapat perdana ini dengan keadaan pincang-pincang… &lt;br /&gt;Hari demi hari, keadaan semakin baik, tapi motor belom selesai.&lt;br /&gt;Tanggal 22, KTB 2005 ke Kebun Raya Bogor. Dengan bahan Diberkati untuk Menjadi Berkat bab 5, pulang dengan Proyek Ketaatan: bangun persekutuan di kantor masing-masing… Aduh,,, beratnya ini… Gimana aku mau ngomong ama kepala2 seksi?? Waktu ada kebaktian di kantor sebelah aja, miskin respon. Gimana nih?? Tapi mencoba beranikan diri… 1 langkah berhasil, ada yang mendukung, tapi usulnya 3 bulan sekali aja… Waduh, apa ini?? Pikirku. Kebaktian apa 3 bulan sekali, setahun cuma 4 kali? Hubungi yang lain, miskin respon. Padahal di kantor ada yang sintua, kayaknya ada juga ikut persekutuan waktu mahasiswa, tapi setelah di kantor, gak ada passion untuk membuat persekutuan kantor… Bersiaplah kalian para mahasiswa!!! Jangan cepat bangga kalau terbina di mahasiswa, tunjukkan di alumni!!!&lt;br /&gt;Bulan Mei, maybe yes maybe no.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3523736293944777992?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3523736293944777992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/06/mei-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3523736293944777992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3523736293944777992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/06/mei-2010.html' title='Mei 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4455821476218271495</id><published>2010-06-25T12:01:00.002+07:00</published><updated>2010-06-25T12:05:09.409+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>mendukung atau prediksi?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TCQ4pbbY3QI/AAAAAAAAAHU/TFlT67pdPF8/s1600/italia.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 130px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TCQ4pbbY3QI/AAAAAAAAAHU/TFlT67pdPF8/s200/italia.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5486572530432531714" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya saya harus menjelaskan perbedaan antara: “mendukung” dengan “prediksi menang”. Ini hal yang berbeda. Misalnya, kalau suatu saat ada pertandingan sepakbola antara Indonesia vs Inggris, dengan sepenuh hati, jiwa, raga, saya akan mendukung tim Indonesia. Tapi apakah saya memprediksikan Indonesia menang? Tidak. Karena memang saya juga sadar dan yakin, pertandingan itu sangat mungkin dimenangkan oleh Inggris. Tapi, sekali lagi, sekalipun saya prediksikan Inggris menang, tetapi dukungan saya tetaplah buat Indonesia. Bedakan “mendukung” dengan “prediksi”.&lt;br /&gt;Begitu juga di Piala Dunia kali ini. Hati saya, dari dulu, tak akan tergugah dari dukungan terhadap Italia. Alasannya? Nanti saya jelaskan. Tapi, terus terang saja, dari awal saya sudah prediksi, bahwa Italia tidak akan menjadi juara dunia di World Cup kali ini. Mungkin memang karena saya lihat permainannya tidak sebaik seharusnya, dan satu lagi, sangat jarang terjadi, juara musim lalu akan juara lagi musim ini, karena pasti jauh lebih sulit mempertahankan daripada merebut. Prediksi saya siapa? Argentina atau Brasil. Itu prediksi saya dari awal sekali, bahkan sebelum pertandingan pertama dimulai. Karena menurut saya –yang awam dan terbatas ini, 2 negara ini memang sedang berkembang-kembangnya bibit dan skill para pemain. Tapi apakah dengan prediksi ini hati saya akan tergeser dari dukungan terhadap Italia? Sekali-kali tidak. Baik buruk, menang kalah, Italy tetap di hati.&lt;br /&gt;Walaupun memang banyak sekali rasa kesal dalam hati, misalnya tentang pemilihan pemain, pola permainan yang tidak ‘greget’, lama panasnya, regenerasi pemain yang lambat, dll. Tapi saya tetap mendukungnya. Sama seperti saya mendukung persepakbolaan Indonesia. Hati saya cinta PSSI (atau klub PSMS), siapapun lawan tandingnya. Sekalipun: liga tak beres, gaji pemain tak beres, stadion amburadul, pengurus PSSI yang tak jelas (satu-satunya federasi sepakbola yang dipimpin dari penjara), dll, tapi sambil terus berharap perubahan dan perbaikan sepakbolanya, saya tetap mendukung Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Atau satu lagi, di Piala Dunia ini, di pertandingan yang ada negara Asia-nya, hati saya mendukung Asia, meskipun –sekali lagi, prediksi saya tidak selalu pada tim Asia, tapi bagi saya, mereka harus didukung, sekalipun lewat teriakan, tepuk tangan, kepalan tangan dan lipatan bibir sewaktu menonton di depan televisi. Korsel, Jepang (yang sudah lolos ke 16 besar), atau Tim fantastis, Korea Utara. Berikut saya kutip potongan berita menarik dari Korea Utara:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Korea memang kalah dan belum tentu mendulang kemenangan pada dua laga (berikutnya), di mana Portugal dan Pantai Gading sudah menanti. Namun, mencetak gol balasan ke gawang raja Piala Dunia, dalam keadaan tertinggal dua gol dan dengan sisa waktu satu menit adalah prestasi.&lt;br /&gt;Bagi Indonesia, pencapaian Korea Utara adalah tamparan (yang sangat menyakitkan).&lt;br /&gt;Korea yang kesulitan mengakses siaran Piala Dunia dan setengah mati meminta restu negara untuk mencari (dan mendapatkan) sponsor, mampu mencapai Afrika Selatan dan mencetak gol ke gawang Brasil, setelah ketinggalan 0-2, dan menjelang masa injury time pula. &lt;br /&gt;Indonesia,yang punya semuanya (kecuali mungkin semangat dan kejujuran), mulai dari sumber daya manusia, sponsorhip, suporter, dan akses informasi yang jauh lebih luas ketimbang Korut, malah berharap tampil di Piala Dunia dengan memenangi bidding tuan rumah. Ironisnya, untuk melewati jalan pintas seperti itu pun, Indonesia juga gagal.&lt;br /&gt;Korea Utara mungkin tak akan meraih poin lagi di dua pertandingan(lagi) dan gagal melaju ke putaran kedua. Namun, mereka tetap berhak pulang dengan kepala tegak karena dengan segala keterbatasannya, mereka mampu menjebol gawang Julio Cesar, yang Lionel Messi pun gagal melakukannya. &lt;br /&gt;Dan, sementara nanti Ji Yun Nam bercerita kepada junior-juniornya, anak-cucunya, atau tetangga-tetangganya, bagaimana ia menjebol gawang jawara Piala Dunia dengan pertandingan cuma menyisakan satu menit, Indonesia mungkin masih cuma sibuk membuat proposal untuk mendatangkan Manchester United atau melobi FIFA untuk menjadikan Indonesia tuan rumah Piala Dunia.Tentu, kita berharap Indonesia akan lebih baik dari itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya tersenyum membacanya. Saya mendukung Indonesia, sekalipun penuh kegagalan. Saya dukung Italia di Piala Dunia, sekalipun gagal melaju ke babak berikutnya (sesuai prediksi saya), dan berharap ini jadi tamparan dan pelajaran besar, tentang apa yang harus diperbaiki dan betapa susahnya mempertahankan gelar. Walaupun jujur saja, panas hati ini meluap melihat pertandingan kemarin, di luar lambannya permainan Italia padahal sudah ketinggalan, saya masih memimpikan “sportivitas sempurna” dari sebuah pertandingan olahraga. Bukankah itu ciri kental dari olahraga? Sportivitas, jujur, di samping tanpa politik, tanpa rasis, dll… Entah itu mungkin terjadi atau tidak. Andai saja… kemarin malam itu… si kiper licik dari Slovakia jujur dan berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;saya memang mengulur-ulur waktu pertandingan dan saya memang memukul wajah Quaqliarella, saya layak dapat kartu merah…&lt;/span&gt; Atau bek Slovakia, Skrtel dengan jujur berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sit.. (wasit), memang tadi itu gol, bola udah melewati garis gawang, kaki saya sudah di dalam”&lt;/span&gt;. Hehehehehe. Entah kapan kejujuran total ini ada di lapangan, sedangkan ‘gol tangan tuhan’ aja bisa membawa Argentina jadi juara dunia… &lt;br /&gt;Ya, semua penuh harapan. Harapan semoga Indonesia suatu saat masuk pentas dunia. Harapan Italia bermain lebih baik kemudian hari. Selamat jalan Italy. Belajar baik-baik, baju biru itu kupakai selalu :) Itulah kenapa aku suka Italia, karena liga Italia-lah yang mengajari Kawas kecil bagaimana cara menendang bola, awalnya suka nonton bola, mulanya melek bola, ngobrol bola, siapa Pagliuca, Roberto Baggio, Vialli, Ravanelli, Peruzzi, dan tim kesayangan Juventus…&lt;br /&gt;Dukungan saya tidak akan berubah, prediksi mungkin berubah. Itu berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam olahraga –dari orang awam. Kawas.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4455821476218271495?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4455821476218271495/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/06/mendukung-atau-prediksi.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4455821476218271495'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4455821476218271495'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/06/mendukung-atau-prediksi.html' title='mendukung atau prediksi?'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/TCQ4pbbY3QI/AAAAAAAAAHU/TFlT67pdPF8/s72-c/italia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-899473013318226087</id><published>2010-05-20T11:23:00.003+07:00</published><updated>2010-05-26T12:00:11.964+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Semua dalam kendali</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S8uTH5q_I/AAAAAAAAAHM/nZnRisD6fVU/s1600/menjadi-indah-dibentuk-oleh-tangan-tuhan.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S8uTH5q_I/AAAAAAAAAHM/nZnRisD6fVU/s200/menjadi-indah-dibentuk-oleh-tangan-tuhan.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473206950755412978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Ada hal-hal yang di luar kemampuan manusia. Hal itu makin memperjelas bahwa manusia terbatas, dan tidak ada alasan untuk sombong apalagi memegahkan diri akan kehebatan. Ada hal yang tidak bisa dikendalikan, dirancangkan manusia. Siapa yang bisa menahan hal-hal berikut: suatu kali sewaktu makan siang, aku menyaksikan langsung sebuah pohon besar tumbang dan menimpa 2 warung serta 1 sepeda motor baru –yang sudah tentu belum lunas kreditnya (Karawang). Orang yang sedang menikmati istirahat, eh... tewas ditimpa bangunan rumah karena gempa hebat (Jogja) atau tsunami (Aceh). Orang sedang tidur, eh rumahnya hancur lebur dihantam meteor (kejadian di Jakarta Timur). Pesawat bisa jatuh hanya karena kabel kecil yang korslet, kapal besar bisa tenggelam hanya karena satu turbin tidak berputar. Sampai ada orang bilang: tidak ada lagi tempat yang aman di dunia ini: di jalan/ berkendara bisa kecelakaan, jalan kaki bisa ditabrak, di rumah bisa bahaya/ kebakaran/ bencana, dll. Semakin sadarlah manusia bahwa kita ini hanyalah debu.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Siapa sangka Jumat malam itu, ketika motorku berhenti di belakang taksi karena macet, tiba-tiba sebuah mobil melaju kencang dari belakang, dan sopirnya ngantuk, akhirnya menghantam 2 motor dan 1 taksi. Salah satunya adalah motorku, dan taksi itu adalah taksi yang di depanku. Semua berantakan. Aku dan boncenganku (Misni) terpental ke taksi dan ke aspal, luka lecet, memar, motorku masih terseret lagi beberapa puluh meter ke depan dan hancur. Kalau mau komplain, apa penyebab aku celaka? Dibilang pelan-pelan, kurang pelan apa lagi, aku dalam posisi berhenti. Mau dibilang kurang pinggir, aku sudah di pinggir, tepat di belakang taksi. Beberapa pelayanan pun batal karena kecelakaan itu. Entahlah... Memang di luar kekuasaanku. Atau sulit memang memahami ‘kemahakuasaan-Nya’ Allah, atau keadilan hukum. Orang yang sering kebut-kebutan, sepertinya lebih sering aman-aman saja, bahkan hampir tidak pernah kena tilang. Orang yang berhati-hati, pakai helm, mengalah/ sopan di jalan, malah sering ‘teraniaya’ di jalan, ditilang pula. Sehabis kecelakaan, sewaktu menuju unit kecelakaan lalu lintas, kami melihat lagi ada kecelakaan. Ternyata ibu-ibu yang jatuh dari sepeda motor, eh.. jatuhnya ke kolong container pula.. Patah kakinya. Supir containernya bilang; “mimpi apa aku semalam, bisa sesial ini? Gak ada salah apa-apa”. Kami ‘dipersatukan’ di laka lantas sampai jam 3 pagi. Yah,, itulah. Ketidak-hati-hatian orang pun bisa jadi celaka bagi kita. Atau memang kita makin disadarkan, banyal hal di luar kendali kita. Tapi kita imani, everything is under God’s control.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayub pernah mengalaminya. Sedang santai-santai di rumah, eh... hartanya semua habis, anak-anaknya meninggal. Belum cukup. Tubuh hancur melepuh karena kusta, istri dan teman meng-intimidasi. Entah apa pastinya yang dirasakan Ayub saat itu, karena memang rasanya dia tidak punya ‘andil kesalahan’ dalam ‘kesialan’ itu. Tapi dalam sujud menyembah, ia mampu berkata “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil. Terpujilah nama Tuhan!... Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk?” (1:20-22; 2:10)&lt;br /&gt;Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas. (23:10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biarlah dalam keadaan apapun, jangan sampai bibir kita berhenti mengucapkan “Tuhan itu baik”. Sekalipun dalam ke-tidak-mengerti-an, jangan ragukan kebaikan Allah. Kita terbatas, Dia Allah yang tidak terbatas. Jangan-jangan dalam keadaan yang sulit itu, sebenarnya diizinkan Tuhan terjadi sebagai "ujian naik kelas". Semua dalam kendali-Nya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-899473013318226087?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/899473013318226087/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/semua-dalam-kendali.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/899473013318226087'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/899473013318226087'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/semua-dalam-kendali.html' title='Semua dalam kendali'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S8uTH5q_I/AAAAAAAAAHM/nZnRisD6fVU/s72-c/menjadi-indah-dibentuk-oleh-tangan-tuhan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4508316415927976498</id><published>2010-05-20T10:32:00.006+07:00</published><updated>2010-06-02T20:11:11.770+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>What's in a name</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S44RKPpBI/AAAAAAAAAHE/NZzRUDEHduQ/s1600/unusual-tombstones-graves-59.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S44RKPpBI/AAAAAAAAAHE/NZzRUDEHduQ/s200/unusual-tombstones-graves-59.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473202723980551186" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"What's in a name? That which we call a rose by any other word would smell as sweet."&lt;br /&gt;Begitu kata William Shakespeare dalam mahakarya-nya: Romeo &amp; Juliet. Terjemahan bebasnya: “Apalah arti sebuah nama? Mawar, sekalipun kita ubah namanya, harumnya tetaplah sama manisnya.” Anda setuju? Kalau saya? Ya dan Tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebentar saya tidak setuju dengan pernyataan itu. Nama tetaplah penting! Nama adalah doa dan harapan dari yang memberikannya. Begitulah nanti –orang yang namanya baru saja diberikan –dipanggil untuk seterusnya. Pasti orang tua kita dan ‘pihak-pihak yang terlibat’ dalam pembuatan nama kita, ingin memberikan yang terbaik.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Mari sejenak back to Bible. Tuhan tidak pernah sembarangan memberi nama. Setiap nama pasti ada maknanya. Tuhan bukan asal memberi nama kepada Adam (Kej5:2). Begitu juga Adam memberi nama Hawa (Kej3:20). Atau arti nama Nuh (Kej5:29) "Anak ini akan memberi kepada kita penghiburan dalam pekerjaan kita yang penuh susah payah di tanah yang telah terkutuk oleh TUHAN". Bukan sembarangan pula ketika Allah mengganti Abram dengan Abraham (Kej17:5) “Karena itu namamu bukan lagi Abram, melainkan Abraham, karena engkau telah Kutetapkan menjadi bapa sejumlah besar bangsa”. Kemudian ketika memberi nama Ishak, berkatalah Sara: "Allah telah membuat aku tertawa; setiap orang yang mendengarnya akan tertawa karena aku" (21:6). Si kembar Esau dan Yakub: “Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub (25:25-26). Lalu ketika Yakub berganti nama menjadi Israel: “kata orang itu: "Namamu tidak akan disebutkan lagi Yakub, tetapi Israel, sebab engkau telah bergumul melawan Allah dan manusia, dan engkau menang" (32:28). Terus ke Musa: “sebab katanya: "Karena aku telah menariknya dari air." (Kel2:10).&lt;br /&gt;Ah, banyak sekali. Setiap nama punya arti sendiri. Tak akan cukup halaman ini untuk menuliskan semuanya. Nama-nama para nabi juga punya artinya sendiri. Bahkan Sang Juruselamat Yesus, yang disebut juga Kristus (Mat1:16) “(Maria) akan melahirkan anak laki-laki dan (Yusuf) akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka... Imanuel" -- yang berarti: Allah menyertai kita (Mat1:21,23)" Kemudian ketika Yesus memberi nama baru kepada Simon: Petrus, sang batu karang (Mat16:18), juga arti nama murid-murid Yesus yang lain. Ketika Rasul besar, Saulus berubah menjadi Paulus (Kis13:9 The names mean "asked [of God]" and "little" respectively. It was customary to have a given name, in this case Saul (Hebrew, Jewish background), and a later name, in this case Paul (Roman, Hellenistic background). NIV Study Bible Notes).&lt;br /&gt;Sekali lagi, terlalu banyak untuk diteruskan. Semua nama (orang bahkan tempat) dalam PL dan PB punya arti, dijelaskan tertulis ataupun tidak. Ada kisah, doa dan harapan di nama itu. Makanya makna nama seharusnyalah baik. Entah apapun dasarnya. Entah itu dari bahasa latin, bahasa asing, bahasa daerah, pasti punya makna baik. Atau bisa dengan mengambil nama tokoh besar (entah dari Alkitab atau tokoh dunia), atau tokoh sehari-hari, di lingkungan sendiri, nama teman lama, atau keluarga, semua yang baik-baik. Harapannya: semoga terus bertumbuh dan menjadi seperti nama yang diembannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi saya juga setuju dengan ungkapan Shakespeare di atas. Apalah arti sebuah nama, kalau hanya sekedar nama. Toh, karakter kuat seseorang ataupun kharisma dan kenangannya tidaklah hanya ditentukan dari nama. Contoh Alkitab bisa kita lihat dari Daniel dan 3 temannya. Sekalipun diganti namanya, namun ketaatannya kepada Allah tidaklah berubah. Walaupun penggantian nama ini sebenarnya bukanlah hal sepele. Penggantian nama saat itu sebagai satu cara untuk ‘mencuci otak’ dan menjadikan mereka bagian yang utuh dari bangsa yang tidak mengenal Allah. Supaya diterima sebagai pegawai raja, Daniel dan kawan-kawannya memerlukan kewarganegaraan Babel; hal ini terlaksana dengan memberi mereka nama Babel. Bangsawan muda Daniel ("Allah adalah hakimku") dinamai Beltsazar ("Bel, [dewa tertinggi Babel], melindungi hidupnya"); Hananya ("Tuhan menunjukkan kasih karunia") dinamainya Sadrakh ("Hamba Aku," yaitu dewa bulan); Misael ("Siapa yang setara dengan Allah?") dinamainya Mesakh ("Bayangan pangeran" atau "Siapa ini?"); dan Azarya ("Tuhan menolong") dinamainya Abednego ("Hamba Nego," yaitu dewa hikmat atau bintang fajar). Sebagai penduduk Babel mereka kini mempunyai tanggung jawab resmi. Dan sekalipun memperoleh nama-nama baru, para pemuda Yahudi ini menetapkan bahwa mereka akan tetap setia kepada Allah yang esa dan benar, sekalipun diancam api yang menyala-nyala atau gua singa. Begitu namanya, belum tentu begitu orangnya. Misalnya ketika saya pelayanan ke Lembaga Pemasyarakatan/ Penjara, anda tahu nama-nama mereka? Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus. Wah, wah... Saya merasa seperti berada di jemaat mula-mula :) Semua rasul ada di penjara. Tapi kali ini bukan karena Injil, melainkan narkoba. Apakah nama masih mencerminkan seseorang? Sepertinya tidak selalu. Saya juga mengetahui beberapa orang yang namanya: Derita, yang lain namanya Sedih (mereka ini orang Batak, dan saya memang bingung kenapa nama itu diberikan. Kalaupun untuk mengingat, karena kelahirannya bertepatan pula dengan kepergian anggota keluarga yang lain, mungkin ada alternatif nama lain, seperti Mangapul (artinya menghibur, atau Barnabas dalam Kis 4:36), atau kalau perempuan: Happy), namun dalam kesehariannya, mereka tidaklah sesedih namanya. Jadi baik atau buruk hidupmu, tidaklah selalu bergantung penuh dari namamu. Jangan terlalu bangga dengan nama yang bagus atau ‘hoki’, tunjukkanlah itu sebagai sebuah kebenaran. Nama itu sebuah harapan, jangan sampai harapan tinggallah harapan :) Jangan sedih ketika nama kita ‘mungkin tidak se-keren, tidak sehebat seperti yang kita harapkan kemudian’, hidupmu ada di dalam rencana Allah.&lt;br /&gt;Beberapa 'nama rohani' yang belakangan sering 'diplesetin': Petrus: Penembak Misterius, Matius: Mati Misterius, Markus: Makelar Kasus, dan terakhir Lukas: Lupain Kasus. Hehe... Ada-ada aja...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan nama Allah? Allah itu kudus. Karena itu jangan menyebut nama TUHAN, Allahmu, dengan sembarangan, sebab TUHAN akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan. (Kel 20:7). Tapi, dengan sebutan hormat apapun kita memanggil-Nya: TUHAN, Tuhan, Allah, God, Lord, El, Elohim, Adonai, Yahweh, Jehovah, atau langsung menunjuk Pribadi-Nya: Bapa, Anak, Roh Kudus, Dia tetaplah Allah dengan ke-Maha-Kuasa-an-Nya, kasih-Nya, keperkasaan-Nya, dan karakter-karakter-Nya yang kekal itu, tidak pernah berubah!&lt;br /&gt;Sekilas di ingatan saya, ada 3 momen di saat manusia mempertanyakan nama Allah: Kej32:29 Bertanyalah Yakub: "Katakanlah juga namamu." Tetapi sahutnya: "Mengapa engkau menanyakan namaku?" Lalu diberkatinyalah Yakub di situ. Kemudian cerita Musa di Kel3:13-15 “Lalu Musa berkata kepada Allah: "Tetapi apabila aku mendapatkan orang Israel dan berkata kepada mereka: Allah nenek moyangmu telah mengutus aku kepadamu, dan mereka bertanya kepadaku: bagaimana tentang nama-Nya? -- apakah yang harus kujawab kepada mereka?" Firman Allah kepada Musa: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." Selanjutnya berfirmanlah Allah kepada Musa: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel: TUHAN, Allah nenek moyangmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutan-Ku turun-temurun”. Dan satu lagi dalam PB, saat Saulus bertanya (Kis9:5): "Siapakah Engkau, Tuhan?" Kata-Nya: "Akulah Yesus yang kauaniaya itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa namamu, kawan? Dan apa artinya?&lt;br /&gt;Namaku, Kawas Rolant Tarigan. Kawas adalah (bahasa Karo) panggilan bagi setiap laki-laki yang bermarga Tarigan Sibero (hampir saja ada wacana namaku Agus, karena lahir bulan Agustus. Tapi bapak memutuskan: Kawas, supaya orang yang mengerti bisa langsung tahu ‘ciri’ nama ini). Rolant merupakan gabungan nama mamak dan bapak (Rol adalah 3 huruf pertama nama mamak, Ant adalah 3 huruf pertama nama bapak. Jadi aku adalah buah cinta mereka). Tarigan margaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kamu?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4508316415927976498?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4508316415927976498/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/whats-in-name.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4508316415927976498'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4508316415927976498'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/whats-in-name.html' title='What&apos;s in a name'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_S44RKPpBI/AAAAAAAAAHE/NZzRUDEHduQ/s72-c/unusual-tombstones-graves-59.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-2193850851006218312</id><published>2010-05-20T10:00:00.002+07:00</published><updated>2010-05-20T10:06:49.301+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Pelajaran dari nyamuk</title><content type='html'>Aku tinggal di mess. Dulu mess ini bekas lahan kosong, penuh semak belukar dan tanah rawa. Sekarangpun tidak terlalu jauh berbeda dengan kondisinya dulu. Karena selain belum pernah direnovasi sejak dibangun, para penghuninya adalah orang-orang yang penuh kesibukan dan ‘hanya menumpang tidur’ di mess, ditambah lagi rumput cepat sekali bertumbuh di tanah kosong. Alhasil dari semuanya itu adalah: banyak banget nyamuknya. Dan bukan nyamuk biasa! Sepertinya mereka (nyamuk itu) sudah cukup tangguh, lihai, sulit sekali di-caplok dengan tangan.&lt;br /&gt;Itulah kondisi yang kuhadapi tiap saat di mess. Entah waktu nonton TV, waktu membaca, waktu tidur, bahkan waktu nulis tulisan ini. Badan habis merah-merah, gatal, digigit nyamuk yang susah banget digampar. Seringkali membuat kesal, seakan semua usaha yang ku lakukan tanpa hasil. Pukul sana, pukul sini, hanya tepukan tangan yang terdengar. Bahkan terkadang yang rasanya sudah kena di tangan, eh tapi hasilnya tidak kelihatan. Sebel !!! Tapi............. diamlah sejenak, dan lihat 15-30 menit lagi, atau besok pagi, di sekitarku banyak bangkai-bangkai nyamuk, tanpa nyawa. Sudah mati. Ternyata usahaku tidak sia-sia. Ada kok hasilnya. Aku aja yang sering gak sabar melihat hasilnya ‘pengen langsung kelihatan’.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian sederhana ini spontan membawaku pada perenungan dalam pekerjaan dan pelayanan. Seringkali sesudah aku merasa melakukan banyak hal, malah sering mengeluh karena tidak langsung melihat hasilnya, padahal kepingin, jadi yang dirasakan hanya capeknya saja. Padahal sesungguhnya belum tentu demikian. Siapa bilang TIDAK ada hasil? Mungkin memang BELUM ada hasil, tapi bukan berarti tidak ada, karena mungkin kita-nya tidak sabar. Atau jangan-jangan sebenarnya sudah ada hasil, tapi kita tidak mampu melihatnya karena ‘konsep’ berpikir kita tentang hasil yang ‘selalu spektakuler’.&lt;br /&gt;Sudah setia mengerjakan hal kecil, rasanya langsung ingin lihat ‘dampak’nya, atau tidak sabar ingin hal besar. Sudah melayani, berkorban, namun kok belum ada pertumbuhan, kok belum ada orang lagi yang dihasilkan, kok belum ada pengaruh kepada orang lain... Ah, sudahlah. Jangan sampai ‘obsesi’ hasil membuat kita lupa mengerjakan bagian kita yang sesungguhnya: tetap setia lakukan yang terbaik, seperti yang Tuhan suruh. Nanti pada waktu dan kemampuan-Nya Allah, Dia akan tunjukkan hasilnya, entah kepada kita, atau kepada orang lain –ketika kita tidak punya kesempatan untuk melihat dan menikmati hasilnya. Tapi kerjakan saja. Toh pada akhirnya pujian dari Sang Tuan merupakan hal yang jauh melebihi segalanya, “Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu” (Mat25:21,23).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ingat, bagian yang kita lakukan adalah ‘memukul nyamuk’. Masakan kalau kita tidak melihat hasilnya (nyamuknya mati), kita berhenti melakukannya? Lakukan aja terus. “Pukul nyamuk”nya. Siapa tau “15-30 menit lagi atau besok pagi” kita lihat hasilnya (bangkainya) di sekitar kita. Tapi kalaupun tidak, setiap ada nyamuk lagi, pukul lagi. Karena itulah yang harus kita lakukan setiap ada nyamuk. Entah dia mati atau enggak. Plok! Plok!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-2193850851006218312?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/2193850851006218312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/pelajaran-dari-nyamuk.html#comment-form' title='7 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2193850851006218312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2193850851006218312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/pelajaran-dari-nyamuk.html' title='Pelajaran dari nyamuk'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6347513890479851321</id><published>2010-05-20T09:54:00.004+07:00</published><updated>2010-05-24T09:14:31.094+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Hitung berkat-Nya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_SlqT5whGI/AAAAAAAAAG8/MPkJzBJFp-g/s1600/1_197462116m.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 183px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_SlqT5whGI/AAAAAAAAAG8/MPkJzBJFp-g/s200/1_197462116m.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473181593477612642" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali hal yang harusnya kita syukuri. Tapi yang sering terjadi malah kita sulit bersyukur karena terlalu sibuk membanding-bandingkan berkat dengan orang lain. Jadinya lupa bersyukur untuk hal yang sebenarnya jauh lebih banyak dari itu.&lt;br /&gt;Aku juga sering bergumul untuk hal itu. Cemburu, andai saja…, coba kalau…, kok bisa begini, kok bisa begitu, beruntung banget tuh orang, dll dst...&lt;br /&gt;Aku cemburu dengan anak sarjana yang baru masuk dengan golongan dan gaji yang jauh lebih tinggi dari aku. Kalau orangnya memang handal sih gak papa. Tapi kalau dilihat, orang itu enggak unggul-unggul amat, malah banyak yang ‘lucky’, misalnya terbukti tidak capable secara ilmu, sikapnya juga pemalas padahal masih pegawai baru, dan tidak produktif. Masa orang seperti itu layak digaji dengan grade tinggi? Ada yang bilang bersyukurlah, was... kuliah udah gratis. Tapi aku pikir enggak juga. Masa karena kuliah gratis artinya nerima-nerima aja? Kalau gitu, mending aku lanjutin kuliahku S1 dulu, toh aku juga udah ketinggalan setahun. Gitu juga sebenarnya sama pegawai lama, atau kepala seksi yang malas. Rasanya gak adil banget orang-orang yang tidak produktif itu digaji mahal-mahal? Aku juga rasanya sulit menerima dengan ikhlas kalau anak S1 yang seumuranku yang baru diterima di Depkeu langsung golongan III/A dan jauh di atasku, padahal ilmu dan kinerja belum tentu jauh lebih baik. Aku juga kesal setiap kali disinggung entah di TV, atau percakapan sehari-hari tentang pekerjaanku di pajak. Sepertinya berdosa kali pekerjaanku ini. Perihal remunerasi. Banyak yang langsung sinis, ngapain digaji tinggi, padahal masih korupsi? Mau ku colok aja lubang hidung yang bilang kalimat itu. &lt;span class="fullpost"&gt;Yang gajinya tinggi itu seberapa sih? Kalau mau dibandingkan, gaji di pajak itu (apalagi untuk pegawai seperti grade-ku) gak ada apa-apanya dibanding pegawai instansi lain yang (padahal) tiap tahun merugi itu, atau perusahaan swasta yang lain, jangan langsung bandingkan ke bawah terus. Padahal pajak yang cari duit, instansi lain itu yang habiskan. Kalau remunerasi dicabut, benar-benarlah negeri ini negeri gila! Yang tidak bisa menghargai perjuangan orang benar. Kasihan orang-orang yang selama ini berjuang, bekerja jujur, harus menelan imbas kesejahteraannya terancam akibat ulah orang-orang yang kurang ajar. Padahal pajak memulai reformasi, termasuk dalam hal kesejahteraan pegawai. Harapannya nanti ,semua pegawai, entah itu negeri, swasta, guru, aparat penegak hukum, bahkan buruh, apapun, harus digaji layak, tinggi, namun harus berbanding lurus dengan produktivitas kerjanya (kecuali dalam kondisi kesehatannya) dan integritas kerjanya. Ketika tidak produktif, tidak jujur, langsung kasi punishment, entah itu tidak digaji atau dipecat atau dipenjarakan. Apa nunggu bersih total dulu suatu instansi baru layak digaji tinggi? Kalau begitu, DPR gak akan pernah mendapat gaji tinggi. Aku kesal melihat orang curang tidak kena jerat. Aku kesal melihat orang malas bertambah malas karena tidak pernah mendapat sanksi. Pinter goblok rajin malas gaji sama, bahkan lebih tinggi yang goblok malas. Aku kesal melihat orang kaya bertambah kaya karena ketidak jujurannya. Aku kesal melihat anak yang dengan gampangnya beli handphone, motor, mobil, padahal tidak berjuang apa-apa, hanya karena bapaknya adalah orang kaya, dan dia kecipratan jadi anak orang kaya, gak usah susah cari kerja, tinggal kawin aja gampang. Itupun sebelum kawin udah tersedia rumahnya lengkap dengan isinya, kulkasnya pun dengan isinya, mobilnya, tinggal nempatin doang. Ckckck... Ada juga anak yang udah sekolahnya mahal, gak serius pula belajar. Aku juga kesal melihat anak yang terlalu dihargai berlebihan, masuk kuliah dibeliin mobil, kalau nilai baik liburan ke luar negeri. Aku kesal melihat orang yang sering merendahkan orang berintegritas, sebagai orang sok suci, sok jujur. Pengennya orang-orang itu dilemparkan aja ke penjara yang paling suram dimana ada ratap tangis dan kertak gigi, kalau mereka tidak segera menyadari kesesatannya. Ah, banyak kali yang ku kesalkan. Tapi untuk apa kulanjutkan?&lt;br /&gt;JAUH LEBIH BANYAK HAL YANG HARUS AKU SYUKURI. JAUH LEBIH BANYAK BERKAT TUHAN YANG TELAH TERSEDIA DAN TELAH TERCURAH, YANG TIDAK SELALU BISA DIUKUR DARI MATERI. Terima kasih Tuhan buat jantung yang masih berdetak, buat nafas kehidupan, buat bangun pagi, buat tidur nyenyak, buat doa-doa yang kupanjatkan dan dipanjatkan untukku, buat bapak, mamak, kakak, abang, keluarga yang lain, buat sahabat-sahabat di KTB, rekan pelayanan, teman-teman, buat Misni yang selalu memberi penguatan, buat senyuman yang masih melengkung di bibir, buat kesempatan untuk memberi, buat kesempatan untuk melayani, buat kesempatan untuk bekerja, buat matahari, bulan, bintang, udara, buat air putih yang ku minum dan makanan yang ku makan tadi pagi, siang ini, malam nanti..... ah banyaklah..... terima kasih Tuhan buat semua hal dalam hidupku, buat cinta dan kasih, buat suka duka yang Tuhan pakai untuk kebaikanku, terlebih buat anugerah hidup kekal, sungguh tak ternilai dan tak tergantikan. Tidak pernah habis untuk menuliskan semua berkatmu dalam hidupku. Ketika aku mencoba menghitungnya, aku tak akan menemukan jawabannya. Lagu riang ini justru sempat membuatku menangis. Perhatikan kata per katanya secara lengkap:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila topan k’ras melanda hidupmu, bila putus asa dan letih lesu&lt;br /&gt;Berkat Tuhan satu-satu hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya&lt;br /&gt; Berkat Tuhan mari hitunglah, kau kan kagum oleh kasih-Nya&lt;br /&gt; Berkat Tuhan mari hitunglah, kau niscaya kagum oleh kasih-Nya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah beban membuat kau penat, salib yang kau pikul menekan berat?&lt;br /&gt;Hitunglah berkat-Nya pasti kau lega, dan bernyanyi t’rus penuh bahagia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kau memandang harta orang lain, ingat janji Kristus yang lebih permai&lt;br /&gt;Hitunglah berkat yang tidak terbeli, milikmu di sorga tiada terperi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pergumulanmu di dunia, janganlah kuatir, Tuhan adalah!&lt;br /&gt;Hitunglah berkat sepanjang hidupmu, yakinlah,malaikat menyertaimu!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu.“ (1Tes5:18)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6347513890479851321?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6347513890479851321/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/hitung-berkat-nya.html#comment-form' title='6 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6347513890479851321'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6347513890479851321'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/hitung-berkat-nya.html' title='Hitung berkat-Nya'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_SlqT5whGI/AAAAAAAAAG8/MPkJzBJFp-g/s72-c/1_197462116m.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-8220452226056226004</id><published>2010-05-20T09:30:00.003+07:00</published><updated>2010-05-20T09:53:53.269+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Church vs Parachurch</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_Sjvl-tVfI/AAAAAAAAAG0/P0KWgEXWJfc/s1600/62954115287607210.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 192px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_Sjvl-tVfI/AAAAAAAAAG0/P0KWgEXWJfc/s200/62954115287607210.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5473179485206304242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak setuju dengan judul ini. Saya juga merasa judul ini adalah pernyataan yang salah. Tapi kenapa saya tulis judulnya begitu? Karena saya juga mikir jangan sampai begitu, atau bisa juga supaya anda ingin tahu dan baca tulisan saya.&lt;br /&gt;Saya cuma terpikir sekilas tentang judul ini ketika melihat berita di TV (yang sama sekali bukan tentang gereja), ada orang-orang pintar, berbakat, unggul, tapi tidak dihargai di negeri ini, malah dikesampingkan, padahal dunia mengakui keunggulan dan kehebatan orang ini, dan ingin memakai tenaganya untuk kemajuan dunia. Akhirnya ketika diberi kesempatan, dia terima tawaran itu. Muncullah pertanyaan yang sulit dijawab pasti, malah lebih banyak dari mereka yang selama ini tidak menghargai: “Kenapa meninggalkan Indonesia? Apa gak sayang sama Indonesia? Katanya ingin membangun Indonesia?”. Entah apa jawaban sebenarnya dari persoalan itu. Secara netral pasti penuh pergumulan: ingin tinggal dan berkarya di negeri ini tapi tidak dihargai; mengambil kesempatan yang ada untuk berkarya bagi dunia malah harus meninggalkan Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terpikir. Jangan-jangan kejadian ini identik dengan yang terjadi di gereja (church) dan lembaga pelayanan sebagai perpanjangan tangan gereja (parachurch).&lt;span class="fullpost"&gt;Ada orang yang terlibat aktif dan bertumbuh dari parachurch, entah itu lembaga pelayanan siswa/ mahasiswa/ alumni/ kaum profesional, pelayanan medis, tim misi, pelayanan kaum marjinal. Banyak jiwa yang telah menikmati hasil pelayanan dan pengabdian mereka. Tetapi ketika balik ke gereja untuk membangun gerejanya menjadi komunitas yang sehat dan bertumbuh, malah sering tidak dihargai. Dianggap membawa pembaruan yang aneh, atau tidak se-visi, atau apalah. Memang dituntut kerendahan hati untuk pelayanan ini. Namun tantangan ini seharusnya bukan menjadi alasan untuk setiap orang yang telah menikmati banyak pembinaan dari parachurch untuk tidak kembali membangun dan memperbaiki church. Kembalilah, dan bangun church kita yang dulu, biar orang juga bisa menikmati pertumbuhan yang kita nikmati. Banyak orang memang akhirnya hanya sekedar simpatisan dan pendoa bagi church-nya, karena malah lebih bisa menjadi berkat di parachurch. Ini harus menjadi perhatian penting, butuh pergumulan yang sungguh, supaya kita tidak melayani asal melayani, tetapi pelayanan yang berkenan kepada Allah, dimana Dia ingin kita melayani dan apa yang harus kita kerjakan, sekalipun itu sulit.&lt;br /&gt;Jangan sampai gereja Tuhan hanya sebatas bentuk organisasi dan lembaga-lembaga yang terkotak-kotak dan men-cap pelayanan masing-masing. Gedungnya saja yang semakin tinggi dan megah, namun kehadirannya tidak dirasakan oleh siapapun. Seharusnya church dan parachurch bergandengan tangan, kerja sama-sama. Bukankah kita melayani Allah yang sama? “Karena itu yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberi pertumbuhan. Baik yang menanam maupun yang menyiram adalah sama; dan masing-masing akan menerima upahnya sesuai dengan pekerjaannya sendiri.Karena (kita) adalah kawan sekerja Allah; (jemaat) adalah ladang Allah, bangunan Allah”. (1Kor3:7-10).&lt;br /&gt;Kalau kita bisa bergandengan tangan mengerjakan visi Allah bersama-sama, pasti akan menjadi kesaksian bagi dunia sekitar kita. Mereka akan merasakan dampak kehadiran gereja Tuhan di tengah-tengah mereka, yang bukan sebatas lembaga, tetapi perwujud-hadiran Allah di tengah dunia. Dan itu akan membawa pengaruh bagi masyarakat sekitar, bagi kota, bagi bangsa, negara atau bahkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-8220452226056226004?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/8220452226056226004/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/church-vs-parachurch.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8220452226056226004'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8220452226056226004'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/church-vs-parachurch.html' title='Church vs Parachurch'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S_Sjvl-tVfI/AAAAAAAAAG0/P0KWgEXWJfc/s72-c/62954115287607210.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6692996962339336122</id><published>2010-05-20T09:15:00.001+07:00</published><updated>2010-05-20T09:26:00.098+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>April 2010</title><content type='html'>Bulan ini banyak kejutan kecil. 2 April itu Jumat Agung dan tanggal 4 Paskah. Di 4 hari gak kerja di akhir minggu itu, aku ikut jalan-jalan ama keluarga ke Puncak, Bogor. Eh, ternyata, tanggal 4-nya, pas ibadah di rumah, disuruh tante untuk bawa renungan Firman. Kaget, senang dan takut. Kaget karena baru dibilang berapa jam sebelumnya. Senang, karena merasa dianggap, kapan pula ‘anak muda’ bawa firman kepada orangtua dan anak-anak, lagian mereka ingin mendengar firman dari ‘anak persekutuan’ katanya. Senang juga karena ini kesempatan yang entah kapan lagi akan datang untuk memberitakan Injil, bahwa kita manusia berdosa, masalah utama kita adalah dosa, solusi kita adalah keselamatan, makanya Allah datangkan Juruselamat, Yesus mati disalibkan sebagai ganti penghukuman atas kita, dan bangkit sebagai bukti kemenangannya atas maut, sebagai dasar pengharapan kita untuk setia mengikut Dia, karena Dia Allah yang menang. Masalahnya, maukah engkau buka hati dan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi? (kaget,senang) dan terakhir, jujur aja ada rasa takut karena harus menyampaikan Injil ini dengan persiapan yang terbatas.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Dalam liburan itu juga kami berjalan-jalan ke Taman Bunga Nasional dan Kota Bunga. Di taman bunga, kita memang disuguhkan pemandangan yang sangat indah dengan bunga-bunga bermekaran, dan udara yang sejuk. Suasana ini memang cocok untuk refreshing dan sejenak membuat lupa akan masalah-masalah yang lain. Namun pulang dari sana, kembali lagi ke dunia kita, mungkin tetap menghadapi masalah yang sama, namun dengan pikiran yang lebih jernih dan tenang. Ada kebenaran teologis di sini, bahwa hidup tak selamanya seindah kebun bunga, kawan. Jangan terlena. Kita harus sadar bahwa kehidupan nyata juga terdapat lembah kekelaman. Namun kita bisa melewatinya bersama dengan Allah, baik dalam kebun bunga maupun lembah.&lt;br /&gt;Di Kota Bunga, aku melihat begitu banyak rumah mewah dengan fasilitas lingkungan dan sarana rekreasi yang lengkap. Hampir semua rumah sudah laku, berisi perabot lengkap tapi kosong, dan mobil berparkiran dimana-mana. Mobil mana? 90% plat Jakarta. Artinya mayoritas pemilik rumah di situ adalah penduduk Jakarta, yang artinya punya rumah juga di Jakarta, dan hanya ke sini kalau liburan. Pantaslah wilayah hijau di Puncak semakin sempit. Gaya hidup orang semakin hedonis, yang penting punya rumah, entah siapa dan kapan ditempati. Sempat kepikiran, kalaulah semua orang kaya itu menjual ‘aset’ mereka yang di Kota Bunga itu, aku pikir bisa menutupi (bahkan mungkin melunasi) banyak utang Indonesia atau perbaikan taraf hidup masyarakat…&lt;br /&gt;Tanggal 10, Paskah Perkantas, dan aku juga terkejut, karena seminggu sebelumnya diminta untuk jadi pendoa syafaat. Ini tugas berat bagiku, karena jujur aja, udah beberapa waktu aku tidak berdoa secara spesifik bagi bangsa yang sedang amburadul ini. Diminta untuk mendoakan kondisi bangsa. Aku pikir dalam hati, apa karena kasus pajak lagi marak-maraknya terungkap, makanya aku dipilih jadi pendoa syafaat? Hahaha...&lt;br /&gt;Tanggal 17 kami KTB’05, membahas kitab Yunus, sang Nabi yang lari dari panggilan. Dan berefleksi, bagaimana kasih kami terhadap bangsa yang sangat butuh pertolongan Allah ini, seberapa rindu kami berdoa agar Indonesia yang berpenduduk 275 juta ini bertobat, dan adakah selama ini sikap kami yang mengindikasikan ‘lari’ dari panggilan awal?&lt;br /&gt;Tanggal 20, ulang tahun PMK STAN yang ke 31. Allah yang setia yang terus memelihara persekutuan dan pertumbuhan di PMK STAN, menghasilkan satu demi satu alumni yang menjadi berkat bagi bangsa ini khususnya di Kementerian Keuangan. Aku berdoa, dalam pasang surut perjalanan PMK STAN, kiranya ada orang-orang yang tetap setia mengerjakan panggilannya di kampus, dalam studinya dan pekerjaan nantinya. Pekerjaan Allah tidak akan terhenti.&lt;br /&gt;Selebihnya, selama bulan April juga, aku mengerjakan pelayanan di tim doa Paskah Bona Pasogit. Perayaan Paskah khususnya bagi orang Batak di Jabodetabek, sekitar 10.000 jemaat. Sesungguhnya kemenangan rohani dalam kebaktian penginjilan ini adalah di dalam doa, karena itulah ada tim doa. Terus berdoa bukan hanya bagi persiapan acara, tapi juga jemaat, biar Tuhan tanamkan kerinduan untuk datang apapun cuaca dan kondisinya, Tuhan buka hatinya, sehingga pada hari H ketika Firman Tuhan disampaikan, Roh Allah bekerja secara leluasa dalam hati setiap orang. Itulah yang kami doakan. Di situ jugalah kami beriman, Injil itu adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, dan betapa Allah sangat mengasihi satu jiwa yang datang kepadanya, termasuk orang Batak, dari kondektur sampai direktur. Horas!&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6692996962339336122?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6692996962339336122/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/april-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6692996962339336122'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6692996962339336122'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/05/april-2010.html' title='April 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3077702006423749418</id><published>2010-04-28T11:36:00.003+07:00</published><updated>2010-04-28T11:41:56.328+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Aku mencintaimu hari ini</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S9e8QFhMJnI/AAAAAAAAAGs/zdBXpuNorZk/s1600/56nm8.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 120px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S9e8QFhMJnI/AAAAAAAAAGs/zdBXpuNorZk/s200/56nm8.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5465043657382700658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lagi-lagi saya si melankolis dibuai suasana. Lagi ngawur. Inilah hasilnya. Ehm… (-_-)&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terbangun, kelaparan. Terbangun, karena tadi ketiduran; lapar, karena tadi tidak selera makan. Akhir-akhir ini memang sering gelisah. Menyadari ternyata dirimu jauh dariku. Entah sampai kapan. Sangat menyadari arti hadirmu, di saat-saat aku sangat ingin di sampingmu, namun tak mampu. Coba kau ada di sini, berbagi waktu bersama, kau akan tahu detik ini bermakna.&lt;br /&gt;Saat-saat bersama dirimu, aku ingin melangkah lambat, harapku waktu ikut melambat, namun terasa sangat cepat. Tanpa dirimu, ku ingin waktu berlalu cepat, tapi rasanya melaju sangat lambat. Padahal waktu begitu saja tetap.&lt;br /&gt;Saat bicara denganmu, aku ingin waktu tak bergerak maju. Aku ingin bicara terus, supaya kau tidak merasa bosan dan menikmati waktu bersamaku. Aku senang dengan senyum-senyum kecilmu. Walaupun sering matamu tidak menatapku.&lt;span class="fullpost"&gt;Tapi aku ingin juga mendengar suaramu. Aku coba diam. Tapi kau juga ikut diam, dan memintaku untuk bercerita hal yang lain lagi. Itupun aku lakukan, meski harus menyiapkan segudang cerita, demi keceriaanmu.&lt;br /&gt;Begitu berharganya momen itu. Makanya, setiap saat yang kita lalui, buatlah itu seakan-akan saat yang terakhir. Saat aku memboncengmu, dekap aku erat, siapa tau itu saat terakhir aku bisa melakukannya; saat makan malam denganku, hadirlah bersama rohmu dan nikmati waktu bersamaku, siapa tau itu malam terakhir aku bisa memesankan menu buatmu; saat aku menatap wajahmu, tersenyumlah, siapa tau itu terakhir kalinya kau membuat diriku merasa orang paling beruntung di dunia...&lt;br /&gt;Kalau boleh memilih, tentu tak mau jauh darimu. Bagiku: bandara, stasiun, terminal, bahkan gerbang kosmu, adalah tempat menyedihkan, karena kau harus melambaikan tangan kepadaku, lalu berbisik menemani kepergian: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hati-hati ya…”&lt;/span&gt;. Dan harapku, segera lagi bertemu. Seramai apapun orang di hadapanku, tetap ada yang kurang tanpa dirimu.&lt;br /&gt;Ketahuilah, aku rindu padamu. Aku benci nulis ini, karena membuatnya semakin merajalela. Sama seperti setiap saat habis bertelepon denganmu, ada rasa galau: senang, bisa mendengar suaramu, tapi setelah itu risau, karena sangat ingin di sampingmu. Sering berpikir untuk tidak menghubungimu, mengendalikan rasa itu, tapi bagaimana mungkin? Akhirnya kuhubungi lagi. Begitu sampai saat ini. Pernahkah kau merasakan hal yang sama? Tidak ingin menghubungiku, padahal saat itulah kau sangat ingin menghubungiku.&lt;br /&gt;Aku benci, kalau setiap bangun, ku lihat handphone-ku, tak ada apa-apa darimu. Tak ada gambar amplop kecil di sudut layar, tak ada ikon telepon di wallpaper. Tak ada sms darimu, tak ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;missed call&lt;/span&gt;, tak ada tambahan inbox, tak ada &lt;span style="font-style:italic;"&gt;have to do&lt;/span&gt;. Tahukah dirimu aku menanti semua itu?&lt;br /&gt;Aku baca lagi pesan-pesan lamamu, setiap kali aku merindukanmu. Bukan cuma itu, caramu menatap, memegang tanganku, saat ku membelai rambutmu, ah... sangat ingin memelukmu. Tolong beri aku bahumu untuk berbagi rindu. Kapan saatnya kau benar-benar tak jauh dariku lagi? Apa lihat nanti?? Ehm, semoga sang waktu akan berbaik hati. Ingat ini, setiap kali kau membaca tulisan ini, yakini: aku mencintaimu hari ini! Itu saja. Tuhan, Penjaga semesta, Dia juga yang akan menjagamu.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3077702006423749418?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3077702006423749418/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/aku-mencintaimu-hari-ini.html#comment-form' title='14 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3077702006423749418'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3077702006423749418'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/aku-mencintaimu-hari-ini.html' title='Aku mencintaimu hari ini'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S9e8QFhMJnI/AAAAAAAAAGs/zdBXpuNorZk/s72-c/56nm8.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>14</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-1835805051392646425</id><published>2010-04-14T15:02:00.000+07:00</published><updated>2010-04-14T15:08:57.192+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Doa'/><title type='text'>Doaku di Paskah Perkantas</title><content type='html'>Kami memuji Allah yang setia, yang terus memelihara persekutuan ini. Kami melihat karya Allah melalui pelayanan Perkantas yang telah menghasilkan siswa, mahasiswa, dan alumni yang bisa berkarya menjadi saksi-Mu di tempat masing-masing. Dan kepada Allah yang setia juga, kami berdoa membawa pergumulan bangsa kami. &lt;br /&gt;Kami bersyukur untuk masyarakat yang semakin sadar mengungkap kebenaran dan keadilan. Kami bersyukur untuk kegelisahan masyarakat dan lembaga masyarakat untuk menegakkan keadilan. Kami bersyukur untuk beberapa kasus penegakan hukum dan korupsi yang terungkap di bangsa kami. Tapi kami juga berdoa ya Tuhan, dimana kami sering kali dibiaskan, yang mana kebenaran yang sesungguhnya. Begitu banyak manipulasi yang terjadi. Tapi kami yakin ya Tuhan, kebenaran dan keadilan pada akhirnya akan menjadi pemenang sekalipun dalam proses perjalannannya sering terkendala.&lt;span class="fullpost"&gt;Dan kami berdoa, kiranya dalam proses pengusutan kebenaran ini, Tuhan yang menguasai dan memakai orang-orang yang terlibat sehingga kebenaran nyata, oknum-oknum yang merugikan negara diproses dengan hukum yang adil, dan tidak adanya politisasi yang mementingkan golongan tertentu. Kami yakin, ada tangan Allah yang menopang sehingga bangsa ini bisa bertahan dan Allah yang setia sangat mengasihi bangsa ini sedang bekerja di dalam bangsa ini, buktinya Allah yang memelihara dan menghasilkan, siswa, mahasiswa, alumni, melalui pelayanan ini. Kami semakin sadar ya Tuhan, betapa pentingnya pelayanan siswa, mahasiswa untuk menghasilkan alumni-alumni yang takut akan Tuhan di profesi masing-masing. Kami berdoa, buat alumni-alumni khususnya di bidang hukum: para penegak hukum, dunia peradilan; bidang ekonomi: departemen terkait: keuangan, perindustrian, perdagangan; dan lembaga-lembaga yang bergerak di kedua bidang itu, baik LSM dan konsultan; di bidang media massa, para jurnalis; agar boleh berjuang menjadi saksi Tuhan di profesi mereka dan boleh berjuang untuk tetap melakukan kebenaran sekalipun itu sangat sulit dan memerlukan banyak pengorbanan. Kami juga berdoa untuk alumni-alumni, yang bekerja baik di instansi pemerintahan maupun swasta agar juga boleh berdiri teguh, tidak goyah menyatakan identitasnya sebagai murid Kristus dan biarlah kematian dan kebangkitan Kristus boleh membakar semangat mereka untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan Kristus dan bangkit berkarya menjadi duta-duta Kristus agar Kristus di-Raja-kan di bangsa ini.&lt;br /&gt;Kami sadar ya Tuhan, kejahatan semakin merajalela, tidak selalu karena orang jahat bertambah banyak, tapi karena orang baik tidak melakukan apa-apa, sering memilih untuk diam. Karena itu ya Tuhan, kami berdoa untuk pelayanan para alumni, persekutuan alumni, Persekutuan Abdi Bangsa, untuk KTB-KTB alumni, untuk komunitas-komunitas alumni, agar boleh saling menolong bukan hanya memperjuangkan integritas pribadi tapi sampai memikirkan dampaknya pada orang di sekitarnya, menjadi teladan hidup dan juga mempengaruhi orang lain di sekitarnya untuk melihat terang Kristus yang bercahaya.&lt;br /&gt;Kami juga berdoa untuk pendidikan di bangsa kami. Kami bersyukur tentang pembatalan UU Badan Hukum Pendidikan. Biarlah ini menjadi langkah awal untuk menciptakan pendidikan Indonesia yang berkualitas dan terjangkau untuk seluruh lapisan masyarakat dan tidak adanya diskriminasi. Semua orang berhak untuk mengecap pendidikan, demi terciptanya masyarakat yang berkualitas. Mulai dari pendidikan anak usia dini, sehingga dari masa kecil pun mereka sudah dididik, dibina secara moral, sampai ke dunia perguruan tinggi. Sehingga, melalui sistem pendidikan yang benar, orang-orang yang dihasilkan bukan hanya handal dari segi ilmu tapi juga iman, karena kami tahu ya Tuhan betapa bahayanya ilmu tanpa iman. &lt;br /&gt;Kami berdoa untuk alumni-alumni yang sedang bergumul tentang panggilan hidup dan profesi mereka. Biarlah dalam masa-masa berdoa dan menggumulkan panggilan hidup, mereka boleh peka mendengar panggilan Tuhan di mana Tuhan memanggil mereka dan memakai mereka di tempat yang Tuhan kehendaki sehingga mereka dapat menjadi alat Tuhan dan mampu mengintegrasikan iman dan ilmunya.&lt;br /&gt;Ini doa kami ya Tuhan. Kami berdoa kepada Allah yang hidup!! Di dalam nama Yesus, Allah yang bangkit, yang kami rayakan hari ini dan itulah yang menjadi dasar pengharpan kami, dan kami tahu pengharapan kami di dalam Tuhan tidak sia-sia dan tidak mengecewakan. Amin.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-1835805051392646425?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/1835805051392646425/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/doaku-di-paskah-perkantas.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1835805051392646425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/1835805051392646425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/doaku-di-paskah-perkantas.html' title='Doaku di Paskah Perkantas'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-8836500275100609595</id><published>2010-04-08T09:42:00.001+07:00</published><updated>2010-04-08T09:44:55.440+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Apa yang terlalu berharga?</title><content type='html'>Dalam waktu yang berlanjut, saya terlibat dalam 2 pelayanan besar. Jadi Panitia RK XI, 25-28 Februari 2010, melibatkan sekitar 400-an orang, dengan kebutuhan dana 250 jutaan. Kemudian jadi tim doa di Paskah Bona Pasogit, 2 Mei 2010, melibatkan sekitar 10.000 orang, dengan kebutuhan dana 450 jutaan. Acara yang hanya hitungan hari,namun disiapkan berbulan-bulan, dan menghabiskan dana yang sangat banyak. Terlalu berhargakah?&lt;br /&gt;Sewaktu merenungkan ini, saya diingatkan Kak Fifi tentang cerita Yesus mengusir roh jahat dari orang Gerasa (Mrk5:1-20). Hanya demi memulihkan 1 orang gila, Yesus mengorbankan kira-kira 2000 ekor babi. Demi pemulihan 1 orang gila! Yang siang malam berkeliaran di kuburan. Bukan orang terpandang, bukan mahasiswa (yang mungkin saja setelah dipulihkan ada peluang menjadi pemimpin). Hanya demi 1 orang tersisih, ribuan ekor babi, yang merupakan mata pencaharian penduduk Gerasa, dikorbankan. Namun akhir cerita ini sangat menarik, (mantan) orang gila yang sudah sembuh itu pulang dan menceritakan apa yang telah diperbuat Tuhan atasnya dan betapa Tuhan mengasihani Dia, kepada orang sekampungnya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Di momen besar seperti RK XI dan Paskah Bona Pasogit, mungkin hanya beberapa orang yang dipulihkan. Namun di balik mereka, ada puluhan pengurus, ada ribuan jemaat, ada orang sekampung, yang akan mendengar apa yang telah dilakukan Allah atas dirinya. Kalau satu orang saja bertobat menyebabkan sukacita di sorga (Luk15:7), apalagi lebih dari itu?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;“Untuk apa dana sebesar itu, hanya untuk acara singkat yang hasilnya belum tentu jelas kelihatan? Mending uang sebesar itu dibagikan untuk orang miskin?”. Seringkali saya mendengar pendapat yang mulia ini. Namun dalam masa prapaskah, saya kembali dikejutkan dengan cerita Yesus diurapi di Betania (Mat26:6-13; Mrk14:3-9; Yoh12:1-8) sebelum kematian-Nya. Ada perempuan yang menghabiskan minyak wangi yang sangat mahal, 300 dinar, hanya untuk meminyaki Yesus. Kalau 1 dinar adalah upah pekerja 1 hari, maka minyak wangi itu diperoleh dengan bekerja selama 300 hari (dengan catatan, full 7 hari dalam seminggu, dan semua upah tidak ada yang dipakai untuk keperluan lain selain ditabung membeli minyak wangi). Atau kalau sekarang upah 1 hari sekitar Rp.50.000, maka harga minyak wangi itu sekitar Rp.15.000.000. Habis dalam sekejap! Dan ada yang komplain: untuk apa pemborosan ini? Lebih baik minyak wangi itu dijual dan uangnya diberikan kepada orang-orang miskin? Pendapat yang wajar. Namun tidak untuk Yesus! Yesus malah memuji perbuatan perempuan itu sebagai perbuatan baik, dan menambahkan: “Karena orang-orang miskin selalu ada padamu, dan kamu dapat menolong mereka, bilamana kamu menghendakinya, tetapi Aku tidak akan selalu bersama-sama kamu.”(Mrk14:6-7). Yesus melihatnya bukan sebagai pemborosan, namun menyadarkan apa artinya memberikan yang terbaik, yang paling berharga, segala apa yang dimiliki, kepada yang Pantas mendapatkannya. Menarik sekali penutup cerita ini: “sesungguhnya di mana saja Injil diberitakan di seluruh dunia, apa yang dilakukan perempuan ini akan disebut juga untuk mengingat dia”. Luar biasa. Karena Injil memang sebuah kabar tentang apa arti memberikan segala-galanya, yang paling berharga. Bukankah hal itu yang terlebih dahulu Yesus lakukan demi anda dan saya? Yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib (Flp2:6-8). Dan itu pula respon yang DIA inginkan dari kita: memberikan yang terbaik, yang paling berharga, segala apa yang kita miliki, hanya untuk Dia. Bukankah Dia telah memberikan segala-galanya? Dan bukankah memang segala-galanya adalah kepunyaan-Nya?&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Saya bukan menyetujui setiap acara yang dilangsungkan mewah dan menghabiskan banyak dana, atau malah memberatkan jemaat karena harus membayar mahal. Justru dalam beberapa perayaan, saya sering melihat pemborosan yang tidak seharusnya, yang semestinya bisa sederhana dan hemat. Yang perlu kita lakukan dalam suatu event adalah: berikan yang terbaik kepada Allah dan jemaat-Nya!! Lalu, mulailah persiapkan segala sesuatunya dengan penuh pertimbangan dan mohon hikmat dari Allah. Kalau memang akhirnya dana yang dibutuhkan cukup besar, berdoalah kepada Allah yang punya pelayanan, dan bertindaklah dengan peka terhadap jawaban doa melalui saluran berkat yang disediakan-Nya. Untuk momen-momen pelayanan yang memang dikerjakan sungguh-sungguh demi kemuliaan Allah saja, saya belum pernah melihat pelaksanaannya gagal karena kekurangan dana. Itu saya alami sendiri di RK XI. Bahkan kami memulai Retreat ini dengan dana yang masih kurang 90 juta, namun di hari terakhir Dia cukupkan semuanya, bahkan lebih dari yang sanggup kami pikirkan dan doakan. Setelah acara selesai dan diadakan perhitungan, malah dana surplus sekitar 25 juta. Kurang luar biasa apa lagi Allah itu? Karena angka ratusan juta sangatlah besar bagi kita manusia yang terbatas, tapi tidak bagi Allah yang Empunya langit dan bumi serta segala isinya!&lt;br /&gt;Tidak ada yang terlalu berharga untuk dipersembahkan kepada Allah. Tidak ada yang terlalu berharga demi jiwa-jiwa yang datang kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“For from him and through him and to him are all things. To him be the glory forever! Amen.” (Rom11:36)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-8836500275100609595?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/8836500275100609595/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/apa-yang-terlalu-berharga.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8836500275100609595'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8836500275100609595'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/apa-yang-terlalu-berharga.html' title='Apa yang terlalu berharga?'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-5932466401399933590</id><published>2010-04-07T20:26:00.000+07:00</published><updated>2010-04-07T20:28:32.712+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Maret 2010</title><content type='html'>Dari perenunganku, tema yang pas untuk bulan Maret 2010 ini adalah “tak seperti biasanya”. Semua yang terjadi, dan aku nikmati, berbeda dari biasanya.&lt;br /&gt;• Mengawali bulan ini dengan menjalani sisa cuti 1 hari dari total yang ku ambil untuk RK XI.&lt;br /&gt;• Retreat Koordinator XI telah usai, di akhir Februari. Tapi momen ini menyisakan banyak hal untuk dikenang. Mengerjakannya selama 6 bulan bukanlah hal yang gampang untuk berlalu begitu saja. Kini, tak ada lagi rapat tiap minggu, tak ada lagi koordinasi-kordinasi dengan panitia lain, tak ada lagi pokok doa harian yang di-print, tak ada lagi kertas-kertas coretan yang selalu di tas dan hampir hancur karena dibawa kemana-mana, tak ada lagi suara ketawa mereka, tak ada lagi sms nanya perkembangan dan pokok doa, berjuang mencari rupiah demi rupiah. Tak ada lagi. Kini, berjalan tak seperti biasanya, 6 bulan yang telah menjadi kebiasaan itu. Semoga RK XI ini tidak hanya berlalu menjadi program pembinaan shortcut, yang sangat dinikmati selama 4 hari 3 malam, namun tanpa dampak di kampus-kampus peserta. Semoga follow up demi follow up mampu menolong konsep yang baik itu bisa diterapkan jadi kenyataan di PMK. Eh, btw, panitia, kapan rapat evaluasi dan LPJ? Wah, jangan terlena dengan hari-hari yang “tak seperti biasanya” ini. Tanggal 18 April ya, lengkap! (katanya memecahkan rekor sebagai panitia terlama untuk LPJ dan surplus dana terbanyak). Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanggal 16 hari libur, hari raya Nyepi, dan aku merasa sepi. Sendirian seharian di mess. Memang ‘libur terjepit’ ini dimanfaatkan orang-orang untuk melakukan berbagai hal. Tinggallah aku sendiri, tak seperti biasanya. Tapi itu membuatku bersemangat untuk... beres-beres kamar! Jemur kasur dan bantal, nyapu, ngepel, beresin buku-buku, kertas-kertas. Habis itu, servis motor. Mau dicuci, eh malah hujan. Dan tak terasa sehari sendiri itu cepat berlalu, tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Tanggal 20, UNTUK PERTAMA KALINYA dalam tahun ini, aku Kelompok Kecil lagi dengan AKK-AKK-ku. Mereka lagi diklat di Jakarta, dan aku lihat hari itu kosong, aku ajak berkumpul dan setelah negosiasi, ternyata bisa... Senangnya... Mumpung lagi di Jakarta (yang dari Lampung dan Bandung, 2 orang tetap di Medan; atau mumpung sebelum kami terpisah lebih jauh lagi kalau mereka nanti penempatan di luar Jawa :D). “Jangan bahas bahan ya bang... Sharing-sharing aja”, katanya. Alasannya capek karena diklat. Tapi aku gak mau. Harus bahas bahan, karena entah kapan lagi kita bisa ketemu. Kemudian penawaran meningkat: “Bahas bahannya sambil makan-makan aja bang...”. Aduh... sori, penawaran kedua juga kutolak. Di kosan aja kalian susah fokus, apalagi di mall? Nanti, setelah selesai, baru kita makan-makan :) Aku sangat menikmati KK hari itu. Sewaktu berdoa, bahkan aku sempat menahan tangis. Aku merasakan keterbukaan (dan ketertutupan) di antara kami. Mereka itu unik: ada yang susah fokus, ada yang gak bisa diam, ada yang suka nyeletuk, motong pembicaraan, nunggu giliran, ngelihat kemana-mana, aneh-anehlah pokoknya. (cerita lengkap tentang KK, ada di artikel “Kelompok Kecilku” http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/kelompok-kecilku.html). Bagaimana ya, kalau kami nanti memang tidak ketemu lagi? Bagaimana nanti kalau mereka di dunia kerja? Masihkah cinta Allah dan benci dosa? Dalam kegagalan dan keterbatasanku sebagai PKK, aku menyerahkan mereka dalam tangan Allah yang kuat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Besoknya, tanggal 21, UNTUK PERTAMA KALINYA dalam tahun ini, aku KK lagi ke atas. Ini juga tak seperti biasanya. Kami ketemu di plaza, makan malam, dan pertemuan terakhir dengan Andre yang ternyata penempatan di Palu, menyusul Saudara KK kami, Ido yang sudah setahun di Palu. Ah, berpisah lagi dengan satu orang yang kukenal sifat tabahnya. Belum lagi kalau PKK kami jadi berangkat ke Papua, tinggallah aku sendiri di Jawa ini. Pembicaraan terakhir kami di tempat parkiran sangat berkesan bagiku. Ayo, sama-sama berjuang ya...menjadi saksi Tuhan, di manapun. Siapa duluan kawin? Hihihi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Jawa Barat bagi-bagi bencana. Ternyata dalam menangani banjir pun mereka menggunakan visi kesatuan dan kedewasaan, tidak membiarkan satu daerah ‘menikmati’ sendiri, yang lain juga harus merasakan. Jangan-jangan ada (mantan) pengurus PMKJ di situ. MENYADARI BAHWA: rasa ‘turut merasakan’ itu perlu. Kabupaten Bandung kena banjir besar, dialihkan ke Jatiluhur, Purwakarta. Air semakin tinggi, Purwakarta membuka pintu air, bagi-bagi air ke Karawang. Alhasil, tak ada hujan, tak ada badai, Karawang pun banjir besar!!! 13 kecamatan tergenang air. Permukaan sungai hampir sama dengan jembatan. Walaupun mess dan kantorku tidak sampai terkena banjir, namun air sudah mengelilingi kelurahan ini, jadi tidak bisa terlalu jauh kemana-mana. Tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bulan Maret ini pun beda dari bulan biasanya, dalam hal kerjaan di kantor pajak. Semua Wajib Pajak di seluruh Indonesia wajib melaporkan SPT Tahunannya paling lambat 31 Maret. Sangat melelahkan. Direktorat Jenderal Pajak jadi sorotan. Dan di saat begitu... makin disorot lagi, dengan munculnya kasus makelar pajak di Polri yang melibatkan satu oknum pegawai DJP, dengan nilai sampai 25M. Semua media menguak hal ini. Suka-suka hati media mengabarkan berita yang mereka inginkan, entah tuntas entah tidak. Habis kasus pembunuhan, kasus Bank Century, teroris, banjir, korupsi pajak, entah apa lagi. Padahal bukankah sebenarnya tokoh utama dalam kasus ini adalah makelar kasus dalam tubuh Polri?? Kenapa satu pegawai pajak –yang hanya pemeran pembantu menjadi sorotan utama? Instansi Pengadilan disorot pun tidak?? Tapi itupun aku bersyukur. Ini sebuah tamparan bagi DJP, khususnya dalam hal kepatuhan internal. Selama ini yang dilihat kulit luar saja: kerapian, sandal jepit, name tag, absensi, tapi??? kebobolan 25M. Aduh-aduh... Malunya... Tapi dari diskusi intern DJP, aku yakin generasi muda di DJP sangat ingin instansi ini bersih dari benalu-benalu sisa kotoran lama, ataupun hasil regenerasi kilat orang-orang serakah. Dan sakitnya hati ini, hampir dimana-mana orang menghina Pajak, apalagi men-generalisasi-kan semua pegawai pajak. Aku yakin, banyak pegawai pajak yang benalu (entah itu korup atau tidak produktif), tapi aku sangat yakin masih sangat banyak pegawai DJP yang bersih. Kenapa sepertinya Pajak terus yang disalahkan? Gaji memang mungkin lebih tinggi dari PNS yang lain, tapi tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan BUMN-BUMN yang bahkan tiap tahun merugi itu! Korupsi? Siapa bilang PNS selalu yang korupsi??? Tidakkah kalian sadar betapa mengerikannya korupsi di swasta, bermain uang, yang sangat merugikan negara? Bahkan siapa yang seringkali mempermainkan instansi pemerintah untuk korup? Swasta; entah itu orang pribadi atau badan, dalam atau luar negeri. Makanya, berantas aja semua yang merugikan negara ini, negeri kek, swasta kek. Gaji tinggi setiap pegawai, tapi barengi dengan reward and punishment yang tepat sasaran!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Kalau demikian parahnya kondisi bangsa ini, betapa strategisnya pelayanan mahasiswa untuk menghasilkan alumni-alumni yang tidak hanya punya ilmu, tapi juga iman. Aku diingatkan lagi di Retreat Penilik khusus SDM Bible Movement, 26-28 Maret. Betapa bahayanya mahasiswa (apalagi alumni) yang tidak teguh berpegang pada Firman kebenaran. Ironisnya,justru saat ini kondisi pelayanan mahasiswa sedang rapuh. Berdasarkan litbang TPPM, Kelompok Kecil tak lagi sebagai tulang punggung PMK, hanya dikerjakan seadanya. PMK sangat tergantung dengan training dan pembinaan. Regenerasi yang amburadul. Tantangan semakin berat, studi padat dan cepat. Apa solusi bagi kita yang terlibat dalam pelayanan mahasiswa???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Bulan Maret berlalu, dan KTB ‘05 tidak bertemu. Ah, tak seperti biasanya.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-5932466401399933590?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/5932466401399933590/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/maret-2010.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5932466401399933590'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5932466401399933590'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/maret-2010.html' title='Maret 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-5363030578178887150</id><published>2010-04-07T20:17:00.001+07:00</published><updated>2010-04-07T20:19:06.529+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Kelompok Kecilku</title><content type='html'>Waktu dulu di FT UGM, tahun 2004, aku gak mau dibina di Kelompok Kecil (KK). Bagiku itu kegiatan aneh. Beberapa orang janjian ketemu, bahas firman, nyanyi, doa, sharing... Atau mungkin aku terlalu sombong untuk dijadikan murid. Tapi aku bersyukur ada satu orang yang sabar menghubungiku dan menghancurkan kerasnya hatiku, Bang Jury (Teknik Kimia UGM 2001, sekarang bekerja di perusahaan tambang di Papua). Dia sabar menghadapiku dan aku yakin dia setia berdoa untuk orang seperti aku, yang sombong rohani ini, agar mau rendah hati. Aku salut, dia mau berjuang mendoakanku, yang bukan siapa-siapanya. Dia hanya rindu aku terbina. Dan akhirnya aku ikut. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena aku pindah ke STAN tahun 2005.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di STAN juga awalnya aku enggan untuk di-kelompok-kecil-kan. Entahlah. Mungkin karena belum tahu kegiatan kuliahnya, tidak kenal persekutuannya, atau mungkin karena aku memang belum tau apa pentingnya kelompok kecil. Tapi aku juga bersyukur, ada seorang yang bersedia mengajak dan nantinya terus membinaku dalam kelompok kecil. Bang Jetri (anak UI, sekarang baru aja lulus BPK, kabarnya juga akan berangkat ke Papua). Aku salut, rumahnya di Rawamangun, kampus Depok, tapi sering ke Bintaro demi kami, Anak Kelompok Kecil (AKK)nya. Dia rela menghabiskan biaya, waktu, tenaga, demi kami, yang baru dikenalnya: Ido, Andre, dan aku. 3 orang yang punya ciri masing-masing: Ido yang tegas (sekarang di Palu), Andre yang tabah (akan berangkat juga ke Palu), dan aku yang gak mau kalah :) (sekarang cuma di Karawang).&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Sewaktu pergumulan menjadi Pemimpin Kelompok Kecil (PKK), aku ragu terima. PKK-ku adalah orang-orang yang ulet dan hebat, bisakah aku seperti mereka? Aku takut. Tapi terus berdoa dan didoakan, aku disadarkan lagi bahwa visi KK adalah dimuridkan untuk memuridkan (regenerasi dan multiplikasi). Saat itu juga dalam pergumulanku sebagai BPH mendorongku untuk merenung: bagaimana bisa jadi gembala dalam jumlah besar, kalau dalam kawanan kecil aja tak ambil bagian? Akhirnya aku jawab ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berjalan… Seringkali kalau ngomong tentang Kelompok Kecil, aku terdiam... Karena dalam hati kecilku, aku merasa bahwa aku seorang PKK yang gagal. Tidak ada AKK-ku yang beregenerasi jadi PKK, atau memimpin KK dengan baik. Perubahan hidup? Entahlah, mungkin sebatas yang terlihat. Kepengurusan? Tidak ada satupun AKK-ku yang jadi Tim Inti dalam kepengurusan. Aku salut dengan PKK yang dari KK-nya menghasilkan PKK lagi. Visi KK-nya terwujud. Bahkan untuk PKK yang (menurutku) kurang militan, ada yang menghasilkan PKK. Aku jadi malu, sambil merenungkan anugrah dan waktu Allah bagi pertumbuhan KK, yang seringkali mengherankan bagiku. Merasa gagal. Mungkin aku kurang berdoa, atau mungkin pula aku terlalu sibuk dengan pelayanan-pelayanan besar (Ketua Umum, Panita-panitia), sampai melalaikan Kelompok Kecil?? Karena seharusnya, kalau PKK sungguh-sungguh berdoa dan berjuang, pasti ada dampak bagi pertumbuhan KK-nya. Aku tertunduk malu setiap kali berbicara tentang ‘hasil’. Padahal tahun 2006 aku bahkan menyatakan bersedia jadi PKK Misi ke Universitas Budi Luhur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara jumlah, aku (pernah) punya 12 AKK (ah, kayak Yesus aja). 7 dari STAN, dan 5 dari UBL. &lt;br /&gt;Mereka punya kesamaan: sama-sama susah fokus, jarang ontime, susah langsung lengkap kecuali makan-makan, sangat jarang balas sms, sama-sama tak ada yang hapal ayat-ayat Alkitab. Tapi bagiku, mereka punya cerita sendiri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;STAN&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Awalnya ber-3, tapi yang 1 gak mau ikut, tinggal 2. Ganda, Ivan. Aku cari 1 orang lagi adik kelasku, dan dia mau, Alfred, jadi 3 lagi. Kami selesai bahas MHB, meski terseok-seok. Tapi akhirnya kami kehilangan Ivan, karena dia harus pindah. Aku sedih sekali. Udah cuma 3, pergi pula 1. Dan yang paling aku sesali adalah, sampai Ivan pindah, aku belum pernah datang ke kosnya. Cuma tau alamat, dan itu jauh. Berapa kali aku pengen datang, dia bilang gak usah, jauh. Jadi ketemu hanya di kampus, atau di kos yang lain waktu KK. Sekarang dia di Jogja, di salah satu perusahaan sekuritas. Aku tetap pesan, cari pelayanan di sana.&lt;br /&gt;Waktu aku tingkat akhir, aku dihubungi Bakti dan seksi KK, apakah mau mimpin satu KK lagi, karena PKKnya dulu, udah terbatas untuk menghubungi dan ketemu. Aku doakan, dan yang aku pikirkan: kalau tambah 4 orang, aku masih sanggup, asalkan digabung, jangan dipisah. Aku kenal PKKnya dulu, Yefta, adiknya temenku waktu di UGM. Ya udahlah, aku terima, nambah 4 lagi: Bakti, Jitro, Purba, Roly. Untuk seterusnya kami KK ber-7: aku + 6 AKK. Agak-agak susah juga dengan jumlah yang agak banyak ini. Mulai dari cocokin waktu ketemu, sampai menjaga fokus sewaktu KK. Mereka aneh-aneh: ada yang kalo ngomong awalnya susah, tapi kalo udah ngomong berhentinya susah, ada yang suka lihat kemana-mana, matanya entah lihat apa-apa di sekeliling, apalagi kalau gilirannya dipikirnya masih jauh untuk jawab pertanyaan, ada yang entah ngerjain apa-apa, bolak-balik Alkitab, megang-megang handphone, duduk terus selonjoran terus berbaring terus duduk lagi, bahkan sampai ada yang sambil cabutin bulu kaki, ckckckck, ada yang jawabannya standar aja, kalau mau digali lebih dalam udah males, ada yang suka nyeletuk, ah banyaklah kebiasaan mereka. Kadang sebel juga kalau gak diperhatikan. Tapi aku gak tau gimana caranya marah yang efektif.&lt;br /&gt;Tanggal 20 Maret 2010 kami KK, namun hanya ber-4, karena 2 lagi Medan. Disitu aku sadar bahwa aku sangat mengasihi mereka. Rasanya pengen bisa terus KK bersama mereka, jangan pisah jauh-jauh. (mereka mikir gitu juga gak ya? Kayaknya enggak deh. Huhuhu...). Aku merasakan sukacita setiap kali kumpul dengan mereka. Gimana nanti kalau kami terpencar ke seluruh Indonesia? Ah, sepertinya harus diperjuangkan bareng-bareng waktunya untuk ketemuan. Aku terus berharap supaya mereka tetap setia dalam persekutuan, dan terlibat dalam pelayanan, apalagi setelah alumni. Itu doaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;UBL&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 2006 aku bersedia menjawab Ya untuk jadi PKK misi ke UBL. Akhirnya sebagai langkah awal, aku ikut Retreat Pengabaran Injil UBL, di situ aku dipertemukan dengan 3 orang (calon) AKK-ku: Boy, Frado, Leo. Dari situ kami mulai janjian ketemuan, dan aku makin sering ke UBL. Setelah beberapa bulan, dari KKR UBL, ada 2 orang lagi yang menyatakan bersedia untuk ikut KK: Tri dan Alvino. Jadilah ada 5. Yang dari UBL ini beda. Dari pertemuan pertama aja, sudah sangat sulit sekali untuk bertemu. Bayangkan aja bagaimana pertemuan-pertemuan selanjutnya. Mereka juga punya ciri: awalnya ada yang susah bahasa Indonesia, masih campur-campur bahasa daerah, ada yang gaya habis, tindik kuping, tato temporer, kalungnya gede-gede, ada yang cat rambut, kecanduan game online. Tetap aja ada yang susah fokus, gelisah terus selama KK, gak pernah langsung jawab, pasti nanya dulu, apa tadi pertanyaannya?, ada yang bisa ketawa tiba-tiba dan susah berhenti karena sesuatu yang dianggapnya lucu, tapi bagi yang lain gak lucu. Mereka memang unik. Jarak kami agak jauh, 45-60 menit perjalanan naik 2 kali angkot kecil, dan aku terus yang kesana. Jadwal kuliah mereka berbeda-beda, susah sekali nyari jadwal yang semua bisa. Apalagi mereka makin lama makin sibuk dengan futsal, bulutangkis, asisten dosen, pelayanan di gereja, plus ada yang tinggal di rumah saudara. Aduh... Akhirnya aku hanya menetapkan jadwal, dan berapa yang kumpul, KK tetap jalan, dan bahas bahan. Yang gak datang aku susulin sendiri, atau kalau itupun gak bisa, aku lanjut terus. Aku sering bingung bagaimana cara efektif untuk menjangkau mereka semua. Sampai akhirnya aku harus meninggalkan mereka karena Agustus 2009 aku ke Medan. Tapi aku senang mendengar kabar, ada yang menggantikanku: Boy, adik kelas di STAN. Sampai saat ini, aku belum pernah ketemu mereka lagi secara lengkap. Beberapa kali hubungi lewat facebook, namun miskin respon. Asal ada acara besar di UBL, aku akan perjuangkan datang, untuk bertemu mereka, dan mudah-mudahan mereka mau datang :). Hal-hal yang paling kuingat selama KK UBL: kacamataku hilang waktu lari-lari kehujanan, pernah ditelepon oleh ortu salah satu AKK dan marah-marah apa aku membawa ajaran sesat atau aliran gereja mana, kenapa seringkali kumpul malam, tapi... Puji Tuhan, besoknya... ibunya nelepon lagi, tapi dengan tujuan yang berbeda, mau ngucapin terima kasih dan minta tolong bina anak saya ya... Wah, rasaku campur aduk waktu itu. Oh iya satu lagi yang paling kuingat, aku pernah berjalan kaki sendiri, malam-malam sekitar 4km, karena kehabisan angkot (dan tidak ada ongkos lagi), dan beberapa kali harus menahan lapar (atau hanya makan gorengan) karena kondisi “dompet” sebagai mahasiswa :)&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Aku bersyukur dan bersukacita pernah mengalami semuanya. Aku pernah merasakan perjuangan sebagai PKK, meniru PKK-ku dulu. Aku berhutang. Tapi aku tetap saja sering terpaku ketika bicara ‘hasil’.&lt;br /&gt;Aku berlutut dan berdoa: “Tuhan, hamba terbatas dan sangat penuh dengan kekurangan, bahkan berkali-kali jatuh. Hamba mohon jagai mereka. Biarlah dalam anugrahMu, waktuMu, dan kemampuanMu, pada waktunya, Engkau yang menguasai seluruh hidup mereka. Hamba sangat sadar, sesungguhnya mereka adalah domba-dombaMu, dan Engkau Gembala mereka. Tolong jangan biarkan mereka lepas dari tanganMu”.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-5363030578178887150?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/5363030578178887150/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/kelompok-kecilku.html#comment-form' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5363030578178887150'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5363030578178887150'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/04/kelompok-kecilku.html' title='Kelompok Kecilku'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-7189287960353738532</id><published>2010-03-19T07:52:00.002+07:00</published><updated>2010-03-19T08:27:13.880+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Rokok?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6LS2ujkCKI/AAAAAAAAAFw/2-0yuPKq6D4/s1600-h/racun-rokok.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 122px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6LS2ujkCKI/AAAAAAAAAFw/2-0yuPKq6D4/s200/racun-rokok.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450150336723683490" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya bergabung di mailist gereja saya, sebuah gereja suku. Tiba-tiba di sana terjadi diskusi alot tentang rokok.&lt;br /&gt;Diskusi ini sangat mendorong saya untuk memberi ulasan tentang rokok, racun yang sangat umum ini. Saya kurang terlalu nyaman jika dikaitkan: ‘rohani atau tidak’, ‘masuk neraka atau surga’, ‘haram atau halal’ seperti yang beberapa kali telah disebutkan, mempengaruhi keselamatan atau enggak, walaupun memang ini perlu dipertanyakan, masakan orang yang mengaku percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatnya menyia-nyiakan anugerah kesehatan dengan meracuni diri lewat rokok? Sungguh sayang... Tapi mari kita lihat sebentar secara theologis. Meskipun tidak tertulis di Alkitab (alasan beberapa perokok membela diri), tetapi Alkitab cukup memberi tahu hal-hal yang perlu kita ketahui dan membenarkan cara pandang Kristen (Christian World View).&lt;br /&gt;Mari bahas sedikit tentang “dosa”. Hakikat dosa adalah hamartia (Yunani, artinya: melenceng, meleset dari tujuan/sasaran). Kapan suatu hal dikatakan berdosa? Jika tidak sesuai dengan tujuannya diciptakan. Apa tujuan manusia diciptakan? Yes 43:7 menjawabnya: “...Kuciptakan untuk kemuliaan-Ku”, untuk memuliakan Allah. Dan Rasul Paulus juga menulis dengan sangat jelas dalam 1Kor10:31: “Aku menjawab: Jika engkau makan atau jika engkau minum, atau jika engkau melakukan sesuatu yang lain, lakukanlah semuanya itu untuk kemuliaan Allah.”. Nah, sekarang pikirkanlah apakah merokok itu memuliakan Allah: &lt;span class="fullpost"&gt;(Saya ingin menambahkan dan menekankan bahwa hal ini juga relevan untuk hal yang lain, seperti yang telah didiskusikan beberapa orang: bagi mereka yang sering begadang, candu kopi, pola makan dan tidur yang tidak beres, sekalipun bukan perokok adalah tidak lebih baik dari perokok).&lt;br /&gt;• Sekarang zaman online, tapi banyak orang yang gak connect. Apa yang selalu didoakan dalam setiap doa bahkan minta didoakan oleh orang lain: “Ya Tuhan, berikanlah kesehatan...” tapi habis berdoa langsung merokok (mengisap racun)? Bahkan saya tak sanggup mengimajinasikan bagaimana respon Tuhan yang mendengar doa yang tidak nyambung itu.&lt;br /&gt;• Dari segi kesehatanpun, tidak ada hasil riset yang menyatakan rokok itu baik. Malah sebaliknya: begitu banyak racun yang terkandung dalam rokok: bahkan sampai campuran cat, pembersih lantai, dan racun-racun lainnya (banyak blog yang membahas hal ini). Itulah yang dihirup para perokok (padahal daftar racun beserta peringatannya sudah tertulis di luar kotak). Sebuah penelitian yang pernah saya dengar, jika dalam kondisi normal, dirata-ratakan, menghisap 1 batang rokok, mengurangi umur 3 menit. Berapa rokok yang anda habiskan satu hari? Kemudian, waktu yang paling berbahaya untuk merokok adalah pagi hari, sehabis makan, atau sehabis berolahraga, karena saat itu tubuh sedang sangat giat menyerap zat-zat yang mengalir dalam tubuh. Tapi ironisnya, di saat-saat seperti itulah para perokok mengepulkan asapnya. Kasihan sekali...&lt;br /&gt;• Mari berpikir, seandainya rokok itu memang baik:&lt;br /&gt;• Kenapa tidak ada di manapun, kapan pun, anjuran untuk merokok: “TOLONGLAH ANDA MEROKOK” atau “KAMI HARAP ANDA MEROKOK DI TEMPAT INI”. Kenapa tidak pernah ada tema khotbah: Ayo merokok. Kenapa dokter tidak ada yang menasihati pasiennya untuk merokok, guru sekolah minggu mengajari anak sekolah minggu untuk merokok. Malah sebaliknya, dokter akan berkata: “Silahkan anda merokok, jika ingin mati”, di sekolah-sekolah akan diadakan razia rokok bagi para siswa dengan hukuman yang pasti bagi siswa yang membawa rokok atau ketahuan merokok, Perda yang melarang merokok, bahkan ayah yang perokok sekalipun, tidak menganjurkan anaknya untuk merokok. Atau tahukah anda bahwa di pabrik rokok pun ada tulisan “DILARANG MEROKOK”? Dan pikirkanlah, apa rokok masih baik?&lt;br /&gt;• Banyak orang sudah tahu, bahwa perokok pasif lebih berbahaya dari perokok aktif. Dan saya berpikir, bahwa kepala keluarga yang merokok adalah orang tidak mengasihi keluarganya. Perokok pasti langsung protes. Tapi bagaimana mungkin dia mengatakan mengasihi keluarganya jika yang dilakukannya setiap mengepulkan asap adalah meracuni istri dan anak-anaknya? Kalau istri marah, atau lagi kesal, suami akan “berselingkuh” dengan rokoknya. Atau hal yang satu ini: jika satu bungkus per hari dengan harga rata-rata 10.000, maka dalam sebulan si Bapak akan menghabiskan 300.000 hanya untuk rokok. Dan sedihnya lagi, menurut sebuah pendataan, lapisan masyarakat terbanyak perokok adalah mereka yang penghasilannya di bawah UMR, kemudian ada wacana bahwa syarat pembagian BLT adalah bukan perokok.&lt;br /&gt;• Tidaklah heran melihat orang yang terlibat ganja dan narkoba, diawali dengan rokok. Karena memang rokok adalah bentuk sederhana dari narkoba, mengandung zat adiktif yang membuat candu. Tapi saya yakin, dimana ada kemauan yang sungguh, perokok mampu lepas dari racun yang memperhamba ini. Saya mengenal beberapa perokok berat yang berhasil lepas dari jerat rokok, setelah divonis jantung koroner. Kalau ternyata bisa... kenapa gak dari sekarang?&lt;br /&gt;• Saya sangat ingin melebarkan jabaran tentang rokok ini dari beberapa aspek lagi: asal mula suap/ korupsi adalah dari “uang rokok”; siapa bilang tidak merokok tidak jantan? (saya akan jawab: Lho, bukannya waria yang dominan merokok? ); hal-hal yang bisa dilakukan gereja dalam memberantas rokok sebagai racun dan narkoba, penatua, pendeta; kebijaksanaan untuk membicarakan rokok dalam adat; dan dari aspek pajak yang menjalankan fungsinya sebagai regulerent (pengatur), dengan mengenakan pajak yang tinggi terhadap rokok, serta pergumulan bangsa dalam memperbaiki kualitas penduduk dengan menekan tingkat perokok dengan ekonomi bangsa. Saya salut membaca sebuah berita: seorang yang keluar dari pekerjaannya di sebuah pabrik rokok ternama, dengan gaji besar, berubah menjadi penjual air tebu, karena dia sadar, pekerjaannya di pabrik itu sedang membuat racun yang membunuh banyak orang.&lt;br /&gt;• Saya bahkan sudah mencicipi rokok sejak SD, tapi syukurlah sekarang saya bukan perokok. Kita bisa mulai dari diri kita sendiri. Berhenti merokok, jangan merokok, jangan jualan rokok, nasihati orang terkasih yang merokok, jangan nikahi pria (apalagi wanita) yang masih merokok. Matikan rokok sebelum rokok mematikan anda.&lt;br /&gt;• Semoga hal-hal ini bisa membuka pikiran kita. Soli deo gloria!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-7189287960353738532?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/7189287960353738532/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/rokok.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7189287960353738532'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7189287960353738532'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/rokok.html' title='Rokok?'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6LS2ujkCKI/AAAAAAAAAFw/2-0yuPKq6D4/s72-c/racun-rokok.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-597673070619868676</id><published>2010-03-17T16:45:00.001+07:00</published><updated>2010-03-17T16:55:39.820+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Sisi Lain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6Cm7cZAfKI/AAAAAAAAAFo/wN_xJFfDs2Y/s1600-h/merak+streak.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 160px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6Cm7cZAfKI/AAAAAAAAAFo/wN_xJFfDs2Y/s200/merak+streak.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5449539089281875106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Semua baik. Yakinlah, di balik semua kejadian, pasti ada sisi baiknya. Masalahnya adalah bagaimana melihat sisi baik itu, dan mengucap syukur atasnya. Dalam hiruk pikuk sekalipun, ada secercah kedamaian di dalamnya. Coba lihat dari sisi lain. Aku teringat cerita tentang seorang wanita berusia 92 tahun yang buta. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, ia selalu berpakaian rapi. Rambutnya selalu tersisir dan ia berdandan sangat cantik. Setiap pagi ia menyambut hari yang baru dengan penuh semangat. Setelah suaminya meninggal pada usia 70 tahun, wanita itu merasakan perlunya pindah ke panti wreda supaya mendapatkan perawatan yang layak. Pada hari kepindahannya itu, seorang tetangga yang baik hati mengantarkannya ke panti wreda. Ketika akhirnya seorang petugas datang menjemputnya, ia tersenyum manis sembari mengarahkan alat bantu jalannya menuju lift. Petugas itu menggambarkan keadaan kamarnya kepadanya, termasuk gorden-gorden baru yang dipasang di jendela kamarnya. “Saya menyukainya,” sahut wanita buta itu. “Tapi Bu, Anda kan belum melihat kamar Anda,” sahut petugas itu. “Hal itu tidak ada pengaruhnya bagi saya,” timpalnya. “Kebahagiaan adalah sebuah pilihan. Entah saya menyukai kamar saya atau tidak, hal itu bukan tergantung pada bagaimana penataan kamar saya. Itu tergantung pada bagaimana saya menata pikiran saya.”&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Bulan Maret ini kantorku tak pernah sepi dari Wajib Pajak (WP). Memang, semua WP diwajibkan melaporkan SPT Tahunannya ke KPP setempat. Saking ramainya, kantorku memasang tambahan tenda di depan kantor. Wuih... mumet, ramai, berisik. Nasib jadi seksi pelayanan –pelayanan publik. Ada anak-anak yang lari-lari, teriak, menangis,ah... lama-lama kantor ini tak mirip kantor pajak lagi (yang umumnya elegan), lebih cocok jadi puskesmas; atau tempat konseling –tempat orang yang banyak tanya, jarang mau dengar, susah diatur; atau kantor apa ya namanya –yang banyak calo; atau bisa juga pasar –karena tiba-tiba banyak orang datang untuk jualan. Ah, pusing... Ditambah lagi suara kebisingan kendaraan –motor yang berisiknya minta ampun –lebih cocok jadi becak mesin; suara printer pita dot matrix; stempel... Ribut! Tak tahan lagi. Di tengah hectic-nya situasi itu, aku berdiam, mengusap mata, menutup keduanya, meletakkan kedua telapak tanganku menutupi wajah, dan mencoba tenang, tenang sekali... Lama-lama suara bising perlahan-lahan mulai terdengar teratur di telingaku. Suara printer bagiku seperti nada: trit-trit-ck-ck-trit-trit...trit-trit-ck-ck-trit-trit... Suara stempel sepertinya bagai ketukan metronom dengan tempo nada ±80, atau lebih tepatnya perkusi akustikan: dung-tak-deng-deng-tak...dung-tak-deng-deng-tak...  Sambil membuka mata perlahan-lahan, aku tersenyum. Ternyata ritmenya indah. Aku bisa mendengarnya dari sisi lain. Printernya tetap sama, stempelnya juga, tapi kedengaran berbeda di sisi lain pendengaranku. Kalau digabung bisa jadi ritmis pengiring lagu: trit-trit-ck-ck-trit-trit [dung-tak-deng-deng-tak]... trit-trit-ck-ck-trit-trit [dung-tak-deng-deng-tak]... Wah, suasana ini tak membosankan lagi buatku. Aku mulai semangat melihat orang yang banyak di depanku, dari ujung ke ujung. Eh, ternyata di ujung sana, sudah ada orang yang duluan bisa melihat sisi lain dari kebisingan ini. Sepasang muda –suami-istri, jongkok di belakang mobil yang diparkir untuk menghindari sinar matahari, mereka saling bergantian menyuapkan buah –rujak yang baru dibeli –satu  sama lain. Si suami menyuapkan potongan mangga ke mulut istrinya, si istri membalas dengan memberikan jambu. Wah, manis sekali, seakan tenda itu milik mereka berdua. Seakan tak ada kebisingan di sekelilingnya. Waktu mengantri yang sangat lama itu, bisa mereka lihat menjadi momen bercengkerama. Ups, ternyata si istri kepedasan, langsung saja si suami menyuguhkan es cendol yang dibelinya di samping tukang rujak. Wah, aku jadi tidak sabar, ingin tahu sebenarnya mereka nomor antrian berapa... Hahaha... Indahnya sisi lain.&lt;br /&gt;*&lt;br /&gt;Memang banyak hal yang bisa kita syukuri, dalam hal buruk sekalipun –dari sisi lain. Mungkin ada saatnya kita jatuh sakit –bisa jadi itu momen pengingat untuk kita istirahat; mungkin terjebak macet –kenapa tidak menjadikan momen itu untuk melihat-lihat sekeliling, dengar syair lagu dari pengamen, atau membalas sms, atau mengecek contact/ phonebook satu persatu sambil mengingat wajah-wajahnya, mungkin ada yang perlu kita sms, telepon atau motivasi, atau baca buku yang belum sempat kita selesaikan sekalipun dibawa kemana-mana; mungkin ada saat kita terlambat –bisa jadi itu pembelajaran untuk bangun lebih cepat, atau jangan lama-lama mandi, atau momen untuk membuat kita sedikit berkeringat, mengingatkan kita untuk berolahraga karena lemak yang semakin merajalela; mungkin ada saat kita dicopet –bisa jadi itu membuat kita ingat untuk menjaga barang bawaan, atau bersyukurlah karena kita adalah orang yang dicopet, bukan sebagai pencopet.  Dan masih banyak “mungkin-mungkin” yang lain yang mugnkin terjadi. Esok hari punya cerita sendiri. Entah lebih baik, entah tidak. Tapi pasti ada kebaikan di dalamnya. Coba lihat dari sisi lain... Semua baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-597673070619868676?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/597673070619868676/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/sisi-lain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/597673070619868676'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/597673070619868676'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/sisi-lain.html' title='Sisi Lain'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S6Cm7cZAfKI/AAAAAAAAAFo/wN_xJFfDs2Y/s72-c/merak+streak.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-8755128023995672227</id><published>2010-03-05T07:52:00.003+07:00</published><updated>2010-03-05T08:04:33.020+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>Retreat Koordinator XI dan ceritaku</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S5BYI3iBddI/AAAAAAAAAFg/9PzH0J2H0-4/s1600-h/Logo+rk+xi+JPEG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S5BYI3iBddI/AAAAAAAAAFg/9PzH0J2H0-4/s200/Logo+rk+xi+JPEG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5444948858859779538" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;7 Agustus 2009 aku baru saja menerima pengumuman bahwa aku ditempatkan di Karawang, sorenya seorang staf, Kak Pur sms mengajakku untuk bergumul dan bergabung di kepanitiaan RK XI. Aku kaget, darimana dia tahu kalau aku akan hijrah dari Medan? Ternyata dikasi tahu staf yang lain. Aku bilang lihat nanti dulu, lihat bagaimana kerjaan di Karawang, memungkinkan atau tidak, apalagi harus mobile dari dan ke Jakarta. Ternyata dalam masa “lihat nanti dulu” itu, Kak Pur sudah memperlakukanku seperti telah “meng-iya-kan” jawaban, dikenalkan dengan panitia lain (yang sudah menjawab ataupun belum), dikasi tau job desc-nya apa, bahan-bahan yang mau dipikirkan, dll. Akhirnya pada tanggal yang ditetapkan, ku jawablah “ya”. Entah apa yang kurasakan saat itu, ragu, apa salah motivasi, takut jawab enggak, banyaklah... tapi maju terus. Di akhir nanti baru aku tahu apa jawaban sebenarnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pulang dari Kamp Pengutusan Mahasiswa (akhir Agustus), rapat perdana di Depok, sekaligus perkenalan dengan seorang wanita, rekan satu seksi nantinya, namanya Dea. Baru bedua, sebelum ditambah Jeri beberapa hari berikutnya. Bertiga kami di seksi acara (nanti akhirnya dibantu Refly dan Melina dalam buku acara dan multimedia).&lt;br /&gt;6 September adalah pleno pertama. Di situ aku melihat teman-teman panitia lainnya, orang-orang yang “terhisap” di RK dan persiapannya selama 6 bulan ini. Bagiku mereka adalah orang-orang yang penuh semangat.&lt;br /&gt;Seksi acara sendiri mulai memikirkan konsep-konsep acara, pemantapan eksposisi tokoh Daud, menentukan pelayan. Dan selama proses itu, aku bisa merasakan pekerjaan-pekerjaan Allah. Tema besar, melintas di pikiranku begitu aja sehabis bangun pagi: D.A.U.D: Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya. Bahkan akupun tak yakin membawanya ke rapat, dan aku diam, menunggu ditanya pendapat. Ternyata memang ditanya. Aku jawab: usulku: D.A.U.D: Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya, dan langsung pura-pura tertawa sendiri, sebelum (pikirku) aku akan ditertawakan. Ketika ditanya kenapa? Aku mulai mencari-cari penjelasan (selain dapat ilham dari bangun tidur) dengan gaya yang sok meyakinkan: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;kenapa gak kita buat tema yang gampang diingat, melekat dengan tokoh eksposisi, dan kata-katanya kuat: pemimpin-pemimpin yang tahu apa itu dipilih, dipakai. Dan lihat bentuk pasifnya: Allah yang aktif, memilih dan memakai&lt;/span&gt;”. Padahal kata-kata itu baru ku dapat saat itu. Hihihihi... Dan memang tidak ada yang terlalu tertarik, bahkan sampai 3 minggu tidak ada yang menanggapi, sampai dibuat voting, eh suara terbanyak... Logo juga begitu, dari tema itu, aku terpikir logo itu waktu naik motor, eh disetujui. Lalu perikop-perikop dalam eksposisi pun kudapat dalam perenungan-perenungan pribadi tentang Daud, eh ternyata dipakai. Lagu tema pun begitu, aku dukung-dukung aja, padahal aku sendiri masih salah-salah nyanyiinnya. Tapi waktu ditanya kenapa: kata-katanya akan mengalir saat itu juga (identik dengan ngarang. Hahahaha...). Allah bekerja luar biasa dalam banyak ketidaktahuan ku. Selain ngurusin acaranya, disuruh juga bantuin cari dana, hubungin peserta, dan pasti hubungin pelayan (bersyukur dikasi kesempatan bertemu banyak TPPM). Dalam semua proses itulah, Allah pelan-pelan berbisik semakin keras untuk meyakinkan aku mengerjakan pelayanan di RK ini. Rekanku Dea dan Jeri juga adalah pelayan luar biasa. Mereka semangat. Baik rapat di Kramat ataupun Semanggi, baik rapat malam ataupun pagi. Terkadang aku malu, apalagi kalau ada yang menyebutku sebagai kabid acara. Aku gak layak. Dea yang selalu mencatat hal-hal yang perlu diperbincangkan, Jeri yang sering sms kondisi dan mendorong untuk saling mendoakan, sedangkan aku hanya nongol sabtu atau minggu. Bahkan pernah dalam kelelahan di titik terendah, aku bergumul ulang dengan pelayanan ini, apakah ini pengorbanan atau kekonyolan. Pikirku, aku sudah di Karawang, bukan bagianku lagi melayani di Jakarta. Letih. Mungkinkah Tuhan mengubah orang, apalagi kampus, apalagi kota, apalagi bangsa dalam 4 hari 3 malam? Tetapi sejarah membuktikan YA! Allah sedang bekerja, dan rekan-rekan panitia RK XI ingin menjadi bagian kecil dari sejarah itu. Jujur saja, tidak ada yang meyakinkan aku untuk bertahan selain semangat Dea dan Jeri, juga teman-teman lainnya, tidak ada kekuatiran dan sungut-sungut sedikitpun di wajah-wajah mereka, padahal dana masih kurang ratusan juta, peserta belum ada yang merespon. Tapi hanya sukacita yang kulihat setiap rapat dan PD. Aku mau bertahan karena itu. Sampai hari demi hari Tuhan tunjukkan kesetiaan-Nya satu per satu, rupiah demi rupiah, peserta demi peserta, pelayan demi pelayan, peralatan demi peralatan, sampai hari H. Selama hari H pun, aku begitu takjub dengan pekerjaan Allah, firman diberitakan secara kuat, pujian-pujian yang agung, para pelayan menunjukkan kemaksimalan mereka. Aku hanya bisa mencuri-curi waktu untuk bersembunyi dan berdoa. Panitia yang lain sangat menyala-nyala, bersukacita, padahal semua saling tahu bahwa semua saling kelelahan. Terimakasih kawan-kawan. Kalian adalah orang-orang yang luar biasa. Aku belajar banyak sekali hal dari RK ini:&lt;br /&gt;• Melangkah dengan iman&lt;br /&gt;        Aku ingat waktu PHP RK. Paginya awan gelap sekali. Tetapi sms berjalan, yang berisi doa Tuhan sanggup menghentikan hujan, Tuhan jawab. Sehari sebelum RK, Ciwidey longsor, tapi Tuhan jagai Alloysius. Ada pohon tumbang, tanah longsor, Tuhan cukupkan angkot dan tidak ada omelan dari peserta. Supaya kondisi lancar, Kak Pur terus ingatkan: doa yuk supaya tidak hujan; dan memang Tuhan jawab, tidak turun hujan selama RK, walaupun tiap hari awan gelap, hanya sebentar gerimis kecil, kecuali hari terakhir: hujan deras banget. Bagaimana ini pulang? Tapi doa lagi: dan Tuhan hentikan hujan beberapa saat kemudian, langit cerah, pulang aman. Memang pertolongan kita adalah dari Tuhan yang menjadikan langit dan bumi.&lt;br /&gt; Bagaimana juga kita melangkah dengan iman, memulai suatu retreat dengan wisma yang belum lunas, dan dana yang masih dibutuhkan 95 juta dalam 3 hari. Tapi Tuhan cukupkan jauh dari yang sanggup kita doakan dan pikirkan, tepat di tengah malam terakhir. Begitu juga bagaimana Allah mencukupkan peserta (bahkan surplus), pelayan, kebutuhan perlengkapan, transport, dll. Dia sungguh tidak terbatas! Di akhir pelayanan inilah konfirmasi yang sangat jelas bahwa menjawab Ya menjadi panitia RK adalah hal yang sangat tepat, dan sangatlah menyesal untuk dilewatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Aku belajar sadar untuk berbuat yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt; Seorang panitia menceritakan perkataan dari seorang pelayan: “Seksi acara ada 3 kan ya? Jeri: jelas, ngurusin pemusik, Dea: tanggung jawab warta. Nah, yang satu lagi apa kerjanya???”. Meskipun perkataan itu disambut gelak tawa panitia lain, termasuk aku, pertanyaan itu sangat membantuku untuk merenung. Iya ya, ternyata aku belum berbuat apa-apa... Aku sungguh bersyukur punya rekan-rekan yang menolongku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;• Persahabatan&lt;br /&gt; Aku punya sahabat yang luar biasa, berbeda karakter, emosi, latar belakang, tapi semuanya unik dan menarik. Bisa doa pagi walaupun sebelumnya rapat sampai pagi (meski ada yang tidur). Aku berpikir, seberapa efektif rapat tengah malam ini? Ada yang udah tidur, ada yang kelelahan, ada yang ikut rapat tapi rohnya udah gak di situ lagi, gimana bisa berpikir? Tapi karena aku lihat yang lain masih semangat, ya aku ikut aja, lagian penting untuk koordinasi buat besoknya. Walaupun di malam terakhir diwarnai dengan jugulisme. Kalau saja malam itu aku milih tidur, kenangan berkesan itu pasti tidak pernah terjadi. Makasih kawan-kawan... Ada Kak Pur yang mengingatkan bergantung pada Allah, Ola yang tidak pernah marah walau lelah, Grace yang meyakini hujan berkat kan tercurah walaupun tidak berbentuk cash, Dea yang susah konsen tapi kompeten, Jerri yang bisa menangani hal ribet jadi enteng, Oci, Kia, Yani yang setia berdoa dan mau mengingatkan serta mengantar makanan untuk panitia yang lupa makan, Catherine, Christina, Mimi, yang setia membawakan makanan kecil setiap rapat untuk dijual, dari keuntungan 500 demi 500 akhirnya tercukupi 250juta, tetap sms walau tak dibalas, tanpa muka jaim terus mengingatkan “jaim”, Anto, Aris, Eva, Julinar, Helen, Medi, 6 orang yang sanggup menangani 372 orang lebih, 15 kota besar di Indonesia, bahkan peserta surplus sebelum waktunya, apalagi Aris yang bisa menangani anjing Alloysius selama sesi, dan memecah kebekuan rapat tengah malam dengan suara ‘tokek’, Leo Ginting, Leo Manik, yang bekerja ligat, sigap, tanggap, naik turun tangga, kebun teh, Jupri yang berjerih lelah supaya perlengkapan beres, acara lancar, dan Gilbert yang masih muda, namun siap antar jaga...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku teringat ama PD Panitia lalu yang aku bawa dari Mzm 126. Nyanyian ziarah. Akan ada masanya kita seperti orang-orang bermimpi ketika melihat karya tangan Tuhan yang tak sanggup kita pikirkan, akan ada waktunya kita menuai dengan sorak sorai. Semoga RK XI ini menjadi bagian dari nyanyian ziarah kita. Seperti lagu kesaksian kita: We’re pilgrim on the journey... Kita sedang berziarah dalam satu perjalanan.... Oh may all who come behind us find us faithful...&lt;br /&gt;Terimakasih untuk banyak pembelajaran ini teman-teman... all the glory must be to the Lord!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-8755128023995672227?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/8755128023995672227/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/retreat-koordinator-xi-dan-ceritaku.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8755128023995672227'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/8755128023995672227'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/retreat-koordinator-xi-dan-ceritaku.html' title='Retreat Koordinator XI dan ceritaku'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S5BYI3iBddI/AAAAAAAAAFg/9PzH0J2H0-4/s72-c/Logo+rk+xi+JPEG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-4039823490795808897</id><published>2010-03-05T07:50:00.001+07:00</published><updated>2010-03-05T07:52:36.439+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Februari 2010</title><content type='html'>Beberapa kalender yang kulihat memberikan template warna pink pada lembaran bulan Februari, termasuk kalender PMK STAN dan Perkantas yang di kamarku. Begitu juga di tempat-tempat umum (mall khususnya), memberikan nuansa valentine, mulai dari balon, pernak-pernik, diskon di bulan kasih sayang, mawar, coklat, dan cewek- cowok (iiihh...) yang berbaju pink. Hebat bener St.Valentine ini, yakinku. Sudah berabad-abad, kenangannya masih diingat orang, meskipun dari mulut ke mulut. Tgl 14 Februari, masih diperingati orang, meskipun ada 2 versi, entah itu tanggal kelahirannya atau tanggal kematiannya. Tapi 1 hal yang jelas: dampak luar biasa dari kasih yang ditunjukkannya! Betapa luar biasanya kasih bekerja, menjalar sendiri, merambat dari satu hati ke hati yang lain. Bahkan dari gerakan satu orang, kasih mengalir, sampai ke seluruh dunia, seluruh lapisan, sampai sekarang, entah sampai kapan. Meskipun katanya setiap hari adalah hari kasih sayang, tapi adalah sangat baik, momen ini mengingatkan lagi, seorang demi seorang, bagaimana mengasihi dan betapa berbahagianya dia karena dikasihi. Tahun lalu, di kebaktian valentine Persekutuan Alumni Kristen Medan, aku ingat Bang Mangapul bilang begini dalam khotbahnya: “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bodoh kali-lah kalau ada orang yang ingin ‘mengharamkan’ perayaan valentine. Apa mereka tak bisa merasakan kedalaman makna kasih itu? Bagaimana mengasihi dengan benar, merenungi kasih Allah kepada kita, kasih kita kepada Allah dan sesama manusia, khususnya orang-orang terdekat dengan kita?&lt;/span&gt;”. Sungguh, itu perlu dirayakan dengan benar, penghayatan, dan tindakan kasih yang nyata.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;13 Februari&lt;/span&gt;. Pagi itu tak secerah seperti biasanya. Hujan deras, gerimis, bergantian. (ada yang bilang karena mau imlek, pasti sering hujan. Entahlah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Meneketehe&lt;/span&gt;. Tapi nanti aku ceritakan, bagaimana Allah, Pencipta Langit dan Bumi menyatakan kuasa-Nya atas alam semesta sewaktu PHP RK, dan selama RK sampai waktu kepulangan. Kalau badai besar saja sanggup Dia tenangkan, apalagi hanya hujan?). Hari itu KTB kami (Anu, Angga, Mokmok, Ogi, Anto, Jo, Misni, aku) sepakat untuk membagikan 80 nasi bungkus (walaupun jadinya nasi kotak) bagi mereka yang membutuhkan, yang kami jumpai di sekitar Jakarta Pusat. Tapi hujan turun terus dari pagi. Aku sms teman-teman berdoa, kalau Tuhan berkenan kiranya menghentikan hujan, tapi kalau tidak, Dia berikan semangat dan jalan keluar. Ternyata kali ini, Tuhan menjawab opsi yang kedua. Walaupun saat itu hujan sempat berhenti, eh ternyata setelah itu turun makin sangat deras. Kami menembus hujan deras, dan mulai berpencar. Paling tidak, kami telah membuat 80 penduduk Jakarta tersenyum di hari itu. Aku sendiri sangat terberkati melihat semangat dari kawan-kawan. Kami berkumpul lagi dan berbagi cerita tentang apa yang kami alami. Ada ibu yang bercerita tentang hidup di stasiun, ada ibu yang berjalan kaki jauh sekali sambil mengais sampah, ada tukang sapu jalan yang sudah 5 tahun menyapu jalan di Kwitang pulang pergi dengan truk sampah, ada tukang bajaj yang langsung cuci tangan dengan air hujan dan langsung menyantap nasi kotak, ada pula yang kaget dan menolak. Ada juga fenomena lucu menurutku. Sewaktu Misni dengan jubah mantel hujan hitamnya masuk ke kolong fly over atrium yang gelap, kelihatan seperti malaikat pencabut nyawa, namun semakin menuju tempat yang disinari cahaya, perlahan-lahan, kelihatanlah wajahnya… Ah, ternyata dia adalah seorang malaikat pembawa nasi kotak, bagi sekitar 15 orang di kolong fly over itu. Wah, aku tersadar, ternyata ada 88 penduduk dunia yang tersenyum hari itu, 80 orang, ditambah kami ber-8. Dinginnya hujan tak terasa lagi, kasih bekerja dengan caranya sendiri. You can give without love, but you cannot love without give. Kasih...ya, kasih! Memberi. Aku jadi teringat sebuah perenungan dari sebuah milis:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mari coba kita hitung berapa banyak nasi yang terbuang dalam satu hari :&lt;br /&gt;Jumlah penduduk Indonesia +/- 250.000.000 orang.&lt;br /&gt;Kalau satu hari 3 X makan dan sekali makan setiap orang membuang 1 butir nasi saja, maka setiap hari ada 3 butir nasi yang dibuang setiap orang.&lt;br /&gt;Maka 3 butir X 250.000.000 = 750.000.000 butir nasi terbuang setiap hari.....&lt;br /&gt;(Benarkah kita hanya membuang 1 butir nasi saja setiap kali makan?)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata setelah dihitung, dalam 1 kg beras terdapat +/- 50.000 butir.......&lt;br /&gt;Maka :&lt;br /&gt;750.000.000 : 50.000 = 15.000 kg atau sama dengan 15 ton beras dibuang setiap hari.&lt;br /&gt;Kalau 1 kg beras cukup untuk 10 orang makan, maka 15.000 X 10 orang = cukup untuk 150.000 orang makan.&lt;br /&gt;Artinya beras yang terbuang setiap hari di Indonesia sebenarnya bisa untuk memberi makan 150.000 orang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seluruh penduduk dunia yang berjumlah 6,5 miliar, dengan setiap orang membuang 3 butir nasi saja per hari, maka 1 hari nasi yang terbuang adalah 390.000 kg (390 ton) atau cukup untuk memberi makan 3.900.000 orang.&lt;br /&gt;FANTASTIK bukan??!! &lt;br /&gt;Ironisnya menurut data FAO PBB, setiap hari ada 40.000 orang mati kelaparan di dunia ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, andaikan orang-orang Kristen yang miliyaran itu mengerti hal ini dan menjadi saluran berkat... Aku juga teringat sebuah buku: “Transformasi Masyarakat”, begini kira-kira kalimat bebasnya: “Bagaimana mungkin kita terus menerus hanya memberitakan Injil, bahkan berdiri di mimbar, sedangkan mereka yang mendengarkan perutnya kosong, lapar karena tidak ada yang memberi makan? Dapatkah mereka mengerti kasih Allah yang kita kobar-kobarkan? Atau kesalahan kedua: bagaimana mungkin kita menggantikan pemberitaan Injil keselamatan kepada orang-orang hanya dengan melakukan aksi-aksi sosial?”. Keduanya harus seiring. Seperti yang Yesus lakukan: memproklamasikan Kerajaan Allah, dan menolong mereka yang membutuhkan, tersisih dan marginal. Oh indahnya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;14 Februari&lt;/span&gt;. Hari valentine ini berbeda. Banyak kulihat orang pacaran, jadi pengen :). Tapi hari ini ada pelayanan dari pagi sampai malam, apa boleh buat... Thy will be done. Hehehehew... Pulang gereja, berangkat ke Bintaro untuk kebaktian penghiburan Nova Devi Freny Friska Fransiska Dewi Astuti Saragih (ah, panjang kali namanya, semua diborong), habis itu training MC Pemusik, habis itu PBPA untuk PJ PA bulan Februari. Ah, padat sekali. Pulangnya hanya bisa makan berdua ama Misni di sebuah warung kecil penuh asap, di situ dulu kami sering makan waktu masih mahasiswa: ayam bakar madura samping tempel ban :) ditemani gerimis hujan, dan pulang naik motor, memakan coklat Silverqueen sisa-sisa tadi pagi. Sederhana sekali. Tapi aku sangat menikmati banyak hal hari itu. Khususnya di kebaktian penghiburan Nova. Itu ketiga kalinya aku membawakan firman di kebaktian penghiburan. Ada rasa gelisah dalam hati, kapan giliranku yang akan diadakan kebaktian penghiburan? Di situ aku belajar banyak tentang cinta kasih, rencana Allah, kebaikan, kesetiaan, suka duka, arti kehadiran yang sangat berarti justru setelah kita sadar akan ketidakhadiran, makna kesempatan sebelum kata ‘sudah terlambat’, apa artinya memiliki sebelum kehilangan, ah...banyak sekali. Februari ini penuh cerita. Cerita tentang Allah, tentang cinta-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain tanggal 13,14? Hati, pikiran, terfokus untuk perhelatan besar: Retreat Koordinator XI, bahkan sampai hal teknis: buku acara, spanduk, nametag, souvenir, rapat-rapat, hingga Allah menyertai sampai selesai...4 hari 3 malam, 25-28 Februari 2010, Ciwidey, Bandung. Itu punya ceritanya sendiri. Sampai di sini dulu... Tuhan mencintai kau dan aku.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-4039823490795808897?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/4039823490795808897/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/februari-2010.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4039823490795808897'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/4039823490795808897'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/03/februari-2010.html' title='Februari 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-2529492361204834592</id><published>2010-01-28T19:16:00.003+07:00</published><updated>2010-01-28T19:36:32.544+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Kawas (ternyata) orang Batak</title><content type='html'>Ada rencana keluarga besar kami untuk merayakan ulang tahun Opung yang ke 75, tahun depan dengan pesta besar. Semua keluarga kumpul di Siantar. Prinsipnya semua setuju, tapi tetep aja waktu diskusi ada suasana panas ketika ngomongin masalah biaya. Tapi memang Opung yang satu ini pantas mendapatkannya! Menjanda berpuluh-puluh tahun dan membesarkan 8 orang anaknya, dan dia hanyalah guru SD. Tapi sekarang sudah beranak cucu, dan bercicit. Ada beberapa hal yang kuingat tentang opung: dulu waktu umur 70 tahun gak mau dirayain ulang tahunnya, karena ada temannya, umur 70, setelah dirayakan malah meninggal. Diajak ke Yerusalem juga gak mau, tapi akhirnya setelah dibujuk dan gratis, mau juga. Katanya karena takut "dipanggil" Tuhan lebih cepat. Haha... Ada-ada aja. Katanya lagi, dia siap untuk "itu" setelah umur 75. Makanya tahun depan dia tidak keberatan kalau ulang tahunnya dirayakan. Ada yang kuingat lagi, dulu, awal-awal dikasi handphone, sebelum ngirim sms, semua pesannya ditulis rapi dulu di kertas, baru diketik di HP, itupun baru selesai setengah jam kemudian. Haha... Tapi dia opung yang hebat. Baru-baru ini dia sms aku: "Ku tonton di berita Karawang banjir. Apakah kamu terlibat?". Aku ketawa bacanya, tapi aku sangat mengerti maksudnya, dia memperhatikan cucunya. Terima kasih opung.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Akhir-akhir ini di telingaku sering terdengar lagu batak: Uju di Ngolungki. Syairnya bagus. Intinya: kalau mau menyenangkan orang tuamu, lakukanlah sewaktu dia masih hidup. Tidak ada lagi gunanya kalau sudah tiada. Sekalipun waktu meninggalnya kita buat acara maha besar, kuburannya megah, tidak ada gunanya. Makanya selagi ada kesempatan, hiburkanlah mereka... :)&lt;br /&gt;Ini dia syair lagunya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hamu anakhonhu…&lt;br /&gt;Tampuk ni pusupusuki…&lt;br /&gt;Pasabar ma amang, Pasabar ma boru,&lt;br /&gt;Lao patureture au…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nunga ma tua au…&lt;br /&gt;Jala sitogutoguon i…&lt;br /&gt;Sulangan mangan au, Siparidion au,&lt;br /&gt;Ala ni parsahitonki…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Reff:&lt;br /&gt;So marlapatan marende, margondang, marembas hamu,&lt;br /&gt;molo dung mate au…&lt;br /&gt;So marlapatan na uli, na denggan patupaonmu,&lt;br /&gt;molo dung mate au…&lt;br /&gt;Uju di ngolungkon ma nian…&lt;br /&gt;Tupa ma bahen angka na denggan,&lt;br /&gt;Asa tarida sasude…&lt;br /&gt;Holong ni rohami, marnatua-tua i...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehe...&lt;br /&gt;Apakah anda bingung kenapa si Kawas ini ngerti bahasa batak? Karena ada darah batak di dalamnya... Ragu? Ini ada dua pantun (contekan) dariku:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tu tao Marsolu - solu. Sai marlange ma tu topian.&lt;br /&gt;sai godang pe anak borru. ai BORU BATAK do Naung denggan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;manottor ma akka pariban. diiringi gondang bulan -bulan.&lt;br /&gt;manang pe au tubu di pangarattoan. alai Boru Batak Do tong tong Hu Boan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Haha... Kembali ke topik awal, bahagiakan orangtuamu sekarang!&lt;br /&gt;F.A.M.I.L.Y: Father And Mother I Love You&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-2529492361204834592?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/2529492361204834592/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/kawas-ternyata-orang-batak.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2529492361204834592'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2529492361204834592'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/kawas-ternyata-orang-batak.html' title='Kawas (ternyata) orang Batak'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3756886793578790080</id><published>2010-01-28T17:22:00.002+07:00</published><updated>2010-01-28T17:25:47.426+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>Januari 2010</title><content type='html'>Si tante (babbysitter) yang di rumah tulangku tiba-tiba ngomong begini: “Bang, lama banget ya bulan Januari ini berjalan...”. Aku pura-pura bijaksana menjawabnya: “Ya sama aja tante, 1 harinya semua 24 jam, gak ada yang lebih lama”. Ya, aku pura-pura bijaksana, karena dalam hatiku, aku juga merasakan hal yang sama. Walaupun ini pasti hanya perasaan, tapi aku mencoba mengingat-ingat perjalanan Januari ini, kenapa terasa sangat lambat. Bukankah kita sering merasa demikian? Ada rentang waktu; entah itu menit, jam, hari, minggu, bulan atau tahun, yang terkadang terasa sangat cepat terlewati, bahkan tidak terasa, sehingga kita ingin lebih lama lagi menikmatinya, namun terkadang terasa sangat lama dan ingin cepat berlalu dari situ. BEDA dan SAMA. Pasti beda: 2jam menunggu angkot, dibanding 2jam nonton blitzmegaplex bersama kekasih. Pasti beda, 1tahun dalam kondisi sakit, dibanding 1tahun kemudian di saat seseorang merayakan ulang tahunnya (yang tidak terasa bahwa umurnya bertambah 1 lagi). Padahal semuanya pasti sama: 1jam= 60 menit, 1hari= 24jam, 1minggu= 7hari, persoalannya bagaimana kita mengisi, menjalani, dan memaknainya.&lt;br /&gt;Sambil menatap kalender danus PMK STAN yang di kamarku, akupun sadar Januari 2010 ini punya ceritanya sendiri. Berawal dari &lt;span class="fullpost"&gt;buka tahun (peralihan 311209 ke 010110), aku harus menjalaninya di bus Raharja menuju Jogjakarta. Aku sedang dalam perjalanan ke Jogja untuk menjenguk abangku yang sakit DBD di sana. Cukup mendadak, dan merusak beberapa planning yang telah kurencanakan jauh hari sebelumnya untuk mengisi liburan akhir awal tahun. Tapi apa daya. Kupandangi seisi bis, berbagai-bagai macam orang. Ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di saat-saat seperti ini, aku pasti sedang duduk diam, kebaktian dengan orang-orang terdekat (entah keluarga atau teman-teman). Tapi ini? Dengan orang yang tak kukenal sama sekali (walaupun ada yang wajahnya mirip-mirip dengan beberapa teman. Haha... Mungkin karena tidak ada lagi yang kupandang selama perjalanan, jadi lama-lama mirip). Jam 12 tepat, aku berharap ada sesuatu yang terjadi di bis, entah ada yang teriak, tiup terompet, tepuk tangan, salaman, atau apapun. Tapi semua terlelap, termasuk yang di sebelahku. Padahal aku berniat untuk menyalamnya pas tengah malam. Jadi yang kulakukan hanyalah bernyanyi dalam hati: Great is Thy faithfulness, berdoa, dan memandangi HP yang lowbat, bergetar terus karena sms-sms yang masuk (termasuk salah satunya dari temanku Dapot, yang minta didoakan karena DBD juga, sewaktu pulang ke Medan). Paginya, 1 Januari, aku mengawali tahun dengan mandi di kamar mandi rumah sakit, tempat abangku dirawat. Lumayanlah, menyegarkan tubuh yang lelah, dan berharap semoga air rumah sakit membuat badan lebih sehat. Hehe... Abangku sudah dibolehkan pulang, dan aku disana sampai tanggal 3, pulang lagi ke Karawang dengan tiket yang sangat mahal. Tanggal 4-12 bekerja seperti biasa, namun ada yang berbeda. Job desc yang bertambah dan semakin berat. Kadang ingin mengeluh karena ketidakseimbangan beban kerja antar pegawai, tapi diingatkan lagi dengan 1 resolusi 2010: makin semangat mengerjakan hal-hal kecil sampai besar. Akhirnya ya kerjakanlah... Kalau Januari aja udah malas, apalagi bulan-bulan berikutnya, yang melihat panjangnya 11bulan lagi aja makin bikin malas? Bukankah langkah awal punya peranan penting untuk langkah berikutnya? Baru aja berpikir begitu, tanggal 13 badanku rasanya sakit, kepala pusing banget, hangat, tanda-tanda mau demam. Aku pikir karena perubahan cuaca dan tiap hari hujan. Ternyata lebih dari itu. Malamnya demam tinggi dan pusing tak tertahankan. Tanggal 14-15 aku gak masuk kantor karena memang gak sanggup. Lemas, muntah, gak bisa makan. Malamnya semakin parah, akhirnya dibawa temanku ke UGD RSUD. Cek darah, ada bintik-bintik merah di badanku, dikirain DBD. Ternyata setelah 1jam hasil lab keluar (padahal janjinya 30menit), ternyata: cacar!!! Alamak... Awalnya sewaktu dokter bilang: “Apa pernah cacar?”, aku dengan yakin menjawab “Udah pernah, dok”, karena mamak memang bilang begitu. Tetapi setelah hasil lab keluar dan ku telepon lagi mamak, jawabnya: “ah, lupa mamak. Berarti belum pernah kau cacar”... Ya ampun,mak... Sekitar 4 jam aku di UGD, dan makin mau muntah, karena selain ruangannya gak bersih, tiap menit ada orang kritis keluar masuk, yang wajahnya hancur, penuh darah... egh....... Aku cepat-cepat pulang, dan dengan tegas mengatakan: tidak mau rawat inap! Malamnya panas tinggi banget sampai menggigil, kepalaku dikompres air panas (tanpa campur air dingin) pun gak terasa. Aku gak tau panasku berapa, tapi sangat menyakitkan, sempat beberapa hari kesal sama Tuhan yang seakan-akan tak peduli. Entah apa susahnya, kalau Dia mau, tinggal sembuhkan, sangat menderita rasanya (pantaslah kupikir cacar cuma 1 kali seumur hidup). Apalagi tanggal 17 aku ada pelayanan di STAN. Semua cacarnya mulai keluar, berair, dan panasnya mulai turun. Banyak kali masukan: mulai dari minum air kelapa, mandi pakai air pultak-pultak/ ceplukan (aku pikir, mana ada pultak-pultak di Karawang ini, di Doloksanggul nya ada itu), daun kapok, kulit jengkol, ada lagi yang bilang jangan mandi sama sekali, pakai betadine, kelapa parut, biocream, bioplacenton, entah apalah. Tapi akhirnya hari minggu itu, untuk pertama kalinya setelah 4 hari, aku mandi juga, pakai air hangat aja, habis itu diolesin bedak kulit, demi satu tujuan: berangkat ke STAN, pelayanan firman. Perjalanan jauh, hujan deras, muka bercak-bercak cacar, dipandangi orang selama perjalanan, tapi tak apalah, dijalani juga, karena pengurus gak dapat pengganti lagi. Habis itu langsung ke Bekasi, perawatan disana (alias gak masuk kantor) dari 18-24. Di Bekasi pun diejek terus, penyakit anak-anaklah, kena viruslah, entah apa lagi. Bingung juga aku, kayak hina kali penyakit cacar ini, kayak penyakit kusta di zaman Perjanjian Lama rasanya. Waktu doa malam, aku menyuruh Misni membacakan Markus 1:40-45 (Seorang yang sakit kusta datang kepada Yesus, dan sambil berlutut di hadapan-Nya ia memohon bantuan-Nya, katanya: "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan, lalu Ia mengulurkan tangan-Nya, menjamah orang itu dan berkata kepadanya: "Aku mau, jadilah engkau tahir." Seketika itu juga lenyaplah penyakit kusta orang itu, dan ia menjadi tahir...”). Aku cemburu dengan si kusta itu. Walaupun aku sering berdoa buat orang sakit supaya bersabar menunggu waktu Tuhan dan tetap berpengharapan pada tangan Allah yang kuat, akupun belajar keras untuk itu. &lt;br /&gt;Lama-lama cacarnya jadi gatal. Tapi jadinya ada perumpamaan yang ku dapat antara cacar dan dosa. Kadang-kadang kita menahan untuk tidak berbuat dosa seperti menahan untuk tidak menggaruk gatalnya cacar, karena memang tidak diperbolehkan. Tetapi seringkali, entah karena tidak tahan godaan, atau sewaktu tidak ada yang melihat, kita mulai kompromi untuk menggaruknya sedikit, dengan alasan di pinggir-pinggirnya saja, tidak di lukanya. Tapi lama-lama makin ke tengah, dan setelah kena, sakit atau berbekas, barulah kita menyesal. Hehe,,, perumpamaan yang bagus juga.&lt;br /&gt;Masih dalam kondisi cacar (tapi mulai mengering), tanggal 23 ke Bintaro lagi, KTB ama teman-teman 2005, habis itu Natal STAN. Tanggal 25 memutuskan untuk mulai ngantor lagi, dengan beberapa bekas cacar yang mulai mengelupas, banyak pertanyaan dari kawan-kawan. Bahkan sampai malam ini, di saat menulis artikel ini, masih banyak bercak hitam, kenang-kenangan dari bulan Januari. Padahal tanggal 29-31 harus berangkat sendiri ke Puncak untuk Retreat STAN. Cukup? Sedikit lagi, tanggal 31 harus pulang duluan, karena ada PHP RK XI di UKI, habis itu pulang malam ke Karawang untuk bekerja besoknya di tanggal, minggu, dan bulan yang baru…010210.&lt;br /&gt;Begitulah mungkin aku menjalani Januari ini. Sedikit terseok-seok, tapi sepertinya ada Tangan yang Lembut namun Kuat yang menuntun perlahan... Aku bersyukur untuk itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hey, Februari, apa kabar? Sepertinya ada berita dari RK yang sudah dipersiapkan 6 bulan itu...?&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3756886793578790080?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3756886793578790080/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/januari-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3756886793578790080'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3756886793578790080'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/januari-2010.html' title='Januari 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-7266256086187677843</id><published>2010-01-28T17:16:00.001+07:00</published><updated>2010-01-28T17:18:06.411+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Mazmur 23</title><content type='html'>Seorang pendeta hendak membuat warta kebaktian pelayanannya minggu depan di surat kabar. Dia menghubungi biro iklan surat kabar via telepon: “Saya ingin membuat pengumuman pelayanan saya minggu depan, dari Mazmur 23”. Tempat dan jam pun dijelaskan. “Temanya apa, Pak?”, sahut petugas biro iklan. “Tuhan adalah Gembalaku”, jawab pendeta itu. “Itu saja?”, tanya petugas lagi. “Itu sudah cukup!”, jawab pendeta itu...&lt;br /&gt;Keesokan harinya, betapa terkejutnya Pendeta itu melihat iklannya di surat kabar. Tempat dan jam pelaksanaan tidak ada yang salah, namun ada satu yang berbeda. Tema yang dituliskan di situ: “Tuhan adalah Gembalaku, itu sudah CUKUP!”. Selagi memegang surat kabar itu, sang Pendeta larut dalam sebuah perenungan serius, dan akhirnya sangat meyakini tema yang tertulis itu: “Tuhan adalah Gembalaku, itu sudah CUKUP!”. Apa lagi yang kurang?&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Itu jugalah yang dirasakan Daud ketika menuliskan Mazmur 23 yang sangat indah ini. Daud yang adalah seorang gembala handal (1Sam17: 34-36) memposisikan Allah sebagai Gembalanya dan sangat menikmati pemeliharaan-Nya. Maukah kamu juga ikut menikmati hal yang sama? Galilah perikop Mazmur 23 ini, dan temukan kekayaannya kata per kata dengan observasi yang dalam...&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-7266256086187677843?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/7266256086187677843/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/mazmur-23_5250.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7266256086187677843'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/7266256086187677843'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/mazmur-23_5250.html' title='Mazmur 23'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-2384329482590756748</id><published>2010-01-05T17:30:00.000+07:00</published><updated>2010-01-05T17:34:02.537+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Aku marah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya, aku marah&lt;br /&gt;Aku marah karena kau tak mau ikut denganku&lt;br /&gt;Aku marah karena seringnya ketidakjelasanmu, masalah tempat makan, apalagi acara akhir tahun&lt;br /&gt;Aku marah karena banyak rencana kita yang tidak jadi&lt;br /&gt;Aku marah karena tak bisa buka tahun bersamamu&lt;br /&gt;Aku marah karena saat hari ulang tahunmu, aku tak disampingmu&lt;br /&gt;Aku marah karena yang duduk di sampingku di dalam bis adalah bapak-bapak, bukan dirimu&lt;br /&gt;Aku marah karena seringkali kau menganggap gampang kata-kataku&lt;br /&gt;Aku marah karena kau masih sering mengatakan maaf, artinya kau masih sering berbuat salah&lt;br /&gt;Aku marah karena berjanji pada diriku sendiri takkan menghubungimu beberapa lama hanya untuk menunjukkan bahwa aku tidak main-main dan tidak mudah mengucapkan kata-kata&lt;br /&gt;Aku marah karena tak tahan untuk tidak menghubungimu, tapi aku harus&lt;br /&gt;Aku marah karena kalau aku jadi dirimu, aku pasti berusaha sekuat mungkin untuk datang dan bertemu denganmu, tapi itu tidak akan kau lakukan&lt;br /&gt;Aku marah karena takut menatap masa depan yang seperti ini. Berapa banyak lagi rencana yang gagal karena kesibukanmu?&lt;br /&gt;Aku marah karena melihat keadaanku yang tidak akan memungkinkan punya pendamping yang sibuk&lt;br /&gt;Aku marah karena aku mau di saat aku ingin kau berada di sampingku, kau ada. Tapi itu tak pernah kudapatkan sampai sekarang. Apalagi nanti?&lt;br /&gt;Aku marah karena hanya dirimu yang selalu kuingat. Sewaktu jalan-jalan, hanya hadiah buatmu yang ada di pikiranku. Bukan jeansku, sandalku atau sepatuku yang sudah rusak.&lt;br /&gt;Aku marah karena banyak sekali hal yang mau ku ceritakan, pergumulan terima pelayanan, masalah berpengaruh di kantor, tapi tidak bisa kuceritakan karena aku menahan untuk tidak menghubungimu.&lt;br /&gt;Aku marah karena banyak sekali hal yang sedang kupikirkan dan harus kukerjakan.&lt;br /&gt;Aku marah karena sebenarnya aku tak ingin marah dan ingin mengatakan bahwa aku kehilanganmu…&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-2384329482590756748?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/2384329482590756748/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/aku-marah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2384329482590756748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/2384329482590756748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2010/01/aku-marah.html' title='Aku marah'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-5596975665772337721</id><published>2009-12-30T10:37:00.001+07:00</published><updated>2009-12-30T10:41:18.160+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Renungan akhir awal tahun</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrLxQZ4l9I/AAAAAAAAAFY/qq6HaLWeOPE/s1600-h/images.jpeg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 144px; height: 143px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrLxQZ4l9I/AAAAAAAAAFY/qq6HaLWeOPE/s200/images.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420869148571375570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di ujung tahun ini, saya teringat beberapa bagian Alkitab yang membawa saya pada sebuah refleksi akhir sekaligus awal tahun.&lt;br /&gt;Kelima kitab Musa sebagai sumber utama sejarah perjalanan Israel dan penjabaran kasih setia Allah, diakhiri dengan kitab Ulangan. Sepertinya kita diajak untuk mengulang dan terus mengingatnya bahkan menceritakannya, bahwa Allah itu setia. (Ul 8:2) Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu, di padang gurun selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan menguji engkau untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu, yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak.(17) Maka janganlah kaukatakan dalam hatimu: Kekuasaanku dan kekuatan tangankulah yang membuat aku memperoleh kekayaan ini.(18) Tetapi haruslah engkau ingat kepada TUHAN, Allahmu, sebab Dialah yang memberikan kepadamu kekuatan untuk memperoleh kekayaan, dengan maksud meneguhkan perjanjian yang diikrarkan-Nya dengan sumpah kepada nenek moyangmu, seperti sekarang ini. (Ul 11:7) Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN. (12) suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Bagian Alkitab yang menceritakan hidup terus berjalan dan selalu dihadapkan pada pilihan: (Yos24:15) “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu akan beribadah; allah yang kepadanya nenek moyangmu beribadah di seberang sungai Efrat, atau allah orang Amori yang negerinya kamu diami ini. Tetapi aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada TUHAN!". &lt;br /&gt;Atau pada zaman Hakim-hakim: silih berganti Tuhan memilih orang-orang-Nya, namun Israel berbuat jahat, bertobat, lalu jahat lagi, dan begitu seterusnya. Masa Raja-raja Israel pun begitu: dari bapak ke anak-anaknya: ada yang melakukan apa yang benar di mata Tuhan, ada yang melakukan apa yang jahat di mata Tuhan. Pilihan untuk setia ikut Tuhan atau tidak, dengan segala konsekuensi kedua hal tersebut. Itulah yang terus menerus diserukan oleh para nabi dan rasul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga teringat beberapa tokoh Alkitab: Samuel, yang dicatat dalam Alkitab “...semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia.(1Sam2:26), dan pernah mencatat sejarah: “Kemudian Samuel mengambil sebuah batu dan mendirikannya antara Mizpa dan Yesana; ia menamainya Eben-Haezer, katanya: "Sampai di sini TUHAN menolong kita." (1Sam7:11).&lt;br /&gt;Ada Hizkia (2Raj20:1-11) yang diperpanjang Tuhan umurnya 15 tahun lagi setelah divonis mati. Saya merenungi bahwa kitapun adalah orang-orang yang umurnya diperpanjang Tuhan sehari demi sehari hingga bisa hidup sampai saat ini.&lt;br /&gt;Daud, orang yang pernah bersujud dan berdoa: "Siapakah aku ini, ya Tuhan ALLAH, dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini? (2Sam7:18), yang pernah menulis Mazmur 23: Tuhan adalah gembalaku, itu sudah cukup! Atau yang menulis syair: “Lanjutkanlah kasih setia-Mu bagi orang yang mengenal Engkau, dan keadilan-Mu bagi orang yang tulus hati!” (36:11), “Pujilah TUHAN, hai jiwaku, dan janganlah lupakan segala kebaikan-Nya!” (103:2), “Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya”.(136:1).&lt;br /&gt;Paulus, yang pernah berkata: “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.” (Flp1:6).&lt;br /&gt;Dan Tuhan Yesus sendiri, dengan jaminan-Nya: “...Aku akan memberi kelegaan kepadamu.” (Mat11:28),  “...Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman."(28:20).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga bagian-bagian yang terlintas dalam kepala saya ini bisa menolong kita untuk merenungi dan meyakini kasih setia Allah, bahkan membagikannya :) Selamat mengakhiri 2009, di satu sisi mengawali tahun 2010. Saat ini adalah waktu yang baik untuk menoleh ke belakang mengingat penyertaan Allah, menatap ke depan di sanapun providensia Allah yang sama tersedia, menengadah ke atas bersyukur kepada Sang Pencipta, dan tertunduk ke bawah berdoa atas anugerah yang kita terima dan menyerahkan segenap harapan ke tangan Allah yang kuat! &lt;br /&gt;Many things about tomorrow, we don’t seem to understand. But we know Who holds tomorrow, and we know Who holds our hand.&lt;br /&gt;God bless you friends :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-5596975665772337721?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/5596975665772337721/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/renungan-akhir-awal-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5596975665772337721'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/5596975665772337721'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/renungan-akhir-awal-tahun.html' title='Renungan akhir awal tahun'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrLxQZ4l9I/AAAAAAAAAFY/qq6HaLWeOPE/s72-c/images.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6524396368446618640</id><published>2009-12-30T10:02:00.004+07:00</published><updated>2009-12-30T10:35:46.196+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Pengagum Rahasia</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrGYzB6w8I/AAAAAAAAAFQ/jDuwxT6Yh8E/s1600-h/sweet.jpeg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 196px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrGYzB6w8I/AAAAAAAAAFQ/jDuwxT6Yh8E/s200/sweet.jpeg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420863230811227074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya harus mengatakannya dari awal: tulisan ini beda! Beda dari biasanya. Entah apa namanya, fiktif romantik, atau apalah. Saya si melankolis termenung di depan laptop, dan memberikannya judul: Pengagum rahasia.&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;Hujan deras begini, bahkan sampai berhenti, aku masih saja teringat akan dirinya. Bukan hanya itu, dari mentari menyapa hingga permisi di sore hari, berganti malam dengan bintang menemani, dia masih saja tak lepas dari pikiran ini. Aku masih saja mengingatnya. Senyumannya, hitam rambutnya, gaya jalannya, hal terindah yang pernah kuingat, dan setiap kali aku memikirkannya, tak terasa bibirku melengkungkan sebuah senyuman. Aku semakin meyakini Sang Pencipta berkarya begitu indah, dengan melihat dirinya. Aku semakin yakin malaikat itu ada, karena aku bisa membayangkannya melalui dia. Ah, biarlah aku bermanja dengan lamunan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Aku melihatnya pertama kali tanpa sengaja (meskipun aku yakin bahwa itu Tuhan sengaja) sewaktu berjalan kaki sendirian. Mata ini tak berhenti menatap sang gadis yang berjalan di depanku. Sesekali aku mendengar bisikan senandung lagu dari gumamnya. Dia begitu indah. Tapi aku tak mau dia sadar bahwa aku sedang mengaguminya. Berawal dari situ, tahulah aku, bahwa hati ini telah tercuri.&lt;br /&gt;Aku hanya ingin mempertahankan keceriaan yang ada di wajahnya. Aku ingin membuat kejutan-kejutan kecil untuknya. Walaupun seringkali malah aku yang terkejut karena responnya. Terkadang biasa saja, terkadang gembira. Itu sudah cukup membuat hariku berwarna. Dan untuk besok, aku harus berpikir lebih keras lagi, bagaimana membuatnya menikmati hari lepas hari. Aku yang setia menulis memo-memo kecil untuknya, aku yang setia menemaninya berjalan meski tak di sampingnya. Tak perlu dia tahu berapa sering aku menyebut namanya dalam doaku, tak perlu dia tahu berapa kali aku pernah menangis untuknya. Kalau aku rindu, aku meneleponnya dengan private number, dan setelah terdengar suara lembutnya, aku tak berani lagi melanjutkan. Itu sudah cukup membuatku tenang. Pernah aku sms dengan nomor dan gaya yang berbeda, tapi sayang, responnya tak seperti yang ku duga. Tapi tidak apa. Aku senang dengan cukup meyakinkan bahwa dirinya baik-baik saja. Mungkin bagianku adalah dari jauh melihatnya bahagia. Dan bahagianya adalah bahagiaku. Bagiku itulah cinta. Sangat sederhana. Dan aku mengalaminya. Bukan: aku cinta dia karena menarik, tetapi: dia menarik, karena aku cinta.&lt;br /&gt;Aku tak mau disebut sebagai temannya. Karena memang bukan demikian. Aku cuma ingin jadi bagian kecil dalam keceriaannya. Aku tak ingin mengganggunya, karena aku takut, mungkin saja hal terindah seperti ini tak kan ku dapatkan lagi. Biarlah ini menjadi rahasiaku, demi cinta. Sekalipun sampai akhir nanti, rasa ini tak mampu ku ungkapkan, aku sudah siap untuk itu. Mungkin kata orang aku lemah, pengecut, bertepuk sebelah tangan? Tapi sepertinya tidak juga. Justru aku semakin belajar cinta Sang Khalik, yang tetap mengasihi walau tak berbalas. Dan bukankah itu cinta yang sesungguhnya? Karena cinta bukan soal dibalas, tetapi aku hanya ingin dia merasakan, bahwa ada satu insan yang mencintainya... Dia bisa merasakan aliran cinta itu. Itu saja. Aku bahkan tak berharap besar bahwa suatu saat dia akan mencintaiku. Maafkan aku kalau keliru. Karena akupun sadar, manusia sepertiku tak layak untuk dicintai makhluk seindah dirinya. Biarlah aku menjadi pengagum rahasianya, dan ambil bagian dalam keajaiban-keajaiban kecil hidupnya. Andai saja Tuhan menganugerahkan keberanian dan kesempatan untuk bersapa langsung padanya, izinkanlah aku bertanya 2 hal, pertama: “Kalau aku bisa mengabulkan sesuatu padamu, apa permintaanmu?”; dan yang kedua: “Bolehkah aku mengusap air matamu?”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6524396368446618640?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6524396368446618640/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/pengagum-rahasia.html#comment-form' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6524396368446618640'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6524396368446618640'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/pengagum-rahasia.html' title='Pengagum Rahasia'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzrGYzB6w8I/AAAAAAAAAFQ/jDuwxT6Yh8E/s72-c/sweet.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-592024816656404789</id><published>2009-12-28T14:32:00.002+07:00</published><updated>2009-12-28T14:43:58.805+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Sharing'/><title type='text'>Studi dan pelayanan?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzhhoBZxXSI/AAAAAAAAAFI/WZp_bNxYgSo/s1600-h/clip_image002.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzhhoBZxXSI/AAAAAAAAAFI/WZp_bNxYgSo/s200/clip_image002.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5420189491739581730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Saya dihubungi tim buletin untuk sharing tentang studi dan pelayanan. Dalam hati kecil saya, rasanya kok saya kurang layak untuk topik ini, karena bahkan sampai tamat kuliah, saya masih dan akan terus belajar untuk maksimal di kedua-keduanya.&lt;br /&gt;Mari berimajinasi beberapa kemungkinan kondisi mahasiswa baru yang diterima dan akan kuliah di STAN: membawa petuah-petuah sakti dari orang tua yang disampaikan sebelum berangkat, impian untuk memperoleh IP tinggi, bahkan lulus cum laude (di kamarnya ditempel potongan kertas yang berisi impian: Ayo!! IPK=3,75), dengar-dengar dari senior: ancaman DO tiap semester, sistem perkuliahan yang tak menentu (SSD: suka-suka dosen), setelah lulus: sindrom ‘prestasi menentukan lokasi’ (penempatan), obsesi cari pacar karena ingin dapat calon pendamping yang juga PNS, atau apa lagi?&lt;span class="fullpost"&gt;Bisa anda perpanjang sendiri daftarnya. Saya anak daerah, dan mengalami hampir semua kondisi tersebut, kecuali yang terakhir. Namun, seiring berjalannya waktu, ambisi-ambisi itu dikikis sedikit demi sedikit. Apalagi setelah saya mengenal PMK, wadah bertumbuh dan melayani, ambisi saya yang kelihatannya baik itu, ternyata hampir semua egosentris, dan perlahan-lahan dibelokkan menjadi Theosentris. Rasanya sangat sayang sekali, 3 tahun masa kuliah yang dianugerahkan Tuhan, cuma dipakai untuk kuliah, ditambah nge-kos, makan, tidur, main bola, belanja, mengerjakan tugas, begitu seterusnya. Saya sangat yakin ketika Allah mengizinkan 3 tahun di STAN ini, ada sesuatu yang lebih, yang harus saya kerjakan, dan itu saya dapat di PMK, terlebih lagi di KKP (kelompok kecil). Saya dibina dan mulai terlibat dalam pelayanan. Awalnya sebagai abid ibadah yang mengurus persekutuan tiap Jumat. Ternyata cukup memakan banyak waktu: mempersiapkan tema, pelayan, Pembicara, mendampingi latihan, sampai evaluasi, begitu setiap minggunya, selama setahun. Namun saya semakin menikmati, dan semakin lama semakin terlibat dalam pelayanan yang lebih besar dan luas lagi. Kalau boleh didaftarkan, pelayanan yang pernah saya kerjakan selama 3 tahun itu: abid ibadah, panitia Bintal, Retreat, BPH (Ketua 2, kemudian Ketua Umum PMK STAN), Guru Sekolah Minggu GKI BIntaro Utama, PKK (pemimpin KKP), P-PIPA, ditambah pelayanan di PMKJ/ Perkantas Jakarta, sangat melelahkan, dan pasti menambah beban pikiran, namun ada sukacita di lubuk hati. Sangat menyita waktu, bahkan sampai di titik saat saya ‘keteteran’ dalam studi. Hanya belajar kalau di kelas. Kalau dosen tidak masuk, ya tidak belajar. Lebih suka baca buku rohani daripada Akuntansi, lebih sering bawa Alkitab daripada Kitab UU Perpajakan. Akhirnya tidak mengerti apa-apa, ujian mendekat. Seringkali menyalahkan dosen, sistem perkuliahan. Padahal harusnya saya sadar, bahwa tugas mahasiswa adalah belajar (aktif), bukan diajar (pasif). Untung ada teman-teman persekutuan yang menolong saya. Akhirnya saya belajar, menyeimbangkan antara studi dan pelayanan. Di tingkat 3 saya sangat bersyukur, bersama beberapa teman PMK, kami membentuk kelompok belajar, dan saya sangat merasakan dampaknya. Pelajaran yang kosong, tidak dimengerti, jam tentir yang tak terikuti, tak jadi masalah berarti lagi, karena kelompok belajar yang siap mengganti  Wah, pokoknya senang sekali, pelayanan dan studi berjalan berdampingan.&lt;br /&gt;Dalam perenungan saya, adalah kerugian yang tak tergantikan, apabila seseorang yang mengaku mahasiswa Kristen, namun selama masa yang terbatas dan singkat di kampus hanya digunakan untuk kuliah, tak menggunakannya untuk menyaksikan Kristus dan karya-Nya pada orang lain. Alasannya apa? Banyak. Misalnya: “sekarang masa kuliah, jadi fokus ke kuliah dulu”. (Pendapat ini sebenarnya diformulakan dari nasihat orang tua kebanyakan: “kau kesana untuk kuliah, jangan macam-macam”. Adakah orang tua yang ikut menitipkan pesan pelayanan kepada anaknya? “Kalau ada kesempatan, melayanilah! Gunakan waktumu sebaik-baiknya.”. Jarang sekali. Dan saya sangat merindukannya. Mungkin pesan penting lainnya adalah: “Jangan pindah gereja/ cari gereja yang baik. Rajin-rajin gereja.”. Titik sampai di situ. Tidak ada dorongan melayani). Kalau kita pakai pandangan ini, kita tidak akan pernah terlibat dalam pelayanan. Waktu kuliah: fokus kuliah dulu, waktu kerja: fokus kerja, waktu berkeluarga: fokus keluarga, akhirnya: tak jadi-jadi ambil pelayanan. Atau alasan yang lebih rohani: “Yang penting aku belajar baik, studiku baik. Bukankah itu pelayananku?”. Ya, sangat setuju. Tapi, masakan pelayananmu hanya dalam bentuk studi yang baik? Terlalu egois rasanya. Tidak adakah bagian yang lebih nyata untuk mengenalkan Kristus pada orang lain, dalam penginjilan, pembinaan (pemuridan), pelipatgandaan orang-orang, untuk menghasilkan alumni yang bukan hanya bermutu dalam ilmu namun juga iman???&lt;br /&gt;Mungkin inti masalahnya adalah bagaimana menjadikan Kristus yang terutama, menjadi poros kehidupan. Seperti roda, apapun yang sedang kita prioritaskan, tetaplah porosnya adalah Kristus, sekalipun suatu saat nanti akan berganti prioritas (berputar), tetap semua berpusat pada Kristus. Melakukan semuanya untuk Tuhan (Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia- Kol3:23). Wah, indah sekali bila kita menerapkannya. Kuliah yang baik, bukan untuk cari nilai, tetapi cari ilmu, bukan sebatas menyenangkan hati orang tua, tetapi menyenangkan hati Allah. Seimbang antara studi dan pelayanan. Bukan fokus studi namun menerlantarkan kesempatan (kairos) pelayanan, bukan pula fokus pelayanan namun melalaikan tanggung jawab belajar dan jadi batu sandungan.&lt;br /&gt;Seperti yang saya tulis di awal, saya juga bergumul dan terus belajar untuk menyeimbangkan keduanya. Saya belajar banyak dari orang-orang yang saya teladani, yang sama-sama dianugerahi 1 hari=24jam, dan mereka mampu mengefektifkannya. Saya pun terdorong untuk itu, bahkan setelah alumni. Di tengah pekerjaan, saya komitmen untuk pelayanan sebagai penilik dan pendamping pelayanan mahasiswa Jakarta, khususnya STAN, meskipun menempuh jarak dari Karawang, Jawa Barat. Dan setelah alumi pula, saya semakin menikmati pekerjaan Allah dulunya sewaktu saya kuliah. Seperti doa seseorang, doa saya sewaktu menjadi mahasiswa: “Ya Tuhan, anugerahkanlah studi yang baik, persekutuan yang baik, gereja yang baik.”. Puji Tuhan, Dia jawab ketiga-tiganya. Dan 3 tahun, adalah waktu yang sangat singkat, untuk melayani selagi mahasiswa, jadi jangan sia-siakan, jangan gantikan dengan sesuatu yang nilainya hanya sementara. Hold tightly to what is eternal. Hold lightly to what is temporal! Selamat melayani rekan-rekan mahasiswa dan alumni. Ingat, visi pelayanan mahasiswa adalah menghasilkan alumni yang berintegritas. Artinya? Mampu mengintegrasikan iman dan ilmu. Soli Deo Gloria. Semuanya milik Tuhan, studi, pekerjaan, pelayanan, waktu, harta, seluruh hidup kita. Seperti tema bulletin ini: I’m YOURS. Seperti kata pemazmur: “I am yours--save me! I have tried to obey your commands” (Psalm 119:94-TEV).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam dari Karawang, Kawas Rolant Tarigan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-592024816656404789?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/592024816656404789/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/studi-dan-pelayanan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/592024816656404789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/592024816656404789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/studi-dan-pelayanan.html' title='Studi dan pelayanan?'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SzhhoBZxXSI/AAAAAAAAAFI/WZp_bNxYgSo/s72-c/clip_image002.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6147333587522544240</id><published>2009-12-03T15:12:00.002+07:00</published><updated>2010-08-02T09:33:48.200+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Lain-lain'/><title type='text'>Surat Natal untuk Bapak Mamak</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/Sxdzq1OUaFI/AAAAAAAAAFA/opyJi996maM/s1600-h/me.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 150px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/Sxdzq1OUaFI/AAAAAAAAAFA/opyJi996maM/s200/me.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410920656987777106" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak, Mak, apa kabar? Wah, sudah bulan Desember. Di mall-mall, pohon Natal udah dipasang, pernak-pernik Natal dijual sana-sini, lagu-lagu Natal terdengar hampir di setiap tempat. Gimana di rumah? Bapak mamak lagi sibuk apa? Pasti sekarang lagi sibuk-sibuknya latihan koor... Untuk festival koor, tampil di Natal Oikumene, Gereja, Sekolah dan Natal-natal lainnya. Dan pasti mamak sering kali ke salon dalam bulan ini untuk disanggul. Ya kan? :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku jadi teringat waktu kecil, bulan Desember penuh kenangan, bulan yang paling ku tunggu (selain bulan Agustus). Di bulan ini pasti aku siap tampil dimana-mana. Hahaha... Mulai dari liturgi, puisi, deklamasi, drama, koor anak-anak, vokal group, cerdas tangkas Alkitab, dll, dan pasti aku pengen jadi juara satu. Hehehe... Bukan hanya di Natal Sekolah Minggu, tapi di Natal sekolah bapak, mamak, natal STM, bahkan kalian suruh pun tampil di natal-natal arisan. Wah, heboh... Beberapa hal yang masih kuingat setiap kali aku di depan, bapak pasti sibuk mengambil kamera dan memotretku dari berbagai sisi setiap aku tampil, atau sehabis Natal, pasti mamak nyuruh kami poto di depan pohon Natal gereja, dan sering kali sikapku adalah sikap sempurna tanpa ekspresi (atau tangan dimasukkan ke dalam kantong celana). Hahaha... Foto kami bertiga masih ada di kamarku. &lt;span class="fullpost"&gt;O iya, ada lagi yang lain. Saat itu baju putihku cuma satu (itupun “kembar” sama B’ Epon, beli dua biar murah, modelnya sama persis, cuma beda ukuran, katanya supaya bagus kelihatan seragam. Jadi aku sering ketawa sendiri sekarang kalo ngelihat anak-anak kecil orang Batak yang bajunya kembar-kembar). Hahaha... Jadi baju putihku itu harus beberapa kali cuci kering pakai, karena dalam seminggu ada beberapa Natal, dan pakaiannya putih-hitam. Saat itu juga mamak pasti memasangkanku dasi kupu-kupu, karena aku gak bisa memasangnya sendiri. Dan setelah semua siap, setelah rambutku disisir ke samping, mamak pun membanggakan: “Ah, ganteng kali anak mamak...”, aku pun jadi PeDe, padahal seringkali kurasa saat itu celanaku udah kekecilan, jadi agak gantung, tapi gak papa. Hanya mamak yang bilang aku ganteng. Hahahaha...&lt;br /&gt;Tapi itu sampe aku SD aja. Setelah SMP gak gitu lagi. Aku mulai laris jadi gitaris Natal. Hehehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;O iya. Mamak udah buat kue belum? Teringat dulu waktu kecil, bulan segini pasti kita udah sibuk buat kue. Semua kerja. Dan setiap tahun bagianku (sama b’ Epon) adalah mengupas kacang, untuk dibuat kacang tojin. Kacangnya disiram air panas, dan dikasi garam, terus dipencet-pencet supaya terkelupas. Awalnya seru, tapi lama-lama (karena kacangnya banyak) tangan udah kisut, bosan juga. Akhirnya jadi main-main. Gitu juga kalo buat kue yang lain. Jadi tukang ayak tepung, giling adonan pake botol, atau ngoles kuning telur di atas kue kacang atau kue keju. Awalnya seru, lama-lama bosan, main-main, akhirnya: kena cubit! Wow. Setelah di-oven, aku selalu menanti ada kue yang pecah, rusak, gagal lah pokoknya, dan langsung dimakan. Lama-lama dimarahin, karna ternyata kue yang sempurna cuma dikit. Kalo semua kuenya udah jadi, mamak nyimpan stoples kuenya di kamar, supaya gak kami habiskan. Hahaha…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hah,,, seru ya, momen-momen Natal gitu... Bapak, mamak, Natal ini aku gak pulang (lagi)... Tapi semoga keceriaan Natal kita tiap tahun makin bertambah, seiring berkat-berkat Tuhan yang tak pernah habisnya. Dan semoga kita juga enggak terjebak di kesibukan Natal, sekedar pelaksana/ panitia, peserta, atau sekedar seremonial. Tapi kita boleh terus mengingat kasih Allah, yang menyertai kita itu, DIA lahir demi kita, dan ingin tinggal tetap di hati kita, melakukan perubahan-perubahan istimewa supaya kita juga boleh menjadi perwujud-hadiran-Nya di sekitar kita. DIA lahir menghadirkan damai, sukacita dan keselamatan buat dunia ini. Tapi biarlah semuanya itu dapat kita tunjukkan di dunia yang paling kecil: keluarga kita, atau lebih kecil lagi: diri kita sendiri.&lt;br /&gt;Sekali lagi Bapak, mamak, selamat Natal ya… Walaupun aku gak pulang, tapi kalian selalu ku ingat dalam doaku. Oh iya, bentar lagi kan tahun baru. Apa harapan di tahun baru nanti? Kalau aku sederhana aja, semoga kita semua masih mampu tersenyum tulus karena kesadaran bahwa Tuhan telah, masih, dan akan terus menyertai keluarga kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam rindu dari Karawang,&lt;br /&gt;Kawas Rolant Tarigan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;*satu lagi: Bapak tau gak sih, bisa facebook-an lewat hp bapak itu? Kapan mamak punya facebook? Hehe… Miss you all…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6147333587522544240?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6147333587522544240/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/surat-natal-untuk-bapak-mamak.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6147333587522544240'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6147333587522544240'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/surat-natal-untuk-bapak-mamak.html' title='Surat Natal untuk Bapak Mamak'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/Sxdzq1OUaFI/AAAAAAAAAFA/opyJi996maM/s72-c/me.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-3531946947833770852</id><published>2009-12-03T15:11:00.000+07:00</published><updated>2009-12-03T15:12:30.927+07:00</updated><title type='text'>KTB PMK 05</title><content type='html'>KTB 05 harus dihidupkan lagi!!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa? KTB: Kelompok Tumbuh Bersama. Untuk orang berTUMBUH, dia perlu komunitas (KELOMPOK), dan betapa susahnya bertahan kalau dia hanya sendiri, dibutuhkan wadah keBERSAMAan. Untuk itulah KTB ada. Sudah cukup kebaktian kantor? Berapa orang yang punya persekutuan kantor? Bagi yang ada, berapa sehat persekutuan kantor? Bagi yang persekutuan kantornya baik, maukah membagikannya dengan yang lain? Di mana kita yang dulu pernah dibina bersama bisa kembali lagi saling belajar firman, sharing dan mendoakan saling menguatkan. Kesenangan hati karena: “ah,,, ternyata ada yang mendoakanku”. Berapa orang alumni yang masih setia dalam perkara kecil? Atau sudah larut dalam kompromi2 kecil, kemalasan? Dari semua pertanyaan itu, mungkin jawabannya 1 yang efektif: ayo, kita KTB lagi!&lt;br /&gt;Sejarah mencatat, apa yang mampu membuat orang bertahan setia pada kebenaran? KTB salah satu jawabannya.&lt;span class="fullpost"&gt;• PMK-PMK berdiri, mulanya hanya diawali oleh KTB-KTB&lt;br /&gt;• Pejuang-pejuang kebenaran, contohnya: KAMG (Komunitas Air Mata Guru) hanya dimulai dan dipertahankan lewat KTB&lt;br /&gt;• Beberapa tokoh: Pieter Jacob, Rully Simanjuntak, Mangapul Sagala, Jonathan Parapak, Zakheus Indrawan, dll mampu setia karena terus ber-KTB&lt;br /&gt;• Daniel, Mesakh, Sadrakh, Abednego mampu bertahan karena KTB mereka.&lt;br /&gt;• Masih banyak lagi yang bisa teman2 tambahkan, bahkan hal-hal kecil atau orang-orang yang kita jumpai sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KTB ini hanya mimpi, kalau tidak diwujudkan. Ayo, kita KTB lagi. Kami sudah membuktikannya melalui kelompok yang lebih kecil (Kawas, Dapot, Anu, Anto, Valen, Misni, Angga), hari Jumat yang lalu, berkumpul di Monas, di bawah pohon rindang, duduk di atas koran, dengan banyak snack, membahas Filipi 1:1-11. Wah, indah sekali... Dari situ kami menyatakan perjuangan untuk terus mempertahankan KTB kita, bahkan dalam kelompok yang lebih besar. Ini doa kita bersama, bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doakan dan hadirilah: KTB 05 kita:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sabtu, 12 Desember 2009 jam 13.00 di Monas. Bahan: Diberkati untuk menjadi Berkat bab 2.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang mimpin: cewek: Angga, cowok: Anu ; Pemusik: Kawas.&lt;br /&gt;Datang ya semua teman-teman... Ajak semua PMK angkatan 05 semaksimal mungkin yang bisa kita ajak, jangkau dan hubungi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditunggu ya temans... When you pray, will you pray for me?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kis 2:42-47 Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa... Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu, .. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-3531946947833770852?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/3531946947833770852/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/ktb-pmk-05.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3531946947833770852'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/3531946947833770852'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/ktb-pmk-05.html' title='KTB PMK 05'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-6243029001268468932</id><published>2009-12-03T14:59:00.003+07:00</published><updated>2010-01-28T17:34:18.684+07:00</updated><title type='text'>Sharing Retreat Koordinator XI 2010</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SxdylH6KpzI/AAAAAAAAAEw/L5aAM06TTu8/s1600-h/Logo+rk+xi+JPEG.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 142px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SxdylH6KpzI/AAAAAAAAAEw/L5aAM06TTu8/s200/Logo+rk+xi+JPEG.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410919459412682546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Shalom teman-teman. Aku mau mensharingkan tentang Retreat Koordinator XI. Retreat Koordinator (RK) adalah wadah pembinaan dan kesatuan bagi pemimpin-pemimpin PMK (Jakarta dan regional). Sudah dimulai sejak 1991, dan sekarang RK XI. (untuk setiap perkembangannya, ada di attachment from RK to RK). Kalau ditanya aku pribadi, tentang kebangkitan kampusku, aku akan jawab salah satu hal yang paling penting adalah RK IX (thn 2005), di momen itu PMK STAN ditolong bangkit, dan puji Tuhan bisa terus bertumbuh :). Hal itu jugalah yang mendorongku kenapa mau ambil bagian dalam kepanitiaan RK XI yang sangat melelahkan dan memakan banyak biaya, tenaga ini: aku adalah orang yang berhutang... Aku ingin kampus lain juga menikmati hal yang lebih baik lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;RK XI (Retreat Koordinator XI) diadakan untuk memperlengkapi pemimpin-pemimpin kampus dalam melayani di kampus (mengerjakan visi Allah di kampusnya) dan mengobarkan semangat visi kesatuan dan kedewasaan. RK XI diadakan di Bandung, 25-28 Februari 2010, dan dihadiri total sekitar 500 orang dari 14 kota besar di Indonesia, dengan tema Dipilih Allah Untuk DipakaiNya (D.A.U.D). Mengeksposisi tokoh Daud, pemimpin dengan penuh liku dalam sejarah Alkitab dan dicatat sebagai orang yang berkenan di hati Allah (Kis13:22), kiranya demikian juga pemimpin-pemimpin PMK.&lt;span class="fullpost"&gt;Karena momen besar, biaya yang dibutuhkan juga cukup besar. Total biaya yang dibutuhkan Rp.258.746.000 (target pemasukan dari donatur Rp.108.296.000). Kalau dirata-ratakan satu orang peserta selama 4 hari 3 malam memakan biaya sekitar 500 ribu per orang, dan itu pastilah sangat memberatkan bagi para peserta yang adalah mahasiswa. Apalagi bagi teman-teman yang ada di regional (Sumatera bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi), yang untuk ongkos perjalanan sudah harus berjuang keras. Jadi semua peserta disubsidi dengan pencarian dana. Dan panitia juga membuat adanya perbedaan kontribusi peserta berdasarkan pertimbangan kesanggupan. Untuk kampus yang sudah memadai (alumninya juga sudah kuat), dikenakan 400 ribu per orang, begitu seterusnya, ada yang 300 ribu dan 200 ribu. Karena itulah kebutuhan pencarian dana sangatlah besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang bisa teman-teman berikan?&lt;br /&gt;• DOA. Tolong doakan agar Allah dalam segala kemurahan-Nya menolong setiap persiapan Panitia, termasuk dalam menghubungi peserta, pelayan, dan pencarian dana.&lt;br /&gt;• DIRI. Teman-teman bisa ikut ambil bagian dalam menghubungi peserta yang bisa teman-teman jangkau, atau ada teman-teman yang dihubungi sebagai pelayan.&lt;br /&gt;• DANA. Teman-teman bisa menjadi saluran berkat Allah dengan memberikan donasi kebutuhan dana yang masih sangat besar. (Nomor Rekening ada di proposal RK). Bayangkan, berapa pun yang teman-teman berikan, itu sangat berarti untuk menolong (mensubsidi) peserta yang membutuhkan. Mungkin kondisi kita berbeda-beda, mungkin sedang di saat-saat (atau akan) banyaknya pengeluaran; namun, bukankah di situ letak arti indahnya memberi? berapa pun yang teman-teman sisihkan, sangat berarti di mata Allah. Teman-teman tidak harus memberikan sekaligus, kita juga bisa menjadikan donasi ini sebagai salah satu persembahan bulanan (mungkin sampai Februari), yang mungkin nilainya tidak terlalu besar, namun sangat berarti bila dikumpulkan dengan setia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terima kasih teman-teman. Ditunggu responnya. Kiranya Allah terus bekerja melalui orang-orang yang Dipilih Allah Untuk Dipakai-Nya. Ini doa kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya”. Roma 11:36.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salam persahabatan, Kawas, panitia RK XI.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-6243029001268468932?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/6243029001268468932/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/sharing-reterat-koordiantor-xi-2010.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6243029001268468932'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/6243029001268468932'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/12/sharing-reterat-koordiantor-xi-2010.html' title='Sharing Retreat Koordinator XI 2010'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SxdylH6KpzI/AAAAAAAAAEw/L5aAM06TTu8/s72-c/Logo+rk+xi+JPEG.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-481616867747804597</id><published>2009-09-25T11:17:00.002+07:00</published><updated>2009-09-25T11:29:16.938+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Renungan'/><title type='text'>Perenungan tentang GBKP</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SrxHCmZ3yWI/AAAAAAAAAEo/fwlchI1iiG8/s1600-h/GBKP.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SrxHCmZ3yWI/AAAAAAAAAEo/fwlchI1iiG8/s200/GBKP.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5385257364422642018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Lanjutkanlah kasih setia-Mu ya Allah…&lt;br /&gt;(Menyongsong Sidang Sinode GBKP 2010)&lt;br /&gt;Oleh: Kawas Rolant Tarigan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Spiritualitas; Kesaksian yang Utuh&lt;br /&gt;Keagamaan biasanya diekspresikan melalui tiga cara, yaitu: ritual (ibadah), creed (pengakuan), dan life (cara hidup). Hal inilah yang membedakan agama yang satu dengan yang lainnya, secara khusus pagan religion (agama kuno, penyembah berhala/ tidak menyembah Allah), dengan revealed religion (agama penyataan/ yang dinyatakan). Bagi penganut pagan religion, ritual adalah hal yang paling utama, namun mereka tidak memiliki creed (pengakuan), karena tiadanya theologi yang utuh. Hal ini ditunjukkan dalam cara hidup mereka yang sangat jauh berbeda dibandingkan saat mereka melakukan ritualnya. Berbeda dengan revealed religion, contohnya agama Kristen, ritualnya ditunjukkan melalui ibadah dan kegiatan rohani, memiliki theologi yang utuh dengan pengakuan ke-tri-tunggal-an Allah Bapa, Yesus Kristus dan Roh Kudus. Sejatinya, umat Kristiani mampu menunjukkan apa yang ia percayai melalui cara hidupnya.&lt;br /&gt;Apakah hal ini sudah tercermin dalam cara hidup jemaat  GBKP? Sudahkah GBKP menjadi gereja seutuhnya yang menjadi saksi di tengah-tengah keberadaannya? (bukan hanya sebatas kegiatan keagamaan saja). Karena seringkali orang seakan-akan sangat taat beribadah, namun tidak demikian dalam kehidupan sehari-hari. Ini tantangan bagi gereja, bagaimana membentuk jemaat yang di dalam dirinya tidak ada dikotomi antara kehidupan pribadi dan kehidupan di muka umum, antara yang disaksikan dan yang diterapkan, antara yang diucapkan dan yang dilakukan. Jonathan Lamb dalam bukunya Integritas  mengutip: “Sebagian besar kekristenan Amerika telah kembali ke paham-paham penyembahan berhala murni, di mana para penyembah berhala ternyata bisa sangat khusuk menjalankan agamanya tanpa harus terikat dengan nilai-nilai etika, moralitas, pengorbanan diri atau integritas”. Adalah bahaya yang besar apabila banyak jemaat GBKP seperti penyembah berhala ini. Jemaat yang tiap minggu rajin ke gereja namun di kehidupan keseharian tidak berbeda dengan seorang atheis. Dia tidak sadar bahwa dia sedang hidup di hadapan Allah yang maha hadir dan maha melihat, memperhatikan, memelihara dan menghakimi, meminta pertanggungjawaban.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kali dicatat dalam Injil ketika Yesus mengecam ahli Taurat dan Farisi (Mat 15:7-9; 23:13-36), padahal mereka sangat-sangat taat beribadah, tapi cara hidupnya jauh dari kebenaran. Mengapa? Terbukti bahwa ibadah mereka bukan lahir dari pemahaman dan relasi yang benar dengan Tuhan. Bandingkan dengan kehidupan seorang jemaat GBKP yang aktif (bisa saja Pertua/ Diaken): Minggu ke gereja, Senin-Sabtu kerja, ditambah Selasa PJJ, Rabu Moria, Kamis Mamre, Jumat rapat-rapat, Sabtu menghadiri pesta-pesta, kembali ke Minggu lagi ditambah arisan-arisan persadan merga, atau PA Permata, di samping (jika ada) ngapuli, kunjungan orang sakit,  dan kerja-kerja. Rutinitas yang sangat menyibukkan dan mungkin saja tak bermakna lagi, sehingga seringkali timbul keluhan karena yang didapat hanya lelahnya saja. Herannya lagi, banyak orang yang bangga dengan kesibukannya ini, bersosial, padahal tak membuahkan apa-apa bagi perubahan hidupnya. Pernahkah kita bergumul jujur di dalam hati: “jangan-jangan” sebenarnya Tuhan tidak menyuruh kita sibuk melakukan ini-itu, melainkan ada hal yang lebih penting? Mari ingat cerita Maria dan Marta dalam Luk11:38-42; Yesus memuji Maria yang duduk diam mendengarkan-Nya berbicara, bukannya pada Marta yang sibuk menyusahkan diri melayani sekalipun itu baik. Bukan menyalahkan “sibuk”-nya, justru sebagai seorang jemaat yang peduli haruslah menyisihkan waktunya untuk pelayanan, namun jangan pernah lupakan hal yang paling esensi: relasi dengan Tuhan; spiritualitas, itulah yang harus diperjuangkan GBKP bagi jemaatnya.. Spiritualitas adalah gaya hidup seseorang sebagai hasil dari kedalaman pemahamannya tentang Allah secara utuh. Spiritualitas adalah gaya hidup sehari-hari yang merupakan buah dari hubungan kita dengan Yesus. Spiritualitas adalah kedekatan atau keakraban hubungan kita dengan Yesus secara transenden yang ditampakkan dalam sikap hidup kita terhadap orang-orang yang adalah imanensi atau perwujud-hadiran Yesus . Kegiatan keagamaan yang banyak tidak menjamin spiritualitas hidup seseorang. Pelayanan bukanlah sibuk sana-sibuk sini, tetapi persekutuan dengan Allah dalam doa, saat teduh, disiplin pembacaan Alkitab dan persekutuan. Relasi itulah sebenarnya yang disebut pelayanan, dan “hal-hal yang tampak dari luar” (seperti PA, kebaktian, kunjungan diakonia, bahkan kesaksian hidup) adalah buah dari relasi kita dengan Allah. Yesus, yang adalah Tuhan, juga melakukannya (Mrk 1:35, Mat 14:23): sesibuk apapun pelayanan-Nya, Dia tidak pernah meninggalkan persekutuan dengan Bapa, karena itulah yang terutama. Dalam Yoh15:1-8 (Pokok Anggur yang Benar), kata yang lebih ditekankan adalah “tinggal (remain)”, kemudian “berbuah (bear/fruitful)”. Jangan dibalik! Di luar Aku, kamu tidak dapat berbuat apa-apa (Yoh15:5).&lt;br /&gt;Hal-hal seperti ini yang harusnya diperjuangkan dalam program-program GBKP bagi pembinaan jemaat, menghasilkan jemaat yang memiliki relasi intim dengan Allah, yang disaksikan dalam sikap hidupnya. Bagaimana gereja dapat melakukan mandat Injilnya secara efektif, apabila jemaatnya gagal menjadi saksi? Ketika satu orang jemaat gagal menjadi saksi, kegagalan ini bisa meracuni satu komunitas, menghancurkan kepercayaan, menggagalkan misi yang saling terkait dan menyatu, dan yang paling berbahaya, kegagalan ini bisa mengkhianati usaha-usaha dalam pengabaran Injil dan merendahkan Allah yang kita sembah. Terlalu sedih rasanya menulis bagian ini, apalagi sepertinya tidak ada lagi passion yang menghasilkan action. Misalnya dalam beberapa sidang runggun, hampir semua hal dianggap biasa, ingin cepat selesai, tak jarang terdengar kata: “nggo me. Lanjutken kari yah...”. Sidang yang lama dianggap sebagai hal yang membuang waktu saja, padahal bisa saja ide-ide baru muncul dari situ. Akibatnya pelayanan gereja pun begitu-begitu saja, tidak ada perubahan signifikan. Banyak pula jemaat yang tidak mau tahu dan menerima saja. Bagaimana orang bisa menerima pesan Injil yang kita beritakan kalau mereka melihat “produk” Injil tersebut tidak seperti yang dikatakan? The man is the message. Kitalah yang sebenarnya saksi hidup itu. Apalagi para presbyter, penilik jemaat harus mampu menjaga dirinya terlebih dahulu, baru menjaga kawanan dombanya. Jangan “pembina” yang justru membuat pusing karena harus dibina (meskipun sedihnya, hal ini sering jadi pergumulan di GBKP). Bukankah dalam Kis 20:28 dikatakan: Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri.&lt;br /&gt;Biarlah hal ini menjadi perenungan di penghujung regenerasi kepengurusan ini, bagaimana pelayanan dan pembinaan yang dilakukan bisa membawa jemaat menjadi Kristen yang sesungguhnya, memiliki hubungan pribadi yang intim dengan Tuhan, yang ditunjukkan dalam cara hidupnya, bukan sekedar sibuk dengan banyaknya kegiatan agama. Kalau tidak ada perubahan nilai hidup jemaat, bukankah GBKP sedang menciptakan “ahli Taurat dan Farisi” yang baru, yang begitu sibuk (katanya) melayani, namun gagal menjadi saksi hidup?&lt;br /&gt;2. History is His story (Past, Present and Future)&lt;br /&gt;Sejarah kita adalah cerita tentang Allah. History is His story. Ketika kita mengingat ke belakang, bagaimana Allah memulai penginjilan bagi orang Karo, seharusnya semangat kita “terbakar” untuk terus melakukan tanggung jawab gerejawi secara pribadi. Kalau pada abad ke-19, ada orang-orang (dan itu bukan orang Karo) yang rela mati demi Injil disampaikan kepada orang Karo, bukankah kita yang mengaku berdarah Karo harusnya lebih punya kerinduan yang jauh lebih dalam agar semakin banyak orang Karo mengenal dan memper-Tuhan-kan Kristus dalam hidupnya? Para penginjil di Tanah Karo, rela meninggalkan segala sesuatunya dan melakukan segala usaha agar Injil semakin diberitakan. Mereka belajar bahasa dan adat Karo, menjadi tenaga pendidik, mendirikan rumah-rumah sekolah, tenaga kesehatan, memberikan pelayanan kesehatan/ medis, mendirikan poliklinik, setelah adanya gereja, mereka menerjemahkan lagu-lagu rohani dalam bahasa Karo agar orang Karo bisa memuji Tuhan, perbaikan perekonomian dengan pengadaan sarana pertanian, pembangunan irigasi dan jalan, dan membina pemuda sebagai generasi penerus gereja.&lt;br /&gt;Bagaimana dengan kita warga GBKP? Semangat dan pembelajaran yang lalu (past), harusnya membuat kita melakukan yang terbaik saat ini (present), untuk menghasilkan masa depan (future) yang jauh lebih baik. Moderamen membentuk badan-badan pelayanan untuk efektifitas kinerja. Ada Biro Theologia dan Litbang, Biro Sekretariat dan Administrasi, Biro Humas dan Informasi, Biro Hukum dan Harta Benda, Biro Penggalian, Pelestarian dan Pengembangan Budaya (BPPPB), Biro Pengembangan Ibadah dan Musik Gereja (BPIMG), Biro Oikumene, Komisi HIV-AIDS dan Napza, Pembinaan Warga Gereja (PWG), Penginjilan ke dalam (evangelisasi), Penginjilan Keluar, yang secara job description sudah cukup baik (walau perlu dipertajam agar lebih aplikatif), namun dalam pelaksanaannya masih sangat perlu ditingkatkan. Dengan mengingat “kasih mula-mula” itu, mari saat ini kita “membangunkan” badan-badan pelayanan GBKP yang saat ini (khususnya pada tingkat runggun) masih banyak yang “tertidur”. Dalam Kis 2:41-47, sungguh indah kehidupan jemaat (gereja) mula-mula yang saling peduli, mau tahu dan memberikan kontribusi nyata: “…Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan…mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa…tetap bersatu, dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama,…dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.”&lt;br /&gt;Bukankah kerinduan kita semua, GBKP memiliki persekutuan yang erat dan hangat (koinonia), persekutuan itu menjadi kesaksian hidup dalam penyebaran Injil, pemberitaan Firman Tuhan dan pelayanan mimbar yang kuat (marturia), dan pelayanan yang menghadirkan Kristus di tengah-tengah keberadaan kita (diakonia)?&lt;br /&gt;3. Man oriented&lt;br /&gt;Menurut data statistik 2006 , anggota GBKP sebanyak 72.696 kepala keluarga, dengan jumlah jiwa 277.693 orang. Pertambahan anggota rata-rata setahun sebanyak 2.373 orang/tahun, dan faktor yang utama dalam penambahan jemaat GBKP adalah kelahiran anak di tengah keluarga jemaat yang otomatis menjadi anggota GBKP. Hanya itulah yang memberikan kontribusi dalam pertambahan jemaat ini. Kalau demikian, bagaimana program pembinaan jemaat dan penginjilan selama ini untuk “menjala manusia” menjadi murid Kristus? Sepertinya kita harus jujur, bahwa hal itu masih “berjalan di tempat”. Angka-angka di atas itu bukan hanya sekedar data statistik! Itu orang, itu jiwa yang harus “digembalakan”. Sudahkah kita merenungkan hal itu? Dalam Mat 9:35-38 “…melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus dengan belas kasihan”. Apakah murid-murid Yesus tidak melihat “orang banyak itu” sehingga tidak berespon? Sepertinya tidak mungkin. Namun yang membedakannya adalah cara pandang (kedalaman visi). Ketika Yesus melihat, Ia “terbeban” bahwa orang banyak itu butuh digembalakan, sekalipun tuaian banyak, pekerja sedikit. Berdasarkan data 2008, jumlah daerah pelayanan GBKP adalah 434 runggun yang dilayani oleh 200 Pendeta; 42 Vikaris dan 10 calon Vikaris, jadi totalnya 252. Sebenarnya kalau diteliti lebih jauh berdasarkan bajem, jumlah jemaat tiap runggun yang tidak merata dan sebagian ada yang lebih dari 400 kepala keluarga, dan Pendeta yang tidak membawahi runggun, dibutuhkan sekitar 500 pendeta lagi agar pelayanan ini efektif. Namun dengan jumlah yang masih kurang ini (dan berdoa Tuhan akan terus tambahkan), kita yakin bahwa kuasa Tuhan tidak akan terkendala. Little is much when God is in it. Lebih dari itu, setiap orang percaya harusnya bertanggung jawab terhadap sesamanya yang belum mengenal Kristus. Jumlah orang Karo yang terus bertambah mau dibawa ke mana? Bukankah tanggung jawab kita-GBKP untuk membawanya dan terus mengenalkannya kepada Kristus? Apalagi “kita” yang sudah menikmati banyak pembinaan dan mengenal Kristus melalui GBKP, sebenarnya adalah orang-orang yang “berhutang” kepada orang-orang Karo yang belum menikmati hal yang sama. Seperti yang dikatakan Rasul Paulus dalam Roma 1:14-15, “kita” adalah orang-orang yang berhutang, “hutang Injil” kepada orang-orang yang belum menikmati Injil.&lt;br /&gt;Terkhusus bagi para presbyter (Pendeta, Pertua, Diaken) sebagai gembala jemaat, yang diberikan mandat oleh Kristus untuk “menjaga kawanan domba-Nya”, dalam menetapkan berbagai kebijakan, sudahkah pertumbuhan jemaat menjadi prioritas utama? Pelayanan ini ada karena “orang”, bukan program. Seringkali orang bekerja karena program, sehingga kehilangan visinya. Ketika ditanya kenapa melakukan ini-itu? Jawabnya adalah karena sudah program. Tidak tahu lagi, apa dan kenapa program itu ada, dan diapun tidak mengerti untuk apa, sehingga hanya menjadi sekedar pelaksana program. Dan itu bukanlah pelayan! Seorang pelayan harusnya tahu what, why, who, where, when dan how, atas pelayanannya. Program itu ada karena visi, jangan dibalik! Visi-lah yang harusnya menggerakkan semua pelayanan. Dan fokus dari visi adalah “orang”-nya bukan programnya. Visi lahir dengan melihat kondisi jemaat dan melakukan apa yang Tuhan suruh. See to the world, and listen to His word, that’s vision! Jadi seharusnya semua program pelayanan, berangkat dari dan menuju ke visi, yang fokusnya adalah pertumbuhan jemaat. Makanya, seharusnya pelayanan yang dilakukan adalah pelayanan yang “man oriented” dan bukan “program oriented”. Berfokus pada orang yang dilayani.&lt;br /&gt;Visi GBKP dipertahankan moderamen selama 2 periode (2000-2010): “Hidup Setia kepada Tuhan”. Visi yang tidak diperjuangkan hanyalah menjadi sebuah mimpi. Bagaimana visi ini bisa menjadi perjuangan bersama? Jadikan visi itu sebagai visi pribadi dulu, dan tularkan ke pribadi yang lain, kemudian menjadi visi sektor. Semua sektor memiliki visi yang sama, jadilah visi runggun, visi klasis, dan seluruh jemaat GBKP.&lt;br /&gt;Saya tidak tahu seberapa jauh evaluasi pelayanan dan feedback yang dilakukan baik di tingkat runggun, klasis ataupun moderamen. Apakah hanya sekedar “program ini terlaksana atau tidak”, atau lebih dalam lagi: bagaimana kualitas manusia melalui program yang dilakukan? Kalau evaluasi selama ini masih sekedar “terlaksana atau tidak terlaksana”, saatnya untuk berubah, berpikir lebih keras lagi: melalui pelayanan ini, bagaimana perubahan nilai hidup jemaat kepada Kristus? Itulah tugas gembala.&lt;br /&gt;Regenerasi (sebagian) Pertua/ Diaken dan kepengurusan yang terjadi, sebenarnya adalah sebuah harapan, dan sidang sinode 2010 adalah kesempatan (kairos) yang sangat strategis untuk menetapkan hal-hal yang fundamental, program dan kebijakan yang “man oriented”, berfokus kepada “orang”, bukan digerakkan program, serta pengawasan dan pendampingan yang tak henti-hentinya dari tingkat moderamen ke klasis dan ke runggun, hingga tiap jemaat merasakan buah pelayanan dan pembinaan yang berdampak pada kualitas, kuantitas dan kontinuitas pelayanan.&lt;br /&gt;4. Penutup&lt;br /&gt;Berefleksi dari Matius 25, bagi Pendeta, Pertua, Diaken, dan Pengurus Kategorial: pertanggungjawaban sesungguhnya pelayanan ini adalah kepada Allah, yang empunya pelayanan. Ketika Dia bertanya: Apa yang sudah kita lakukan atas kepercayaan yang diberikan-Nya, apa jawab kita? Dan kira-kira apa respon Tuhan: hamba-Ku yang baik dan setia (ay.21,23); atau hamba yang malas dan jahat (ay.26-30)?. Dan kepada anggota jemaat: sudahkah yang terbaik kita berikan kepada Tuhan? Seberapa besar kita mengambil bagian bagi pertumbuhan gereja-Nya? Sewaktu digembalakan, kita menjadi domba yang setia (ay.32-33)?&lt;br /&gt;Biarlah kerinduan hati Tuhan menjadi kerinduan hati kita: jemaat GBKP yang melekat kepada Tuhan, mencintai Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun; jemaat GBKP yang berperan, mampu menunjukkan “garam”-nya dan “terang”-nya, bukan hanya di keluarga dan gereja, tapi menembus masyarakat dan bangsa ini. Banyak orang pesimis, sepertinya tidak mungkin? Bukankah bagi Allah tidak ada yang tidak mungkin (Luk 1:37; 18:27)? Ternyata bagi orang percaya juga (Mrk 9:23). Maka itu percayalah, kepada Allah! Semua ambil bagian, lanjutkan perjuangan ini, melakukan yang (paling maksimal) bisa kita lakukan. Mungkin saja bukan bagian kita melihat hasilnya kelak, yang penting, kerjakanlah tanggung jawab kita sebagai pengikut Kristus sepenuhnya, dan Allah akan bekerja dengan cara dan waktu-Nya. Selamat berjuang. Berjuang untuk setia. Setia kepada Allah yang setia. Saat ini adalah saat yang baik untuk menoleh ke balakang, kasih setia Tuhan yang menyertai hingga saat ini, menatap ke depan, di sana pun kasih setia dari Allah yang sama tetap menanti, dan menengadah ke atas, berdoa mengucap syukur, dan berseru seperti ungkapan hati pemazmur di Mazmur 36:8-11, “Lanjutkanlah kasih setia-Mu (ya Allah) …”. Soli Deo gloria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2997911818113672078-481616867747804597?l=kawasrolanttarigan.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/feeds/481616867747804597/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/09/perenungan-tentang-gbkp.html#comment-form' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/481616867747804597'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2997911818113672078/posts/default/481616867747804597'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kawasrolanttarigan.blogspot.com/2009/09/perenungan-tentang-gbkp.html' title='Perenungan tentang GBKP'/><author><name>Kawas</name><uri>http://www.blogger.com/profile/00996702796948758189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='17' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/S82dwsZ1n1I/AAAAAAAAAGM/pEV2xiDVWZI/S220/aku.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/SrxHCmZ3yWI/AAAAAAAAAEo/fwlchI1iiG8/s72-c/GBKP.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2997911818113672078.post-5387269657977271660</id><published>2009-08-09T22:48:00.003+07:00</published><updated>2009-08-09T22:57:18.089+07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>Saya Punya sebuah Impian...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/Sn7x0Dv8_CI/AAAAAAAAAEY/0dLm_bKQJtI/s1600-h/indonesia2.gif"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 200px; height: 128px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_HuoF-8aE6yU/Sn7x0Dv8_CI/AAAAAAAAAEY/0dLm_bKQJtI/s200/indonesia2.gif" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5367993682534136866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;AKU  PUNYA  SEBUAH  IMPIAN&lt;/span&gt;&lt;br 
